Rahayu Kusumastuti
Unknown Affiliation

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

ANALISIS PENGARUH UKURAN BUTIR KARBON AKTIF TERHADAP ADSORPSI GAS N2 DAN O2 PADA KONDISI KRIOGENIK

SIGMA EPSILON - Buletin Ilmiah Teknologi Keselamatan Reaktor Nuklir Vol 17, No 2 (2013): Mei 2013
Publisher : Badan Tenaga Nuklir Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.947 KB)

Abstract

ANALISIS PENGARUH UKURAN BUTIR KARBON AKTIF TERHADAP ADSORPSI GAS N2 DAN O2 PADA KONDISI KRIOGENIK. RGTT200K merupakan reaktor generasi IV yang panasnya dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik dan produksi hidrogen. Dalam sistem pengoperasian RGTT 200K, helium sebagai pendingin di prediksikan mengandung beberapa pengotor diantaranya adalah H2O, CO2, CO, CH4, N2, O2, H2. Oksigen dan nitrogen merupakan salah satu jenis pengotor yang harus dipisahkan dari pendingin helium karena berpotensi terhadap degradasi sistem struktur dan komponen. Karbon aktif merupakan salah satu kandidat adsorben yang mempunyai kemampuan memisahkan gas N2 dan O2 pada pendingin RGTT 200K. Oleh karena itu dilakukan analisis pengaruh ukuran butir karbon aktif terhadap adsorpsi gas N2 dan O2 pada kondisi kriogenik dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh ukuran butir karbon aktif terhadap kapasitas adsorpsi karbon aktif dengan pemodelan unit adsorpsi Langmuir. Analisis dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak ChemCad. Hasil analisis menunjukkan bahwa ukuran butir mempunyai pengaruh yang signifikan. Kenaikan ukuran butir dari 0,5 mm sampai 10 mm akan menurunkan kapasitas serap oksigen dan nitrogen dari 1,12 gr/sec menjadi 0,2821 gr/sec terjadi penurunan sebesar 74,8125 % . Dengan ukuran butir 0,5 mm, mempunyai kapasitas adsorpsi paling maksimal. Namun pada ukuran butir semakin kecil maka presure drop nya semakin tinggi.Kata Kunci : Adsorpsi, Ukuran Butir, Karbon Aktif, Kriogenik

PERFORMANCE ANALYSIS OF HELIUM INVENTORY CONTROL OF RGTT200K COOLING SYSTEM

SIGMA EPSILON - Buletin Ilmiah Teknologi Keselamatan Reaktor Nuklir Vol 19, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Badan Tenaga Nuklir Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (646.215 KB)

Abstract

RGTT200K is a power reactor, designed based on HTGR tech-nology having capability to operate at high temperatures. RGTT200K features are 200 MWth power, helium-cooled, graphite moderator and reflector, pebble fuel type, and uses the Brayton direct cycle. Helium Inventory Control System (HICS) is one of its safety system which maintains the pressure, the helium coolant quality and quantity to meet safety requirements. The HICS consists of 3 subsys-tems, namely: Inventory Control System (ICS), Helium Purification System (HPS), and Helium Make-Up System (HMS). All of the systems have the function to maintain pressure, helium quality and quantity so that the reactor can operate reliable and safely. This paper discusses the performance of the ICS, which is integrated to the reactor coolant. The research objective was to determine the helium storage tank response rate, when primary coolant is overpressured and depressurized. The methodology used in this research is modeling and simulation by using ChemCAD. In previous re-search, the HPS, ICS and HMS have been modeled but have not been integrated yet in to the primary coolant. The simulation results showed that the time required for the injection tank back to the cool-ant normal pressure of 52 bars, due to depressurization up to 5 % was 160 seconds. While the time required for bleeding / blowdown to the storage tanks due to overpressurization up to 5 % was 186 seconds.

