Articles

Found 13 Documents
Search

Interaksi Sosial dalam Keberagaman Umat Muslim Masyarakat Giri Asih, Gunung Kidul Yogyakarta Muhadi, Muhadi
Kontekstualita: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 29, No 2 (2014)
Publisher : Kontekstualita: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the discussion of contemporary religious issued, the discourse of religious pluralism was one of the most hotly debated themes; it was born amid the diversity of the exclusive truth claimed and truth claimed that were inclusive attitude of looking at the reality of religious plurality. Plurality was a reality in Indonesia, ethnic diversity, culture, religion, and class made much difference. The difference was a necessity that must be respected, but it was not rare to find some social conflicts underlying racial issues, namely the conflict between religious groups or religious sects’ conflict. However, the existence of diversity and that diversity should be valued and mutual respect between one another, create a harmonious life in religious plurality.
Rekayasa Alat-Lilit Pada Industri Kerajinan Kain Jumputan Machmud, Djumala; Hasanudin, Muhammad; Muhadi, Muhadi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 15 (1996): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7146.032 KB) | DOI: 10.22322/dkb.v15i1.1051

Abstract

Kain jumputan merupakan salah satu hasil kerajinan dari kain yang dibuat dengan ketrampilan manusia, yang perlu ditunjang dengan suatu peralatan agar diperoleh keseragaman kualitas hasilnya.Teknologi penggulungan, elemen mesin, bahan mesin dan teknik penyambungan benang dipakai dasar untuk merencanakan rekayasa peralatan lilit-ikat.Pembuatan unit penggulung, sumber gerakan dan kerangka peralatan merupakan kergiatan yang dilakukan da;lam pembuatan peralatan sesuai prosedur pengerjaan yang berlaku. Hasil uji penggunaan peralatan dibandingkan dengan hasil secara tradisional dipakai untuk mengetahui tingkat kegunaan unjuk kerja peralatan.Peralatan yang dibuat dapat berfungsi sebagaimana yang diharapkan dengan hasil lilitan motif yang sama dengan hasil proses secara tradisional, dengan waktu relatif lebih cepat.Kain jumputan merupakan salah satu hasil kerajinan dari kain yang dibuat dengan ketrampilan manusia, yang perlu ditunjang dengan suatu peralatan agar diperoleh keseragaman kualitas hasilnya.Teknologi penggulungan, elemen mesin, bahan mesin dan teknik penyambungan benang dipakai dasar untuk merencanakan rekayasa peralatan lilit-ikat.Pembuatan unit penggulung, sumber gerakan dan kerangka peralatan merupakan kergiatan yang dilakukan da;lam pembuatan peralatan sesuai prosedur pengerjaan yang berlaku. Hasil uji penggunaan peralatan dibandingkan dengan hasil secara tradisional dipakai untuk mengetahui tingkat kegunaan unjuk kerja peralatan.Peralatan yang dibuat dapat berfungsi sebagaimana yang diharapkan dengan hasil lilitan motif yang sama dengan hasil proses secara tradisional, dengan waktu relatif lebih cepat.
Nilai Diagnostik dan Peran Pemeriksaan Indeks Kolapsibilitas Diameter Vena Kava Inferior dalam Menilai Berat Kering pada Pasien Hemodialisis Yussac, Muhammad Artisto Adi; Dharmeizar, Dharmeizar; Abdullah, Murdani; Antono, Dono; Muhadi, Muhadi
