Khursatul Munibah
Departemen Imu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Institut Pertanian Bogor (IPB)

Published : 25 Documents
Articles

Found 23 Documents
Search

APPRAISAL KEBERLANJUTAN MULTIDIMENSI PENGGUNAAN LAHAN UNTUK SAWAH DI KARAWANG - JAWA BARAT Widiatmaka, Widiatmaka; Munibah, Khursatul; Sitorus, Santun R.P.; Ambarwulan, Wiwin; Firmansyah, Irman
Jurnal Kawistara Vol 5, No 2 (2015)
Publisher : Sekolah Pascasarjana UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesian national food sovereignty is very dependent on the supply of rice from paddy fields in Java Island. Various factors influence the farmer’s decision to continue using his farm. This study aims to analyze the sustainable use of paddy field, determinant factors and strategies for improving sustainability. The study was conducted in Karawang Regency, one of the centers of rice production in West Java. The methodology used is a multi-dimensional scaling (MDS) using 43 attributes of 5 dimensions (ecological, social, economical, technological and legal and institutional dimension). Against the sensitive attribute analysis resulting from MDS, a prospective analysis was conducted to determine the key factors of sustainability. Priority policies for improving sustainability are developed based on the location of the key factors in the prospective diagram. The research results showed that the land utilization for paddy field in Karawang is actually less sustainable. Increasing the sustainability can be done through intervention and improving performance, preferably on sensitive attributes resulting from leverage analysis, covering 16 attributes. Priority policies is directed in the 5 key factors resulting from prospective analysis. Policies suggested are the tightening of new permits for building, strict implementation of the official spatial land use planning and delineation of agricultural land for sustainable food crops, counseling the community, revitalizing the role of BULOG, provision of subsidies as well as capital assistance to farmers.
APPRAISAL KEBERLANJUTAN MULTIDIMENSI PENGGUNAAN LAHAN UNTUK SAWAH DI KARAWANG - JAWA BARAT Widiatmaka, Widiatmaka; Munibah, Khursatul; Sitorus, Santun R.P.; Ambarwulan, Wiwin; Firmansyah, Irman
Jurnal Kawistara Vol 5, No 2 (2015)
Publisher : Sekolah Pascasarjana UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.7591

Abstract

Indonesian national food sovereignty is very dependent on the supply of rice from paddy fields in Java Island. Various factors influence the farmer’s decision to continue using his farm. This study aims to analyze the sustainable use of paddy field, determinant factors and strategies for improving sustainability. The study was conducted in Karawang Regency, one of the centers of rice production in West Java. The methodology used is a multi-dimensional scaling (MDS) using 43 attributes of 5 dimensions (ecological, social, economical, technological and legal and institutional dimension). Against the sensitive attribute analysis resulting from MDS, a prospective analysis was conducted to determine the key factors of sustainability. Priority policies for improving sustainability are developed based on the location of the key factors in the prospective diagram. The research results showed that the land utilization for paddy field in Karawang is actually less sustainable. Increasing the sustainability can be done through intervention and improving performance, preferably on sensitive attributes resulting from leverage analysis, covering 16 attributes. Priority policies is directed in the 5 key factors resulting from prospective analysis. Policies suggested are the tightening of new permits for building, strict implementation of the official spatial land use planning and delineation of agricultural land for sustainable food crops, counseling the community, revitalizing the role of BULOG, provision of subsidies as well as capital assistance to farmers.
PERENCANAAN SPASIAL PENINGKATAN PRODUKSI KEDELAI BERBASIS KESESUAIAN LAHAN DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Widiatmaka, Widiatmaka; Ambarwulan, Wiwin; Munajati, Sri Lestari; Munibah, Khursatul; Murtilaksono, Kukuh; Tambunan, Rudi P; Nugroho, Yusanto A; Santoso, Paulus B.K.; Suprajaka, Suprajaka; Nurwadjedi, Nurwadjedi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-2.86