KARAKTERISASI PROSES PENANGKAPAN PENGOTOR N2 DAN O2 PADA KARBON AKTIF SISTEM PEMURNIAN RGTT200K

SIGMA EPSILON - Buletin Ilmiah Teknologi Keselamatan Reaktor Nuklir Vol 16, No 3-4 (2012): Agustus - November 2012
Publisher : Badan Tenaga Nuklir Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1258.739 KB)

Abstract

RGTT200K adalah Reaktor Gas TemperaturTinggi 200MWth Kogenerasi. RGTT200K menggunakan helium sebagai pendingin. Kemurnianhelium harus selalu dijaga dari pengotor berbentuk partikel padatan dan gas. Untuk menjaminkeselamatan operasional reaktor, RGTT200K dilengkapi dengan sistem pemurnian pendingin reaktor.Ada 4 tahapan proses dalam sistem pemurnian helium untuk mengendalikan kotoran-kotoranyang muncul selama operasi, yaitu penyaringan partikulat padat, oksidasi gas pengotor, penyaringanmolekuler, dan adsorpsi kriogenik. Dalam proses pemurnian helium, temperatur dan tekanan mempunyaiperan yang sangat menentukan dalam keberhasilan pemurnian. Makalah ini membahas analisispengaruh tekanan dan temperatur terhadap proses penyaringan gas pengotor dengan Karbon Aktif.Unit operasi Karbon Aktif dimodelkan dengan software Super Pro Designer. Hasil analisismenunjukkan bahwa kenaikan temperatur dari: 200oChingga 0oC menurunkan kapasitas serap KarbonAktif terhadap O2 dari 0,000103 g/L hingga 0,000033 g/L. Sedangkan untuk pengotor N2 dengankenaikan temperatur yang sama menurunkan kapasitas serap Karbon Aktif dari 0.00009 g/L hingga0.000029 g/L. Hubungan temperatur dengan jumlah O2 dan N2 yang tertangkap oleh Karbon Aktifditunjukkan oleh persamaan linier yaitu: Y = -3.10(-7)X+2.10(-5). Kenaikan tekanan dari 5 bar hingga50 bar meningkatkan kapasitas serap Karbon Aktif terhadap O2 dari 0,000048 g/L hingga 0,000463g/L. Hubungan tekanan dengan jumlah O2 yang tertangkap ditunjukkan oleh persamaan linier: Y = -9.10(-6)X+2.10(-5). Demikian pula pada kenaikan tekanan yang sama kapasitas serap terhadap N2 meningkatdari 0,000043 g/L menjadi 0,0000405 g/L. Hubungan tekanan dengan jumlah N2 yang tertangkapoleh Karbon Aktif ditunjukkan oleh persamaan linier Y = -8.10(-6)X+2.10(-5).

PENGENALAN MSDS BAHAN KIMIA DALAM PROSES REAKSI BUNSEN UNTUK MENUNJANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

SIGMA EPSILON - Buletin Ilmiah Teknologi Keselamatan Reaktor Nuklir Vol 12, No 4 (2008): November 2008
Publisher : Badan Tenaga Nuklir Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produksi hidrogen termokimia I-S yangmelibatkan reaksi bunsen saat ini belum dilaksanakan di Indonesia, tetapi masih dalam kajian dan eksperimen dilaboratorium. Dengan demikian, tingkat resiko tersebut belum diketahui. Oleh karena itu diperlukan pemahamandan kesadaran terhadap resiko di laboratorium. Untuk memperoleh pemahaman dan kesadaran terhadap resiko dilaboratorium tersebut, sebuah dokumen yang memuat data mengenai sifat dan karakter material, yang di sebutMaterial Safety Data Sheet (MSDS) diperlukan. MSDS merupakan dokumen mengenai pengenalan umum, sifatbahan, cara penanganan, penyimpanan, pemindahan dan pengelolaan limbah buangan bahan kimia. Padamakalah ini diuraikan tentang pengertian dan evaluasi MSDS terhadap bahan-bahan yang diperlukan pada reaksibunsen yaitu iodine (I2), HI ,H2SO4 dan SO2. Dengan MSDS, sifat dan karakter bahan kimia yang digunakanpada reaksi bunsen yang merupakan bahan tidak mudah meledak, tidak mudah terbakar akan tetapi bersifatkorosif dan reaktif terhadap logam tersebut diketahui. Dengan demikian, perlu perlakuan spesifik terhadap bahankimia tersebut yang termasuk bahan berbahaya dan beracun. Pengetahuan, pemahaman dan implementasiterhadap MSDS dapat menjamin keselamatan dan kesehatan kerja di laboratorium.

