Articles
19
Documents
Analisa Metode Kagan-Rodda Terhadap Analisa Hujan Rata-Rata dalam Menentukan Debit Banjir Rancangan dan Pola Sebaran Stasiun Hujan di Sub DAS Amprong

Jurnal Teknik Pengairan Vol 1, No 2 (2010)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada perencanaan jaringan Kagan-Rodda berdasarkan data curah hujan rata-rata harian maksimum daerah dari metode Rata-rata hitung untuk tingkat kesalahan perataan (Z1) 5% didapatkan 4 buah stasiun hujan terpilih dari 8 buah stasiun hujan pada kondisi eksisting. Sedangkan pada perencanaan jaringan Kagan-Rodda berdasarkan data curah hujan rata-rata harian maksimum daerah dari metode Poligon Thiessen untuk tingkat kesalahan perataan (Z1) 5% didapatkan 4 buah stasiun hujan terpilih dari 8 stasiun hujan pada kondisi eksisting. Metode Rata-rata hitung mengahasilkan kesalahan relatif untuk setiap kala ulang tertentu adalah lebih kecil dari 5%, yaitu 1.12% - 4.49% . Dengan besarnya curah hujan rancangan tersebut dapat dihitung besarnya debit banjir rancangan dengan metode HSS Snyder sehingga diperoleh banjir rancangan yang terjadi antara 1009.00 m3 – 2001.60 m3 untuk setiap kala ulang tertentu. Sedangkan metode Poligon Thiessen menghasilkan kesalahan relatif untuk setiap kala ulang tertentu lebih kecil dari 5% yaitu antara 1.42% -4.68%. Sehingga dengan curah hujan rancangan tersebut pula dapat dihitung besarnya debit banjir rancangan dengan metode HSS Snyder sebesar 911.14 m3 –1806.90 m3 untuk setiap kala ulang tertentu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk perencanaan jaringan Kagan Rodda di daerah studi, kedua metode ini bisa digunakan. Meskipun metode Rata-rata hitung memberikan hasil yang lebih baik daripada metode Poligon Thiessen, yaitu terlihat dari rata-rata besarnya kesalahan relatif yang terjadi. Besarnya kesalahan relatif untuk metode Rata-rata hitung adalah sebesar 3.0%, sedangkan kesalahan relatif untuk metode Poligon Thiessen adalah sebesar 3.6%.Kata Kunci: Analisa Metode Eksisting, Analisa Metode Kagan-Rodda, PolaPenyebaran Stasiun Hujan.

Studi Pengendalian Banjir Sungai Remu Kota Sorong Provinsi Papua Barat

Jurnal Teknik Pengairan Vol 5, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sorong City where is located in West Papua Province has often experiences flooding due to overflow of Remu River. This study aims to find the proper flood management alternatives through hydrology, hydraulic, and economy approach. Based on hydrology analysis with Log Pearson III method, the highest historical rainfall that ever occured is the rainfall with return period of 16 years, that is 224.2 mm. The HEC RAS 4.1. simulation results n value of 0.021 with relative error of 2.64%. The proper flood managements are dike and retarding basin and the both of the alternatives use return period of 25 years. Dike has been choosen as then proper alternative with total ranking of 0.53 based on priority scale determination using Analyrical Hierarchy Process method with technique, economy, and easy implementation considerations.Keywords: Flood, HEC RAS, Analytical Hierarchy Process, Dike, Retarding Barsin.

Kajian Sistem Manajemen Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Dalam Upaya Pelestarian Sumber Daya Air (Studi Kasus: Das Bone Provinsi Gorontalo)

Jurnal Teknik Pengairan Vol 5, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The potential of water resources Bone is the source of life for the people of Gorontalo, especially as a source of water, supply fresh water for the people of Bone Bolango. Generally in upstream of watershed use less water than the water right of it downstream, and the areas generally utilize water higher than the water use right. Excess use of water in downdstream will take from the remaining water rights of upstream. Because of these problems, it is necessary to study type of management system in related with conditions of watershed. System of incentives / disincentives is a form of integrated watershed management. The purpose of this study are to investigate the discharge quantity is used by the stakeholders, determine the required operational discharge in conservation the watershed, and establish the policy in watershed management with a system of incentives / disincentives.Keywords: Water Right, Incentives, Disincentives

Analisis Efektivitas Penambahan Kapasitas Pintu Air Manggarai Untuk Pengendalian Banjir Di Wilayah Sungai Ciliwung

Jurnal Teknik Pengairan Vol 6, No 1 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

DKI Jakarta Province consists of 5 cities and 1 district. At the north part of Jakarta there are beaches which became the estuary of 13 rivers and 2 canals. Ciliwung is the main river that has an effect on the lives of people in Jakarta. The Ciliwung river flows towards to BKB. Manggarai sluice gate is located at the upstream of BKB to control Ciliwung river flow. This study was conducted by giving two addition of Manggarai sluice gate, each dimension of additional gate is 3.4 m x 8.1 m and 5 m x 5.3 m. Discharge calculations for hydrology analysis used Log Pearson III while hydraulics analysis used software HECRAS 4.1.0. Discharge data at AWLR MT Haryono control point recorded on January 21st,2013 showed 287.876 m 3 /sec. From the data, sluice gate simulations conducted with 8 alternatives opening gates. In this study showed the most effective results for Q2th and Q5th with opening gates 2 m (alternative 4), Q10th with opening gates 4 m (alternative 5), Q20th and Q25th with opening gates 6 m (alternative 6), Q50 and Q100th with maximum gates opening (alternative 8).Keywords: Sluice Gate, Simulation, Gate Operation, Opening Gate

Kajian Penanganan Sedimentasi Sungai Banjir Kanal Barat Kota Semarang (Study of Sedimentation Mitigation West Floodway Semarang City)

Jurnal Teknik Pengairan Vol 6, No 1 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

For the flood control of Semarang City,one of part needed is sedimentation mitigation atthe West Floodway river. This study is carried out to predictdistribution patterns and sediment volumein the West Floodway. The simulation of existing conditions is the first step for determination of sediment transport model. The models will be used to predicting sedimentation until year 2019 and 2024 on the condition without and with sediment mitigation alternatives. Based on the existing condition simulation, the average of elevation increase in 2019 and 2024 respectively are 1,864 m and 2,210 m. The estimation of sediment volume in 2019 and 2024 respectively are 1.053.524 m³ and 1.223.693 m³. The results of sediment transport prediction with sediment pocket showing the lowest average elevation in 2019 and 2024 respectively are 1,379 m and 1,992 m.The smallest volume of sediment obtained by dredging with dredger in 2019 and 2024 respectively are 791.161 m³ and 1.099.685 m³. Based on cost estimation,the cost of dredging with dredger is the lowest, at a cost 32.267.637.478 IDR.Keyword: sedimentation, HEC-RAS, prediction, elevation, volume, cost

EVALUASI FUNGSI BANGUNAN PENGENDALI BANJIR SUNGAI BARABAI KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

Jurnal Teknik Pengairan Vol 6, No 2 (2015)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Bangunan pengendali banjir Sungai Barabai berupa Bangunan Intake dan Saluran Banjir Barabai sudah tidak dapat dirasakan lagi dampaknya terhadap Kota Barabai, sehingga diperlukan evaluasi dari fungsi bangunan pengendali banjir. Kapasitas eksisting Saluran Banjir Barabai adalah ±15 m3/detik dengan Qrencana awal yaitu 40 m3/detik. Elevasi muka air banjir pada saat Q1 belum dapat masuk ke dalam Bangunan Intake dan rusaknya peninggi muka air (groundsill). Rehabilitasi bangunan pengendalian banjir bisa dilakukan dengan normalisasi Saluran Banjir Barabai dan menurunkan elevasi lantai Bangunan Intake pada +24.00. Rehabilitasi bangunan pengendali banjir ini hanya mampu mengatasi banjir hingga Q5 dengan pengurangan genangan banjir sebesar 62.75%. Penanganan banjir sampai dengan Q50 memerlukan normalisasi Sungai Barabai di bagian hilir bangunan intake (menuju Kota Barabai sampai dengan Kota Barabai) dengan dimensi lebar bawah 20 m, lebar atas 36 m, dan kemiringan talud 1:1.Kata kunci: Bangunan Intake, Saluran Banjir, Pengendalian Banjir, Sungai Barabai Abstract: Barabai river’s flood control structures such as Intake Building and Flood channel can no longer be perceived its impact on Barabai City, so that evaluation of the function of flood control structures is necessary. Barabai flood channel capacity is ± 15 m3/second less than the initial capacity planning 40 m3/second. Flood water levels during Q1 have not been able to get into the Intake Building and the damage  of  groundsill. Rehabilitation of Barabai river’s flood control structures can be done with normalization of Barabai’s Flood Channel and floor’s derivation of  Intake Building at +24.00. This flood control structures rehabilitation can only cope with flood up to Q5 with reduction puddles 62.75%. Flood handle up to Q50 needs normalization of  Barabai River at downstream of Intake Building with trapezoidal with dimension of 20 m base width and 36 m top width, and talud slope 1:1.Keywords: Intake Building, Flood Channel, Flood Control, Barabai River

ANALISIS EFEKTIVITAS KERAPATAN JARINGAN POS STASIUN HUJAN DI DAS KEDUNGSOKO DENGAN MENGGUNAKAN JARINGAN SARAF TIRUAN (ARTIFICIAL NEURAL NETWORK)

Jurnal Teknik Pengairan Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Kualitas data curah hujan sangat bergantung pada kemampuan pos hidrologi dalam memantau karakteristik hidrologi dalam suatu Daerah Aliran Sungai. Oleh karena itu, diperlukan suatu kajian, agar memperoleh jaringan pos stasiun hujan yang efektif dalam hal perletakan stasiun pos stasiun hujan yang optimum dan mampu menggambarkan varibilitas ruang DAS yang teramati dengan baik. Lokasi penelitian terletak di DAS Kedungsoko yang luasnya adalah 416,54 km2, dan terdiri atas 8 pos stasiun hujan. Analisis dilakukan dengan membandingkan debit AWLR tahun 2001 s.d. 2010 dengan debit hasil model Jaringan Saraf Tiruan (JST). Model JST ini digunakan untuk mendapatkan debit dengan variabel masukan terdiri atas curah hujan maksimum tahunan pos stasiun hujan dengan satuan mm (X1), jarak pos stasiun hujan dengan pos AWLR dalam satuan km (X2), beda tinggi pos stasiun hujan dengan pos AWLR dalam satuan m (X3), dan koefisien thiessen (X4). Berdasarkan perbandingan debit hasil JST dengan debit AWLR, maka kerapatan jaringan pos stasiun hujan yang paling efektif adalah kombinasi pos stasiun hujan yang terdiri atas 4 (empat) pos stasiun hujan yang terdiri atas Pos Stasiun Hujan Pace, Pos Stasiun Hujan Banaran, Pos Stasiun Hujan Prambon, dan Pos Stasiun Hujan Badong dengan rerata Kesalahan Relatif debitnya adalah 3,763%.Kata Kunci: Jaringan Saraf Tiruan, Stasiun Hujan, Kerapatan Stasiun Hujan, Efektivitas, Kesalahan Relatif Abstract: Quality of rainfall data is highly depend on the ability of hydrologic station in monitoring hydrological characteristics in the Watershed. Therefore it is necessary to get the accurate that is able to describe variability of the watershed. This study located in Kedungsoko Watershed with area is 416,54 km2, which there are 8 Rainfall Station. This analysis used to compare between AWLR flows with Artificial Neural Network (ANN) on years of 2001 to 2010. ANN used to obtain flows by input variables that are maximum rainfall on mm (X1), distance of rainfall station with AWLR station on km (X2), height difference betweenrainfall station with AWLR station on m (X3), and thiessen coefficient (X4). Based on comparison of ANN flows and AWLR flows, The most effective density of Rainfall Station is rainfall station combined with 4 rainfall station that are Pace Rainfall Station, Banaran  Rainfall Station, Prambon Rainfall Station, and Badong Rainfall Station within the  relative error is 3,763%.  Keywords: Artificial Neural Network, Rainfall Station, Density of Rainfall Station, Effectivity, Relative Error

PENGARUH PERUBAHAN DAERAH KEDAP AIR, CURAH HUJAN DAN JUMLAH PENDUDUK TERHADAP DEBIT PUNCAK BANJIR DI SUB DAS BRANTAS HULU DI KOTA BATU

