Sitti Hilyana
Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram

Published : 14 Documents
Articles

Found 14 Documents
Search

Effect of seagrass and macroalgae substrate on survival of sandfish Holothuria scabra in settlement phase Indriana, Lisa Fajar; Marjuky, ,; Hilyana, Sitti
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 13, No 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sandfish (Holothuria scabra) has long been exploited as an important marine species resources due to higheconomic value, and it has been also a potential species for aquaculture. Survival in larval settlement stage isone of the most important factor in sea cucumber culture. For better larval development, the settlement substratesare necessary. Therefore, this study investigated the effect of various seagrass and macroalgae as the settlementsubstrates on the survival of H. scabra larvae. The experiment trial was conducted in UPT LPBIL LIPI Mataramusing completely randomized design with five replicates for each substrate treatment. The settlement substratesused were Ulva sp. (P1), Gracilaria gigas (P2), Enhalus acoroides (P3), and Eucheuma cottoni (P4). Substratearea was 14x19 cm2 in each treatment. At the beginning of experiment trial, one thousand larvae were distributedinto plastic tank containing 10 L seawater for each tank. After 13 days experiment period, the survival of H.scabra larvae showed significantly different among substrates treatment. The highest survival was achieved byE. acoroides (15.53±2.23%), and followed by Ulva sp. (5.07±0.74%), E. cottoni (2.57±0.25%), and G. gigas(1.96±0.17%).Keyword: substrate, seagrass, macroalgae, survival, Holothuria scabra  Abstrak Teripang pasir (Holothuria scabra) termasuk ke dalam golongan biota yang terancam punah, dan bernilai tinggiyang belum banyak dibudidayakan. Salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan budidaya teripangpasir adalah kelangsungan hidup pada fase penempelan. Pada fase tersebut larva H. scabra memerlukan substratsebagai tempat hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh jenis substrat lamun dan makroalgayang berbeda terhadap tingkat kelangsungan hidup (TKH) larva teripang pasir pada fase penempelan. Penelitiandilaksanakan di Laboratorium Budidaya UPT LPBIL LIPI Mataram menggunakan metode eksperimental rancanganacak lengkap dengan lima ulangan. Perlakuan jenis substrat, yaitu: Ulva sp. (P1), Gracilaria gigas (P2), Enhalusacoroides (P3), dan Eucheuma cottonii (P4). Substrat dirangkai dengan luasan yang sama sebesar 14x19 cm2.Wadah pemeliharaan berupa wadah plastik dengan volume air laut 10 L, kepadatan awal 1.000 individu/wadah.Perhitungan akhir TKH dilakukan pada hari ke-13 masa pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenissubstrat yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap TKH larva teripang pasir. SubstratE. acoroides memberikan kelangsungan hidup tertinggi sebesar 15,53±2,23%. TKH perlakuan substrat Ulva sp.sebesar 5,07±0,74%, perlakuan E. cottonii sebesar 2,57±0,25%, dan perlakuan G. gigas sebesar 1,96±0,17%.Kata kunci: substrat, lamun, makroalga, tingkat kelangsungan hidup, Holothuria scabra
The utilization of seagrass and macroalgae substrate for settlement of sandfish Holothuria scabra larvae Indriana, Lisa Fajar; Marjuky, ,; Hilyana, Sitti
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 13, No 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.13.68-72

Abstract

ABSTRACT Sandfish (Holothuria scabra) is one of endangered species, which has high economical value but has not been commonly cultivated. One factor that affects the success of sandfish culture is survival of larvae during attachment phase . In this phase the larvae of H. scabra need a substrate as a place to live. This study investigated the effect of seagrass and macroalgae as the settlement substrates on the survival of H. scabra larvae. The experiment trial was conducted in UPT LPBIL LIPI Mataram using completely randomized design with five replications for each substrate treatment. The settlement substrates used were Ulva sp. (P1), Gracilaria gigas (P2), Enhalus acoroides (P3), and Eucheuma cottoni (P4). Surface area was 14x19 cm2 in each treatment. At the beginning of experiment trial, one thousand larvae were distributed into plastic tank containing 10 L seawater for each tank. After 13 days experimental period, the survival of H. scabra larvae showed significantly different