Ika Santia
Pendidikan Matematika FKIP Universitas Nusantara PGRI Kediri

Published : 12 Documents
Articles

Found 12 Documents
Search

Mendorong Kreativitas Siswa Melalui Strategi Pikat Pictorial Riddle

PEDAGOGIA: Jurnal Pendidikan Vol 4, No 2 (2015): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (769.456 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) kemampuan berpikir kreatif siswa berkemampuan dasar matematika rendah; (2) kemampuan berpikir kreatif siswa berkemampuan dasar matematika sedang dan (3) kemampuan berpikir kreatif siswa berkemampuan dasar matematika tinggi. Jenis penelitian ini ada penelitian kualitatif. Pengumpulan data dalam penelitian ini akan dilakukan dengan  dua  teknik  yaitu  tes  tertulis  dan  wawancara. Proses pengumpulan data tes tertulis diperoleh dari hasil tes pada tes kemampuan dasar matematika dan soal Tes Pengajuan Masalah Lingkaran (TPML). Pengumpulan data diawali dengan pemberian tes kemampuan dasar matematika yang hasilnya digunakan untuk mengelompokkan siswa yang memiliki kemampuan rendah,sedang dan tinggi. Proses berikutnya, siswa diberikan pembelajaran dengan strategi PIKAT Pictorial Riddle. Peneliti memfokuskan pengamatan pada pekerjaan subjek apakah muncul kreativitas dalam pengajuan masalah lingkaran (TPML). Untuk menjamin keabsahan data dalam penelitian ini akan dilakukan triangulasi waktu. Setelah dilakukan analisis data terlihat bahwa hanya terdapat satu subjek dari kelompok kemampuan dasar matematika tinggi yang menunjukkan ide kreatifnya dalam pengajuan soal yang berhubungan dengan luas lingkaran. Subjek tersebut dapat mengasosiasikan penggunaan rumus Phytagoras dengan luas daerah setengah lingkaran. Ide yang dibangun juga menunjukkan kebaharuan, terlihat dari pertanyaan dalam masalah yang telah diajukan “Tentukan hubungan luas setengah lingkaran pertama, kedua dan ketiga.” .Kata “hubungan” merupakan kata yang menggambarkan asosiasi beberapa konsep luas setengah lingkaran yang dibandingkan dengan sisi-sisi segitiga siku-sikuKata Kunci: Kreativitas, PIKAT, Pictorial Riddle, pengajuan masalah, lingkaran

REPRESENTASI SISWA SMA DALAM MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA BERDASARKAN GAYA KOGNITIF

JIPM Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : JIPM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah  satu  yang  menjadi  alasan  kesulitan  siswa  kurang dapatmemecahkan masalah matematika adalah kurangnya ragam representasi yang dimiliki  siswa. Oleh karena itu representasi penting dalam suatu pembelajaran matematika. Kurangnya kemampuan representasi siswa terlihat ketika siswa kesulitan menggunakan representasinya untuk memecahkan permasalahan aplikasi turunan fungsi. Adapun perbedaan representasi siswa dalam memecahkan masalah tersebut juga dipengaruhi olehgaya kognitif siswa tersebut. Untuk itu dilakukan suatu penelitian kualitatif yang  bertujuan mendeskripsikan:  (1)  representasi siswa  SMA  dengan gaya  kognitif Field Dependent dalam  memecahkan masalah matematika (2) representasi siswa SMA  dengan gaya  kognitif Field Independent dalam  memecahkan masalah matematika. Pengumpulan data dilakukan dengan  pemberian tugas TPMO dan wawancara. Teknik pemeriksaan keabsahan data yang digunakan  adalahtriangulasi. Subjek penelitian adalah siswa SMA kelas XII sebanyak 2 orang. Hasil penelitian  ini  menunjukkan  bahwa  subjek mereprentasikan idenya untukmemecahkan masalah matematika dengan menggunakan langkah pemecahan masalahPolya: (a) memahami masalah (b) membuat rencana penyelesaian (c) melaksanakanrencana dan (d) memeriksa kembali penyelesaian yang telah dilakukan. Adapunrepresentasi subjek dengan gaya  kognitif Field Dependent dalam memecahkanmasalah matematika adalah dengan cara: memahami informasi dan apa yangditanyakan dengan membuat gambar, membuat rencana penyelesaian denganmembuat persamaan matematika, memanipulasi persamaan tersebut dan mengecekkembali hasil akhir yang didapatkan dengan mensubstitusi kembali jawaban akhir kepersamaan awal. Sedangkan subjek dengan gaya  kognitif Field Independentmerepresentasikan idenya untuk memecahkan masalah dengan cara: memahamiinformasi dan apa yang ditanyakan dengan menuliskan persamaan matematikamenggunkan simbol formal, membuat rencana penyelesaian dengan membuatpersamaan matematika, memanipulasi persamaan tersebut dan menggunakan caracoba-coba serta tidak melakukan pengecekan kembali hasil akhir yang diperoleh. Kata Kunci: Representasi, Pemecahan Masalah Matematika, Gaya Kognitif

