Hapsari Dwiningtyas Sulistyani, Hapsari Dwiningtyas
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

INTERPRETASI KHALAYAK TERHADAP HUMOR SARA DALAM VIDEO SACHA STEVENSON DI JEJARING SOSIAL YOUTUBE

Interaksi Online Vol 3, No 12 (2015): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh penggunaan materi SARA (Suku, Agama, Ras, danAntar Golongan) dalam berkomedi di media sosial. Sacha Stevenson membuat videokomedi bermaterikan SARA di jejaring sosial Youtube dan memiliki banyak penontonyang menyukainya. Pesan SARA ini seharusnya dapat menyinggung khalayak, tapiterdistorsi dengan adanya humor. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah untukmelihat keberagaman pemaknaan yang terjadi mengenai materi SARA dalam videoSacha Stevenson. Mitos Roland Barthes digunakan untuk memahami proses distorsihumor SARA dalam video ini. Analisis sintagmatik dan paradigmatik John Fiskedigunakan untuk mengetahui makna yang ditawarkan oleh media. Penelitian inimenggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode analisis resepsi StuartHall. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan indepth interview kepada delapaninforman yang telah menonton video Sacha Stevenson dari Etnis Tionghoa, SukuSunda, dan beragama Islam.Hasil penelitian ini menunjukkan khalayak pada posisi dominan sepakat denganpesan yang ditawarakan oleh media karena sesuai dengan gambaran kebiasaan EtnisTionghoa, Suku Sunda, dan Agama Islam di Indonesia. Informan yang berada padaposisi negosiasi hanya sepakat dengan sebagian gambaran tersebut dan merekamemiliki aturan khusus yaitu penggambaran dalam video tersebut terlalaumendiskriminasi dan mendiskriditkan Etnis Tionghoa, Suku Sunda, dan Agama Islamdi Indonesia. Mereka yang berada pada posisi oposisi, sama sekali tidak sepakat denganpesan media tersebut karena terlalu mendiskriminasi dan sama sekali tidakmenggambarkan Etnis Tionghoa, Suku Sunda, dan Agama Islam di Indonesia.Sebagian besar informan yang berada dalam posisi negosiasi menunjukan bahwamereka menerima pesan SARA yang dibawakan dalam konteks humor namun tetapmenganggap diskriminasi terjadi di dalamnya. Hasil penelitian observasi menunjukkanbahwa khalayak sepakat dengan sebagian pesan media dan memiliki aturan khususkarena mereka berasal dari etnis, usia, serta pendidikan yang berbeda. Hal inimenunjukan bahwa mitos mampu mendistorsi pesan SARA sehingga dapat diterimaoleh khalayak namun tidak secara dominan, karena khalayak juga memproses pesanbedasarkan latar belakang, pengalaman, serta kondisi sosial mereka, akibatnyawalaupun informan menerima sebagaian pesan yang ditawarkan media namun merekatetap menganggap video tersebut merupakan bentuk diskriminasi terhadap EtnisTionghoa, Suku Sunda, dan Agama Islam yang ada di Indonesia.

Representasi Kepahlawanan Orang Jawa dalam Film Java Heat

Interaksi Online Vol 3, No 12 (2015): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebuah film yang diproduksi di negara lain tentunya turut membawa budaya lokal di daerah setempat dan setiap budaya memiliki sosok pahlawan atau tipe karakter kepahlawanan yang menggambarkan nilai budayanya. Salah satu cara menggambarkan ide dari kepahlawanan adalah dengan membandingkan dua kebudayaan, maka kemudian muncul film Java Heat yang disutradarai oleh seorang warga Amerika. Film Java Heat berusaha menyuguhkan bagaimana dua budaya yang memiliki dua karakter kepahlawanan saling bekerjasama dalam menyelesaikan sebuah kasus, dimana kasus tersebut merupakan kasus terorisme yang dilakukan oleh umat Islam. Tentunya ini mencoreng salah satu tokoh utama yang memang dalam film ini diceritakan sebagai seorang muslim, dan juga tentunya membuat berdampak negatif terhadap citra Islam dan budaya Jawa.Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotika dari John Fiske dengan menggunakan the codes of television, dengan fokus penelitian bagaimana representasi nilai kepahlawanan digambarkan dan juga ideologi tersembunyi yang dikonstruksikan melalui film Java Heat. Film Java Heat diuraikan secara sintagmatik melalui analisis leksia yang setiap aspeknya dijelaskan pada level realitas dan level representasi. Selanjutnya level ideologi dianalisis secara paradigmatik.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa film Java Heat tidak sekedar memberi gambaran kepada masyarakat tentang perbedaan nilai kepahlawanan dari dua budaya yang berbeda. Lebih dari itu, film ini dibuat seakan dengan tujuan untuk “melecehkan” Islam dan budaya Jawa dengan jalan ceritanya yang menggambarkan bagaimana Islam menjadi ancaman, namun dengan ditampilkannya sosok pahlawan lokal yang membawa unsur-unsur budaya. Pembuat film ingin menujukkan kolaborasi budaya dengan menampilkan dua sosok pahlawan dengan latarbelakang budaya yang berbeda, namun jalan cerita dalam film justru hanya menonjolkan salah satu karakter, sedangkan karakter pahlawan yang lain hanya menjadi karakter pendamping. Karena itu dapat terlihat bagaimana melalui film, orang-orang dunia timur secara tidak langsung dikendalikan oleh kaum barat dan tanpa pernah menyadari bagaimana bentuk pengendalian yang dilakukan terhadap mereka.

