Sariffuddin Sariffuddin
Department of Urban and Regional Planning, Faculty of engineering, Diponegoro University
Articles
8
Documents
PELUANG PENGEMBANGAN SMART CITY UNTUK MEWUJUDKAN KOTA TANGGUH DI KOTA SEMARANG (Studi Kasus: Penyusunan Sistem Peringatan Dini Banjir Sub Drainase Beringin)

Teknik Vol 36, No 1 (2015): (Juli 2015)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.548 KB)

Abstract

Kota tangguh menjadi metafora baru yang banyak diperdebatkan oleh para perencana dan peneliti kota dalam upaya menjamin keberlanjutan. Konsep ini mengusulkan 2 kerangka konsep yaitu model ekuilibrium dan model non-ekuilibrium. Perbedaan kedua model ini adalah cara kota untuk beradaptasi terhadap bahaya yang dihadapi. Di model keseimbangan/ ekuilibrium, sistem kota harus memiliki titik acuan sebagai orientasi tujuan pembangunan kota. Jika terdapat gap antara dokumen perencanaan dan hasil pembangunan, perencana kota dapat mengembalikan proses perencanaan sesuai tujuan perencanaan dan pembangunan. Di sisi lain, model non-ekuilibrium menawarkan sistem adaptasi. Dalam perspektif non-ekuilibrium, ketahanan diartikan sebagai kemampuan sistem kota untuk beradaptasi dan menyerap perubahan dari internal maupun eksternal. Terdapat kebutuhan baru dalam mengelola kota yaitu respon cepat, data yang akurat dan real time. Konsep kota pintar/ smart city menawarkan sebuah solusi melalui penyediaan data real time dan menjadi penghubung antara intervensi top-down dengan partisipasi bottom-up. Kota pintar tidak hanya menyediakan sistem informasi dan teknologi, namun juga mendukung modal intelektual. Artikel ini menggunakan studi literature melalui perbandingan 2 konsep literature yaitu smart city dan kota tangguh/ resilience city. Dari pembahasan diketahui bahwa smart city dapat mendukung kota untuk bisa bertahan melalui sistem peringatan dini. Sistem ini dapat meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengetahui bahaya dan mendukung upaya yang harus dilakukan secara mandiri.[The Opportunities of Smart City Development to Realize the Resilient City in Semarang (Case Study: Flood Early Warning System in Beringin Sub-Drainage] City of resilience become to a new metaphor that debated by researcher and urban planner to manage its city in order to ensure sustainability. This concept suggests 2 conceptual frameworks: equilibrium or isolation model and non-equilibrium model. The differences of both models are the way of city to adapt from disturbance. In equilibrium model, urban system must own end point or terminal as city orientationor goal. If any gap between planning document and development result, urban planner has to restore the development process into its plan or end point. On the other hand, non-equilibrium model offers adaptation system. In non-equilibrium perspective, resilience is the ability of an urban system to adapt and adjust to changing internal or external processes. There is a new necessity to manage city i.e. quick response, adequate data and correct according real time data. Smart City offers a solution to provide real time data and bridging between top-down intervention and bottom-up participation. Smart city doesn’t only provide information system and technology, yet its concept can support intellectual capital. This article used literature study through compare 2 conceptual theoretical framework i.e. smart city and resilience city. From this discuses found out that smart city can support city to be resilience with early warning system. This system can improve human ability to know a circumstance and action to evacuation. 

TINGKAT KERENTANAN MASYARAKAT TERHADAP BENCANA BANJIR DI PERUMNAS TLOGOSARI, KOTA SEMARANG

Jurnal Pengembangan Kota Vol 3, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perumnas Tlogosari merupakan salah satu perumahan skala besar di Kota Semarang yang terdampak persoalan ekologi kota, yaitu banjir. Persoalan ekologi ini terjadi bersamaan dengan peningkatan pertumbuhan penduduk sekitar 1,4% pertahunnya, yang menjadikan pertumbuhan Kota Semarang mengarah pada kondisi rentan. Oleh sebab itu sangat perlu untuk mewujudkan Kota Semarang sebagai kota tangguh dengan melakukan penilaian tingkat kerentanan, karena hasil dari penilaian kerentanan tersebut dapat menjadi tolak ukur pencapaian sebuah kota tangguh. Penelitian ini dilakukan untuk menilai tingkat kerentanan masyarakat di Perumnas Tlogosari dalam menghadapi banjir pada saat siang dan malam. Penilaian kerentanan ini dibedakan berdasarkan waktu, karena ada perbedaan jumlah masyarakat yang berada di rumah pada saat siang dan malam. Penilaian kerentanan dilakukan menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis skoring pembobotan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kerentanan siang masyarakat lebih tinggi, dibandingkan kerentanan malam. Hal ini dibuktikan dengan penurunan jumlah masyarakat di kuadran 3 dan 5 pada saat malam, diikuti dengan kenaikan jumlah masyarakat di kuadran 1 dan 2 sebesar 2-3%. Banyaknya masyarakat yang berada di kuadran 1, 2 dan 3 mengartikan bahwa masyarakat berada pada selang toleransi dari kemampuan mereka dalam menghadapi banjir. Oleh karena itu, masing-masing rumah tangga telah berketahanan dalam menghadapi banjir.