INHIBITION CHARACTER ANALYSIS OF CORROSION INHIBITOR ON CARBON STEEL MATERIALS IN 1M HCL SOLUTION USING THE EIS METHOD

SIGMA EPSILON - Buletin Ilmiah Teknologi Keselamatan Reaktor Nuklir Vol 19, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Badan Tenaga Nuklir Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.84 KB)

Abstract

Research on the effect of the concentration of the inhibitor on the corrosion behavior of carbon-steel material has been done. The research was started by immersing the prepared carbon-steel plate in a 1 M HCl en-vironment. After that, corrosion inhibitor was added with several concentrations, which are 0, 100, 200, 300, and 400 ppm in to that environment, to be stirred using a magnetic stirrer at 300 rpm for 30 minutes under room temperatur condition. The effect of the added inhibitor was then analyzed using the Electrochemical Impedance Spectroscopies (EIS) method. The experiment results showed that the greater the concentration of the inhibitor, the greater the resistance, so that the metal is more pro-tected from corrosion attack. The calculation results showed that the inhibitor efficiency is directly proportional to the concentration of inhibitor that is achieved at a concentration of 400 ppm with an efficiency of 71.24%.

OPTIMASI PEMBENTUKAN HI DAN H2SO4 PADA REAKSI BUNSEN UNTUK MENDUKUNG PRODUKSI HIDROGEN

SIGMA EPSILON - Buletin Ilmiah Teknologi Keselamatan Reaktor Nuklir Vol 14, No 1 (2010): Februari 2010
Publisher : Badan Tenaga Nuklir Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.219 KB)

Abstract

Teknologi proses produksi hidrogen secara termokimia telahmenjadi unggulan bila dikopel dengan reaktor nuklir temperatur tinggi. Proses ini hanya memerlukan energitermal untuk memecahkan air menjadi hidrogen dan oksigen. Implementasi rancangan eksperimen reaksiBunsen telah dilakukan. Bahan peralatan percobaan ini terdiri dari bahan kaca pyrex dan pipa teflon agar tahanterhadap serangan korosi, tekanan 2 bar dan suhu reaksi 120 oC. Percobaan telah dilakukan dengan parameterpengubah yaitu durasi reaksi, komposisi I2 dan H2O, sedangkan parameter tetap yaitu komposisi SO2,temperatur dan tekanan gas SO2 secara statis. Hasil percobaan optimasi dengan kondisi menunjukkan bahwaproduk reaksi Bunsen meningkat dengan bertambahnya fraksi I2, H2O dan durasi reaksi. Namun padapenambahan H2O peningkatan produk terbatas pada jumlah H2O 0,055 mol. Hasil analisis terhadap produkreaksi Bunsen menunjukkan bahwa reaktan yang bereaksi membentuk produk adalah sebesar 5,6 % dan reaktanyang belum bereaksi akan terus membentuk produk reaksi selama produk reaksi yang terjadi dipisahkan darireaktan.

EFFECT OF DUKEM INHIBITOR ON AISI 1010 IN THE SECONDARY COOLING SYSTEM OF RSG GAS

JURNAL TEKNOLOGI REAKTOR NUKLIR TRI DASA MEGA Vol 20, No 2 (2018): JUNI 2018
Publisher : Pusat Teknologi Dan Keselamatan Reaktor Nuklir (PTKRN)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1126.103 KB)