PENGARUH IKLIM KOMUNIKASI TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (PDAM) CABANG SEMARANG SELATAN

Interaksi Online Vol 3, No 12 (2015): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Communication climate in organization taking objective in the internal environment of an organization that includes members of the organizations perception based on the events that occur within the organization. conducive and democratic communication atmosphere in an organization made employee satisfactied of their works, made a positive performance and then produce willingness to seek a high level of performance, and facilitate the achievement of corporate goals.The goal of this research is to explain the influence of communication climate on employee performance in Regional Water Company (Perusahaan Daerah Air Minum - PDAM) South Semarang branch. Using a quantitative approach based questionnaire, based on five critical dimensions of communication climate that will be analyzed by the method / theory of science communication climate inventory developed by Peterson and pace (1976)Based on the analysis of data using Kendall tau correlation and the overall results of research, this study produce the conclusion that there is a relationship or correlation between organizational communication climate with PDAM employee performance semarang southern branch. The hypothesis stated that there is a significant relationship between organizational communication climate influence on employee performance. Employees found that organizational communication climate in the company is well run and effectiveAdvice can be given by researchers that the company should pay more attention to supporting factors to improve communication climate in the office, such as supportivenes behavior that used to observe that their communication with the boss to help them build and maintain confidence, can participate, transparency, trustworthy. Employees should be able to create a good atmosphere of the communication quality, both among fellow employees and the office leader to make each individual within the company to trust each other, motivate each other, and cooperate in running the tasks and responsibilities of the job. Employees should be more focused and strive to create harmony in the work, for example by building solid teamwork and also can cooperate with each other to settle the improvement to employee’s job satisfaction

2. THE PAIN OF BEAUTY IN NON-WESTERN FEMINISMS

FORUM Vol 36, No 1 (2008) : Memahami Tayangan Kekerasan Di Televisi
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberagaman bentuk kekerasan terhadap perempuan di negara-negara non-Barat termasuk Indonesia membutuhkan pendekatan feminisme yang mempertimbangkan konteks lokal yang melingkupi terjadinya peristiwa opresi. Di beberapa negara non-Barat konsep mengenai kecantikan perempuan terfokus kepada bagian-bagian tubuh tertentu dari perempuan dan seringkali untuk menjadi cantik seorang perempuan harus mengalami rasa sakit luar biasa sebagai akibat dari tindakan transformasi bentuk tubuh. Representasi perempuan di media massa juga mengindikasikan keberagaman tipe-tipe opresi yang dialami perempuan.

Pemaknaan Peran Perempuan di Parlemen(Analisis Semiotika dalam Berita Online Tempo.co dan Kompas.com)

