Runi Asmaranto
Jurusan Teknik Pengairan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Published : 34 Documents
Articles

Found 34 Documents
Search

Aplikasi Model AVSWAT 2000 untuk Memprediksi Erosi, Sedimentasi dan Limpasan di DAS Sampean Asmaranto, Runi; Suhartanto, Ery; Yuanita, Mike
Jurnal Teknik Pengairan Vol 2, No 1 (2011)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.775 KB)

Abstract

DAS Sampean merupakan salah satu DAS yang memiliki kondisi kritis, dengan musim penghujan pada Bulan Desember - Maret. Salah satu faktor yang menyebabkan kondisi DAS Sampean menjadi kritis adalah karena penggundulan hutan oleh masyarakat. Akibat kondisi DAS yang kritis tersebut, maka tingkat kekeringan dan banjir akan terus semakin bertambah apabila kondisi DAS tersebut tidak segera ditangani. Software AVSWAT 2000 adalah program yang berbasis SIG yang bekerja sebagai tambahan (Graphical User Interface) dalam software Arc View. Program AVSWAT 2000 dirancang khusus dan dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah- masalah yang ada dalam suatu DAS. Salah satu kemampuannya adalah untuk memprediksi erosi, sedimentasi dan limpasan yang ada pada DAS Sampean. Besarnya debit limpasan rata-rata pada DAS Sampean mulai tahun 1996 sampai dengan tahun 2005 sebesar 358,67 m3/dt, laju erosi rata –rata sebesar 303,98 ton/ha/th atau sekitar 25,33 mm/th dan sedimen sebesar416960,9 ton/th. Berdasarkan Indeks Bahaya Erosi, DAS Sampean memiliki Indeks Rendah sebesar 9,64% (11997,47 ha), Indeks Sedang sebesar 39,38% (48863,70 ha), Indeks Tinggi sebesar 3,16% (3929,83 ha), dan Indeks Sangat Tinggi sebesar 47,92%(59609,87 ha).Kata Kunci : DAS Sampean, Erosi, Sedimentasi dan Limpasan
PENGENDALIAN BANJIR DI SUB DAS JEROAN KABUPATEN MADIUN devianto, vindha bagus; Harisuseno, Donny; Asmaranto, Runi
Jurnal Teknik Pengairan Vol 8, No 2 (2017)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1302.317 KB)

