Nurlaila Z
Center of Research and Development of Nuclear Technology - BATAN, Bandung, Indonesia.

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

Peptide Radiopharmaceuticals for Diagnosis and Therapy Z, Nurlaila
Journal of the Indonesian Medical Association Vol. 57 No. 8 August 2007
Publisher : Journal of the Indonesian Medical Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Any compound consisting of less than 100 amino acids is considered as a peptide. Receptor-specific peptide which can be labeled by radionuclide hold unlimited potential in nuclear medicine, not only in the diagnostic and therapeutic applications of neoplastic diseases, but also in the pathogenesis of other diseases. The review described peptide radiopharmaceuticals which could be used for diagnosis and therapy, including various radiolabeling method of peptide, their advantages and disadvantages, and specific examination of peptide labeled compound as well. Meanwhile, several radiolabeled peptides that have been tested in animals and humans in the fields of oncology, neurology, cardiology, infection and inflamation were also described. It was found that peptide radiopharmaceuticals have a great potential to express many diseases, especially which interact with receptor.Keywords: peptide, radiopharmaceuticals, receptor, diagnosis, therapy
FORMULASI RADIOFARMAKA 99mTc-GLUTATION UNTUK DIAGNOSIS KANKER Z, Nurlaila; Sriyani, Maula Eka
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia Vol 11, No 2 (2010): Agustus 2010
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.681 KB)

Abstract

Glutation (GSH) merupakan tripeptida alam yang memegang peranan penting dalam reaksidetoksifikasi, pelindung sel terhadap kerusakan akibat xenobiotic spektrum lebar. GSH dapatmembentuk kompleks khelat dengan ion-ion logam seperti teknesium-99m (99mTc), yang dalambidang kedokteran nuklir dapat digunakan untuk diagnosis kanker leher dan kepala. Gunamemenuhi kebutuhan senyawa bertanda 99mTc-glutation (99mTc-GSH) di dalam negeri, telahdilakukan penandaan GSH dengan radionuklida 99mTc dengan memvariasikan beberapaparameter. Penentuan efisiensi penandaan 99mTc-GSH dilakukan dengan melihat kemurnianradiokimianya yang ditentukan dengan kromatografi lapis tipis menggunakan TLC-SG dengan 2macam fase gerak, yaitu aseton kering dan larutan NaCl 0,9%. Kondisi penandaan optimaldicapai pada penggunaan 20 mg GSH; 0,3 mg SnCl2.2H2O; pH reaksi 7-7,5; dan pengocokanbeberapa saat pada temperatur kamar, memberikan efisiensi penandaan ± 98%. Total volumereaksi hingga 5 ml tidak memberikan pengaruh pada tingkat kemurnian hasil penandaan. Ujistabilitas menunjukkan bahwa 99mTc-GSH tetap stabil sampai 6 jam pada temperatur kamardengan kemurnian radiokimia 99,34 %.
PENANDAAN KIT KERING DMSA DENGAN TEKNESIUM-99m DALAM SUASANA BASA SERTA UJI STABILITASNYA. Z, Nurlaila; Suminar, Mimin Ratna; K, Iswahyudi
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia Vol 1, No 1 (2000): Februari 2000
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1251.277 KB)