Interaksi Online Vol 3, No 11 (2015): Wisuda Agustus
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berdasarkan pada tidak tercukupinya kuota 30% pada kebijakanaffirmative action. Kurangnya keterwakilan perempuan di kursi parlemendiakibatkan oleh rendahnya tingkat elektabilitas perempuan. Media sebagai saranainformasi dan edukasi memberitakan perempuan di parlemen dengan tidakseimbang. Pemberitaan tentang perempuan di parlemen tidak berkaitan dengankontribusi dan potensi perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat posisiperempuan yang ditampilkan melalui teks berita dari kedua portal berita tersebutdan menjelaskan ideologi dominan yang melatarbelakangi terjadinyapenggambaran perempuan tersebut.Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif yang merujuk padaparadigma kritis. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori EkologiMedia, konsep cultural studies, dan konsep feminisme liberal. Teknik analisisyang digunakan adalah analisis semiotika Roland Barthes yang mengacu padalime kode pembacaan. Subjek penelitian yaitu sepuluh teks dari portal beritaonline Tempo.co dan Kompas.com.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam teks berita online tersebutpemberitaan perempuan tidak fokus pada hasil kontribusi perempuan pada saatmenjabat sebagai anggota parlemen. Berita perempuan di parlemen tidaktermasuk dalam berita headline atau berita utama. Pemberitaan tentangperempuan lebih banyak masuk dalam kategori berita hiburan. Kontribusi danpencapaian perempuan di parlemen hanya dibahas sekilas dalam berita, yangmenjadi fokus dalam pemberitaan yaitu kehidupan pribadi, penampilanperempuan, dll. Selain itu, bahasa yang digunakan dalam pemberitaan tersebutmenggunakan bahasa yang bermakna halus tetapi kesan yang timbul dalam beritajustru negatif. Terdapat modal ekonomi, modal sosial dan modal kultural dalampemberitaan peran perempuan di parlemen. Modal yang paling sering munculdalam pemberitaan tersebut yaitu modal kultural, dimana penampilan dan statusperempuan menjadi syarat penting untuk menjadi anggota legislatif. Pemberitaanmenampilkan seolah-olah perempuan tidak mampu duduk di kursi parlemen tanpamodal-modal tersebut.

Memaknai Dominasi Maskulin dalam Komedi Situasi Tetangga Masa Gitu

Interaksi Online Vol 3, No 12 (2015): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komedi situasi merupakan program acara televisi yang saat ini digemari oleh masyarakat. Penelitian ini mengkaji tentang nilai – nilai dominasi maskulin yang terdapat dalam komedi situasi Tetangga Masa Gitu. Penelitian ini dilakukan karena melihat tingginya angka perceraian di Indonesia dan hal tersebut dimulai dari pihak istri yang merasa didominasi oleh laki – laki. Nilai – nilai dominasi maskulin tersebut juga sering terlihat dalam berbagai program – program televisi termasuk program komedi. Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini, yaitu mendeskripsikan teks yang digunakan untuk memaknai nilai – nilai dominasi maskulin dalam tayangan komedi situasi Tetangga Masa Gitu.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis semiotika. Teknik analisis data yang dilakukan untuk mendeskripsikan teks menggunakan teori John Fiske, yakni “The Codes Of Television” dengan menganalisis teks dalam televisi menjadi tiga level, yaitu level realitas, level representasi, dan level ideologi.Temuan atas penelitian ini menghasilkan bahwa setiap level yang dianalisis pada tiga episode yang dipilih pada komedi situasi Tetangga Masa Gitu terdapat nilai – nilai dominasi maskulin di dalamnya. Level – level tersebut mendeskripsikan dominasi maskulin dalam Tetangga Masa Gitu meliputi nilai – nilai maskulinitas, konstruksi sosial tubuh laki – laki dan perempuan, peran gender dalam sebuah perkawinan, tatanan sosial pembagian kerja laki laki dan perempuan, kekerasan simbolik pada perempuan, dan perlawanan perempuan terhadap dominasi maskulin.

Pemaknaan Lokal terhadap Teks Global Melalui Analisis Tema Fantasi

Jurnal ILMU KOMUNIKASI Vol 13, No 2 (2016)
Publisher : FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This study focuses on exploring the use of Fantasy Theme Analysis for examining local interpretation on global media texts, particularly the way in which Indonesian girls interpret Disney princesses. The main theory used in this research is Symbolic Convergence Theory in which the theory is used as a tool to analyze the chain of meanings. This research uses fantasy themes analysis as the method of analysis. The results indicate that the girls perceive the beauty images constructed by Disney as ideal. Consequently, they have negative perception to the dominant physical characteristics of Indonesian women.Keywords: beauty codes, fantasy themes analysis, feminine codes, local meaningsAbstrak: Penelitian ini fokus pada eksplorasi penggunaan analisis tema fantasi untuk melihat pemaknaan lokal terhadap produk global melalui interpretasi anak perempuan di Indonesia terhadap film putri Disney. Teori utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Konvergensi Simbollik dengan analisis tema fantasi sebagai metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak perempuan menempatkan konstruksi kecantikan oleh Disney sebagai kecantikan yang ideal, sehingga mereka cenderung memiliki persepsi negatif terhadap karakteristik fisik dominan yang dimiliki oleh sebagian besar perempuan Indonesia.Kata Kunci: analisis tema fantasi, kode feminin, pemaknaan kecantikan, pemaknaan lokal