Anak Agung Gede Raka Gunawarman, Anak Agung Gede Raka
Arsitek profesional

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

KAJIAN PROPORSI CANDI TEBING GUNUNG KAWI, TAMPAKSIRING-GIANYAR Gunawarman, Anak Agung Gede Raka
Ruang-Space: Jurnal Lingkungan Binaan (Journal of The Built Environment) Vol 2, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The term candi in Indonesia generally refers to sacred buildings, legacies of Hindu-BudhaKingdoms. Candi is often considered a masterpiece erected based on certain architecturalguidelines including those pertaining to site selection and proportion. Rock cut candi is one amongmany forms of structure found in certain areas across the Nusantara. In its objective to study theproportion of a rock cut candi, this article takes Gunung Kawi of Gianyar Regency-Bali, as a casestudy. The study analyzes the proportion of its physical elements, which are classified into threegroups: leg; body; and head elements. Each category is constructed of lower, body and upperframe. This research implements Manasara-Silpasastra principles in regard to proportion ofsacred structures. Manasara-Silpasastra proposes five categories of ratio of width to height, whichare santika, paushtika, parshnika/jayada, adbhuta, and sarvakamika (Acharya, 1927). Theresearch finds that the proportion between width and height at Gunung Kawi Rock Cut Candi fallsinto the category of paushtika. This is reflected in the ratio of its height to the width of its foot,which is 2:1.
KONSEP DESAIN MITIGASI BENCANA KEBAKARAN PADA BANGUNAN PURA BERATAP IJUK Gunawarman, Anak Agung Gede Raka; Putra, I Gusti Ngurah Bayu
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 2, No 1 (2019): Jurnal Arsitektur Zonasi Februari 2019
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v2i1.15058

Abstract

Abstract: The use of Palm-Fiber roof on sacred buildings in Balinese Temples still preserved well, however case of fire disasters  becoming a threat in temple existence nowadays. Fire disasters could start with some sparks on roof section. Palm fiber and thatched roof are building materials that very vulnerable to fire disasters and when fire disaster happens because of this materials,it could easily spread out the fire on other building next to it. This article was an article created by purposed to give an idea or innovation in fire disasters mitigation especially in temples or “palinggih” with palm-fiber roof. Content explanation using concept design model and system scenarios related to extinguished fire with conventional fire extinguisher tool. Automatic fire extinguisher concept design which installed on roof section of building or “palinggih” with palm fiber roof only had two alternative models. First model for building with roof sized not more than 3x3m, and second model for roof sized more than 3x3m. The Consideration is head sprinkler that only could  served on 3 m maximum radius. This article still a concept design and still need some testing on the field on next research. Keywords: mitigations, fire disasters, palm-fiber roof Abstrak: Penggunaan atap ijuk pada bangunan-bangunan suci di pura-pura di Bali masih tetap terjaga dengan baik. Namun, beberapa permasalahan yang terjadi belakangan ini adalah banyaknya kebakaran yang terjadi di pura-pura dan diawali dari percikan api pada bagian atap. Atap ijuk dan atap alang-alang adalah material yang sangat mudah terbakar dan mudah menjalar ke bangunan lain. Hal itu juga terjadi disaat terjadi kebakaran di atap ijuk bangunan pura yang memiliki lebih dari satu bangunan beratap ijuk dengan posisi yang berdekatan. Tulisan ini merupakan sebuah tulisan yang bertujuan untuk memberikan gagasan dan inovasi dalam mitigasi bencana kebakaran khususya di pura atau palinggih dengan atap ijuk. Penjelasan materi dengan menggunakan model desain konsep dan skenario sistem-sistem pemadam kebakaran dengan perlengkapan yang digunakan pada sistem pemadam pada umumnya. Konsep desain pemadam kebakaran otomatis yang dipasang pada bagian atap dari bangunan atau palinggih dengan atap ijuk untuk saat ini hanya mempunyai dua alternatif model. Model pertama diperuntukkan untuk bangunan dengan atap berukuran tidak lebih dari 3x3m, dan model kedua untuk atap yang berukuran lebih dari 3x3 m. Pertimbangannya adalah head sprinkler yang hanya mampu melayani radius maksimum 3 m.Tulisan ini masih berupa desain konsep dan masih perlu uji coba di tahap berikutnya.Kata Kunci: mitigasi, kebakaran, atap ijuk
KAJIAN PROPORSI CANDI TEBING GUNUNG KAWI, TAMPAKSIRING-GIANYAR Gunawarman, Anak Agung Gede Raka
RUANG: Jurnal Lingkungan Binaan (SPACE: Journal of the Built Environment) Vol 2 No 1 (2015): April 2015
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JRS.2015.v02.i01.p05

