Teguh Hariyanto, Teguh
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Published : 32 Documents
Articles

Found 32 Documents
Search

ANALISA POTENSI SUMUR-SUMUR TUA MIGAS UNTUK KEGIATAN PRODUKSI ULANG MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (STUDI KASUS : LAPANGAN KAWENGAN, BOJONEGORO)

Geoid Vol 8, No 1 (2012)
Publisher : Department of Geomatics Engineering

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.571 KB)

Abstract

Lapangan Kawengan merupakan lahan tidur yang tidak dimanfaatkan keberadaannya karena dinilai tidak ekonomis. Namun ternyata lapangan merupakan Lapangan yang ternyata termasuk lapangan yang memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan (Lemigas,2007). Lapangan Kawengan merupakan lapangan migas tua yang memiliki titik sumur terbanyak. Semakin menipisnya cadangan migas dan langkanya penemuan lapangan migas baru, membuka peluang untuk revitalisasi beberapa lapangan tua.Analisa potensi sumur tua migas di Lapangan Kawengan Bojonegoro ini menggunakan data yang diperoleh dari Dinas ESDM Prov. Jatim berupa peta dijital adiministrasi dan peta tematik dengan skala 1:25000, serta data tabular pendukung lainnya. Untuk menganalisa potensi produksi, diperlukan beberapa parameter, diantaranya aksesibilitas jalan, kondisi tutupan lahan, dan volume sisa cadangan minyak. Setelah dilakukan analisa parameter, lalu melakukan pembagian kelas kesesuaian berdasarkan nilai jarak terdekat.Hasil yang diperoleh dari analisa potensi migas ini adalah bahwa sumur yang memiliki aksesibilitas jalan yang paling terjangkau yaitu KW-50 yang terletak di kawasan Blok-4 dengan nilai 0,520m dengan kawasan terdiri dari pemukiman dan tanah ladang. Namun, dari segi volume sisa cadangan minyak, blok 4 memiliki volume sisa dengan kriteria sedang, yaitu 14131,25 MSTB dengan produksi rata-rata harian sebesar 99,86 BPOD.

PEMANFAATAN CITRA RESOLUSI TINGGI UNTUK IDENTIFIKASI PERUBAHAN OBYEK BANGUNAN (STUDI KASUS UPDATING RENCANA DETIL TATA RUANG KOTA UNIT PENGEMBANGAN RUNGKUT SURABAYA)

Geoid Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Department of Geomatics Engineering

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.978 KB)

Abstract

Perkembangan teknologi penginderaan jauh terutama citra WorldView-2 memudahkan dalam mengkaji perencanaan tata ruang kota dan monitoring penggunaan lahan, contohnya perubahan obyek bangunan. Kota Surabaya yang terletak antara 07°12’-07°21’ Lintang Selatan dan 112°36’-112°54’ Bujur Timur yang aktivitas kotanya sangat bervariasi dengan jumlah penduduk lebih dari tiga milyar (Hasyim, Hariyanto, dkk. 2011).  Kegiatan pembangunan fisik dan prasarana perkotaan di Surabaya tentunya menimbulkan konsekuensi terhadap perubahan obyek bangunan. Untuk mengatasi permasalahan ini salah satu langkah yang diambil oleh pemerintah dijelaskan dalam tema pengembangan UP Rungkut yaitu sinergitas pengembangan kawasan permukiman perbatasan kota sebagai penyangga kegiatan industri dan pendidikan dengan pendekatan sustainable development.Dalam penelitian ini, identifikasi perubahan obyek bangunan pada tahun 2002 sampai dengan 2012 dilakukan dengan memanfaatkan data peta garis digital tahun 2002 dan citra WorldView-2 dengan menggunakan metode klasifikasi terselia berdasarkan maximum likelihood (kemiripan maksimum) untuk mengidentifikasi perubahan obyek bangunan pada UP Rungkut pada Tahun 2002 sampai dengan 2012.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa luas perubahan obyek bangunan di UP Rungkut pada tahun 2002-2012 seluas 220.333 Ha. Untuk hasil kesesuaian perubahan obyek bangunan dengan RDTRK UP Rungkut tahun 2010 yaitu bangunan yang sesuai 209.025 Ha, tidak sesuai 11.308 Ha dan yang belum dimanfaatkan seluas 1096.171 Ha. Hal ini menandakan perlu adanya langkah-langkah dari semua pihak terkait untuk mengaplikasikan rencana tata ruang agar pembangunan kota bisa berjalan secara serasi dan terpadu antara masing-masing komponennya dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam pola dasar pembangunan daerah.

