Agung Wiyono
Kelompok Keahlian Teknik Sumber Daya Air, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan. Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha No. 10 Bandung.

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

KAJIAN PERAN SERTA PETANI DALAM OPERASI DAN PEMELIHARAAN INFRASTRUKTUR JARINGAN IRIGASI DENGAN PENDEKATAN THEORY OF PLANNED BEHAVIOUR (TPB) (STUDI KASUS : DAERAH IRIGASI CIRASEA KABUPATEN BANDUNG, JAWA BARAT) Rismanto, Rismanto; Wiyono, Agung; Wachyuni, Sri
Jurnal Sosioteknologi Vol 12, No 30 (2013)
Publisher : Kelompok Keahlian Ilmu Kemanusiaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.136 KB) | DOI: 10.5614/sostek.itbj.12.30.4

Abstract

pemeliharaan infrastruktur jaringan irigasi. Menurut Peraturan Pemerintah No. 20 tahun 2006 tentang irigasi disebutkan bahwa “Partisipasi masyarakat petani dalam pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi diwujudkan mulai pemikiran awal, pengambilan keputusan, dan pelaksanaan kegiatan dalam pembangunan, peningkatan, operasi, pemeliharaan, dan rehabilitasi”. Penelitian ini difokuskan pada dua kelompok Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dalam satu kecamatan dan gabungan P3A (GP3A) dengan masing-masing jumlah responden masing-masing 25 responden. Lokasi penelitian berada di Desa Ciheulang pada petak tersier Glk 7 ka dan Desa Ciparay pada petak tersier Kja 2 ka. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa Variabel Attitude Toward Behaviour (ATB), Subjective Norm (SN), dan Perceived Behaviour Control (PBC) berpengaruh positif terhadap maksud petani dalam memilih turut berperan atau tidak dalam OP jaringan irigasi. Petani yang mempunyai maksud yang tinggi dalam partisipasi OP jaringan irigasi mempunyai tingkat produktivitas lahan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan petani yang mempunyai maksud yang rendah. Korelasi ATB, SN, PBC dan niat masuk dalam kategori “sangat kuat”. Begitu juga korelasi antara Intensi dan produktivitas sawah dari petani masuk dalam kategori “sangat kuat”. Petani yang intensi terhadap OP jaringan irigasi masuk dalam kategori sangat baik mempunyai produktifitas sawah rata-rata 4,5 ton/ha/tahun jika dibandingkan dengan petani yang intensi terhadap OP jaringan irigasi masuk dalam kategori rendah. Model hubungan antara variabel independen ATXB (X1), SN (X2) dan PBC (X3) terhadap variabel dependen Intensi (Y) adalah Y = -0,116 + 0,130X1 + 0,530X2 +0,362X3 dengan syarat batas nilai X1, X2, X3 harus lebih besar dari nol dan Y tidak boleh negatif. Sedangkan model hubungan antara variabel independen Intensi (Y) terhadap variabel dependen Produktifitas (Z) adalah Z = 4,723+0,267 Y. dengan syarat batas nilai intensi (Y) harus lebih besar dari 12,5 dan lebih kecil dari 38,84 Kata Kunci : theory of planned behavior, partisipasi Petani, DI. Cirasea Participation of public, especially farmers, plays a very important role in the operation and maintenance of irrigation network infrastructure. According to the Government’s Regulation No. 20 of 2006 concerning irrigation, it is mentioned that “Participation of the farmers in the development of the irrigation systems and refineries is realized starting from the initial concept, decision making, and implementation of activities in the construction, improvement, operation, maintenance and rehabilitation. This study focused on two groups of Water User Farmer Association (P3A) in one district and Joint P3A (GP3A) with each drawn number of respondents of 25 respondents. Research sites were located in the Village at tertiary GLK Ciheulang 7 ka and Ciparay Village at tertiary KJA 2 ka. The result showed that the variables Attitude toward Behavior (ATB), Subjective Norm (SN), and Perceived Behavior Control (PBC) have a positive effect on farmers intentions that play a role or not in choosing an operation and maintenance (OP) of irrigation network. Farmers who have high intensity in participation in Operation and maintenance (OP) have a network of irrigation land productivity levels higher than the farmers who have a lower intensity. Variable correlation ATB, SN, PBC and intention into the category of "very strong". So is the correlation between intention and productivity of rice farmers in the category of "very strong”. Farmers whose intentions towards Operational and maintenance (OP) in the category of irrigation excellent productivity of rice have an average of 4.5 tons/ha/year when compared to the intentions of the OP farmers’ irrigation network into the low category. Model ATXB relationship between the independent variable (X1), SN (X2) and PBC (X3) on the dependent variable Intention (Y) is Y = -0.116 + 0.130 X1 + 0.530 X2 +0.362 X3 with boundary condition values X1, X2, X3 must be greater than zero and Y cannot be negative. Meanwhile, the model of the relationship between the independent variables Intention (Y) on the dependent variable productivity (Z) is Z = 4.723 +0.267 Y. With the intention o boundary value (Y) must be greater than 12.5 and less than 38.84 Keywords : Theory Of Planned Behavior, Farmer Participation, DI. Cirasea
Kajian Peran Serta Petani Terhadap Penyesuaian Manajemen Irigasi untuk Usaha Tani Padi Metode SRI (System of Rice Intensification) di Petak Tersier Daerah Irigasi Cirasea, Kabupaten Bandung, Jawa Barat Wiyono, Agung; Legowo, Sri; Nugroho, Joko; Nugroho, Christian Adi
Jurnal Teknik Sipil Vol 19, No 1 (2012)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (888.425 KB)

