Articles

Found 10 Documents
Search
Journal : Jurnal Riset Akuakultur

KARAKTERISTIK FENOTIPE DAN GENOTIPE IKAN GURAMI, Osphronemus goramy, STRAIN GALUNGGUNG HITAM, GALUNGGUNG PUTIH, DAN HIBRIDANYA Arifin, Otong Zenal; Imron, Imron; Muslim, Nandang; Hendri, Ade; Aseppendi, Aseppendi; Yani, Akhmad
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.835 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.2.2017.99-110

Abstract

Persilangan antara dua populasi yang berbeda secara genetik lazimnya menghasilkan kombinasi genetik baru. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi karakteristik fenotipe dan genotipe ikan gurami strain Galunggung Hitam, Galunggung Putih, dan Hibridanya. Perkawinan dalam galur (GP X GP dan GH X GH) dan persilangan dua arah antara betina GH dan jantan GP (GH X GP), dan resiprokalnya (GP X GH) telah dilakukan di BPBIGN Singaparna. Fenotipe dianalisis berdasarkan metode truss morfometrik dan meristik, sedangkan karakteristik genotipe diamati menggunakan metode PCR-RAPD. Hasil analisis menunjukkan berdasarkan 21 karakter truss morfometrik, centroid hibrida GH X GP lebih tinggi dari centroid ketiga populasi lainnya pada PC-1 yang dicirikan oleh karakter B3, B4, B5, A3, A4, dan A6, dan bersifat intermediate pada PC-2, PC-3, dan PC-4. Berdasarkan delapan karakter meristik, centroid hibrida GH X GP lebih tinggi dari kedua tetua dan hibrida GP X GH pada PC-1 yang dicirikan oleh karakter SPR dan SDA, lebih rendah dari kedua tetua, tetapi lebih tinggi dari populasi GP X GH pada PC-2, dan lebih rendah dari ketiga populasi lainnya pada PC-3 dan PC-4. Polimorfisme dan heterozigositas pada populasi hibrida GH X GP dan GP X GH lebih tinggi daripada kedua tetuanya GH X GH dan GP X GP. Hibridisasi yang dilakukan meningkatkan variasi genetik yang dapat berguna dalam peningkatan produktivitas budidaya.Hybridization between two genetically different populations is expected to generate a population carrying new genetic combinations which may be expressed in both phenotypes and genotypes. This study was carried out to explore the phenotype and genotype characteristics of reciprocal hybrids of goramy of Galunggung black (GH) and Galunggung white (GP) with respect to their parental lines. Matings within the same line producing GP X GP and GH X GH, and reciprocal mating producing hybrids GH X GP and GP X GH, were conducted at BPBIGN Singaparna. Samples representing the four populations were analyzed for their morphology using truss morphometric and meristic methods, while genotypes were analyzed using PCR-RAPD method. The results showed that based on the 21 morphometric characters, the centroid of hybrid GH X GP was higher than those of the other three populations at PC-1, which was marked by the characters B3, B4, B5,A3, A4, and A6, and was intermediate at PC-2, PC-3, and PC-4. Based on the eight meristic characters, the centroid of GH X GP was also higher than those of their parents and hybrids GP X GH at PC-1, which was marked by the characters SPR and SDA, lower than those of their parents but higher than that of hybrid GP X GH at PC-2, and lower than those of the other three populations at PC-3 and PC-4. The genetic diversities in terms of polymorphism and heterozygosity levels in hybrids GH X GP and GP X GH were higher than those found in the pure-line (GH X GH and GP X GP). Hybridization conducted in this study had resulted in the enhancement of genetic variations which could be useful in increasing aquaculture productivity.
IDENTIFIKASI ZIGOSITAS IKAN LELE (Clarias gariepinus) TRANSGENIK F-2 YANG MEMBAWA GEN HORMON (PhGH) DENGAN MENGGUNAKAN METODE REALTIME-qPCR Marnis, Huria; Iswanto, Bambang; Suprapto, Romy; Imron, Imron; Dewi, Raden Roro Sri Pudji Sinarni
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (31.836 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.1.2016.39-46

