Hana Sugiastu Firdaus, Hana Sugiastu
Program Magister Teknik Geomatika, ITS

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

ANALISIS RONA AWAL LINGKUNGAN DARI PENGOLAHAN CITRA LANDSAT 7 ETM+ (STUDI KASUS :DAERAH EKSPLORASI GEOTHERMAL KECAMATAN SEMPOL, BONDOWOSO) Firdaus, Hana Sugiastu; Taufik, Muhammad; Utama, Widya
Geoid Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.659 KB) | DOI: 10.12962/j24423998.v9i1.745

Abstract

Rona awal lingkungan merupakan kondisi lingkungan yang berupa kondisi alam atau komponen-komponen lingkungan awal sebelum perencanaan dan pembangunan fisik dimulai . Sebelum melakukan kegiatan eksplorasi geothermal, penguraian rona awal lingkungan sangatlah diperlukan sebagai dasar dari upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan (UKL&UPL) dalam meniminamalisir dampak yang ditimbulkan. Penguraian rona awal lingkungan pada penelitian ini didapat dari pengolahan citra Landsat 7 ETM+ untuk mendapatkan gambaran kondisi tutupan lahan dan kerapatan vegetasi di area studi, serta data sekunder sebagai pelengkap komponen lingkungan lainnya. Penentuan nilai kerapatan vegetasi didasarkan dari tutupan lahan yang dominan yaitu perkebunan, hutan dan semak belukar. NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) dan SAVI (Soil Adjusted Vegetation Index) merupakan  algoritma yang digunakan dalam penentuan kerapatan vegetasi. Dua algoritma yang digunakan dikorelasikan dengan suhu permukaan tanah (SPT) untuk mendapatkan algoritma yang terbaik dalam penentuan kerapatan vegetasi . Korelasi terbaik  untuk area perkebunan dan hutan didapatkan dari algoritma NDVI sedangkan SAVI untuk semak belukar. Area studi yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu Kecamatan Sempol, Bondowoso, Jawa Timur.
PEMETAAN FORMASI BATUAN DENGAN MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 8 DAN TERRASAR-X (STUDI KASUS : KOTA BATU, JAWA TIMUR) Firdaus, Hana Sugiastu; Hani’ah, Hani’ah
ELIPSOIDA Volume 01, Nomor 01, Tahun 2018
Publisher : ELIPSOIDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1067.725 KB)

Abstract

Pemetaan kondisi geologi sangatlah diperlukan untuk kajian teknis yang membutuhkan ketersedian akan data tersebut seperti halnya kajian akan bencana, sumber daya mineral dan lain sebagainya. Formasi batuan merupakan salah satu komponen yang menggambarkan kondisi geologi di suatu daerah. Metode pemetaan yang berkembang saat ini dapat digunakan untuk mendapatkan jenis formasi batuan yang lebih detail dengan skala 1:50.000 jika dibandingkan dengan metode konvensional. Penelitian ini menggunakan metode pengindraan jauh untuk memetakan formasi batuan di Kota Batu dengan proses image fusion citra Landsat 8 dan citra TerraSAR-X Ortho Rectified Radar Image dan Digital Surface Model. Hasil image fusion dari dua citra tersebut selanjutnya dilakukan interpretasi citra dengan menggunakan kunci interpretasi, kenampakan unsur morfologi, pola aliran sungai dan peta geologi skala 1:100.000 (Wilayah Kota Batu) guna memetakan jenis formasi batuan dengan skala 1:50.000 di Kota Batu. Terdapat 15 jenis formasi batuan di area studi dari hasil interpretasi dalam penelitian ini yaitu : Batuan Gunungapi G.Kimberi 1 (Qvk1), Batuan Gunungapi G.Kimberi 2 (Kvk2), Lava Gunungapi G.Welirang (Qvlw), Batuan Gunungapi (Qv), Batuan Gunungapi G.Arjuno (Qva), Batuan Gunungapi Lahar G.Arjuno (Qval), Lava Gunungapi Tua G. Arjuno (Qvola), Kipas Vulkanik Tua G.Arjuno (Qvfoa), Batuan Gunungapi Kompleks G.Ukir (Qv), Batuan Gunungapi Tua G.Preteng (Qvop), Batuan Gunungapi Tua G.Kukusan (Qvok), Batuan Gunungapi G.Kutugan (Qvk), Batuan Produk Vulkanik G.Butak (Qvbt), Batuan Gunungapi G.Panderman (Qvp), dan Batuan Gunungapi G.Seruk (Qvs).
Permodelan Spasial Lahan Terbangun Menggunakan Spasial Statistik dan Penginderaan Jauh (Studi Kasus : Kota Batu, Jawa Timur) Firdaus, Hana Sugiastu
ELIPSOIDA Volume 01, Nomor 02, Tahun 2018
Publisher : ELIPSOIDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.534 KB)