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Dalam praktek klinis, status cairan pada pasien hemodialisis (HD) sangat berkaitan dengan berat kering. Penentuan berat kering yang dilakukan secara klinis tidak akurat sehingga diajukan berbagai metode untuk menilai berat kering secara noninvasif diantaranya yaitu pemeriksaan analisis bioimpedansi dan pemeriksaan indeks kolapsibilitas vena kava inferior. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui korelasi antara pengukuran indeks kolapsibilitas diameter vena kava inferior dan pemeriksaan analisis biompedansi. Sehingga, dapat diketahui peran pemeriksaan indeks kolapsibilitas vena kava inferior dalam mengevaluasi berat kering pada pasien dialisis.Metode. Studi potong lintang dilakukan di unit HD Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta pada bulan Juni 2011 dengan metode pengambilan sampel konsekutif. Berat kering dinilai dengan analisis bioimpedansi dan pemeriksaan indeks kolapsibilitas vena kava inferior dinilai dengan menggunakan USG.Hasil. Dari 30 subyek penelitian dengan rentang usia 24-69 tahun dan rerata 52 tahun , 18 (60%) subyek di antaranya mengalami kelebihan cairan menurut analisis bioimpedansi, sedangkan menurut pemeriksaan indeks kolapsibilitas vena kava inferior didapatkan 21 orang kelebihan cairan. . Terdapat korelasi negatif sedang antara pemeriksaan indeks kolapsibilitas diameter vena kava inferior dengan analisis bioimpedansi (r= -0,597, p<0,0001). Nilai sensitivitas dan spesifisitas untuk pemeriksaan indeks kolapsibilitas diameter vena kava inferior yaitu 94,4% dan 66,7%. Pada kedua operator USG didapatkan nilai κ (kappa) sebesar 0,92, artinya memiliki kesesuaian yang sangat kuat.Simpulan. Pemeriksaan indeks kolapsibilitas diameter vena kava inferior mempunyai peran sebagai alat skrining yang cukup baik dalam menilai berat kering pada pasien hemodialisis.Kata kunci: analisa bioimpedansi, berat kering, hemodialisis, indekskolapsibilitas vena kava inferior, korelasiDiagnostic Value and the Role of Inferior Vena Cava Diameter Collapsibility Index to Evaluate Dry Weight in Hemodialysis PatientsIntroduction. In daily clinical practice, fluid status in Hemodialysis (HD) patients is well correlated with dry weight calculation. Dry weight calculation is commonly practiced by clinical observation, which is not accurate. Because of these, few methods has been suggested to calculate the dry weight non-invasively. Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) is widely available in overseas but not readily available in all dialysis center in Indonesia, while inferior vena cava diameter is a relatively inexpensive method, and readily available in all dialysis center because it can be performed with ultrasonography (USG) instrument. Methods. A cross-sectional study was performed in a group of regular HD patients at the Haemodialysis Unit, Cipto Mangunkusumo Hospital in Jakarta, June 2011. Dry weight was evaluated with bioelectrical impedance analysis, while the inferior vena cava collapsibility index was evaluated using USG performed by two different observer. Results. We have recruited 30 HD patients, in which 18 (60%) of the subjects were overload according to the bioelectrical impedance analysis, while 21 (70%) were overload according to the inferior vena cava collapsibility index. The mean age of the subjects is 52 years old with the minimum 24 and maximum 69 years. In this research, we found negative correlation (r = -0.957, P<0.0001) between inferior vena cava colapsibility index and BIA. We found a 94.4% sensitivity and 66.7% specificity for inferior vena cava colapsibility index. Both of USG operators showed a κ coefficient value of 0.92, which reflected a very strong agreement between them. Conclusions. The inferior vena cava colapsibility index have a good role as a screening method in determining dry weight in dialysis patients. Keywords: Hemodialysis, dry weight, bioelectrical impedance analysis, correlation, inferior vena cava colapsibility index.
Korelasi antara Faktor Reumatoid dan Vascular Cell Adhesion Molecule-1 pada Pasien Artritis Reumatoid Tanpa Sindroma Metabolik Yogaswara, Reza; Hidayat, Rudy; Muhadi, Muhadi; Rinaldi, Ikhwan
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.9 KB) | DOI: 10.7454/jpdi.v5i2.174

