Articles

Found 15 Documents
Search

Characteristics of Boleng Strait Sediments, East Nusa Tenggara, and its Relationship with Current Velocity Kurnio, Hananto; Yuningsih, Ai; Zuraida, Rina
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 33, No 1 (2018)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32693/bomg.33.1.2018.387

Abstract

Islands of Nusa Tenggara are separated by narrow and deep straits resulted from complex tectonic activties. One of the strait is Boleng Strait where tidal current as high as 310 cm/s occurred which might be suitable for an ocean current power plant. Utilization of such resources would need various information of the area, one of them is sediment textures that characterized the seafloor and coastal area and their relationship to current velocity. Grain size analyses were conducted on 12 seafloor sediment samples and 26 coastal sediment samples to identify sediment texture. An additonal 14 seafloor sediment samples with limited volume were observed to determine their sediment types. The result of analysis yielded six types of seafloor sediments: Sand, Gravelly Sand, Sandy Gravel, Silty Sand and Sandy Silt. The sediment grain size is equally influenced by current velocity (r = 0.57) and water depth (r = 0.52) which is reflected by sediment distribution: coarse–grain sediments cover the area near Boleng Strait which has stronger current and fine–grain sediments cover the inner part of the Lewoleba Bay. Plot of six sets of mean grain size and current velocity on Hjulström diagram shows that most of seafloor sediments are on the move and one (SBL. 14) is being eroded. This condition might affect the turbine and thus needs to be taken into consideration when designing the turbine. Grain size analyses on coastal sediment samples show that the mean grain size of coastal sediments ranges between 0.19 mm and 0.62 mm with average value of 0.33 mm that is classified as medium sand. Sand fraction in coastal sediments composes 57% to 100% of the sediments. Observation on mineralogy of the sediments shows abundance of magnetite that concentrates in the fine and medium sand fractions. The presence of magnetite indicate that current–related selective entrainment occurs in the study area. This condition suggests that the coastal area is also strongly affected by ocean current.Key words: current velocity, sediment grain size, Boleng Strait.Aktivitas tektonik di Nusa Tenggara Timur menyebabkan terbentuknya batimetri yang kompleks di sekitar kepulauan tersebut yang dicirikan oleh adanya selat sempit dan dalam yang memisahkan pulau–pulau. Salah satu selat tersebut adalah Selat Boleng yang memiliki kecepatan arus terukur maksimum sebesar 310 cm/s yang dapat digunakan sebagai pembangkit energi listrik. Desain turbin arus akan membutuhkan banyak informasi, salah satunya adalah sedimen dasar laut dan pantai serta hubungannya dengan kecepatan arus. Analisis besar butir dilakukan pada 12 sampel sedimen dasar laut dan 26 sampel sedime pantai untuk menentukan jenis sediment. Sebanyak 14 sampel sedimen dasar laut dengan volume terbatas diamati untuk mengetahui jenis sedimen. Hasil analisis menunjukkan bahwa sedimen dasar laut terdiri atas enam jenis: Pasir, Pasir Kerikilan, Kerikil pasiran, Pasir Lanauan dan Lanau Pasiran. Ukuran butir sedimen dipengaruhi oleh kecepatan arus (r = 0.57) dan kedalaman laut (r = 0.52) yang tercermin pada distribusi sedimen: sedimen berukuran kasar menutupi dasar laut di dekat Selat Boleng yang berarus lebih kuat, dan sedimen berukuran halus menutupi dasar laut di bagian dalam Teluk Lewoleba. Plot enam set ukuran butir rata–rata dan kecepatan arus pada diagram Hjulström menunjukkan bahwa hampir seluruh sampel berada dalam kondisi bergerak dan bahkan satu (SBL. 14) sedang mengalami erosi. Kondisi ini akan mempengaruhi turbin sehingga perlu dijadikan pertimbangan saat mendesain turbin. Hasil analisis besar butir pada sedimen pantai menunjukkan bahwa ukuran butir rata–rata sedimen pantau berkisar 0.19 mm dan 0.62 mm dengan nilai rata–rata 0.33 mm yang termasuk dalam fraksi pasir sedang. Fraksi pasir dalam sedimen pantai menyusun 57%–100% sedimen. Pengamatan mineralogi menunjukkan melimpahnya magnetit yang terkonsentrasi pada fraksi pasir halus–sedang. Keberadaan magnetit menunjukkan adanya proses pemisahan yang berkaitan dengan arus laut. Kondisi ini menunjukkan bahwa daerah pantai Selat Boleng juga dipengaruhi oleh arus laut. Kata Kunci: kecepatan arus, ukuran butir sedimen, Selat Boleng.
STUDI BAHAN ORGANIK TOTAL (BOT) SEDIMEN DASAR LAUT DI PERAIRAN NABIRE, TELUK CENDRAWASIH, PAPUA Sari, Tiara Asmika; Atmodjo, Warsito; Zuraida, Rina
Journal of Oceanography Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Journal of Oceanography

