Articles

Found 23 Documents
Search

Analisis Anomali Ketinggian Semu Lapisan F Ionosfer (hF) sebagai Prekursor Terjadinya Gempa Laut (Studi Kasus terhadap 2 Sampel Gempa Laut di Sumatera Barat)

Jurnal Fisika Unand Vol 2, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1152.179 KB)

Abstract

Telah dilakukan analisis kualitatif untuk korelasi antara aktivitas seismik sebelum gempa besar (M ≥ 5 SR) dengan ketinggian semu lapisan F ionosfer (h’F) untuk 2 sampel gempa laut di Sumatera Barat.  Sampel gempa laut yang dipilih adalah gempa Pariaman (30 September 2009) dan  gempa Pesisir Selatan (07 Februari 2013).  Data ionosfer yang digunakan adalah ionogram yang diperoleh dari ionosonda Frequency Modulation Continous Wave (FMCW) di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Palupuh, Sumatera Barat.  Proses scaling ionogram untuk kedua gempa selama 7 hari sebelum gempa dilakukan dan diproses lebih lanjut untuk mendapatkan nilai variasi harian h’F.  Nilai variasi harian h’F kemudian dibandingkan dengan nilai mediannya untuk melihat anomali yang muncul.  Berdasarkan pada analisis yang dilakukan, ditemukan bahwa untuk kedua sampel gempa, prekursor mulai muncul pada saat 7 hari sebelum gempa.  Total munculnya prekursor untuk gempa Pariaman sebanyak 7 kali dan untuk gempa Pesisir Selatan sebanyak 2 kali.  Perbedaan tersebut kemungkinan disebabkan oleh perbedaan karakteristik dari kedua gempa.

ESTIMASI NILAI PERCEPATAN TANAH MAKSIMUM DI SUMATERA BARAT BERDASARKAN SKENARIO GEMPA BUMI DI WILAYAH SIBERUT DENGAN MENGGUNAKAN RUMUSAN SI AND MIDORIKAWA (1999)

Jurnal Fisika Unand Vol 4, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1518.537 KB)

Abstract

ABSTRAKTelah dilakukan estimasi nilai percepatan tanah maksimum di Sumatera Barat berdasarkan skenario gempa bumi di wilayah Siberut. Rumusan empiris Si and Midorikawa (1999) digunakan untuk mencari nilai percepatan tanah maksimum dan rumusan empiris Murphy O’Brein untuk mencari nilai intensitas. Skenario gempa bumi dibuat dengan variasi magnitudo yaitu 8,0 Mw, 8,5 Mw, dan 8,9 Mw, variasi kedalaman hiposenter di 50 km (zona sesar Mentawai), 20 km (zona subduksi kerak), dan 70 km (zona subduksi inter-plate). Nilai percepatan tanah maksimum untuk tiap kabupaten/kota di Sumatera Barat dihitung dengan menggunakan posisi kabupaten/kota sebagai titik acuan. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai percepatan tanah maksimum dan intensitas terbesar untuk semua skenario berada di pulau Siberut. Wilayah yang paling rentan terhadap kejadian gempa bumi baik di zona sesar Mentawai maupun di zona subduksi adalah Pulau Siberut dan diikuti dengan Kota Pariaman, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam, dan Kota Padang. Sebagian wilayah yang berada di Kota Padang Panjang dan Kota Bukittinggi juga rentan terhadap kejadian gempa bumi.Kata kunci : gempa bumi, percepatan tanah maksimum, intensitas, Kepulauan MentawaiAbstractAn estimation of peak ground acceleration values estimated in West Sumatra based on earthquake scenario in the Siberut area has been performed. Si and Midorikawa (1999) empirical formula was used to estimate peak ground acceleration value and Murphy OBrein empirical formula was used to calculate the intensity value. Scenarios of earthquake were made with various magnitude i.e 8,0 Mw, 8,5 Mw and 8,9 Mw, various hypocenter depth 50 km (Mentawai fault zone), 20 km (subduction crust zone), and 70 km (subduction inter-plate zone). Peak ground acceleration value of each district/city in West Sumatra were calculated using the position of district/city as a reference point. The result of analysis shows that the Siberut island has the highest peak ground acceleration of value and intensity value for all scenarios. The most susceptible area to the earthquake event both in the Mentawai fault zone as well as in the subduction zone is Siberut Island and followed by Pariaman City, Padang Pariaman District, Agam District, and Padang City. Some areas in Padang Panjang City and Bukittinggi City are also suceptible to earthquake event.Keywords: earthquake, peak ground acceleration, intensity, Mentawai island

