Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Majalah Kedokteran Sriwijaya

Angka Kejadian Karsinoma Urothelial di Bagian Patologi Anatomi RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang Periode Tahun 2009-2013 Syafa’ah, Aini Nur; Maulani, Henny; Suciati, Tri
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 47, No 1 (2015): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.854 KB)

Abstract

Kanker kandung kemih merupakan kanker yang paling umum ke-4 terjadi pada pria dan ke-12 pada wanita. Karsinoma urothelial merupakan salah satu jenis kanker kandung kemih yang sering ditemukan di negara berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian karsinoma urothelial di Bagian Patologi Anatomi RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang periode tahun 2009-2013. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan serial kasus. Data diambil dari rekam medik Bagian Patologi Anatomi RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang. Terdapat 66 kasus karsinoma urothelial dari 29.175 kasus yang diperiksa secara histopatologi di Bagian Patologi Anatomi RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang. Angka kejadian karsinoma urothelial di Bagian Patologi Anatomi RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang adalah 0,23%. Pria lebih banyak daripada wanita yaitu sebanyak 80,3% dengan rasio pria:wanita sebesar 4:1. Karsinoma urothelial paling banyak terdiagnosis pada usia 61-70 tahun. Diagnosis mikroskopik terbanyak adalah invasive high grade urothelial carcinoma yaitu sebesar 66,7%. Angka kejadian karsinoma urothelial di Bagian Patologi Anatomi RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang pada tahun 2009-2013 adalah 0,23% dan diagnosis mikroskopik terbanyak adalah invasive high grade urothelial carcinoma.
Kadar CK-MB Pasien Penyakit Jantung Koroner Yang Dirawat Inap di Bagian Penyakit Dalam RS. Muhammad Hoesin Palembang Berdasarkan Waktu Pengambilan Darah Chalik, M. Novran; Usnizar, Ferry; Suciati, Tri
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 46, No 3 (2014): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.729 KB)

Abstract

Penyakit jantung koroner merupakan penyebab pertama seluruh kematian di Indonesia.Berdasarkan cardiac biomarker, PJK dibagi menjadi dua, yaitu IMA dan non-IMA. Pemeriksaan penanda biokimia jantung, yaitu enzim CK-MB merupakan suatu cara untuk mendeteksi infark miokard akut (IMA) secara cepat dan tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar CK-MB  pasien penyakit jantung koroner yang dirawat-inap di bagian penyakit dalam RSMH Palembang periode Januari-Desember 2012 berdasarkan waktu pengambilan darah.Penelitian ini merupakan penelitian deksriptif observasional terhadap 56 pasien PJK di Bagian Penyakit Dalam RSMH Palembang. Sampel penelitian diambil dari data rekam medis pasien rawat-inap yang mendapatkan tes CK-MB pada  periode Januari-Desember 2012.Pasien PJK terbanyak berjenis kelamin pria (66,1%), kelompok usia 45 sampai dengan 64 tahun (69,6%), dan yang menderita IMA (80,4%) lebih banyak daripada non-IMA (19,6%). Rata-rata kadar CK-MB mulai meningkat pada jam ke-3, mencapai kadar puncak pada jam ke-21, dan kembali ke nilai normal pada jam ke-48. Kadar CK-MB ditemukan lebih tinggi pada pasien pria dibandingkan wanita dan pada pasien kelompok usia 65 sampai dengan diatas 75 tahun dibandingkan kelompok usia di bawah 44 sampai dengan 64 tahun.Rata-rata kadar CK-MB mulai meningkat pada jam ke-3, mencapai puncak pada jam ke-21, dan kembali normal pada jam ke-48. Pasien berjenis kelamin pria dan kelompok usia 65 sampai dengan di atas 75 tahun memiliki kadar CK-MB lebih tinggi.
HubunganIndeks Massa Tubuhdengan Range of Motion Sendi Panggul dan Fleksi Lumbal pada Siswa Laki-Laki SMA Xaverius 1 Palembang Agung, Muhammad Ma'ruf; Suciati, Tri; Septadina, Indri Seta
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 50, No 2 (2018): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.036 KB)