STUDI PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DAS CILIWUNG DENGAN METODE KLASIFIKASI TERBIMBING CITRA LANDSAT 7 ETM+ MULTITEMPORAL TAHUN 2001 & 2008 (STUDI KASUS : BOGOR)

Geoid Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Department of Geomatics Engineering

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.159 KB)

Abstract

Meningkatnya pembangunan di perkotaan seringkali menimbulkan dampak tidak baik terhadap lingkungan. Salah satu contohnya adalah pembangunan yang terjadi di Daerah Aliran Sungai Ciliwung.Akibat dampak pembangunan yang tidak terencana di daerah aliran sungai menyebabkan perubahan tutupan lahan. Perubahan tutupan lahan ini berpengaruh terhadap timbulnya masalah pada daerah aliran sungai misalnya banjir, produktivitas tanah menurun, pengendapan pada waduk, saluran irigasi, proyek tenaga air, penggunaan tanah yang tidak tepat (perladangan berpindah, pertanian lahan kering dan konservasi yang tidak tepat), yang menimbulkan dampak negatif terhadap sosial ekonomi lingkungan di daerah aliran sungai. Perubahan tutupan lahan yang terjadi dapat diidentifikasi dengan  teknologi penginderaan jauh menggunakan citra satelit LANDSAT 7 ETM+. Dengan menggunakan citra satelit LANDSAT 7 ETM+tahun 2001, dan LANDSAT 7 ETM+ tahun 2008, dilakukan analisa perubahan tutupan lahan di daerah aliran sungai Ciliwung.

EVALUASI PENGGUNAAN KAMERA NON METRIK PADA FOTOGRAMETRI JARAK DEKAT

Geoid Vol 8, No 2 (2013)
Publisher : Department of Geomatics Engineering

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.085 KB)

Abstract

Citra yang ideal adalah citra yang merepresentasikan obyek secara sempurna tanpa terjadi degradasi kualitas. Namun tidak ada lensa yang dapat memnuhi  hal tersebut. Kemampuan lensa dikatakan maksimum apabila sebuah lensa mereproduksi citra dari sebuah obyek hingga mencapai titik di mana detail citra sudah tidak dapat lagi direproduksi dari obyek. MTF (modulation transfer function) diukur sebagai patokan kemampuan lensa untuk membedakan antara daerah gelap dan terang pada obyek. Standar optik untuk pengukuran MTF menggunakan unit frekuensi spasial disebut ”line pair per millimeter” atau lp/mm. Dengan mengetahui nilai MTF, sebuah citra dengan degradasi kualitas dapat ditingkatkan kualitasnya. Kecerahan merupakan salah satu faktor penting dalam hasil MTF. Peningkatan kontras dengan meningkatkan perbedaan kecerahan antara obyek dan latar belakang benda dapat memberikan perbedaan informasi yang didapat. Manipulasi kontras dilakukan sebagai peregangan kontras dengan meningkatkan perbedaan kecerahan yang seragam di seluruh dynamic range dari citra.   Dari informasi MTF suatu lensa dan perubahan nilai kontras dengan teknik contrast stretching akan menghasilkan sebuah citra dengan peningkatan kualitas sehingga interpretasi citra tersebut lebih fleksibel untuk menghasilkan informasi yang dibutuhkan.Sebuah citra digital harusnya memiliki tingkat kecerahan yang optimum yaitu mulai dari gelap  sampai terang. Hal tersebut ditandai dengan nilai digital number citra yang memiliki range 0 – 225. Dari hasil penelitian penggunaan kamera Canon Powershot A2200 menunjukkan perubahan digital number pada citra hasil perekaman yang sebelumnya memiliki rentang 10 - 255 untuk band merah dan biru menjadi  0 – 255 pada semua band dengan peningkatan nilai mean untuk tiap – tiap band : Red(115.2 menjadi 127.1), Green(111.4 menjadi 126.9) dan Blue(93.9 menjadi 129.5). Peningkatan nilai digital number tersebut menunjukkan bahwa adanya peningkatan kecerahan dari citra sebelumnya sehingga daerah yang sebelumnya gelap menjadi relatif terang.