Abstract

ABSTRAK: Banjir merupakan peristiwa alam yang dapat menimbulkan kerugian harta benda penduduk serta korban jiwa. Kondisi tersebut terjadi di sub DAS Jeroan di Kabupaten Madiun, dimana berdasarkan data yang diperoleh  menunjukkan bahwa  selama 12 tahun terakhir, banjir terbesar terjadi pada tahun 2007. Kajian ini bertujuan untuk menganalisa upaya pengendalian banjir di sub DAS Jeroan. AVSWAT 2000 digunakan untuk menghitung debit puncak banjir akibat pengaruh perubahan tataguna lahan, sedangkan debit banjir rancangan digunakan HSS Nakayasu dengan verifikasi dilakukan berdasarkan data debit banjir historis AWLR Jeroan. Untuk mengetahui kapasitas tampungan sungai Jeroan dilakukan analisis profil muka air dengan bantuan HEC-RAS 5.0.1. Hasil kajian simulasi pemodelan AVSWAT 2000 menunjukkan terjadi fluktuasi debit puncak banjir berdasarkan perubahan tataguna lahan tahun 2006, 2009, 2012 dan 2015. Debit kala ulang banjir yang mendekati debit historis (AWLR)  adalah debit kala ulang 25 tahun sebesar 296,967 m3/dt. Dengan simulasi HEC-RAS 5.0.1 kapasitas sungai Jeroan tidak dapat menampung debit kala ulang 25 tahun di beberapa patok yang mengakibatkan genangan di lahan sebesar 5.169.952 m3. Pengendalian banjir dilakukan dengan pembuatan bendungan di 2 (dua) lokasi di hulu sub DAS Jeroan dan normalisasi sungai serta pembuatan tanggul sungai di hilir Sub DAS Jeroan. Kata kunci:  Tataguna lahan, AVSWAT 2000, HEC-RAS 5.0.1, Pengendalian Banjir ABSTRACT: Floods are natural events that may cause loss of civilian property and lives. The condition occurs in the sub-basin Jeroan in Madiun Regency, which according to record for 12 years took place in 2007. The present study has an objective to determine the effect of land use change on flood peak discharge, calculate the return period flood discharge, analyze storage capacity to accommodate the discharge of the river Jeroan return period flood and flood control efforts in sub-basins Jeroan. AVSWAT 2000 used to calculate flood peak discharge due to the effects of changes in land use, while the design flood discharge is used HSS Nakayasu with verification carried out based on historical flood discharge record Jeroan AWLR. To determine the storage capacity of the Jeroan river water surface profile analysis is done with the help of HEC-RAS 5.0.1. The results of simulation modeling study showed a fluctuating AVSWAT 2000 flood peak discharge by the land use change. Return period of flood discharge conform with historical discharge (AWLR) is a 25 year return period with discharge of 296.967 m3/sec. The result of HEC-RAS 5.0.1 simulation showed that Jeroan river capacity could not accommodate discharge with return period of 25 years in several cross sections which subsequently caused land inundation that encompass 5,169,952 m3 of volume. Flood control is conducted by constructed dam at two locations in upstream of sub-basin Jeroan and river normalization as well as the construction of river embankments in downstream of sub-basin Jeroan. Keywords:Land use, AVSWAT 2000, HEC-RAS 5.0.1, Flood Control
ANALISA KERUNTUHAN BENDUNGAN TUGU KABUPATEN TRENGGALEK Purwanto, Pradoko Indra; Juwono, Pitojo Tri; Asmaranto, Runi
Jurnal Teknik Pengairan Vol 8, No 2 (2017)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1402.027 KB)

Abstract

ABSTRAK: Bendungan Tugu yang termasuk dalam sistem pengaliran sungai Keser dan berlokasi di Kabupaten Trenggalek, Propinsi Jawa Timur telah disimulasikan runtuh dengan menggunakan perangkat lunak HEC-RAS 5.0.1. Sebaran banjir yang terjadi akibat keruntuhan Bendungan Tugu dengan skenario overtopping memiliki dampak yang lebih besar daripada skenario akibat piping atas. Pada skenario piping atas karakteristik banjir di lokasi terpilih yang paling parah adalah Desa Nglinggis pada jarak 500 meter dengan kedalaman banjir 7.26 meter, kecepatan aliran banjir 12.44 meter/detik, dan waktu tiba banjir 40 detik sedangkan pada skenario overtopping karakteristik banjir di lokasi terpilih yang paling parah adalah Desa Nglinggis pada jarak 500 meter dengan kedalaman banjir 7.94 meter, kecepatan aliran banjir 12.44 meter/detik, dan waktu tiba banjir 40 detik. Sehingga dalam analisa sebaran banjir digunakan skenario keruntuhan bendungan akibat overtopping yang secara administratif mencakup 14 Desa, 4 Kecamatan di Wilayah Kabupaten Trenggalek dengan jumlah penduduk yang terkena resiko diperkirakan mencapai 59.925 jiwa. Berdasarkan SK Dirjen SDA PU, tahun 2011 Bendungan Tugu diklasifikasikan Bahaya Sangat Tinggi.Keruntuhan bendungan mempunyai dampak yang sangat besar, sehingga diperlukan upaya pencegahan keruntuhan bendungan. Dari hasil analisa, Bendungan Tugu mempunyai potensi overtopping sehingga dapat memicu keruntuhan bendungan. Rekomendasi pencegahan dengan cara teknis yaitu dengan membuat emergency spillway sebesar 6 meter atau meninggikan tubuh bendungan sebesar 1 meter. Sedangkan keruntuhan bendungan akibat piping dapat dicegah dengan cara menurunkan muka air waduk dibawah elevasi kerusakan bendungan. Kata kunci: Keruntuhan, Bendungan Tugu, Hec-Ras, Overtopping ABSTRACT: Tugu Dam is located on the watershed system of Kali Keser  in Trenggalek, East Java province. Tugu Dam  has been simulated collapsed by dam break simulation with HEC-RAS 5.0.1 software. The spreading of floods caused by the collapsed of Tugu Dam with the overtopping scenario has a greater impact than the upper piping effect scenario. The worst affected of The upper piping scenario of flood characteristics on the selected location, is Nglinggis Village with distance 500 meters and depth 7.26 meters, velocity is 12.44 m/s, and flood time arrived 40 second. So, this research analyze dam break simulation based on  overtopping that has been covered 14 Villages, 4 sub-districts in Trenggalek district with  affected people estimated  59,925 people. Based on SK Dirjen SDA PU 2011, the risk type of Tugu Dam was classified into High Risk DamDam break has biggest impact, therefore needed effort to prevent it. The result of this analysis, Tugu Dam, that has a overtopping potential can trigger the dam collapse. Prevention technical recommendation is to make emergency spillway 6 meters or increase crest dam 1 meter, while dam break caused by  piping can be prevented by lowering the water level of the reservoir below the elevation of risk dam. Keywords: Dam Break, Tugu Dam, Hec-Ras, Overtopping
ANALISA OPTIMASI INTENSITAS TANAM DAN SENSITIVITAS DAERAH IRIGASI RAMBUT KABUPATEN TEGAL Khoirina, Fitria Nur; Rispiningtati, Rispiningtati; Asmaranto, Runi
Jurnal Teknik Pengairan Vol 6, No 2 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1733.651 KB)