Peningkatan Soft Skill Mahasiswa Calon Guru Matematika Melalui Critical Lesson Study

PEDAGOGIA: Jurnal Pendidikan Vol 5, No 2 (2016): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.047 KB)

Abstract

Lesson study merupakan salah satu model pembinaan profesi pendidik yang relevan dengan kebutuhan peningkatan keterampilan pendukung pembelajaran (soft skill) guru. Peningkatan soft skill dapat dikembangkan dengan pembelajaran critical. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) peningkatkan  soft skill  mahasiswa calon guru matematika melalui penerapan  lesson  study, dan (2) peningkatan kegiatan mahasiswa pada fase pembelajaran criting setelah penerapan lesson study. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang menjelaskan  peningkatan  soft  skill  dan elemen criting FRISCO (Focus, Reason, Inference, Situation, Clarity, Overview) pada fase pembelajaran criting lesson study. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling.  Subjek  penelitian  adalah  mahasiswa pendidikan matematika yang menempuh mata kuliah MKPBM 4. Data penelitian dikumpulkan melalui teknik  observasi. Langkah-langkah penelitian diawali dengan kegaian  plan (perencanaan), do (pelaksanaan) dan see (refleksi) antara dosen model (peneliti) dan observer. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lesson study memberikan kontribusi positif dalam pembelajaran. Hal ini terlihat dari peningkatan soft skill mahasiswa mencapai rerata akhir 2,18 (pada taraf sedang) dan kemampuan berpikir kritis mencapai rerata 2,35 (pada taraf tinggi). Kontribusi tersebut mewujudkan keterbukaan dalam pembelajaran bagi semua pihak. Suatu kelas yang memiliki keterbukaan untuk semua orang akan memberikan dampak positif bagi dosen model, mahasiswa, dan observer.

Mendorong Kreativitas Siswa Melalui Strategi Pikat Pictorial Riddle

PEDAGOGIA Vol 4, No 2 (2015): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (769.456 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) kemampuan berpikir kreatif siswa berkemampuan dasar matematika rendah; (2) kemampuan berpikir kreatif siswa berkemampuan dasar matematika sedang dan (3) kemampuan berpikir kreatif siswa berkemampuan dasar matematika tinggi. Jenis penelitian ini ada penelitian kualitatif. Pengumpulan data dalam penelitian ini akan dilakukan dengan  dua  teknik  yaitu  tes  tertulis  dan  wawancara. Proses pengumpulan data tes tertulis diperoleh dari hasil tes pada tes kemampuan dasar matematika dan soal Tes Pengajuan Masalah Lingkaran (TPML). Pengumpulan data diawali dengan pemberian tes kemampuan dasar matematika yang hasilnya digunakan untuk mengelompokkan siswa yang memiliki kemampuan rendah,sedang dan tinggi. Proses berikutnya, siswa diberikan pembelajaran dengan strategi PIKAT Pictorial Riddle. Peneliti memfokuskan pengamatan pada pekerjaan subjek apakah muncul kreativitas dalam pengajuan masalah lingkaran (TPML). Untuk menjamin keabsahan data dalam penelitian ini akan dilakukan triangulasi waktu. Setelah dilakukan analisis data terlihat bahwa hanya terdapat satu subjek dari kelompok kemampuan dasar matematika tinggi yang menunjukkan ide kreatifnya dalam pengajuan soal yang berhubungan dengan luas lingkaran. Subjek tersebut dapat mengasosiasikan penggunaan rumus Phytagoras dengan luas daerah setengah lingkaran. Ide yang dibangun juga menunjukkan kebaharuan, terlihat dari pertanyaan dalam masalah yang telah diajukan “Tentukan hubungan luas setengah lingkaran pertama, kedua dan ketiga.” .Kata “hubungan” merupakan kata yang menggambarkan asosiasi beberapa konsep luas setengah lingkaran yang dibandingkan dengan sisi-sisi segitiga siku-sikuKata Kunci: Kreativitas, PIKAT, Pictorial Riddle, pengajuan masalah, lingkaran