Abstract

Pemanfaatan data survei tanah dan evaluasi lahan dilakukan untuk perencanaan peningkatan produksi kedelai menjawab tantangan kelangkaan pasokan kedelai di Kab. Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Data yang digunakan adalah hasil survei oleh Pusat Pemetaan dan Integrasi Tematik, Badan Informasi Geospasial dilengkapi dengan analisis citra dan evaluasi lahan fisik dan ekonomi untuk kedelai. Analisis kesesuaian lahan fisik dan ekonomi untuk kedelai dilakukan menggunakan Automated Land Evaluation System (ALES). Penggunaan lahan diinterpretasi menggunakan citra SPOT-5, dipertajam dengan data lebih detil menggunakan citra IKONOS dari Kementerian Pertanian. Hasil-hasil analisis diinterpretasi dalam term potensi intensifikasi kedelai pada lahan sawah eksisting dan potensi perluasan tanaman kedelai pada lahan kering yang potensial. Hasil analisis menunjukkan bahwa di wilayah Kabupaten Lombok Timur masih dimungkinkan dilakukan intensifikasi dan ekstensifikasi untuk peningkatan produksi kedelai dalam rangka peningkatan ketahanan pangan regional. Persoalannya, keuntungan petani dalam budidaya kedelai pada berbagai kelas kesesuaian lahan jauh lebih kecil dibandingkan pengusahaan padi sawah. Perencanaan fisik berbasis kesesuaian lahan perlu diikuti dengan upaya menciptakan kondisi agar penanaman kedelai menarik bagi petani dari sisi ekonomi.Kata Kunci: Ketahanan Pangan, SPOT-5, Kesesuaian Lahan, Sistem Evaluasi Lahan Otomatis.ABSTRACTData from soil survey and land evaluation were used in planning for increasing  soybean production, answering the lack of soybean supply in East Lombok Regency, West Nusa Tenggara Province. The results of the survey of Center for Integrated Mapping, Geospatial Information Agency were used, combined with image analysis and physical and economical land suitability analysis for soybeans. Analysis of physical and economical land suitability for soybean was performed using Automated Land Evaluation System (ALES). Land use was interpreted using SPOT-5 imagery, completed by the data of IKONOS imagery from Ministry of Agriculture. The results of the analysis were interpreted in terms of the potential intensification of soybean on existing ricefield and the potential expansion of soybean crops ondry land. The analysis showed that in East Lombok Regency, there is still possible to do the intensification and extension of soybean in order to improve regional food security. The problem is, benefit of farmers in the cultivation of soybeans in various land suitability classes are much smaller than rice cultivation. Physical planning based on land suitability needs to be coupled with efforts to create an attractive situation to farmers for planting soybean.Keywords: Food Security, SPOT-5, Land Suitability, Automated Land Evaluation System.
PEMANFAATAN CITRA QUICK BIRD UNTUK VERIFIKASI PETA BERBASIS KEPEMILIKAN LAHAN (STUDI KASUS: DELTA CIPUNAGARA, KABUPATEN SUBANG, JAWA BARAT) Munibah, Khursatul; Iswati, Asdar; Tjahjono, Boedi
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitl.14.1.37-43

