Ahmad Zahid
Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor

Published : 17 Documents
Articles

Found 17 Documents
Search

EFEKTIVITAS KITOSAN MIKROKRISTALIN SEBAGAI ALTERNATIF ANTIBAKTERI ALAMI DALAM MOUTHWASH

Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 15, No 2 (2012): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Departement of Aquatic Product Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (782.208 KB)

Abstract

Microcrystalline chitosan is a chitosan that has been modified by minimizing its particle size. Chitosan posses antibacterial property. The use of microcrystalline chitosan as an antibacterial in the mouthwash has not been revealed yet. This study was done to compare the degree  effectiveness of mouthwash that contain  microcrystalline chitosan as an antibacterial and commercial mouthwash. The parameters measured in this study were proximate analysis, yield, deacetylation (Fourier Transform Infrared), particle size (Scanning Electron Microscopy), and total plate count. Microcrystalline chitosan contained moisture, ash, nitrogen and yield were 3.92% dry weight basis (db); 4% db, 1.4% db; and 50% respectively. Detection results of FTIR and SEM showed the size of microcrystalline chitosan was 0.6-6μm and degree of deacetylation was 88.66%. Mouthwash that contained 0.5%, 1% and 1.5% microcrystalline chitosan could reduce TPC bacteria up to 97.57%, 99.05% and 99.46% respectively, while commercial mouthwash reduced TPC bacteria up to 89.70%.Keywords: antibacterial, microcrystalline chitosan, mouthwash.

Ekologi Trofik Komunitas Ikan di Perairan Segara Menyan, Subang, Jawa Barat (Trophic Ecology of the Fish Community in Segara Menyan Coastal Lagoon, Subang, West Java)

ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 20, No 3 (2015): Jurnal Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.681 KB)

Abstract

Pengetahuan mengenai ekologi trofik merupakan dasar dalam memahami ekosistem secara keseluruhan yang dapat dijelaskan melalui pola hubungan trofik interspesies ataupun interserikat. Penelitian bertujuan untuk menjelaskan ekologi trofik meliputi indeks trofik dan jenis makanan dominan, serikat dan tingkat trofik, dan variasi spasial dan temporal komunitas ikan di estuari Segara Menyan. Pengambilan ikan contoh dilakukan setiap bulan pada zona berbeda. Ikan contoh dipisahkan berdasarkan waktu dan lokasi pengamatan, dianalisis isi saluran pencernaannya. Analisa data meliputi indeks vakuitas, jumlah total organisme makanan, jenis makanan dominan, luas relung makanan, dan tingkat trofik.  Pada pengamatan 106 spesies ikan, sebanyak 1-380 saluran pencernaan ikan diamati. Sebanyak lima dari 106 spesies memiliki nilai indeks vakuitas “0” dan jumlah makanan yang dikonsumsi bervariasi mulai dari empat hingga 27 jenis makanan. Secara umum, luas relung ikan adalah rendah berkisar 0,20-0,78 dan kebanyakan berada pada kisaran 0,20-0,48. Zooplankton merupakan jenis makanan paling dominan dikonsumsi oleh ikan. Komunitas ikan dikelompokkan dalam tujuh serikat trofik, yaitu detritivora, fitoplanktivora, zooplanktivora, zoobentivora, moluskivora, krustasivora, dan pisivora. Tingkat trofik komunitas ikan berkisar 2,05-4,73. Faktor perubahan ontogenetik, persediaan makanan, karakteristik habitat, dan ruaya beberapa spesies ikan memengaruhi variasi spasio-temporal jejaring makanan di Segara Menyan. Kata kunci: interaksi trofik, laguna, ikan, variasi spasio-temporal, serikat trofik Knowledge of trophic ecology is one way to understanding the whole ecosystem which explained by trophic relationship pattern (interspecies or interguild). The objective research was described of the trophic ecology, i.e. trophic index and dominant prey, trophic guild and trophic level, and spatio-temporal variation of fish community in Segara Menyan coastal lagoon. Fish were collected monthly for one year at three zones. Fish samples were placed in separate labelled plastic bags according to the time scale and location sampling, then gut contents were analyzed. The data of vacuity index, number of prey, prey dominant, diet breadth, and trophic level were analyzed. For each of 106 fish species, between 1 and 380 stomachs, were examined. The vacuity index was also different among species. Five of 106 species had a vacuity index of “0” and total number of food items consumed varied between fish species, ranging from three items to 27 items. The overall diet breadth (Bi) was relatively low among species, ranging from 0.20 to 0.78, with most of them between 0.20 and 0.48. Calanoid copepods comprised the most common food item consumed by all the fishes examined. Fishes occurring can be broadly categorized into seven different trophic guilds. The trophic level of fish communities ranged from 2.05 to 4.73. Spatio-temporal variation of food web was influenced of ontogenetic shift, food availability, habitat characteristic, and migration of some species in Segara Menyan coastal lagoon. Keywords: trophic interaction, lagoon, fishes, spatio-temporal variation, trophic guild