Abstract

The secondary coolant of RSG GAS is an open system whose components are easy to interact with oxygen from surrounding environment to initiate corrosion. Corrosion controls are usually done by adding inhibitors. Dukem inhibitors are one alternative substitute inhibitor that may be used in the secondary cooling system of RSG GAS. The purpose of this study is to find out the optimum dukem concentration that needs to be added to RSG GAS secondary cooling system and to understand the interaction phenomenon between dukem inhibitors and AISI 1010 material. The analysis of orthophospat content as an active compound in dukem inhibitors is done by FTIR and UV-vis spectrophotometer. The phenomenon of interaction between inhibitors and material is studied by FTIR, SEM and XRD. Corrosion test with potentiostat is performed to assess the optimal concentration of dukem inhibitor which should be added. From the results of FTIR analysis, it is known that the active compounds in dukem inhibitors are ortho-phosphate. The analysis using UV-vis spectrophotometer showed that orthophospat concentration is 4.2 ppm. The SEM analysis demonstrated the presence of an inhibitor layer, which is capable of masking the surface porosity. The AISI 1010 material has better corrosion resistance when inhibitor was injected to the coolant of 150 ppm. The corrosion rate decreased by by 45.20% from 10.95 mpy to 6.02 mpy. The type of dukem inhibitor is mixed type inhibitor. Visually, corrosion product was not formed in the AISI 1010 surface during immersed in the inhibitor solution but it is clearly adhered on surface when immersed in solution added by inhibitors. It can be concluded that dukem inhibitors can be used as inhibitors in RSG GAS secondary cooling systems.Keywords: dukem, inhibitor, corrosion, secondary cooling system, RSG GAS. PENGARUH INHIBITOR DUKEM terhadap proses korosi pada SISTEM PENDINGIN SEKUNDER RSG GAS. Sistem pendingin sekunder RSG GAS merupakan sistem pendingin resirkulasi terbuka. Komponen pendingin ini mudah berinteraksi dengan udara luar yang mengandung banyak oksigen sehingga dapat mempercepat proses korosi. Salah satu cara pengendalian korosi adalah dengan penambahan inhibitor. Inhibitor dukem merupakan salah satu alternatif inhibitor pengganti yang dapat di gunakan pada sistem pendingin sekunder. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi penambahan dukem yang optimal ke pendingin sekunder RSG GAS dan untuk mengetahui fenomena interaksi inhibitor dukem terhadap material AISI 1010. Analisis kandungan ortophospat sebagai senyawa aktif pada inhibitor dukem dilakukan dengan FTIR dan spektrofotometer uv-vis. Fenomena interaksi antara inhibitor dengan material di lakukan dengan analisis FTIR, SEM dan XRD. Uji korosi dengan potensiostat akan memberikan informasi konsentrasi optimium inhibitor dukem dan tipe inhibitor yang sebaiknya di gunakan. Dari hasil analisis FTIR diketahui bahwa kandungan senyawa aktif pada inhibitor dukem adalah senyawa orto-phospat. Analisis menggunakan spektrofotometer uv-vis memperoleh kadar ortophospat sebesar 4,2 ppm. Analisis SEM menunjukkan adanya lapisan inhibitor yang mampu menutupi porositas (spheroid) pada permukaan AISI 1010. Analisis XRD menunjukkan adanya komposisi produk korosi oksida FeO(OH) pada permukaan AISI 1010 jika tidak ditambahan inhibitor. Material AISI 1010 mempunyai ketahanan terhadap korosi yang lebih baik ketika inhibitor ditambahkan ke dalam pendingin sebesar 150 ppm. Hal ini terlihat dari penurunan kecepatan laju korosi sebesar 45,20%  dari 10,95 mpy menjadi 6,02 mpy. Analisis tafel menunjukkan inhibitor dukem merupakan jenis inhibitor campuran. Secara visual, produk korosi tidak terbentuk pada permukaan AISI 1010 ketika direndam dalam larutan inhibitor sedangkan produk korosi terlihat jelas pada specimen tanpa inhibitor. Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa inhibitor dukem dapat digunakan sebagai inhibitor pada sistem pendingin sekunder RSG GAS. Kata Kunci : dukem, inhibitor, korosi, pendingin sekunder,  RSG GAS

WATER CHEMISTRY ANALYSIS IN RSG-GAS SECONDARY COOLING SYSTEM

SIGMA EPSILON - Buletin Ilmiah Teknologi Keselamatan Reaktor Nuklir Vol 20, No 2 (2016): November 2016
Publisher : Badan Tenaga Nuklir Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.992 KB)

Abstract

The G.A Siwabessy reactor (RSG-GAS) located in the Puspiptek area uses water as a coolant. The water as a coolant will contact directly with the component or structure of the reactor, that a chemical reac- tion between water and those components might cause the possibility of corrosion process. Therefore, cooling water quality will determine the integrity of reactor components or structures. The research described in this paper was conducted in order to monitor the quality of secondary cooling water, so that the water quality specifications is maintained and the reactor can be safely operated. One way to monitor the cooling water quality is by performing analysis into the secondary cooling water and raw water on June 6, 2016. The methodology used was by analysing the pH value using a pH-meter, conductivity value using Conductivity-meter, water hardness analysis, and analysis for some chemical elements such as Cl-, SO42-, Fe, P using calibrated Spectrophotometer DR / 2400. Corrosion rate of the carbon-steel as the piping material of secondary cooling system under environmental corrosion condition was also analyzed using the Potentiostat. From those performed analysis, the overall measured values are still below the standard values as required in the RSG-GAS safety analysis report document, meaning that the water quality management of the secondary coo- ling system has been well performed so far. 

