Articles

Found 9 Documents
Search

ESTIMASI NILAI CTDI DAN DOSIS EFEKTIF PASIEN BAGIAN HEAD, THORAX DAN ABDOMEN HASIL PEMERIKSAAN CT-SCAN MEREK PHILIPS BRILIANCE 6 Silvia, Helga; Milvita, Dian; Prasetio, Heru; Yuliati, Helfi
Jurnal Fisika Unand Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.483 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai estimasi CTDI dan dosis efektif pasien bagian head, thorax dan abdomen pada hasil pemeriksaan CT-Scan. Penelitian dimulai dengan mengukur diameter efektif pasien dari citra CT-Scan. Kemudian diameter efektif (D) disubtitusi pada persamaan CTDIw untuk estimasi nilai CTDI pada pasien. Sedangkan dosis efektif dihitung dengan software ImPACT CT Patient Dosimetry Calculator dengan data 10 orang pasien masing-masing bagian pemeriksaan menggunakan CT-Scan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: CTDI pasien pada pemeriksaan bagian head berkisar antara  21,09 mGy hingga 26,98 mGy, CTDI 11,26 mGy hingga 32,55 mGy bagian thorax, dan antara 7,72 mGy hingga 19,38 mGy bagian abdomen. Dosis efektif pasien berkisar antara 1 mSv hingga 2,8 mSv pada bagian head, 8,14 mSv hingga 15 mSv pada bagian thorax dan 9,14 mSv hingga 14 mSv pada bagian abdomen. Sedangkan organ yang paling besar mendapatkan dosis efektif pada bagian head adalah otak dan kelenjar saliva, pada bagian thorax  adalah paru-paru dan pada bagian abdomen adalah lambung. Semua fungsi yang dihasilkan pada penelitian ini digunakan untuk mengestimasi lebih lanjut nilai CTDI dan dosis efektif yang diameter efektif dan scan length-nya tidak sama dengan nilai yang digunakan pada penelitian ini. Potensi risiko kanker pada pasien pemeriksaan menggunakan CT-Scan relatif kecil yaitu 0,01% pada bagian head, 0,07% pada bagian thorax dan 0,08% pada bagian abdomen.
PENGARUH DIAMETER PHANTOM DAN TEBAL SLICE TERHADAP NILAI CTDI PADA PEMERIKSAAN MENGGUNAKAN CT-SCAN Aprilyanti, Dinda Dyesti; Milvita, Dian; Prasetio, Heru; Yuliati, Helfi
Jurnal Fisika Unand Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.922 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai pengaruh diameter phantom dan tebal slice terhadap nilai CTDI pada pemeriksaan menggunakan CT-Scan. CTDI merupakan metode yang digunakan untuk menghitung jumlah dosis radiasi yang diterima oleh pasien akibat pemeriksaan menggunakan CT-Scan. Penelitian dilakukan dengan pengambilan data CTDI pada phantom menggunakan detektor Unfors Xi Set dan pengambilan data CTDI pada pasien yang terdiri dari 15 orang pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) semakin besar diameter phantom dan tebal slice yang digunakan maka semakin kecil nilai CTDI yang dihasilkan, begitu juga sebaliknya. (2) Nilai CTDI yang diterima phantom pada posisi detektor arah jam 12, 9 dan 3 lebih besar dari nilai CTDI pada posisi detektor arah jam 6 dan posisi pusat. (3) Nilai CTDI pada phantom lebih kecil dari nilai CTDI berdasarkan SK-BAPETEN No. 01-P/Ka-BAPETEN/I-03. (4) Nilai CTDI pada phantom lebih besar dari nilai CTDI pada pasien, tetapi keduanya masih berada di bawah nilai batas dosis yang direkomendasikan oleh BAPETEN.
PERBANDINGAN DOSIS RADIASI DI UDARA TERHADAP DOSIS RADIASI DI PERMUKAAN PHANTOM PADA PESAWAT CT-SCAN -, Suwarni; Milvita, Dian; Prasetio, Heru; Yuliati, Helfi
Jurnal Fisika Unand Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.051 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai perbandingan dosis radiasi di udara terhadap dosis radiasi di permukaan phantom pada pesawat CT-Scan.  Manfaat dari penelitian ini adalah untuk mengetahui estimasi CTDI dari pengukuran dosis radiasi yang dipancarkan oleh pesawat CT-Scan di udara dan di permukaan phantom. Penelitian ini menggunakan detektor pencil ion chamber untuk pengukuran dosis radiasi di udara dan TLD-100 untuk pengukuran dosis radiasi di permukaan phantom. Dari hasil pengukuran diperoleh dosis radiasi di udara lebih besar dibandingkan dengan dosis radiasi di permukaan phantom. Dari perbandingan dosis radiasi di udara terhadap dosis radiasi di permukaan phantom hasil yang diperoleh masih berada dalam nilai batas dosis yang dikeluarkan oleh BAPETEN (SK.BAPETEN No. 08-P/ka-BAPETEN/1-2011).
UJI KESESUAIAN PESAWAT CT-SCAN MEREK PHILIPS BRILIANCE 6 DENGAN PERATURAN KEPALA BAPETEN NOMOR 9 TAHUN 2011 Chirsnia, Ivone; Milvita, Dian; Prasetio, Heru; Yuliati, Helfi
Jurnal Fisika Unand Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.747 KB)