Abstract

Pendahuluan. Komplikasi kardiovaskular yang disebabkan oleh disfungsi endotel menjadi salah satu penyebab mortalitas yang cukup tinggi pada pasien Artritis Reumatoid (AR). Faktor Reumatoid (RF) merupakan autoantibodi yang sering dijumpai pada AR dan diduga dapat meningkatkan respon inflamasi dan disfungsi endotel. Sindroma metabolik dapat pula meningkatkan disfungsi endotel. Belum ada studi yang menilai korelasi RF dan disfungsi endotel pada pasien AR tanpa sindroma metabolik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara kadar RF dengan kadar VCAM-1 pada pasien AR tanpa sindroma metabolik.Metode. Penelitian desain potong lintang terhadap pasien AR dewasa yang berobat di Poliklinik Reumatologi RSUPN Cipto Mangunkusumo tanpa sindroma metabolik. Pengumpulan data dilakukan sejak Februari hingga Maret 2018 dari data penelitian sebelumnya yang diambil periode Februari 2016 hingga September 2017. Kadar RF dan VCAM-1 dinilai melalui pemeriksaan serum darah dengan metode ELISA. Korelasi antarkedua variabel dibuat dengan analisis korelasi Spearman menggunakan SPSS versi 20.0.Hasil. Sebanyak 46 subjek diikutsertakan dalam penelitian ini. Sebagian besar (95,7%) subjek adalah perempuan dengan rerata usia 44,43 tahun, median lama sakit 36 bulan, dan sebagian besar memiliki derajat aktivitas sedang (52,2%). sebagian besar pasien memiliki RF positif (63%). Korelasi antara kadar RF dengan kadar VCAM-1 memiliki kekuatan korelasi yang lemah tetapi tidak bermakna secara statistik (r=0,264; p=0,076). Subjek dengan RF positif memiliki kadar VCAM-1 yang lebih tinggi (626,89 vs. 540,96 ng/mL).Simpulan. Belum didapatkan korelasi antara RF dengan VCAM-1 pada pasien Artritis Reumatoid tanpa sindroma metabolik.Kata Kunci: Artritis reumatoid, Faktor reumatoid, Sindroma metabolik, Vascular Cell Adhesion Molecule-1 Correlation between Rheumatoid Factor and Vascular Cell Adhesion Molecule-1 Levels in Rheumatoid Arthritis Patients without Metabolic SyndromeIntroduction. Cardiovascular complications caused by endothelial dysfunction become one of the highest causes of mortality in patients with Rheumatoid Arthritis (RA). Rheumatoid Factor (RF) is an autoantibody that is commonly found in RA and is thought increasing the inflammatory response and endothelial dysfunction. Metabolic syndrome may also increase endothelial dysfunction. There have been no study assessing correlation between RF and endothelial dysfunction in RA patients without metabolic syndrome. Aim of this study was to determine the correlation between RF levels with VCAM-1 levels in RA patients without metabolic syndrome. Methods. Cross sectional design study of adult RA patients treated in Rheumatology Polyclinic of Cipto Mangunkusumo General Hospital without metabolic syndrome. Data collection was conducted from February to March 2018 from the previous research data taken from February 2016 to September 2017. The levels of RF and VCAM-1 were assessed through blood serum testing using the ELISA method. Correlation between the two variables was made using Spearman correlation analysis with SPSS 20.0 Results. A total of 46 subjects were included in the study. Most (95.7%) subjects were women with an average age of 44.43 years, median duration of 36 months, and most had moderate activity (52.2%). Most patients had a positive RF (63%). The correlation between RF levels and VCAM-1 levels had a weak correlation strength but was not statistically significant (r= 0.264; p= 0.076). Subjects with RF positive had higher levels of VCAM-1 (626.89 vs. 540.96 ng / mL). Conclusion. There is no correlation yet between RF and VCAM-1 in RA patient s without metabolic syndrome.
Nilai Diagnostik dan Peran Pemeriksaan Indeks Kolapsibilitas Diameter Vena Kava Inferior dalam Menilai Berat Kering pada Pasien Hemodialisis Yussac, Muhammad Artisto Adi; Dharmeizar, Dharmeizar; Abdullah, Murdani; Antono, Dono; Muhadi, Muhadi
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.467 KB) | DOI: 10.7454/jpdi.v3i2.14

