Yulvi Zaika
Unknown Affiliation

Published : 99 Documents
Articles

PENGARUH LEBAR DAN JUMLAH LAPISAN GEOTEKSTIL DENGAN JARAK PONDASI DARI TEPI LERENG 6 CM TERHADAP DAYA DUKUNG PONDASI MENERUS PADA PEMODELAN LERENG Rc = 74%

Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1077.82 KB)

Abstract

Harga tanah dan pertumbuhan penduduk adalah beberapa faktor penyebab berdirinya bangunan-bangunan liar hingga menjadi pemukiman kumuh. Oleh karena itu, untuk daerah-daerah seperti itu maka diperlukan perkuatan terhadap tanah lereng. Maka dari itu perlu adanya perkuatan tanah pada lereng berupa geotekstil. Analisa perkuatan dilakukan pada lereng pasir dengan pemadatan relatif 74% dengan variasi lebar perkuatan geotekstil sebesar 0,45H, 0,52H, dan 0,59H dan variasi jumlah lapisan geotekstil yaitu 1,2, dan 3 lapisan. Hasil yang didapatkan semakin lebar perkuatan geotekstil dan semakin banyak jumlah lapisan geotekstil maka nilai daya dukung akan semakin meningkat yang dibuktikan dengan nilai BCI(u) sebesar 3,109.   Kata kunci: daya dukung, lereng, geotekstil, variasi lebar geotekstil, variasi jumlah lapis perkuatan geotekstil

Pengaruh Lama Waktu Curing Terhadap Nilai CBR Dan Swelling Pada Tanah Lempung Ekspansif Di Bojonegoro Dengan Campuran 15% Fly Ash

Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.115 KB)

Abstract

Tanah lempung  yang ekspansif merupakan tanah yang memiliki daya dukung rendah dan kembang susut yang tinggi, oleh karena itu diperlukan suatu upaya stabilisasi agar nilai CBR dan swelling menjadi lebih baik sehingga dapat digunakan sebagai tanah dasar dalam suatu konstuksi. Tanah dari daerah Bojonegoro menjadi bahan uji dalam penelitian ini. Dari hasil pengujian fisik tanah diketahui bahwa tanah di daerah Bojonegoro merupakan tanah lempung ekspansif dengan nilai CBR 3,909% dan nilai swelling 3,982%, oleh karena itu tanah tersebut memerlukan upaya stabilisasi. Upaya stabilisasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah pencampuran bahan aditif berupa fly ash.  Dalam penelitian ini dilakukan pengujian pendahuluan dengan pencampuran kadar fly ash 5%, 10%, 15%, dan 20%. Berdasarkan hasil dari pengujian pendahuluan, kadar optimum fly ash yang dapat digunakan sebagai bahan stabilisasi adalah 15%. Pencampuran tanah lempung ekspansif dengan 15% fly ash menghasilkan nilai CBR sebesar 7,892% dan nilai swelling 1,018%. Dengan melakukan curing pada campuran tanah lempung ekspansif dengan 15% fly ash, dapat menghasilkan nilai CBR dan swelling yang lebih baik. Waktu curing untuk menghasilkan CBR terbesar dan swelling terkecil adalah 28 hari. Curing selama 28 hari menghasilkan nilai CBR terbesar yaitu 16,948% dan nilai swelling terkecil yaitu 0,381%. Curing selama 28 hari dapat meningkatkan nilai CBR sebesar 433,6% dan nilai swelling turun hingga 1045,1%. Kata kunci: Lempung Ekspansif, Stabilisasi Tanah, Fly Ash, CBR, Swelling, Curing

PENGARUH KEMIRINGAN LERENG DAN JUMLAH LAPIS GEOTEKSTIL TERHADAP DAYA DUKUNG PONDASI PADA PEMODELAN FISIK LERENG PASIR

Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (730.261 KB)

Abstract

Dengan visi Indonesia sebagai Negara Maju pada tahun 2025 selain dilihat dari pertumbuhan ekonomi perkapita masyarakatnya yang semakin meningkat setiap tahunnya namun juga dilihat dari program pembangunan infrastrukur dari beberapa daerah yang semakin pesat. Pembangunan bangunan di atas suatu lereng sangat riskan dan beresiko terjadi kelongsoran karena komponen gravitasi cenderung untuk menggerakan massa tanah. Penelitian ini dilakukan dengan membuat model lereng tanah pasir dengan nilai kepadatan 74% tanpa perkuatan serta lereng tanah pasir menggunakan perkuatan geotekstil. Perkuatan yang digunakan berupa geotekstil jenis woven yang terbuat dari bahan polypropylene silt. Variasi yang ada pada penelitian ini adalah kemiringan sudut lereng dan variasi jumlah lapisan perkuatan. Dari data hasil penelitian yang dilakukan diperoleh hasil, semakin bertambahnya sudut maka daya dukung pondasi semakin menurun. Begitu juga terjadi pada variasi jumlah lapisan geotekstil jika bertambahnya jumlah lapisan geotekstil yang diberikan maka daya dukung pondasi semakin kuat atau besar. Kontribusi perkuatan yang di pakai sangat berpengaruh terhadap penentuan lebar pondasi yang paling optimum menghasilkan daya dukung. Peningkatan daya dukung ultimit yang paling maksimal terjadi pada saat kemringan lereng 46° dan jumlah perkuatan 3 lapis.   Kata kunci : daya dukung, lereng, geotekstil, variasi kemiringan lereng, variasi jumlah lapis perkuatan geotekstil.

PENGARUH PENAMBAHAN SERBUK GYPSUM DENGAN LAMANYA WAKTU PENGERAMAN (CURING) TERHADAP KARAKTERISTIK TANAH LEMPUNG EKSPANSIF DI BOJONEGORO

Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.276 KB)

Abstract

Tanah di daerah Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, Jawa Timur sebagian besar merupakan tanah berbutir halus, yaitu merupakan jenis tanah lempung ekspansif. Lempung ekspansif ini mempunyai sifat yang khas yakni kandungan mineral ekspansif mempunyai kapasitas pertukaan ion yang tinggi, mengakibatkan lempung ekspansif memiliki potensi kembang susut tinggi apabila terjadi perubahan kadar air. Salah satu usaha perbaikan tanah lempung ekspansif dengan cara mencampur serbuk gypsum sebagai zat additive. Penelitian ini digunakan 4 variasi campuran yaitu 4% serbuk gypsum, 6% serbuk gypsum, 8% serbuk gypsum dan 10% serbuk gypsum dari berat kering tanah. Dari hasil penelitian didapatkan nilai CBR terbesar didapatkan pada kondisi penambahan 6% serbuk gypsum dengan lama waktu curing 14 hari yaitu 20,159% (Unsoaked) dan 4,492% (Soaked). Untuk nilai pengembangan dengan curing, curing selama 14 hari meupakan batas pengikatan antar partikel tanah dengan serbuk gypsum. Nilai pengembangan terkecil didapatkan pada penambahan 8% serbuk gypsum dengan lama waktu curing 14 hari yaitu 1,460%. Selisih nilai pengembangan antara tanah campuran 6% serbuk gypsum dengan tanah campuran 8% serbuk gypsum semakin lama semakin kecil dengan semakin lamanya waktu curing tersebut. Selisih nilai pengembangan pada curing 14 hari yaitu 0,142%.   Kata kunci: Lempung Ekspansif, Serbuk gypsum, CBR, Swelling, curing

Pengaruh Lama Waktu Perawatan Terhadap Nilaii CBR dan Swelling Pada Tanah Lempung Ekspansif Di Bojonegoro Dengan Pencampuran 6% Abu Sekam Padi

Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.346 KB)