Abstract

Abstrak. Budidaya dan penerapan metode SRI (System of Rice Intensification) sifatnya sangat kompleks, dengan adanya teknologi pertanian yang terkait dengan aspek sosial-budaya masyarakat petani dan pengemban kebijakan, lambat laun akan mendorong terjadinya perubahan pada manajemen irigasi. Tujuan dari penelitian ini adalah meneliti seberapa besar pengaruh dari peran serta petani dalam upaya menyesuaikan manajemen irigasi untuk usaha tani padi metoda SRI di daerah irigasi Cirasea, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Dengan responden 88 orang kelompok tani SRI dan 14 orang dari instansi, diperoleh hasil penelitian: variabel kelembagaan (X1), Irigasi(X2), dan Partisipasi Petani dan Sistem Pendukung(X3), secara bersama-sama berpengaruh terhadap Penyesuaian Manajemen Irigasi SRI (Y) nilai korelasi 0,672. (Hubungan kuat), dimana persamaan regresinya adalah Y= 6,957 + 0,239 X1 - 0,327 X2 + 0,604 X3. Partisipasi Petani dan Sistem Pendukung (X3) merupakan faktor dominan yang paling berperan dalam memprediksi tingkat penyesuaian manajemen irigasi SRI dengan nilai koefisien regresi 0,604. Dari sisi institusi didapatkan Pilihan untuk Berpartisipasi (X1), Tekanan Sosial Dalam Bertingkah Laku (X2) dan Kontrol dalam Tingkah Laku (X3) secara bersama-sama berpengaruh terhadap Itensi (Y) dengan nilai korelasi 0,783 (Hubungan kuat), dimana persamaan regresinya adalah Y= 0,854 - 0,286 X1 + 0,558 X2 + 0,693 X3. Variabel Kontrol dalam Tingkah Laku (X3)merupakan faktor dominan yang paling berperan dalam memprediksi variabel Itensi (Y) dengan nilai koefisien regresi0,693.Abstract. Cultivation and application of the SRI (System of Rice Intensification) method are very complex, with the presence of agriculture technology associated with socio-cultural aspects of farming communities and policy holders, eventually leading to changes in irrigation management. The purpose of this study was to test how much the influence of farmers participation in irrigation management efforts to adjust the SRI method of rice farming in irrigated areas Cirasea, Bandung regency, West Java. With 88 respondents from SRI farmer groups and 14 respondents from the agency, they obtained the results of the research: institutional variables (X1), Irrigation (X2), and Farmer Participation and Supports System (X3). They affect SRI Irrigation Management Adjustment (Y)  values correlation of 0.672 (Strong relationship) with the regression equation Y= 6,957 + 0,239 X1 - 0,327 X2 + 0,604. Farmer Participation and Support System (X3) are the most dominant factors play a role in predicting the level of irrigation management SRI adjustments to the value of regression coefficient of 0.604. In the case of agencies found that the Option To Participate (X1), Social Pressure In Practice Acting (X2) and Control of Behavior (X3) jointly affect Itensi (Y) with a 0.783 correlation value (strong ties). With the regression equation Y= 0,854 - 0,286 X1 + 0,558 X2 + 0,693, the unknown variable in the Control of Behavior (X3) is the most dominant factors play a role in predicting Itensi variable (Y) with a regression coefficient value of 0.693.
Perbandingan Gerusan Lokal yang Terjadi di Sekitar Abutment Dinding Vertikal Tanpa Sayap dan dengan Sayap pada Saluran Lurus, Tikungan 90°, dan 180° (Kajian Laboratorium) Wiyono, Agung; Nugroho, Joko; Widyaningtias, Widyaningtias; Zaidun, Eka Risma
Jurnal Teknik Sipil Vol 18, No 1 (2011)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.524 KB)

Abstract

Abstrak. Fenomena kerusakan jembatan akibat gerusan pada pondasi pier atau abutment sulit diamati secara langsung. Salah satu metode untuk menyederhanakan adalah dengan pemodelan fisik di laboratorium. Tujuan penulisan jurnal ini adalah membandingkan gerusan yang terjadi di sekitar abutment dinding vertikal tanpa sayap dan dengan sayap pada saluran lurus, tikungan 90o, dan 180o. Perbandingan difokuskan pada gerusan lokal jenis live -bed scour dan terjadinya transportasi sedimen sepanjang pengaliran debit 4, 5, 6, dan 7 liter/detik pada model saluran. Penelitian dilakukan dengan membangun model saluran terbuka dengan dinding fiberglass dan dasar saluran terbuat dari semen, saluran memiliki bagian lurus serta sudut tikungan 90° dan 180°. Hasil parameter fisik berupa kecepatan dan kedalaman gerusan, dibandingkan secara analitik dengan menggunakan Formula Laursen (1960), Froehlich (1989), dan Mellvile (1997). Hasil perbandingan menunjukkan bahwa pada abutment dinding vertikal tanpa sayap, hasil perhitungan Formula Laursen paling mendekati hasil pengamatan dengan persentase kesalahan 20,02%. Sedangkan untuk abutment dinding vertikal dengan sayap, persentase kesalahan terkecil sebesar 28,17%, dengan menggunakan Formula Froehlich (1989). Untuk abutment dinding vertikal tanpa sayap, kedalaman gerusan maksimum terjadi di sekitar hulu abutment, dan segmen tengah abutment untuk abutment dinding vertikal dengan sayap. Untuk kedua tipe abutment sedimentasi tertinggi terjadi di sebelah hilir.Abstract. The damage phenomenon of the bridge due to scour on pier foundation or abutment is difficult to observe directly. One of the methods to simplify this phenomenon is modeling in the laboratory. The purpose of this research is to compare scouring around vertical wall and vertical wing-wall abutment in straight channel, 90o, and 180o curve channel. Scouring comparison focused on the live-bed scour and the occurrence of sediment transport along the 4, 5, 6, and 7 liters / second discharge on the channel model. Results of physical parameters such as velocity and depth of scouring compared with the analytical using Laursen (1960), Froehlich (1989), and Mellvile (1997) formula. The result from each calculation will be compared with the observation data. The resultshows that maximum scouring for vertical wall and vertical wing-wall abutment occurred in upstream and middle of abutment respectively. Furthermore, sedimentation for both of types is around downstream of abutment. From the analytical comparison, Laursen’s Formula gives closer accuracy for vertical wall abutment than others formulas, with the percentage of error is about 20,02%. While, Froehlich’s Formula gives 28,17% for wing-wall abutment.
PEMANTAUAN PROSES INJEKSI AIR PADA LAPANGAN “SMR” CEKUNGAN SUMATERA TENGAH BERDASARKAN DATA ANOMALI TIME-LAPSE MICROGRAVITY Pratiwi, Dian; Sarkowi, Muh; Haerudin, Nandi; Wiyono, Agung
Jurnal Geofisika Eksplorasi Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Geofisika Eksplorasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang monitoring proses injeksi pada lapangan “SMR” Cekungan Sumatera Tengah dengan menggunakan metode gayaberat mikro. Metode time-lapse microgravity merupakan pengembangan dari metode gayaberat (x,y,z) dengan menambahkan dimensi keempat yakni waktu (t). Monitoring dilakukan pada lapangan-lapangan produksi yang telah melakukan EOR (Enchanced Oil Recovery) yakni proses menginjeksikan air kedalamreservoar untuk mendorong dan menguras sisa-sisa minyak pada pori-poribatuan reservoar ke sumur produksi.Pengolahan data gayaberat mikro dilakukan dengan mencari selisih nilai gayaberat observasi antara pengukuran kedua dan pertama, selanjutnya melakukan analisis spektral untuk memisahkan anomali pada kedalaman reservoar dan noise.Anomali time-lapse microgravity memiliki nilai sebesar-132.28 µGal hingga 0.053 mGal.Anomali positif berhubungan dengan proses injeksi, sedangkan anomali negatif berhubungan dengan proses produksi pada daerah penelitian. Analisis filtering menunjukan terdapat dua zona dinamika fluida, yakni  akibat proses dinamika air permukaan (air tanah diatas reservoar) dan yang terjadi pada reservoar. Zona pengurangan fluida terjadi pada daerah-daerah dengan jumlah sumur produksi lebih banyak dari sumur injeksi.Pengurangan densitas terjadi pada lapisan reservoar yakni pada kedalaman 600 m hingga 1000 m dengan nilai maksimum pengurangan sebesar -3.1x10-3 gr/cm3.Model inversi gayaberat time-lapse menunjukan adanya beberapa sumur injeksi yang kurang efektif sehingga perlu dihentikan injeksinya.  ABSTRACT                     There had been done a regional research about monitoring of injection process in "SMR" field of Central Sumatera Basin using microgravity method. The time-lapse microgravity method is the development of the gravity method (x, y, z) by adding the fourth dimension of time (t). Monitoring is carried out on production fields that have performed EOR (Enchanced Oil Recovery) ie the process of injecting water into the reservoir to push and drain the remnants of oil in the pores of the reservoir rock to the production well. The microgravity data processing is done by finding the difference between observed gravity values between the first and the second measurements, then performing the spectral analysis to separate the anomaly at reservoir depth and noise. The time-lapse microgravity anomaly has a value of -132.28 μGal to 54.89 μGal. Positive anomalies are related to the injection process, whereas the negative anomalies are related to the production process in the study area. Filtering analysis shows that there are two zones of fluid dynamics, which is due to the process of surface water dynamics (groundwater above reservoir) and that occurs in the reservoir. Fluid reduction zones occur in areas with more production wells than injection wells. Density reduction occurs in the reservoir layer at a depth of 600 m to 1000 m with a maximum reduction value of -3.1x10-3 gr / cm3. The gravity time-lapse inversion model shows the existence of several injection wells that are less effective and therefore need to be stopped injecting. Keywords— Microgravity, Enchanced Oil Recovery (EOR), Gravity Observation, Spectral Analysis, Density