Articles

Found 15 Documents
Search

Karakterisasi Sifat Listrik PANi:Zeolit Faujasit Na-X dari Limbah Bottom Ash

Jurnal Fisika Unand Vol 2, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.94 KB)

Abstract

Telah dilakukan uji konduktivitas zeolit:PANi. Zeolit yang digunakan berjenis faujasit Na-X yang didapat dari sintesis limbah bottom ash. PANi disintesis dalam bentuk emeraldine salt ditumbuhkan pada zeolit dengan variasi massa (20%:80%, 30%:70%, 50%:50%, 70%:30%, 80%:20% dan 100%). Data XRD menunjukan telah terjadinya penumbuhan PANi pada zeolit yang terlihat dari hilangnya beberapa puncak zeolit setelah proses penumbuhan. Uji konduktivitas menunjukan bahwa rentang nilai konduktivitas zeolit:PANi dengan variasi massa berkisar antara 0,998 x10-4 S/cm hingga 102,794x10-4S/cm dengan nilai maksimum pada variasi massa zeolit:PANi 30% : 70%.

PENGARUH TEMPERATUR HIDROTERMAL TERHADAP KONDUKTIVITAS LISTRIK ZEOLIT SINTETIS DARI ABU DASAR BATUBARA DENGAN METODE ALKALI HIDROTERMAL

Jurnal Fisika Unand Vol 4, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.173 KB)

Abstract

ABSTRAKTelah dilakukan sintesis zeolit berbahan abu dasar batubara dan NaOH sebagai aktivator dengan perbandingan 1 : 1,2 g. Sebelum disintesis, abu dasar batubara diuji menggunakan XRF untuk mengetahui senyawa yang terkandung dalam abu dasar. Sebagai media kristalisasi dalam proses pembentukan kristal zeolit, digunakan air laut melalui proses alkali hidrotermal. Proses alkali hidrotermal dilakukan menggunakan teflon autoclave yang dipanaskan di dalam oven pada variasi temperatur 60 ºC, 80 ºC, 100 ºC, 160 ºC dan 180 ºC selama 6 jam. Zeolit sintetis yang didapatkan kemudian dikarakterisasi menggunakan XRD dan SEM-EDS serta penentuan konduktivitas listrik menggunakan LCR-meter. Hasil pola XRD menunjukkan bahwa sampel mengandung zeolit A, zeolit Na-X, zeolit Na-P, sodalit, kuarsa, hidroksisodalit dan vermikulit. Hasil SEM-EDS memperlihatkan pengaruh perbedaan temperatur proses hidrotermal terhadap permukaan zeolit yang dihasilkan. Zeolit dengan kemurnian yang baik didapatkan pada sampel yang terbentuk pada temperatur 180 ºC dengan tidak ada lagi kuarsa dan hidroksisodalit. Pengukuran konduktivitas listrik menunjukkan bahwa konduktivitas yang dihasilkan berada dalam rentang bahan semikonduktor. Nilai dengan konduktivitas listrik tertinggi terdapat pada sampel yang terbentuk pada proses hidrotermal temperatur 180 ºC yaitu 2,76769 x 10-6 - 12,22794 x 10-6 S/cm.Kata kunci : zeolit, sintesis, kristalisasi,hidrotermal, konduktivitas, semikonduktor, temperaturAbstractThe synthesis of zeolite from bottom ash and NaOH as an activator with ratio of 1 : 1,2 g has been conducted. Before synthesized, bottom ash was tested by using XRF. As a medium for the crystallization, sea water used on the alkaline hydrothermal process. Alkaline hydrothermal process carried out using a teflon autoclave heated in an oven with variation temperature of  60 ºC, 80 ºC, 100 ºC, 160 ºC and 180 ºC for 6 hours. Synthetic zeolites tested by using XRD and SEM-EDS and LCR-meter model for electrical conductivity measurement. XRD patterns show that the samples contain zeolite A, zeolite Na-X, zeolite Na-P, sodalite, quarzt, hydroxysodalite, and vermicullite. The SEM-EDS showed influence of hydrothermal temperature on zeolite surface. Synthetic zeolite with good purity obtained on samples of hydrothermal temperature process of 180 ºC with no quarzt and hydroxysodalite content. Measurement of electrical conductivity show, that the conductivity samples obtained are in the range semiconductor. The highest electrical conductivity is about 2.76769 x 10-6 – 12.22794 x 10-6 S/cm is found in the samples with hydrothermal temperature process of 180 ºC.Keywords : zeolite, crystallization, hydrothermal, conductivity, semiconductor, temperature

PENGARUH WAKTU REFLUKS TERHADAP KONDUKTIVITAS LISTRIK ZEOLIT SINTETIK DARI ABU DASAR

Jurnal Fisika Unand Vol 4, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.238 KB)