ANALISIS PERBANDINGAN ANOMALI FREKUENSI KRITIS LAPISAN ES DAN F2 IONOSFIR YANG MERUPAKAN PREKURSOR GEMPA ACEH PADA TANGGAL 07 APRIL 2010

Jurnal Fisika Unand Vol 4, No 3: Juli 2015
Publisher : Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1399.97 KB)

Abstract

ABSTRAKTelah dilakukan analisis kualitatif untuk melihat perbandingan anomali frekuensi kritis lapisan Es dan F2 ionosfir saat terjadinya gempa Aceh pada tanggal 07 April 2010.Data ionosfir yang digunakan berasal dari hasil rekaman ionosonda FMCW, LAPAN Kototabang, Sumatera Barat berupa ionogram pada tanggal 24 Maret – 14 April 2010. Proses scaling ionogram dilakukan terlebih dahulu untuk mendapatkan nilai harian fo pada masing-masing lapisan.  Dari hasil scaling didapatkan nilai median untuk menentukan nilai batas atas dan batas bawah.  Prekursor akan terlihat apabila nilai median melebihi batas atas atau batas bawah.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa prekursor mulai muncul pada 14 hari sebelum gempa pada lapisan foF2. Total kemunculan prekursor pada lapisan foEs adalah 4 kali dan pada lapisan foF2 sebanyak 8 kali. Dari analisis yang telah dilakukan, terdapat ketidaksamaan respon yang terjadi pada masing-masing lapisan ionosfir. Penyebab terjadinya ketidaksamaan respon diduga karena jarak masing-masing lapisan ionosfir terhadap matahari berbeda sehingga radioaktifitas yang dihasilkan juga berbeda.Kata kunci : frekuensi kritis, ionosfir, prekursor gempa.AbstractA qualitative analysis has been conducted to compare the anomaly of critical frequency of Es and F2 layer of ionospheric during Aceh earthquake on April 7th, 2010. The records of ionosonda FMCW of LAPAN Kototabang West Sumatra was used as ionospheric data in ionogram form. The scalling process of ionogram was done in advance to get the daily point of fo for each layer.  From scaling founded median to determine up boundary and down boundary. When the median bigger than up boundary or down boundary, precursor will be seen. Resault show that the precursor firstly appear at 14 days before the earthquake on layer foF2. Total appearence of precursor on layer foEs is 4 times and on layer foF2 is 8 times. Based on the analysis, it was found that inequality response was happened in each layer of ionosphere. Expectedly, the cause of inequality response was happened because of the distance differences for each ionosphere layer to the sun so resulted different radioactivity.Keywords: critical frequency, ionosphere, earthquake precursors.

TINJAUAN KEADAAN METEOROLOGI PADA BANJIR BANDANG KOTA PADANG TANGGAL 24 JULI 2012

Jurnal Fisika Unand Vol 4, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1237.276 KB)