ANALISA PERBANDINGAN CURAH HUJAN BERDASARKAN DATA CITRA NOAA AVHRR DENGAN DATA CURAH HUJAN DI LAPANGAN

Geoid Vol 10, No 1 (2014)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (714.616 KB)

Abstract

Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 2008 menjelaskan bahwa Pulau Jawa merupakan salah satu kawasan strategis nasional (KSN) sebagai kawasan pertumbuhan ekonomi yang meliputi Provinsi Jawa Timur, Provinsi Jawa Tengah, Provinsi DI Yogyakarta, Provinsi Jawa Barat, Provinsi DKI Jakarta, dan Provinsi Banten. Bidang pertanian merupakan salah satu sektor andalan kawasan Pulau Jawa. Salah satu visi misi wilayah Pulau Jawa yaitu peningkatan lahan produktif untuk peningkatan produktivitas pertanian. Salah satu faktor penunjang yang dibutuhkan dalam peningkatan produktivitas pertanian adalah pengetahuan tentang distribusi curah hujan. Penelitian ini akan membahas dan menganalisa tentang tingkat curah hujan di Pulau Jawa menggunakan metode penginderaan jauh dari data citra satelit NOAA AVHRR. Hasil pengolahan dari citra NOAA AVHRR tersebut kemudian dianalisa dengan cara membandingkan data tersebut dengan data curah hujan hasil pengukuran in situ yang didapat dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pusat. Algoritma yang digunakan pada penelitian ini menggunakan algoritma suhu kecerahan yang dirumuskan oleh Parwati (2009). Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa nilai korelasi (R2) antara data lapangan dengan data curah hujan NOAA AVHRR-19 pada bulan Juli sebebesar 0,430, bulan Agustus sebesar 0,499, bulan November sebesar 0,464, dan bulan Desember sebesar 0,440. Kemudian nilai intensitas curah hujan yang diperoleh dari citra NOAA AVHRR-19 berupa estimasi minimal curah hujan pada bulan November-Desember sebesar 1,806 mm/jam dan estimasi maksimal sebesar 9,304 mm/jam. sedangkan pada pada bulan Juli-Agustus, nilai estimasi minimal curah hujan sebesar 0,0 mm/jam dan estimasi maksimal sebesar 5,047 mm/jam.

ANALISA PENDIDIKAN DI KOTA MOJOKERTO DITINJAU DARI KUALITAS SEKOLAH DASAR DAN MENENGAH MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS BERBASIS WEB

Geoid Vol 10, No 2 (2015)
Publisher : Department of Geomatics Engineering

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Mojokerto merupakan kota pemerintahan tersempit di Indonesia, penduduk sebanyak 135.024 jiwa yang dimiliki kepadatan penduduk kota Mojokerto mencapai 8.208 jiwa per km2. Dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi tersebut, maka diperlukan jumlah sekolah dan sarana prasarana pendukung pendidikan yang memadai sehingga dapat menampung penduduk usia sekolah di kawasan Kota Mojokerto. Suatu Sistem Informasi Geografis diperlukan dalam rangka membantu pemerintah kota untuk merencanakan dan mengelola pendidikan di daerahnya.Pada penelitian ini dilakukan pembuatan sistem informasi geografis berbasis Web menggunakan peta Rupa Bumi Indonesia skala 1:25.000 sebagai peta dasar serta data tabular dari Dinas Pendidikan dan Kependudukan maupun hasil penelitian dilapangan sebagai atribut. Hasil dari penggabungan beberapa data tersebut akan ditampilkan pada web.Hasil yang diperoleh dari analisa perbandingan jumlah guru dengan murid adalah  6 SD dan 2 SMK yang masuk kriteria ideal, sedangkan dari analisa rombongan belajar adalah 7 SD, 6 SMP, 1 SMA, dan 2 SMK yang masuk kriteria ideal. Perbandingan usia sekolah dengan daya tampung sekolah di Kecamatan Magersari diperoleh kekurangan daya tampung 5.824 unit untuk Sekolah Dasar dan kelebihan 957 unit untuk Sekolah Menengah, sedangkan untuk Kecamatan Prajurit Kulon diperoleh kekurangan daya tampung sebanyak 5.503 unit untuk Sekolah Dasar dan kekurangan 116 unit untuk Sekolah Menengah. Persebaran sekolah masuk kriteria ideal, hal ini ditunjukkan dengan tercakupnya seluruh wilayah terluar kota Mojokerto ke dalam  radius 3 km dan 6 km untuk masing-masing sekolah dasar dan sekolah menengah. Hasil akhir dari penelitian ini adalah WebGIS pendidikan Kota Mojokerto yang berisi beberapa informasi, diantaranya informasi jumlah murid, jumlah guru, prasarana sekolah, alamat dan foto sekolah, serta peta sebaran sekolah. WebGIS ini bertujuan untuk memberikan informasi dan sebagai bahan evaluasi kualitas pendidikan khususnya sekolah dasar dan menengah di Kota Mojokerto

