Articles

Found 20 Documents
Search

RANCANG BANGUN MESIN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BIOMASSA (PLTBm) PADA DAERAH TERISOLASI DARI JARINGAN LISTRIK PT.PLN (Persero) DI INDONESIA MELALUI APLIKASI TAR WET SCRUBBER DAN GAS FILTER Siregar, Kiman; Alamsyah, Rizal; Ichwana, Ichwana; Sholihati, Sholihati; B.Tou, Saminuddin
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan 2017: PROSIDING SEMINAR NASIONAL FKPT-TPI 2017
Publisher : Jurnal Sains dan Teknologi Pangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (25.875 KB)

Abstract

Mesin gasifikasi bertujuan untuk menghasilkan gas mampu bakar (CO, H2, CH4). Gas mampu bakar yang dihasilkan dapat digunakan untuk menggantikan fossil fuel untuk menjalankan gas engine. Namun gas mampu bakar yang dihasilkan tersebut mengandung tar (kotoran) yang masih tinggi, sehingga terjadi pengotoran filter engine dan mengakibatkan mesin tidak dapat dioperasikan dalam waktu yang cukup lama. Penelitian ini bertujuan untuk mendisain Mesin Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) pada daerah terisolasi dari jaringan listrik PT.PLN (Persero) di Indonesia melalui aplikasi tar wet scrubber dan gas filter. Mesin gasifier yang dirancang berupa tipe downdraft dengan kapasitas terpasang 25 kW. Tambahan komponen rangkaian PLTBm yang dirancang adalah tar wet scrubber, gas filter dan gas engine. Secara keseluruhan mesin PLTBm yang dirancang terdiri dari : (1)Tangki pengisian biomassa, (2)Tangki biomassa, (3)Reaktor tipe downdraft, (4)Cyclon, (5)Tar wet schrubber, (6)Water tank, (7)Gas filter, (8)Blower, (9)Gas engine kapasitas 25 kW, (10)Air inlet nozzle, (11)Connection pipe, (12)Termometer indicator, (13)Exhaust gas, (14)Pressure indicator. Pengurangan nilai tar selain menggunakan karbon aktif, juga menggunakan sistem perangkap kotoran gas (wet scrubber). Gasifier yang digunakan pada penelitian ini memiliki diameter reaktor 900 mm dan tinggi 1000 mm. Cyclon memiliki diameter 580 mm dengan tinggi 1766 mm. Gas filter memiliki panjang 700 mm, tinggi 700 mm dan lebar 700 mm. Tar wet scrubber terdiri dari 5 tabung (diameter tabung 300 mm) yang terangkai satu dengan yang lainnya dengan tujuan untuk menangkap tar yang masih terkandung dalam gas mampu bakar yang dihasilkan dari reaktor gasifikasi dengan dimensi total yaitu lebar 1750 mm dan tinggi 1300 mm. Kata kunci : PLTBm, energi terbarukan, tar wet scrubber, biomassa, gas filter 
KAJIAN PENERAPAN ALAT PENGERING BAWANG MERAH DI SENTRA PRODUKSI BREBES - JAWA TENGAH Alamsyah, Rizal; Pohan, Guring; Herman, Atih Surjati
Jurnal Riset Industri Vol 2, No 1 (2008): Jurnal Riset Industri
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Industri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1281.085 KB)