Abstract

Range of Motion (ROM) merupakan ukuran gerak yang tersedia pada sendi untuk pergerakan antar-segmental tertentu. Nilai ROM menggambarkan fleksibilitas suatu sendi. Semakin besar nilai ROM dari suatu sendi, maka semakin rendah pula kemungkinan sendi dapat mengalami cedera.Salah satu faktor yang menyebabkan penurunan ROM adalah adanya peningkatan IMT (Indeks Massa Tubuh) pada seseorang akibat adanya akumulasi beban yang berlebihan. Bila peningkatan nilai IMT terjadi pada remaja, maka resiko terjadinya patah tulang khususnya sendi yang menopang tubuh seperti sendi panggul dan lumbal akan meningkat bahkan bila dibiarkan kelebihan berat badan akan meningkatkan resiko penyakit degeneratif pada sendi. Hal ini melatarbelakangi untuk dilakukannya penelitian tentang hubungan Indeks Massa Tubuh pada siswa laki-laki Sekolah Menengah Atas Xaverius 1 Palembang dengan nilai Range of Motion sendi panggul dan fleksi lumbal. Penelitian ini merupakan penelitian observasi analitik dengan menggunakan desain potong lintang. SampelpenelitianiniadalahsebagiansiswaSekolahMenengahAtasXaverius 1 Palembang kelas X, XI, dan XII. Total dari subjek penelitian adalah 84 siswa.TerdapatIMT normal (42 siswa), obesitas (15 siswa), Overweight (23 siswa), danUnderweight (4 siswa).Terdapathubungan signifikanIMT dengan ROM sendi panggul dan fleksi lumbal (endorotasi panggul p value 0,032, eksorotasi panggul p value 0,000, abduksi panggul p value 0,007, adduksi panggul p value 0,031, fleksi panggul p value 0,000, ekstensi panggul p value 0,028, dan fleksi lumbal p value 0,000). Terdapathubungansignifikan IMT dengan ROM sendi panggul dan fleksi lumbal.
Prevalensi Depresi pada Narapidana di Lembaga Permasyarakatan Anak Karnovinanda, Rhapsody; Suciati, Tri
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 46, No 4 (2014): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.123 KB)

Abstract

Depresi merupakan suatu gangguan afektif, yang pada umumnya ditandai dengan hilangnya minat atau kegembiraan dan berkurangnya energi sehingga mudah lelah dan berkurangnya aktivitas. Masa remaja merupakan periode rentan untuk gejala depresi berkembang dan angka depresi lebih tinggi didapati pada remaja yang menjadi narapidana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan tingkat depresi menurut usia, tingkat pendidikan, lama hukuman dijatuhkan, dan tempat tinggal pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Anak Kelas IIA Palembang tahun 2013. Penelitian ini bersifat observasional deskriptif dengan rancangan cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Juli-Desember 2013. Dari 151 narapidana, didapatkan sampel penelitian sebanyak 122 narapidana yang memenuhi kriteria inklusi. Data didapat dari hasil pengisian kuesioner Beck Depression Inventory II. Prevalensi depresi pada narapidana adalah 75,4%, dengan tingkat depresi berupa depresi minimal (tidak depresi) 24,6%, depresi ringan 28,7%, depresi sedang 38,5%, dan depresi berat 8,2%. Berdasarkan usia, kelompok usia remaja awal paling banyak mengalami depresi, yaitu 100%. Sedangkan berdasarkan tingkat pendidikan, kelompok tidak tamat SD paling banyak terkena depresi, yaitu 85,0%. Pada lama hukuman dijatuhkan, kelompok vonis 7-12 bulan paling banyak terkena depresi, yaitu  88,0%. Lalu, menurut tempat tinggal, narapidana yang sebelumnya tinggal di Palembang yang paling banyak mengalami depresi, yaitu 76,2%.Terdapat 75,4% narapidana yang mengalami depresi dengan tingkat depresi yang paling banyak terjadi adalah depresi sedang. Kelompok yang paling banyak terkena depresi adalah kelompok usia remaja awal, kelompok tidak tamat SD, kelompok vonis 7-12 bulan, dan narapidana yang sebelumnya tinggal di Palembang.
Hubungan Otitis Media Supuratif Kronik dengan Derajat Gangguan Pendengaran di Departemen THT-KL RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang Periode 2014-2015 Laisitawati, Ayu; Ghanie, Abla; Suciati, Tri
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 49, No 2 (2017): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.288 KB)