Abstract

Abstrak: Daerah Irigasi Rambut terletak di Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah dengan luas areal 7.634 ha untuk mengaliri Kecamatan Warureja dengan luas areal 3.740 ha dan Kecamatan Suradadi dengan luas areal 3.894 ha. Permasalahan yang ada pada daerah irigasi ini adalah terbatasnya debit yang tersedia di Bendung Cipero terutama pada musim tanam III. Dalam penelitian ini ditekankan bagaimana mengoptimalkan debit irigasi dengan melakukan modifikasi pola tata tanam (5 alternatif modifikasi pola tata tanam) dan penentuan luas tanam untuk memperoleh intensitas tanam paling maksimum dengan keuntungan paling besar sehingga bisa didapatkan pola tanam yang terbaik.Hasil dari optimasi didapatkan intensitas tanam paling maksimum sebesar 216,24% dengan keuntungan sebesar  Rp 219.754.752.741,74 yang merupakan hasil optimasi alternatif II.  Untuk hasil analisa sensitivitas pada saat MT I harga padi sensitif diantara harga 0 - Rp 15.310.000,00; MT II harga padi sensitif diantara harga 0 - Rp 13.862.500,00 dan saat MT III harga palawija sensitif diantara harga 0 – Rp 8.665.000,00. Sementara itu harga tebu saat MT I, MT II, MT III sensitif diantara harga 0 - Rp 26.585.000,00. Luas lahan MT I sensitif diantara 1.239,71 ha - 7634 ha, luas lahan MT II sensitif diantara 4.562,60 ha - 7634 ha dan MT III sensitif diantara 6.500,36 ha - 7634 ha. Kebutuhan air MT I sensitif diantara 0 –  29.539.900,80 m3, saat MT II sensitif diantara 1.388.893,09 m3 - 2.298.703,41 m3 dan MT III sensitif diantara  1.868.910,43 m3 - 2.138.486,18 m3.Kata Kunci: Irigasi, Optimasi, Sensitivitas, Intensitas Tanam Abstract: Rambut Irrigation district located in Tegal Regency, Central Java Province, with total area of 7.634 ha is used to irrigate Warureja sub-district with 3.740 ha and Suradadu sub-district with 3.894 ha. Main problem in this irrigation district is limited discharge that are available in Cipero Weir especially in 3rd crop season. This study emphasize on optimization of available irrigation discharge by conducting crop pattern modification (5 alternatives) and crop-growing range setting in order to obtain the most effective crop pattern based on the highest cropping intensity which lead to highest yield and economic advantage.Optimization result shows that alternative III of crop pattern modification present highest cropping intensity about 216,24 and provide benefit about Rp 219.754.752.741,74. Value Sensitivity Analysis shows that rice value were sensitive in range of 0 - Rp 15.310.000,00 on 1st crop season (MT I); 0 - Rp 13.862.500,00 on 2nd crop season (MT II), while palawija value is sensitive in range of 0 - Rp 8.665.000,00 on 3rd crop season (MT III). While sugarcane value sensitive in range of 0 - Rp 26.585.000,00 on all crop season (MT I, MT II & MT III). For the Area-Range Sensitivity, 1st crop season (MT1) is sensitive in range of 1.239,71 ha  – 7634 ha, 2nd crop season(MTII) is sensitive in range of 4.562,60 ha - 7634 ha and 3rd crop season (MT III) are all sensitive in range of 6.500,36 ha - 7634 ha. Water requirement sensitivity analysis shows that 1st crop season (MT I) sensitive for water requirement in range of 0 –  29.539.900,80  m3. 2nd crop season (MT II) in range of 1.388.893,09 m3 - 2.298.703,41 m3 and 3rd crop season (MT III) in range of 1.868.910,43 m3 - 2.138.486,18 m3.Keywords : Irrigation, Optimization, Sensitivity, Crop Intensity
Sifat Kimia Air Tanah Di Wilayah Kelurahan Cemorokandang Kota Malang Siswoyo, Hari; Bisri, M.; Sholichin, Moh.; Yuliani, Emma; Asmaranto, Runi; A., Wahyu Nafier
Jurnal Teknik Pengairan Vol 4, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1985.109 KB)

