Tien Zubaidah
Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Jurusan Kesehatan Lingkungan, Indonesia

Published : 17 Documents
Articles

Found 17 Documents
Search

Perbandingan efektifitas model abatisasi di Laboratorium Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Banjarmasin tahun 2011 Zubaidah, Tien; Darmiah, Darmiah
Buski Vol 4, No 3 (2013)
Publisher : Buski

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian experimental laboratorium, ini bertujuan untuk mengetahui model yang paling efektif membunuh jentik Aedes aegypti. Model abatisasi ini menggunakan sistem membran yang dibandingkan dengan sistim tabur. Sampel sebanyak 780 jentik Ae. aegypti instar III yang sudah ditangkarkan di laboratorium dan diamati  sebanyak 6 kali ulangan. Studi  ini menunjukkan bahwa efek bunuh jentik Ae. aegypti dengan sistem membran lebih tinggi dibandingkan dengan sistem tabur, khususnya pada bulan ke-3: 91,7% untuk sistem membran; 83,3% untuk sistem tabur, dan pada bulan ke-4 : 60,0% untuk sistem membran; 8,3% untuk sistem tabur. Model abatisasi sistem membran mempunyai efek bunuh lebih efektif dibandingkan sistem  tabur.
Climate change impact on dengue haemorrhagic fever in Banjarbaru South Kalimanfan between 2005-2010 Zubaidah, Tien
Buski Vol 4, No 2 Des (2012)
Publisher : Buski

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Environment is one of instrumental factor in the emerging and spreading of hemorrhagic fever. The Climate change may affect to infectious disease pattern and the risk of transmission increasement. Dengue hemorrhagic fever (DHF) has become endemic in major cities in lndonesia. It is suspected that dengue outbreak that occur every year in almost all areas of lndonesia is close ly related to weather patterns. The purpose of this study was to determine the effect of c1imate change (rainfall, humidity, and temperature) to dengue cases in the Banjarbaru municipal during the year 2005-2010. The design of the study is a longitudinal studies of ecology. The research was conducted in April-May 201 0 and located in the Banjarbaru municipal, South Kalimantan by using secondary data. Data on the number of dengue cases was derived from the Banjarbaru Health Office reports. Climate data used were rainfall data, temperature and humidity obtained from the Meteorology and Geophysics Board (BM KG) Station of Banjarbaru and Syamsudin Noor Station of Banjarmasin. Results showed that rainfall, humidity, air temperature, and larva-free index had influence toward incidence of DHF (27%). The increased rainfall and we concluded humidity affected the increased in dengue cases. Therefore, it requires a good cooperation between the Health Official and BM KG as the party in charge for c1imates data. Lingkungan merupakan salah satu faktor penting dalam penyebaran penyakit demam berdarah. Perubahan iklim dapat berpengaruh terhadap pola penyakit menular dan seiring risiko meningkatnya penularan penyakit. Penyakit demam berdarah dengue (DBD) telah menjadi endemik di kota-kota besar di lndonesia. Diduga bahwa wabah demam berdarah yang terjadi setiap tahun di hampir seluruh lndonesia terkait erat dengan pola cuaca. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perubahan iklim (curah hujan, kelembaban, dan suhu udara) dengan kasus demam berdarah di kota Banjarbaru selama tahun 2005-2010. Desain penelitian yang digunakan adalah studi ekologi. Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Mei 2010 dan terletak di kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan dengan menggunakan data sekunder. Data jumlah kasus DBD berasal dari laporan Dinas Kesehatan Banjarbaru. Data iklim yang digunakan adalah data curah hujan, suhu dan kelembaban yang diperoleh dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Banjarbaru dan Stasiun Syamsudin Noor Banjarmasin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa curah hujan, kelembaban, temperatur udara, dan angka bebas jentik memiliki pengaruh terhadap kejadian DBD (27%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa curah hujan yang meningkat dan kelembaban mempengaruhi peningkatan kasus demam berdarah. Oleh karena itu, memerlukan kerjasama yang baik antara Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru dan BM KG sebagai pihak yang bertanggung jawab untuk data iklim.
Perbedaan House Indeks (HI) berdasarkan stratifikasi daerah DBD di wilayah kerja UPT Puskesmas Martapura Kecamatan Martapura Kota tahun 2012 ,, Marlina; S, Yohanes Joko; Zubaidah, Tien
Buski Vol 4, No 4 (2013)
Publisher : Buski