Abstract

Produktivitas ikan budidaya dapat ditingkatkan melalui teknologi transgenesis. Populasi ikan lele transgenik cepat tumbuh telah dihasilkan dan karakter biologisnya telah diketahui. Namun informasi zigositas ikan lele transgenik perlu ditelaah lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi zigositas ikan lele transgenik F-2. Zigositas ikan lele transgenik diidentifikasi dengan menggunakan metode real-time qPCR (RT-qPCR) dan uji progeni. Identifikasi zigositas melalui uji progeni, dilakukan dengan mendeteksi transgen (PhGH) pada individu-individu F-3 hasil persilangan transgenik F-2 dengan non-transgenik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zigositas pada ikan lele transgenik F-2 dapat diidentifikasi dengan menggunakan metode RT-qPCR. Semua ikan transgenik F-2 adalah heterozigot, dengan nilai 2-Ct yang hampir sama tiap individu F-2, yaitu berkisar 0,80-0,99. Identifikasi zigositas dengan metode RT-qPCR menunjukkan hasil yang sama dengan uji progeni, semua transgenik F-2 tidak menghasilkan 100% anakan F-3 positif transgen. Pada uji progeni, transmisi transgen pada penelitian ini tidak mengikuti hukum segregasi Mendel, dengan kisaran sebesar 5%-40%.Fish farming productivity can be increased by transgenesis technology. On the previous study, transgenic African catfish population fast growing has been produced and its biological characters has been known. However information of transgenic zygosity of catfish should be examined. The aim of this study was to identify the zygosity of F-2 transgenic African catfish. The zygosity of F-2 transgenic was identified by real time-qPCR (RT-qPCR) method and progeny test. Further, identification of zygosity F-2 transgenic African catfish was confirmed by progeny test, while F-2 transgenic African catfish was mated with non-transgenic. Identification of zygosity F-2 transgenic was conducted by detection PhGH gene (transgene) in F-3 transgenic African catfish population. Transgene transmission was evaluated by PCR method. The result showed that the zygosity F-2 transgenic African catfish could be identified by RT-qPCR method. All F-2 transgenic African catfish were heterozygous, where as the 2-Ct value was almost same for all individual, which ranges from 0.80 to 0.99. The result of zygosity identification using RT-qPCR method was as same as that of progeny test. In the progeny test, transgene transmission in this study was non-Mendelian segregation, with ranges of 5%-40%.
PERTUMBUHAN DAN SIGOSITAS IKAN LELE AFRIKA (Clarias gariepinus) TRANSGENIK F-2 YANG MEMBAWA GEN HORMON PERTUMBUHAN IKAN PATIN SIAM (Pangasianodon hypophthalmus) Marnis, Huria; Iswanto, Bambang; Suprapto, Rommy; Imron, Imron; Dewi, Raden Roro Sri Pudji Sinarni
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.1 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.2.2015.161-168