Abstract

Salah satu penyebab utama gangguan pendengaran adalah otitis media supuratif kronik (OMSK). OMSK dibagi menjadi 2 tipe yaitu OMSK tipe aman (benigna) dan tipe bahaya (maligna). Gangguan pendengaran pada OMSK tipe bahaya (maligna) lebih berat dibandingkan tipe aman (benigna) dikarenakan proses infeksi pada tipe ini sering melibatkan telinga bagian dalam sedangkan pada OMSK tipe aman (benigna) proses infeksi tidak sampai mengenai telinga bagian dalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan otitis media supuratif kronik dengan derajat gangguan pendengaran di RSUP Dr. M. Hoesin Palembang. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan potong lintang (cross-sectional study). Sampel penelitian ini adalah semua rekam medik penderita otitis media supuratif kronik di RSUP Dr. M. Hoesin Palembang pada tahun 2014-2015. Dari 116 subjek, ditemukan 62 kasus OMSK tipe bahaya (maligna) dan 54 kasus OMSK tipe aman (benigna) berturut-turut yitu derajat sedang berat (48,1%) dan derajat sedang (38,7%). Jenis gangguan pendengaran terbanyak untuk tipe bahaya (maligna) dan aman (benigna) adalah gangguan pendengaran tipe konduktif dengan persentase berturut-turut 94,4% dan 43,5%. Terdapat hubungan antara OMSK dengan derajat gangguan pendengaran (p= 0,027) dan terdapat perbedaan rata-rata ambang dengar yang sangat bermakna antara OMSK tipe aman (benigna) dan OMSK tipe bahaya (maligna) dengan nilai p= 0,000 serta terdapat hubungan antara OMSK dengan jenis gangguan pendengaran (p=0,000). Terdapat hubungan antara OMSK dengan derajat gangguan pendengaran, dimana derajat gangguan pendengaran lebih berat pada tipe bahaya (maligna) dibandingkan tipe aman (benigna).
Correlation of Stature with Cephalofacial Measurements Chandra, Michael; Suciati, Tri; Adnindya, Msy Rulan
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 51, No 2 (2019): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.167 KB)

Abstract

Tinggi badan merupakan parameter antropometri yang dapat digunakan dalam penentuan status gizi dan identifikasi jenazah. Pada individu dengan kondisi yang tidak memungkinkan dilakukan pengukuran tinggi badan secara konvensional dibutuhkan suatu metode pengukuran tinggi badan alternatif. Salah satu metode pengukuran tinggi badan alternatif yaitu surrogate height measurement. Surrogate height measurement dapatdiukurmenggunakan formula khusus berdasarkan ukuran tulang, misalnya ukuran antropometri cephalofacial. Jenis penelitian ini adalah deskriptifobservasionaldengandesainpotong-lintang. Pengambilan data dilakukan melalui pengukuran lebar maksimal kepala, lingkar kepala horizontal, lebar minimal dahi, dan tinggi badan pada 110 subjek perempuan dan 57 subjek laki-laki. Data dianalisis dengan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov, uji korelasi Pearson antara tinggi badan dan parameter antropometri cephalofacial, dan uji regresi linier untuk mendapatkan model prediksi tinggi badan.Hasil uji korelasi Pearson antara lingkar kepala horizontal dan tinggi badan, baik dengan atau tanpa stratifikasi jenis kelamin bermakna signifikan (p<0,05). Hasil uji korelasi Pearson antara lebar maksimal kepala dan tinggi badan pada populasi total dan kelompok perempuan bermakna signifikan (p<0,05), sementara pada kelompok laki-laki korelasi tidak bermakna signifikan (p>0,05). Hasil uji korelasi Pearson antara lebar dahi minimal dan tinggi badan, baik dengan atau tanpa stratifikasi jenis kelamin tidak bermakna signifikan (p>0,05).Tidak terdapat korelasi yang signifikan antara lebar minimal dahi dan tinggi badan.Terdapat korelasi yang signifikan antara lingkar kepala horizontal danlebarmaksimalkepalaterhadaptinggi badan.
The Correlation Between Limited Range of Movement And Functional Ability of Frozen Shoulder Patient at Medical Rehabilitation Department RSUPDr Mohammad Hoesin Palembang Santia, Ine; Fatimah, Nyimas; Suciati, Tri
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 51, No 1 (2019): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.372 KB)

Abstract

Frozen shoulder is the inflammation of shoulder joint,  marked by a painful, adhesive, atrophic and shortened joint capsule. As a result, movement range of the joint becomes limited. In frozen shoulder patients, the limitation can affect and lessen functional ability. Therefore, this study is aimed to analyze the correlation between the limited range of movement of shoulder joint and the functional ability of frozen shoulder patients in Department of Medical Rehabilitation of RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang.  This study is an observational analysis using correlation test with cross-sectional design. Twenty nine frozen shoulder patients in Department of Medical Rehabilitation of RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang in November 2018 that met the inclusion criteria were taken as subjects of this study by using consecutive sampling technique. Functional ability was assessed with quickDASH questionnaire while shoulder joint range of movement with goniometry. Data analysis was conducted subsequent to the assessments. The result of correlation test between functional ability and shoulder joint range of movement is significant. The study findings include active flexion (p=0,000; r=-0,669), active extension (p=0,004; r=-0,520), active abduction (p=0,000; r=-0,663), active adduction (p=0,022; r=-0,423), passive flexion (p=0,001; r=-0,589), extension passive (p=0,002; r=-0,543), passive abduction (p=0,000; r=-0,676) and passive adduction (p=0,038; r=-0,388).There is a significant correlation between limited range of movement and functional ability in frozen shoulder patients from Department of Medical Rehabilitation of RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang.