Yulia Asyiawati
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

STRATEGI PENGENDALIAN PEMANFAATAN LAHAN SEKITAR KAWASAN KALIMALANG KOTA BEKASI SECARA BERKELANJUTAN

Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 14, No 1 (2014): Strategi Pembangunan dan Ekonomi Lokal
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (789.727 KB)

Abstract

Sejalan dengan perkembangan penduduk suatu kota, akan meningaktkan kebutuhan lahan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, diantaranya adalah untuk kebutuhan permukiman, pengembangan kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat. Di sisi lain ketersediaan lahan yang ada tetap, sehingga hal ini mengakibatkan banyak terjadi ali fungsi peruntukan lahan. Demikian juga halnya yang terjadi di Kawasan Kalimalang Kota Bekasi.Kawasan Kalimalang Kota Bekasi yang terdapat di tengah-tengah Kota Bekasi memupunyai fungsi sebagai kawasan yang berfungsi lindung. Pada kenyataannya pada saat ini, kawasan Kalimalang secara sporadis dimanfaatkan oleh masyarakat untuk permukiman, perdagangan serta penggunaan jasa lainnya seerti seperti jasa bengkel. Semua kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang terdapat di Kawasan kalimalang, membuang limbahnya ke Kalimalang. Hal ini mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas air sungai Kalimalang yang merupakan salah satu sumber air baku untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Kota Bekasi. Berdasarkan Kalimalang Bekasi dimanfaatkan sebagai sumber air baku di Kota Bekasi ialah Kalimalang. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian untuk mengendalikan pemanfaatan lahan di sekitar Kawasan Kalimalang Kota Bekasi agar dapat mewujudkan kondisi lingkungan yang lestari sesuai rencana tata ruang. Tujuan yang diharapkan dari studi ini (1) identifikasi karakteristik masyarakat yang tinggal di kawasan studi; (2) identifikasi faktor yang mengalami penyimpangan penggunaan lahan; dan (3) identifikasi faktor yang mempengaruhi penggunaan lahan. Metode aanalisis yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah metode super impose antara pemanfaatan lahan eksisting dengan rencana tata ruang dana analisis kesesuaian peruntukan lahan; analisis korelasi kontingensi untuk melihat hubungan antara pemanfaatan lahan dengan kondisi masyarakat, serta analisis deskriptif untuk memberikan gambaran tentang kebijakan tata ruang Kota Bekasi. Dengan menggunakan analisis tersebut, diperoleh hasil bahwa pemanfaatan lahan di Kawasan Kalimalang mengalami pergeseran peruntukan sebesar 65,80 %  dari luas lahan kawasan yaitu 123.938 ha. Hal ini disebabkan karena rendahnya tingkat pendapatan masyarakat dan tingginya aksesibiltas dari kawasan ini menuju ke tempat kerja masyarakat. Untuk mengatasi kondisi tersebut, kawasan kalimalang harus dikendalikan pemanfaatannya dengan mengembalikan fungsi kawasan sebagai kawasan yang berfungsi lindung. Oleh karena itu langkah yang dilakukan adalah dengan merelokasi masyarakat yang tinggal di kawasan studi dan menata ulang Kawasan kalimalang sesuai dengan daya dukung dan daya tampung kawasan. Hal ini dilakukan untuk dapat mewujudkan pemanfaatan lahan berkelanjutan di Kawasan Kalimalang.

STATUS EKOSISTEM PESISIR BAGI PERENCANAAN TATA RUANG WILAYAH PESISIR DI KAWASAN TELUK AMBON

Planologi: Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 1, No 10 (2010): Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims : (1) to analyze the status of coastal ecosystems, (2) to analyze factors that affect the quality of coastal ecosystems, and (3) to prepare the direction on spatial planning in coastal areas of Ambon Bay Area. The analytical method used in this study is the analysis of ecosystem status, principal components analysis, analysis of Geographic Information Systems (GIS) and analysis of dynamic systems. The results showed that the condition of ecosystem status damaged in 2008, whereby, the status of mangrove ecosystems is moderate with a density of 1100 trees/ha, the status of seagrass ecosystems damaged by percentage cover of 38,76%, and the status of coral reef ecosystems are damaged by the percentage of live coral is 42,27%. Ecosystem conditions in Ambon Bay Area is affected by land use on land, namely forest area and population. Refferral of land use planning in Ambon Bay Areas wich recommended in this study for a period of 20 years of protected areas and cultivated areas. Protected areas is aimed at 9.480,70 ha or 41,21% of land area, while the allocation of space for the cultivation area is 10.416,30 ha (58,79% of land area). To reduce the pollutant into the waters, planned buffer zones (coastal and riverine border for 11,69% of land area), which serves to absorb pollutants and protect the inland waters of the tidal influence, while still controlling the waste coming into water By using dynamic systems analysis, created the scenario of land use planning in Ambon Bay Area that integrates land and wet land. The scenario used in this study is the optimistic, pessimistic and moderate scenarios. The variable that is used to determine of policy scenarios spatial planning based on the rate of population growth is 2,5% per annum, while variable forest area of at least 30% of the area. Of the three scenarios, the scenario chosen for the land use planning policy in Ambon Bay Areas in the future is to use the moderate scenario. The simulation results moderate scenario, the status of coastal ecosystems is improved from the criteria of the coastal ecosystem damaged by coastal ecosystems index 44,44% in 2008 turned into good condition with the index of coastal ecosystems 88,89% in 2029