Abstract

Teknologi transgenesis telah banyak digunakan untuk memperbaiki karakter pertumbuhan pada ikan budidaya. Pada penelitian sebelumnya, telah dihasilkan ikan lele transgenik F-1 yang memiliki pertumbuhan lebih cepat. Penelitian ini bertujuan untuk menguji performa pertumbuhan, dan mengidentifikasi sigositasikan lele transgenik F-2. Ikan lele transgenik F-2 dihasilkan dari persilangan antar ikan lele transgenik F-1. Sigositas ikan F-2 dievaluasi menggunakan uji progeni dengan menyilangkan antara ikan transgenik F-2 dan non-transgenik. Parameter digunakan untuk mengevaluasi performa ikan lele transgenik F-2 meliputi:derajat pembuahan, derajat penetasan, sintasan larva, pertumbuhan, dan efisiensi pakan. Analisis sigositas ikan lele transgenik F-2 dilakukan dengan menggunakan uji progeni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transgen (PhGH) yang ada pada ikan transgenik tidak memengaruhi derajat pembuahan dan derajat penetasan embrio, serta sintasan larva. Populasi ikan lele transgenik F-2 memiliki laju pertumbuhan 75,3% lebih tinggi dibandingkan populasi ikan non-transgenik (P<0,05). Efisiensi pakan ikan transgenik adalah 51,95% lebih tinggi dari ikan non-transgenik (P<0,05). Hasil analisis sigositas ikan lele transgenik F-2 dari 56 ekor yang diuji, hanya 16 ekor ikan lele membawa gen PhGH, emuanya heterozigot.
TRANSMISI GEN PhGH DAN PERFORMA PERTUMBUHAN IKAN LELE AFRIKA (Clarias gariepinus) TRANSGENIK GENERASI KETIGA Marnis, Huria; Iswanto, Bambang; Febrida, Selny; Imron, Imron; Dewi, Raden Roro Sri Pudji Sinarni
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 3 (2016): (September 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.376 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.3.2016.225-234

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi transmisi transgen PhGH dan performa ikan lele Afrika transgenik generasi ketiga (F3) yang meliputi pertumbuhan, rasio efisiensi konversi pakan, konsentrasi hormon pertumbuhan dan hormon IGF-I. Ikan lele transgenik F3 telah diproduksi dengan meyilangkan ikan lele transgenik F2 dengan non-transgenik. Deteksi transgen (PhGH) dilakukan menggunakan metode PCR. Analisis hormon pertumbuhan dan hormon insuline-like growth factor (IGF-I) menggunakan sampel serum darah dan metode enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan lele transgenik F3 yang digunakan pada pengujian ini terdeteksi positif membawa transgen dengan ukuran fragmen gen sebesar 1.500 bp. Transmisi transgen dari induk F2 ke F3 berkisar 0-75%. Pertumbuhan bobot populasi ikan lele transgenik F3 lebih tinggi 51,26% dibandingkan dengan ikan lele non-transgenik (P<0,05). Pertumbuhan bobot populasi ikan transgenik mencapai 484±60,3 g, sedangkan pertumbuhan bobot ikan non-transgenik 319,98±65,3 g. Nilai rasio konversi pakan ikan lele transgenik F3 sebesar 0,89 sedangkan non-transgenik 1,30. Hal ini menunjukkan bahwa efisiensi pakan ikan lele transgenik F3 lebih tinggi dibandingkan dengan ikan non-transgenik (P<0,05). Ikan lele transgenik mempunyai konsentrasi hormon pertumbuhan (5,67±2,65 ng/mL) yang lebih tinggi (P<0,05) jika dibandingkan dengan ikan lele non-transgenik (3,00±1,41 ng/mL). Ikan lele transgenik juga memiliki kandungan hormon IGF-I (6,63±0,11 ng/mL) lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan ikan lele non-transgenik (5,38±0,63 ng/mL). Tingginya konsentrasi hormon pertumbuhan dan hormon IGF-I dapat mewakili performa pertumbuhan dan efisiensi penggunaan pakan pada ikan lele transgenik.The aim of this study was to determine the transmission of a transgene (PhGH) and to evaluate the performance of F3 transgenic African catfish, such as body weight, feed conversion ratio (FCR), growth hormone and IGF-I hormone profile. F3 transgenic were produced by mating F2 transgenic with non-transgenic fish. Detection of transgene was performed using PCR method. Analysis of the growth hormone and the insulin-like growth factor-I (IGF-I) hormone were conducted by enzyme linked immunosorbent assay (ELISA) method using serum samples. The results showed that the transgenic catfish F3 was positive carrying the transgene 1.500 bp. Transgene transmission from F2 to F3 ranged zero to 75%. The performance of F3 transgenic African catfish was significantly better 51.26% than that the non-transgenic (P<0.05). The body weight of transgenic population (484±255.25 g) was higher than that non-transgenic (319.98±165.27 g). FCR of transgenic fish (0.89) was lower than that non-transgenic (1.30). The growth hormone level of transgenic (5.67±2.65 ng/mL) was higher than that non-transgenic (3.00±1.41 ng/mL), IGF-I hormone level of F3 transgenic (6.63±0.11 ng/mL) was also higher than that non-transgenic (5.38±0.63 ng/mL). High level of growth hormone and IGF-I hormone represented both growth performance and efficiency of feed utilization of transgenic African catfish.
ANALISIS TRUSS MORFOMETRIK BEBERAPA VARIETAS IKAN NILA ( Oreochromis niloticus ) Ariyanto, Didik; Listiyowati, Nunuk; Imron, Imron
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.16 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.2.2011.187-196