among substrates treatment. The highest survival was achieved by E. acoroides (15.53±2.23%), and followed by Ulva sp. (5.07±0.74%), E. cottoni (2.57±0.25%), and G. gigas (1.96±0.17%). Keywords: settlement, Holothuria scabra, substrate, seagrass, macroalgae  ABSTRAK Teripang pasir (Holothuria scabra) adalah salah satu spesies berekonomi tinggi yang terancam punah, tetapi belum banyak dibudidayakan. Salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan budidaya teripang pasir adalah sintasan pada fase penempelan. Pada fase tersebut larva H. scabra memerlukan substrat sebagai tempat hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh jenis substrat lamun dan makroalga yang berbeda terhadap sintasan (STS) larva teripang pasir pada fase penempelan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Budidaya UPT LPBIL LIPI Mataram menggunakan metode eksperimental rancangan acak lengkap dengan lima ulangan. Perlakuan jenis substrat, yaitu: Ulva sp. (P1), Gracilaria gigas (P2), Enhalus acoroides (P3), dan Eucheuma cottonii (P4). Substrat dirangkai dengan luasan yang sama sebesar 14x19 cm2. Wadah pemeliharaan berupa wadah plastik dengan volume air laut 10 L, kepadatan awal 1.000 individu/wadah. Perhitungan akhir STS dilakukan pada hari ke-13 masa pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis substrat yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap STS larva teripang pasir. Substrat E. acoroides memberikan sintasan tertinggi sebesar 15,53±2,23%. STS perlakuan substrat Ulva sp. sebesar 5,07±0,74%, perlakuan E. cottonii sebesar 2,57±0,25%, dan perlakuan G. gigas sebesar 1,96±0,17%. Kata kunci: penempelan, Holothuria scabra, substrat, lamun, makroalga
TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP DAN PERTUMBUHAN BENIH TERIPANG (Holothuria atra) HASIL REPRODUKSI ASEKSUAL DENGAN BERAT YANG BERBEDA Robiansyah, Yani; Nurliah, Nurliah; Hilyana, Sitti
Jurnal Perikanan Unram Vol 8 No 2 (2018): Jurnal Perikanan
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v8i2.89

Abstract

Fission merupakan sistem reproduksi aseksual teripang (Holothuria atra) dengan cara pembelahan bagian tubuh yang dapat membentuk individu baru sehingga dapat digunakan sebagai alternatif perbanyakan individu teripang.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh perbedaan berat tubuh teripang terhadap tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan teripang hasil fission.Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan Kontrol (150-350 gram/ tanpa fission), P1 (150 gram), P2 (250 gram) dan P3 (350 gram). Data uji analisis menggunakan ANOVA dengan taraf 5%  untuk mengetahui perlakuan terbaik. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan perbedaan berat tubuh teripang memberikan pengaruh terhadap tingkat kelangsungan hidup namun tidak meberikan pertumbuhan terhadap benih teripang hasl fission.  Kelangsungan Hidup tertinggi didapat pada perlakuan Kontrol (100%) dan P2 (72,22%). Sedangkan untuk pengamatan morfologis dan Fisiologis teripang memberikan hasil yang berbeda setiap minggunya.
Frekuensi Pemberian Pakan Terhadap Pertumbuhan Berat Kepiting Bakau (Scylla serrata) Sayuti, Muhammad Najamuddin; Hilyana, Sitti; Mukhlis, Alis
Jurnal Perikanan Unram Vol 1 No 1 (2012): Jurnal Perikanan Unram
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi pemberian pakan terhadap pertumbuhan berat kepiting bakau (Scylla serrata). Penelitian menggunakan Rancangaan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan yaitu pemberian pakan 2 kali sehari (FI); pemberian pakan 1 kali sehari (FII); pemberian pakan 1 kali 2 hari (FIII); pemberian pakan 1 kali 3 hari (FIV). Data dianalisis dengan menggunakan Anova (P<0,05) dan uji-t. Bahan uji yang digunakan sebanyak 24 ekor kepiting yang dipelihara dengan sistem baterai didalam keranjang plastik berukuran 46 cm x 33 cm x 16,5 cm. Keranjang plastik dibagi menjadi dua bagian dengan cara memasang plastik sekat sebagai sekat dibagian tengahnya sehingga satu keranjang berisi 2 ekor kepiting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan 1 kali sehari menghasilkan pertumbuhan optimal, pertumbuhan nisbi, dan laju pertumbuhan spesifik yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan pemberian pakan 2 kali sehari, 1 kali 2 hari, dan 1 kali 3 hari. Analisis ragam menunjukkan bahwa setiap perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan nisbi dan laju pertumbuhan spesifik kepiting bakau (p>0,05).