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam  Berdarah  Dengue (DBD) disebabkan oleh virus dan disebarkan oleh nyamuk. Penyakit ini adalah salah satu masalah bagi kesehatan masyarakat Indonesia yang cenderung terus menyebar dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan populasi. Dari tahun 2009 sampai dengan 2011 kasus DBD selalu ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Martapura. Jika dilihat dari stratifikasi kasus DBD per kelurahan/desa tahun 2012, terdapat 1 kelurahan dan 3 desa yang  termasuk dalam kategori daerah endemis DBD serta 7 desa yang termasuk dalam kategori daerah sporadis DBD. Belum pernah dilakukan pemeriksaan House Indeks (HI) oleh petugas P2DBD Puskesmas Martapura dan Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar  di  wilayah  kerja  Puskesmas Martapura.  Penelitian  ini  merupakan penelitian observasional analitik untuk mengetahui perbedaan HI daerah endemis DBD dengan daerah sporadis DBD  di wilayah  kerja UPT Puskesmas Martapura. Subjek penelitian  adalah HI daerah endemis dan sporadis yang diuji dengan uji statistik Independent 2-samples t-test. Hasil menunjukkan bahwa  tidak ada perbedaan HI antara daerah endemik dan sporadis dengue di wilayah kerja Puskesmas Martapura pada  tahun 2012.
Faktor yang mempengaruhi penurunan angka kesembuhan TB di Kabupaten Banjar tahun 2013 Zubaidah, Tien; Setyaningrum, Ratna; Ani, Frieda Noor
Buski Vol 4, No 4 (2013)
Publisher : Buski

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor karakteristik individu, perilaku, faktor peran pengawas minum obat (PMO), kondisi rumah penderita, tingkat kepatuhan penderita TB paru terhadap kesembuhan penyakit TB paru dalam pengobatan di Puskesmas Astambul Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan  Selatan. Penelitian dengan pendekatan cross sectional ini menggunakan uji statistik menghitung Odd Ratio (OR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesembuhan penyakit TB Paru  lebih kecil 1,6 kali pada umur muda dibandingkan dengan umur tua, pada responden dengan ventilasi tidak memenuhi syarat kesehatan 1,3 kali   lebih kecil dibandingkan dengan responden dengan ventilasi rumahnya yang memenuhi syarat kesehatan, pada responden dengan pencahayaan tidak memenuhi syarat kesehatan  1,3 kali lebih kecil dibandingkan dengan responden dengan pencahayaan yang memenuhi syarat kesehatan. Responden dengan pengetahuan kurang 6,7 kali untuk tidak sembuh dibandingkan dengan kesembuhan TB Paru pada responden dengan pengetahuan baik (OR=6,750), serta kesembuhan penyakit TB Paru pada responden dengan tindakan kurang 4,3 kali untuk tidak sembuh dibandingkan dengan kesembuhan TB Paru pada responden dengan tindakan baik (OR=4,333). Peningkatan keaktifan Pengawas Minum Obat pun perlu diupayakan untuk meningkatkan kepatuhan minum obat dan kesembuhan TB Paru pada masyarakat.
Hubungan indikator entomologi dengan density figure di Kelurahan Jawa Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar Zubaidah, Tien; ., Marlina
Buski Vol 5, No 1 (2014)
Publisher : Buski

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upaya pengendalian Aedes spp salah satunya adalah mengetahui habitat atau tempat berkembangbiaknya. Tujuan penelitian untuk mengetahui  gambaran indikator entomologi jentik nyamuk Aedes sp di Kelurahan Jawa Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar. Metode penelitian bersifat deskriptif dengan pendekatan survei. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 100 rumah tangga di Kelurahan Jawa yang diambil dengan menggunakan teknik sampling purposive.  Hasil penelitian menunjukkan jentik Aedes spp banyak ditemukan pada jenis kontainer berupa tempayan sebanyak 33% dari 269 wadah yang diperiksa. Angka jentik dalam rumah (HI), angka jentik dalam container (CI), dan angka breteau (BI) yaitu 40,1; 33 ; 108, dengan kepadatan populasi nyamuk (Density Figure/DF) sebesar 7,3, nilai indeks ini menunjukkan bahwa daerah tersebut memiliki tingkat risiko penularan tinggi. Berdasarkan hasil temuan tersebut maka perlu dilakukan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk melalui upaya 3M plus.
Kepadatan jentik aedes sp pada kontainer di dalam dan di luar rumah di Kelurahan Surgi Mufti Banjarmasin tahun 2014 Zubaidah, Tien; Setiadi, Gunung; Akbari, Prestasi
Buski Vol 5, No 2 (2014)
Publisher : Buski