Abstract

Langkah awal yang dilakukan dalam rangka pembentukan varietas ikan nila toleran salinitas adalah koleksi dan karakterisasi varietas-varietas ikan nila yang akan digunakan sebagai sumber-sumber genetik pembentukan varietas tersebut. Beberapa varietas ikan nila yang telah dikoleksi antara lain ikan nila Nirwana Wanayasa, GMT Sukabumi, GIFT Sukamandi, BEST Bogor, dan red NIFI. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keragaman morfologi antara beberapa varietas ikan nila hasil koleksi tersebut serta menduga hubungan kekerabatannya berdasarkan tingkat keragaman dan kemiripan antar populasi. Karakterisasi morfologi dilakukan menggunakan metode truss morfometrik dilanjutkan dengan analisis komponen utama (principal component analysis) dan analisis pengelompokan (cluster analysis). Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa terdapat 2 kelompok utama pada varietas-varietas ikan nila yaitu ikan nila GMT Sukabumi, GIFT Sukamandi, BEST Bogor, dan red NIFI bergabung menjadi satu kelompok sedangkan ikan nila Nirwana Wanayasa membentuk kelompok tersendiri. Di dalam kelompok pertama, ikan nila red NIFI mempunyai bentuk yang berbeda dari 3 populasi lainnya.
KARAKTERISTIK MORFOLOGIS DAN GENETIS IKAN LELE AFRIKA (Clarias gariepinus Burchell, 1822) STRAIN MUTIARA Iswanto, Bambang; Suprapto, Rommy; Marnis, Huria; Imron, Imron
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 3 (2015): (September 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (744.901 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.3.2015.325-334

Abstract

Ikan lele Mutiara merupakan strain baru ikan lele Afrika Clarias gariepinus hasil pemuliaan yang memiliki keunggulan karakteristik budidaya. Selain karakteristik budidayanya, karakteristik morfologis dan genetis ikan lele Mutiara juga perlu dibandingkan dengan strain yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik morfologis ikan lele Mutiara (melalui uji morfometrik dan meristik), serta karakteristik genetis menggunakan marka DNA mikrosatelit dibandingkan dengan ikan lele Mesir, Paiton, Sangkuriang, dan Dumbo yang merupakan induk-induk pembentuknya. Karakterisasi morfometrik dilakukan melalui pengukuran terhadap 20 karakter, sedangkan karakterisasi meristik dilakukan melalui penghitungan terhadap lima karakter sesuai metode standar karakterisasi biometrik-morfologis ikan lele. Data karakteristik morfometrik dan meristik dievaluasi dengan menggunakan analisis komponen utama. Hasil karakterisasi morfologis menunjukkan bahwa karakteristik morfometrik dan meristik ikan lele Mutiara tidak dapat dibedakan dari ikan lele Mesir, Paiton, Sangkuriang, dan Dumbo. Karakterisasi secara genetis dengan menggunakan empat primer DNA mikrosatelit untuk ikan lele Afrika (Cga01, Cga02, Cga05, dan Cga09) menunjukkan bahwa ikan lele Mutiara memiliki keragaman genetis (jumlah alel dan heterozigositas) yang relatif lebih tinggi daripada ikan lele Mesir, Paiton, Sangkuriang, dan Dumbo.
PEMBENTUKAN INDUK NEOFEMALE UDANG GALAH GIMacro MELALUI ANDREKTOMI Iswanto, Bambang; Khasani, Ikhsan; Imron, Imron
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1255.245 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.2.2008.165-173