Abstract

Pendahuluan. Dalam praktek klinis, status cairan pada pasien hemodialisis (HD) sangat berkaitan dengan berat kering. Penentuan berat kering yang dilakukan secara klinis tidak akurat sehingga diajukan berbagai metode untuk menilai berat kering secara noninvasif diantaranya yaitu pemeriksaan analisis bioimpedansi dan pemeriksaan indeks kolapsibilitas vena kava inferior. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui korelasi antara pengukuran indeks kolapsibilitas diameter vena kava inferior dan pemeriksaan analisis biompedansi. Sehingga, dapat diketahui peran pemeriksaan indeks kolapsibilitas vena kava inferior dalam mengevaluasi berat kering pada pasien dialisis.Metode. Studi potong lintang dilakukan di unit HD Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta pada bulan Juni 2011 dengan metode pengambilan sampel konsekutif. Berat kering dinilai dengan analisis bioimpedansi dan pemeriksaan indeks kolapsibilitas vena kava inferior dinilai dengan menggunakan USG.Hasil. Dari 30 subyek penelitian dengan rentang usia 24-69 tahun dan rerata 52 tahun , 18 (60%) subyek di antaranya mengalami kelebihan cairan menurut analisis bioimpedansi, sedangkan menurut pemeriksaan indeks kolapsibilitas vena kava inferior didapatkan 21 orang kelebihan cairan. . Terdapat korelasi negatif sedang antara pemeriksaan indeks kolapsibilitas diameter vena kava inferior dengan analisis bioimpedansi (r= -0,597, p<0,0001). Nilai sensitivitas dan spesifisitas untuk pemeriksaan indeks kolapsibilitas diameter vena kava inferior yaitu 94,4% dan 66,7%. Pada kedua operator USG didapatkan nilai κ (kappa) sebesar 0,92, artinya memiliki kesesuaian yang sangat kuat.Simpulan. Pemeriksaan indeks kolapsibilitas diameter vena kava inferior mempunyai peran sebagai alat skrining yang cukup baik dalam menilai berat kering pada pasien hemodialisis.Kata kunci: analisa bioimpedansi, berat kering, hemodialisis, indekskolapsibilitas vena kava inferior, korelasiDiagnostic Value and the Role of Inferior Vena Cava Diameter Collapsibility Index to Evaluate Dry Weight in Hemodialysis PatientsIntroduction. In daily clinical practice, fluid status in Hemodialysis (HD) patients is well correlated with dry weight calculation. Dry weight calculation is commonly practiced by clinical observation, which is not accurate. Because of these, few methods has been suggested to calculate the dry weight non-invasively. Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) is widely available in overseas but not readily available in all dialysis center in Indonesia, while inferior vena cava diameter is a relatively inexpensive method, and readily available in all dialysis center because it can be performed with ultrasonography (USG) instrument. Methods. A cross-sectional study was performed in a group of regular HD patients at the Haemodialysis Unit, Cipto Mangunkusumo Hospital in Jakarta, June 2011. Dry weight was evaluated with bioelectrical impedance analysis, while the inferior vena cava collapsibility index was evaluated using USG performed by two different observer. Results. We have recruited 30 HD patients, in which 18 (60%) of the subjects were overload according to the bioelectrical impedance analysis, while 21 (70%) were overload according to the inferior vena cava collapsibility index. The mean age of the subjects is 52 years old with the minimum 24 and maximum 69 years. In this research, we found negative correlation (r = -0.957, P<0.0001) between inferior vena cava colapsibility index and BIA. We found a 94.4% sensitivity and 66.7% specificity for inferior vena cava colapsibility index. Both of USG operators showed a κ coefficient value of 0.92, which reflected a very strong agreement between them. Conclusions. The inferior vena cava colapsibility index have a good role as a screening method in determining dry weight in dialysis patients. Keywords: Hemodialysis, dry weight, bioelectrical impedance analysis, correlation, inferior vena cava colapsibility index.
Analisis Pengaruh Equity Terhadap Niat Untuk Keluar Organisasi Muhadi, Muhadi
Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS.Dr. Soetomo Vol 1, No 1 (2015): JMK Yayasan RS.Dr. Soetomo Oktober 2015
Publisher : STIKES Yayasan RS.Dr.Soetomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.415 KB) | DOI: 10.29241/jmk.v1i1.43

