Yuni Susanti Pratiwi, Yuni Susanti
Department of Physiology Universitas Padjadjaran Bandung

Published : 8 Documents
Articles

Found 8 Documents
Search

Characteristics of Hypertension in Children at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in January to December 2014

Althea Medical Journal Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Hypertension is often found in children. It could cause serious complications and added risk of hypertension in adulthood. Hypertension in children is likely secondary type and some of them might be severe. The aim of this study was to determine the demographic and clinical characteristics of hypertension in children admitted to Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in January to December 2014.Methods: The study design used was a quantitative, descriptive cross-sectional study. Data were obtained from medical records retrospectively of inpatient children from the period January to December 2014. Data were collected from the period  September to November 2015 based on age and gender as a demographic characteristics and stage of hypertension, etiology of hypertension, and emerge of hypertensioncomplication as a clinical characteristics.Results: Ninety(1.9%)children with hypertension were found from 4,681 of total inpatient children consisting of 58 males and 32 females with median of age 8 (0−13) years old.The main stage of hypertension was hypertension stage 2 with 55 cases and nephrotic syndrome as the most common causes with 43 cases. The complications were present in hypertension stage 2 with 3 cases and hypertensive crisis with 2 cases.Conclusions: Children with hypertension are most commonly males and median of age was 8 years old. Hypertension is characterized by hypertension stage 2 and nephrotic syndrome as the most common etiology. Complications of hypertension appear in severe hypertension.

Profile of Handgrip Strength, Anthropometry, Nutritional Status and Activities of Daily Living Among Geriatrics at Karitas Nursing Home, Bandung

Althea Medical Journal Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  Background: Reduced handgrip strength is an aging process that influences the activities of daily living among elderly people. Handgrip strength varies greatly with age, gender, anthropometric measurement and nutritional status. This study aimed to determine the profile of handgrip muscle strength, physical characteristic, nutritional assessment and activities of daily living among elderly Methods: This study was conducted at Karitas nursing home, Bandung on September 2012. This is a descriptive study by collecting primary data from 28 elderly people. Data were collected in 2 days within 2 weeks. The first data collection included details of anthropometric measurement and handgrip measurement. The second data collection included face to face interview using standardized questionnaire for mini nutritional assessment and Barthel index.Result: The mean age of the respondents was 74.14 ± 8.5189 years. The average reading on handgrip muscle strength was 30.84 ± 12.0175 lbs for right hand and 27.77 ± 11.3778 lbs for left hand. For anthropometric measurement, most of the respondents had normal weight body mass index status (39.3%). Nutritional status of respondents evaluated by mini nutritional assessment showed that most of the respondents were at risk of malnutrition (64.3%). The activities of daily living assessment based Barthel Index showed that half of the respondents were dependent in activities of daily living (50%).Conclusions: From this  study, it can be concluded that the grip strength of all the respondents are weaker. Majority have normal body weight, malnutrition risk, and half of the subjects are depend on others in doing their daily activities.Keywords: Activities of daily living, anthropometry, elderly, handgrip strength, nutritional status DOI: 10.15850/amj.v2n1.423 

Persepsi Tenaga Kesehatan terhadap Penggunaan Alat Pelindung Diri dan Kejadian Kecelakaan Akibat Kerja di Salah Satu Rumah Sakit di Kota Bandung

Jurnal Sistem Kesehatan Vol 3, No 4 (2018): Volume 3 Nomor 4 Juni 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.79 KB)

Abstract

Pendahuluan Tenaga kesehatan berperan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan berhak mendapatkan jaminan kesehatan dan keselamatan kerja. Penelitian sebelumnya melaporkan kecelakaan kerja yang sering terjadi di rumah sakit adalah tertusuk jarum, teriris pisau, terluka dan terpercik cairan tubuh. Kejadian tersebut banyak yang belum terlaporkan karena padatnya jadwal pelayanan kesehatan dan rendahnya persepsi terhadap risiko terpapar infeksi. Rendahnya persepsi dan tingginya risiko kejadian kecelakaan kerja menjadi tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara persepsi tenaga kesehatan terhadap penggunaan alat pelindung diri dengan kejadian kecelakaan akibat kerja. Metode Penelitian dilakukan dengan metode analitik dan desain potong lintang yang melibatkan 102 tenaga kesehatan yang dipilih dengan teknik simple random sampling di salah satu rumah sakit di Kota Bandung pada bulan Oktober hingga November 2016. Variabel yang diteliti meliputi persepsi terhadap penggunaan alat pelindung diri dan kejadian kecelakaan akibat kerja. Data diambil melalui instrumen kuesioner kemudian dilakukan analisis data dengan menggunakan uji Chi-square dan Uji Spearman Correlation. Hasil Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel yang diteliti dengan nilai r= -0,085 dan p= 0,395. Pembahasan Tidak ada hubungan antara persepsi tenaga kesehatan terhadap penggunaan alat pelindung diri dengan kejadian kecelakaan akibat kerja. Terdapat faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi kepatuhan dalam penggunaan alat pelindung diri dan kejadian kecelakaan kerja.Kata kunci: APD, KAK, Persepsi, Tenaga kesehatan