Abstract

Abstract The term ''candi'' in Indonesia generally refers to sacred buildings, legacies of Hindu-Budha Kingdoms. Candi is often considered a masterpiece erected based on certain architectural guidelines including those pertaining to site selection and proportion. Rock cut candi is one among many forms of structure found in certain areas across the Nusantara. In its objective to study the proportion of a rock cut candi, this article takes Gunung Kawi of Gianyar Regency-Bali, as a case study. The study analyzes the proportion of its physical elements, which are classified into three groups: leg; body; and head elements. Each category is constructed of lower, body and upper frame. This research implements Manasara-Silpasastra principles in regard to proportion of sacred structures. Manasara-Silpasastra proposes five categories of ratio of width to height, which are santika, paushtika, parshnika/jayada, adbhuta, and sarvakamika (Acharya, 1927). The research finds that the proportion between width and height at Gunung Kawi Rock Cut Candi falls into the category of paushtika. This is reflected in the ratio of its height to the width of its foot, which is 2:1. Keywords: Rock cut candi, physical elements of candi, proportion, Manasara-Silpasastra Abstrak Istilah 'candi' di Indonesia diartikan sebagai bangunan suci, peninggalan kerajaan Hindu-Budha. Candi seringkali dipandang sebagai peninggalan yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip kearsitekturan, termasuk yang berkenaan dengan pemilihan site, rasio, dan proporsi. Dalam tujuannya untuk mengkaji proporsi dari sebuah candi, artikel ini? mengambil Candi Tebing Gunung Kawi (Kabpaten Gianyar) sebagai studi kasus. Candi tebing merupakan salah? satu struktur yang hanya ditemukan di beberapa lokasi tertentu di Nusantara. Studi ini mengkaji elemen fisik candi yang dibagi dalam tiga kelompok elemen, yaitu kaki, badan, dan kepala. Masing-masing kelompok terdiri dari bagian badan dan bagian atas. Dalam penghitungan proporsi candi, penelitian ini mengimplementasikan prinsip-prinsip Manasara-Silpasastra, khususnya yang berkenaan dengan bangunan suci. Manasara-Silpasastra menawarkan lima kategori proporsi lebar terhadap tinggi dari sebuah candi, yaitu: santika, paushtika, parshnika/jayada, adbhuta, dan sarvakamika (Acharya, 1927). Untuk kasus Candi Gunung Kawi ditemukan bahwa rasio antara tinggi dan lebar dasar candi mengikuti prinsip paushtika: 2:1. Kata kunci: Candi tebing, elemen pembentuk candi, proporsi, Manasara-Silpasastra
KAJIAN ELEMEN PEMBENTUK PROPORSI PADA CANDI TEBING TEGALLINGGAH DI DESA BEDULU, BLAHBATUH - GIANYAR Gunawarman, Anak Agung Gede Raka
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol 6, No 1 (2018): Juni, 2018
Publisher : Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.6.1.774.32-36

Abstract

ABSTRAK Tulisan ini merupakan sebuah hasil dari penelitian sebelumnya tentang kajian proporsi pada Candi Tebing Gunung Kawi di Tampaksiring - Gianyar dengan membahas elemen pembentuk proporsi (EPP) serta perhitungan proporsinya. Sedangkan pembahasan dalam hasil penelitian dalam tulisan ini hanya berfokus pada bagian elemen pembentuk proporsi (EPP) dengan objek Candi Tebing Tegallinggah, Blahbatuh, Gianyar. Penelitian ini menggunakan metode mixed method dan metode komparatif dengan analisis deskriptif. Perbedaan EPP pada Candi Tebing Gunung Kawi dan Tegallinggah terlihat jelas pada EPP kaki candi dan kepala candi. Bagian kepala Candi Tebing Tegallinggah hanya memiliki satu tingkatan saja dengan angklok/mendur yang berbeda dengan candi tebing lainnya. Kata Kunci : candi tebing, elemen pembentuk, proporsi ABSTRACT This article contains result from previous research about Candi Tebing Gunung Kawi proportion study in Tampaksiring – Gianyar discussing about it’s proportion-forming elements (EPP) and also it’s proportional calculation. Meanwhile the discussion in this article only focused on proportion-forming elements (EPP) on Candi Tebing Tegallinggah located in Blahbatuh, Gianyar as it’s object study. This research use mixed methods and comparative research method with descriptive anlysis. The results of this research was the difference between EPP on Candi Tebing Gunung Kawi and Tegallinggah that looks clear on it’s Candi’s Foot and Head EPP. On the Head part of Candi Tebing Tegallinggah has just only 1 level with angklok/mendur which is different from the other. Keyword : Candi Tebing, proportion, proportion-forming
FAKTOR-FAKTOR PENGARUH PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN ULAYAT AKIBAT REKLAMASI DI PULAU SERANGAN Darmawan, I Gede Surya; Gunawarman, Anak Agung Gede Raka
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol 6, No 1 (2018): Juni, 2018
Publisher : Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.6.1.775.37-44