Penerapan Teknik Ikonik terhadap Kemampuan Pemahaman Matematika Siswa pada Pembelajaran Matematika Pokok Bahasan Pecahan

Jurnal Analisa Vol 1, No 1 (2013): Volume 1 Nomor 1 Terbit Bulan Juni Tahun 2013
Publisher : Prodi Pendidikan Matematika Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandun

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (705.493 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesuksesan siswa dalam belajar matematika yang dipengaruhi oleh cara guru menyampaikan materi pelajarannya. Seorang pengajar harus mencari dan memilih metode yang tepat untuk setiap topik yang kita berikan agar siswa berpartisipasi aktif tetapi pengajaran tetap efektif dan efisien. Kemampuan guru dalam menguasai materi dan menerapkan model pembelajaran merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan guru dalam proses belajar-mengajar. Salah satu teknik yang dapat digunakan sebagai alternatif penyampaian materi adalah teknik ikonik. Teknik ikonik adalah penyampaian konsep matematika dengan perantaraan gambar yang pada akhirnya siswa menemukan sendiri konsep yang dipelajari dengan perantaraan gambar tersebut. penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan pemahaman matematik siswa, dengan pembelajaran menggunakan Teknik Ikonik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) dengan subjek penelitian kelas VII SMP Negeri 1 Pangatikan Kabupaten Garut yang terdiri dari 21 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Adapun hasil yang diperoleh adalah (a) aktivitas guru selama proses pembelajaran selalu berpijak pada tahap-tahap teknik ikonik yang disesuai dengan indikator aktivitas guru, aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran dikategorikan baik,

Komposisi Makanan Ikan Selanget, Anodontostoma chacunda, H.B. 1822 (Pisces: Clupeidae) di Perairan Pantai Mayangan, Jawa Barat

Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 8, No 2 (2006)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research was conducted for six months from December 2003 to May 2004 to investigate the diet composition of chacunda gizzard shad, Anodontostoma chacunda. A total of 773 fishes were captured using gillnet with mesh sizes varying from 1.5 to 3 inches. The fish samples ranged 83–170 mm in length. For food habits analysis, the index of preponderance method was used. The dominant diets in stomach contents were Coscinodiscus, Pleurosigma and Rhizosolenia. There were no differences in diet composition between males and females among the sizes, and among the months. Based on index of electivity, the result showed that the fish preferred Coscinodiscus, Pleurosigma, Rhizosolenia, Gyrosigma, Melosira, Navicula, and Copepoda.