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.724 KB)

Abstract

Abstrak Bahan Organik Total (BOT) pada sedimen dasar laut dapat digunakan sebagai indikator perubahan tingkat produktivitas primer suatu lingkungan, baik di darat maupun di laut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan BOT pada sedimen dasar laut perairan Nabire, Teluk Cendrawasih, Papua mengingat kawasan ini termasuk dalam Taman Nasional Teluk Cendrawasih (TNTC) dan dipengaruhi oleh aliran Sungai Wapoga sehingga aktifitas biota laut dan daratan menjadi sumber utama bahan organik. Metode penelitian adalah metode deskriptif, yaitu metode untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian yang dikaji pada waktu terbatas untuk mendapatkan gambaran kondisi secara lokal, sedangkan metode pengambilan sampel menggunakan alat Multicorer dan analisa sampel dengan metode Loss On Ignition (LOI). Data yang diambil pada penelitian ini meliputi sedimen dasar laut dan pengukuran kedalaman laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BOT pada sedimen dasar laut di Perairan Nabire memiliki rata-rata sebesar 2,2%-4,3%. Nilai rata-rata kandungan BOT tergolong sedang disebabkan karena jarak lokasi pengambilan sampel hampir berada di tengah teluk dan pada kedalaman 1381 m, sehingga sumber bahan organik pada sedimen hanya berasal dari aktifitas perairan tersebut.  
KARAKTERISTIK SEDIMEN PALUNG LAUT SULAWESI (CORE STA12) BERDASARKAN HASIL PENGAMATAN MEGASKOPIS DAN SIFAT FISIKA DARI PENGUKURAN MULTI-SENSOR CORE LOGGER (MSCL) Hendrizan, Marfasran; Zuraida, Rina; Cahyarini, Sri Yudawati
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 26, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1162.674 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2016.v26.273

