Articles

Found 27 Documents
Search

TEKNIK MENINGKATKAN KELARUTAN OBAT : REVIEW

Farmaka Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelarutan merupakan salah satu parameter penting untuk mencapai konsentrasi terapetik obat dalam sirkulasi sistemik , sehingga menghasilkan respon farmakologis yang diinginkan. Obat dengan kelarutan rendah adalah masalah utama yang dihadapi dalam pengembangan formulasi obat baru. Lebih dari 40% senyawa baru yang dikembangkan di industri farmasi memiliki kelarutan yang buruk dalam air, padahal untuk dapat terabsorpsi obat harus dapat melarut terlebih dahulu. Artikel ini berisi ulasan mengenai berbagai teknik yang digunakan untuk meningkatkan kelarutan obat melalui modifikasi obat secara fisik dan kimia seperti pengurangan ukuran partikel, kristalisasi, pembentukan garam, dispersi padat, nanosuspensi, dan kriogenik

Menghindari Kosmetika Palsu Secara Organoleptik

-
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.81 KB)

Abstract

Setiap hari manusia dipastikan menggunakan kosmetika, dimulai dari mandi pagi sampai saat akan tidur di malam hari. Macam kosmetika pun semakin beragam. Kosmetika selalu digunakan hampir setiap hari, sehingga perlu pemahaman mengenai bahaya dari penggunaan kosmetika yang tidak baik. Setiap kosmetika yang dibuat dan/atau diedarkan wajib memenuhi persyaratan keamanan, manfaat, mutu, penandaan, dan klaim; dan dinotifikasi kepada Kepala BPOM, dan wajib dilakukan penarikan dari peredaran bila tidak memenuhi persyaratan. Oleh karenanya, dalam mini review artikel ini akan dijelaskan bagaimana cara menghindari kosmetika palsu secara organoleptik. Kata kunci: kosmetika palsu, organoleptik 

REVIEW : NANOPARTIKEL KURKUMIN SOLUSI MASALAH KANKER DAN ANTIBAKTERI

Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kurkumin atau diferuloylmethane merupakan senyawa utama fitopolifenol berwarna kuning yang berasal dari keluarga Zingirberaceae yaitu rimpang kunyit (Curcuma longa). Menurut hasil beberapa penelitian, kurkumin mempunyai aktivitas farmakologi sebagai antikanker, anti-inflamasi, antioksi dan antibakteri. Kanker merupakan salah satu penyakit penyebab kematian tertinggi, khusunya pada Negara berkembang seperti Indonesia , sedangkan pada saat ini hampir 75 % kematian akibat infeksi luka bakar disebabkan oleh methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) dan Pseudomonas aeruginosa. Adanya resistensi bakteri serta besarnya efek samping darikemoterapipada kanker  mendorong para peneliti dalam pengembangan obat baru yang berasal dari tanaman salah satunya kunyit. Bioavailabilitas oral yang rendah, kelarutan yang rendah serta mudahnya terdegradasi sehingga mempersulit dalam aplikasi klinisnya. Untuk meningkatkan kerja dari kurkumin dalam bentuk sediaan maka saat ini telah banyak dikembangkan kurkumin dalam bentuk nanopartikel. Nanopartikel kurkumin sebagai antibakteri dapat terbuat dalam bentuk film atau memberan maupaun hydrogel, sedangkan untuk terapi kanker nanopartikel biasanya terbentuk dalam bentk polimer sebagai penghantar obat. Efek antibakteri pada nanopartikel kurkumin mempunyai aktivitas yang lebih baik dibandingkan dengan yang dalam bentuk biasa. Selain itu, kurkumin dalam bentuk nanopartikel bila dikombinasikan dengan obat standar hasil penghambatan pertumbuhan sel lebih maksimal.

PEMBERIAN PEMAHAMAN MENGENAI PENGGUNAAN OBAT ANALGESIK SECARA RASIONAL PADA MASYARAKAT DI ARJASARI KABUPATEN BANDUNG

Dharmakarya Vol 6, No 3 (2017): September
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.769 KB)

Abstract

Pemerintah telah menetapkan kebijaksanaan dalam upaya pelayanan kesehatan yaitu Primary Health Care (PHC) sebagai suatu strategi untuk mencapai Indonesia sehat pada tahun 2020. Peran serta dan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan kebijakan PHC adalah dengan menjaga kesehatan dan berpelilaku hidup sehat. Pemerintah Provinsi Jawa barat sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah mendukung dan menunjang program PHC ini dengan berusaha meningkatkan indeks pembangunan manusia Jawa barat. Pendidikan kesehatan merupakan bagian dari seluruh upaya kesehatan, yang menitikberatkan pada upaya untuk meningkatkan perilaku sehat dan peningkatan kemampuan masyarakat dalam penanganan penyakit sederhana dengan memanfaatkan obat yang sederhana bahkan menggunakan bahan dari alam. Pengetahuan mengenai obat-obatan sangatlah bermanfaat besar, karena obat selain bisa sebagai penyembuh dari sakit juga bisa berpotensi untuk mendatangkan malapetaka. Banyak kasus penyalahgunaan obat analgetik yang terjadi di masyarakat, contohnya methadone yang termasuk dalam golongan obat analgetik. Selain itu, obat analgetik golongan narkotik seperti opium dan morfin juga sering digunakan bukan untuk tujuan pengobatan, padahal obat-obat tersebut dapat mengakibatkan ketergantungan. Oleh karena itu, perlu dilakukan program untuk meningkatkan pemahaman dan  pengetahuan masyarakat akan penggunaan obat analgesik yang benar dan rasional.Kata kunci: analgesik, methadone, opium, morfin

