This Author published in this journals
All Journal Interaksi Online
Mujahidah Amirotun Nisa
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents
Articles

Found 1 Documents
Search

Resistensi terhadap Konstruksi Gender Dominan dalam Yaoi Fanfiction Naruto Royal Revenge

Interaksi Online Vol 3, No 10 (2015): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konstruksi gender dominan dalam masyarakat membagi peran gendertradisional antara laki-laki dan perempuan. Media massa mainstream seringkali merepresentasikan wanita sebagai pihak inferior dan menjadi objek tatapan dari laki-laki. Salah satu jenis media yang seringkali mengobjektivikasi wanita adalah manga atau komik yang berasal dari Jepang. Para penggemar wanita berusaha melawan konstruksi gender tersebut dengan menggunakan yaoi fanfiction yang tersebar di internet. Yaoi fanfiction yang mengomodifikasikan homoerotisme ini merupakan ekspresi wanita mengenai hubungan yang setara di antara dua individu.Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana bentuk resistensi terhadap konstruksi gender dominan yang dimunculkan dalam teks yaoi fanfiction Naruto Royal Revenge karya Fro Nekota, serta mengungkap gagasan residual konstruksi gender yang masih muncul di dalamnya. Teori yang digunakan adalah Teori Resistensi Hidden Transcript James C. Scott. Metode yang digunakan adalah analisis semiotik naratif A.J. Greimas yaitu dengan menganalisis struktur luar dan struktur dalam cerita untuk mendapatkan ideologi dominan yang terdapat di dalam teks.Hasil penelitian menunjukkan adanya bentuk-bentuk perlawanan yang berusaha dimunculkan dalam yaoi fanfiction. Resistensi ini muncul dalam aspek sosial, seksual, gender, institusi, ranah publik, dan komodifikasi homoerotis. Hubungan homoseksual yang dimunculkan di dalam yaoi fanfiction menjadi penyalur frustasi wanita terhadap konstruksi gender yang membatasi seksualitas wanita. Namun jika dicermati lebih kritis, resistensi yang berusaha ditampilkan tersebut justru balik menyerang wanita. Realitas baru yang berusaha ditampilkan justru melahirkan dominasi baru yang pada akhirnya tetap mengopresi salah satu pihak. Residu nilai-nilai heteroseksual masih muncul sebagai bagian dalam budaya dominan. Pada akhirnya, resistensi yang muncul dalam Royal Revenge adalah resistensi semu.