Abstract

Pemetaan kadastral atau pemetaan berbasis kepemilikkan lahan telah diamanatkan oleh Pemerintah yang tertuang dalam Keputusan Presiden RI Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan yaitu pada Pasal 1 ayat 3. Namun kebijakan ini belum terrealisasi secara nasional. Kantor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Kabupaten Subang, Jawa Barat telah melakukan pemetaan lahan berbasis kepemilikan lahan, yaitu peta persil lahan tambak di Delta Cipunagara yang dilakukan secara terestris. Di sisi lain, telah banyak tersedia data penginderaan jauh resolusi tinggi seperti Citra Quick Bird yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari manfaat Citra Quick Bird untuk verifikasi peta persil lahan tambak. Hasil verifikasi menunjukkan bahwa (1) terdapat perbedaan bentuk Delta Cipunagara yang bersumber dari PBB dan Citra Quick Bird; (2) persil tambak yang dibatasi dengan ”galengan” saja mudah diidentifikasi dari Citra Quick Bird; (3) terdapat perbedaan posisi blok dan persil tambak antara Peta Persil dari Kantor PBB dan Citra Quick Bird; dan (4) terdapat pergeseran posisi persil tambak antara peta yang bersumber dari Kantor PBB dengan Citra Quick Bird, berkisar (1.5-57.2) m, dengan rata-rata 19.9 m. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa luas persil yang bersumber dari Kantor PBB memiliki kesesuaian yang tinggi dengan luas persil hasil pengukuran lapang (R2=93.0%). Demikian juga untuk luas persil dari Citra Quick Bird memiliki kesesuaian yang tinggi dengan luas persil dari Kantor PBB (R2=94.3%). Namun tingkat kesesuaian antara luas persil dari Citra Quick Bird dan pengukuran lapang relatif lebih rendah (R2 = 63.2%).
Improved Profits and Wetland Paddy Farming Scale as the Leading Commodity in Agro ecological Zones Mulyono, Joko; Hadi, Setia; Munibah, Khursatul
Jurnal Ekonomi Pembangunan: Kajian Masalah Ekonomi dan Pembangunan Vol 17, No 1 (2016): JEP June 2016
Publisher : Universitas Muhammdaiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jep.v17i1.1691

Abstract

This study aims to analyze the feasibility of paddy farming as the leading commodity according agro-ecological zones (AEZ), increase in net profit and the scale of farming. The study was conducted at the location of the paddy fileds as leading commodity and non-leading commodity Bantul Regency in 2015. The feasibility of farming analyzed by revenue and cost ratio (R/C), the increase in profits was analyzed with an increase in net profit (NKB) and the scale of farming analyzed by determining the break even point of production (TIP) or break even point of price (TIH). The results showed that paddy farming as the leading commodity according agro ecological zones in Bantul is feasible and more optimal (R/C 2.17) than the non leading commodity (R/C 1.99). Paddy farming as the leading commodity according agro ecological zones can raise the net profit (NKB 1.13). Paddy farming as the leading commodity according agro ecological zones can provide benefits if the production is at least 2,729 kg/ha or the price is at least Rp. 1,643/kg.
ANALISIS SPASIAL PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DALAM KAITANNYA DENGAN PENATAAN ZONASI KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN-SALAK Ilyas, Muhamad; Munibah, Khursatul; Rusdiana, Omo
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-1.48

