This Author published in this journals
All Journal KALIMAH
Afifah Bidayah
Institut Studi Islam Darussalam Gontor

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

Riffat Hassan dan Wacana Baru Penafsiran Bidayah, Afifah
KALIMAH Vol 11, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.244 KB) | DOI: 10.21111/klm.v11i2.98

Abstract

In the discourse of women’s liberation was hailed by adherents of gender equality, Hermeneutics has a significant role. It can be seen clearly by considering the function Hermeneutics deemed capable of reconstructing the verses (nass) which considered Misogyny or gender biased. One of the figures who hard enough to practice Hermeneutics as one means to ‘rediscover’ the rights of women in the texts, is Riffat Hassan. Riffat, with her efforts to try to re-interpret the meanings in the Qur’an related to the gender discourse. For Riffat, patriarchal culture that deeply ingrained was implications of hegemonic texts understanding. Women, for Riffat have rights and obligations in the portion of the ‘same’ in quantity without having to think about the logical consequences are present therefrom.
Riffat Hassan dan Wacana Baru Penafsiran Bidayah, Afifah
KALIMAH Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (29.355 KB)

Abstract

Dalam wacana pembebasan perempuan yang dielu-elukan oleh penganut kesetaraan gender, Hermeneutika memiliki peran yang cukup signifikan. Hal ini dapat dilihat dengan jelas dengan memperhatikan fungsi Hermeneutika yang dipandang mampu merekonstruksi ayat-ayat (nash) yang dianggap misogyny alias bias gender. Salah satu tokoh yang cukup giat mempraktikkan Hermeneutika sebagai salah satu alat untuk ‘menemukan kembali’ hak-hak wanita di dalam nash, adalah Riffat Hassan. Riffat, dengan segala upayanya mencoba untuk menginterpretasikan ulang makna-makna dalam al Qur’anterkait dengan wacana Gender. Bagi Riffat, budaya patriarki yang mendarah daging adalah implikasi dari pemahaman nash yang bersifat hegemonik, di mana Tafsir, senantiasa didominasi peranannya oleh kaum lelaki. Perempuan, bagi Riffat memiliki hak-hak dan kewajiban dalam porsi yang ‘sama’ secara kuantitas tanpa harus memikirkan konsekuensi logis yang hadir daripadanya.