Nurlaila Zainuddin
Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri, BATAN Jl. Tamansari No. 71 Bandung

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGEMBANGAN DAN APLIKASI KLINIS KIT-KERING RADIOFARMAKA SIPROFLOKSASIN Zainuddin, Nurlaila; Hidayat, Basuki; Iljas, Rukmini
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia Vol 10, No 1 (2009): Februari 2009
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.915 KB)

Abstract

Radiofarmaka 99mTc-siprofloksasin tersedia dalam bentuk kit-cair yangdikemas terpisah dari radionuklidanya. Sediaan dalam bentuk ini mempunyai stabilitas yangrendah. Guna memenuhi kebutuhan radiofarmaka untuk diagnosis infeksi telah dilakukanmodifikasi pembuatan kit-kering radiofarmaka siprofloksasin menggunakan larutan infussiprofloksasin laktat yang beredar di pasaran dengan metode liofilisasi. Kit-kering siprofloksasinterdiri dari flakon A berisi 2 mg siprofloksasin laktat dan flakon B berisi 2 mg reduktor Sn-tartrat.Preparasi sediaan 99mTc-siprofloksasin dilakukan dengan menambahkan radioisotop 99mTc kedalam flakon A yang telah dilarutkan dalam akuabides, diikuti penambahan larutan reduktor Sntartratdari flakon B pada kondisi penandaan optimal. Kemurnian radiokimia 99mTc-siprofloksasinditentukan dengan metode kromatografi menggunakan fase diam ITLC-SG dengan fase`gerakaseton kering. Pengujian aktivitas biologis dan uptake 99mTc-siprofloksasin terhadapmikroorganisme dilakukan secara in-vitro. Selain itu, dilakukan juga pemeriksaan sterilitas,toksisitas dan evaluasi klinis terhadap volunter. Hasil penandaan kit-kering siprofloksasindengan radionuklida 99mTc diperoleh 99mTc-siprofloksasin dengan kemurnian radiokimia sebesar96,39 ± 2,01%. Pengujian aktivitas biologis terhadap bakteri S. aureus dan E. coli menunjukkanbahwa kit-kering siprofloksasin setelah proses penandaan dengan 99mTc tidak kehilangan dayabakterisidanya dan uptake maksimum terjadi pada waktu inkubasi 1 jam sebesar 83,06 ±10,95% dan 80,26 ± 8,58% masing-masing terhadap bakteri S. aureus dan E. coli. Kit-keringradiofarmaka siprofloksasin merupakan sediaan yang steril, vakum dan tidak toksik. Uji klinisradiofarmaka 99mTc-siprofloksasin terhadap volunter yang menderita abses hati dan korpustulang belakang menunjukkan adanya akumulasi radioaktivitas di daerah tersebut. Aplikasiklinis 99mTc-siprofloksasin dengan teknik pencitraan menggunakan kamera gammamenunjukkan bahwa radiofarmaka ini dapat digunakan untuk penyidik infeksi.
Penandaan Kanamycin dengan Radionuklida Teknesium- 99m Sebagai Sediaan Untuk Deteksi Dini Penyakit Infeksi Widyasari, Eva Maria; Zainuddin, Nurlaila; Nuraeni, Witri Nuraeni
Jurnal Aplikasi Isotop Radiasi Vol 9, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (24.638 KB)