Abstract

Telah dilakukan uji kesesuaian pada pesawat CT-Scan merek Philips Briliance 6 yitu uji kesesuaian akurasi tegangan, akurasi keluaran radiasi, linearitas keluaran radiasi, kualitas berkas sinar-X, posisi meja pemeriksaan, laser penanda dan kesesuaian dosis radiasi pasien.  Pengujian dosis radiasi pasien digunakan fantom sebagai pengganti pasien. Hasil uji dibandingkan dengan nilai lolos uji Peraturan Kepala BAPETEN Nomor 9 Tahun 2011. Hasil yang diperoleh yaitu pesawat CT-Scan merek Philips Briliance 6 dalam kondisi andal dengan perbaikan.
PERBANDINGAN DOSIS RADIASI DI PERMUKAAN KULIT PADA PASIEN THORAX TERHADAP DOSIS RADIASI DI UDARA DENGAN SUMBER RADIASI PESAWAT SINAR-X Milvita, Dian; Leona Gemi, Nola; Prasetio, Heru; Dwi Kusumawati, Dyah; Yuliati, Helfi; Suyati, Suyati
Jurnal Spektra Vol 15, No 2 (2014): Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya
Publisher : Jurnal Spektra

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil pengukuran dosis radiasi permukaan kulit yang diterima pasien thorax terhadap dosis radiasi di udara dari penyinaran pesawat sinar-X.Penelitian ini menggunakan TLD-100 sebagai alat ukur radiasi. Pengambilan data dilakukan di salah satu rumah sakit di Kota Padang dengan cara mengumpulkan 18 orang data pasien yang menjalani pemeriksaan thorax untuk pengukuran dosis radiasi di permukaan kulit dan styrofoam untuk pengukuran dosis radiasi di udara dengan menvariasikan tegangan mulai dari 40 kV sampai 70 kV, Hasil penelitian untuk pengukuran dosis radiasi di permukaan kulit (Entrance Surface Dose / ESD), minimum adalah 0,268 mGy dan maksimum adalah 0,736 mGy dengan ESD rata-rata adalah 0,497 mGy. Selanjutnya, untuk pengukuran dosis radiasi di udara untuk kondisi thorax, nilai minimum adalah sebesar 0,333 mGy dan nilai maksimum adalah sebesar 0,532 mGy dengan rata-rata 0,455 mGy.Dari perbandingan kedua dosis radasi ini, didapatkan nilai backscatter factor yang bervariasi, tetapi nilai ini tidak berbeda jauh dengan data TRS (Technical Reports Series) IAEA No. 457. Kata kunci :Backscatter factor, dosis radiasi di permukaan kulit, dosis radiasi di udara, Entrance Surface Dose.
KARAKTERISASI DOSIMETRI SUMBER BRAKITERAPI IR-192 MENGGUNAKAN METODE ABSOLUT Putra, Mahmudi Rio; Milvita, Dian; Prasetio, Heru
Jurnal Fisika Unand Vol 4, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.057 KB)