Abstract

ABSTRAKTaman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) merupakan salah satu taman nasional yang memiliki ekosistem hutan hujan tropis terluas di Pulau Jawa. Berbagai kegiatan pemanfaatan lahan oleh masyarakat di dalam wilayah kelola TNGHS yang tidak sesuai dengan rencana zonasi TNGHS akan menyebabkan terganggunya ekosistem hutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perubahan penggunaan lahan periode 2000-2010 dan faktor yang mempengaruhi perubahannya, serta untuk memprediksi penggunaan lahan tahun 2026 menggunakan model spasial perubahan penggunaan lahan dan merumuskan arahan penggunaan lahan di kawasan TNGHS. Simulasi perubahan penggunaan lahan berdasarkan pada faktor yang mempengaruhinya dilakukan dengan menggunakan model Conversion of Land Use and its Effects at Small Regional Extent (CLUE-S). Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode 2000-2010, penggunaan lahan yang mengalami penurunan luas adalah hutan sebesar 5,55%. Penggunaan lahan yang mengalami peningkatan luas adalah ladang 2,21%, sawah 1,46%, semak 0,63%, lahan terbangun 0,34%, kebun campuran 0,60%, dan kebun teh 0,32%. Faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi non-hutan adalah kepadatan penduduk. Model CLUE-S yang disimulasikan memiliki ketelitian sebesar 88,53%. Arahan penggunaan lahan di kawasan TNGHS dalam penelitian ini adalah kebijakan restorasi hutan pada zona rehabilitasi, zona rimba, dan zona inti yang dapat mengurangi ketidaksesuaian penggunaan lahan dengan zonasi pada tahun 2026 menjadi 9,23%.Kata Kunci: perubahan penggunaan lahan, model spasial, CLUE-S, Sistem Informasi Geografis,Taman Nasional Gunung Halimun-SalakABSTRACTGunung Halimun-Salak National Park (GHSNP) is the largest tropical rain forest ecosystem in Java. A variety of landuse activities by communities that does not comply with the zoning plan of GHSNP will cause degradation of the forest ecosystem. This study aims to analyze landuse changes during the period of 2000-2010 and the driving factors of the landuse changes, and to predict the use of land in 2026 using spatial models of landuse change to formulate directives refinement for the landuse planning of GHSNP. Simulation of the landuse change based on its driving factors was carried out using the Conversion of Landuse and its Effects at Small Regional Extent (CLUE-S) model. The results show that there were changes in the landuse during the 2000-2010 periods. The most extensive landuse decline was forest that decreased by 5.5%. On the other hand, the landuse that extensively increased was cultivated land that increased by 2.21%, consisted of rice field that increased by 1.46%, bush that increased by 0.63%, mixed vegetation that increased by 0.60% and tea plantation that increased by 0.32%. The driving factor of the landuse changes from forest to non-forest was density population. CLUE-S prediction produced an accuracy of 88.53%.The policy of the directive landuse of the TNGHS region selected based on this study was the forest restoration on rehabilitation zones, forest zone, and core zone that could reduce the un-suitability landuse plan in the year 2026 by 9.23%.Keywords: landuse change, spatial model, CLUE-S, Geographical Information System, Gunung Halimun-Salak National Park
MODEL SPASIAL PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI TAMAN NASIONAL GUNUNG MERBABU DAN DAERAH PENYANGGANYA Alkaf, Muhamad; Munibah, Khursatul; Rusdiana, Omo
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-1.49

Abstract

ABSTRAKTaman Nasional Gunung Merbabu adalah salah satu kawasan konservasi yang mencapai kondisi ecological-overstress disebabkan oleh tekanan penduduk. Penutupan lahan hutan hanya tersisa 30% dari keseluruhan kawasan Taman Nasional dengan laju deforestasi mencapai 3% per tahun. Perubahan penggunaan lahan yang terjadi mengindikasikan adanya perubahan ekosistem yang dapat mengancam fungsi kawasan terutama fungsi ekologi. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi penutupan lahan di masa yang akan datang dengan mengetahui pola perubahan tutupan lahan di masa lalu hingga saat ini. Metode Cellular Automata Markov (CA Markov) digunakan untuk membuat model spasial perubahan penggunaan lahan. Hasil dari penelitian ini adalah prediksi penggunaan lahan pada tahun 2025 dan rumusan skenario untuk mengatasi perubahan tersebut. Deforestasi diprediksi akan terus terjadi di masa yang akan datang, usaha yang penting untuk dilakukan adalah mengurangi laju deforestasi.Kata Kunci: Gunung Merbabu, perubahan penggunaan lahan, prediksiABSTRACTMerbabu Mountain National Park is one among conservation areas with ecological-overstress condition caused by population pressure. Forest cover in that area is only remains 30% and deforestation rate reaches 3% per year. The occurrence of landuse changes indicates the changes on ecosystem that threaten the ecological function of the area. This study modeled to predict the future landuse by determines the pattern of landuse change in the past to the present. This research uses CA Markov (Cellular Automata Markov) method to derive spatial landuse changes model. The results of this study were landuse prediction in 2025 and scenarios to cope with the changes. The deforestation was predicted to continue in the future, so that the necessary attempt is needed to reduce the rate of deforestation.Keywords: Merbabu Mountain, landuse change, prediction
EVALUASI MULTI-KRITERIA UNTUK KESESUAIAN LAHAN BUDIDAYA LEBAH MADU DI KABUPATEN CIANJUR Rachmawati, Nia; Munibah, Khursatul; Widiatmaka, Widiatmaka
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-1.54