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes sp. Keberadaan nyamuk sebagai vektor DBD menjadi sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kepadatan jentik Aedes sp baik yang ditemukan di dalam maupun di luar rumah serta mengidentifikasi tindakan masyarakat dalam menerapkan 3M Plus di KelurahanSurgi Mufti Banjarmasin tahun 2014. Jenis penelitian ini bersifat deskriptif. Populasi yang dalam penelitian ini adalah seluruh rumah dengan jumlah  4326  buah  rumah  pada  36 RT didapatkan sampel sebanyak 100 buah rumah. Pengambilan sampel ini menggunakan metode random sampling. Kegiatan yang dilakukan berupa survei jentik dan wawancara terpimpin kepada kepala rumah tangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 100 rumah yang disurvei terdapat kontainer yang positif berperan sebagai tempat perindukkan nyamuk  sebanyak 49 (17,44%) kontainer dari 281 buah yang diperiksa yang terdiri dari 38  buah  (38,00%) kontainer berada di dalam rumah dan 11 buah (11,00%) berada di luar rumah. Jenis kontainer di dalam rumah yang positif jentik Aedes sp terbanyak ditemukan pada bak mandi (60,63%), kontainer di luar rumah terbanyak ditemukan positif jentik Aedes sp  adalah pada drum (54,55%). Kepadatan jentik Aedes sp di Kelurahan Surgi Mufti mempunyai nilai HI (33%), CI (19,93%), BI (49%), dan DF memperoleh nilai 5, maka dikategorikan sebagai daerah yang tingkat penularannya tergolong sedang. Untuk tindakan masyarakat dalam menerapkan 3M Plus (8%) responden kategori baik, (73%) sedang, dan (19%) kurang. Oleh karena itu yang harus dilakukan agar mengurangi populasi jentik adalah menerapkan 3M Plus secara rutin bagi warga masyarakat Surgi Mufti, dan penyuluhan untuk menginformasikan dan mengingatkan cara pencegahan dan penanggulangan penyakit DBD secara rutin.
Kondisi Sanitasi Terminal Mabu’un Kabupaten Tabalong Zubaidah, Tien; Rusinta, Rusinta
JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN: Jurnal dan Aplikasi Teknik Kesehatan Lingkungan Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Kesehatan Lingkungan Volume 12 No. 1 Januari 2015
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Jurusan Kesehatan Lingkungan Banjarbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Sanitary Conditions Terminal Mabuun Tabalong. One impact of the terminal is the possibility of disease transfer and transmission of vector -borne diseases through the means of conveyance . This study aims to determine the sanitary conditions in the Terminal Mabuun Tabalong . Data were collected in the form of frequency tabulation then analyzed descriptively and compared with the requirements according to DEPKES DITJEN . PPM and PLP 1999. The result show that the sanitation in Terminal Mabuun Tabalong including healthy feasible for terminal infrastructure with a yield of 86.0 percent of ≤ 75 percent of the specified conditions. However there are several aspects that need attention sanitation ie from outside environmental health aspects, sanitation space and buildings , sanitary facilities and food sanitation . Efforts are being made to improve sanitation in Terminal Mabuun Tabalong like doing cleaning around the terminal, power supply cleaning service for the reception area , increasing the number of bins, sanitary inspection terminals and provide counseling . Keywords : Health environment, sanitation value , sanitation terminal
Pemakaian Alat Pelindung Diri Pada Tenaga Perawat Dan Bidan Di Rumah Sakit Pelita Insani Zubaidah, Tien; Arifin, Arifin; Jaya, Yudha Afiat
JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN: Jurnal dan Aplikasi Teknik Kesehatan Lingkungan Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Kesehatan Lingkungan Volume 12 No. 2 Juli 2015
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Jurusan Kesehatan Lingkungan Banjarbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The use personal protective equipment on nurses and midwifes in Pelita Insani’s Hospital. The hospital is an institution and public services working in the field of health services with the use of equipment high technology, materials, and medicines are harmful to health for diagnostic measures, therefore, exposure of medical personnel at the hospital against hazardous materials and seedling diseases have a high risk to the health status of health personnel. The purpose of this research was  to gain an overview of the use of personal protective equipment on nurses and midwifes in Pelita Insani’s hospital, Martapura. The study was an observational cross-sectional study design, namely direct observation on the application of the use of personal protective equipment in Pelita Insani’s hospital, Martapura then analyzed based on the theories and regulations. This study did not use sampling or total population of as many as 48 nurses and midwifes in Pelita Insani’ hospital, Martapura. The results showed the male sex more is not better in terms the use of personal protective equipment (66.67%), 56.52% of nurses and midwifes in the age range 20-27 years was not good in terms of the use of personal protective equipment . Level of education, length of service and length of employment showed 58.33% was not good in terms of the use of personal protective equipment. The nurses were not good in terms of the use of personal protective equipment (62.07%). Availability of personal protective equipment in Pelita Insani’s hospital, Martapura already available enough for all nurses and midwifes. The need for counseling are scheduled on a regular basis about the benefits of personal protective equipment to increase self-awareness of nurses and midwives and accompanied with strict supervision.Keywords: Personal Protective Equipment, nurses and midwifes, hospital  