EVALUASI PERKEMBANGAN DAN PERSEBARAN PEMBANGUNAN APARTEMEN SESUAI DENGAN RTRW SURABAYA TAHUN 2013 (STUDI KASUS : WILAYAH BARAT KOTA SURABAYA)

Geoid Vol 9, No 2 (2014)
Publisher : Department of Geomatics Engineering

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.115 KB)

Abstract

Surabaya merupakan kota terbesar kedua setelah Jakarta,  sehingga perluasan hunian yang ada saat ini semakin menyempitnya lahan kosong. Apartemen merupakan hunian untuk masyarakat tertentu yang berfungsi mengendalikan kebutuhan lahan serta mengefisienkan ruang. perkembangan apartemen di Surabaya telah mengalami kemajuan yang cepat. Untuk itu, diperlukan segera adanya inventarisasi aset yang ada di apartemen dan sekitarnya serta adanya informasi persebaran apartemen yang berada di Kota Surabaya terutama di Wilayah Surabaya Barat. Sistem Informasi Geografis adalah sistem yang dapat diterapkan untuk keperluan inventarisasi aset apartemen dengan menggunakan data yang bersifat keruangan dan atribut. dengan menggunakan Sistem Informasi  Geografis dapat memberikan kemudahan dalam mengakses, menyimpan, mengedit, dan updating data. Pada penelitian ini akan dilakukan inventarisasi serta evaluasi perkembangan dan persebaran apartemen di Wilayah Surabaya Barat yang berbasis format Sistem Informasi Geografis. Hasil inventarisasi yang didapat bahwa tahun 2001 terdapat 3 apartemen, pada tahun 2012 terdapat lebih dari 5 pembangunan apartemen yang sesuai dengan RTRW serta pembangunan apartemen cenderung berada pada kawasan perdagangan/jasa daripada berada pada kawasan perumahan/permukiman.

EVALUASI KESESUAIAN TUTUPAN LAHAN MENGGUNAKAN CITRA ALOS AVNIR-2 TAHUN 2009 DENGAN PETA RTRW KABUPATEN SIDOARJO TAHUN 2007

Geoid Vol 9, No 2 (2014)
Publisher : Department of Geomatics Engineering

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.06 KB)

Abstract

Wilayah pesisir dan lautan merupakan salah satu sumber daya alam yang mempunyai sifat yang kompleks dan dinamis karena pengaruh dari dua ekosistem, yaitu ekosistem lautan dan daratan. Ekosistem kawasan pesisir adalah salah satu obyek yang bias diindentifikasi dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh. Citra yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra satelit ALOS AVNIR-2 tahun 2009.Dalam menentukan evaluasi kesesuaian dan tutupan lahan kawasan pesisir di daerah penelitian, digunakan metode klasifikasi supervised maximum likelihood dan minimum distance. Dari hasil perhitungan uji ketelitian klasifikasi menggunakan metode confusion matriks didapati hasil maximum likelihood lebih baik dibandingkan dengan minimum distance. Karena memiliki nilai overall accuracy sebesar 93,6012%. Hasil klasifikasi tersebut dibandingkan dengan peta Rencana Taat Ruang Wilayah (RTRW) tahun 2007, terdapat adanya penyimpangan penggunaan lahan yakni adanya pemukiman sebesar 1,42% dikawasan penelitian sedangkan pada peta Rencana Taat Ruang Wilayah (RTRW) tertera diperuntukkan sebagai kawasan tambak dan perairan.  