Abstract

Batu City is one of the tourism cities in East Java Province which often visited by several tourists, so that is necessary to increase infrastructure development which causes land functions changes. The land use changes can be observed temporally by utilizing satellite imagery. In this study, Landsat 7 ETM + and Landsat 8 satellite imagery is used to map the land use in Batu City in 2006, 2009 and 2013, which later spatially processed using the mathematical Binary Logistic Regression method to obtain the built-up land modelling in the study area. The built-up land area has increased from 2006 until 2013, where in 2006 (10.26 km2) and in 2013 (17.69 km2). The results of change built-up land in Batu City using Binary Logistic Regression modelling for years 2006-2009 is : Y = 0.8028 + 0.0003 X1 + 0.0071 X2 -0.0418 X3 +0.0004X4, while change built-up land for years 2009-2013 in Batu City is Y = -0.6227 + 0.0008 X1 + 0.0025 X2 -0.0141 X3 +0.0002X4 +0.0103X5, which the predictor variable X1 is distance from collector roads, X2 (distance from local roads), X3 (distance from agriculture), X4 (distance from rivers), and X5 (distance from existing built-up land in 2009). Percentage of modelling accuracy for change built-up land in Batu City for years 2006 - 2009 is 76.53% and 71.69% for predict the change built-up land in 2009 - 2013. Whereas for modelling accuracy of change built-up land in Batu City for years 2009 - 2013 is 77.65%
THE USE OF SENTINEL-2 IMAGERY FOR TOTAL SUSPENDED SOLIDS (TSS) ESTIMATION IN PORONG RIVER, SIDOARJO Bioresita, Filsa; Firdaus, Hana Sugiastu; Pribadi, Cherie Bhekti; Hariyanto, Teguh; Puissant, Anne
ELIPSOIDA Volume 01, Nomor 01, Tahun 2018
Publisher : ELIPSOIDA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (794.642 KB)

Abstract

ABSTRACT Sidoarjo mud disaster is an occurrence of hot mud bursts at drilling location of Lapindo Brantas Inc., Sidoarjo, Indonesia since 29th May 2006. In order to overcome the continuous mud flow, Indonesian government built embankment around the center of the mudflow. They also throw mud materials into the Porong River. The large and continuous disposal of mud material leads to sedimentation in Porong River. Remote sensing method with satellite imagery can be a solution to find out how much sedimentation occurred in Porong River as a result of mud’s disposal. Total Suspended Solid (TSS) calculation from satellite image can be indicator of sedimentation distribution.In previous studies, TSS distribution has been observed from Landsat-7 and Landsat 8 data. Nowadays, with ability of Sentinel-2 which has higher spatial resolution (10 m) and higher revisit time (up to 6 days), optimization of TSS distribution in Porong river can be done. Thus the objective of this research is analysis of Sentinel-2 imagery application to estimate TSS in Porong River. Result showed good correlation between in-situ data and TSS estimation from Sentinel-2 with value 0.72. Keywords : Sentinel-2, TSS, Porong River.
ANALISIS POTENSI PANAS BUMI MENGGUNAKAN CITRA ASTER LEVEL 1 T TAHUN 2015 (Studi Kasus Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah) Bintang, Alan Aji; Sasmito, Bandi; Firdaus, Hana Sugiastu
Jurnal Geodesi Undip Volume 8, Nomor 2, Tahun 2019
Publisher : Jurusan Teknik Geodesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1171.587 KB)

Abstract

ABSTRAKEnergi panas bumi diperhitungkan dan dikembangkan sebagai sumber energi yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari. Potensi energi panas bumi di Indonesia sangat besar yakni mencapai 28.000 Megawatt atau setara dengan 40% dari total panas bumi di dunia. Hingga saat ini Indonesia masih mengoperasikan setidaknya 1.643 Megawatt sehingga potensi energi panas bumi di Indonesia masih sangat besar untuk dimanfaatkan. Pengindraan jauh mempunyai peranan dalam kegiatan identifikasi panas bumi dengan menggunakan band thermal, salah satunya menggunakan citra ASTER. Proses identifikasi suhu permukaan dilakukan berdasarkan pengolahan band 13 dan band 14 citra ASTER serta klasifikasi tutupan lahan menggunakan VNIR ASTER. Pengambilan sampel suhu lapangan dilakukan untuk melihat korelasi suhu permukaan hasil citra dan suhu lapangan. Identifikasi panas bumi erat kaitanya dengan suhu permukaan tanah yang merupakan salah satu parameter indikator adanya potensi panas bumi. Selain berdasarkan parameter panas bumi penelitian ini berdasarkan pada parameter kompleksitas batuan dan lineament (kelurusan). Hasil dari pengolahan citra pada band 13 memberikan rentang suhu 8,01 oC hingga 46,94 oC, sedangkan nilai suhu pada band 14 memberikan rentang sebesar 8,01 oC hingga 44,70 oC. Hasil pengolahan suhu diuji dengan suhu lapangan sebanyak 93 sampel. Korelasi nilai suhu hasil pengolahan citra untuk band 13 dan 14 pengamatan lapangan sebesar 0,47 dan 0,48 termasuk dalam kriteria korelasi lemah. Nilai suhu yang melebihi 30 oC merupakan indikator adanya potensi panas bumi untuk daerah non-vulkanik. Hasil pengolahan memberikan nilai 26,58 oC untuk band 13 dan 24,09 oC  untuk band 14 serta  35,40 oC dari pengamatan lapangan  yang terletak pada sekitar sumur manifestasi. Pada Kecamatan Alian, Kecamatan Karangsambung, Kecamatan Karanggayam dan Kecamatan Sempor terdapat kompleksitas batuan tinggi, kerapatan lineament  yang tidak terhubung dengan manifestasi permukaan dan > 30 oC, sehingga peneliti tidak merekomendasikan untuk dieksplorasi.