Abstract

ABSTRAKTelah dilakukan sintesis zeolit dari limbah abu dasar batubara dengan metode refluks menggunakan NaOH sebagai aktivator. Variasi waktu refluks yang dilakukan adalah 12, 24 dan 36 jam dengan konsentrasi molar NaOH 3M dan 5M. Pengujian yang dilakukan meliputi penentuan struktur kristal menggunakan X-ray Difraction (XRD), morfologi permukaan menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) dan penentuan konduktivitas dengan LCR Meter. Hasil XRD memperlihatkan  bahwa zeolit yang dihasilkan merupakan tipe Na-X, Na-P dan Hikroksisodalit. Penambahan waktu refluks menjadikan zeolit lebih seragam yang dilihat dari puncak-puncak pada kerakterisasi XRD dan morfologi permukaan dari hasil SEM. Pada waktu refluks 36 jam, sampel dengan konsentrasi 5M  menunjukkan ukuran partikel 0,049 µm. Hasil LCR Meter menunjukkan nilai konduktivitas sampel 0,765 x 10-6 S/cm hingga 2,499 x 10-6 S/cm, dimana konduktivtas ini menunjukkan bahwa zeolit merupakan bahan semikonduktor.Kata kunci : abu dasar, zeolit, metode refluks, variasi molar, konduktivitas.AbstractThe synthesis of zeolites from coal bottom ash waste with NaOH as activator, by using reflux method has been performed. Reflux time was varied from 12, 24 and 36 hours with the NaOH molar concentration of 3 and 5M. The charateristics of sample are observed from crystal structure through XRD, surface morphology through SEM and conductivity through LCR Meter observations. The results of XRD showed that the type of zeolite is Na-X, Na-P, and Hidroksisodalite. The increase of reflux time produces zeolits which are more uniform that can be observed from XRD and SEM result. The result of SEM showed that the sample with reflux time of 36 hours and concentration of 5M has more regular surface morphology and smaller particle size (0,049 µm). Conductivity obtained from the LCR Meter showed that its value varied from 0.765 x10-6 S / cm to 2.499 x 10-6 S /cm, indicating that zeolite is a semiconductor material.Keyword: coal bottom ash, zeolit, reflux time, conductivity. 

PENGARUH TEMPERATUR PELEBURAN ALKALI TERHADAP KONDUKTIVITAS LISTRIK ZEOLIT SINTETIK DARI BAHAN ABU DASAR BATUBARA DENGAN METODE PELEBURAN ALKALI HIDROTERMAL

Jurnal Fisika Unand Vol 4, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.387 KB)

Abstract

ABSTRAKTelah dilakukan sintesis zeolit dari abu dasar dengan metode peleburan alkali hidrothermal. Temperatur peleburan yang digunakan adalah 550 0C, 750 0C dan 950 0C dengan perbandingan abu dasar : NaOH yaitu 1:1,2 g. Sampel abu dasar yang telah dilebur dengan NaOH kemudian dipanaskan melalui proses  hidrotermal dengan variasi media kristalisasi aquades dan  NaAlO2. Sampel zeolit hasil sintesis kemudian dicuci dengan aquades hingga pH 9-10. Karakterisasi meliputi karakterisasi gugus fungsi menggunakan FT-IR, morfologi permukaan menggunakan SEM, dan jenis material menggunakan XRD serta pengukuran konduktivitas. Untuk keperluan pengukuran konduktivitas, sampel dikompaksi membentuk pellet dengan massa 0,3 g. Hasil FT-IR menunjukkan bahwa terdapat sidik jari untuk ikatan regangan SiO dan AlO serta double ring (cincin ganda). Dari hasil difraktometer sinar-X terlihat bahwa zeolit hasil sintesis dengan penambahan aquades merupakan zeolit tipe Na. Sedangkan dengan penambahan NaAlO2 menghasilkan zeolit tipe Na-A, zeolit P dan Unnamed zeolite. Uji konduktivitas dengan menggunakan LCR-meter menunjukkan bahwa rentang nilai konduktivitas sampel adalah 0,0407 mS/m hingga 0,3814 mS/m. Zeolit dengan nilai konduktivitas tertinggi (0,3814 mS/m) dihasilkan oleh temperatur peleburan 550 0C dan dengan media kristalisasi NaAlO2.Kata kunci : abu dasar, alkali – hidrothermal,  konduktivitas, zeolit AbstractSynthesis of zeolites from bottom ash by alkali melting hydrothermal method have been done. Melting temperature was 550 0C, 750 0C and 950 0C with a ratio of bottom ash: NaOH is 1: 1.2 g. Samples of bottom ash which had been merged with NaOH then heated through a hydrothermal process with 2 kinds of crystallization medium that are distilled water and NaAlO2. Synthesized zeolite samples were then washed with distilled water until pH 9-10. The characterization includes functional groups using FT-IR, surface morphology with SEM, and type of material using XRD, and conductivity measurements. For the purposes of conductivity measurement, the samples compacted to form pellets with a mass of 0.3 g. FT-IR results showed that there are fingerprints for bond stretching of SiO and AlO and Double Ring. X-ray diffraction (XRD) shows that the zeolites which are synthesized by the addition of distilled water is Na-type zeolite. While the zeolites which are synthesized by the addition of NaAlO2 produce Na-A, P and Unnamed zeolite types. Conductivity test using LCR meter showed that range of the sample conductivity is from 0.0407 mS/m to 0.3814 mS/m. Zeolite with the highest conductivity (0.3814 mS/m) were obtained from melting temperature of 550 0C and with NaAlO2 as crystallization medium.Keywords : bottom ash, alkali – hidrothermal, zeolite, conductivity