Abstract

ABSTRAKTelah dilakukan penelitian tentang karakterisasi dosimetri sumber brakiterapi Ir-192 menggunakan metode absolut. Karakterisasi yang dilakukan pada penelitian ini meliputi laju kerma dan kuat kerma dari sumber brakiterapi Ir-192 buatan BATAN. Pengukuran dilakukan menggunakan detector extrapolation chamber pada jarak 10 cm dan  divariasikan pada jarak 20 cm, 30 cm, 40 cm, dan 50 cm sebagai validasi jarak. Sebagai validasi alat ukur dilakukan  pengukuran menggunakan detektor farmer yang telah terkalibrasi dengan Ir-192. Proses pengambilan data dilakukan dengan cara pengukuran pancaran radiasi Ir-192 selama satu menit dan dikonversikan menjadi laju kerma dan kuat kerma. Berdasarkan  penelitian  ini diperoleh hubungan  laju kerma berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara detektor dengan sumber radiasi, kuat kerma yang di pancarkan sumber Ir-192 buatan BATAN bernilai 7,64 x 10-8 Gy s-1 m2.AbstractIt had been done a research to determine the characterization of dosimetry on Ir-192 brachytherapy source by using absolute method. The characterization which was done in this research involved kerma speed  and kerma work on Ir-192 brachytherapy source made by BATAN. The measurement was done by using detector extrapolation chamber against 10 cm, 20 cm, 30 cm, 40 cm, and 50 cm as distance validity and the measurement used farmer detector as tool measurement validity which had been calibrated with Ir-192. The technigue of data collection was done by measuring radiation of Ir-192 for one minute and converting it to be kerma speed and kerma work. The result of this research is that kerma speed is inversely with distance guadrate between detector and radiation source, the kerma work which is amitted by Ir-192 source made by BATAN is 7,64 x 10-8 Gy s-1 m2.
PERBANDINGAN DOSIS RADIASI DI PERMUKAAN KULIT PADA PASIEN THORAX TERHADAP DOSIS RADIASI DI UDARA DENGAN SUMBER RADIASI PESAWAT SINAR-X Milvita, Dian; Gemi, Nola Leona; Prasetio, Heru; Kusumawati, Dyah Dwi; Yuliati, Helfi; Suyati, Suyati
Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 15 No 2 (2014): SPEKTRA, Volume 15 Nomor 2, Desember 2014
Publisher : Program Studi Fisika Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (978.022 KB)

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil pengukuran dosis radiasi permukaan kulit yang diterima pasien thorax terhadap dosis radiasi di udara dari penyinaran pesawat sinar-X.Penelitian ini menggunakan TLD-100 sebagai alat ukur radiasi. Pengambilan data dilakukan di salah satu rumahsakit di Kota Padang dengan cara mengumpulkan 18 orang data pasien yang menjalani pemeriksaan thorax untuk pengukuran dosis radiasi di permukaan kulit dan styrofoam untuk pengukuran dosis radiasi di udara dengan menvariasikan tegangan mulai dari 40 kV sampai 70 kV, Hasil penelitian untuk pengukuran dosis radiasi di permukaan kulit (Entrance Surface Dose / ESD), minimum adalah 0,268 mGy dan maksimum adalah 0,736 mGy dengan ESD rata-rata adalah 0,497 mGy. Selanjutnya, untuk pengukuran dosis radiasi di udara untuk kondisi thorax, nilai minimum adalah sebesar 0,333 mGy dan nilai maksimum adalah sebesar 0,532 mGy dengan rata-rata 0,455 mGy.Dari perbandingan kedua dosis radasi ini, didapatkan nilai backscatter factor yang bervariasi, tetapi nilai ini tidak berbeda jauh dengan data TRS (Technical Reports Series) IAEA No. 457. Kata kunci :Backscatter factor, dosis radiasi di permukaan kulit, dosis radiasi di udara, Entrance Surface Dose.
Perbandingan Verifikasi Akurasi Posisi Pasien Radioterapi Secara Manual dan Semiotomatis Berbasis Citra DRR/EPID NOFRIDIANITA, SUSI; PRASETIO, HERU; PAWIRO, SUPRIYANTO A
Indonesian Journal of Cancer Vol 10, No 3 (2016): July - September 2016
Publisher : Indonesian Journal of Cancer