Abstract

ABSTRAKSalah satu bentuk sikap yang mengancam keberadaan organisasi adalah niat untuk meninggalkan (keinginan untuk keluar) atau berpikir untuk mencari alternatif pekerjaan lain. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh equity terhadap niat untuk keluar dosen tetap di STIKES Insan Unggul Surabaya. Jenis penelitian bersifat deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Pendekatan Waktu yang digunakan untuk penelitian ini adalah desain penelitian cross-sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2013.Sampel penelitian sebanyak 34 responden dosen tetap di STIKES Insan Unggul Surabaya. Analisis dilakukan dengan menggunakan regresi ordinal dan regresi multinomial. Kesimpulan dari penelitian ini adalah rasio input (apa yang diberikan seperti komitmen, beban kerja, keterampilan) lebih besar atau lebih tinggi dari output (apa yang diperoleh pengembangan, kompensasi dan kepuasan) dari STIKES Insan Unggul Surabaya.
Analisis Pengaruh Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Bagian Manajemen Di Rsud Bhakti Dharma Husada Surabaya Mailani, Rindi; Muhadi, Muhadi
Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS.Dr. Soetomo Vol 2, No 2 (2016): JMK Yayasan RS.Dr. Soetomo Oktober 2016
Publisher : STIKES Yayasan RS.Dr.Soetomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.889 KB) | DOI: 10.29241/jmk.v2i2.64

Abstract

ABSTRAKSumberdaya manusia merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam sebuah pelayanan di rumah sakit, maka sudah selayaknya rumah sakit melakukan suatu mekanisme pemeliharaan sumber daya manusia dengan memperhatikan kepuasan kerja karyawannya dan mengevaluasi kinerja agar di dapat pelayanan rumah sakit yang berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan bagian manajemen di RSUD Bhakti Dharma Husada Surabaya. Berdasarkan data PBL I mahasiswa STIKES Yayasan Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya, pada analisis indek kepuasan karyawan berdasarkan visi di dapat sebesar 59.03%. Hal tersebut menunjukkan bahwa indek kepuasan karyawan masih di bawah minimal yaitu 70%. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kuantitatif yang bersifat analitik. Metode pengumpulan data yang digunakan menggunakan kuesioner dengan 4 skala penilaian (lichert). Penelitian ini mencoba menilai pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Pendekatan waktu yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu rancangan bangun cross sectional study, karena penelitian dilakukan pada periode waktu tertentu secara bersamaan terhadap variabel yang diteliti. Populasi yang dijadikan sumber data dalam penelitian ini sekaligus dijadikan sampel penelitian yaitu karyawan bagian manajemen sebanyak 58 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh kepuasan kerja terhadap kinerja memiliki korelasi yang positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. Berdasarkan hasil penelitian dari 5 dimensi kepuasan kerja yaitu faktor: pekerjaan, atasan, rekan kerja, promosi dan gaji, pada faktor promosi dan atasan menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap kinerja karyawan di RSUD Bhakti Dharma Husada Surabaya.
KAJIAN PENGEMBANGAN STRATEGI POTENSIAL INDUSTRI TEPUNG TAPIOKA RAKYAT (ITTARA) DI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR [A Study of Potential Strategy Development on Small Scale Tapioca Industry (ITTARA) in East Lampung District] Muhadi, Muhadi
Jurnal Teknologi & Industri Hasil Pertanian Vol 22, No 1 (2017): Jurnal Teknologi & Industri Hasil Pertanian
Publisher : Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.013 KB) | DOI: 10.23960/jtihp.v22i1.%p

Abstract

The objective of this research was to find out the weakness and the strength of ITTARA located in East Lampung, as a basis to develop the potential strategy of  ITTARA so that it could be sustainable and economically improved. Analysis methods used were the SWOT analysis (strength, weakness, opportunity, and threat) and Analytical Hierarchy Process (AHP), while  the potential strategy concept was adapted from existing ITTARA conditions. The SWOT analysis showed that there was weakness aspect that dominated the strength aspect in internal factor of ITTARA, nevertheles there was opportunity from external factor that could be optimized. These strategies should be developed were diversifying final product, conducting side business of by product, and improving technology use, as well as  efficiency of production cost. These business strategy improvements were then analyzed using AHP to choose one strategy by using criteria of market potential, production cost, product added value, technology and competitor. The result showed the most potential to be developed was improving tehcnology use by conducting the two times milling tapioca production.   Keywords: AHP, ITTARA, SWOT analysis, two times milling   
Studi Penanganan Komplain Pasien Di Instalasi Rawat Jalan (IRJ) RSUD Dr. Soetomo Muhadi, Muhadi
Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS.Dr. Soetomo Vol 2, No 1 (2016): JMK Yayasan RS.Dr. Soetomo April 2016
Publisher : STIKES Yayasan RS.Dr.Soetomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254 KB) | DOI: 10.29241/jmk.v2i1.47