Abstract

Karakteristik sedimen yang dikaji pada Core STA12 (120o06.555’ BT, 02o00.911’ LU, kedalaman air laut 4820 m) di palung Laut Sulawesi dianalisis menggunakan pengamatan megaskopis dan pengukuran sifat fisika seperti sifat kemagnetan, perubahan warna, cepat rambat gelombang, dan unsur kimia menggunakan Multi-Sensor Core Logger (MSCL). sedimen yang berwarna lebih gelap terletak pada kedalaman 70-100 cm dan 135-195 yang diselingi oleh sedimen berwarna lebih cerah diantara sedimen yang lebih gelap tersebut. Sedimen yang berwarna gelap ini memiliki sifat fisik nilai L* yang rendah, sifat kemagnetan yang cenderung tinggi, rasio normalisasi (K/Ca) yang rendah, dan kecepatan transmisi gelombang P yang tinggi. Keberadaan elemen terrestrial seperti Ti, Fe, K, dan Mn yang cenderung rendah pada sedimen yang berwarna lebih gelap. Namun sedimen yang lebih cerah memiliki karakter sedimen sebaliknya dengan nilai L* yang tinggi, sifat kemagnetan yang cenderung rendah, rasio normalisasi (K/Ca) yang tinggi, dan kecepatan transmisi gelombang yang rendah. Karakteristik sedimen pada core STA12 ini diduga terkait jumlah pasokan input terrestrial dari wilayah Kalimantan atau Filipina. Selain itu, intensitas airlindo yang melewati core STA12 juga kemungkinan mempengaruhi karakteristik sedimen di wilayah ini. Sediment characteristic was examined in Sulawesi Sea trench, core STA12 (120o06.555’ E, 02o00.911’ N, water depth 4820 m). This core was analyzed using megascopic observation and physical properties measurement i.e. magnetic susceptibility, color change, P-Wave velocity, and chemical elements using Multi-Sensor Core Logger (MSCL). The darker sediments located at the depth of 70-100 cm and 135-195 cm was alternated by the brighter sediment in between their darker sediments. The darker sediments posses the physical properties i.e. low L* value, high magnetic susceptibility, low normalized ratio of (K/Ca), and high P-wave velocity. The occurrence of terrestrial elements (Ti, Fe, K, and Mn) indicates low characteristic in the darker sediments. In contrast, the brighter sediments show the physical properties i.e. high L* value, low magnetic susceptibility, high normalized ratio of (K/Ca), and low P-wave velocity as well as higher characteristic of terrestrial elements. The sediment characteristic at core STA12 is supposed due to the amount of terrestrial input from Kalimantan and Philippine. Besides, the Indonesian throughflow (ITF) passed the location core STA12 may influence the sediment characteristic in this area.
Sediment Characteristics of Mergui Basin, Andaman Sea based on Multi-proxy Analyses Zuraida, Rina; Troa, Rainer Arief; Hendrizan, Marfasran; Gustiantini, Luli; Triarso, Eko
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 32, No 2 (2017)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper presents the characteristics of sediment from core BS-36 (6°55.85’ S and 96°7.48’ E, 1147.1 m water depth) that was acquired in the Mergui Basin, Andaman Sea. The analyses involved megascopic description, core scanning by multi-sensor core logger, and carbonate content measurement. The purpose of this study is to determine the physical and chemical characteristics of sediment to infer the depositional environment. The results show that this core can be divided into 5 lithologic units that represent various environmental conditions. The sedimentation of the bottom part, Units V and IV were inferred to be deposited in suboxic to anoxic bottom condition combined with high productivity and low precipitation. Unit III was deposited during high precipitation and oxic condition due to ocean ventilation. In the upper part, Units II and I occurred during higher precipitation, higher carbonate production and suboxic to anoxic condition.Keywords: sediment characteristics, Mergui Basin, Andaman Sea, suboxic, anoxic, oxic, carbonate content Makalah ini menyajikan karakteristik sedimen contoh inti BS-36 (6°55,85’ LS dan 96°7,48’ BT, kedalaman 1147,1 m) yang diambil di Cekungan Mergui, Laut Andaman. Metode analisis meliputi pemerian megaskopis contoh inti, pemindaian contoh inti dengan menggunakan multi-sensor core logger, dan pengukuran kandungan karbonat. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui karakteristik fisik dan kimiawi sedimen untuk menafsirkan kondisi lingkungan pengendapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa contoh inti ini dapat dibagi menjadi 5 unit litologi yang mewakili kondisi lingkungan yang berbeda. Pada bagian bawah sedimen, Unit V dan IV ditafsirkan sebagai hasil endapan pada kondisi suboksik hingga anoksik pada saat produktivitas tinggi dan curah hujan rendah. Unit III diendapkan pada saat curah hujan tinggi dan kondisi oksik yang diperkirakan berkaitan dengan ventilasi samudera. Pada bagian atas, Unit II dan I diendapkan pada saat curah hujan cukup tinggi dengan produksi karbonat yang cukup besar dan kondisi dasar laut suboksik hingga anoksik. Kata kunci: karakteristik sedimen, Cekungan Mergui, Laut Andaman, suboksik, anoksik, oksik, kandungan karbonat 
Elemental Analysis on Marine Sediments Related to Depositional Environment of Bangka Strait Sampurno, Pungky; Zuraida, Rina; Nurdin, Nazar; Gustiantini, Luli; Aryanto, Noor Cahyo Dwi
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 32, No 2 (2017)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1933.608 KB)