Abstract

Udang galah merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki sifat seksual dimorfisme pada karakter pertumbuhan. Udang galah jantan dapat tumbuh lebih cepat dibandingkan udang galah betina, sehingga mendorong pengupayaan budidaya udang galah secara monoseks jantan. Benih monoseks jantan dapat diperoleh dengan mengawinkan neofemale, yang dihasilkan melalui proses feminisasi udang galah jantan, dengan jantan normal. Andrektomi merupakan salah satu teknik feminisasi yang dapat dilakukan pada udang galah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas andrektomi terhadap proses feminisasi pada udang galah GIMacro. Proses andrektomi dilakukan terhadap yuwana jantan udang galah GIMacro umur 70—97 hari, dengan ukuran panjang total 3,2—7,6 cm; panjang standar 1,8—4,5 cm; dan bobot 0,29—3,63 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa andrektomi menyebabkan kematian yang cukup tinggi, yaitu: 26,83%—37,70% setelah 24 jam dan 35,37%—81,89% setelah 5 hari. Setelah 3 bulan pembesaran, sintasan berkisar 9,45%—57,32%; dengan komposisi 8,51%—91,67% tetap sebagai jantan; 8,33%—40,43% mengalami feminisasi, dan 60,00%—77,27% tampak sebagai jantan dengan berbagai abnormalitas. Udang galah betina hasil andrektomi menunjukkan tanda-tanda mengalami perkembangan gonad, kantung pengeraman, dan dapat memijah dengan sedikit massa telur. Hasil yang diperoleh memberikan harapan bagi pembentukan betina neofemale melalui andrektomi pada yuwana udang galah umur 75—80 hari.Males of giant freshwater prawn (Macrobrachium rosenbergii) grow faster than females. All male seeds can be produced through the mating of neofemale, which can be resulted from the feminization of male freshwater prawn, with normal male. Andrectomy is a method to feminize the male freshwater prawn. This study was aimed to investigate the effectiveness of andrectomy on the feminization of giant freshwater prawn, using GIMacro strains as experimental animals. The androgenic glands of male juveniles at 70—97 days old, with 3.2—7.6 cm total length, 1.8—4.5 cm standard length, and 0.29—3.63 g body weight were removed micro surgically (andrectomy). The andrectomized juveniles were then reared for three months to allow the development of their reproductive characteristics. The results showed that andrectomy caused high mortality, about 26.83%—37.70% after 24 hours, and about 35.37%—81.89% after 5 days. At the end of rearing period, survival rate of adult prawn ranged from 9.45%—57.32%, with the proportion of normal male, female (feminized) and abnormal male were 8.51%—91.67%, 8.33%—40.43%, and 60.00%—77.27%, respectively. Despite of the high mortality rate, the successfully feminized individuals showed the development of reproductive characteristics including gonadal and egg chamber developments and egg production. The results suggest that andrectomy, particularly which was applied to the juveniles of 70—97 days old, has been a quite effective technique to produce neofemale on the GIMacro strain of freshwater prawn.
HIBRIDISASI INTRASPESIFIK ANTAR DUA POPULASI IKAN GURAMI GALUNGGUNG (Osphronemus goramy, Lacepede, 1801) Arifin, Otong Zenal; Imron, Imron; Asependi, Asependi; Hendri, Ade; Muslim, Nandang; Yani, Akhmad
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.198 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.4.2017.315-323