MAKANAN DAN KEBIASAAN MAKAN IKAN GEROT Pomadasys kaakan (CUVIER & VALENCIENNES,1830) DI TELUK PABEAN JAWA BARAT

Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 20, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teluk Pabean merupakan daerah estuari yang memiliki potensi sumberdaya perikanan, yang salah satunya adalah ikan gerot. Penelitian dilakukan setiap bulan dari bulan Juni hingga Desember 2016 untuk mengidentifikasi jenis makanan dan menjelaskan kebiasaan makan ikan gerot, Pomadasys kaakan (Cuvier & Valenciennes, 1830) di Teluk Pabean, Jawa Barat. Ikan contoh dikumpulkan dengan jaring insang dan sero.  Analisis makanannya menggunakan metode indeks relatif penting, luas relung makanan, dan tumpang tindih relung makanan. Hasil menunjukkan bahwa ikan ini merupakan ikan karnivora, namun lebih tepatnya krustasivora. Jenis makanannya dapat dibagi menjadi sembilan kelompok, yaitu Acetes sp., Penaeus sp., Portunus sp., Clupeidae, Ambassidae, Sciaenidae, Gobiidae, Sillaginidae, dan organisme tidak teridentifikasi. Makanan utamanya adalah jenis Penaeus sp. sama baik menurut waktu maupun ukuran ikan setiap bulan. Jenis makanan utamanya tidak berubah tetapi proporsinya berubah seiring bertambahnya ukuran panjang. Proporsi makanan utama jenis Penaeus sp. pada ukuran panjang 41-84 mm (96,17), 85-130 mm (95,64), dan 131-175 mm (88,15).Teluk Pabean merupakan daerah estuari yang memiliki potensi sumberdaya perikanan, yang salah satunya adalah ikan gerot. Penelitian dilakukan setiap bulan dari bulan Juni hingga Desember 2016 untuk mengidentifikasi jenis makanan dan menjelaskan kebiasaan makan ikan gerot, Pomadasys kaakan(Cuvier & Valenciennes, 1830) di Teluk Pabean, Jawa Barat. Ikan contoh dikumpulkan dengan jaring insang dan sero.  Analisis makanannya menggunakan metode indeks relatif penting, luas relung makanan, dan tumpang tindih relung makanan.[s1]  Hasil menunjukkan bahwa ikan ini merupakan ikan karnivora, namun lebih tepatnya krustasivora. Jenis makanannya dapat dibagi menjadi sembilan kelompok[s2] [s3] , yaitu Acetes sp., Penaeus sp., Portunus sp., Clupeidae, Ambassidae, Sciaenidae, Gobiidae, Sillaginidae, dan organisme tidak teridentifikasi. Makanan utamanya adalah jenis Penaeus sp. sama baik menurut waktu maupun ukuran ikan setiap bulan[s4] . Jenis makanan utamanya tidak berubah tetapi proporsinya berubah seiring bertambahnya ukuran panjang. Proporsi makanan utama jenis Penaeus sp. pada ukuran panjang 41-84 mm (96,17), 85-130 mm (95,64), dan 131-175 mm (88,15[s5] ). [s1]ubah menjadi kalimat pasif [s2] [s3]jenis? [s4]Maksudnya bagaimana? [s5]Kebiasaan makanannya seperti apa???

KEBIASAAN MAKANAN DAN PERUBAHAN ONTOGENETIK MAKANAN IKAN BAJI-BAJI (Grammoplites scaber) DI PANTAI MAYANGAN, JAWA BARAT [Food habits and ontogenetic changes in the diet of the rough flathead Grammoplites scaber in Mayangan Coast, West Java]

Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 9, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.568 KB)

Abstract

The study on the food habits and ontogenetic changes in the diet of the rough flathead, Grammoplites scaber, in Mayangan Coast, West Java, was conducted in 12 months. The main objectives of the study were to analyze the food compotition and the changes of the food in relation to season and fish length. Samplings were done once in a month, using gillnet and beach seine. Total samples were 795 individuals and the range of total length was between 107-364 mm. Food analysis was determined by using index of preponderance. The result showed that the food of the rough flathead fish could be grouped into four groups. The groups are crustacea, pisces, cephalopod, and bivalve. This fish was crustacivore and the major foods were Portunus, Metapenaeus dan Penaeus. The main foods which were consumed varied each month. Along with the increasing of the fish size, there was a change of the main foods. Smaller fish tend to consume Penaeus; whereas the larger one tends to consume Portunus, Metapenaues and Saurida.