Abstract

Hampir 20% dari luasan tanah di Pulau Jawa dan kurang lebih 25% dari luasan tanah di Indonesia. Tanah di daerah Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, Jawa Timur sebagian besar merupakan tanah lempung ekspansif.  Lempung ekspansif memiliki tingkat susut dan mengembang tinggi apabila mengalami perubahan kadar air. Kondisi ini sangat merugikan karena dapat merusak struktur di atasnya. Kerugian ini dapat ditanggulangi dengan memperbaiki keadaan tanah,salah satunya dengan memberi zat aditif agar stabilisasinya meningkat. Zat aditif yang digunakan adalah abu sekam padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  peran abu sekam padi dalam stabilisasi tanah lempung ekspansif terhadap CBR (tak terendam dan terendam) dan tingkat pengembangan (swelling) dengan variasi waktu perawatan (perawatan). Tanah lempung ekspansif dicampur 6% abu sekam padi untuk meningkatkan nilai CBR dan mengurangi nilai pengembangan. Tanah dicampur abu sekam padi dengan air dengan kadar air optimum agar mendapat berat isi maksimum. Dengan kadar air optimum, tanah akan dicampur untuk menghasilkan nilai CBR dan pengembangan yang akan dirawat selama 7 hari, 14 hari, dan 28 hari. Hasil CBR tak terendam yang dirawat terus meningkat seiring waktu, namun untuk CBR terendam dan pengembangan yang dirawat terjadi penurunan pada hari ke-7, sehingga butuh aditif tambahan untuk memperkuat stabilisasi tanah lempung ekspansif di Bojonegoro ini. Kata kunci: lempung ekspansif, perawatan, abu sekam padi, CBR, tingkat pengembangan (swelling).

PENGARUH LAMA WAKTU CURING TERHADAP NILAI CBR DAN SWELLING PADA TANAH LEMPUNG EKSPANSIF DI BOJONEGORO DENGAN CAMPURAN 6% ABU SEKAM DAN 4% FLY ASH

Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.063 KB)

Abstract

Salah satu permasalahan yang muncul pada tanah lempung ekspansif adalah sifat kembang susutnya yang tinggi. Oleh karena itu perlu adanya stabilisasi untuk memperbaiki sifat-sifat tanah tersebut. Adapun tanah lempung ekspansif yang digunakan pada penelitian ini berasal dari Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, Jawa Timur. Untuk kadar additive yang digunakan dalam penelitian ini adalah abu sekam 6% dan fly ash 4% dari berat kering tanah dengan variasi waktu curing (curing) selama 7 hari, 14 hari, dan 28 hari. Perlakuan lama waktu curing dalam penelitian ini diharapkan memiliki pengaruh besar untuk meningkatkan nilai CBR tanah dan menurunkan nilai pengembangan pada sampel tanah tersebut. Dari hasil pengujian di laboratorium menunjukkan nilai CBR tanpa rendaman (unsoaked) pada tanah asli sebesar 3,91%. Sedangkan nilai CBR tanpa rendaman (unsoaked) untuk tanah campuran meningkat menjadi 13,047% dengan waktu curing selama 14 hari. Dari hasil tersebut menunjukkan peningkatan nilai CBR yang signifikan. Sedangkan nilai CBR tanpa rendaman (unsoaked) dengan lama waktu curing 28 hari tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan dari waktu curing selama 14 hari yaitu sebesar 13,691%. Untuk hasil pengujian CBR terendam (soaked) tanah asli menunjukkan nilai sebesar 2,39%. Sedangkan nilai pada tanah campuran dengan lama waktu curing 28 hari menunjukkan nilai sebesar 5,77% Untuk hasil pengujian swelling menunjukkan nilai swelling tanah asli sebesar 3,841%. Sedangkan tanah yang dicampur abu sekam 6% dan fly ash 4%  dengan lama waktu curirng 28 hari memiliki nilai swelling sebesar 0,438%. Hal ini menunjukkan penurunan nilai swelling yang signifikan, sehingga dapat mengurangi resiko kerusakan suatu konstruksi baik gedung maupun jalan raya yang menumpu di atas tanah tersebut. Kata-kata kunci: ekspansif, stabilisasi, curing, CBR, swelling