IDENTIFIKASI PERUBAHAN PERUMAHAN DI PERUMAHAN BUMI WANAMUKTI, KOTA SEMARANG

Jurnal Pengembangan Kota Vol 3, No 1 (2015): Juli 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perumahan Bumi Wanamukti merupakan perumahan yang terdapat di Kecamatan Tembalang. Perumahan ini merupakan perumahan yang dibangun oleh Real Estate, mulai huni sekitar tahun 1986 yang terdiri dari empat tipe yaitu tipe 36, 48, 57 dan 70. Perubahan dilakukan tidak hanya pada rumahnya tetapi juga perubahan pada sarana, prasarana dan utilitas umum. Perubahan tersebut menimbulkan dampak ketidaknyamanan terhadap kondisi perumahannya selain itu perubahan tersebut banyak melanggar peraturan yang telah ditetapkan untuk perumahan di Kota Semarang. Berdasarkan pada permasalahan di atas, penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi perubahan perumahan dari karakteristik penghuni, perubahan rumah, sarana, prasarana dan utilitas umum. Pertanyaan penelitian yang dapat dirumuskan adalah “Bagaimana perubahan perumahan di Perumahan Bumi Wanamukti?”. Penelitian untuk mengetahui perubahan perumahan di Perumahan Bumi Wanamukti ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif dan analisis faktor. Dilihat dari perubahan rumah yang dilakukan penghuni Perumahan Bumi Wanamukti pada rumah tipe 36, 48, 57 dan 70 sebagian besar adalah perombakan. IMB sebagai salah satu instrumen pengendalian pemanfaatan ruang dirasa kurang berhasil jika dilihat dari hasil analisis, untuk faktor-faktor yang terbentuk pada kempat tipe rumah memiliki kesamaan untuk faktor pertama yang terbentuk adalah dari variabel peningkatan penghasilan. Sedangkan dilihat dari perubahan sarana sebagian besar perubahan lebih kepada kuantitas dimana sarana olahraga yang tersedia menjadi berkurang karena adanya perubahan fungsi, untuk prasarana perubahan terjadi lebih kepada kualitas yang menurun, dan untuk perubahan utilitas umum perubahan terlihat pada kebutuhan penghuni yang meningkat. Sedangkan untuk faktor perubahan sarana, prasarana dan utilitas umum memiliki kesamaan untuk faktor yang terbentuk adalah faktor kondisi pembuangan limbah. Dapat disimpulakan bahwa perubahan rumah memberikan dampak besar terhadap perubahan perumahan, jika dilihat dari bentuk dan faktor perubahan rumah tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada setiap tipe rumah.

PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU 3R KOTA MAGELANG

Jurnal Pengembangan Kota Vol 2, No 2 (2014): Desember 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan sampah terpadu 3R merupakan salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan sampah perkotaan. Program 3R ini dapat membantu masyarakat dan pemerintah dalam usaha mengurangi volume sampah perkotaan sehingga timbunan sampah di Tempat Pembuangan Akhir dapat terkurangi. Bukan hanya itu, program 3R bertujuan untuk mewujudkan upaya pemberdayaan masyarakat dan mengembangkan kewirausahaan masyarakat lokal melalui produk hasil daur ulang sampah non organik yang dapat diolah menjadi berbagai macam produk yang mempunyai nilai ekonomis. Salah satu kota di Jawa Tengah yang sedang berusaha mengembangkan program 3R ini adalah Kota Magelang, tepatnya di Kelurahan Jurangombo Utara. Keberhasilan program 3R ini sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Peran masyarakat dalam kegiatan 3R dimulai ketika perencanaan kegiatan, proses pembangunan TPST, pembentukan KSM dan pelatihan serta pendampingan masyarakat dalam pengelolaan sampah terpadu. Oleh karena itu, penilaian terhadap bentuk partisipasi masyarakat dalam kegiatan pengelolaan sampah ini sangat diperlukan untuk meningkatkan kapasitas, kinerja, dan kemampuan masyarakat dalam mengelola program 3R di lingkungan permukiman tempat tinggal. 

