Articles

Found 5 Documents
Search

MENDESAIN BALANCED SCORECARD SEBAGAI ALAT PENGENDALIAN MANAJEMEN PADA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

MIIPS Vol 8, No 2 (2008): Jurnal MIIPS
Publisher : MIIPS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper planned to examine the alignment of employee’s perception in Faculty of Teacher Training and Education Sebelas Maret University (FKIP-UNS) of Financial Perspective, Customer’s Satisfaction Perspective, Internal Process Perspective and Learning and Growth Perspective, in a line to implement the Balanced Scorecard as Management’s Control System. This is the first step of designing the model. When the perception from the scorer and whom scored meet together, its means that the tool could be adopted and realized.Faculty of Teacher Training and Education Sebelas Maret University (FKIP-UNS) as a growing Higher Education organization should lays the planning process and strategy in the right track. Designing the appropriate curricula which has to adaptable, responsive to change and improvement for the educating process is important to do in other way to find customer’s satisfaction then increase the revenue of the organization. The measurement could be found in Balanced Scorecard model.Using the Kruskal-Wallis H test, this research found that there is a difference in proportion for the Balanced Scorecard model, but this is okay because there are no conditions that the proportion for each perspective must be the same. The Mann-Whitney test found that there are no differences in perception between the scorer and whom scored (P value from each perspective is greater than α), from the Mean’s Rank shows that the Internal Process Perspective get the first priority for respondents, the Learning and Growth Perspective in second priority, the Financial Perspective in third priority and the Customer’s Satisfaction Perspective in the last priority in setting or designing the evaluation’s criteria for the Balanced Scorecard model.

STRATEGIC RETHINKING: COMBINATION OF BALANCED SCORECARD-BASED APPROACH AND FUZZY ANALYTIC NETWORK PROCESS TO ENHANCE THE EDUCATION QUALITY

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Akuntansi dan Keuangan 2015: Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Akuntansi dan Keuangan
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Akuntansi dan Keuangan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (756.652 KB)

Abstract

ABSTRACT Educational providers should monitor and measure their performance continuously, in terms of delivering qualified education to the students and to improve their accountability. Although the importance of such an assessment process has been stressed in the literatures, policies and regulations, there is no framework that has been proposed to consider all the different relevant factors and determines semantically the level of the quality of education being delivered. In order to provide such an approach, in this paper we propose a framework by which the quality of education being delivered in a subject in an Indonesian university can be determined by using the Balanced Scorecard (BSC). The proposed approach will capture the different factors to be considered from the different perspectives and assimilate them to determine the quality of education. The resultant analysis will provide important inputs to the different stakeholders involved in taking appropriate measures to ensure that students’ learning experiences can be maintained at a certain desired level.  ABSTRAK Penyelenggara pendidikan seyogianya menjaga dan menentukan kinerjanya secara berkelanjutan, dalam arti memberikan pedidikan berkualitas kepada siswa dan selalu meningkatkan akuntabilitasnya. Meskipun ulasan mengenai pentingnya proses penilaian telah banyak diulas diberbagai kajian pustaka, kebijakan dan peraturan, tetapi tidak ada kerangka yang secara menyelurh menerangkan bagaimana kualitas pendidikan dapat diraih melalui berbagai macam faktor. Dalam rangka memberikan pendekatan semacam itu, dalam makalah ini kami mengusulkan kerangka kerja dimana kualitas pendidikan yang disampaikan dalam sebuah topik di sebuah universitas di Indonesia dapat ditentukan dengan menggunakan Balanced Scorecard (BSC). Pendekatan yang diusulkan akan menangkap berbagai faktor yang harus dipertimbangkan dari perspektif yang berbeda dan mengasimilasi mereka untuk menentukan kualitas pendidikan. Analisis yang dihasilkan akan memberikan masukan penting kepada para pemangku kepentingan yang terlibat dalam mengambil langkah yang tepat untuk memastikan bahwa pengalaman belajar siswa dapat dipertahankan pada tingkat tertentu yang diinginkan. Keywords: Education quality, balanced scorecard, fuzzy analytic network process

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI LITERASI KEUANGAN MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

Tata Arta : Jurnal Pendidikan Akuntansi Vol 3, No 3 (2017): Jurnal Pendidikan Akuntansi
Publisher : FKIP Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (849.221 KB)