Abstract

Study of elemental composition in sediment has been proven useful in interpreting the depositional environmental changes. Multi Sensor Core Logger (MSCL) is a non-destructive analysis that measures several parameters in sediment core including magnetic susceptibility and elemental composition. Magnetic susceptibility and elemental analysis were measured in four selected marine sediment cores from western part of Bangka Strait (MBB-67. MBB-119, MBB-120 and MBB-173) by using magnetic susceptibility and X-ray Fluorescence (XRF) sensors attached to the MSCL. The data was collected within 2 cm interval. Scatter plots of Y/Zr and Zr/Ti show singular trend demonstrated by sediments from MBB-173 and two groups that composed of MBB-67 (Group 1) and MBB-119 + MBB-120 (Group 2). MBB-67 that is located adjacent to Klabat Granite shows upward changes in mineralogy, slight increase of grain size and negligible change in Y concentration. Cores MBB-119 and MBB-120 are inferred to be deposited during regression that resulted in the accummulation of Y-bearing zircon in MBB-119 before the mineral could reach MBB-120. Core MBB-173 is interpreted to be the product of plagioclase weathering that is submerged by rising sea level. This core contains a horizon of rich Y-bearing zircon at 60 cm.Keywords: Multi Sensor Core Logger, X-Ray Fluorescence, magnetic susceptibility, depositional environment, Bangka Island Studi tentang komposisi unsur kimia dalam sedimen telah terbukti bermanfaat dalam interpretasi perubahan lingkungan pengendapan. Multi Sensor Core Logger (MSCL) adalah sebuah analisis yang non-destructive, untuk mengukur beberapa parameter dalam bor sedimen termasuk suseptibilitas magnetik dan kandungan unsur. Suseptibilitas magnetik dan kandungan unsur diukur dari 4 bor sedimen laut yang terpilih di bagian barat Selat Bangka (MBB-67. MBB-119, MBB-120 and MBB-173) dengan menggunakan sensor suseptibilitas magnetik (MS) dan X-ray Fluorescence (XRF) yang terpasang pada MSCL. Pengukuran dilaksanakan dengan interval 2 cm. Plot Y/Zr dan Zr/Ti menunjukkan satu trend yang diperlihatkan oleh sedimen bor MBB-173 dan dua grup yang terdiri atas MBB-67 (Grup 1) dan MBB-119 + MBB-120 (Grup 2). Bor MBB-173 ditafsirkan sebagai hasil pelapukan plagioklas yang kemudian terendam air laut. Bor ini memperlihatkan horizon yang kaya akan zirkon pembawa yttrium pada kedalaman 60 cm.Kata kunci : Multi Sensor Core Logger, X-Ray Fluorescence, suseptibilitas magnetik, lingkungan pengendapan, Pulau Bangka
Calcareous Nannoplankton (marine algae) Analysis in Subsurface Sediments of Andaman Sea Hendrizan, Marfasran; Troa, Rainer Arief; Triarso, Eko; Zuraida, Rina; Liu, Shengfa
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 31, No 2 (2016)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1509.875 KB)