LONG-CIRCULATING NANOPARTIKEL MENGGUNAKAN POLIMER PLGA (Poly-Lactic-co-Glicolyc Acid) DAN POLOXAMER

Farmaka Vol 15, No 1 (2017): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nanopartikel yang memiliki kemampuan bersirkulasi lama dalam aliran darah merupakan hal yang penting untuk meningkatkan interaksi nanopartikel dengan sel yang terinfeksi. nanopartikel berbasis polimer PLGA sering digunakan sebagai karier yang efektif untuk penghantaran obat ke dalam sel.  Nanopartikel PLGA mudah dikenali oleh sistem imun tubuh dan kemudian dieliminasi dari sistem sirkulasi. Hal ini disebabkan oleh nanopartikel PLGA bersifat hidrofob sehingga dapat terjadi opsonisasi dan nanopartikel dieliminasi oleh makrofag (reticuloendothelial system/RES). Modifikasi permukaan nanopartikel PLGA dengan polimer hidrofilik seperti poloxamer dilakukan untuk mencegah opsonisasi sehingga nanopartikel dapat bersirkulasi lama.Kata kunci: Nanopartikel, PLGA, poloxamer

POTENSI PATI ASAL TANAMAN WALUH (Sechium edule ) SEBAGAI ALTERNATIF EKSIPIEN FARMASI

Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pati merupakan salah satu bahan yang banyak manfaatnya, termasuk pada bidang farmasi khususnya sebagai eksipien farmasi dalam formulasi sediaan farmasi. Salah satu sumber pati yaitu dari tanaman waluh pada bagian umbinya dengan kadar pati yang tinggi hingga 136 g/kg berat umbi segar. Karakteristik pati waluh pun dapat dikatakan sebanding dengan pati kentang sehingga diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu sumber pati yang dapat dimanfaatkan sebagai eksipien farmasi.

Pengembangan Formula Nano-fitosom Serbuk Liofilisasi Seduhan Teh Hitam (Camellia sinensis L. Kuntze)

Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.435 KB)

Abstract

Nano-fitosom merupakan suatu teknologi nano yang digunakan untuk meningkatkan bioavailabilitas bahan aktif yang terkandung dalam tanaman dengan cara mengikat bahan aktif dengan fosfolipid yang memiliki sifat mirip dengan membran sel. Nano-fitosom dibuat dengan mencampurkan fitokonstituen dan fosfatidilkolin dalam perbandingan molar tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan formula nano-fitosom serbuk liofilisasi seduhan teh hitam (Camellia sinensis L. Kuntze). Nano-fitosom diformulasikan dengan membuat tiga variasi perbandingan katekin:fosfatidilkolin:kolesterol mulai dari 1:1:0,2 (F1), 1:2:0,2 (F2), dan 1:3:0,2 (F3) dengan menggunakan metode refluks. Evaluasi nano-fitosom meliputi ukuran partikel, indeks polidispersitas, dan efisiensi penjerapan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa ukuran partikel nano-fitosom sekitar 52,1-101,9 nm dengan nilai indeks polidispersitas 0,309-0,404. Efisiensi penjerapan berkisar antara 6,7266%-11,4317%. Formula nano-fitosom dengan efisiensi penjerapan yang paling baik yaitu F3 dengan perbandingan molar katekin:fosfatidilkolin:kolesterol 1:3:0,2 dengan ukuran partikel sebesar 52,1±12,5 nm, indeks polidispersitas 0,320 dan efisiensi penjerapan 11,4317±0,3153%. Analisis data menggunakan One-Way Anova menunjukkan bahwa terdapat pengaruh konsentrasi fosfatidilkolin terhadap efisiensi penjerapan secara signifikan (p < 0,05).Kata kunci: nano-fitosom, fosfatidilkolin, serbuk liofilisasi, teh hitam (Camellia sinensis)

Potensi Polimer Poly-Lactic-co-Glicolyc Acid untuk Terapi Kanker dan Perkembangan Uji Kliniknya

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1046.582 KB)