PENGARUH PEMANFAATAN LAHAN TERHADAP EKOSISTEM PESISIR DI KAWASAN TELUK AMBON

Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 10, No 2 (2010): Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.873 KB)

Abstract

This study aims (1) to analyzing the shift in utilization patterns compared with the carrying capacity and land suitability; (2) to analyze the status of coastal ecosystems. The method of analysis used in this study is the analysis of Geographic Information System (GIS). The results showed that there was a shift utilization, namely: to change the function of protected areas into mixed areas and dryland farming for 83.12%, coastal border that changes the function into the airport area, mixed area, settlements, dry land farming for 96.02%, dry land agriculture which transformed the function into neighborhoods, the area is a mixture of 8.70%. This resulted in the status of coral reef ecosystems, including criteria for medium-well with percentage coral cover ranged from 36.63 to 75.62%, the status of mangrove ecosystems including the category tree density was 780 to 1420 trees / ha, and the status of seagrass ecosystems, including categories less rich with the percentage cover ranged from 33.13% to 44.39%.   Keywords: coastal ecosystem, coastal areas

PENGELOLAAN PEMANFAATAN RUANG DI KAWASAN GUNUNG BROMO DAN SEKITARNYA SECARA BERKELANJUTAN DI KECAMATAN PONCOKUSUMO

Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 14, No 2 (2014): Lingkungan dan Perdesaan
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia consists of 514 districts / cities, one of which is Malang located in East Java province. Malang regency has the potential of Natural Resources is very abundant. Poncokusumo sub-district is one of the districts in Malang Regency has a variety of potential, ranging from agriculture and nature. One very famous natural attraction is Mount Bromo. Mount Bromo is one mainstay of tourism in the district of Malang Regency Poncokusumo. As is known, in 2010, Mount Bromo erupted and resulted in tremendous impact for the communities around Mount Bromo both in economic and environmental terms. Then in early 2011, there were concerns about local economic and environmental potential problems in the long term among residents in the area around Mount Bromo, especially in areas that are in Malang. The purpose of this study is to develop the concept of sustainable management of the space utilization in the region of Mount Bromo Poncokusumo District of Malang. This study included into the quantitative descriptive research type. The descriptive terms are included on the condition of the District of Poncokusumo be viewed from the potential and the problems they have. Quantitative analysis is supported by using the form of secondary data collection and primary distribution of open questionnaire. There are two questionnaires, the questionnaire 15 people and 15 questionnaires were distributed to visitors who do Pocokusumo the District community and the visitor Mount Bromo and field observation method is ground check Based on this research can be concluded that the potential possessed by the District Poncokusumo directed to development of the region by increasing the strategies undertaken: (1) Development Zone Main Commodity (KAPUK) horticulture; (2) The development of the excellent potential include industrial, food crops, plantations and tourism with prioriyas the cultivation of horticultural crops dengna concept agropolitan; (3) Utilization of space area by setting the cropping of 8443 Ha, tourism activities amounted to 7,431 ha and Land woke 3322.32 Ha (4) Cooperation among stakeholders and the public in environmental management accented with custom customs Tengger

PENERAPAN PROGRAM LINIER UNTUK PEMANFAATAN LAHAN DI KAWASAN PESISIR KOTA CIREBON

Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 13, No 1 (2013): Pariwisata dan Fenomena Ruang
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (972.612 KB)

Abstract

Pesisir Kota Cirebon secara fisik memiliki sumberdaya yang potensial untuk dikembangkan kedepannya. Permasalahan yang terjadi saat ini, bahwa dari pemanfaatan lahan yang ada di kawasan pesisir tersebut belum dapat meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir. Hal tersebut tercermin dari jumlah keluarga miskin mencapai 41%, pendapatan yang diperoleh masyarakat masih dalam kategori rendah, 47% masyarakat bekerja sebagai buruh, indeks daya beli didua kecamatan pada kawasan studi juga paling rendah diantara kecamatan lainnya di Kota Cirebon dan masih banyaknya  jumlah pencari kerja.  Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis data kualitatif dan metode analisis data kuantitatif dengan menggunakan alat analisa Linear Programming. Dari hasil analisis yang telah dilakukan maka rekomendasi yang dapat diberikan adalah memaksimalkan pemanfaatan lahan pelabuhan dan perdagangan jasa sebagai alternatif kombinasi pemanfaatan lahan yang mampu meningkatkan pertumbuhan perekonomian dikawasan pesisir Kota Cirebon. Kata kunci : Program Linier Pesisir Cirebon