Abstract

One aspect that must be considered in order processing groundwater is the groundwater chemical characteristics. The purpose of this research is to assess and mapping the chemical characteristics of groundwater. To determine the chemical characteristics of this groundwater using the method of Pipers Trilinier Diagram with the help AquaChem package version 3.6 for Windows and to mapping the chemical characteristics of this groundwater with the help package Surfer 8. Based on the analysis results, it can be stated that the chemical characteristics of groundwater at the study site is generally has a carbonate hardness (secondary alkalinity) more than 50%, with cations bicarbonat type and anions no dominant type.Key Words: chemichal characteristic, groundwater, pipers trilinier diagram.
Analisa Keruntuhan Bendungan Gondang Dengan Menggunakan Program Zhong Xing HY21 Aryadi, Eric Virgiawan; Juwono, Pitojo Tri; Priyantoro, Dwi; Asmaranto, Runi
Jurnal Teknik Pengairan Vol 5, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2014.438 KB)

Abstract

Dam failure occured due to overtopping and piping. This can lead to rapid propagatioin of water flow so inundated the downstream of the dam. The purpose of this study was to analyze the various scenarios for the dam break. Dam Break Analysis conducted with Zhong Xing HY21 software. This study conducted the dam break analysis with overtopping and piping scenarios by insterting certain fracture parameters in order to obtain the outflow hydrograph.Gondang Dam Break greatest impact if experienced overtopping with Q Inflow 968,548 m /sec and produce Q Outflow 7671,57 m /sec. Result flood routing water level of the reservoir was located at an elevation of +40,593 (Gondang Dam Crest Elevation +42,00), so assumed the dam crest elevation of + 40,00. This flood could be trace Gondang River and flooded rice field and also the settlement area around ±73 km 2 . 3Keyword: Dam, Overtopping, Piping, Dam Break Analysis, ZhongXing HY21
Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk Identifikasi Lahan Kritis dan Arahan Fungsi Lahan Daerah Aliran Sungai Sampean Asmaranto, Runi; Suhartanto, Ery; Permana, Bias Angga
Jurnal Teknik Pengairan Vol 1, No 2 (2010)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1579.333 KB)