Abstract

Penyakit infeksi masih menjadi penyebab utama kematian di dunia. Deteksi dini dan penentuan lokasi infeksi yang tepat dan akurat melaluipencitraan menggunakan teknik nuklir dapat mempermudah pengobatannya. Antibiotik bertanda radioaktif mampu menjadi solusi untuk membedakan antara infective inflammatorydan non-infective inflammatory. Kanamycin merupakan antibiotik yang digunakan untuk pengobatan infeksi dimana obat-obat infeksi lain seperti penisilin dan beberapa obat infeksi lain yang kurang ampuh tidak dapat digunakan. Penelitian ini bertujuan menentukan kondisi optimum penandaan 99mTc-kanamycin untuk memperoleh efisiensi penandaan yang tinggi. Dalam percobaan, kanamycin telah berhasil ditandai dengan teknesium-99m melalui metode penandaan tidak langsung dengan menggunakan pirofosfat sebagai co-ligand. Efisiensi penandaan dan penentuan kemurnian radiokimia senyawa tersebut secara simultanditentukan dengan metode kromatografi kertas menaik menggunakan kertas Whatman 3 sebagai fase diam dan aseton sebagai fase gerak untuk memisahkan pengotor radiokimia dalam bentuk 99mTc-perteknetat; sedangkan pengotor dalam bentuk 99mTc-tereduksi dipisahkan dengan menggunakan fase diam ITLC-SG dan fase gerak NaOH 0,5 N. Kondisi penandaan optimal diperoleh pada penggunaan 6 mg kanamycin, 300 μg SnCl2, 1,5 mg Na-pirofosfat, dan pH=6. Waktu inkubasi selama 0-30 menit pada temperatur kamar, memberikan efisiensi penandaan 96,54 ± 0,36 %. Berhasilnya penandaan kanamycin dengan efisiensi yang tinggi ini menjadikan 99mTc-kanamycin berpeluang untuk dijadikan sebagai sediaan radiofarmasi untuk deteksi dini penyakit infeksi.Kata kunci : kanamycin, teknesium-99m, penandaan, infeksi
Penandaan Kanamycin dengan Radionuklida Teknesium-99m Sebagai Sediaan Untuk Deteksi Dini Penyakit Infeksi Widyasari, Eva Maria; Zainuddin, Nurlaila; Nuraeni, Witri
Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi Vol 9, No 2 (2013): Desember 2013
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1110.894 KB) | DOI: 10.17146/jair.2013.9.2.2734

Abstract

Penyakit infeksi masih menjadi penyebab utama kematian di dunia. Deteksi dini dan penentuan lokasi infeksi yang tepat dan akurat melalui pencitraan menggunakan teknik nuklir dapat mempermudah pengobatannya. Antibiotik bertanda radioaktif mampu menjadi solusi untuk membedakan antara infective inflammatory dan non-infective inflammatory. Kanamycin merupakan antibiotik yang digunakan untuk pengobatan infeksi dimana obat-obat infeksi lain seperti penisilin dan beberapa obat infeksi lain yang kurang ampuh tidak dapat digunakan. Penelitian ini bertujuan menentukan kondisi optimum penandaan 99mTc-kanamycin untuk memperoleh efisiensi penandaan yang tinggi. Dalam percobaan, kanamycin telah berhasil ditandai dengan teknesium-99m melalui metode penandaan tidak langsung dengan menggunakan pirofosfat sebagai co-ligand. Efisiensi penandaan dan penentuan kemurnian radiokimia senyawa tersebut secara simultan ditentukan dengan metode kromatografi kertas menaik menggunakan kertas Whatman 3 sebagai fase diam dan aseton sebagai fase gerak untuk memisahkan pengotor radiokimia dalam bentuk 99mTc-perteknetat; sedangkan pengotor dalam bentuk 99mTc-tereduksi dipisahkan dengan menggunakan fase diam ITLC-SG dan fase gerak NaOH 0,5 N. Kondisi penandaan optimal diperoleh pada penggunaan 6 mg kanamycin, 300 µg SnCl2, 1,5 mg Na-pirofosfat, dan pH=6. Waktu inkubasi selama 0-30 menit pada temperatur kamar, memberikan efisiensi penandaan 96,54 ± 0,36 %. Berhasilnya penandaan kanamycin dengan efisiensi yang tinggi ini menjadikan 99mTc-kanamycin berpeluang untuk dijadikan sebagai sediaan radiofarmasi untuk deteksi dini penyakit infeksi. Kata kunci : kanamycin, teknesium-99m, penandaan, infeksi