Abstract

ABSTRAKKeadaan meteorologi selama banjir bandang di Kota Padang tanggal 24 Juli 2012telah dianalisa. Analisa berdasarkan kepada data curah hujan yang diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Sicincin (BMKG), Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Sumatera Barat, satelit Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM), pergerakan awan dari Multi-functional Transport Satellite (MTSAT) dan data meteorologi dari National Centers for Environmental Prediction (NCEP) danNational Center for Atmospheric Research (NCAR). Penelitian ini memperlihatkan bahwa banjir bandang yang terjadi di Padang pada tanggal 24 Juli 2015 tidak disebabkan oleh curah hujan yang tinggi. Hujan yang terjadi hanya berkisar 13 mm/hari. Hujan ini tidak disebabkan oleh faktor global seperti Madden–Julian oscillation (MJO), El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan monsun. Dengan demikian, hujan ini kemungkinan disebabkan oleh sirkulasi lokal (land-sea breeze). Sebelum terjadinya banjir bandang kemungkinan telah terbentuk bendungan alami di sekitar bukit pada kawasan banjir bandang. Dengan sedikit saja tambahan air, bendungan ini menjadi longsor yang menyebabkan banjir bandang.Kata kunci : banjir bandang Padang,land-sea breeze, Madden–Julian oscillationAbstractMeteorological condition during the Padang flash flood occurred on July 24, 2012 has been analyzed. The analysis was based on the rainfall data from Indonesian Agency for Meteorological, Climatological and Geophysics, West Sumatra Agency for Water Management, Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM) satellite, cloud propagation from Multi-functional Transport Satellite (MTSAT) and meteorology data from the National Centers for Environmental Prediction (NCEP) and National Center for Atmospheric Research (NCAR) reanalysis. It was found that the flash flood was not due to the heavy rain. The rainfall intensity during theflash flood was only about 13 mm/h. This rain was not from the global phenomena such as Madden–Julian oscillation (MJO), El Niño Southern oscillation (ENSO) and monsoon. It may be formed by the local phemomenon such as land-sea breeze. A natural dam may have been created before the flash flood and it would be easily broken when the light rain occurred.Keywords :Padang flash flood, land-sea breeze, Madden–Julian oscillation

ANALISIS PENYEBARAN SANDSTONES DAN FLUIDA HIDROKARBON MENGGUNAKAN INVERSI EXTENDED ELASTIC IMPEDANCE (EEI) PADA LAPISAN “H” FORMASI CIBULAKAN DI LAPANGAN “X”, CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA

Jurnal Fisika Unand Vol 4, No 3: Juli 2015
Publisher : Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.934 KB)

Abstract

ABSTRAKTelah dilakukan penelitian menggunakan inversi Extended Elastis Impedance (EEI) untuk melihat parameter yang dapat memisahkan sandstones dan fluida hidrokarbon, serta bagaimana penyebarannya. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa parameter yang sensitif untuk penyebaran sandstones adalah gamma ray, sedangkan parameter yang sensitif untuk penyebaran fluida hidrokarbon adalah lambdharho. Dari hasil crossplot diperoleh koefisien korelasi tertinggi untuk gamma ray adalah 0,772 yang ekuivalen dengan sudut EEI 60. Koefisien korelasi tertinggi untuk dengan nilai 0,934  diperoleh dari sudut EEI 22 yang ekuivalen dengan lambdharho. Hasil inversi EEI dengan sudut 60 diketahui bahwa penyebaran sandstones banyak terdapat pada bagian barat daya dari sumur penelitian. Sedangkan penyebaran fluida hidrokarbon banyak terdapat pada bagian selatan sumur penelitian yang diperoleh dari hasil inversi sudut EEI 22. Kata kunci : Extended Elastis Impedance (EEI), gamma ray, Lambdharho, sandstones, fluida  hidrokarbonAbstractResearch has been done using the Extended Elastic Impedance (EEI) inversion to view the parameters that could separate sandstones and fluid hydrocarbons, as well how it spreads. The sensitivity analysis shows that the sensitive parameters to the spread of sandstones are gamma ray, while a sensitive parameter for the spread of  hydrocarbon fluid is lambdharho. From the results obtained crossplot highest correlation coefficient for gamma ray is 0.772 which is equivalent to the angle EEI 60. The highest correlation coefficient with a value of 0.934 obtained from EEI corner 22 which is equivalent to lambdharho. EEI inversion results with an angle of 60 known that the spread sandstones numerous in the southwestern part of the research wells. While the spread of many hydrocarbon fluid contained in the southern part of the research wells obtained from the inversion angle EEI 22.Keywords: Extended Elastic Impedance (EEI), gamma ray, Lambdharho, sandstones, hydrocarbon fluid