Pengaruh Suhu Terhadap Pertumbuhan Kepiting Bakau (Scylla serrata) pada Bak Terkontrol Paramaatman, Lakhsmi Dewi; Hilyana, Sitti; Mukhlis, Alis
Jurnal Perikanan Unram Vol 1 No 1 (2012): Jurnal Perikanan Unram
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu media terhadap pertumbuhan nisbi dan laju pertumbuhan spesifik) kepiting bakau (Scylla serrata) pada bak terkontrol. Perlakuan suhu yang digunakan yaitu suhu 30oC, suhu 33oC, suhu 36oC, dan suhu ruang sebagai kontrol. Semua hewan uji pada perlakuan kontrol diberi perlakuan pemotongan kedua capit sedangkan pada tiga perlakuan lainnya tidak dilakukan pemotongan capit. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 6 kali ulangan secara individu. Dalam penelitian ini, hewan uji pada perlakuan suhu 36oC hanya mampu bertahan hidup selama 10-14 hari. Hasil analisis statistik (uji t) diperoleh bahwa peningkatan suhu media (30oC dan 33oC) tidak diikuti oleh perbedaan pertumbuhan nisbi dan laju pertumbuhan spesifik secara signifikan (p>0,05), namun demikian suhu 30oC cenderung memberikan respon pertumbuhan optimal yang lebih cepat dibandingkan dengan suhu 33oC dan perlakuan kontrol. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh suhu di bawah 30oC atau suhu di atas 36oC untuk melihat respon pertumbuhan kepiting bakau. Walaupun penggunaan suhu tinggi tidak memberi pengaruh yang nyata secara statistik, namun untuk mempercepat pencapaian pertumbuhan optimal sebaiknya pemeliharaan kepiting bakau dilakukan pada suhu 30oC.
Pengaruh Padat Tebar terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Abalon Dihibrid (Haliotis sp.) yang Dipelihara di Rakit Apung Firdaus, Imam; Hilyana, Sitti; Lumbessy, Salnida Yuniarti
Jurnal Perikanan Unram Vol 1 No 2 (2013): Jurnal Perikanan Unram
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abalon (Haliotis sp) dihibrid merupakan salah satu jenis biota perairan yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi, tetapi hasil produksinya masih belum dapat memenuhi permintaan pasar. Salah satu upaya peningkatan produksi abalon adalah dengan pembenihan secara intensif melalui peningkatan padat tebar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh padat tebar terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup (SR) abalon (Haliotis sp) dihibrid. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei hingga Juni 2012, yang berlokasi di Balai Budidaya Laut (BBL) Lombok Sekotong Barat, Dusun Gili Genting, Kabupaten Lobar, Provinsi NTB. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimental dengan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang menggunakan 4 perlakuan padat tebar yaitu 25, 50, 75, dan 100 ekor/m2, dengan lima kali ulangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan padat tebar tidak memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup (SR) abalon (Haliotis sp.) dihibrid, namun berpengaruh terhadap jumlah pakan yang dikonsumsi (FI). Hasil rata-rata menunjukkan bahwa padat tebar 50 ekor/m2 memberikan pertumbuhan bobot mutlak serta kelangsungan hidup (SR) yang cenderung lebih tinggi dibandingkan pada padat tebar 25, 75 dan 100 ekor/m2, meskipun secara uji statistik nilai rata-ratanya tidak berbeda nyata
EFEKTIVITAS TEMEPHOS TERHADAP PREVALENSI DAN INTENSITAS RATA-RATA EKTOPARASIT PADA IKAN MASKOKl (Carrasius auratus) Putra, One Kris Perdana; Hilyana, Sitti; Setyowati, Dewi Nuraeni
Jurnal Perikanan Unram Vol 3 No 2 (2013): Jurnal Perikanan Unram
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pcnyakit parasitik menjadi salah saru kendala dalam budidaya ikan Maskoki Carassiu auratus. Penyakit parasiti dapat menyebabkan   kematian massal populasi ikan Maskoki dan berkurangnya keindahan ikan Maskoki yang berakibat pada rendahnya nilai jual atau kapasitas produksi. Temephos merupakan senyawa organofosfat yang diduga mampu membunuh ektoparasit namun belum diketahui  penggunaannya pada ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas temephos terhadap prevalensi dan intensitas rata-rata ektoparasit pada ikan maskoki serta untuk mengetahui konsentrasi dan lama waktu perendaman yang efektif dalam membunuh ektoparasit pada ikan maskoki. Penelitian dilaksanakan pada  bulan  Maret tahun 2013 di Laboratorium Basah Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram. Penelitian terdiri dari dua tahap yaitu penelitian pcndahuluan untuk mengetahui jcnis  ektoparasit yang menginfeksi ikan Maskoki dan penelitian lanjutan yang dilakukan dengan metode eksperimental (RAL Faktorial) untuk menguji pengaruh temepbos  terhadap prevalensi  dan intensitas rata-rata ektoparasit pada ikan Maskoki. Hasil penelitian  menunjukkan bahwa temephos dengan  konsentrasi 80 ppm dan lama perendaman 30 menit efektif mernbunuh  oktoparasit jenis Dactylogyrus  sp, dan Gyrodactylus  sp. pada insang,  Argulus  sp., Trichodina sp., dan Gyrodactylus sp pada permukaan tubuh (prevalensi 1,65 % dan  intensitas rata-rata 0.71 individu/ekor) serta tidak mcmatikan ikan Maskoki yang diujikan (SR 100 %).
PENGARUH DEBIT AIR YANG BERBEDA PADA PROSES PERGANTIAN AIR TERHADAP TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP LARVA lKAN BAWAL BINTANG Trachinotus blochii Hilyana, Sitti; Apriani, Anita Eka; Marzuki, Muhammad
Jurnal Perikanan Unram Vol 6 No 1 (2015): Jurnal Perikanan
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  Ikan bawal bintang Trachinotus blochii merupakan ikan yang tergolong baru dibudidayakan di Indonesia. Permintaan pasar untuk ikan ini cukup tinggi, mulai dari tingkat lokal, hingga intemasional dengan harga Rp 65.000-Rp 90.000 atau sekitar USD 8/kg. Dalam peningkatan produksi budidaya bawal bintang yang perlu diperhatikan adalah selain kualitas induk juga proses pemeliharaan larva sehingga dapat menurunkan tingkat mortalitas pada fase ini. Salah satu faktor penting dalam pemeliharaan larva ikan bawal adalah pengelolaan kualitas air serta besar kecilnya aliran (debit) air yang masuk kedalam bak pemeliharaan pada proses pergantian air sangat menentukan dalam keberhasilan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh debit air yang berbeda pada proses pergantian air terhadap tingkat kelangsungan hidup larva ikan bawal bintang T. blochii. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2014 di Balai Budidaya Laut Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan debit air yang digunakan yaitu 0,001 Iiter/detik (PI), 0,003liter/detik (P2), 0,005Iiter/detik (P3), 0,007Iiter/detik (P4)  dan 0,009Iiter/detik (P5). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan debit air pada saat pergantian air tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup ikan bawal bintang T. blochii dan kualitas air pada media pemeliharaan larva bawal bintang T. blochii masih dalam kisaran normal yakni dengan pH 8,1- 8,3, salinitas 33-35 ppt, suhu 26,6-29,7 OC, dan DO 5,1-6,9 mg/1.
PEMBERIAN KALSIUM KARBONAT (CaC03) PADA MEDIA BUDIDAYA UNTUK PERTUMBUHAN LARVA KERANG MUTIARA Pinctada maxima STADIA VELIGER-PEDIVELIGER Asrori, Ahmad Zuli; Hilyana, Sitti; Kotta, Raismin
Jurnal Perikanan Unram Vol 6 No 1 (2015): Jurnal Perikanan
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerang mutiara Pinetada maxima merupakan kerang penghasil mutiara "South Sea Pearl"  salah satu komoditas hasil laut Indonesia yang bemilai ekonomis dan sangat digemari di pasaran dunia. Banyaknya per­ mintaan mutiara jenis Pinetada maxima dan semakin berkembangnya budidaya mutiara saat ini menjadi pemicu meningkatnya permintaan spat dan kerang siap operasi. Kendala utama pada produksi kerang mutiara saat ini adalah pertumbuhan yang lambat dan sintasan rendah dalam pemeliharaan larva dan spat. Faktor biofisik-kim­ ia lingkungan sangat berperan dalam pertumbuhan kerang mutiara antara lain suhu perairan, salinitas, makanan dan unsur kimia dalam air laut. Unsur kimia air laut berupa mineral kalsium (Ca) merupakan makro mineral terdapat dalam tubuh yang dibutuhkan dalam jumlah yang relatif besar. Salah satu upaya yang dapat dilaku­ kan untuk mengatasi tersebut adalah dengan penambahan kapur (CaCO)  dengan konsentrasi yang sesuai di dalam media budidaya saat stadia veliger-pediveliger. Penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui pengaruh pem­ berian kalsium karbonat (CaCO) terhadap tingkat pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva kerang mutiara (Pinetada maxima). Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 3-22 September 2014 di PT Autore Pearl Culture, Malaka, Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Utara Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pemeliharaan dilaku­ kan pada toples plastik volume 10 L dengan kepadatan 1.000 individu/l (8.000 indi/wadah). Kalsium karbonat (CaC03) yang digunakan  dari cangkang kerang (Pinctada maxima). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap(RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan. A kontrol (tanpa pemberian CaCO), B (CaC03 25mg/l), C (CaC0350 mg/l) dan D(CaC0375mg/l). Hasil men­ unjukkan pertumbuhan panjang mutlak tertinggi pada perlakuan B (CaC03  25 mg/l)  189 urn ± 7,39 dan  ter­ endah pada perlakuan A (kontrol tanpa pemberian CaC03)  98,5 um ± 8,02. Nilai kelangsungan hidup tertinggi pada perlakuan B (CaC03 25 mg/l) 48,75 ± 33,7 dan terendah pada perlakuan D (CaC03  75 rng/l) 4,7% ± 2,2
TINGKAT PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT Kappaphycus alvareizi MENGGUNAKAN SISTEM VERTIKULTUR DI DESA SEREWE KECAMATAN JEROWARU KABUPATEN LOMBOK TIMUR Sahidi, Muhammad; Hilyana, Sitti; Buhari, Nurliah
Jurnal Perikanan Unram Vol 6 No 1 (2015): Jurnal Perikanan
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  Penelitian  ini  bertujuan  untuk  menganalisis  pertumbuhan  rumput  laut jenis  K. alvarezzi   yang  ditanam  dengan metode  vertikultur di Desa  Serewe Kabupaten Lombok Timur dan  menguji  kelayakan  metode budidaya vertikultur baik seeara ekologi maupun ekonomi. Raneangan Aeak Lengkap (RAL) yang di­ gunakan pada penelitian ini terdiri dari lima perlakuan kedalaman yaitu 30 em (PI),  60 em (P2), 90 em (P3), 120 em (P4) dan  150 em (P5).   Hasil   penelitian menunjukkan bahwa budidaya rumput  laut K. alvarezzi menggunakan  sistem  vertikultur  layak  dilakukan  dengan  laju pertumbuhan  spesifik  rumput  laut  yang  di­ ipelihara selarna 45 hari pada kedalaman 30 em, 60 em, 90 em,  120 em dan  150 em masing-masing ada­ lah 4.07%, 3.49%, 3.99%, 3.90% dan 4.72%.Hasil analisis usaha dengan menggunakan 5 tingkatan pada sistern  vertikultur  layak  dilakukan  secara  ekonomi  dengan  hasil  5  kali  lipat  daripada  sistem  konvensional.