STATUS EKOSISTEM PESISIR BAGI PERENCANAAN TATA RUANG WILAYAH PESISIR DI KAWASAN TELUK AMBON

Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 10, No 1 (2010): Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.845 KB)

Abstract

This study aims : (1) to analyze the status of coastal ecosystems, (2) to analyze factors that affect the quality of coastal ecosystems, and (3) to prepare the direction on spatial planning in coastal areas of Ambon Bay Area. The analytical method used in this study is the analysis of ecosystem status, principal components analysis, analysis of Geographic Information Systems (GIS) and analysis of dynamic systems. The results showed that the condition of ecosystem status damaged in 2008, whereby, the status of mangrove ecosystems is moderate with a density of 1100 trees/ha, the status of seagrass ecosystems damaged by percentage cover of 38,76%, and the status of coral reef ecosystems are damaged by the percentage of live coral is 42,27%. Ecosystem conditions in Ambon Bay Area is affected by land use on land, namely forest area and population. Refferral of land use planning in Ambon Bay Areas wich recommended in this study for a period of 20 years of protected areas and cultivated areas. Protected areas is aimed at 9.480,70 ha or 41,21% of land area, while the allocation of space for the cultivation area is 10.416,30 ha (58,79% of land area). To reduce the pollutant into the waters, planned buffer zones (coastal and riverine border for 11,69% of land area), which serves to absorb pollutants and protect the inland waters of the tidal influence, while still controlling the waste coming into water By using dynamic systems analysis, created the scenario of land use planning in Ambon Bay Area that integrates land and wet land. The scenario used in this study is the optimistic, pessimistic and moderate scenarios. The variable that is used to determine of policy scenarios spatial planning based on the rate of population growth is 2,5% per annum, while variable forest area of at least 30% of the area. Of the three scenarios, the scenario chosen for the land use planning policy in Ambon Bay Areas in the future is to use the moderate scenario. The simulation results moderate scenario, the status of coastal ecosystems is improved from the criteria of the coastal ecosystem damaged by coastal ecosystems index 44,44% in 2008 turned into good condition with the index of coastal ecosystems 88,89% in 2029

IDENTIFIKASI DAMPAK PERUBAHAN FUNGSI EKOSISTEM PESISIR TERHADAP LINGKUNGAN DI WILAYAH PESISIR KECAMATAN MUARAGEMBONG

Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol 14, No 1 (2014): Strategi Pembangunan dan Ekonomi Lokal
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (982.384 KB)

Abstract

Perubahan yang terjadi pada wilayah pesisir dan laut tidak hanya sekedar gejala alam semata, tetapi kondisi ini sangat besar dipengaruhi oleh aktifitas manusia yang ada di sekitarnya. Wilayah pesisir merupakan wilayah penerima tekanan lebih besar dibandingkan dengan wilayah lain, karena wilayah pesisir mempunyai fungsi sebagai  penyedia sumberdaya alam, penyedia jasa-jasa pendukung kehidupan, penyedia jasa kenyamanan dan sebagai penerima limbah dari aktivitas pembangunan yang terdapat di lahan atas (lahan daratan) seperti kegiatan permukiman aktivitas perdagangan, perikanan dan kegiatan industri. Semua dari kegiatan tersebut memberikan dampak terhadap wilayah pesisir yang dapat mempengaruhi pada kualitas lingkungan wilayah pesisir terutama pada penurunan kualitas ekosistem pesisir.Wilayah Pesisir Muaragembong dimanfaatkan sebagai multiuse, mengakibatkan ketidakteraturan dalam pemanfaatan kawasan sehingga menimbulkan perubahan fungsi dari ekosistem pesisir yang mengakibatkan penurunan terhadap kualitas ekosistem dan lingkungan. Hal ini mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan di wilayah pesisir Kecamatan Muaragembong. Berdasarkan kondisi yang ada, maka artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak perubahan fungsi ekosistem pesisir terhadap lingkungan di wilayah pesisir khusnya yang menjadi lokus kajian di wilayah pesisir Kecamatan muaragembong. Hal ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang identifikasi dampak yang ditimbulkan dari perubahan fungsi ekosistem pesisir di Wilayah Pesisir Muaragembong, sehingga dapat memberikan masukan untuk merencanakan wilayah secara berkelanjutan.