PENGARUH PENAMBAHAN SERBUK GYPSUM DAN ABU SEKAM PADI DENGAN LAMANYA WAKTU PENGERAMAN (CURING) TERHADAP KARAKTERISTIK TANAH LEMPUNG EKSPANSIF DI BOJONEGORO

Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.229 KB)

Abstract

Tanah di daerah Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, Jawa Timur sebagian besar merupakan tanah berbutir halus, yaitu merupakan jenis tanah lempung ekspansif. Lempung ekspansif ini mempunyai sifat yang khas yakni kandungan mineral ekspansif mempunyai kapasitas pertukaan ion yang tinggi, mengakibatkan lempung ekspansif memiliki potensi kembang susut tinggi apabila terjadi perubahan kadar air. Salah satu usaha perbaikan tanah lempung ekspansif dengan cara mencampur serbuk gypsum sebagai zat additive. Penelitian ini digunakan 4 variasi campuran yaitu 4% serbuk gypsum + 4% abu sekam padi, 4% serbuk gypsum + 5% abu sekam padi, 4% serbuk gypsum + 6% abu sekam padi, dan 4% serbuk gypsum + 8% abu sekam padi dari berat kering tanah. Dari hasil penelitian didapatkan nilai CBR terbesar didapatkan pada kondisi penambahan 4% serbuk gypsum + 5% abu sekam padi dengan lama waktu curing 14 hari yaitu 21,87% (Unsoaked) dan 2,89% (Soaked). Untuk nilai pengembangan dengan curing, curing selama 14 hari meupakan batas pengikatan antar partikel tanah dengan serbuk gypsum dan abu sekam padi. Nilai pengembangan terkecil didapatkan pada penambahan 4% serbuk gypsum + 6% abu sekam padi dengan lama waktu curing 14 hari yaitu 2,16%.   Kata kunci:Abu Sekam Padi, CBR,, curing, Lempung Ekspansif, Serbuk gypsum, Swelling

Pengaruh Lama Waktu Curing Terhadap Nilai CBR Dan Swelling Pada Tanah Lempung Ekspansif Di Bojonegoro Dengan Campuran 6% Abu Sekam Padi Dan 4% Semen

Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.584 KB)

Abstract

Banyaknya daerah di Indonesia yang memiliki jenis tanah lempung ekspansif, salah satumya di Ngasem Bojonegoro. Tanah lempung ekspansif memiliki daya dukung tanah yang rendah pada kondisi muka air yang tinggi, sifat kembang susut (swelling) yang besar dan plastisitas yang tinggi. Kondisi tersebut merugikan bangunan di atasnya. Kerugian dari akibat kembang susut tanah ekspansif, maka diperlukan stabilisasi untuk mengurangi kembang susut dan meningkatkan daya dukung. Salah satunya dengan menggunakan aditif. Pada penelitian ini aditif yang digunakan adalah abu sekam dan semen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari aditif tersebut dapat menstabilisasi tanak lempung ekspansif terhadap CBR (Unsoaked dan Soaked) serta pengembangannya dengan variasi waktu. Abu sekam dan semen di campur dengan kadar 6% abu sekam + 4% semen. Pengujian data dasar tanah dilakukan untuk mendapatkan jenis dan sifat tanah. Proses pemadatan juga dilakukan untuk mendapatkan kadar air optimum (OMC) dan berat isi kering maksimum yang digunakan untuk CBR serta swelling. Dari hasil di atas, tanah dengan campuran 6% abu sekam dan 4% semen di curing selama 7 hari, 14 hari dan 28 hari. Pengujian dilakukan setelah curing dan hasil yang di dapat bahwa pada curing 28 hari nilai CBR menunjukkan peningkatan yang signifikan sebesar 805,9% (unsoaked) dan 624,3% (soaked) serta pengembangannya (swelling) mengalami penurunan secara signifikan sebesar 569,7%. Kata-kata kunci: lempung ekspansif, curing, abu sekam padi dan semen, CBR,  swelling.