KARAKTERISASI RESERVOIR BATUPASIR FORMASI KEUTAPANG MENGGUNAKAN ANALISIS AVO (AMPLITUDE VERSUS OFFSET) PADA STRUKTUR “X” SUMATERA BAGIAN UTARA

Jurnal Fisika Unand Vol 3, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1930.497 KB)

Abstract

ABSTRAKTelah dilakukan karakterisasi reservoir batupasir formasi Keutapang melalui analisis AVO (Amplitude Versus Offset) dengan software Hampson-Russel (HRS) pada struktur “X” Sumatera Bagian Utara. Reservoir batupasir dikarakterisasi menggunakan AVO Product, Scaled Poisson’s Ratio Change, Shear Reflectivity, dan Fluid Factor. Disamping itu dilakukan pembagian AVO berdasarkan analisis hasil crossplot. Analisis AVO dari hasil crossplot diperoleh dari hasil atribut AVO intercept dan gradient. Hasil menunjukkan bahwa reservoir formasi Keutapang yang berada pada zona 1275 di kedalaman 1250 meter mengindikasikan adanya kandungan gas. Dari hasil analisis didapatkan bahwa reservoir batupasir memiliki impedansi yang rendah seiring peningkatan AVO yang merupakan sifat dari AVO kelas III.Kata kunci: karakterisasi reservoir batupasir, Hampson-Russel, analisis AVO,  intercept, gradient, AVO kelas IIIAbstractReservoir of structure “X” of Keutapang formations in the northern part of Sumatera by AVO (Amplitude Versus Offset) analysis has been conducted. The data were processed by Hampson-Russel (HRS) software. The characterisation was based on AVO Product analysis, Scaled Poisson’s Ratio Change, Shear Reflectivity and the concept of AVO classification based on crossplot analysis. It was found that reservoir zone 1275 located at 1250 meters in depth of Keutapang formation has low impedance sandstone reservoir (AVO class III), which indicates the presence of gas deposits. Keywords : characterization sandstone reservoir, Hampson-Russel, AVO  analysis, gradient, intercept, AVO class III

ANALISIS VARIABILITAS TEMPERATUR UDARA DI DAERAH KOTOTABANG PERIODE 2003 – 2012

Jurnal Fisika Unand Vol 4, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1368.391 KB)