KALIBRASI KAMERA NON-METRIK DIGITAL DENGAN METODE SELF CALIBRATION

Geoid Vol 8, No 2 (2013)
Publisher : Department of Geomatics Engineering

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.644 KB)

Abstract

Penggunaan kamera dijital non metrik untuk aplikasi fotogrametri makin berkembang, dengan didukung oleh perkembangan perangkat lunak  yang tersedia dan harga kamera dijital non metrik yang relatif murah dengan spesifikasi yang bagus. Hal ini membuat penggunaan teknologi fotogramteri rentang dekat untuk pekerjaan pemetaan semakin diminati karena memiliki keuntungan dapat menjangkau daerah yang sulit dijangkau atau memiliki dimensi yang kecil. Namun kekurangannya kamera jenis ini memiliki kualitas geometrik yang kurang baik sehingga mengakibatkan posisi pada foto yang dihasilkan kurang akurat. (Afriyanti, 2005)Dalam penelitian ini akan dilakukan proses kalibrasi pada kamera yang akan digunakan yaitu Canon IXUS 115HS dengan resolusi 12megapixel dan panjang fokus yang digunakan 11mm. Metode kalibrasi yang digunakan yaitu Self Calibration. Perbandingan akurasi yang dihasilkan diketahui berdasar pergeseran titik hasil proyeksi terhadap Ground Control Point (GCP) yang terukur di lapangan.Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam proses kalibrasi menghasilkan parameter eksternal yang stabil, karena dalam proses iterasi yang keempat hingga seterusnya nilai yang dihasilkan tidak berubah. Distorsi hasil proyeksi arah pergeserannya mendekati posisi ideal serta nilai reprojection error tidak melebihi 0.5mm dari bacaan maksimal mistar 1mm. Parameter internal tidak menghasilkan nilai yang stabil karena dalam setiap proses iterasinya nilainya selalu berubah, panjang fokus terkalibrasi mengalami perubahan signifikan sebesar -99mm dari nilai acuan 11mm, dan nilai parameter external terkalibrasi berbeda jauh dari nilai awal yang diberikan.Meskipun demikian, dapat digambarkan pola distorsi dan arah pergeseran titik-titik hasil proyeksi pada proses penentuan Exterior Orientation Parameter (EOP) serta dapat dilihat bahwa titik yang mengalami pergeseran terbesar yaitu titik 7 dengan nilai kesalahan 0.019mm ke arah X dan -0.0672mm ke arah Y. Titik yang mengalami pergeseran terkecil yaitu titik 8 yang berada di pusat foto dengan nilai kesalahan -0.0026mm ke arah X dan 0.0071mm ke arah Y.

EVALUASI USAHA KECIL DAN MENENGAH MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KOTA SURABAYA

Geoid Vol 11, No 1 (2015)
Publisher : Department of Geomatics Engineering

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1367.682 KB)

Abstract

Era globalisasi yang tanpa batas pada dasarnya semakin menjanjikan peluang besar terutama dalam bidang perkembangan ekonomi bagi Kota Surabaya. Banyak sektor dan faktor untuk mengembangkan pembangunan ekonomi Kota Surabaya, salah satunya adalah program dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Surabaya untuk memonitoring usaha kecil dan menengah. Oleh karena itu dibutuhkan solusi dan strategi untuk memonitoring data usaha kecil dan menengah yang sudah ada dengan dibangunnya suatu sistem informasi geografis. Selain membangun sistem informasi geografis, penelitian ini juga melakukan evaluasi usaha kecil dan menengah berdasarkan lokasi, persebaran, serta kesesuaiannya dengan UU RI No 20 Tahun 2008 dan PERDA Kota Surabaya No 1 Tahun 2010. Penelitian ini menggunakan data spasial berupa peta digital Kota Surabaya, data non spasial berupa data dan informasi pendukung usaha kecil dan menengah tahun 2014 dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Surabaya, serta koordinat hasil dari pencarian alamat atau lokasi usaha dari Google Maps. Kemudian data spasial diolah untuk penentuan sistem koordinat dengan menggunakan ArcGIS, sedangkan data non spasial diolah dengan menggunakan Microsoft Excel dan MySQL, lalu tahap akhir dilakukan penggabungan data spasial serta  non spasial dengan membangun pemrograman aplikasi sistem informasi geografis dalam Microsoft Visual Basic. Dalam tahap akhir penelitian ini dihasilkan aplikasi sistem informasi geografis usaha kecil dan menengah dengan kemampuan fungsi search (query) dan fungsi update titik usaha, serta diperoleh informasi persebaran usaha dengan usaha kecil lebih dominan daripada usaha menengah, sedangkan wilayah persebaran usaha terpadat berada pada wilayah Surabaya Pusat