PENGARUH VARIASI JARAK DAN JUMLAH LAPIS PERKUATAN KOMBINASI GEOTEKSTIL DAN ANYAMAN BAMBU SATU ARAH TERHADAP DAYA DUKUNG DAN PENURUNAN PONDASI MENERUS PADA TANAH PASIR POORLY GRADED

Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.757 KB)

Abstract

Pembangunan yang ada di Indonesia saat ini hampir keseluruhan dalam skala yang besar, sedangkan jenis tanah yang ada di Indonesia sangat beraneka ragam, salah satu contohnya adalah tanah pasir poorly graded. Tanah ini tidak mampu menahan beban yang terlampau besar. Sehingga ditambahkan  perkuatan untuk meningkatkan daya dukungnya. Sistem perkuatan yang digunakan adalah dengan memasang geotekstil geocomposite. Fungsi geotekstil dalam hal ini adalah untuk perkuatan tanah dimana geotekstil berinteraksi dengan tanah melalui gaya gesek atau gaya adhesi untuk menahan gaya tarik, sehingga daya dukung tanah dapat meningkat. Pada penelitian ini digunakan variasi jarak antar perkuatan yaitu 0.2B, 0.3B, dan 0.4B serta variasi jumlah perkuatan yaitu dua dan tiga buah. Hasil dari pemasangan geotekstil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tanah model mengalami peningkatan daya dukung. Dimana peningkatan daya dukung paling maksimum terjadi saat jarak antar perkuatan 0.4B dengan jumlah lapis sebanyak tiga. Berdasarkan pengujian ini dapat disimpulkan bahwa semakin jauh jarak antar perkuatan dan semakin banyak jumlah lapisan perkuatan maka daya dukung semakin besar pula, selama perkuatan masih dalam batas bidang runtuh dan jarak tersebut masih menjadikan perkuatan anyaman bambu masih merupakan satu kesatuan elemen Kata kunci: daya dukung, poorly graded,  geotekstil geocomposite, jarak antar perkuatan, jumlah lapis perkuatan.

PENGARUH VARIASI JARAK DAN JUMLAH LAPIS PERKUATAN KOMBINASI GEOTEKSIL DAN ANYAMAN BAMBU DUA ARAH TERHADAP DAYA DUKUNG DAN PENURUNAN PONDASI MENERUS PADA TANAH PASIR POORLY GRADED

Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.215 KB)

Abstract

Salah satu jenis tanah yang tergolong memiliki daya dukung ultimate yang rendah adalah tanah pasir poorly graded. Oleh sebab itu diperkukan suatu metode perkuatan dengan tujuan meningkatkan daya dukung tanah. Pada penelitian ini digunakan perkuatan kombinasi geotekstil dan anyaman bambu dua arah. Parameter yang diteliti adalah pengaruh variasi jarak (r) dan jumlah (n) lapis perkuatan kombinasi. Perbedaan daya dukung antara tanah tanpa perkuatan dengan menggunakan perkuatan dinyatakan dalam Bearing Capacity Improvement (BCI). Dari hasil penelitian diperoleh bahwa penambahan jumlah dan jarak lapis dapat meningkatkan daya dukung namun jaraknya masih dalam bidang runtuh. Penambahan jarak lapis dan penempatan anyaman bambu pada lapis teratas  berkontribusi lebih besar dalam peningkatan daya dukung daripada penambahan jumlah dan penempatan geotekstil pada lapis teratas. Nilai BCI(u) dan BCI(s) terbesar didapat pada konfigurasi jarak 3,6 cm, jumlah 3 lapis dengan urutan perkuatan anyaman bambu – geotekstil – anyaman bambu. Perlu adanya penelitian terlebih dahulu tentang batas maksimum jarak antar lapis anyaman bambu dimana daya dukung masih meningkat. Kata kunci : Daya dukung, pondasi menerus, geotekstil, anyaman bambu, pasir, BCI