Abstract

ABSTRAKTelah dilakukan penelitian tentang analisis variabilitas temperatur udara selama periode 2003-2012 di daerah Kototabang. Temperatur udara diukur dengan optical rain gauge (ORG) dengan sampling data temperatur setiap satu menit. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai batas atas tertinggi yaitu 32,2 °C dan nilai batas bawah terendah yaitu 19,0 °C. Pola rata-rata temperatur di Kototabang mulai mengalami kenaikan pada pukul 07:00–08:00 WIB dan mengalami puncaknya pada pukul 12:00–13:00 WIB. Dari pukul 13:00-14:00 temperatur mengalami penurunan hingga pada pukul 19:00–20:00 WIB dan temperatur mulai stabil hingga pukul 23:00-24:00 WIB. Nilai rata-rata temperatur harian tertinggi di Kototabang terjadi pada tanggal 11 Juni 2010 yaitu sebesar 25,4 °C dan nilai rata-rata temperatur terendah terjadi pada tanggal 3 September 2007 yaitu sebesar 18,8 °C. Temperatur bulanan tertinggi terjadi pada bulan Mei yaitu 23 °C dan terendah terjadi pada bulan Desember yaitu 22 °C. Rata-rata temperatur bulanan tertinggi terjadi pada saat curah hujan bulanan terendah dan begitu pula sebaliknya. Temperatur tahunan tertinggi terjadi pada tahun 2003 yaitu 22,4 °C dan yang terendah terjadi pada tahun 2008 yaitu 21,9 °C. Secara umum kenaikan dan penurunan temperatur masih berada dalam range batas atas dan batas bawah kecuali untuk rata-rata temperatur harian terendah. Faktor lokal masih mendominasi pola temperatur di Kototabang dan tidak adanya kecendrungan kenaikan temperatur di Kototabang akibat faktor global.Kata kunci : Variabilitas, temperatur udara, KototabangAbstractThe research about variability analysis of air temperature for 2003-2012 in Kototabang area has been conducted.  Air temperature were measured using optical rain gauge (ORG) with temperature data sampling was every minute. Results show that the value of upper limit was 32.2 °C and the value of lower limit was 19.0 °C. The average daily temperature in Kototabang start to increased at 07:00-08:00 and the reached the highest value at 12:00-13:00. The temperature decreased from 13:00-14:00 until 19:00-20:00 and start to stabile at 23:00-24:00. The highest of average daily temperature occurred at June 11, 2010 that was 25.4 °C. The lowest average daily temperature occurred at September 3, 2007. Its value was 18.8 °C. The highest monthly temperature was 23 °C in May and the lowest temperature was 22 °C in December.  The highest monthly temperature occurred when the rainfall was the lowest and the lowest temperature occurred when the rainfall was the highest. The highest annual temperature was 22.4 °C in 2003 and the lower annual temperature was 21.9 °C in 2008. In general, the increasing and decreasing of temperature was still in upper and lower limit, axcept for the lower average daily temperature.  Local factor was still predominate the temperature pattern in Kototabang and there was no increasing temperature trend that caused by global factor in Kototabang.Keywords : Variability, air temperature, Kototabang

ANALISIS PENGARUH INTENSITAS RADIASI MATAHARI, TEMPERATUR, DAN KELEMBABAN UDARA, TERHADAP FLUKTUASI KONSENTRASI OZON PERMUKAAN Di Bukit Kototabang Tahun 2005-2010

Jurnal Fisika Unand Vol 3, No 3: Juli 2014
Publisher : Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1224.713 KB)

Abstract

ABSTRAKTelah dilakukan analisis pengaruh intensitas radiasi matahari, temperatur, dan kelembaban udara terhadap fluktuasi konsentrasi ozon permukaan di Bukit Kototabang tahun 2005-2010 dengan metode regresi linier.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa fluktuasi konsentrasi ozon rata-rata harian mengikuti pola rata-rata harian intensitas radiasi matahari, dan berbanding terbalik dengan kelembaban udara. Faktor meteorologi yang paling besar hubungannya dengan konsentrasi ozon berdasarkan analisis nilai regresi yaitu temperatur permukaan, dengan nilai koefisien determinasi R2=26,0 pada tahun 2010.Kata kunci : ozon permukaan, regresi linier, faktor meteorologiAbstractAnalysis effect of the intensity of solar radiation, temperature, and air humidity, tofluctuations in surface ozone concentrations in Bukit Kototabang with linear regression method from 2005 to 2010 has been conducted. The results showed that the fluctuations in ozone concentration daily average follows the pattern of average daily solar radiation intensity, and inversely proportional to the air humidity. The meteorological factors which have greatest correlation with the ozone concentration values based on regression analysis is surface temperature, with a coefficient of determination R2 = 26.0 in 2010. Keywords : surface ozone, linear regression , meteorological factors

ANALISIS PENYEBARAN IMPEDANSI AKUSTIK DAN POROSITAS PADA RESERVOAR BATUGAMPING FORMASI CIBULAKAN LAPANGAN “S” MENGGUNAKAN METODE INVERSI IMPEDANSI AKUSTIK