Abstract

Alat pengerin buatan untuk bawang merah saat musim hujan sangan dibutuhkan kerena bila tidak kpengeringan yang kurang sempurnaakan terjadi dan berakibat menurunya mutu bawang merahpenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan alat pengering buatan , melakukan analisis teknik dan mengkaji tekno ekonomi, studi dilakukan di daerah brebes sebagai salah satusentra produksi bawang merah metode yang di lakukan terdiri dari metode pengukuran parameter pengeringan,perhitungan jumlah kebutuhan alat pengering, uji kerja, pengkajian analisis teknikkonstruksi serta tekno ekonomi, bedasarkan hasil uji alat pengering terdapat beberapa aspek yan perlu di perbaiki antara lain: 1)penyebaran panas, 2)sistem pembakaran, 3)laju pengeringan4)kecepatan udara pengering, 5)ruang rak pengering. Analisis finansial di lakukan baik terhadap pengering buatan maupun matahari . Biaya pengerin matahari adalah Rp 104/kg dengan lama pengeringan7-10 hari sedangkan dengan pengering bautan adalah Rp 207.4/kg dengan lama pengeringan selama 18 jam (trun over lebih cepat)bedaserkan produksi bawang pada tahun 2002 di perlukan jumlah alat pengering buatan sebayak 142 unit. untuk memproduksi 2000 kg bawang kering mengunakan pengering buatan , total infestasi yang di perlukan Rp 59.549.000 dengan 50 hari kerja selama musim huajan, penghasilanbersih dan pengembalian modal masing-masing adalah Rp 12.793.00,- dan 3.14 tahun dari kajian ini usaha itu cukup layak untuk di lakukan
THE CURRENT STATUS OF BIODIESEL PRODUCTION TECHNOLOGY: A REVIEW Alamsyah, Rizal; Tambunan, Armansyah H.; Purwanto, Y. Aris; Kusdiana, Dadan
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol 21, No 4 (2007): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBiodiesel is addressed to the name of fuel which consist of mono-alkyl ester that made from renewable and biodegradable resources, such as oils from plants (vegetable oils), waste or used cooking oil, and animal fats. Such oils or fats are chemically reacted with alcohols or methanol In producing chernical compounds called fatty acid methyl ester (FAME) and these reactions are called transesterification and esterification. Glycerol, used in the pharmaceutical and cosmetics industry is produced from biodiesel production as a by-product. Researches on biodiesel as an alternative petroleum diesel have been done for more than 20 years. Transesterification reaction can be acid-catalyzed, alkali-catatyzed, or enzyme-catalyzed. Commercially biodiesel is processed by transesterification with alkali catalyst. This process, however, requires refining of products and recovery of catalysts, Such biodiesel production accelerates researches on biodiesel to obtain simpler methods, better quality. and minimum production cost. Besides the catalytic production for biodiesel, there is a method for biodiesel production namely non-catalytic production. Non-catalytic transesterification method was developed since catalytic tranestertfification still has two main problems assoclated With long reaction time and complicated purification. The first problem occurres because of the two phase nature of vegetable oil/methanol mixture, and the last problem is due to purification of catalyst and glycerol. The application of catalytic tranestertfication method leads to condition of high biodiesel production cost and high energy consumption. This paper provides information of biodiesel production progress namely catalytic tranestertfification  (acid, alkali, and enzymatic tranesterfification), and non-catalytic tranesterification (at sub-critical­-supercritical temperature under pressurized conditions). It was found that every method of biodiesel production still has advantages and disadvantages. It means that there is a necessity to develop biodiesel processing method further in order to obtain high reaction rate, high reaction constant (k), high yield, safely process, and minimum energy consumption. In conclusion. there are some works should be undertaken in biodiesel research. Keywords: biodiesel, methyl esters, transesterification. estenfication, and FAME Diterima: 31 Oktober 2007: Disetujui: 11 Desember 2007   
Kajian mutu bahan baku rumput laut (Eucheuma SP.) dan teknologi pangan olahannya Alamsyah, Rizal; Lestari, Nami; Hasrini, Reno Fitri
Jurnal Dinamika Penelitian Industri Vol 24, No 1 (2013): JURNAL DINAMIKA PENELITIAN INDUSTRI
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.75 KB)