Variasi spasio-temporal sebaran kumpulan ikan di Estuari Segara Menyan [Spatio-temporal variation of fish assemblages distribution in Segara Menyan estuary]

Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 14, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.883 KB)

Abstract

A study was conducted to describe spatio-temporal variation of fish assemblages in Segara Menyan estuary, Jawa Barat from January to December 2011. Fish specimens were collected with three fishing gears (gill net, trammel net, and trawl) from three zones namely stream, coastal lagoon, and marine zone. Fish assemblage measures were density, species richness, and fish diversity; whereas aquatic environmental variable were temperature, salinity, dissolved oxygen, and water clarity. Results showed a significant difference in the temperature, salinity, and water clarity. Density, species richness, and fish diversity showed important variations both in time and space (zone). Multiple linear regression analysis revealed inconsistent patterns in terms of the relationships between univariate fish assemblage measures and aquatic environmental variables. AbstrakPenelitian yang berlangsung dari Januari hingga Desember 2011 bertujuan untuk menjelaskan variasi spasio-temporal sebaran kumpulan ikan di estuari Segara Menyan, Jawa Barat. Pengambilan ikan contoh dilakukan pada tiga zona yaitu sungai, pantai, dan laut dengan menggunakan tiga alat tangkap yaitu jaring rampus, jaring berlapis, dan jaring arad. Variabel pengukuran ikan meliputi densitas, kekayaan spesies, dan diversitas ikan; sedangkan variabel lingkungan meliputi suhu, salinitas, oksigen terlarut, dan kecerahan perairan. Pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa suhu, salinitas, dan kecerahan berbeda nyata menurut zona dan waktu. Sementara variasi spasio-temporal ikan terlihat jelas pada den-sitas, kekayaan spesies, dan diversitasnya. Analisis regresi linear berganda memperlihatkan ketiadaan konsistensi pada pola hubungan antara variabel pengukuran ikan dengan variabel lingkungan.

Variasi makanan ikan seriding, Ambassis nalua (Hammilton, 1822) di ekosistem estuari Segara Menyan, Jawa Barat [Diet variation of scalloped perchlet (Ambassis nalua) in Segara Menyan Lagoon, West Java]

Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 11, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.424 KB)

Abstract

This study describes feeding habit and strategy of scalloped perchlet (Ambassis nalua) according to ontogenetic shift and seasonal period. The fish samples were collected monthly from December 2010 to November 2011 in Segara Me-nyan Lagoon, West Java. Trammel net and gill net was used to catch the fish sample. We analyzed stomach contents of 380 individuals. Food items of the scalloped perchlet were composed of four categories, namely microcrustaceans, polychaetes, amphipods, and gastropods. According to ontogenetic shift and seasonal period, microcrustaceans used as main food by scalloped perchlet. Conversely, niche breadth of food influenced by ontogenetic shift and seasonal period, whereas percentage of stomach fullness significantly affected by seasonal period. Feeding strategy of the scalloped perchlet was mixed strategies (specialization-generalization). Information about of the diet of the scalloped perchlet shows dependence on estuarine ecosystems that provide of food resources. AbstrakPenelitian ini menggambarkan kebiasaan dan strategi pola makanan ikan seriding berdasarkan perubahan ontogenetik dan musim.Contoh ikan dikoleksi setiap bulan dari Desember 2010 hingga November 2011 di Segara Menyan, Jawa Barat. Penangkapan ikan menggunakan jaring berlapis dan jaring insang. Pengamatan isi saluran pencernaan dilakukan terhadap 380 ekor ikan seriding. Menu makanan terdiri atas empat kategori, yaitu mikrokrustase, polikaeta, amfipoda, dan gastropoda. Berdasarkan perubahan ontogenetik dan musim, ikan seriding menunjukkan menu makanan utama yang sama yaitu mikrokrustase. Kondisi yang berbeda terlihat pada luas relung makanan yang dipengaruhi oleh perubahan ontogenetik dan musim, sementara persentase kepenuhan lambung yang secara nyata dipengaruhi oleh perubahan musim. Strategi pola makanan ikan seriding adalah strategi gabungan (spesialis-generalis). Informasi mengenai menu makanan ikan seriding menunjukkan ketergantungannya terhadap ekosistem estuari yang menjamin ketersediaan makanan.