Abstract

PENANDAAN KIT KERING DMSA DENGAN TEKNESIUM-99m DALAM SUASANA BASA SERTA UJI STABILITASNYA. Penvakit kanker merupakan salah satu penyebab kematian di Indonesia. Bidang kesehatan pada saat ini mencari suatu metode untuk mendeteksi kanker secara dini sehingga dapat dilakukan pengobatan yang lebih efektif. Dalarn bidang kedokteran nuklir, beberapa radiofarmaka dapat digunakan untuk maksud tersebut diantaranya 99mTcv-DMSA yang dapat terakumulasi pada kanker tiroid medular, kanker paru-paru dan jaringan tumor lainnya. Guna mernenuhi kehutuhan pelayanan kesehatan di dalam negeri maka dilakukan pembuatan senyawa tersebut. Telah dilakukan penandaan kit kering DMSA dengan radionuklida teknesium-99rn dalam suasana basa rnenggunakan larutan NaHCO3 7 %. Dalam suasana ini terbentuk senyawa 99mTcv-DMSA dengan tingkat oksidasi +5 (99mTcv-DMSA ). Penentuan efisiensi penandaan dilakukan dengan melihat kemurnian radiokimianya yang ditentukan dengan kromatografi kertas dan kromatografi lapis tipis. Kondisi penandaan optimal dicapai pada pH = 8,2 - 8,3 (penggunaan 0,6 - 0,8 mL larutan NaHCO37 %) dengan waktu inkubasi 30 menit pada temperatur kamar, memberikan efisiensi penandaan maksimal sebesar 93.59 ± 1.05 %. Uji pendahuluan pada hewan percobaan tikus putih dengan metode penyidikan menunjukkan bahwa senyawa 99mTcv-DMSA terakumulasi dalam jumlah yang relatif kecil pada ginjal. Senyawa 99mTcv-DMSA masih dapat digunakan dalam waktu 1 jam setelah penandaan. Uji stabilitas kit kering DMSA. pada temperatur ± 4°C, menunjukkan hahwa sediaan tetap stabil sampai dengan 2½ bulan penyimpanan. 
PENGEMBANGAN PEMBUATAN TEKNESIUM-99m NITRIDOPENTANA-2,4-DION BIS(N-METILTIOSEMIKARBAZON) SEBAGAI SEDIAAN RADIOFARMASI Z, Nurlaila; Susilawaty, Entit; Isabela, Epy
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia Vol 4, No 2 (2003): Agustus Edisi Khusus 2 2003
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2612.409 KB)

Abstract

PENGEMBANGAN PEMBUATAN TEKNESIUM-99m NITRIDOPENTANA-2,4-DION BIS(N-METILTIOSEMIKARBAZON) SEBAGAI SEDIAAN RADIOFARMASI. Pembuatan senyawa teknesium-99m nitrido pentana-2,4-dion bis(N-metiltiosemikarbazon) (99mTcNPETS) telah dilakukan menggunakan donor nitrogen natrium azida. Akan tetapi metode ini mempunyai beberapa keterbatasan untuk penggunaan dalam kedokteran nuklir, khususnya mengenal sterilitas dan apirogenitas dan radiofarmaka. Pada penelitian ini telah dikembangkan alternatif lain dalam pembuatan senyawa 99mTcPETS teras nitrido melalui reaksi substitusi antara senyawa 99mTc≡N perantara berupa senyawa 99mTcNCI2(PPh3)2 dengan ligan PETS. Kondisi pembentukan senyawa perantara 99mTcNCl2(PPh3)2 dengan efisiensi penandaan 90% dicapai pada pemakaian 0,976 mg S-metilditiokarbazat, 1,050 mg PPh3, 10 µL HCI 10M, dengan waktu inkubasi selama 15 hingga 30 menit pada temperatur 80 °C, serta pemakaian 1,026 mg PETS, pH 7 dengan waktu inkubasi selama 15 hingga 45 menit pada temperatur yang sama untuk reaksi substitusi membentuk 99mTcNPETS. Dengan efisiensi penandaan ≥ 90%. Efisiensi penandaan 99mTcNPETS diketahui dari kemurnian radiokimianya yang ditentukan secara kromatografi lapis tipis menaik menggunakan plat silika gel 60 dengan 2 macam pelarut, masing-masing pelarut campuran etanol-kloroform-toluen-amonium asetat 0,5M: pH 7 (6 : 3 : 3 : 1) dan pelarut campuran metanol-asetonitril-THF-amonium asetat 0,5M; pH 7 (3 : 3 : 2 : 2). Uji stabilitas senyawa 99mTcNPETS terhadap waktu penyimpanan menunjukkan bahwa setelah disimpan selama 4 jam pada temperatur kamar, senyawa tersebut masih stabil dengan tingkat kemurnian ≥ 90 %
RADIOFARMAKA UNTUK DETEKSI INFLAMASI DAN INFEKSI. Z, Nurlaila
Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia Vol 3, No 1 (2002): Februari 2002
Publisher : BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5668.755 KB)