THE DEBRIS PARTICLES ANALYSIS OF RSG GAS COOLANT TO ANTICIPATE SEDIMENT INDUCED CORROSION

Jurnal Pengembangan Energi Nuklir Vol 18, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Pusat Kajian Sistem Energi Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.469 KB)

Abstract

THE DEBRIS PARTICLES ANALYSIS OF RSG-GAS COOLANT TO ANTICIPATE SEDIMENT-INDUCED CORROSION. The reliability of the structures, systems and components (SSC) of the G.A. Siwabessy Multipurpose Research Reactor (RSG-GAS) should be maintained to keep the reactor operates safely. Chemical control and management of coolant is one factor which determines the SSC’s reliability. The debris sedimentation in the primary coolant system must be examined. Debris occurs in the reactor pool, originating from airborne dust from the engineering hall. Several elements contained by the sediment can induce corrosion. This research was conducted to identify the trace elements which were contained in the sediments and determine their concentrations. The objective was to anticipate the occurrence of galvanic and pitting corrosion due to the presence of elements which are more noble than aluminum. The measurement methodology is Neutron Activation Analysis (NAA). Two groups of samples were analyzed; the first group was sampled from the debris trapped in the mechanical filter after the resin column, or known as the resin trap, and second was sampled from the debris which adhered to the heat exchanger tube. The primary coolant debris analysis showed that the neutron-activated sediment contained Na-24, Na-25, Al-28, Mg-27, Cr-51, Mn-54, Mn-56, Co-58, Co-60, Ni-65, and Fe-59. The Mn, Cr, Co, Ni, and Fe are more noble than aluminum can induce galvanic corrosion while Na, Ba, Al, and Mg are not. The radionuclides contained by the result of neutron activation of sediment from the heat exchanger tube are Mn-56, Na-24, As-76, Br-82, Fe-59, Zn-65, Cr-51, La-140, and Sc-46 which are mostly carbon steel corrosion products. Those elements do not initiate galvanic corrosion. The prevention of galvanic corrosion can be done by periodic maintenance.Key Words : sediment, debris, corrosion, galvanic, pitting, RSG Gas  

Studi Radiolisis Air Ringan dan Pengukuran Laju Dosis Bahan Bakar Terhadap Jarak Sumber Radiasi Pada Kolam Penyimpanan Bahan Bakar Bekas (ISSF)

SIGMA EPSILON - Buletin Ilmiah Teknologi Keselamatan Reaktor Nuklir Vol 22, No 2 (2018): November 2018
Publisher : Badan Tenaga Nuklir Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.512 KB)

Abstract

Studi Literatur Radiolisis Air Ringan dan Pengukuran Laju Dosis Bahan Bakar Terhadap Jarak Sumber Radiasi  Pada Kolam Penyimpanan Bahan Bakar Bekas (ISSF). . Elemen bahan bakar bekas masih mengandung sejumlah uranium diperkaya dengan paparan radiasi yang sangat tinggi, sehingga digunakan air sebagai media penyimpanan bahan bakar bekas pada kolam ISSF agar paparan radiasi bahan bakar tidak keluar ke lingkungan.Paparan radiasi dalam air dapat menyebabkan adanya pembentukan oksidator yang dapat menyebabkan korosi pada material bahan ISSF. Laju dosis dapat terukur dalam suatu sumber radiasi terhadap besarnya penahan radiasi. Laju dosis ini digunakkan sebagai input parameter untuk reaksi radiolysis sehingga konsentrasi pembentukan oksidator dalam air dapat diprediksi. Hubungan antara laju dosis teradap jarak sumber radiasi (tebal penahan) menjadi penting untuk penerapan proteksi radiasi. Metode untuk mengukur laju dosis pada kolam ISSF dilakukan pada rak bahan bakar bekas serta uji cicip pada sebuah kelongsong bahan bakar bekas. Laju dosis diukur dengan detector radiagem dengan kabel yang terbungkus plastik. Data hasil percobaan didapatkan bahwa hubungan antara laju dosis radiasi terhadap sumber radiasi yaitu semakin besar jarak detektor terhadap sumber radiasi semakin kecil laju dosis yang terukur dan bersifat eksponensial.Kata Kunci : Kolam ISSF, radiasi, radiolysis air, laju dosis, detector