Co-Authors ., Frangky ., Mayangsari Ach. Lailatul Qomar Acramanila Magha Rastra Agus Suharyanto Ahya Al Anshorie, Ahya Al Aji Gigih Nur Fadli Al Imam, M. Akbar Alfianto, Galih Allo, Angeline Grace Aloysius Gregorius Lake Alwafi Pujiraharjo Amalia Ula Hazhiyah Amalina, Rahma Nur Ana Sri Wahyuni Anggraeni, Gita Maulina Aramita, Devina Nadia Ardiyansari, Anisa Oktavia Arief Rachmansyah Arif Lukito Arif Luqman Hakim, Arif Luqman Arif Rachmansyah Arif Rahman Putranto, Arif Rahman Aris Musthafa, Aris Arung, Vrischa Natalia As’ad Munawir Astriyanto, Vicky Dwi Ato’urrahman, M. Bayu Rasmawan, I Made Adhi Benny Christian L Tobing Budi Agus Kombino Carissa Imayanti, Nadia Izmi Cendana Putri Nugroho, Cendana Putri Citra, Ismiralda Darmawan, Wahid Dharmawan, Aditya Leo Dianing Putri, Arinda Rahma Ditha Permata, Ditha Dodik Prasetyo Edward Prana, Edward Eko Andi S., Eko Andi Eko Andi Suryo Fahara, Adista Fathurrahman, Muhammad Rizki Faticha, Amalia Febra Ndaru W., Febra Ndaru Febra Ndaru Wardhana Ferdian Budi Saputra Fika Famungkas Firdaus, Adelina Maulidya Firdaus, Reza Novianda Harimurti . Harimurti Harimurti Hendi Bowoputro Hendrig Sudradjat, Hendrig Herlien Indrawahyuni Hutama Putra, Made Dwika Ichvan Danny Kurniawan, Ichvan Danny Ika Meisy Putri Rahmawati, Ika Indradi Wijatmiko Ismail, Ahmad Ismanto Ismanto Kartika Puspa N. Kosasih, Rendy Hartama Kuswanda, Wahyu P. Laras, Ario Widio Lestari . Listyaningrum, Galuh Ajeng Ludfi Djakfar M. Hamzah Hasyim M. Ruslin Anwar M.Ruslin Anwar, M.Ruslin Ma’azza, Muhammad Ainun Mahesa Hidayat, Mahesa Minata, Afria Nurizky Munawir, As’ad Mustafid, Ainul Nawang Aji Sasongko P, Y E Pradika, Ivan Indra Prana, Resa Bagus Dharma Prihatama, Wirawan Yuda Pudyono Pudyono Puspito, Abthal Hazazi Putra, Alesandro Anggara Putro, Galih Karno R. Irawan Rachmatullah Rachamansyah, Arief Rachma, Saraswati Noor Raditya, Achmad Gusti Ramadhan, Bima Aldiha Ranggaesa, Riota Abeng Reza Roseno Rahmadya Rita Dyana Melati Riyana, Ratu Eka Ruslin Anwar Saputra, M. Rizky Hari Saputri, Salwa Saraswati, Fanny Ika Sarithayanti Mahaguna, Ida Ayu Satria Bima Satriaka, Irza Andys Sauri, Sofyan Setyowati, Edhi Wahjuni Shafira, Nisa Sugeng Prayitno Budio Suroso . Suroso Suroso Susilo, Hendro Tejokusumo, Radius Suryajaya Ubaidillah, Lina Rahman Ulya, Atika Nikmatul Undiprastya, Guruh Vemmy Kurniawan Widodo Suyadi Wijaya, Evan Kusuma Yandri, Muhammad Yanuar Eko Widagdo YENNY YENNY Yosephine Diajeng Janur Zakaria Al Ansor Zettyara, Firda