Abstract

ABSTRAK Fenomena reklamasi di Pulau Serangan telah merubah pola penggunaan lahan termasuk lahan ulayatnya seperti Lahan Pelaba Pura dan Lahan Druwe Desa. Berbagai jenis perubahan penggunaan lahan baik dari segi bentuk, ukuran, luasan, letak, dan jenis penggunaan lahan ulayatnya, tentunya dilatarbelakangi oleh berbagai faktor seperti faktor fisik lahan, ekonomi, kelembagaan, dan faktor-faktor lainnya. Adapun metodologi yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode purposif sampling. Hasil penelitian didapatkan 6 kasus jenis perubahan penggunaan lahan ulayat yaitu kasus 1 (penyatuan Banjar Kubu dengan Banjar Dukuh), kasus 2 (perluasan areal Kuburan), kasus 3 (perubahan letak dan luasan Pasar, LPD, dan KUD), kasus 4 (lahan hasil reklamasi yang dijadikan Balai Konservasi Penyu dan Fasilitas Watersport), kasus 5 (pura-pura kepemilikan Puri Kesiman), kasus 6 (pura-pura kepemilikan Desa Pakraman Serangan). Berdasarkan keenam kasus tersebut, penyebab utama terjadinya perubahan penggunaan lahan ulayat di Pulau Serangan adalah datangnya investor PT. BTID yang melaksanakan reklamasi menjadi empat kali lipat dari luas asli Pulau Serangan serta membeli dan tukar guling lahan eksisting untuk dijadikan kepemilikan PT. BTID seperti kasus tukar guling lahan Banjar Kubu. Faktor utama inilah yang mendukung terjadinya perubahan fisik lahan ulayat dan sosial budaya masyarakat setempat serta faktor kelembagaan dari pihak PT. BTID dan lembaga adat yaitu Desa Pakraman Serangan serta pihak Puri Kesiman yang membuat suatu perjanjian dalam hal eksistensi lahan ulayat pasca reklamasi. Terdapat suatu kompensasi yang dijanjikan oleh PT. BTID yang pada dasarnya menguntungkan semua pihak namun terdapat beberapa perjanjian yang hingga sekarang masih belum direalisasikan oleh pihak PT. BTID karena proyek mega wisata ini masih belum dilanjutkan. Selain itu terdapat pula faktor di luar nalar manusia yaitu adanya pawisik dari Ida Bhatara kepada tokoh masyarakat setempat untuk mendirikan Pura Batu Api dan Pura Batu Kerep. Kata Kunci : faktor-faktor pengaruh, lahan ulayat, reklamasi ABSTRACT The phenomenon of reclamation in Serangan Island has changed the land use pattern including Ulayat Land such as Pelaba Pura Land and Druwe Desa Land. Various types of land use change in terms of shape, size, extent, location and type of Ulayat Land, of course, backed by various factors such as physical factors land, economy, institutional, and other factors. The methodology used qualitative descriptive with purposive sampling method. The result of this research are 6 cases of land use change, namely case 1 (Banjar Kubu and Banjar Dukuh), case 2 (extension of cemetery area), case 3 (location change and area of Traditional Market, LPD and KUD), case 4 (land post-reclamation that was used as Turtle Conservation Center and Watersport Facilities), case 5 (temples ownership of Puri Kesiman), case 6 (temples be ownership of Desa Pakraman Serangan). Based on the six cases, the main cause of the change of Ulayat Land on Serangan Island is the arrival of PT. BTID that carried out the reclamation to be four times the original area of Serangan Island as well as buy and exchange the existing land for the ownership of PT. BTID is like Banjar Kubu land swap. This is the main factor that supports the physical changes of ulayat land and socio-culture of local communities and institutional factors of PT. BTID and customary institutions namely Desa Pakraman Serangan and Puri Kesiman made an agreement in terms of ulayat land existence after reclamation. There is a compensation promised by PT. BTID which basically benefits all parties but there are some agreements that until now still not realized by the PT. BTID because the mega tourism project is still not resumed. In addition there are also factors outside the human reason that the pawisik from Ida Bhatara to local community leaders to establish Pura Batu Api and Pura Batu Kerep. Keywords: influence factors, lahan ulayat, reclamation