Wahyu Srigutomo
Department of Physics, Faculty of Mathematics and Fundamental Sciences, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10, Bandung, 40132, Indonesia

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

STUDI GELOMBANG ULF: KORELASI PULSA MAGNET Pc3 DENGAN KECEPATAN ANGIN SURYA DAN MEDAN MAGNET ANTARPLANET (STUDY OF ULF WAVE: CORRELATION OF Pc3 MAGNETIC PULSATIONS WITH SOLAR WIND VELOCITY AND INTERPLANETARY MAGNETIC FIELD)

Jurnal Sains Dirgantara Vol. 13 No. 2 Juni 2016
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1151.12 KB)

Abstract

Energy for the Earth’s magnetospheric processes is provided by solar wind. Pc3 magnetic pulsation is one of geomagnetic ULF wave. Pc3 magnetic pulsation has been studied to understand the dynamic of magnetosphere. Geomagnetic pulsations are quasi-sinusoide variations in the Earth’s magnetic field in the period range of 10-45 seconds. The magnitude of these pulsations ranges from fraction of a nT (nano Tesla) to several nT. These pulsations can be observed in a number of ways such as applied of ground based magnetometer. We used the magnetometer data of Manado, Parepare, and Kupang stations to studied the effect of the solar wind and interplanetary magnetic field on these pulsations. To extract Pc3 magnetic pulsations we applied second order of Butterworth filter and using Hamming windowing. The result showed that Pc3 magnetic pulsation have correlation with increasing solar wind velocity and interplanetary magnetic field-IMF, it is mean that solar wind controls Pc3 magnetic pulsations occurrence. ABSTRAKAngin surya merupakan sumber energi bagi proses-proses fisis yang terjadi di magnetosfer Bumi. Untuk dapat memahami dinamika di magnetosfer Bumi dapat di tinjau dari gelombang ULF salah satunya pulsa magnet Pc3. Pulsa magnet Pc3 merupakan variasi quasi-sinusoide pada medan magnet Bumi dalam rentang periode 10 – 45 detik. Pulsa magnet Pc3 umumnya memiliki amplitudo rendah dengan rentang nT (nano Tesla). Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengamati pulsa magnet Pc3 diantaranya dengan menggunakan magnetometer landas Bumi. Dalam makalah ini kami menggunakan data pengamatan magnetometer stasiun Kupang, Manado, dan Parepare untuk mempelajari hubungan pulsa magnet Pc3 terkait dengan angin surya dan medan magnet antarplanet. Pulsa magnet Pc3 diekstrak dari data variasi medan magnet dengan menggunakan Butterworth Filter dan Hamming windowing. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pulsa magnet Pc3 memiliki korelasi dengan peningkatan kecepatan angin surya dan medan magnet antarplanet. Hal ini mengindikasikan bahwa angin surya merupakan salah satu sumber yang mengontrol perubahan yang terjadi pada pulsa magnet Pc3.

Pemodelan Aliran Fluida 2-D Pada Kasus Aliran Permukaan Menggunakan Metode Beda Hingga

Jurnal Matematika dan Sains Vol 18 No 3 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persamaan dasar aliran fluida yang disebut persamaan Navier-Stokes merupakan persamaan diferensial parsial non linier yang kompleks. Untuk menyelesaikan dan memodelkan aliran fluida perlu dilakukan pendekatan numerik, salah satunya dengan metode beda hingga. Penyelesaian persamaan Navier-Stokes dilakukan dengan meninjau beberapa asumsi penyederhanaan yaitu: fluida bersifat tak termampatkan, parameter aliran bergantung pada arah spasial x dan y, serta semua variabel dianggap sebagai fungsi periodik. Pemodelan numerik dilakukan untuk menghitung ketidakstabilan Kelvin-Helmholtz lapisan campuran, evolusi struktur vorteks dan dipol vorteks. Ketidakstabilan Kelvin-Helmholtz divariasikan dengan nilai panjang gelombang gangguan sebesar l = 0.5Lx  dan l = 0.25Lx. Bilangan Reynolds (Re) divariasikan dengan nilai 1000, 3000, dan 5000. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa untuk ketiga Re tersebut, aliran fluida bersifat laminar, kritis, dan turbulen. Hal ini terindikasi oleh arah medan vortisitas serta distribusi massa jenis fluida. Semakin besar kecepatan aliran maka sifat aliran akan menjadi semakin acak atau turbulen. Kata kunci: Aliran fluida, Persamaan Navier-Stokes, Bilangan Reynolds, Vortisitas, Ketidakstabilan Kelvin-Helmholtz.   2-D Fluid Surface Flow Modeling using Finite-Difference Method Abstract Navier-Stokes equation is a complex non-linear second-order partial differential equation describing a fluid flow. Solving and modeling the fluid flow, a numerical method called finite difference method is frequently used. Several assumptions are incorporated in solving numerically Navier-Stokes equation: the fluid is incompressible, fluid flow parameters depend on its positions, and all variables are considered as periodic functions. In this paper numerical calculation has been carried out to model the Kelvin-Helmholtz instability of mixed layer, evolution of vortex structure and vortex dipole. The calculation is done by varying perturbation wavelength l = 0.5Lx  and l = 0.25Lx. Reynolds number (Re) is varied at 1000, 3000, and 5000. The results show that for the three values of Re, the properties of the flows are laminar, critical, and turbulent, respectively as indicated by the vorticity direction and distribution of fluid density. The larger value of fluid velocity, the more random and turbulent the fluid is. Keywords: Fluid flow, Navier-Stokes equation, Reynolds number, Vorticity, Kelvin-Helmholtz instability.

Interpretation of 1D Vector Controlled-Source Audio-Magnetotelluric (CSAMT) Data Using Full Solution Modeling

Journal of Mathematical and Fundamental Sciences Vol 45, No 2 (2013)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1332.528 KB)

Abstract

In conventional controlled-source audio-magnetotelluric (CSAMT) prospecting, scalar CSAMT measurement is usually performed because of its simplicity and low operational cost. Since the structure of earth’s conductivity is complex, the scalar CSAMT method can lead to a less accurate interpretation. The complex conditions need more sophisticated measurements, such as vector or tensor CSAMT, to interpret the data. This paper presents 1D vector CSAMT interpretation. A full solution 1D CSAMT forward modeling has been developed and used to interpret both vector and scalar CSAMT data. Occam’s smoothness constrained inversion was used to test the vector and scalar CSAMT interpretations. The results indicate the importance of vector CSAMT to interpret CSAMT data in complex geological system.

KOREKSI STATIK DATA CSAMT (CONTROLLED SOURCE AUDIO-FREQUENCY MAGNETOTELLURIC) MENGGUNAKAN TEKNIK SPATIAL FILTERING

JOURNAL ONLINE OF PHYSICS Vol 1, No 1 (2015): JoP
Publisher : Prodi Fisika FST UNJA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

CSAMT adalah metoda elektromagnetik dengan domain frekuensi dengan menggunakan dipol yang ditanahkan sebagai sumber sinyal buatan. Pengukuran CSAMT dengan jarak sumber medan primer terhadap penerima yang berhingga menyebabkan gelombang yang ditangkap penerima bersifat kompleks. Pergeseran nilai medan listrik karena ada efek statik menyebabkan kurva resistivitas terangkat naik atau turun. sehingga mempengaruhi data hasil pengukuran. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh data CSAMT yang sudah terkoreksi efek statik. Metode penelitian yang digunakan untuk menghilangkan efek statik digunakan teknik spatial filtering. Pada penelitian ini diperoleh data CSAMT yang sudah terkoreksi efek statik sehingga dapat diinterpretasikan dengan baik. Kata kunci : CSAMT; Efek Statik; Spatial Filtering.

Multifractal Characterization of Pore Size Distributions of Peat Soil

Journal of Mathematical and Fundamental Sciences Vol 48, No 2 (2016)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.755 KB)

Abstract

This paper discusses a multifractal analysis of the microscopic structure of peat soil. The aim of this study was to apply the multifractal technique to analyze the properties of five slices of peat soil (L1-L5). Binary images (220 x 220 pixels, with a conversion value of 9.41 μm/pixel) were made from the thin slices and then analyzed. This analysis was conducted to obtain the relationship between physical parameters and complexity parameters. The results showed that the spectrum of f(α) can describe well the pore size distribution and average size of pores correlated with the value of D(0). A high value of the average pore size is followed by a low D value and vice versa.

Perpindahan Panas pada Media Berpori Menggunakan Metode Elemen Hingga

Jurnal Saintifik Vol 4, No 2 (2018): volume 4 nomor 2 juli 2018
Publisher : Fakultas MIPA UNSULBAR

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masuknya aliran panas dari bawah reservoir ke dalam medium berpori di dalamnya mempengaruhi kondisi tekanan, entalpi, dan temperatur di dalam reservoir. Hal ini terjadi karena panas mengalir dari daerah bertemperatur tinggi ke daerah bertemperatur lebih rendah. Panas mengalir melalui daerah patahan (fracture zone) yang memiliki permeabilitas dan porositas lebih tinggi dari daerah sekitarnya di dalam reservoir untuk kemudian terjadi perpindahan panas secara konduksi menuju daerah sekitarnya. Tulisan ini mensimulasikan proses perpindahan panas dengan mengamati distribusi temperatur dan aliran fluida pada medium berpori. Metode numerik yang digunakan adalah metode elemen hingga. Hasil yang ditampilkan adalah distribusi tekanan, kecepatan aliran fluida, dan distribusi temperatur dan kemudian diinterpretasikan.Kata kunci: permeabilitas, porositas, kecepatan, distribusi temperatur, metode elemen hingga.

Analisis Parameter Anomali SP Menggunakan Metode Inversi Non linier Pendekatan Linier

Jurnal Saintifik Vol 5, No 1 (2019): Volume 5 Nomor 1
Publisher : Fakultas MIPA UNSULBAR

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

nterpretasi anomali self-potential (SP) model geometri sederhana (fixed geometry) sederhana, dilakukan untuk menghitung kedalaman, sudut polarisasi benda, moment dipole listrik, dan bentuk struktur benda dibawah permukaan yang mempengaruhi data SP yang diamati diatas permukaan. Dalam mengidentifikasi parameter anomali SP akibat dari model fixed geometry dibawah permukaan bumi dapat dilakukan dengan cara pemodelan inversi. Dalam tulisan ini pemodelan inversi diselesaikan menggunakan pendekatan linier dengan metode least-square terbobot dan metode Levenberg-Marquardt. Kedua metode ini diaplikasikan untuk menentukan nilai parameter dari anomali self-potential akibat struktur sesar, dengan menganggap struktur sesar menyerupai bentuk lempeng. Metode least-square terbobot dan Levenberg-Marquardt mampu mengikuti pola hasil data pengukuran di lapangan. Kedua metode inversi tersebut efisien karena proses perhitungannya yang relatif singkat serta nilai parameter model struktur lempeng hasil perhitungan kedua metode tersebut menunjukkan hasil yang sama hanya terdapat sedikit selisih perhitungan pada nilai kemiringan sudut lempeng.Kata kunci: anomali self-potential, fixed geometry, pendekatan linier