Abstract

ABSTRAKKebijakan pembangunan kehutanan yang berbasis sumberdaya alam memberikan manfaat pada pengembangan hasil hutan bukan kayu melalui kegiatan usaha perhutanan rakyat, diantaranya pengembangan usaha perlebahan. Usaha ini cukup prospektif dari sisi pemenuhan kebutuhan dalam negeri, karena tingginya permintaan madu untuk berbagai kebutuhan seperti industri makanan dan farmasi. Salah satu wilayah yang berpotensi untuk pengembangan budidaya lebah madu adalah Kabupaten Cianjur. Di wilayah ini, budidaya lebah madu mulai diusahakan sejak tahun 2006. Jenis lebah madu yang dibudidayakan adalah Apis mellifera. Kendala utama yang dihadapi dalam budidaya tersebut adalah keterbatasan sumber pakan. Sifat migratory lebah Apis mellifera menyebabkan pada bulan-bulan tertentu harus digembalakan keluar Kabupaten Cianjur untuk meningkatkan produksi madu. Sebagai salah satu upaya untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Cianjur melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan menyusun Partisipatory Bisnis Plan (PBP) untuk membangun Taman Wisata Lebah. Konsep dasar dalam PBP adalah melaksanakan budidaya lebah madu secara terintegrasi. Atas dasar hal tersebut maka diperlukan penelitian untuk menentukan lokasi-lokasi yang paling berpotensi dan memungkinkan untuk dijadikan tempat budidaya lebah madu. Aspek biofisik maupun sosial merupakan faktor yang memberikan pengaruh terhadap keberlanjutan budidaya lebah madu. Pada penelitian ini, Sistem Informasi Geografis (SIG) digunakan untuk membangun kerangka model kesesuaian lahan untuk budidaya lebah madu melalui pendekatan evaluasi multi-kriteria dan proses hirarki analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa lokasi yang menjadi prioritas utama untuk pengembangan budidaya lebah madu,antara lain Kecamatan Cikalongkulon, Kecamatan Bojongpicung, Kecamatan Haurwangi, dan Kecamatan Sukaresmi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan arahan bagi pengembangan kegiatan budidaya lebah madu di Kabupaten Cianjur, termasuk prioritas wilayah untuk pengembangan budidaya lebah.Kata Kunci: Apis mellifera, budidaya lebah madu, analisis multi-kriteria, kesesuaianABSTRACTForestry development policy based on natural resources, providing the benefits to the development of non-timber forest products through social forestry operations, including beekeeping business. Beekeeping businesses is prospective in terms of domestic needs, because of the high demand for honey bee. This product is used for a variety of needs such as food and pharmacy industries. One of the potential areas for beekeeping development is Cianjur Regency, West Java. In this region, beekeeping was begun to be cultivated since 2006. The species of honey bee that is cultivated is Apis mellifera. The main problem encountered in the cultivation is limited forage resources. Apis mellifera is a migratory insect, causing the obligation of herded out Cianjur in certain months to increase honey production. As an effort to overcome this problem, Cianjur Government through the Agency of Forestry and Plantation has a Participatory Business Plan (PBP) to build a Tourist Park Bees. The basic concept of the PBP is to implement an integrated beekeeping culture. Based on such problem, studies are needed to determine spatially, the most potential location which allows serving as a beekeeping. The biophysical aspects as well as socio-economic aspects are factors that influence the continuity of beekeeping. In this study, the geographic information system (GIS) is used to construct a framework model for land suitability for beekeeping through a multi-criteria evaluation approach (MCE) and analytical hierarchy process (AHP). The result of the study showed that there are some priority areas for beekeeping development such as Cikalongkulon, Bojongpicung, Haurwangi, and Sukaresmi sub-districts. The results of this study are expected to provide direction for the beekeeping development in Cianjur Regency.Keywords: Apis mellifera, beekeeping, multi-criteria evaluation, suitability
POLA PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAN NERACA PANGAN DI KABUPATEN KARAWANG Rafiuddin, Alwan; Widiatmaka, Widiatmaka; Munibah, Khursatul
Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 18, No 1 (2016): Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
Publisher : Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitl.18.1.15-20