Kondisi Sanitasi Dasar Masyarakat Desa Pingaran Ulu Kecamatan Astambul Kabupaten Banjar Tahun 2014 Zubaidah, Tien; Arifin, Arifin
JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN: Jurnal dan Aplikasi Teknik Kesehatan Lingkungan Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Kesehatan Lingkungan Volume 11 No. 2 Juli 2014
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Jurusan Kesehatan Lingkungan Banjarbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Basic Sanitary Conditions At Pingaran Ulu Village Community Subdistrict Astambul, Banjar District Year 2014. Basic sanitation monitoring efforts are directed towards environmental factors that can constitute the chain of transmission of the disease, which include water supply, wastewater disposal, disposal of human waste / family latrines and waste management. Basic sanitary conditions must be able to meet the physical needs, the reality is difficult to be met and most of the population because of the level of education, social science and economics. To know the basic sanitary conditions descriptive survey research is to use the checklist and guided interview questionnaire to 249 households. The purpose of the study to determine the means of water supply, disposal of excreta and wastewater, waste management, and the factors that influence those described in the form of frequency distribution tables and narrative. The result showed a percentage overview of basic sanitation Pingaran Ulu villagers who do not qualify ie water supply as much as 80% comes from the river water, excreta disposal as much as 89% of people throw in the river, wastewater by 75% without management, waste management how to burn garbage as much as 56%. This is due to the level of education, low socioeconomic majority. It is expected the public to pay attention to the quality of basic sanitation, income generation so that people can repair and build basic sanitation facilities and healthy home by way of mutual assistance / social gathering under the guidance of the relevant service agencies. For the Banjar District Health Office and Health Center Astambul should be able to spearhead the development of basic sanitation and a healthy home.Keywords: basic sanitation; village Ulu Pingaran
Korelasi Iklim Kerja Dengan Kecelakaan Kerja Di PT. Japfa Comfeed Indonesia TBK Bati-Bati Kalimantan Selatan Inayah, Alfina; Zubaidah, Tien; Maharso, Maharso; Noraida, Noraida
JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN: Jurnal dan Aplikasi Teknik Kesehatan Lingkungan Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Kesehatan Lingkungan Volume 13 No. 2, Juli 2016
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Jurusan Kesehatan Lingkungan Banjarbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Correlation of Work Climate With Occupational Accidents At PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk Bati-Bati South Kalimantan. One of the working conditions that can cause health problems for workers is exposure to heat. Climate improper work may cause health problems and lead to impaired concentration of labor that resulted in accidents. This study aim to determine the relationship work climate with occupational accidents in animal feed production process unit in PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk Bati-bati on Jl. A. Yani Km 35,5 Desa Nusa Indah Bati-Bati, Tanah Laut, South Kalimantan. Cross sectional study design with a total population of 30 labors and samples selected by total sampling were analyzed using Chi-Square test. The results showed that the working environment at the 1st floor 28,69oC , on the 2nd floor 28,90oC and 3rd floor 30,50oC which means that the working climate on the 3rd floor exceeds NAB. Occupational accidents occurred on the 1st floor of  25% , the 2nd floor of 14,3 % and 3rd floor of to 63,6 %. From the results of the bivariate analysis using Chi-square test proved to be statistically significant relationship between work climate with the accident in unit production PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk Bati-Bati. Efforts should be made to address the working environment exceeds the NAB is with improved ventilation and the provision of drinking water that meets the needs of labor and provision of clothes that absorb sweat like cotton. Keywords: Work Climate; Occupational Accidents; PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk