Siti Subaidah
Departemen Budidaya Perairan Institut Pertanian Bogor

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

Growth and survival of post-larval Pacific white shrimp administered recombinant fish growth hormone by different immersion time Laksana, Dita Puji; Subaidah, Siti; Junior, Muhammad Zairin; Alimuddin, ,; Carman, Odang
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 12, No 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2841.086 KB)

Abstract

This research was conducted to determine the optimum immersion time of recombinant giant grouper growthhormone (Ephinephelus lanceolatus; rElGH) at a dose of 15 mg/L that generated highest growth of white shrimppost-larvae (PL). The treatments were immersion time for one, two, and three hours. Two types of control wasprovided, namely it was without any treatment (control), and immersion in water containing 0.01% bovine serumalbumin (BSA) and total protein of Escherichia coli without rElGH (pCold control). All treatments and controlswere consisted of three replications. A total of 1,500 PL-2 shrimp were bath-immersed in a plastic packingcontaining 1 L of sea water, 15 mg/L rElGH, and 0.01% BSA. PL was further reared for 21 days in the 60 L glassaquarium, and fed nauplii Artemia two times and flake commercial diet five times daily, at satiation. The resultsshowed that the highest of biomass (36.29±1.46 g), specific growth rate (29.81±0.87%/day), and body length(20.08±0.42 mm) were obtained in three hours immersion treatment (p<0.05). Biomass of PL in three hoursimmersion treatment was approximately 66.0% higher compared to the control (21.87±2.53 g). Survival of shrimpin all treatment and control were similar (p>0.05). Thus, growth of white shrimp PL could be improved by bathimmersion for three hours in rElGH solution of 15 mg/L water.Keywords: recombinant growth hormone, different immersion time, Pacific white shrimp, biomass   Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk menentukan lama waktu perendaman hormon pertumbuhan rekombinan ikankerapu kertang (Ephinephelus lanceolatus; rElGH) dosis 15 mg/L yang menghasilkan pertumbuhan tertinggi padapascalarva (PL) udang vaname. Perlakuan yang diberikan adalah lama perendaman PL-2, yaitu satu, dua, dan tigajam. Dua jenis kontrol dibuat yakni udang vaname PL-2 tidak diberi perlakuan (kontrol), dan direndam dalam airmengandung serum albumin sapi (BSA) 0,01% dan protein Escherichia coli tanpa rElGH (kontrol pCold). Setiapperlakuan dan kontrol diberi tiga ulangan. Sebanyak 1.500 ekor PL-2 direndam dalam kantong plastik kemasanberisi 1 L air laut mengandung rElGH 15 mg/L, dan BSA 0,01%. Selanjutnya, udang dipelihara selama 21 hari didalam akuarium volume 60 L, dan diberi pakan naupli Artemia sebanyak dua kali dan pakan komersial berbentukflake sebanyak lima kali sehari hingga kenyang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biomassa (36,29±1,46 g),pertumbuhan bobot spesifik (29,81±0,87%/hari), dan panjang tubuh (20,08±0,42 mm) tertinggi (p<0,05) diperolehpada perlakuan perendaman selama tiga jam. Biomassa udang perlakuan perendaman selama tiga jam lebih tinggi66% dibandingkan dengan kontrol (21,87±2,53 g). Kelangsungan hidup udang yang direndam dengan rElGH,kontrol dan kontrol pCold tidak berbeda nyata (p<0,05). Dengan demikian, pertumbuhan PL udang vaname dapatditingkatkan melalui perendaman selama tiga jam dalam larutan rElGH 15 mg/L air.Kata kunci: hormon pertumbuhan rekombinan, lama perendaman, pascalarva udang vaname, biomassa
Sperm quality of Litopenaeus vannamei broostock injected by PMSG and antidopamin Akbar, Fahmi; Sudrajat, Agus Oman; Subaidah, Siti
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 14, No 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : ISSA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2756.933 KB)

Abstract

ABSTRACT The important role in determining the productivity of shrimp was the quality and quantity of shrimp sperm. The decreasing of hatching rate was predicted as the effect of the decreasing quality of sperm. It then could  influence  the number and quality of naupli produced. Hormonal induction of maturation is one of alternative solution that can improve shrimp sperm quality. This study was conducted to examine the effect of pregnant mare serum gonadotropin (PMSG) and antidopamine (AD) injection on white shrimp Litopenaeus vannamei sperm quality. This research consisted of six treatments which were treatment without eyestalk ablation, eyestalk ablation, and premix PMSG hormone, and AD at the dose  of 0.1 mL/kg, 0.25 mL/kg, 0.5 mL/kg, and 1 mL/kg. The observed parameters were sperm count and percentage of normal and abnormal sperm. The results showed that PMSG hormone and AD injection could improve sperm quality of L. vannamei shrimp. Hormone at the dose of 0.25 mL/kg and 0.5 mL/kg were the optimal doses to increase sperm count and the percentage of normal sperm, also to lower the percentage of abnormal sperm. Keyword: PMSG, AD, sperm quality, Litopenaeus vannamei  ABSTRAK Kuantitas dan kualitas sperma udang jantan sangat berperan penting dalam menentukan produktivitas udang. Terjadinya penurunan daya tetas telur udang diduga karena terjadinya penurunan kualitas sperma. Hal ini berpengaruh terhadap jumlah dan kualitas nauplius yang diproduksi. Induksi maturasi secara hormonal merupakan salah satu alternatif yang dapat meningkatkan kualitas sperma udang. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh penyuntikan pregnant mare serum gonadotropin (PMSG) dan antidopamin (AD) terhadap kualitas sperma udang vaname Litopenaeus vannamei. Penelitian terdiri atas enam perlakuan, yaitu perlakuan tanpa ablasi mata, ablasi mata, dan injeksi dengan premix hormon PMSG dan AD dosis 0,1 mL/kg, 0,25 mL/kg, 0,5 mL/kg, dan 1 mL/kg. Parameter yang diamati jumlah sperma, persentase sperma normal dan abnormal. Hasil penelitian menunjukkan penyuntikan hormon PMSG dan AD dapat meningkatkan kualitas sperma udang L. vannamei. Hormon dosis 0,25 mL/kg dan 0,5 mL/kg merupakan dosis optimal dalam meningkatkan jumlah sperma dan persentase sperma normal, serta mengurangi persentase sperma abnormal. Kata kunci: PMSG, AD, kualitas sperma, Litopenaeus vannamei 
Penambahan Nukleotida dalam Pakan Pembesaran sebagai Immunostimulan pada Udang Vaname, Litopenaeus vannamei Subaidah, Siti; Sofiati, Sofiati; Manijo, Manijo; Titis, Titis
Proceeding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan No 5 (2018)
Publisher : Proceeding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (848.194 KB)

Abstract

Udang tidak memiliki respon imun spesifik dan sepenuhnya tergantung pada respon imun nonspesifik. Nukleotida merupakan immunostimulan yang sudah diketahui dapat meningkatkan respon imun nonspesifik ikan. Pada udang, belum banyak penelitian tentang penggunaan nukleotida sebagai imunostimulan. Nukleotida dapat menawarkan alternatif bagi penggunaan antibiotik atau bahan-bahan kimia, sebab bahan ini tidak meninggalkan residu dalam tubuh ikan serta tidak mengakibatkan kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, perekayasaan terhadap penggunaan nukleotida dalam upaya mengontrol penyakit dalam aktivitas budidaya udang sangat diperlukan dengan tujuan mengevaluasi pengaruh pemberian nukleotida terhadap resistensi dan performa pertumbuhan pada pembesaran udang vaname. Pemberian nukleotida dengan dosis 400 mg/kg pakan yang diberikan selama 4 minggu memberikan peningkatan pertumbuhan bobot yang lebih baik dibanding pemberian 2 minggu dan kontrol tanpa pemberian. Nukleotida yang lebih spesifik berfungsi sebagai immunostimulan memberikan sintasan yang lebih baik yaitu sebesar 62,75% atau 12,72% lebih tinggi dari kontrol, dan sebesar 59,50% atau 6,88% lebih tinggi dari kontrol, yang didukung oleh ekspresi gen proPO. Kata kunci: udang vaname, nukleotida, immunostimulan. 
RESPONS PERTUMBUHAN DAN EKSPRESI GEN UDANG VANAME, Litopenaeus vannamei SETELAH DIRENDAM DALAM LARUTAN HORMON PERTUMBUHAN REKOMBINAN IKAN KERAPU KERTANG Subaidah, Siti; Carman, Odang; Sumantadinata, Komar; Sukenda, Sukenda; Alimuddin, Alimuddin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.392 KB)

Abstract

Pertumbuhan ikan dapat ditingkatkan menggunakan hormon pertumbuhan rekombinan. Penelitian ini bertujuan mengkaji respons pertumbuhan dan ekspresi gen udang vaname, Litopenaeus vannamei setelah direndam dengan hormon pertumbuhan rekombinan ikan kerapu kertang, Epinephelus lanceolatus (rElGH). Pada percobaan pertama, post larva stadia 2 (PL-2) sebanyak 1.500 ekor direndam selama 1 jam dalam 1 liter air laut yang mengandung rElGH lima dosis berbeda, yaitu 150; 15; 1,5; 0,15; dan 0,015 mg/L dan bovine serum albumin 0,01%. Setiap perlakuan diulang 3 kali. Perendaman dilakukan dalam kantong plastik ditambah oksigen (volume air :oksigen = 1:5). Udang dipelihara dalam akuarium volume 60 liter dengan kepadatan 25 ekor/litersampai PL-14. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis 15 mg/L memberikan peningkatan bobot badan, panjang badan, dan sintasan tertinggi (P<0,05) masing-masing sebesar 37,77%; 12,75%; dan 9,45% dibandingkan dengan kontrol. Ekspresi mRNA single insulin binding domain (SIBD) pada PL-14 yang dianalisis dengan realtime PCR menunjukkan kenaikan sebesar 3,3 kali pada udang yang direndam rElGH dibandingkan dengan kontrol, dan dapat dinyatakan bahwa SIBD berperan penting dalam induksi pertumbuhan. Tingkat ekspresi moult inhibiting hormone meningkat sekitar 13%, sedangkan ekspresi cyclopilin A pada udang yang direndam rElGH sama dengan kontrol. Pada percobaan kedua, perendaman PL-2 dalam larutan rElGH dosis 15 mg/L dengan lama waktu 3 jam meningkatkan bobot badan sebesar 62,18% lebih tinggi daripada perendaman 1 jam. Dengan demikian, perendaman udang dalam larutan rElGH meningkatkan pertumbuhan dan ekspresi gen SIBD, dan metode ini dapat berguna dalam peningkatan produksi budidaya.