Pembuatan Material Sensor Kelembaban Relatif Berbasis Selulosa Ubi Gajah dan Polianilin (PANi)

Jurnal Fisika Unand Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.633 KB)

Abstract

Telah dilakukan pembuatan material sensor kelembaban relatif (RH) berbasis selulosa ubi gajah dan polianilin (PANi). Pembuatan PANi-selulosa menggunakan metode grafting dengan variasi selulosa 1-5 g selulosa pada 10 mL PANi. Inisiator CuSO4 (1 M) digunakan untuk membentuk radikal bebas, sehingga molekul selulosa bisa masuk pada tulang punggung PANi. PANi-selulosa hasil sintesis dikarakterisasi mengunakan FTIR dan Spektrofotometer UV-VIS. Pengukuran resistansi dari film tebal PANi-selulosa dilakukan untuk setiap variasi penambahan selulosa berdasarkan perubahan kelembaban relatif. Hasil karakterisasi FTIR dan Spektrofotometer UV-VIS menunjukkan bahwa terjadinya pergeseran spektra IR dan serapan optik PANi oleh pencangkokan selulosa yang mengindikasikan keberhasilan pencangkokan PANi-selulosa. Penambahan massa selulosa dapat menurunkan nilai resistansi film PANi-selulosa. Secara keseluruhan, film PANi-selulosa memiliki pola resistansi yang berkesesuain dengan tingkat kelembaban relatif, semakin tinggi nilai kelembaban relatif semakin rendah resistansi PANi-selulosa. Dari grafik kelembaban relatif terhadap resistansi, sampel terbaik sebagai material sensor RH adalah sampel dengan 10 mL PANi pada 3 g selulosa dengan koefisien korelasi sebesar 0,9640. Pencangkokan selulosa pada PANi meningkatkan sifat hidroskopis, matrik-matrik hidrofilik dan meningkatkan jumlah molekul uap air yang terperangakap di dalam PANi. Kata kunci: Film tebal PANi-selulosa, grafting PANi-selulosa, kelembaban relatif, sintesis selulosa

Analisis Pengaruh Microbending Pada Sensor Albumin Urin Dengan Metode Evanescent Menggunakan Serat Optik FD 620-10

Jurnal Ilmu Fisika Vol 11, No 1 (2019): JURNAL ILMU FISIKA
Publisher : Jurnal Ilmu Fisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan analisis pengaruh macrobending pada sensor albumin urin dengan metode evanescent menggunakan serat optik FD 620-10. Sumber cahaya dari laser dioda dengan panjang gelombang 650 nm ditransmisikan pada serat optik multimode. Pengupasan cladding serat optik sepanjang 3 cm mengakibatkan pelemahan intensitas terukur pada detektor akibat interaksi gelombang evanescent dengan molekul albumin dalam urine. Sensor albumin urin dikarakterisasi berdasarkan tegangan keluaran fotodioda. Hasil karakterisasi sensor menunjukkan serat optik pada jari-jari bending 2,5 cm adalah yang  optimal untuk pengukuran kadar albumin urin dengan  sensitivitas sensor sebesar 0.001 (mg/dL)/V. Tegangan keluaran fotodioda semakin mengecil seiring meningkatnya kadar albumin urin.Kata kunci : macrobending, serat optik, albumin urin.

INTERFEROMETER MICHELSON DAN CCD WEBCAM SEBAGAI PENENTU FREKUENSI GETAR OBJEK

Jurnal Ilmu Fisika Vol 2, No 1 (2010): JURNAL ILMU FISIKA
Publisher : Jurnal Ilmu Fisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.063 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian pengukuran getaran suatu obyek dengan menggunakan interferometer Michelson dan CCD webcam. Pola intereferensi dihasilkan dari perbedaan lintasan laser HeliumNeon dengan panjang gelombang 632,8 nm melewati obyek getar speaker piezo yang diletakkan pada cermin uji. Pemberian frekuensi getar dimulai 5 Hz – 30 Hz dengan kelipatan 5 Hz serta frekuensi 1 KHz-20 KHz dengan kelipatan 1 KHz. CCD webcam dapat merekam berkas sinar laser dari cermin referensi dan cermin uji dengan kemampuan CCD webcam 30 frame perdetik. Perubahan intensitas laser yang menggambarkan frekuensi getar obyek dapat dilihat pada frekuensi di bawah frekuensi CCD webcam.