Persepsi Dosen tentang Kemampulaksanaan Evaluasi 360° dan OSCE sebagai Alat Penilaian Keterampilan Komunikasi

Jurnal Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan Indonesia (Indonesian Journal of Education and Midwifery Care Vol 3, No 2 (2016): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kebidanan FK UNPAD

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.252 KB)

Abstract

Komunikasi merupakan salah satu standar kompetensi yang harus dikuasai oleh lulusan Prodi Diploma III Kebidanan yang mencakup pengetahuan, keterampilan klinis, dan perilaku. Metode penilaian keterampilan komunikasi mahasiswa yang banyak digunakan adalah Objective Structure Clinical Examination (OSCE). Terdapat alternatif metode penilaian keterampilan komunikasi, yakni metode evaluasi 360°.Mengingat metode evaluasi 360° merupakan alat penilaian yang baru di institusi kesehatan di Indonesia terutama di institusi kebidanan, pengkajian terhadap kemampulaksanaan evaluasi 360° dan OSCE ini perlu dilakukan untuk mengetahui bagaimana kemampulaksanaan evaluasi 360° dan OSCE sebagai alat penilaian keterampilan komunikasi. Rancangan Penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam. Analisis data yang dilakukan dimulai dengan pembuatan catatan lapangan, transkripsi hasil wawancara, reduksi, koding, kategorisasi, tema, dan interpretasi data. Hasil penelitian didapatkan penguji dalam melaksanakan evaluasi 360° adalah orang yang berinteraksi langsung dengan yang dinilai pada saat mahasiswa memberikan asuhan terhadap pasien seperti dosen, CI lapangan, pasien, keluarga pasien, mahasiswa yang dinilai, dan teman mahasiswa yang dinilai, sedangkan penguji OSCE adalah dosen dari pendidikan sesuai dengan bidang keilmuan. Penilaian OSCE dipengaruhi oleh perbedaan jumlah penguji, jumlah mahasiswa, dan jumlah kompetensi yang akan diuji. Durasi untuk mempersiapkan penilaian evaluasi 360° sebagai alat penilaian keterampilan komunikasi singkat, tetapi durasi pelaksanaan ujian dengan metode evaluasi 360° independen/tidak terbatas sesuai dengan kasus yang ditemukan, sedangkan waktu untuk mempersiapkan penilaian dengan metode OSCE lama dan waktu pelaksanaan penilaian ditentukan 5−10 menit setiap pojok uji. Dana operasional untuk melaksanakan evaluasi 360° sebagai alat penilaian keterampilan komunikasi ekonomis, sedangkan untuk OSCE biayanya mahal. Sarana prasarana untuk melaksanakan evaluasi 360° sebagai alat penilaian keterampilan komunikasi minim, sedangkan untuk melaksnakan OSCE banyak. Keberhasilan pelaksanaan sebuah metode penilaian apabila adanya ketersediaan sumber daya, biaya, waktu, dan logistik yang baik.

Pengaruh Paparan Cahaya Matahari Pagi Terhadap Penurunan Berat Badan dan Body Fat Wanita Dewasa Muda Obesitas di Asrama Putri STIKES Medistra Indonesia

Jurnal Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan Indonesia (Indonesian Journal of Education and Midwifery Care Vol 2, No 3 (2015): September
Publisher : Program Studi Magister Kebidanan FK UNPAD

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.473 KB)