Abstract

Penyakit kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama di seluruh dunia. Pada tahun 2012, kanker menjadi penyebab kematian sekitar 8,2 juta orang. Poly-Lactic-co-Glicolyc Acid (PLGA) merupakan salah satu polimer yang mampu terurai secara biologis (biodegradable) yang sering digunakan sebagai nanokarier yang efektif untuk penghantaran obat ke dalam sel. PLGA bersifat biodegradable karena diuraikan menjadi senyawa endogen yaitu asam laktat dan asam glikolat dan mudah dimetabolisme oleh tubuh melalui siklus Krebs sehingga memiliki sifat toksisitas sistemik yang rendah serta telah disetujui Food and Drug Administration (FDA) untuk terapi pada manusia. Banyak obat antikanker yang dienkapsulasi menggunakan PLGA dan telah dilakukan uji in vitro, in vivo dan uji klinik. Artikel review ini bertujuan untuk mengetahui potensi PLGA untuk terapi kanker dan perkembangan uji kliniknya saat ini. Metode penulisan artikel review ini dilakukan melalui penelusuran pustaka. Hasil review dari 38 artikel menunjukkan bahwa polimer PLGA sangat berpotensi dalam penghantaran obat antikanker baik secara pasif maupun aktif. Beberapa produk sedang berada dalam tahap uji in vitro, in vivo dan klinik. Namun, produk yang telah beredar di pasaran menunjukkan bahwa PLGA terbukti berpotensi dan aman sebagai polimer untuk menghantarkan obat ke sel kanker prostat.Kata kunci: PLGA, uji klinik, polimer, biodegradable, kanker Biodegradable Polymer Potential of Poly-Lactic-co-Glicolyc Acid for Cancer Therapy and Its Clinical TrialCancer is one of the leading causes of death worldwide. In 2012, cancer causes death of about 8.2 million people. Poly-Lactic-co-Glicolyc Acid (PLGA) is one of the biodegradable polymers that is often used as an effective nanocarrier for drug delivery into cells. PLGA is biodegradable because it is decomposed into endogenous compounds namely lactic acid and glycolic acid and easily metabolized by the body through the Krebs cycle, so it has low systemic toxicity properties and has been approved by Food and Drug Administration (FDA) for human therapy. Many anticancer drugs are encapsulated using PLGA and have been tested in vitro, in vivo and clinical trial. This review article aimed to determine the potential of PLGA for cancer therapy and the development of current clinical trials. Data in this review article is obtained from library search. The review result of 38 articles indicate that the PLGA polymer is highly potential in delivering anticancer drugs either passively or actively. Some products are undergoing in vitro test, in vivo test, and clinical trials. However, marketed products show that PLGA is proven to be potential and safe as a polymer to deliver drugs into prostate cancer cells.Keywords: PLGA, clinical study, polymer, biodegradable, cancer

APLICATION TECHNOLOGY NANOPARTICLES ON COSMETIC PREPARATION

Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of nanoparticle technology increasingly rapid makes the application of these nanoparticles become more prevalent in the pharmaceutical industry especially cosmetic preparations Cosmetic is applied to the human body to cleanse, beautify or improve the attractiveness or the persons appearance. Nanoparticles are used for cosmetics various kinds such as Solid Lipid Nanoparticles (SLN, Nanostructured Lipid Carriers (NLS), nanoparticles of titanium oxide (TiO2) and zinc oxide (ZnO), silver nanoparticles, crystal nanoparticles, gold nanoparticles, and so on. Indications are given also an assortment that is as an antioxidant, antiaging, antiacne, to protect the skin from UV rays and improve penetration of the skin. Application of nanoparticles in cosmetic preparations intended to release cosmetic active ingredients is more targeted due to the small particle size and to reduce side effects.

Analisis Overall Equipment Effectiveness (OEE) pada Proses Pengemasan Primer di Industri Farmasi

Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengemasan primer merupakan salah satu cara yang digunakan untuk melindungi obat dari lingkungan sekitarnya sehingga kualitas dari obat dapat tetap terjaga hingga nanti sampai ke konsumen. Produktivitas suatu proses pengemasan primer dapat ditingkatkan/dipertahankan dengan melakukan evaluasi rutin terhadap prosesnya. Evaluasi yang dilakukan adalah dengan analisis OEE (Overall Equipment Effectiveness). OEE (Overall Equipment Effectiveness) merupakan suatu metode perhitungan yang digunakan untuk mengetahui efektivitas suatu proses yang sedang dilaksanakan dengan mengidentifikasi persentase waktu produksi yang benar-benar produktif yang dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu availability, performance, dan quality. Penelitian dilakukan dengan mengamati proses pengemasan pada mesin pengemasan primer I serta mengumpulkan data-data yang diperlukan seperti time loss setiap harinya, hasil kemasan yang diperoleh dalam satu hari, hasil kemasan satu batch, dan data pendukung lainnya. Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh nilai OEE pada mesin I sebesar 76,676% dengan penyebab losses utama yaitu set up/adjustment mesin.