Abstract

ABSTRAKRumah Sakit Umum Daerah Dr.Soetomo sebagai pusat rujukan nasional di Jawa Timur mengalami peningkatan jumlah kunjungan rata-rata pasien setiap tahun. Proses pelayanan pasien secara berjenjang, menjadikan Rumah Sakit Umum Daerah Dr.Soetomo menjadi rujukan terkahir pasien. Di era JKN berbagai permasalahan semakin banyak yaitu tentang keluhan pasien berobat di rumah sakit semakin meningkat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pihak rumah sakit dan pasien di wawancarai tentang model penanganan keluhan. Penelitian bertempat di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo pada tahun 2015. Pasien mengeluh tentang antrian yang lama dan sikap petugas yang kurang responsif. Pasien merasa kesulitan menyesuaikan persyaratan administrasi pasien BPJS kesehatan dengan model kepesertaan lama atau asuransi kesehatan. Sosialisasi yang kurang menyebabkan informasi yang beredar mengenai prosedur pendaftaran dan pemanfaatan BPJS kesehatan tidak relevan dan membingungkan. Akibatnya tidak jarang staf rumah sakit menerima komplain atau kemarahan pasien, dituduh mempersulit, bahkan dituding mencari keuntungan. Tidak sedikit juga masyarakat yang mendatangi rumah sakit bukan untuk berobat melainkan untuk menanyakan mengenai perihal BPJS, sebagaimana terjadi di RSUD Dr.Soetomo. Implementasi program BPJS kesehatan bersinggungan langsung terhadap pasien yang datang berobat di rumah sakit. Peningkatan jumlah kunjungan pasien mengakibatkan hampir disetiap prosedur pelayanan di rumah sakit dikeluhkan pasien, mulai dari ruang mendatangi bagian informasi sampai dengan pasien mengambil di loket obat. Kebanyakan pasien memiliki keterbatasan informasi terkait pengaduan jika mereka mengeluhkan masalah yang berkaitan dengan pelayanan di poli. Maka diperlukan keterangan yang jelas dan sosialisasi tentang layanan pengaduan masyarakat baik melalui spanduk maupun poster untuk memudahkan mereka.
Cedera Hati Hipoksik Prediktor Komplikasi Akut Utama Pasien Infark Miokard di Unit Rawat Intensif Koroner Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Muhadi, Muhadi; Prihartono, Nurhayati Adnan
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 5, No 3 (2018)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.387 KB) | DOI: 10.7454/jpdi.v5i3.194