ANALISIS KEMAMPUAN LITERASI MATEMATIS SISWA SMP BERDASARKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA

JIPMat Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.515 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi rendahnya hasil PISA dan TIMSS siswa Indonesia yang kontradiktif dengan motivasi belajar mereka. Untuk itu dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mendeskripsikan kemampuan literasi matematis siswa SMP dengan tingkat motivasi belajar rendah dan tinggi. Identifikasi kemampuan literasi matematis didasarkan atas indikator literasi matematis yang meliputi: komunikasi, matematisasi, representasi, pemilihan strategi untuk pemecahan masalah, serta penalaran. Subjek penelitian terdiri dari 1 siswa untuk masing-masing kategori. Instrumen penelitian meliputi peneliti, tes literasi matematis, angket motivasi belajar siswa, dan pedoman wawancara. Teknik pengumpulan data yang digunakan terdiri dari tes, wawancara, dan observasi. Teknik analisis data menggunakan triangulasi teknik. Analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data, dan pengambilan simpulan. Adapun hasil penelitian menyatakan bahwa kemampuan literasi matematis siswa motivasi belajar rendah dan rendah memiliki kesamaan dalam komunikasi dan matematisasi. Sedangkan pada saat pemilihan strategi pemecahan masalah, representasi dan penalaran terdapat perbedaan antara kedua subjek. Perbedaan tersebut terletak pada cara yang dipilih siswa dengan motivasi belajar tinggi dalam melihat fokus permasalahan dan menganalisa jawaban, sedangkan siswa dengan motivasi belajar rendah lebih memilih cara prosedural.Kata kunci: Literasi Matematis, Siswa SMP, Motivasi Belajar

Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Aljabar Siswa SMP Melalui Pembelajaran Modul Aljabar Berbasis Relational Thinking

JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika) Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.445 KB)

Abstract

Abstrak—Kemampuan berpikir relasional merupakan bagian yang penting dari pembelajaran matematika sekolah. Pada materi persamaan aljabar, siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah tersebut karena kurangnya pemahaman simbol relasi ekuivalensi. Hal ini menunjukkan bahwa pemecahan masalah selama ini hanya menuntut siswa mengaplikasikan algoritma untuk mendapatkan jawaban akhir, tidak mendukung siswa untuk berpikir dan menemukan sendiri konsep relasi ekuivalensi. Oleh karena itu dikembangkan suatu media pembelajaran aljabar yang merangsang kemampuan berpikir relasional siswa SMP dengan harapan akan mendukung kemampuan pemecahan masalah aljabar siswa SMP. Untuk itu, penelitian ini bertujuan menganalisis ada tidaknya peningkatan pemecahan masalah aljabar siswa SMP setelah menggunakan modul aljabar berbasis berpikir relasional.  Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif  yang menggunakan uji-t dua sampel berpasangan untuk menganalisis peningkatan kemampuan pemecahan masalah. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tes tulis relasi. Sampel yang digunakan adalah siswa kelas VII sebanyak 30 siswa. Data dianalisis dengan bantuan Program SPSS 21. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan kemampuan pemecahan masalah aljabar setelah penggunaan modul aljabar berbasis berpikir relasional dengan sig = 0,00 < 5% dengan t hitung = -6,43 > -t0,05. Jadi penggunaan modul dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah aljabar siswa SMP.