Abstract

Ikan gurami (Osphronemus goramy) populasi Galunggung Hitam (GH) dan Galunggung Putih (GP) telah dibudidayakan secara luas di wilayah Priangan. Dalam upaya mendapatkan strain unggul ikan gurami untuk budidaya, hibridisasi intraspesifik, yaitu persilangan antar strain berbeda dalam spesies yang sama, merupakan pendekatan sederhana yang menarik untuk dieksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai keragaan hasil pemijahan dua populasi ikan gurami. Penelitian dilaksanakan di Balai Pengembangan Budidaya Ikan Gurami dan Nilem, Singaparna. Empat populasi ikan diperoleh dari hasil pemijahan dua arah antara ikan gurami yang berwarna putih dan berwarna hitam. Hasil yang diperoleh menunjukkan, hibridisasi antara induk betina gurami Galunggung Hitam dengan induk jantan Galunggung Putih (GH><GP), menghasilkan rerata panjang standar akhir 17,76 ± 1,129 cm; laju pertumbuhan mutlak 10,98 ± 1,240 cm; dan laju pertumbuhan spesifik 0,32 ± 0,017% per hari. Pada karakter lebar akhir, ikan gurami hibrida memiliki nilai 8,98 ± 0,485 cm; pertumbuhan mutlak lebar 5,68 ± 1,014 cm; dan laju pertumbuhan spesifik 0,33 ± 0,030% per hari. Bobot akhir ikan gurami hibrida sebesar 301,9 ± 6,63 g; laju pertumbuhan mutlak 295,6 ± 17,42 g; laju pertumbuhan spesifik 1,29 ± 0,017% per hari; dan sintasan sebesar 77,6 ± 5,26%; serta produktivitas sebesar 8,8 ± 0,70 kg/m2. Nilai heterosis ikan gurami hibrida (GH><GP) untuk seluruh karakter adalah positif. Nilai heterosis karakter bobot akhir adalah 14,1%; pertumbuhan mutlak 14,6%; laju pertumbuhan spesifik 5,38%; sintasan 31,75%; dan produktivitas sebesar 51,72%.The black Galunggung and white Galunggung strains of the giant gourami (Osphronemus goramy) have been widely cultured in Priangan areas, Indonesia. Intraspecific hybridization, a crossing between different strains of the same species, is a simple and commonly used approach to produce a superior strain for aquaculture purposes. This study was aimed to obtain information on the performance of gourami spawned from two different populations. The experiment was conducted at the Aquaculture Development Center of Giant Gourami and Nilem Carp, Singaparna. Four populations of giant gourami were obtained from spawning between white and black giant gourami. The results obtained showed that the hybrid resulted from the female of Black Galunggung and male of White Galunggung (GH><GP) produced the final average standard length of 17.76 ± 1.129 cm, standard length gain of 10.98 ± 1.240 cm, and specific growth rate in standard length of 0.32 ± 0.017% per day. On height character, the hybrid gourami had the final height of 8.98 ± 0.485 cm, a height gain of 5.68 ± 1.014 cm, and specific growth rate in height of 0.33 ± 0.030% per day. The final weight of the hybrid gourami of 301.9 ± 6.63 g, weight gain of 295.6 ± 17.42 g, the specific growth rate in weight of 1.29 ± 0.017% per day, and survival rate of 77.6 ± 5.26%, as well as the productivity of 8.8 ± 0.70 kg/m2. Heterosis value of the hybrid gourami (GH><GP) for the whole character was positive, with the heterosis value on the final weight of 14.1%, growth of 14.6%, the specific growth rate of 5.38%, the survival rate of 31.75%, and productivity of 51.72%.
TRANSMISI, EKSPRESI, DAN DISTRIBUSI GEN HORMON PERTUMBUHAN IKAN PATIN SIAM PADA IKAN LELE AFRIKA (Clarias gariepinus) TRANSGENIK F-2 Marnis, Huria; Iswanto, Bambang; Suprapto, Rommy; Imron, Imron; Dewi, Raden Roro Sri Pudji Sinarni
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (835.972 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.2.2014.179-190