Abstract

Andaman Sea in the Indo-Pacific Warm Pool (IPWP) is influenced by Indo-Australia monsoon winds. Marine sediment cores in this area, BS36 (06°55’50.8”N; 96°07’28.51”E; ; Water depth 1147.1 meters) were acquired by Geomarin III research vessel andanalysed its morphology for nannoplankton occurences. Results from qualitative identification on marine sediment core in Andaman Sea obtained 11 genus of nannoplankton marine algae in this area. Dominated genus discovered in this site is Gephyrocapsa, Emiliania, and Helicosphaera. Although this research is qualitative and preliminary study phase; however, this reference of modern nannoplankton taxonomy and features using Scanning Electron Microscope (SEM) would enhance marine algae biodiversity along Andaman Sea of Indonesian watersKeywords: Nannoplankton, morphology, sediment core, taxonomy, Andaman Sea Kawasan Laut Andaman terletak di wilayah kolam panas Indo-Pasifik sangat dipengaruhi oleh angin musim Indo-Australia. Conto inti sedimen laut di wilayah BS 36 (06°55’50.8” Utara; 96°7’28.51” Timur; kedalaman laut 1147,1 meter) diambil menggunakan wahana kapal riset Geomarin III dan dianalisis morfologi nanoplankton yang ditemukan di wilayah ini. Hasil dari pemerian kualitatif dari conto sedimen inti di Laut Andaman menghasilkan 11 genus nanoplankton sebagai alga laut yang dapat ditemukan pada lokasi ini. Genus yang sangat menonjol di satu lokasi titik pengambilan conto sedimen inti yaitu Gephyrocapsa, Emiliania, dan Helicosphaera. Meskipun kajian ini masih bersifat kualitatif dan tahap studi awal; namun acuan tentang taksonomi nanoplankton modern dan kenampakan dari Scanning Electron Microscope (SEM) akan memperkaya biodivesitas alga laut di sepanjang Laut Andaman dari perairan Indonesia.Kata Kunci: Nanoplankton, morfologi, conto sedimen inti, taxonomi, Laut Andaman
Penentuan Siklus Glasial – Interglasial Terakhir Pada Sedimen Dasar Laut Kawasan Lepas Pantai Pelabuhan Ratu Zuraida, Rina; Troa, Rainer A.; Hendrizan, Marfasran; Triarso, Eko; Gustiantini, Luli; Nurdin, Nazar; Hantoro, Wahyu S.; Liu, Shengfa
Jurnal Segara Vol 11, No 2 (2015): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/segara.v11i2.7355

Abstract

Kawasan Lepas Pantai Pelabuhan Ratu yang terletak di wilayah Jawa Barat bagian selatan dipengaruhi oleh dinamika laut Selat Sunda dan Samudera Hindia bagian timur. Kondisi ini terekam dalam sedimen dasar laut dan tersimpan sebagai informasi berbagai proses yang terjadi di perairan tersebut pada rentang waktu geologi tertentu. Penelitian ini menggunakan contoh inti sedimen dasar laut SO184-10043 (7°18,57 LS dan 105° 3,45’ BT, kedalaman 2166 m, panjang 360 cm) yang diambil pada saat cruise PABESIA dengan menggunakan kapal riset Sonne di Selat Sunda. pada tahun 2005. Metode penelitian yang digunakan adalah pentarikhan umur (dating) radiokarbon (14C) dan analisis isotop oksigen (d18O) pada foraminifera plankton Globigerinoides ruber. Hasil pentarikhan umur isotop 14C terhadap 16 cuplikan contoh menunjukkan bahwa contoh inti SO184-10043 merekam Siklus Glasial Terakhir hingga 35.000 tahun yang lalu. Hasil pengukuran d18O memberikan nilai Deglasiasi yang lebih besar dari daerah sekelilingnya yang diduga akibat terbukanya Laut Jawa yang memungkinkan mengalirnya air dari Laut Cina Selatan dengan salinitas dan suhu yang lebih rendah menuju Samudera Hindia melalui daerah penelitian. Rekonstruksi suhu permukaan laut dari data isotop d18O memberikan nilai suhu Deglasiasi yang jauh lebih tinggi yang diduga akibat faktor lokal yang mempengaruhi nilai salinitas di daerah penelitian.
Isolasi Bakteri Pendegradasi Xilan dan Manan dari Perairan Indonesia Zuraida, Rina; Yopi, Yopi
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (929.538 KB) | DOI: 10.15578/jpbkp.v11i1.283