Abstract

Obesitas adalah penyakit yang berkontribusi terhadap komplikasi metabolik. Prevalensi obesitaspada wanita ditemukan lebih tinggi dari laki-laki dengan kecenderungan meningkat dari tahunke tahun. Dampak obesitas terhadap wanita telah banyak ditemukan, khususnya komplikasikehamilan dan persalinan serta janin yang dilahirkan. Untuk itu wanita didorong menurunkanberat badan pada masa pra-hamil. Beberapa penelitian menemukan ada hubungan kuat antarapaparan cahaya matahari pagi dengan penurunan berat badan dan lemak tubuh, sehingga cahayamatahari dapat menjadi salah satu bagian dari terapi kombinasi. Rancangan penelitian iniadalah quasi eksperimental pre dan post di asrama putri STIKES Medistra Indonesia. Subjekterdiri dari 16 mahasiswa obesitas. Intervensi yang diberikan adalah paparan cahaya mataharipagi 45 menit setiap hari selama 21 hari berturut-turut dengan intensitas rata-rata 13.250 lux.Intensitas cahaya matahari diukur dengan lux meter. Berat badan dan body fat diukur dengantimbangan digital Bioelectrical Impedance Analysis (BIA). Data dianalisis dengan uji t, ujiMann-Whitney, dan uji Wilcoxon. Pengaruh paparan cahaya terhadap penurunan berat badandan body fat diperoleh dari persentase selisih hasil pengukuran sebelum dan sesudah intervensidilakukan. Pada kelompok perlakuan persentase penurunan berat badan sebesar 0,53% (p<0,05)dan penurunan body fat 1,02% (p<0,05). Simpulan penelitian ini adalah paparan cahayamatahari pagi terhadap wanita dewasa muda obesitas berpengaruh terhadap penurunan beratbadan, body fat dan nafsu makan.

Analisis Kualitas AlatUji Objective Structure Clinical Examination(OSCE) di Pendidikan Diploma III Kebidanan STIKes Rajawali

Jurnal Pendidikan dan Pelayanan Kebidanan Indonesia (Indonesian Journal of Education and Midwifery Care Vol 3, No 2 (2016): Juni
Publisher : Program Studi Magister Kebidanan FK UNPAD

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.904 KB)

Abstract

Penilaian kemajuan pendidikan perlu dilakukan untuk mengevaluasi kinerja peserta didik dan institusi pendidikan, apakah program pendidikan menghasilkan lulusan yang kompeten sesuai dengan standar kompetensi bidan yang telah ditetapkan. OSCE merupakan salah satu alat untuk menguji kompetensi keterampilan mahasiswa secara komprehensif meliputi aspek kognitif, psikomotor, dan afektif yang dibentuk melalui penjabaran kurikulum institusi. Kualitas alat uji OSCE mempunyai peran penting dalam menilai keterampilan klinik. Validitas alat uji perlu dianalisis oleh para penguji hingga didapatkan kesepakatan tentang mutu alat uji tersebut.STIKes Rajawali adalah satu dari tujuh institusi kebidanan Jawa Barat yang telah melaksanakan ujian akhir program dengan OSCE sejak 2012, tetapi belum pernah dilakukan evaluasi terhadap alat uji OSCE. Desain penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus. Wawancara mendalam dilakukan kepada empat dosen yang sudah menerapkan OSCE di Universitas Padjadjaran selama bulan Mei−Desember 2015 untuk mengetahui kualitas alat uji OSCE yang sudah diterapkan di STIKes Rajawali. Pengolahan dan analisis data menggunakan analisis isi.Alat uji OSCE yang sudah ada di STIKes Rajawali mengalami beberapa perbaikan: area kompetensi dalam blueprintharus mencakup perilaku profesional, jenis kasus yang diujikan harus dituliskan dengan jelas dalam blueprint. Penentuan jumlah station dilakukan berdasarkan jumlah kasus dan kompetensi yang akan diujikan. Waktu ujian harus disesuaikan dengan keterampilan yang diujikan sehingga perlu dilakukan uji coba pada kasus yang akan diujikan. Daftar tilik yang digunakan sebelumnya diubah ke dalam bentuk rubrik penilaian, diperlukannya standar pasien saat pelaksanaan OSCE. Bahasa dalam skenario kasus masih kurang jelas.Kualitas alat uji OSCE belum sesuai standar karena kelengkapan, keluasan dan kejelasan dari segi materi dan bahasa masih kurang. Berdasarkan simpulan tersebut maka perlu diadakan workshop mengenai persiapan dan pelaksanaan OSCE.