Komunitas ikan di Telaga Warna, Jawa Barat [Fish community in Telaga Warna, West Java]

Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 10, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.015 KB)

Abstract

The research aims to describe fish community in Telaga Warna, including species diversity and food web. Fish was sampled using cast net in three times at rainy season, inter season, and dry season in 2007. Physicochemical parameters were ex situ and in situ. Plankton was identified until genus. Fish samples were observed in laboratory. Water physicochemical support fishes living process in Telaga Warna. All fishes in Telaga Warna are non-native species. Almost of them is grouped as a plankton-feeder which eats on phytoplankton and zooplankton.AbstrakPenelitian bertujuan untuk memerikan komunitas ikan yang menghuni Telaga Warna, mencakup keanekaragaman ikan dan jejaring makanan. Pengambilan contoh ikan menggunakan jala yang dilaksanakan tiga kali pada musim penghujan, pancaroba, dan kemarau tahun 2007. Parameter fisikokimiawi diambil ex situ and in situ. Plankton diidentifikasi sampai tingkat genus. Ikan contoh dianalisis di laboratorium. Kualitas air mendukung kehidupan ikan di Telaga Warna. Semua jenis ikan bukan spesies asli. Hampir seluruh jenis ikan termasuk kelompok planktivora yang memakan fitoplankton dan zooplankton.

Iktiodiversitas di Perairan Teluk Bintuni, Papua Barat [Ichthyodiversity in Bintuni Bay, West Papua]

Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 11, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (654.077 KB)

Abstract

Research on ichythyodiversity was conducted in June and December 2007 in order to reveal fish diversity in Bintuni Bay, West Papua. A total of 106 fish species belonging to 46 families and 12 orders were captured by beam trawl, fyke-net, and trap in wet and dry seasons. Perciformes was dominant and all of niche habitat inhabited by fish. The diversity of fishes was related with mangrove ecosystem around the Bintuni Bay. Fish communities divided into seven groups according to bioecological category and the group of marine-estuarine species was dominant. Spatial and temporal distributions of fish were varying related to aquatic environmental heterogeneity. A hypothetical trophic web was built based upon the different types of food resources used by each group of fish. Complexity of food web shows that estuary of Bintuni Bay is the feeding ground for many fish species. AbstrakPenelitian iktiodiversitas di perairan Teluk Bintuni, Papua Barat dilakukan pada Juni dan Desember 2007 dengan tujuan menggungkap kekayaan spesies ikan di perairan tersebut. Total spesimen ikan yang tertangkap pada dua musim yang berbeda dengan alat tangkap jaring tarik, pukat tepi, dan perangkap adalah 106 spesies dari 46 famili dan 12 ordo. Spesies ikan ordo Perciformes mendominasi komunitas ikan. Semua relung habitat yang tersedia diisi oleh beragam jenis ikan. Besarnya keragaman ikan yang ditemukan tidak terlepas dari keberadaan ekosistem mangrove di sekitar teluk. Komunitas ikan dibagi dalam tujuh kelompok berdasarkan kategori biolekologik dan kelompok spesies yang dominan adalah spesies estuari-bahari (marine-estuarine species). Distribusi spasio-temporal ikan beragam terkait heterogenitas lingkungan perairan. Jaring trofik hipotetik yang dikembangkan berdasarkan jenis ikan yang ditemukan beserta kebiasaan makanannya memperlihatkan bahwa komunitas ikan memanfaatkan semua relung makanan yang tersedia. Kompleksitas jaring makanan ikan memperkuat hipotesis bahwa daerah estuari Teluk Bintuni bervegetasi mangrove merupakan lumbung makanan bagi banyak spesies ikan.