Abstract

Bakteri laut penghasil enzim xilanase dan mananase menyimpan banyak potensi bagi bioteknologi kelautan. Informasi sebarannya juga dapat digunakan untuk memetakan keragaman bakteri laut serta analisis lingkungan perairan Indonesia sehingga pemanfaatannya dapat tepat sasaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi bakteri laut pendegradasi xilan dan manan dari Indonesia. Penapisan kemampuan xilanolitik dan manolitik menggunakan metode Congo red dilakukan pada isolat bakteri yang diisolasi dari Laut Jawa, Selat Makassar, Laut Flores, dan Laut Sawu pada kedalaman 5 dan 20 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat X7517, X1654, dan XM26511 diketahui menghasilkan xilanase dengan kondisi optimal reaksi enzim masing-masing adalah pH 9, T 90 °C (2,253±2,075 U/ml), pH 6, T 70 °C (0,633±0,082 U/ml), dan pH 6, T 70 °C (2,293±0,066 U/ml). Ketiganya diketahui memiliki kesamaan genetis dengan Halomonas aquamarina DSM 30161, Alteromonas macleodii NBRC 102226, dan H. meridiana NBRC 15608. Isolat bakteri manolitik L15203 dan L16571 memiliki kesamaan dengan Idiomarina zobellii KMM231, sedangkan isolat L2207 memiliki kesamaan dengan Bacillus sp. MB 71. Ketiga bakteri tersebut memiliki aktivitas mananase optimal pada kondisi alkali, masing-masing pada pH 8, T 80 °C  (0,477±0,024 U/ml) untuk L 15203, pH 9,T 90 °C (0,476±0,009U/ml) untuk L16571 dan pH 9, T 80 °C (0,528±0,057 U/ml) untuk L2207. Bakteri laut xilanolitik dan manolitik yang berpotensi dalam produksi xilanase dan mananase melimpah di sebagian perairan Indonesia, terutama di perairan yang semakin dekat permukaan laut atau perairan dangkal.
PELUANG PENGEMBANGAN WILAYAH PESISIR PANTAI SUMBAWA BARAT, NUSA TENGGARA BARAT DITINJAU DARI ASPEK KARAKTERISTIK DAN GEJALA PERUBAHAN GARIS PANTAI Lugra, Wayan; Wahib, Abdul; Darlan, Yudi; Zuraida, Rina
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 1, No 2 (2003)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.218 KB) | DOI: 10.32693/jgk.1.2.2003.94

Abstract

Perkembangan pemanfaatan daerah pesisir pantai Sumbawa Barat sejak 7 tahun terakhir menjadi sangat pesat baik sebagai daerah hunian, pertambakan, budidaya laut maupun sebagai daerah tujuan wisata. Bagian utara daerah telitian yaitu daerah Labuan Tano sampai Labuan Sepakek, Kecamatan Seteluk, berkembang pesat sebagai lahan pertambakan, sedangkan di bagian tengah yaitu di Teluk Taliwang Kecamatan Taliwang, pesisir dan laut dimanfaatkan untuk budidaya laut (kerang mutiara) yang diusahakan secara modern. Di bagian selatan yang berkembang sebagai kota wisata adalah Desa Maluk, Kecamatan Jereweh. Perkembangan Desa Maluk ini tidak disertai oleh daya dukung lingkungan dan perencanaan yang terpadu sehingga cepat atau lambat akan membawa dampak lingkungan yang negatif,baik di pesisir maupun di laut. Beberapa daerah yang direkomendasikan untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata pantai dan laut adalah bagian selatan Labuan Sepakek, Lb. Balat, Teluk Kertasari, Teluk Benette, Teluk Jelenga dan Maluk, sedangkan Labuan Tentong, dan bagian utara Tg. Kertasari cocok untuk dikembangkan sebagai tempat budidaya tambak dengan memperhatikan kelestarian lingkungan. Since the last 7 years, the developing use of the coastal area of West Sumbawa very rapidly increase as the fishponds, sea estates and tourism objects. The northern part of the study area, from Labuan Tano to Labuan Sepakek Kecamatan Seteluk rapidly develope as the fishpond areas, while in Taliwang Bay Kecamatan Taliwang, the coastal and sea are used for sea estate by using modern technology. The southern part of the study area, developes as a tourism city at Desa Maluk, Kecamatan Jereweh. The developing of Desa Maluk is not supported by the environmental carrying capacity and the integrated programme, therefor soon or latter it will bring the bed environmental impacts on the coastal or sea areas. Some areas that recommended to be developed as the tourism objects, are the southern part of Labuan Sepakek, Labuan Balad, Kertasari Bay, Bennette Bay, Jelenga Bay and Maluk, while Labuan Tetong in the northern part of Kertasari Bay is suitable to be developed for fishponds estate with a sustainable environmental consideration.
DISTRIBUSI FORAMINIFERA DI LAUT HALMAHERA DARI GLASIAL AKHIR SAMPAI RESEN Gustiantini, Luli; Maryunani, Maryunani; Zuraida, Rina; Kissel, C.; Bassinot, F.
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 13, No 1 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32693/jgk.13.1.2015.259