Abstract

ABSTRACTThe objective of this research is to find out the factors that affecting students’s financial literacy at Department of Accounting Education Faculty of Teacher Training and Education Sebelas Maret University. This research employed a descriptive quantitative method using Exploratory Factor Analysis techniques. The population of this research was all active of students year of 2013-2016 as 247 students. The sampling techniques used in this research was purposive sampling with 108 students as sample year of 2014 and 2015. The data collection techniques used in this research was questionnaires, test, and documentation. The result of this research indicated that there are four factors that affecting financial literacy the students, such as (1) experience and education factors of financial, (2) socioeconomic factors of parents, (3) individual/personal factors, and (4) demographic factors. The conclusion of this research was there are a new factor affecting financial literacy the students namely experience and education factors of financial. The implication in this research is the factors that affecting financial literacy need to be optimized to increase financial literacy. Furthermore, it is also important to create and develop an approach or program in how to improve financial literacy on non-economic or accounting departments.Keywods: experience and education factors of financial, socioeconomic factor of parents s, individual/personal factors, demographic factors, financial literacyABSTRAKTujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi literasi keuangan mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan teknik analisis Exploratory Factor Analysis. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa aktif angkatan 2013-2016 yang berjumlah 247 mahasiswa. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan sampel sejumlah 108 mahasiswa angkatan 2014 dan 2015. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket, tes dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat empat faktor yang memengaruhi literasi keuangan mahasiswa, yaitu (1) faktor pengalaman dan pendidikan keuangan, (2) faktor sosial ekonomi orang tua, (3) faktor individu/personal, dan (4) faktor demografi. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat faktor baru yang memengaruhi literasi keuangan mahasiswa, yaitu faktor pengalaman dan pendidikan keuangan. Implikasi dalam penelitian ini, yaitu faktor-faktor yang memengaruhi literasi keuangan perlu dioptimalkan untuk meningkatkan literasi keuangan. Selain itu, penting juga untuk menciptakan dan mengembangkan sebuah pendekatan atau program tentang bagaimana meningkatkan literasi keuangan di departemen non-ekonomi atau akuntansi.Kata kunci: faktor pengalaman dan pendidikan keuangan, faktor sosial ekonomi orang tua, faktor individu/personal, faktor demografi, literasi keuangan

Accommodating Analytic Hierarchy Process (AHP) for Elective Courses Selection

IJIE (Indonesian Journal of Informatics Education) Vol 2, No 2 (2018): (IJIE) Indonesian Journal of Informatics Education
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.21 KB)

Abstract

The determination of elective courses for students is one of many things that require some complex considerations. This complexity is motivated by psychological and non-psychological factors of human beings such as: learning motivation, lecturer and previous learning experience. Many students found difficulties if they have to decide in a complex options in which has the identical option. Thus, they made their decisions based on just one perceived factors alone without taking into account other factors which have great importance as well. Analytic Hierarchy Process (AHP) is one method that can be used as an appropriate decision supporting tool to reduce the complexity of decision making process. AHP provides analysis in the form of selected course recommendations that have a weight of rankings to the level of importance of each preferred alternative. This study was a preliminary study subjected to construct the real consideration from students’ point of view. In which very important to create a hierarchical perspective order for decision making process in both sides, student and education provider which was on Accounting Education Department, Faculty of Teacher Training and Education, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

TANTANGAN DAN PELUANG SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN MELALUI PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN DALAM MENGHADAPI ERA DIGITAL

Surya Edunomics Vol 2, No 1 (2019): SURYA EDUNOMICS
Publisher : Program Studi Pendidikan Ekonomi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak:Revolusi digital  dan  era disrupsi  teknologi  adalah istilah lain dari industri  4.0.  Disebut  revolusi  digital  karena  terjadinya  proliferasi komputer  dan  otomatisasi  pencatatan  di  semua  bidang.  Kemajuan  teknologi  memungkinkan  terjadinya  otomatisasi hampir  di  semua  bidang.  Teknologi  dan  pendekatan  baru  yang menggabungkan dunia fisik, digital, dan biologi secara fundamental akan mengubah pola hidup dan interaksi manusia. Oleh  karena  itu manusia  harus  dibekali soft skill dan hard skill yang baik agar dapat mengelola tantangan di era digital ini menjadi sebuah peluang. Tantangan terbesar yang harus dihadapi oleh masyarakat Indonesia saat ini adalah masalah pengangguran. Berdasarkan data  BPS  2018 menunjukkan bahwa  jumlah  pengangguran  yang berasal  dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menduduki peringkat teratas yaitu  sebesar   8,92%. Sekolah Menengah Kejuruan berperan penting dalam mengurangi angka pengangguran di Indonesia, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan cara membekali soft skill dan hard skill kepada siswanya melalui pendidikan kewirausahaan sehingga akan melahirkan generasi entrepreneurship yang mampu bersaing di era digital. Gagasan ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan metode pengumpulan data studi kepustakaan dari berbagai sumber. Tujuan penulisan ini adalah untuk menganalisis tantangan dan peluang pendidikan kewirausahaan di Sekolah Menengah Kejuruan, agar mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas sehingga siap menghadapi persaingan di era digital.   Kata Kunci: SMK, Pendidikan Kewirausahaan, Era Digital