KONDUKTIVITAS ELEKTRODA DARI CAMPURAN RESIN DAMAR DAN ZEOLIT DARI BOTTOM ASH

Jurnal Ilmu Fisika Vol 6, No 1 (2014): JURNAL ILMU FISIKA
Publisher : Jurnal Ilmu Fisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.818 KB)

Abstract

Proses sokletasi terhadap resin damar dengan menggunakan pelarut heksana mempengaruhi sifat konduktivitas dari campuran damar dengan zeolit pada perbandingan tertentu. Konduktivitas elektroda dari resin damar dan zeolit bottom ash diukur dengan menggunakan rangkaian sederhana. Elektroda dibuat dengan mencampur hasil sokletasi resin damar dan zeolit dengan perbandingan tertentu. Zeolit yang digunakan merupakan hasil sentesis dari limbah bottom ash melalui metoda hidrotermal menggunakan peleburan NaOH. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa damar yang telah disokletasi mempunyai konduktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan damar tanpa sokletasi.

Pengaruh Air Laut Terhadap Sifat Listrik Zeolit Sintetis dari Bottom Ash Melalui Proses Alkali Hidrotermal

Jurnal Ilmu Fisika Vol 7, No 1 (2015): JURNAL ILMU FISIKA
Publisher : Jurnal Ilmu Fisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (778.719 KB)

Abstract

Telah dilakukan sintesis zeolit berbahan dasar bottom ash dan NaOH sebagai aktivator dengan perbandingan 1 : 1,2 g. Sebagai media kristalisasi dalam proses pembentukan kristal zeolit, digunakan air laut dan akuades melalui proses alkali hidrotermal. Proses alkali hidrotermal dilakukan menggunakan teflon autoclave yang dipanaskan di dalam oven pada temperatur 100oC selama 6 jam. Zeolit sintetis yang didapatkan kemudian diuji secara kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan XRD dan SEM-EDS serta penentuan konduktivitas listrik menggunakan LCR-meter model TH2820. Hasil analisis pola XRD menunjukkan bahwa sampel mengandung zeolit Na-X, zeolit Na-P, hidroksisodalit, dan kuarsa. Hasil SEM-EDS memperlihatkan pengaruh perbedaan media kristalisasi terhadap permukaan zeolit yang dihasilkan.  Zeolit dengan kemurnian yang baik berbentuk kubik didapatkan pada sampel yang menggunakan media kristalisasi air laut dari tepi pantai dengan kadar kuarsa yang lebih rendah. Dari nilai konduktivitas listriknya diketahui bahwa sampel berada dalam rentang bahan semikonduktor. Nilai dengan konduktivitas listrik tertinggi terdapat pada sampel yang menggunakan media kristalisasi air laut di tepi pantai dengan nilai konduktivitas 1,287 x 10-6 - 3,040 x 10-6  S/cm.

PERANCANGAN SISTEM PEWAKTUAN DAN PENGONTROLAN TEMPERATUR PADA APLIKASI KAMAR TEMPERATUR DENGAN SENSOR LM35DZ BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S52

Jurnal Ilmu Fisika Vol 4, No 2 (2012): JURNAL ILMU FISIKA
Publisher : Jurnal Ilmu Fisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.762 KB)

Abstract

Telah dirancang sistem kamar temperatur dengan pengaturan temperatur dan pewaktuan mengunakan mikrokontroler AT89S52 serta sensor temperatur LM35DZ sebagai pengindra temperaturnya. Perancangan ini terdiri dari perangkat keras (keypad 4x4, LCD, ADC0804, LM35DZ, penguat tak membalik, dan relay) dan perancangan perangkat lunak sistem kamar temperatur dengan bahasa pemograman C. Data hasil penelitian dianalisa mengunakan metode grafik dan teori error. Hasil analisa data menunjukan bahwa tegangan keluaran sensor LM35DZ sebanding dengan temperatur dengan sensitivitas 0,009 V/ºC dan nilai awal 0,041 V. Penguatan rangkaian penguat tak membalik adalah sebesar 4,963 kali dengan nilai awal keluaran penguat sebesar -0,005 V. Perubahan temperatur yang indra sensor sebanding dengan data keluaran ADC0804 dengan kemiringan garis 0,402 ºC dan nilai awal temperatur sebesar -2,755 ºC. Temperatur dan lama pengaturan temperatur dapat diubah dari luar sesuai keinginan penguna.