Abstract

Salah satu keberhasilan pembentukan ikan transgenik ditandai dengan kemampuan dari individu transgenik tersebut untuk mewariskan transgen pada keturunannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi transmisi dan ekspresi transgen (PhGh) dari generasi F-1 ke F-2 serta mengetahui distribusi transgen pada berbagai organ. Deteksi transgen dilakukan pada larva, benih, dan berbagai organ ikan lele generasi F-2 (pituitari, otak, timus, jantung, limfa, hati, ginjal, lambung, usus, gonad, otot, kulit insang, dan sirip ekor) menggunakan metode PCR. Ekspresi transgen pada larva dan organ ikan lele transgenik F-2 dideteksi menggunakan metode reverse transcriptasepolymerase chain reaction (RT-PCR). Level ekspresi pada organ dianalisis menggunakan metode qPCR, gen β-aktin digunakan sebagai kontrol internal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 65 ekor induk betina transgenik F-1 positif membawa transgen di sirip ekor, hanya 18 ekor (27,69%) induk betina yang positif membawa transgen di telur. Sedangkan pada induk jantan hanya 19 ekor (46,34%) yang positif membawa transgen di sperma, dari 41 ekor yang positif membawa transgen di sirip. Transgen dapat terdeteksi pada larva dan sirip ekor ikan lele transgenik F-2 dengan persentase transmisinya adalah 8,11%-50% dengan rata-rata transmisi transgen sebesar 18,85%. Deteksi dan distribusi transgen ditemukan pada larva dan organ pituitari, hati, ginjal, gonad, otot, otak, timus, jantung, limfa, lambung, usus, insang, dan sirip ekor, tetapi transgen tidak ditemukan pada kulit ikan. Level ekspresi transgen tertinggi ditemukan pada hati sebesar 7,3±2,2 pg/μg cDNA – 9,2±2,7 pg/μg cDNA; sedangkan ekspresi terendah ditemukan pada ginjal berkisar 0,19±0,01 pg/μg cDNA – 0,2±0,03 pg/μg cDNA; dan insang sebesar 0,2±0,01 pg/μg cDNA.
PERAKITAN STRAIN IKAN LELE Clarias gariepinus (Burchell, 1822) TUMBUH CEPAT MELALUI SELEKSI INDIVIDU: PEMBENTUKAN POPULASI GENERASI PERTAMA Iswanto, Bambang; Imron, Imron; Suprapto, Rommy; Marnis, Huria
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.881 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.3.2014.343-352

Abstract

Ikan lele Afrika (Clarias gariepinus) di Indonesia telah mengalami penurunan genetis, ditandai dengan rendahnya keragaan pertumbuhannya, sehingga diperlukan upaya pemuliaan. Pemuliaan dalam rangka merakit strain ikan lele Afrika tumbuh cepat dapat dilakukan melalui program seleksi. Pemuliaan ikan lele melalui program seleksi di Balai Penelitian Pemuliaan Ikan Sukamandi telah diawali pada tahun 2010 melalui koleksi, karakterisasi, dan evaluasi strain-strain yang potensial, dilanjutkan dengan pembentukan populasi dasar sintetis pada tahun 2011. Selanjutnya, pada tahun 2012 dilanjutkan dengan pembentukan populasi generasi pertama melalui pemijahan 50 pasang ikan lele populasi dasar sintetis. Keragaan pertumbuhan populasi generasi pertama dievaluasi dan dibandingkan dengan populasi kontrol merepresentasikan keragaan populasi dasar sintetis) untuk mengetahui besarnya respons seleksi. Hasil dari evaluasi menunjukkan bahwa respons seleksinya ebesar 20,59% pada karakter bobot dan setara dengan 6,12% pada karakter panjang total. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa populasi generasi pertama yang keragaan pertumbuhannya lebih baik daripada populasi dasar sintetis potensial untuk digunakan sebagai pembentuk populasi generasi berikutnya dalam rangka merakit strain ikan lele tumbuh cepat melalui program seleksi.