Jurnal Fisika Unand Vol 4, No 3: Juli 2015
Publisher : Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.382 KB)

Abstract

ABSTRAKTelah dilakukan penelitian tentang analisis penyebaran impedansi akustik dan porositas pada reservoar batugamping formasi Cibulakan Lapangan “S” menggunakan metode inversi impedansi akustik. Metode inversi impedansi akustik yang digunakan adalah metode sparse spike yaitu metode yang mengutamakan spike-spike yang besar. Hasil inversi menunjukkan nilai impedansi akustik pada sumur HR-01 sebesar 8400-9000 g/m2s dan nilai porositas sebesar 0,208-0,210 sedangkan pada sumur HR-04 memiliki nilai impedansi akustik sebesar 7500-8000 g/m2s dan nilai porositas sebesar 0,224-0,226.  Menurut peta penyebaran IA semakin ke selatan hidrokarbon semakin meningkat. Sedangkan dari  peta penyebaran porositas diketahui, semakin ke selatan  nilai porositas semakin menurun. Kata kunci :  litologi, porositas, metode sparse spike, formasi Cibulakan.AbstractA research about analysis of spreading of acoustic impedance and porosity in limestones reservoir at field “S” of Cibulakan Formation using acoustic impedance inversion has been conducted.. The research used the sparse spike method which only considers the dominant spike. Result of inversion shows that HR-01 well has acoustic impedance 8400-9000 g/m2s and porosity 0,208-0,210 and HR-04 well has acoustic impedance 7500-8000 g/m2s and porosity 0,224-0,226. According to the acoustic impedance spreading map, further to the south  hydrocarbon is  increased. According to the map of porosity, further to the south is decreased. Keywords : lithology, porosity, sparse spike method, Cibulakan formation.

ANALISIS KARAKTERISTIK FREKUENSI KRITIS (foF2), KETINGGIAN SEMU (h’F) DAN SPREAD F LAPISAN IONOSFER PADA KEJADIAN GEMPA PARIAMAN 30 SEPTEMBER 2009

SEMIRATA 2015 Prosiding Bidang Fisika
Publisher : SEMIRATA 2015

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (855.548 KB)

Abstract

Telah dilakukan analisis kualitatif untuk melihat korelasi antara aktivitas seismik sebelum gempa Pariaman (30 September 2009) dengan kondisi lapisan F ionosfer.  Korelasi dilakukan dengan membandingkan anomali frekuensi kritis lapisan  F ionosfer (foF2), anomali ketinggian semu lapisan F ionosfer (h’F) dan kejadian Spread F.   Data ionosfer yang digunakan adalah ionogram yang diperoleh dari ionosonda FMCW di LAPAN, Palupuh, Sumatera Barat, Indonesia.  Proses scalling ionogram  dilakukan terlebih dahulu untuk mendapatkan nilai harian harian foF2, h’F  dan melihat ada atau tidaknya kemunculan Spread F sebelum terjadinya gempa Pariaman. Nilai harian foF2 dan h’F yang didapatkan kemudian dibandingkan dengan median bulanannya untuk  melihat anomali yang muncul. Sebagai data pembanding digunakan data geomagnetik (indeks Dst) yang diberikan oleh WDC Kyoto University dan data X-Ray Solar Flare selama periode pengamatan tersebut. Dari hasil  analisis terlihat adanya anomali foF2 pada tanggal 23, 25, 27 dan 30 September 2009, anomali h’F pada tanggal 23, 25, 26, 27, 28 dan 29  September 2009 dan Spread F terlihat pada tanggal  24, 25 dan 29 September 2009. Adanya anomali foF2, h’F dan Spread F pada kurun waktu tersebut diprediksi merupakan prekursor gempa pariaman 2009 karena pada periode tersebut aktivitas geomagnetik  dan mataharinya dalam kondisi normal. Katakunci: ionosfer, foF2, h’F, Spread F, prekursor.