Articles

Found 17 Documents
Search

Detoxification of Gadung (Dioscorea hispida Dennst.) by Mucor sp. Fermentation Sasongko, Pramono
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 10, No 3 (2009)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dioscorea hispida Dennst. or gadung-yam is one of the tuber crops in Indonesia. Nevertheless, people are still unaware to consume gadung-yam and its derivative product, because of toxic compounds such as alkaloid and cyanide. Therefore, it is necessary to have a detoxification process to decrease the concentration of cyanide to have safe product of gadung-yam such as gadung flour. A detoxification can be carried out by a fermentation method, which accelerates the breakdown of cyanides. The fermentation will produce more volatile HCN in gadung flour which evaporate in drying process. The fermentation in this research used Mucor sp. The objective of this research was to obtain the optimum concentration of Mucor sp. and the the fermentation time to produce less cyanide gadung flour. The experimental design of the research was Factorial Randomized Block Design with two factors. The first factor was the concentration of mold with four levels, i.e. 0%, 5%, 10%, and 15%. The second factor was the fermentation time with 3 levels i.e. 24, 48 and 72 jam. The data was analyzed using anova followed by LSD or DMRT test with  = 0.05.The results showed that there was significant interaction between the mold concentration and the fermentation time on starch, reducing sugar, total sugar, and fiber content.  However, there was no significant interaction between treatments on moisture and cyanide content. The best treatment was the combination of 5% mold and 72 hours fermentation.  The characteristic of this gadung-flour were 4.01% of moisture content, 21.74 ppm of cyanide content; 46.66% of starch content; 3.6% of fiber content; 17.00% of total sugar content; 9.52% reducing sugar content; L* colour of 60.97; a* of 13.27; b* of 18.45;  3.27% of higroscopicity, and starch gelatinization temperature of 83ºC.Keywords: gadung, detoxification, yams flour, fermentation, Mucor sp.
UJI EFEKTIVITAS KONSENTRASI ASAP CAIR TEMPURUNG KELAPA SEBAGAI BAHAN BIOAKTIF PADA PEs MBUATAN KERTAS DAUR ULANG Nadzifun, Muhammad Khoirun; Musholaeni, Wahyu; Sasongko, Pramono
Fakultas Pertanian Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Roti merupakan produk olahan yang mengandung karbohidrat, protein, dan lemak yang tinggi. sehingga dapat digunakan sebagi sumber energy bagi kehidupan mikroorganisme yaitu jamur pembusuk Rhizopus sp sehingga roti tidak dapat bertahaan lebih lama sehingga dalam penelitian ini untuk memperpanjang umur simpan roti digunakanlah pengemas bioaktif dari limbah kertas bekas dan asap cair tempurung kelapa. Pengemas aktif merupakan pengemas yang mempunyai senyawa indikator eksternal dan internal pada bahan yang dikemas dan bahan pengemasnya (Darmadji, 2002). Asap cair merupakan suatu campuran larutan dan disperse koloid dari uap asap kayu yang di peroleh dari hasil pirolisa denagn suhu 4000 C ( Febriani RA, (2006). Kandungan asap cair tempurung kelapa yaitu: Phenol, 2-ethylphenol, 3-Methylphenol, 2,6-Dimethylphenol, 2,4-Dimethylphenol, dan 3-hylphenol dan asam asam organik lemah 2,3-dihydroxy-benzoic acid, 3-methoxybenzoic acid methyl ester, dan 4-Hydroxy-benzoic acid methyl ester (Davidson et al. 2005). Hasi penelitian menunjukkan bahwa roti tawar yang dikemasan tidak menggunkan senyawa aktif asap cair tempurung kelapa ditumbuhi jamur rata-rata pada hari ke 12 dengan jumlah koloni 2,13x105 CFU /ml. sedangkan pada konsentrasi penambahan asap cair 0,2% ditumbuhi jamur rata-rata pada hari ke 16 dengan jumlah koloni yang tumbuh pada uji TPC sebanyak 1.9x105CFU/ml. pada perlakuan 0,4%-1,0% tidak menunjukkan beda nyata namun pada perlakuan 1,0% sudah dapat memperpanjang umr simpan roti tawar selama 18 hari,dengan jumlah koloni jamur sebanyak 1,70x105CFU/ml.
PEMANFAATAN LIMBAH ARANG HASIL SAMPING PEMBUATAN ASAP CAIR DARI CANGKANG KELAPA SAWIT SEBAGAI BRIKET ARANG UTILIZATION OF WASTE CHARCOAL SIDE OF MAKING LIQUID SMOKE FROM SHELL OIL PALM AS BRIQUETTE CHARCOAL Tama, Yulius Koni; Ahmadi, KGS; Sasongko, Pramono
Fakultas Pertanian Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian sumber energi terbarukan menjadi penting saat ini karena bahan bakar minyak bumi, gas alam, dan batu bara yang selama ini merupakan sumber utama energi jumlahnya semakin menipis. Cangkang kelapa sawit memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi sumber energi terbarukan sebagai bahan baku pembuatan briket arang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan komposisi perekat dan ukuran butiran arang yang paling baik untuk pembuatan briket arang, sifat dari briket arang yang dibuat dari cangkang kelapa sawit dan mengetahui kelayakan usaha dari pembuatan briket arang dari cangkang kelapa sawit. Penelitian ini dilaksanakan memakai Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara 2 faktorial, yaitu Faktor I : Perbandingan perlakuan arang, Faktor II : Konsentrasi Perekat (K). Karakteristik briket arang dari cangkang kelapa sawit yang terbaik adalah dengan nilai kalor sebesar 7,41kalor/gram, kadar air sebesar 2,63%, dan waktu nyala selama 7,41 menit
EKSPERIMEN DAN MODEL EKSTRAKSI MINYAK ATSIRI DENGAN BAHAN CYMBOPOGON SP. MENGGUNAKAN HIDROSTEAM DISTILLATION Sasongko, Pramono
Reka Buana : Jurnal Ilmiah Teknik Sipil dan Teknik Kimia Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This work has as objective to modeled time extraction and yield of the citronella oil extraction processes from stems by hydrosteam distillation. The process variables evaluated in this study were extraction time, and material weight. The yield is calculated from the relation between mass essential oil obtained and the raw material mass used in the extraction and the quantitative and qualitative analyses of the oils were performed by capillary GC/MS. The experimental condition for the maximum yield, 0.36 %, is the following one: extraction time, 4 h, natural plant. The modeling of these results is proposed from the description of the mass transfer from a single plate particle. Yield curves for all studied conditions were fairly well fitted using one adjustable parameter of the model and the experimental monitoring of oil composition as function of extraction time was realized in laboratory steam distillation apparatus and compared with industrial scale results.
ANALISA KELAYAKAN USAHA PEMBUATAN NATA DE COCO MENGGUNAKAN SUMBER NITROGEN UREA Taus, Dominika Sone; Santosa, Budi; Sasongko, Pramono
Fakultas Pertanian Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nata is one functional food product which similar with a floating gel obtained from Acetobacter xylinum fermentation. The study aimed to determine the feasibility study of nata produce from various urea nitrogen sources. Urea is one of the sources of inorganic nitrogen with a nitrogen content reaching 46,50%. The Nata de coco production with the addition of 2 grams of urea nitrogen, 40 grams of sugar, 500 ml of coconut water, and 20 ml of acetic acid is feasible to work with Rp 3,559.68 / 200 ml of HPP. The selling price per cup is Rp 4,093.63 / 200 ml. The net profit per day obtained was Rp. 29,901.2 and BEP per year was Rp. 31,212,580.71 and RCR was 1.15. Nata adalah salah satu produk makanan fungsional yang mempunyai kemiripan seperti gel yang terapung di atas permukaan yang diperoleh dari hasil fermentasi dengan bantuan bakteri Acetobacter xylinum. Penelitian ini bertujuan Untuk mendapatkan perlakuan terbaik dalam pembuatan nata de coco. Untuk mengetahui analisa usaha pembuatan nata dengan penambahan sumber nitrogen urea. Urea merupakan salah satu sumber nitrogen anorganik dengan kandungan nitrogen mencapai 46,50%. Produksi Nata de coco dengan penambahan sumber nitrogen urea 2 gr, gula 40 gr, air kelapa 500 ml, dan asam asetat 20 ml layak di usahakan dengan HPP Rp 3.559,68/200 ml. Harga jual per cup adalah Rp 4.093,63/200 ml. Keuntungan bersih perhari yang diperoleh adalah Rp 29.901,2 dan BEP per tahun adalah Rp 31.212.580,71 dan RCR sebesar 1,15.
PENGARUH PROPORSI TEPUNG TERIGU DAN TEPUNG GEMBILI SERTA PROPORSI MARGARIN DAN BLONDO DALAM PEMBUATAN CAKE SERTA ANALISA USAHANYA Anin, Vitry Agrida; Sasongko, Pramono; Santosa, Budi
Fakultas Pertanian Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cake was made from a dough mixed from of flour, sugar, eggs, salt, and fat which is. The aim of the study was to determine of wheat flour and lesser yam flour with the proportion of blondo and margarine in making cakes and it feasibility study. This experiment was conducted using a randomized block design (RBD) with 2 factors. Factor (1) proportion of wheat flour and gembili flour with 3 levels of treatment, factor (2) proportion of blondo and margarine with 4 levels of treatment and repeated 2 times to obtain 24 samples. The results showed that the best treatment in the proportion of flour and gembili flour (75%: 25%) and the proportion of blondo and margarine (40%: 60%) with parameters of ash content of 6.18%, protein 7.95%, water 21.19 %, texture 3.06%, color 4.3 (like), aroma 3.93 (neutral), and flavor 4.13 (like). Cake adalah terbuat dari adonan yang merupakan campuran dari tepung, gula, telur, garam, dan lemak. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan proporsi tepung terigu dan tepung gembili dengan proporsi blondo dan margarine dalam pembuatan cake serta analisa usahanya. Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 2 faktor. Faktor (1) proporsi tepung terigu dan tepung gembili dengan 3 taraf perlakuan, faktor (2) proporsi blondo dan margarine dengan 4 taraf perlakuan dan diulang sebanyak 2 kali sehingga memperoleh 24 sampel. Hasil penelitian menunjukkkan bahwa perlakuan terbaik pada proporsi tepung terigu dan tepung gembili (75% : 25%) serta proporsi blondo dan margarine (40% : 60%) dengan parameter kadar abu 6,18%, protein 7,95%, air 21,19%, tekstur 3,06%, warna 4,3 (suka), aroma 3,93 (netral), dan rasa 4,13 (suka).
PENGARUH PROPORSI TEPUNG TERIGU DAN TEPUNG UBI JALAR KUNING (Ipomea batatas L) DENGAN PENAMBAHAN BLONDO SEBAGAI SUBTITUSI MARGARIN PADA PEMBUATAN CAKE Timba, Margaretha Kahi; Sasongko, Pramono; Santosa, Budi
Fakultas Pertanian Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cake is a cake made from a mixture of flour, sugar, eggs, salt, aroma, and fat which is developed with or without the developers ingredients. This study aims to determine the proportion of wheat flour and yellow sweet potato flour as well as the proportion of blondo and margarine in cake making. The research design used was a factorial randomized block design with 2 replications. The first factor is the proportion of wheat flour and yellow sweet potato flour with 3 levels of treatment and the second factor is the proportion of blondo and margarine with 4 levels of treatment. The best treatment for making yellow sweet potato cakes the method of effectiveness in the treatment of 50% flour, 50% sweet potato, 40% blondo, and 60% margarine with a total yield (NH) 0.825. with the meter moisture content 4.35%, ash content 4.33%, protein content 17.51%, texture content 30.26%, taste 4.05 (likes), aroma 3.90 (neutral), color 3, 83 (likes). Cake adalah kue yang terbuat dari campuran adonan dari tepung, gula, telur, garam, aroma, dan lemak yang dikembangkan dengan atau tanpa bahan pengembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi tepung terigu dan tepung ubi jalar kuning serta proporsi blondo dan margarin pada pembuatan cake. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok pola faktorial dengan 2 kali ulangan. Faktor pertama yaitu proporsi tepung terigu dan tepung ubi jalar kuning degan 3 taraf perlakuan dan faktor kedua yaitu degan proporsi blondo dan margarin dengan 4 taraf perlakuan. Perlakuan terbaik pembuatan cake ubi jalar kuning diperoleh pada perlakuan yaitu tepung terigu 50%, ubi jalar 50%, blondo 40%, dan margarin 60% dengan total nilai hasil (NH) 0.825. dengan para meter kadar air 4,35%, kadar abu 4,33%, kadar protein 17,51%, kadar tekstur 30,26%, rasa 4,05(suka), aroma 3,90 (netral), warna 3,83 (suka).
NTRM (Non Tobacco Related Material) TEMBAKAU RAJANGAN MADURA YANG DIUSAHAKAN PETANI MITRA P.T. SADHANA ARIFNUSA DI KABUPATEN PAMEKASAN Hosaini, Moh; Tirtosastro, Samsuri; Sasongko, Pramono
Fakultas Pertanian Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cigarette smoke is currently the talk of the National and international community has a positive or negative value. One of the causes of the negative impact is the increase in non-tobacco (non-tobacco related material) which is another material other than tobacco which has a great opportunity to become a source of hazardous materials, in addition to disrupting the production and aesthetic processes. This study aims to determine the content of NTRM in tobacco prepared by farmers to be sold to the warehouse of tobacco purchases in P.T. Sadhana Arifnusa, Pamekasan Regency in 2017. Sampling in this study uses a non-probability sampling technique. Respondent farmers were selected who met the criteria for planting and processing their own tobacco leaves and then sold them to the warehouse. Farmers plant and process tobacco leaves themselves into madura chopped tobacco. Farmers selected were from Bulay Village (Galis District), Guluk-guluk Village (Guluk-guluk Sub-district), Kalompang Berek Village (Pakong District), Bicorong Village (Pakong District), each in Pamekasan District. The results of the research in the Four Villages show that there is a high NTRM content. Organic NTRM and Non-Synthetic NTRM are 0.39 grams, 1.89 grams, respectively. The highest NTRM is. Organic NTRM is higher in the Guluk-guluk Village of 0.83 grams, which is higher in the Bulay Village of 3.47 grams, which is in the form of stones. The high content of NTRM in Madura chopped tobacco requires attention in the development of partner farmers especially from the local government. Salah satu penyebab dampak negatif adalah meningkatnya NTRM (Non TobaccoRelated Material) yang merupakan bahan lain selain tembakau yang berpeluang besar ikut menjadi sumber bahan berbahaya, selain mengganggu proses produksi dan estetika. Penelitian ini bertujuan menentukan kandungan NTRM pada tembakau yang disiapkan petani untuk dijual ke gudang pembelian tembakau di gudang P.T. Sadhana Arifnusa Kabupaten Pamekasan pada tahun 2017. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode non-probability sampling technique. Petani responden dipilih yang memenuhi kriteria menanam dan mengolah daun tembakaunya sendiri kemudian akan dijual ke gudang. Petani menanam dan mengolah sendiri daun tembakau menjadi tembakau rajangan madura. Petani yang dipilih berasal dari Desa Bulay (Kecamatan Galis), Desa Guluk-Guluk (kecamatan Guluk-Guluk), Desa Kalompang Berek (Kecamatan Pakong), Desa Bicorong (Kecamatan Pakong), masing-masing di Kabupaten Pamekasan. Hasil penelitian di Empat Desa tersebut menunjukkan ada kandungan NTRM yang cukup tinggi. NTRM Organik dan NTRM Non Sintetik masing-masing 0,39 gram, 1,89 gram. NTRM paling tinggi adalah. NTRM Organik lebih tinggi di Desa Guluk-Guluk sebesar 0,83 gram, yang berupa batang tanaman, daun dan NTRM Non Sintetik lebih tinggi di Desa Bulay sebesar 3,47 gram, yang berupa batu. Tingginya kandungan NTRM tembakau rajangan madura, memerlukan perhatian dalam pembinaan kepada Petani Mitra khususnya dari Pemerintah Daerah.
PENGARUH TINGGI PANGKASAN TERHADAP GRADE TEMBAKAU RAJANGAN MADURA DI KECAMATAN BATUPUTIH KABUPATEN SUMENEP Mawahib, M Wafik Khairul; Tirtosastro, Samsuri; Sasongko, Pramono
Fakultas Pertanian Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The intensity of pruning and wanilan influences the quality of Madura chopped tobacco and is a factor that increases the tobacco grade. Increasing grade results in acceptance of quality by consumers and acceptance of farmers. This study aims to determine the effect of pruning height followed by the percentage of the quality index and index of Madura chopped tobacco plants. The quality index is an illustration of quality acceptance by consumers of a type of tobacco or a certain form of farming and a plant index is a picture of farmer acceptance. The experiment used a randomized block design (RBD) with four treatments each with 12 pieces of pruning height, 15 sheets, 18 sheets, and 21 sheets and each repeated five times. Trial sites in Tangedan Village, Juruan Laok Village, and Juruan Daya Village, Batuputih District, Sumenep Regency. The results showed that there was a significant effect of height on the index of quality and index of Madura tobacco plant. With the height of the pruning that leaves 15 leaves is the best result. Experiments in Tangedan Village produced a quality index and plant index, respectively 97.43 and 910.54, Juruan Laok Village 95.95 and 917.38, and Juruan Daya Village 96.92 and 919.05. Intensitas pangkasan dan wiwilan berpengaruh terhadap mutu tembakau rajangan madura dan menjadi faktor yang meningkatkan grade tembakau tersebut. Peningkatan grade mengakibatkan penerimaan mutu oleh konsumen dan penerimaan petani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tinggi pangkasan yang diikuti wiwilan terhadap indeks mutu dan indeks tanaman tembakau rajangan Madura. Indeks mutu adalah gambaran penerimaan mutu oleh konsumen dari suatu jenis tembakau atau suatu bentuk usaha tani tertentu dan indeks tanaman adalah gambaran penerimaan petani. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat 4 perlakuan masing-masing tinggi pangkasan 12 lembar, 15 lembar, 18 lembar, dan 21 lembar dan masing-masing diulang lima kali. Lokasi percobaan di Desa Tangedan, Desa Juruan Laok, dan Desa Juruan Daya Kecamatan Batuputih Kabupaten Sumenep. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh yang nyata dari tinggi pangkasan terhadap indeks mutu dan indeks tanaman tembakau rajangan madura. Dengan tinggi pangkasan yang menyisakan 15 lembar daun merupakan hasil yang terbaik. Percobaan di Desa Tangedan menghasilkan indeks mutu dan indeks tanaman, masing-masing 97,43 dan 910,54, Desa Juruan Laok 95,95 dan 917,38, dan Desa Juruan Daya 96,92 dan 919,05.
PENGARUH VARIETAS JAGUNG PADA PEMBUATAN KERUPUK JAGUNG Wahon, David Dolu Aman; Santosa, Budi; Sasongko, Pramono
Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the effect of various corn varieties on the quality of corn crackers. Corn used is yellow corn (K), hybrid corn (H), pulverized corn (P) and ordinary white corn (Ph). This study used a single factor Complete Randomized Design, namely corn varieties. The formulations used are K (1 kg yellow corn, 80% starch and 20% flour), H (hybrid corn, 80% starch and 20% flour), P (pulut corn, 80% starch and wheat flour 20%), Ph (ordinary white corn, 80% starch and 20% flour). Repetition is done six times. The results showed that pulutized corn (P) could produce corn crackers of the highest quality physically, chemically and sensory. This formulation produced the composition of water content, ash content, fiber content, and texture of 8.82%, 2.52%, 6.03% and 18.38% respectively. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai varietas jagung terhadap kualitas kerupuk jagung. Jagung yang digunakan yaitu jagung kuning (K), jagung hibrida (H), jagung pulut (P) dan jagung putih biasa (Ph). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktor tunggal yaitu varietas jagung. Formulasi yang digunakan yaitu K (jagung kuning 1 kg, tepung kanji 80 % dan tepung terigu 20 %), H (jagung hibrida, tepung kanji 80 % dan tepung terigu 20 %), P (jagung pulut, tepung kanji 80 % dan tepung terigu 20 %), Ph (jagung putih biasa, tepung kanji 80 % dan tepung terigu 20 %). Pengulangan dilakukan sebanyak enam kali. Hasil penelitian menunjukan bahwa jagung pulut (P) dapat menghasilkan kerupuk jagung dengan kualitas terbaik secara fisik, kimia dan sensoris. Formulasi ini menghasilkan komposisi kadar air, kadar abu, kadar serat, dan tekstur masing – masing yaitu 8,82 %, 2,52 %, 6,03 %, dan 18,38 %.