Characteristics of Hypertension in Children at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in January to December 2014

Althea Medical Journal Vol 4, No 3
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Hypertension is often found in children. It could cause serious complications and added risk of hypertension in adulthood. Hypertension in children is likely secondary type and some of them might be severe. The aim of this study was to determine the demographic and clinical characteristics of hypertension in children admitted to Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in January to December 2014.Methods: The study design used was a quantitative, descriptive cross-sectional study. Data were obtained from medical records retrospectively of inpatient children from the period January to December 2014. Data were collected from the period  September to November 2015 based on age and gender as a demographic characteristics and stage of hypertension, etiology of hypertension, and emerge of hypertensioncomplication as a clinical characteristics.Results: Ninety(1.9%)children with hypertension were found from 4,681 of total inpatient children consisting of 58 males and 32 females with median of age 8 (0−13) years old.The main stage of hypertension was hypertension stage 2 with 55 cases and nephrotic syndrome as the most common causes with 43 cases. The complications were present in hypertension stage 2 with 3 cases and hypertensive crisis with 2 cases.Conclusions: Children with hypertension are most commonly males and median of age was 8 years old. Hypertension is characterized by hypertension stage 2 and nephrotic syndrome as the most common etiology. Complications of hypertension appear in severe hypertension.

Effect of Acute Aerobic Physical Activity on Skeletal Muscle MyoD Gene Expression of Wistar Rats

Majalah Kedokteran Bandung Vol 51, No 1 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aerobic physical activity is known to induce skeletal muscle adaptation. Some genes, including MyoD, are known to have a major role in the process of muscle adaptation. Several studies has stated that the expression of MyoD increases during the aerobic activity process; however, the studies were carried out in a single bout. Studies on the effects of acute phase exercise (<2 weeks) are still rare, especially those regarding the difference effect of acute training phase at different times. This study was performed in 2018 at the Central Laboratory and Animal Physiology Laboratory, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran. The aim of this study was to determine the different effects of MyoD gene expression in a two-week acute aerobic physical activity. The effects were measured in the skeletal muscle in day 3, 7, and 14 of the activity. Twenty four male rats (rattus novergicus) were divided into 4 groups. Those rats in the treatment groups were run on an animal treadmill (P1=3 days, P2=7 days, and P3=14 days). On the last day of ran, rats were sacrificed and the soleus and gastrocnemius muscles were dissected. The expression of the MyoD gene in both muscles was then amplified using reversed PCR and detected by agarose gel electrophoresis. This study showed that there were differencesin MyoD gene expression levels in both muscles and that the level increased with days of treatment, although it was statistically insignificant. This study concludes that the MyoD gene expression level is not significantly affected by an acute aerobic physical activity in certain periods (3, 7 and 14 days).Key words: Acute, Aerobic physical activity, gastrocnemius, MyoD, rats, soleus Perbedaan Pengaruh Aktivitas Aerobik Akut Intensitas Sedang terhadap Ekspresi Gen MyoD pada Otot Rangka Tikus Galur WistarAktivitas fisik aerobik diketahui menginduksi adaptasi otot rangka. Beberapa gen diketahui memiliki peran utama dalam proses adaptasi otot termasuk MyoD. Dalam beberapa penelitian diketahui bahwa ekspresi MyoD meningkat selama proses aktivitas aerobik, tetapi penelitian dilakukan dalam pertarungan tunggal. Penelitian tentang efek latihan fase akut (<2 minggu) masih belum banyak dilakukan, terutama mengenai perbedaan efek fase latihan akut pada periode tertentu (3, 7, dan 14 hari). Penelitian ini dilakukan pada tahun 2018 di Laboratorium Sentral dan Laboratorium Fisiologi Hewan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan efek ekspresi gen MyoD dalam aktivitas fisik aerobik akut pada berbagai hari (3, 7, 14 hari) pada otot rangka. 24 tikus jantan Rattus novergicus dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok perlakuan dijalankan dengan treadmill hewan (P1=3 hari, P2=7 hari, dan P3=14 hari). Pada hari terakhir, tikus dikorbankan dengan soleus dan otot gastroknemius dibedah. Ekspresi gen MyoD pada kedua otot kemudian diamplifikasi menggunakan PCR terbalik dan dideteksi dengan elektroforesis gel agarosa. Penelitian ini menunjukkan perbedaan level ekspresi gen MyoD pada kedua otot, hasil ini menunjukkan bahwa ada peningkatan level perawatan per hari, walaupun secara statistik tidak signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pada otot gastrocnemius tidak terlihat efek yang berbeda dari durasi aktivitas fisik aerobik terhadap tingkat ekspresi gen MyoD, hanya otot soleus menunjukkan perubahan dan peningkatan ekspresi konsisten terlihat pada hari ke 14 (3, 7, dan 14 hari).Kata kunci: Aktivitas fisik aerobik, akut, gastroknemius, MyoD, soleus, tikus