Abstract

Seaweed is one of the strategic commodities in fisheries revitalization program in Indonesia. The problems faced by seaweed producers are the low quality and products diversification of seaweeds due to traditional post-harvest handling and unknown critical factors as quality benchmark of seaweeds products. This study was aimed to determine the condition of the quality of raw materials and end products that have been produced on the market and give recommendations for better seaweed processing technology. The steps taken were the collection of data and information, purchase of raw materials and seaweed based food products, analysis of various seaweed products purchased from the survei areas, process improvement based on the results of analysis, and product analysis as the results of process improvement results. Raw material quality of seaweed of Echeuma cottoni in the market are generally not eligible to be qualified as Dried Seaweed (SNI 2690 2:2009) which has the moisture content above 30%, the value of anhydrous weed below 30%, the level of foreign objects above 5% and microbial contamination was sufficiently high (max 1.0 X102 TPC colonies / gram and E.coli maxKeywords : Eucheuma sp, seaweed sweets, seaweed jam, seaweed sweet cake , seaweed crackers, seaweed cheese stickAbstrakRumput laut merupakan salah satu komoditas strategis dalam program revitalisasi perikanan di Indonesia. Permasalahan yang dihadapi adalah rendahnya mutu rumput laut dikarenakan masih tradisionalnya penanganan pascapanen serta tidak diketahuinya kritikal faktor yang dijadikan tolak ukur mutu produk rumput laut. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui kondisi mutu bahan baku dan produk jadinya yang telah diproduksi yang beredar di pasaran, serta memberikan rekomendasi teknologi pengolahan rumput laut yang lebih baik. Tahapan yang dilakukan adalah pengumpulan data dan informasi, pembelian bahan baku dan produk pangan berbasis rumput laut, analisis berbagai produk rumput laut yang dibeli dari daerah survei, perbaikan proses berdasarkan hasil analisis, dan analisis produk hasil perbaikan proses. Mutu bahan baku rumput laut jenis Echeuma cottoni di pasaran umumnya belum memenuhi syarat Rumput Laut Kering (SNI 2690 2:2009) yaitu kadar air masih diatas 30%, nilai anhydrous weed dibawah 30%, kadar benda asing di atas 5% dan cemaran mikrobanya cukup tinggi (ALT maks 1,0x102 koloni/gram dan E.coli maksKata kunci : Eucheuma sp, manisan basah rumput laut, selai rumput laut, dodol rumput laut, kerupuk rumput laut, kertas keju rumput laut
Esterifikasi-Transesterifikasi dan Karakterisasi Mutu Biodiesel Dari Biji Jarak Pagar (Jatropha Curcas Linn) Alamsyah, Rizal; Lubis, Enny Hawani
Jurnal Kimia dan Kemasan Vol. 33 No. 1 April 2011
Publisher : Balai Besar Kimia dan Kemasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.048 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengolah minyak jarak pagar yang diperoleh dari biji jarak pagar (Jatropha curcas Linn) menjadi biodiesel, mempelajari pengaruh penambahan antioksidan Butylated Hidroxy Toluene (BHT) pada tahap pemurnian terhadap mutu biodesel yang dihasilkan dan menentukan kondisi optimum proses pembuatan biodiesel dari biji jarak pagar skala laboratorium. Minyak jarak pagar diekstraksi dengan cara pengempaan jackpress 50 ton pada kondisi suhu 60°C selama 1 jam. Konversi trigliserida (TG) menjadi metil ester dari asam lemak jarak pagar dilakukan dengan esterifikasi dan transesterifikasi pada suhu 60°C, menggunakan metanol 98% katalis NaOH 0,5%. Butylated Hidroxy Toluene (BHT) ditambahkan untuk mempertahankan keasaman minyak jarak dengan konsentrasi sebesar 0,3%. Hasil percobaan menunjukkan hasil pengepresan minyak biji jarak mencapai 35,47%. Sintesa TG menjadi asam lemak metil ester (biodiesel) mencapai 96%. Nilai bilangan asam, bilangan iod, bilangan penyabunan masing- masing sebesar 0,404 mg KOH/g; 95,36 mg I/100 g ; 180,397 mg KOH/g, sementara viskositas kinematik biodiesel jarak pagar masih tinggi, yaitu 11,245 cSt pada suhu 40°C. Indeks setana dan titik nyala adalah 44 dan 147°C. Nilai paramater tersebut masih sesuai dengan standar SNI 04-7182-2006, kecuali viskositas yang masih diatas ambang batas yang diijinkan (2,3-6,0 cSt) dan angka setana yang belum memenuhi persyaratan minimal yang ditetapkan (minimal 51). 
Pengolahan Biodiesel dari Biji Nyamplung (Calophyllum Inophyllum L) Dengan Cara Purifikasi Kering Alamsyah, Rizal; Lubis, Enny Hawani
Jurnal Kimia dan Kemasan Vol. 34 No. 2 Oktober 2012
Publisher : Balai Besar Kimia dan Kemasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1049.535 KB)

Abstract

Tanaman nyamplung atau hutaulo merupakan tanaman yang tumbuh di banyak tempat di Indonesia. Tanaman ini menghasilkan biji yang mempunyai kadar minyak yang tinggi dan dapat diubah menjadi biodiesel. Salah satu masalah dalam proses purifikasi (pencucian) biodiesel kasar adalah kebutuhan air dan energi yang tinggi untuk pemanasan air tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan purifikasi/pencucian kering biodiesel dan menggantikan metode pencucian dengan air dan proses pengeringan. Percobaan dilakukan dengan mereaksikan minyak nyamplung dengan metanol (MeOH) pada suhu 65oC menggunakan katalis NaOH 1% dari berat minyak. Rasio molar minyak nyamplung dan metanol adalah 1 : 11,5. Pencucian kering biodiesel kasar dilakukan dengan penambahan cleaning agent (CA), arang aktif (AA), dan campuran cleaning agent dan arang aktif (AACA). Pencucian kering dilakukan dengan mereaksikan biodiesel kasar dengan CA (1%, 3%, dan 5%), AA (1%, 3%, dan 5%), AACA (1%, 3%, dan 5%) dilanjutkan dengan penyaringan vakum. Hasil percobaan menunjukkan bahwa penambahan campuran CA dan AA (5%) ke dalam biodiesel menunjukkan hasil terbaik dalam memperoleh kandungan fatty acid methyl ester (FAME) sesuai SNI sebesar 96,5%. 
Analisa Pengeringan Gabah Dengan Alat Pengering Tipe Bak (Batch Dryer) Alamsyah, Rizal; Kamarudin, Abdullah; -, Eriyanto
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 1, No 1 (1984)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2241.416 KB)