Abstract

Pendahuluan. Major adverse cardiac event (MACE) adalah komplikasi akut utama yang terjadi pada pasien infark miokard, meliputi gagal jantung akut, syok kardiogenik, dan aritmia fatal. Diperlukan biomarker yang akurat, mudah dilakukan, dan cost-effective untuk memprediksi MACE dan kematian. Cedera hati hipoksik atau HLI (hypoxic liver injury) adalah salah satu biomarker potensial menggunakan kadar enzim hati transaminase (serum glutamic-oxaloacetic transaminase/SGOT) sebagai parameter. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran HLI sebagai prediktor MACE pada pasien infark miokard tanpa gambaran EKG elevasi segmen ST (NSTEMI).Metode. Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang dengan luaran berupa MACE dan kohort retrospektif dengan keluaran kematian selama masa perawatan. Populasi penelitian adalah semua pasien NSTEMI yang menjalani perawatan di ICCU Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Sampel penelitian adalah pasien NSTEMI yang menjalani perawatan di ICCU RSCM pada tahun 2006-2016 dan memenuhi kriteria penelitian. Penentuan titik potong HLI berdasarkan kadar SGOT yang dapat memprediksi MACE dan kematian dihitung dengan kurva ROC. Analisis multivariat dilakukan menggunakan regresi logistik untuk mendapatkan nilai prevalence odds ratio (POR) terhadap MACE dengan memasukkan kovariat. Analisis bivariat mengenai sintasan pasien terhadap kematian dilakukan dengan menggunakan kurva Kaplan-Meier dan diuji dengan log-rank.Hasil. Sebanyak 277 subjek diikutsertakan pada penelitian ini. Proporsi subjek dengan MACE pada penelitian ini adalah 51,3% (gagal jantung akut 48,4%, aritmia fatal 6,5%, syok kardiogenik 7,2%) dan angka kematian sebesar 6,13%. Median nilai SGOT adalah 35 U/L pada seluruh subjek, 40 (rentang 8-2062) U/L pada subjek dengan MACE dan 31 (rentang 6-1642) U/L pada subjek tanpa MACE (p = 0,003). Nilai titik potong yang diambil untuk memprediksi MACE adalah 101,0 U/L (sensitivitas 21,8%; spesifisitas 89,6%; POR 2,727 (IK 95%: 1,306-5,696), p = 0,006). Pada analisis multivariat tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara HLI dengan MACE. Nilai titik potong untuk memprediksi kesintasan terhadap kematian adalah 99,0 U/L (sensitivitas 23,5%; spesifisitas 83,8%; likelihood ratio +1,46). Tidak didapatkan perbedaan kesintasan yang bermakna antara subjek dengan nilai HLI di bawah dan di atas titik potong kadar SGOT.Simpulan. Cedera hati hipoksik (HLI) tidak dapat digunakan untuk memprediksi MACE pada pasien NSTEMI kecuali dikombinasikan dengan variabel lain. Tidak terdapat perbedaan kesintasan yang bermakna antara subjek dengan atau tanpa HLI. Kata Kunci: Cedera hati hipoksik, Infark miokard, Kesintasan, MACE, NSTEMI, SGOTHypoxic Liver Injury as Predictor of Major Adverse Cardiac Events in Acute Myocardial Infarction patients admitted to Intensive Coroner Care Unit of Cipto Mangunkusumo National General HospitalIntroduction. Major adverse cardiac events (MACE) is a complicating myocard infarctwhich consist of acute heart failure, cardiogenic shock, and fatal arrhytmia. An accurate, easy and cost-effective biomarker is needed to predict MACE and mortality in patients with myocard infarct. Hypoxic liver injury (HLI) is a potential biomarker using serum glutamic-oxaloacetic transaminase (SGOT) level as the parameter. This study is aimed to discover HLI’s role in predicting MACE in non ST elevation myocard infarct (NSTEMI).Methods. This study was designed as cross sectional to predict MACE and prospective cohort for survival analysis. Study population was all NSTEMI patients admitted to ICCU of Cipto Mangunkusumo Hospital and study sample were NSTEMI patients admitted to ICCU of Cipto Mangunkusumo Hospital that meets all criteria during 2006-2016. Cut-off level of SGOT for HLI to predict MACE and mortality was analyzed using ROC curve and AUC. Survival analysis was done using Kaplan Meier curve and the difference was tested with log-rank. Results. A total of 277 subjects were included in this study. Incidence of MACE in this study was 51.3% (acute heart failure 48.4%, fatal arrhytmia 6.5%, and cardiogenic shock 7.2%).The mortality rate was 6.13%. The median of SGOT level on all subject was 35 U/L, 40 (range 8-2062) U/L in subjects with MACE and 31 (range 6-1642) U/L in subjects without MACE (p = 0.003). Cut-off level for SGOT used to predict MACE was 101 U/L (sensitivity 21.8%; specificity 89.6%; POR 2.727 (CI 95% 1.306-5.696), p = 0.006). In multivariate analysis, HLI was insignificantly related to MACE. Cut-off level for SGOT used to predict survival was 99 U/L (sensitivity 23.5%; specificity 83.8%; likelihood ratio +1.46). There were no significant difference of survival between groups with HLI level below and above the cut-off SGOT level. Conclusion. Hypoxic liver injury (HLI) cannot be used to predict MACE in NSTEMI patients unless combined with other variables. There is no significant difference of survival between subjects with or without HLI.