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3223.349 KB)

Abstract

ABSTRACTRadiotherapy is one of common treatment modality for Nasopharyngeal Cancer. The development of intensity modulated radiotherapy (IMRT technique) gives satisfactory results in the nasopharyngeal cancer treatment, both clinically and dosimetry. IMRT can reduce the effects of acute and chronic, with a maximum dose coverage to the tumor and minimal dose to the organ or normal tissue surrounding target value. The purpose of this study is to compare theaccuracy of patient positioning verification of Nasopharyngeal Cancer IMRT with DRR / EPID image registration. Retrospective data analysis of the AP and Lateral projections DRR and EPID images 35 patients (140 images) were then manually verified by simulative applied fusion semiautomatic with FIJI program. FIJI program improved the image quality of the DRR and EPID to facilitate the image registration. Results of this study shows no statistically significantdifference between the manual verification and semiautomatic fusion method of nasopharyngeal cancer patients, but there is a tendency that the semiautomatic method with FIJI program provides verification geometry radiotherapy better a result than manual methods.ABSTRAKTeknik Intensity Modulated Radiotherapy (IMRT) dapat mengurangi efek akut dan kronik, dengan cakupan dosis maksimal pada tumor dan dosis minimal pada organ/jaringan sehat di sekitarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan verifikasi akurasi posisi pasien IMRT Kanker Nasofaring dengan registrasi citra DRR/ EPID. Analisis data retrospektif terhadap citra DRR/EPID dari 35 pasien proyeksi AP dan Lateral (140 citra) yang telah diverifikasi secara manual kemudian secara simulatif diterapkan metode fusi semiotomatis dengan program FIJI. Penggunaan program FIJI dapat memperbaiki kualitas citra DRR/EPID sehingga memudahkan dalam verifikasi geometri radioterapi. Hasil penelitian ini secara statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan antara verifikasi manual denganmetode fusi pada radioterapi pasien kanker nasofaring, namun secara deskriptif terdapat kecenderungan bahwa metode fusi dengan program FIJI memberikan verifikasi geometri radioterapi yang lebih baik dibandingkan metode manual.
Analisis Nilai Noise dari Citra Pesawat CT-Scan pada Beberapa Rekonstruksi Kernel dengan Variasi Slice Thickness Almuslimiati, Almuslimiati; Milvita, Dian; Prasetio, Heru
Jurnal Fisika Unand Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Andalas

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.108 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang analisis nilai noise dari citra pesawat CT-Scan pada beberaparekonstruksi kernel dengan variasi slice thickness. Penelitian dilakukan dengan menggunakan fantom sebagai bahan pengganti pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan rekonstruksi kernel terhadap nilai noise. Nilai noise ysng didapatkan dibandingkan dengan batas toleransi yang diizinkan oleh BAPETEN. Slice thickness terbaik akan ditentukan dari masing-masing rekonstruksi yang digunakan. Penelitian dilakukan pada arus 250 mAs dan tegangan 120 kV dengan menggunakan rekonstruksi kernel standar, lung, soft, edge, bone dan chest serta variasi slice thickness dari 1 mm – 10 mm. Hasil analisis menunjukkan bahwa perbedaan rekonstruksi kernel yang digunakan memberikan pengaruh berupa peningkatan nilai noise. Nilai noise yang didapatkan masih dalam batas toleransi yang diizinkan oleh BAPETEN. Slice thickness yang paling baik adalah dengan ketebalan 6 mm, karena pada ketebalan ini dihasilkan nilai noise yang paling sedikit. Penggunaan slice thickness yang tidak terlalu tebal akan membuat citra menghasilkan detail-detail gambar yang tinggi dan sebaliknya, untuk itu perlu adanya optimasi penggunaan slice thickness agar bagian tubuh yang menjadi objek pemeriksaan dapat didiagnosis dengan baik.Kata kunci : fantom, noise, rekonstruksi kernel, slice thickness