REPRESENTASI SISWA SMA DALAM MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA BERDASARKAN GAYA KOGNITIF

JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika) Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.457 KB)

Abstract

Salah satu yang menjadi alasan kesulitan siswa kurang dapat memecahkan masalah matematika adalah kurangnya ragam representasi yang dimiliki siswa. Oleh karena itu representasi penting dalam suatu pembelajaran matematika. Kurangnya kemampuan representasi siswa terlihat ketika siswa kesulitan menggunakan representasinya untuk memecahkan permasalahan aplikasi turunan fungsi. Adapun perbedaan representasi siswa dalam memecahkan masalah tersebut juga dipengaruhi oleh gaya kognitif siswa tersebut. Untuk itu dilakukan suatu penelitian kualitatif yang bertujuan mendeskripsikan: (1) representasi siswa SMA dengan gaya kognitif Field Dependent dalam memecahkan masalah matematika (2) representasi siswa SMA dengan gaya kognitif Field Independent dalam memecahkan masalah matematika. Pengumpulan data dilakukan dengan pemberian tugas TPMO dan wawancara. Teknik pemeriksaan keabsahan data yang digunakan adalah triangulasi. Subjek penelitian adalah siswa SMA kelas XII sebanyak 2 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subjek mereprentasikan idenya untuk memecahkan masalah matematika dengan menggunakan langkah pemecahan masalah Polya: (a) memahami masalah (b) membuat rencana penyelesaian (c) melaksanakan rencana dan (d) memeriksa kembali penyelesaian yang telah dilakukan. Adapun representasi subjek dengan gaya kognitif Field Dependent dalam memecahkan masalah matematika adalah dengan cara: memahami informasi dan apa yang ditanyakan dengan membuat gambar, membuat rencana penyelesaian dengan membuat persamaan matematika, memanipulasi persamaan tersebut dan mengecek kembali hasil akhir yang didapatkan dengan mensubstitusi kembali jawaban akhir ke persamaan awal. Sedangkan subjek dengan gaya kognitif Field Independent merepresentasikan idenya untuk memecahkan masalah dengan cara: memahami informasi dan apa yang ditanyakan dengan menuliskan persamaan matematika menggunkan simbol formal, membuat rencana penyelesaian dengan membuat persamaan matematika, memanipulasi persamaan tersebut dan menggunakan cara coba-coba serta tidak melakukan pengecekan kembali hasil akhir yang diperoleh.

Eksperimen model pembelajaran think pair share ditinjau dari kecerdasan interpersonal peserta didik

Jurnal Math Educator Nusantara: Wahana Publikasi Karya Tulis Ilmiah di Bidang Pendidikan Matematika Vol 2 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) manakah diantara Model Pembelajaran TPS atau Pembelajaran langsung yang menghasilkan prestasi yang lebih baik?, (2) Manakah yang lebih baik, prestasi belajar matematika peserta didik  yang mempunyai kecerdasan interpersonal tinggi, sedang atau rendah?, (3) manakah yang menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik, di antara Model Pembelajaran TPS dan Pembelajaran langsung pada peserta didik  yang mempunyai kecerdasan interpersonal tinggi, sedang dan rendah. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental semu (Quasi experimental), dengan desain faktorial 2x3. Populasi penelitian ini adalah seluruh peserta didik  kelas VII MTs NU Joho Kabupaten Nganjuk tahun pelajaran 2015/2016. Dipilih dua kelas secara acak sebagai sampel dengan jumlah sampel 62 peserta didik. Sampel selanjutnya dibagi menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu kelompok kelas eksperimen dan kelompok kelas kontrol yang masing-masing 31 peserta didik. Uji prasyarat anava yaitu uji normalitas menggunakan uji Lilliefors dan uji homogenitas menggunakan uji Bartlett. Uji keseimbangan menggunakan analisis variansi satu jalan dengan sel tak sama. Uji hipotesis menggunakan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama. Berdasarkan hasil analisis diperoleh kesimpulan bahwa: (1).Model pembelajaran TPS memberikan prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran langsung; (2). Peserta didik  dengan kecerdasan interpersonal tinggi, kecerdasan interpersonal sedang maupun kecerdasan interpersonal rendah mempunyai prestasi belajar yang sama; (3). Pada masing-masing kecerdasan interpersonal peserta didik , baik tinggi, sedang  ataupun rendah prestasi belajar matematika pada model pembelajaran TPS lebih baik dari pada pembelajaran langsung.