Abstract

DAS Sampean merupakan daerah aliran sungai yang kondisi topografinya rata-rata sangat curam. Kondisi tata guna lahan yang sebagian besar sawah irigasi ini cukup memungkinkan terjadinya erosi. Apalagi tataguna lahan lainnya berupa ladang, semak dan sawah tadah hujan yang tanamannya merupakan tanaman berkedalaman akar rendah dan berperan besar dalam proses penyebab terjadinya kerusakan tanah, mempercepat laju erosi dan meningkatkan volume limpasan permukaan. Berdasarkan kondisi tersebut, studi ini mengkaji tingkat bahaya erosi yang terjadi saat ini pada tata guna lahan eksisting Das Sampean serta menentukan arahan penggunaan lahan yang tepat sesuai dengan kemampuan lahan kawasannya dengan mempertimbangkan kondisi DAS Sampean.Metode yang digunakan dalam menghitung besarnya laju erosi adalah metode MUSLE dimana metode tersebut menggunakan pendekatan dari faktor limpasan permukaan. Pengolahan data-datanya menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) karena memudahkan dalam penganalisaan dan pengelompokan data. Dari hasil analisa diperoleh debit limpasan permukaan yang terjadi sebesar 247,967 m3/dt. Total Erosivitas Limpasan Permukaan yang terjadi adalah 48.129,73 m2/jam, hal ini memicu terjadinya laju erosi yang rata-ratanya mencapai 43.939,94 ton/ha/thn, atau identik dengan kehilangan tanah sebesar : 258,470 cm/thn. Besarnya laju erosi pada DAS Sampean ini mengakibatkan tingkat bahaya erosi sebesar 95,54% dari luas wilayahnya termasuk sangat berat. Sedangkan untuk tingkat bahaya erosi lainnya yaitu, berat : 2,72%, sedang : 1,02%, ringan :0,72%. Analisa kemampuan lahan didominasi kemampuan kelas VII (75,39%), yang merupakan daerah Pengembalaan Terbatas. Sedangkan ARLKT di DAS Sampean terdiri dari 3 (tiga)kawasan, yaitu Kawasan lindung (10,53%), Kawasan Penyangga (52,23%), Kawasan Budidaya Tanaman Tahunan (37,23%).Kata – kata kunci: Sistem Informasi Geografis, Erosi, MUSLE ( Modified Universal Soil LossEquation), Daerah Aliran Sungai (DAS)
PENENTUAN NILAI KONDUKTIVITAS HIDROLIK TANAH TIDAK JENUH MENGGUNAKAN UJI RESISTIVITAS DI LABORATORIUM Asmaranto, Runi; Aryani Soemitro, Ria Asih; Anwar, Nadjadji
Jurnal Teknik Pengairan Vol 3, No 1 (2012)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1742.173 KB)

Abstract

Electrical resistivity can be used to identify geotechnical parameters such as water content, liquid limit, plastic limit and unit weight. It is known that the hydraulic conductivity values can be predicted based on soil properties, so that should be determined through resistivity laboratory test. Some researchers explained that unsaturated soil hydraulic conductivity correlated with soil-water characteristic curve (SWCC), thus the estimated values of hydraulic conductivity using a resistivity test is very important to be developed by observing the behavior of the soil.This study examines changes in hydraulic conductivity of unsaturated soil based on laboratory resistivity test. The results are compared with Gardner (1958) and Campbel (1973) empirical methods. The results show that the unsaturated soil hydraulic conductivity correlates well with the empirical methods used.Keywords: soil-water characteristic curve, hydraulic conductivity, unsaturated soil, suction
KAJIAN OPTIMASI ENERGI PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO KANZY I DI KABUPATEN PASURUAN Ellanda, Riska Karunia; Juwono, Pitojo Tri; Asmaranto, Runi
Jurnal Teknik Pengairan Vol 9, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (783.106 KB)