Jurnal Teknik Pengairan Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Perkembangan Kota Batu ke depan adalah sebagai sentra pertanian dan sentra wisata sehingga penambahan sarana dan prasarana dari tahun ke tahun semakin meningkat. Salah satu permasalahan yang terjadi Kota Batu sebagai daerah resapan air semakin berkurang dikarenakan oleh pertumbuhan penduduk meningkat dan membutuhkan areal yang luas untuk tempat tinggal dan tuntutan pembangunan kota wisata sehingga pada musim hujan terjadi peningkatan aliran permukaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan daerah kedap air, untuk mengetahui hubungan perubahan daerah kedap air, curah hujan dan jumlah penduduk terhadap debit puncak banjir. Dalam analisis ini data yang digunakan adalah data hujan, penggunaan lahan dan penduduk pada  tahun 2003, 2008, 2009, 2010 dan 2014.  Untuk analisis hidrologi menggunakan metode Thissen dan analisis debit puncak banjir menggunakan metode Rasional dan untuk mengetahui hubungan daerah kedap, curah hujan dan jumlah penduduk terhadap debit puncak banjir dengan metode regresi linier ganda orde 3.Peningkatan secara signifikan terjadi pada daerah pemukiman yaitu tahun 2003 berkisar 28% ditahun 2014 meningkat menjadi berkisar 62%.  Curah hujan harian maksimum mulai tahun 2003 sampai 2014 tidak mengalami perubahan secara signifikan yaitu berkisar 60,80 mm sampai 77,80 mm, sedangkan debit puncak banjir mengalami perbedaan secara signifikan yaitu 115,2 m3/dt tahun 2003, 179,8 m3/dt pada tahun 2014.  Luas daerah kedap tahun 2003 yaitu 27,1 km2, ditahun 2014 meningkat menjadi 95,5 km2.Secara umum pendekatan hubungan dari variabel daerah kedap air (X1), curah hujan (X2) dan jumlah penduduk (X3) terhadap debit puncak banjir ( Y) diberikan oleh persamaan Ý = 199,89 + 2,157X1 + 0,57X2 – 1,190X3dengan R2 = 0,91.Kata kunci: Debit, Kedap, Curah Hujan dan Penduduk                                Abstract : The future development of Batu City is as a center for farming and tourist it is  requires additional infrastructure from year to year .  One of the problems that occur Batu as buffer zone increasing  diminishing due to increasing of population growth and it require large areas to stay and to tourism, so during the rainy season there is an increase of runoff.  The purpose of this study was to assess changes buffer zone, to determine the relationship changes buffer zone  area, rainfall and population against flood peak discharge. In this analysis the data used are rain data, land use and population in 2003, 2008, 2009, 2010 and 2014. For hydrologic analysis using methods Thissen and analysis of flood peak discharge using Rational method and to determine the relationship of watertight  area, rainfall and population against flood peak discharge by the method of multiple linear regression order 3.Significant increase occurred in residential areas, namely in 2003 ranges from 28% in the year 2014 increased to 62%. The maximum daily rainfall started in 2003 to 2014 did not change significantly which ranges from 60.80 mm to 77.80 mm, while the flood peak discharge experiencing significant difference is 115.2 m3 / sec in 2003, 179.8 m3/sec in 2014. The area of buffer zone  2003 is 27.1 km2, in the year 2014 buffer zone  to 95.5 km2.In general approach to the relationship of the variable regions buffer zone (X1), rainfall (X2) and population (X3) against the flood peak discharge (Y) is given by the equation y = 199.89 + 2,157X1 + 0,57X2 - 1,190X3 with R2 = 0.91.Keywords :  discharge,buffer zone, rainfall and population

ANALISIS PENYEBARAN SEDIMEN SUNGAI GRINDULU KABUPATEN PACITAN

Jurnal Teknik Pengairan Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK: Sungai Grindulu memiliki potensi bahan galian berupa pasir yang dimanfaatkan sebagai material pembangunan prasarana fisik. Penambangan pasir sungai menyebabkan penurunan dasar sungai yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur umum. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengendalikan penurunan dasar sungai adalah pembangunan groundsill. Penelitian ini menganalisis penyebaran sedimen di sungai Grindulu sebelum dan sesudah pembangunan groundsill serta pengaruh penambangan pasir terhadap perubahan dasar sungai menggunakan bantuan perangkat lunak HEC-RAS 4.1.0. Hasil simulasi menunjukkan bahwa tanpa groundsill, dasar sungai mengalami degradasi rata-rata 0,602 m dan agradasi rata-rata 0,505 m. Dengan groundsill tanpa penambangan pasir, terjadi degradasi rata-rata 0,659 m dan agradasi rata-rata 0,483 m. Dengan groundsill dan penambangan pasir, terjadi degdarasi rata-rata 1,017 m dan agradasi rata-rata 0,627 m. Direkomendasikan lokasi penambangan baru dengan kapasitas produksi 65 m3/hari. Dalam periode 5 dan 10 tahun yang akan datang, simulasi angkutan sedimen berdasarkan rekomendasi lokasi dan kapasitas penambangan pasir baru menunjukkan bahwa terjadi degradasi  rata-rata 0,569 m dan 0,846 m. Sedangkan agradasi yang terjadi rata-rata sebesar 0,487 m dan 0,545 m. Kata kunci: sedimen, HEC-RAS, penambangan pasir, degradasi, agradasi ABSTRACT: Grindulu river has potential minerals of sand that used as material of physical infrastructure construction. River sand mining causes riverbed degradation that result damage of public infrastructure. One of the efforts made to control riverbed degradation is construction of groundsill. This study analyze sediment distribution in Grindulu river before and after groundsill construction and the effect of sand mining on riverbed changes using HEC-RAS 4.1.0 software. The simulation result shows that without groundsill, the average of riverbed degradation is 0.602 m and average of aggradation is 0.505 m. With groundsill and without sand mining, the average of riverbed degradation is 0.659 m and average of aggradation is 0,483 m. With groundsill and sand mining, the average of riverbed degdaration is 1,017 m and average of aggradation is 0.627 m. New site of sand mining recommended with production capacity of 65 m3/day. In the period of next 5 and 10 years, sediment transport simulations based on recommended location and capacity of new sand mining site show that the average of riverbed degradation is 0.569 m and 0.846 m. While the average of aggradation is 0.487 m and 0.545 m. Keywords: sediment, HEC-RAS, river sand mining, degradation, aggradation

EVALUASI DAN SIMULASI POLA OPERASI BENDUNG GERAK TEMPE PROVINSI SULAWESI SELATAN

Jurnal Teknik Pengairan Vol 7, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Bendung Gerak Tempe yang berada dihilir Danau Tempe diperuntukkan untuk menjaga elevasi muka air Danau Tempe. Elevasi muka air yang harus dipertahankan pada Danau Tempe adalah elevasi +5,00 m.  Dari hasil evaluasi dan simulasi, bulan Januari sampai dengan bulan Agustus rata-rata muka air Danau Tempe dan Bendung Gerak adalah lebih tinggi dari elevasi +5,30 m, sehingga Pintu utama dan pintu navigasi dibuka penuh sehingga banjir tidak membahayakan daerah hulu Bendung Gerak Tempe. Sedangkan pada bulan September sampai dengan bulan Desember muka air pada Danau Tempe dan Bendung Gerak lebih rendah dari elevasi +5,00 m, sehingga muka air perlu dinaikkan sesuai yang harus dipertahankan yaitu pada elevasi +5,00 m, dengan jalan melakukan pengoperasian (penutupan) Pintu Utama maupun Pintu Navigasi. Kata Kunci: Bendung Gerak Tempe, Pintu Sorong, Danau Tempe, Banjir, Simulasi HEC-RASAbstract: Tempe Barrage is located on the  downstream of Lake Tempe that it functioned to maintain water level of Lake Tempe. Water levels of Tempe Lake to be maintained at elevation of +5.00 m. The results of evaluation and simulation shown that from January to August the average water level of Lake Tempe and Tempe Barrage is higher than the elevation of +5,30 m, main gate and the navigation gate was fully opened to control flooding at upstream area of Tempe Lake. Furthermore, on September until December the water level on Tempe Lake and Tempe Barrage is lower than the elevation of +5,00 m, so that the water level should be increased to maintain the elevation of +5,00 m, by closed the  Main Gate and Navigation Gate.Keyword: Tempe Barrage, Sluice Gate, Tempe Lake, Flood, HEC-RAS Simulation