Pengembangan modul pembelajaran matematika berdasarkan proses berpikir relasional dalam upaya meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah aljabar siswa SMP

Jurnal Math Educator Nusantara: Wahana Publikasi Karya Tulis Ilmiah di Bidang Pendidikan Matematika Vol 2 No 1 (2016)
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan berpikir secara matematis dan menggunakannya dalam penyelesaian masalah merupakan tujuan penting dari pembelajaran matematika sekolah. Tetapi pada kenyataannya, pembelajaran matematika di sekolah selama ini difokuskan untuk menghitung jawaban akhir. Kenyataan ini mengindikasikan bahwa proses berpikir siswa kurang diperhatikan oleh guru. Di pihak lain, dalam materi matematika sekolah khususnya menyelesaikan persamaan aljabar, siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah tersebut karena siswa dituntut memahami simbol samadengan sebagai suatu relasi ekivalensi. Hal ini menunjukkan sebuah karakter yang berbeda daripada hanya mengaplikasikan algoritma untuk mendapatkan jawaban akhir. Sehingga diperlukan kemampuan berpikir relasional. Melihat pentingnya berpikir relasional, khususnya untuk siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menerima aljabar sebagai materi baru bagi mereka, diperlukan suatu media pembelajaran aljabar yang merangsang kemampuan berpikir relasional. Untuk itu,penelitian ini bertujuan mengembangkan suatu bahan ajar berupa modul pembelajaran untuk siswa SMP dengan mengutamakan kemampuan berpikir relasional sebagai upaya meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah aljabar.  Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang mengacu pada model 4-D menurut Thiagarajan, Semmel dan Semmel yaitu Define, Design, Develop, dan Disseminate. Namun pengembangan ini hanya sampai tahap pengembangan (develop) dan tahap keempat tidak dilakukan karena keterbatasan waktu dan biaya. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket. Data yang diperoleh adalah data kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan modul yang dikembangkan termasuk dalam kriteria sangat layak, ditinjau dari kelayakan isi sebesar 84,11%, kelayakan bahasa sebesar 86,61%, kelayakan penyajian sebesar 84,82%, kelayakan kegrafikan sebesar 84,72%. Hasil ujicoba terbatas pada tiga puluh orang siswa mendapat respon positif sebesar 98,25%sehingga modul sangat layak digunakan sebagai bahan ajar. Kata kunci: Modul Pembelajaran, Berpikir Relasional, Menyelesaikan Masalah, Aljabar

REPRESENTASI SISWA SMA DALAM MEMECAHKAN MASALAH NILAI OPTIMUM BERDASARKAN GAYA KOGNITIF FILD INDEPENDENT DAN FIELD DEPENDENT

Jurnal Math Educator Nusantara: Wahana Publikasi Karya Tulis Ilmiah di Bidang Pendidikan Matematika Vol 1 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rendahnya kemampuan siswa  memecahkan masalah nilai optimum adalah kurangnya ragam representasi yang dimiliki siswa. Kemampuan representasi menjadi penting dalam suatu pembelajaran matematika. Perbedaan  kemampuan representasi siswa dalam memecahkan masalah dimungkinkan adanya perbedaan gaya kognitif siswa. Untuk itu dilakukan suatu penelitian kualitatif yang  bertujuan mendeskripsikan:  (1)  representasi siswa  SMA  dengan gaya  kognitif Field Dependent dalam  memecahkan masalah nilai optimum (2) representasi siswa  SMA  dengan gaya  kognitif Field Independent dalam  memecahkan masalah nilai optimum. Pengumpulan data dilakukan dengan  pemberian tugas TPM dan wawancara. Teknik pemeriksaan keabsahan data yang digunakan  adalah triangulasi. Subjek penelitian adalah siswa SMA kelas XI sebanyak 2 orang. Hasil  penelitian  ini  menunjukkan  bahwa  subjek dengan gaya  kognitif Field Dependent merepresentasikan idenya untuk memecahkan masalah nilai optimum adalah dengan cara: memahami informasi dan apa yang ditanyakan dengan membuat gambar, membuat rencana penyelesaian dengan membuat persamaan matematika, memanipulasi persamaan tersebut dan mengecek kembali hasil akhir yang didapatkan dengan mensubstitusi kembali jawaban akhir ke persamaan awal. Sedangkan subjek dengan gaya kognitif Field Independent merepresentasikan idenya untuk memecahkan masalah dengan cara: memahami informasi dan apa yang ditanyakan dengan menuliskan persamaan matematika menggunakan simbol formal, membuat rencana penyelesaian dengan membuat persamaan matematika, memanipulasi persamaan tersebut dan menggunakan cara coba-coba serta tidak melakukan pengecekan kembali hasil akhir yang diperoleh. Kata Kunci: Representasi, Pemecahan Masalah nilai optimum, Gaya Kognitif