Abstract

ABSTRAK : Infrastruktur  merupakan salah satu prasyarat utama yang harus dibangun seiring dengan pembangunan itu sendiri. Keterbatasan jumlah pembangkit ternyata tidak dapat mengimbangi pertumbuhan industri maupun tingkat sosial ekonomi masyarakat. Sedangkan infrastruktur ini merupakan salah satu prasyarat utama investasi yang sekarang ini tengah digalakkan oleh pemerintah. Dalam rangka mewujudkan ketahanan energi nasional dan menurunkan tingkat karbondioksida (CO2), pemanfaatan sumber energi baru terbaharukan untuk kepentingan ketenagalistrikan naisonal harus diutamakan. Pemerintah membuat program peningkatan pembangunan pembangkit listrik alternatif non minyak antara lain dengan memanfaatkan potensi sumberdaya alam berupa air sungai yang banyak terdapat di seluruh Indonesia.Dalam PLTMH Kanzy I ini meliputi Intake, bak pengendap, saluran pembawa, pipa pesat dan saluran pembuang. Aliran Sungai Welang secara teknis dapat digunakan utuk membangkitkan listrik dengan tinggi jatuh efektif yang terjadi sebesar 50,8 meter dan debit andalan menggunakan debit andalan Q56 sebesar 4,63 m3/dt. Dengan debit dan tinggi jatuh yang tersedia PLTMH Kanzi I menggunakan turbin Franciss dengan diameter pipa pesat sebesar 1,45 meter dan ketebalan 51 mm. energi per tahun yang dihasilkan  PLTMH Kanzy I sebesar 10.312.459,94kWh. Secara ekonomi, pemilihan debit andalan Q56 padaPLTMH Kanzy I sangat layak untuk direncanakan dari hasil perhitungan BCR, NPV dan IRR. Kata kunci :   Pembangkit listrik tenaga mikrohidro,optimasi energi, debit andalan, tinggi jatuh, kelayakan ekonomi. ABSTRACT  Infrastructure is one of the main prerequisites that must be built in line with the development itself. The limited number of micro hydro power plant can not keep up with the industry growth and socio-economic level. While this infrastructure is one of the main prerequisites of investment that is now being promoted by the government. In order to realize national energy security and reduce the level of carbon dioxide (CO2), the utilization of renewable energy sources for the sake of electric power should be prioritized. The government has made a program to increase the development of non-oil alternative power plants, among others, by utilizing the potential of natural resources in the form of river water that is widely available throughout Indonesia. HEPP Kanzy I includes intake, forebay, waterway, penstock and tailrace. Welang River Flow technically can be used to generate electricity with net head of 50.8 m and dependable discharge using Q56 amount of 4.63 m3/s. With the discharge and net head available, the HEPP Kanzy I uses a Franciss turbine with a pipe diameter of 1.45meters and a thickness of 51mm. The annual energy generated by HEPP Kanzy I is 10,312,459,94 kWh. Economically, the selection of Q56 dependable discharge at HEPP Kanzy I is very feasible to be planned from the calculation of BCR, NPV and IRR. Keywords: microhydro power plant, energy optimization, dependable discharge, net head, economic feasibility 
Penggunaan Citra Aster Dalam Identifikasi Peruntukan Lahan Pada Sub Das Lesti (Kabupaten Malang) Wibowo, Leo Arbi; Sholichin, Mohammad; Rispiningtati, Rispiningtati; Asmaranto, Runi
Jurnal Teknik Pengairan Vol 4, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1979.389 KB)

Abstract

The indicator impaired balance the hydrologic cycle in watershed was characterized by the number of occurrences of floods, landslides, droughts and pollution of water quality. Lesti sub-watershed was part watershed Brantas contained in the upstream sub-watershed is a priority and having problems against land degradation, erosion and landslides. A lot of effort can be done in order to restore the balance of the hydrological cycle in the watershed so that the quality and quantity of water resources are maintained, one of the efforts that can be done is by way of determination of critical areas which will be used as a reference for determining priority areas for the handling. This effort while increasing productivity, income and socio-economic conditions of the people in the uplands. In determining the criticality of land and conservation directives Lesti sub-watershed, needed some supporting data, one of the most important data is the data of land use. To get land use map in the sub-watershed Lesti, one way that can be used is to perform image interpretation ASTER (Advanced Spaceborne Thermal Emission and Reflection Radiometer) obtained from TERRA satellite. The use of ASTER imagery in the identification of land use is feasible by using sub-system VNIR (Visible and Near-Infrared Radiometer), which has a spatial resolution up to 15 meters above the ground.Key words: Topography map, Watershed, ASTER image, Classification, Land Use Map.