Abstract

Mikrofauna foraminifera telah banyak digunakan sebagai proksi dalam penelitian paleoseanografi dan perubahan iklim purba. Kelimpahan dan komposisi kimia cangkang foraminifera merekam berbagai informasi yang dapat diinterpretasi berkaitan dengan perubahan lingkungan berdasarkan parameter-parameter paleoseanografi. Paleoseanografi Laut Halmahera sangat penting untuk dikaji karena berpengaruh terhadap dinamika iklim Indonesia dan iklim global. Perubahan-perubahan parameter oseanografi tersebut mempengaruhi sirkulasi arus global dan interaksi antara air-udara yang berperan terhadap penyebaran uap air ke lintang tinggi. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah mempelajari distribusi foraminifera untuk rekonstruksi perubahan paleoseanografi di Laut Halmahera dan sekitarnya. Data foraminifera ini didukung dengan pemodelan umur dan rekonstruksi isotop stratigrafi berdasarkan analisis d18O G. ruber dan C14 radiokarbon dating. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan foraminifera di Laut Halmahera sangat dipengaruhi oleh iklim global. Kelimpahan foraminifera terutama didominasi oleh G. ruber, G. bulloides, P. obliqueloculata, N. dutertrei, dan G. menardii dari jenis planktonic. Sedangkan jenis bentik didominasi oleh Bulimina spp., Bolivinita quadrilatera, Bolivina spp., dan Uvigerina spp. Biozonasi foraminifera menunjukkan korelasi yang sangat baik dengan data ?18O dan mencerminkan perubahan – perubahan iklim di masa lalu yang terjadi sejak 50.000 tahun yang lalu antara lain glasial akhir yang berlangsung sejak zona 1 - 4b, LGM (subzone 4b), deglasiasi (subzona 4c), kondisi seperti YD dari bumi bagian utara atau ACR dari bumi bagian selatan pada awal zona 5, interglasial (pertengahan zona 5), dan Mid Holosen Maksimum pada pertengahan subzona 5a. Kata kunci: Distribusi foraminifera, paleoseanografi, isotop oksigen, perubahan iklim global, Laut Halmahera. Microfauna foraminifera has been widely used as a potential proxy for paleoceanography and paleoclimatological changes. Its assemblages and its test geochemical composition preserve important data that could interprete various oceanographic parameters related to the paleoenvironmental changes. The paleoceanography dynamic of Halmahera sea is very important to be studied due to its great impact to Indonesian and global climate. The changes of its oceanographic parameters influence the thermohaline circulation and the air-sea interaction that contribute to the water favour distribution to the high latitudes. Therefore this research purpose is to analyze the foraminiferal distribution in order to reconstruct the paleoceanography changes of Halmahera sea and surrounded. This foraminiferal study is supported by the age model reconstruction and isotope stratigraphy analysis based on d18O G. ruber and 14C dating. The result suggests that foraminiferal assemblage was influenced by global climate changes. Planktonic foraminifera is dominated by G. ruber, G. bulloides, P. obliqueloculata, N. dutertrei, and G. menardii. Benthic foraminifera is dominated by Bulimina spp., Bolivinita quadrilatera, Bolivina spp., and Uvigerina spp. Foraminiferal biozonation indicates coherent correlation with ?18O record, and reflects global paleoclimatic changes that occurred since the 50 ka BP. Those paleoclimatic changes are last glacial (zone 1 - subzone 4b), LGM (zone 4b), deglaciation that was started from subzone 4c, condition of YD like of Northern Hemisphere climate or ACR like of the Southern Hemisphere climate (the beginning of zone 5), interglacial (middle of zone 5), and Mid Holocene Maximum at the middle of subzone 5a.Keywords: Foraminiferal distribution, paleoceanograhy, oxygen isotope, global climate changes, Halmahera sea,