Abstract

Kabupaten Karawang merupakan salah satu wilayah lumbung padi di Jawa Barat. Dinamika perubahan penggunaan lahan dan tutupan lahan di wilayah ini relatif tinggi karena kedekatannya dengan ibukota negara, menyebabkan adanya dinamika wilayah dalam kemampuan memproduksi beras. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola perubahan penggunaan lahan dan tutupan lahan selama periode 2000-2013 dan hubungannya dengan neraca pangan dan produksi beras. Perubahan penggunaan lahan dan tutupan lahan diidentifikasi menggunakan citra Landsat TM tahun liputan 2000, 2003, 2007, 2010 dan 2013. Produksi dan produktivitas padi dianalisis dari data statistik Kabupaten Karawang tahun 2001-2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada periode antara tahun 2000 dan 2013, luas lahan sawah turun dari 116,268 ha menjadi 103,866 ha. Perubahan penggunaan lahan dan tutupan lahan terbesar adalah dari sawah menjadi pemukiman. Pemukiman yang terdiri dari lahan terbangun untuk tempat tinggal dan tempat bekerja meningkat dari 11,759 ha pada tahun 2000 menjadi 30,155 ha pada tahun 2013. Penggunaan lahan yang paling dominan berubah adalah lahan sawah dan pertanian lahan kering. Penurunan luas lahan sawah di Kabupaten Karawang selama 2000 - 2013 rata-rata 0.93% tahun. Penurunan luas lahan sawah ini telah mengakibatkan penurunan kontribusi untuk menyumbang beras keluar wilayah, sebesar 5% dalam kurun 13 tahun terakhir. Kata kunci: Neraca pangan, penggunaan lahan sawah, pola perubahan penggunaan lahan 
PENGEMBANGAN KAWASAN BUDIDAYA JAGUNG UNTUK PENINGKATAN PEREKONOMIAN KABUPATEN PEMALANG Harimurti, Eko Fitriono; Munibah, Khursatul; Sudadi, Untung
TATALOKA Vol 20, No 3 (2018): Volume 20 Number 3, August 2018
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.20.3.215-232

Abstract

Pemalang Regency had low economic rate, based on agriculture sector especially food crop sub-sector with Paddy and Maize as main contributor, had a high paddy fields conversion wich decreased the economic rate through Paddy production decreasement. The main objective of this research were to compose the Maize cultivation area development planning for Pemalang Regency economy improvement. The method used in this research were: mapping the Maize cultivation existing area, land suitability and availability evaluation, analysis of economic, marketing and correlation between Maize production with GDP growth and employment absorption. The results showed that there were about 1,804 ha of exsisting Maize cultivation area and 4,276 ha marginally suitable (S3) potential land. The Maize development were be feasible to be continued. Best benifit obtained from the channel that composed by Farmer-Depot-Industry, it gave lowest margin and highest farmers share. The Maize market in integrated condition. Allocation potential land and 285.66 ha of Perhutani’s area predicted gave 5.94% of agriculture sector increasement and absorb all unemployment in Pemalang Regency.