KARAKTERISTIK BELANJA WARGA PINGGIRAN KOTA (STUDI KASUS: KECAMATAN BANYUMANIK KOTA SEMARANG)

Jurnal Pengembangan Kota Vol 1, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berkembangnya wilayah pinggiran karena menampung luapan tumbuhnya kota inti, pada akhirnya membentuk struktur wilayah kota yang membentuk keterkaitan sosial ekonomi antar kawasan pusat dan kawasan pinggiran sebagai wilayah pengaruh. Oleh karena itu kawasan pinggiran masih memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap kawasan lainnya, baik kawasan pinggiran lainnya maupun kawasan pusat kota. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola pergerakan berbelanja penduduk Kecamatan Banyumanik untuk memenuhi kebutuhan primer. Metode penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis data yaitu teknik analisis statistik deskriprif, crosstabs dan spasial statistik. Hasil penelitian pola pergerakan belanja penduduk khususnya di Kecamatan Banyumanik sesuai dengan (Miro, (2005) dimana simpul asal dan tujuan pergerakan masih di dalam kawasan/wilayah studi. Hal tersebut dipengaruhi oleh variabel jenis pekerjaan, tingkat pendapatan dan jumlah pengeluaran yang dikaitkan dengan tujuan pergerakan belanja penduduk pada hari kerja dan akhir pekan. Pola spasial yang terjadi membentuk klaster berdasarkan nilai p-value 0,1 dan nilai z-score -26,9 pada hasil olah rata-rata tetangga terdekat.

Street Vendors Hypergrowth: Consequence of Uncontrolled Urbanization In Semarang City

KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE Vol 9, No 1 (2017): Komunitas, March 2017
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper aims to understand the role of urbanization to street vendors emerging. In the case of Semarang, more than 54% Semarang’s street vendors come from its hinterlands. These sectors turn to development dichotomy that have a positive and negative impact. Positively, this area becomes resilience economy people. In the negative side, more than 60% vendors make their stall in the public space. This research used a mix-method approach taking 271 samples, Focus Group Discussion (FGD) and in deep interviews. From this study, it can be concluded that urbanization had led to the outbreak of street vendors through (1) rural-urban migration, and (2) the social change as a result of gentrification. Working as street vendors turned out to be an alternative way of life to adapt to global economic uncertainty. Also, there are 71.6% of street vendors open their stalls in 2003-2009, or about 6-7 years after the monetary crisis (1997). It shows that the financial crisis is not the primary trigger for the outbreak of street vendors. Another interesting finding is that there is a new phenomenon in the form of the intervention of the middle class who took part in this business.

PERAN LOCAL CHAMPION DALAM PENGEMBANGAN COMMUNITY BASED TOURISM DI DESA WISATA CANDIREJO, MAGELANG

Jurnal Pengembangan Kota Vol 5, No 2: Desember 2017
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Wisata Candirejo merupakan salah satu desa wisata yang menerapkan konsep pariwisata berbasis masyarakat. Keterlibatan masyarakat, pemerintah, dan stakeholder menjadi sangat penting. Pihak yang secara aktif dalam pengembangan desa wisata disebut local leader/local champion sehingga muncul pertanyaan “bagaimana peran local champion dalam pengembangan desa wisata Candirejo?” Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam (depth interview) kepada narasumber. Metode snowballing dianggap sebagai metode yang sesuai, karena sampel yang digunakan adalah masyarakat/pihak yang benar-benar dinilai memiliki pengetahuan lebih terhadap objek yang diteliti. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan ada 2 yaitu:  1) pengumpulan data primer, dengan melakukan observasi dan wawancara; 2) pengumpulan data sekunder, yaitu dengan melakukan kajian literatur, telaah dokumen. Hasil penelitian yang diperoleh peran Local Champion pada pengembangan pariwisata berbasis komunitas di Desa Wisata Candrejo yaitu sebagai motivator, mobilisator, mediator, dan fasilitator. Peran Local Champion pada desa wisata yang menerapkan community of development tampak pada pengembangan sumberdaya alam dan sumber daya manusia. Kekayaan sumber daya alam dan budaya menjadi salah modal utama dalam pengembangan desa wisata. Masyarakat dituntut menciptakan usaha baru guna meningkatkan perekonomian. Dengan adanya kegaitan wisata, perekonomian masyarakat meningkat, interaksi sosial semakin erat, serta lingkungan semakin terjaga, sekaligus melestarikan budaya.   

Street Vendors Hypergrowth: Consequence of Uncontrolled Urbanization In Semarang City

KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE Vol 9, No 1 (2017): Komunitas, March 2017
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper aims to understand the role of urbanization in the emergence of in urban area street vendors. In the case of Semarang, more than 54% of its street vendors come from its hinterlands. These sectors turn to development dichotomy that have a positive and negative impact. Positively, this area becomes peoples economic resilience. In the negative side, more than 60% of vendors make their stall in the public space. This research uses a mix-method approach taking 271 samples, Focus Group Discussion (FGD) and in-depth interview. From this study, it can be concluded that urbanization has led to the outbreak of street vendors through (1) rural-urban migration, and (2) social change as a result of gentrification. Working as street vendors turned out to be an alternative way of life to adapt to global economic uncertainty. Also, there are 71.6% of street vendors open their stalls in 2003-2009, or about 6-7 years after the monetary crisis (1997). It shows that the financial crisis is not the primary trigger for the outbreak of street vendors. Another interesting finding is that there is a new phenomenon in the form of the intervention of the middle class who took part in this business.