Abstract

Pendekatan simulasi dengan membentuk model matematik dari pengeringan gabah pada alat pengering tipe bak (batch dryer) merupakan suatu cara yang dapat menggambarkan penampilan alat pengeing tanpa melakukan percobaan terlebih dahulu. Penurunan model pengeingan didasarkan atas keseimbangan energy dan massa udara pengeing dengan memperhatikan sifat-sifat udara seperti panas laten pennguapan (hfg), panas jenis udara pengeing (cp), juga perubahan-perubahan parameter  pengeringan seperti konstanta pengeingan (k) dan kadar air keseimbangan gabah (Me).Penampilan pengeringan gabah hasil perhitungan ternyata mendekati karakteristik pengeringan gabah hasil pengamatan percobaan.
Pengaruh Tekanan Pemasakan dan Penggunaan Rak Penyusun Terhadap Mutu dan Kekerasan Tulang Ayam Presto Alamsyah, Rizal
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 7 No 14 Desember 2013
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26578/jrti.v7i14.1538

Abstract

 Problems encountered in the production of chicken presto is bones which it is rapidly destroyed while cooking spices still does not penetrate properly  into the meat and rancidity is still felt. The purpose of this study was to determine the effect of vapor pressure cooking and the influence of position rack storage of raw chicken in aoutoclave on quality and tenderness of chicken bones  of chicken presto. The study consisted of two phases, namely the production of chicken presto, and storage for 8 weeks. Steam pressure treatment used were 10, 15 and 20 psi. These treatment were conducted with rack storage (shelf dividers) and without rack storage (stacked as usual). Tests were conducted on the product organoleptic and bone hardness test. Presto chicken products with the highest organoleptic acceptance is the treatment T2, which was the process of cooking presto with a pressure of 15 psi and processed without the use rack storage. Rack storage did not affect the organoleptic score increase on the product. Organoleptic test results showed presto chicken products accepted by the panelists with the average value of A between 3.3 to 3.6. The bone hardness test shows hardness values varying between 22.44 gf / mm to 60,46 gf / mm
PEMBUATAN SENYAWA EPOKSI MINYAK SAWIT MENTAH (CPO) PADA TINGKAT KONSENTRASI PELARUT DAN WAKTU REAKSI BERBEDA (Production of Epoxy Compounds from CPO Performed at Different Concentrations and Reaction Time) Alamsyah, Rizal
Jurnal Hasil Penelitian Industri Vol 26, No 1 (2013)
Publisher : Baristand Industri Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (23.353 KB)

Abstract

One of the best ways to increase the added value of the CPO is to process itinto products such as epoxy. Epoxy is a commercial product that can be applied for severalpurposes such as plasticizer, stabilizer and coatings agents for polymeric resin. Theexperiments were conducted by reacting CPO (Crude Palm Oil) with benzene as a solvent,amberlite resin IR-120 as a catalyst, formic acid, and H2O2. The concentrations of thesolvent benzene were 15%, 25%, and 35% and the epoxidation reaction time were 2, 4, 6,and 8 hours. The results showed that the optimum reaction time was 6 hours and theconcentration of benzene used was 25%. Iodine number obtained was 1.84 g iod/100grCPO and oxirane oxygen content was 6.20%. The production of epoxy increased with thedecrease of iodine number.
Pengaruh Berbagai Jenis Bahan Pengendap terhadap Peningkatan Gel Refined Carrageenandari Eucheuma Cottonii Alamsyah, Rizal; Lestari, Nami; Hasrini, Reno Fitri
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 7 No 13 Juni 2013
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26578/jrti.v7i13.1532

Abstract

The problems faced by carragenan producers is the optimation of the presipitation ingridients.  Presipitation process on the extraction carragenan from seaweeds is very essential since the fraction with higher molecul weight will be separated from the lighter one, and it can influence the gel strength which is one of the important characteristics.  Precipitation ingridients used in this experiments consist of  methanol, ethanol, and isopropanol. The extraction of carragenan from Eucheuma cottonii in this research follows some steps e.g. extraction with KOH 6%, heating, rinsing, pulping, hot filtering, addition of KCL 5%, precipitation, washing-rinsing, squizing, drying and grinding. Quality parameters observed were gel strength, moisture content, ash content, viscosity, boiling point, and gel point. From these experiments methanol ingridients exhibited the best characteristics of refined carragenan in term of gel strength (1407,83 g/cm2), moisture content (9,96%), ash content (18,7%), viscosity (251 cP), boiling point (27,6°C), and gel point (30,3°C).  In general refined carrageenan processed with these presipitation meet the standard from FAO (Food Agriculture Organization), FCC (Food Chemicals Codex), dan EEC (European Economic Community).