Abstract

RADIOFARMAKA UNTUK DETEKSI INFLAMASI DAN INFEKSI. Suatu penyakit atau adanya rasa sakit di dalam tubuh dapat disebabkan karena adanya reaksi inflamasi atau infeksi. Salah satu metode yang dapat dipakai untuk mendeteksi adanya reaksi ini adalah teknik nuklir menggunakan radiofarmaka sebagai radioperunut. Beberapa jenis radiofarmaka dengan mekanisme akumulasi yang spesifik untuk masing-masing radiofarmaka telah digunakan di bidang kedokteran nuklir untuk diagnosis inflamasi dan infeksi dengan hasil yang memuaskan. Radiofarmaka tersebut antara lain teknesium-99m-heksametilpropilenamin-sel darah putih (99mTC—HMPAO—SDP), indium- 111 –oksin- sel darah putih (111In—oksin-SDP), teknesium-99m-immunoglobin G (99mTC —IgG ) dan teknesium—99m—infecton (99mTC infecton ). Dalam visualisasi menggunakan metode ini, perlu diketahui runtunan pengobatan dari pasien karena pemakaian obat tertentu dapat mempengaruhi sifat biologis radiofarmaka, yang mengakibatkan kesalahan diagnosis. Tinjauan ini membahas beberapa radiofarmaka untuk diagnosis inflamasi dan infeksi serta mekanisme akumulasinya di dalam tubuh. Selain itu, dalam tinjauan ini diuraikan juga interaksi radiofarmaka tersebut dengan beberapa obat. 
Development of ciprofloxacin radiopharmaceutical formulation in single vial Z, Nurlaila; S, Maula Eka; W, Eva Maria
INDONESIAN JOURNAL OF PHARMACY Vol 21 No 2, 2010
Publisher : Faculty of Pharmacy Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Skip Utara, 55281, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.9 KB) | DOI: 10.14499/indonesianjpharm0iss0pp139-149

Abstract

Bacterial infection diseases is the greatest death causes in Indonesia. Detection of the deep-seated infection location caused by the gram positive and gram  negative  bacteries  could  be  done  with  nuclear  technique  using 99mTc-ciprofloxacin  radiopharmaceutical.   In  order  to  fulfill  the  necessity  of  this radiopharmaceutical,  the  development  of  formulation in  single  vial  based  on Sn(II)  chloride  and  tartaric  acid  instead  of  Sn(II) tartrat  has  been  carried  out. The  aim  of  this  investigation  is  to  obtained  the  optimum  condition of 99mTc-ciprofloxacin  preparation  with  maximum  labelling efficiency. Several  parameters  influencing  the  labelling  process  of 99mTc-ciprofloxacin such  as  the  amount  of  tartaric  acid,  pH  of  the  reaction,  the  amount  of  Sn(II) ion  as  a  reducing  agent  and  the  incubation  time  has been  studied.   The labelling  efficiency  and  the  radiochemical  purity  of 99mTc-ciprofloxacin  were determined  by  double  chromatography  system  using  Whatman  I/methyl ethyl  keton  to  determine  the  free 99mTc-pertechnetate  and  ITLCSG/(ethanol:water:ammonia = 2:5:1) to separate  the free 99mTc-reduced. The  optimum  preparation  condition  was  obtained  at  pH  =  2.95-3.20,  2  mg  of ciprofloxacin,  0.06  µg  of  tartaric  acid,  50  µg  of  SnCl2—2H2O  and  15  minutes incubation  time  at  room  temperature,  gave  90-93  %  of  labelling  efficiency,  in wchich was stable for 20 minutes at room temperature. Beside that, studies on the  effect  of  Na99mTcO4  solution  volume  to  the 99mTc-ciprofloxacin   labelling efficiency  was  carried  out.   Labelling with up to 0.3 mL of Na99mTcO4 solution volume gave less than 90 % labelling efficiency.Key words: radiopharmaceutical, ciprofloxacin, 99mTc, single vial
Characterization of 99mTc-ciprofloxacin radiopharmaceuticals as the infection imaging Z, Nurlaila; Basry, T. Hasan; Iljas, Rukmini; Suminar, Mimin R.
INDONESIAN JOURNAL OF PHARMACY Vol 16 No 4, 2005
Publisher : Faculty of Pharmacy Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Skip Utara, 55281, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.431 KB) | DOI: 10.14499/indonesianjpharm0iss0pp214-221

Abstract

Technetium-99m-ciprofloxacin (99mTc-ciprofloxacin) is used in nuclear medicine for infection diagnoses by imaging method. Since a succesful diagnose is depend on its radiopharmaceutical characters, the several physicochemical and biological characters should be investigated in order to have the expectation diagnose. The radiochemical purity was determined with ascending paper chromatography (Whatman 3MM) using 50 % of acetonitril solution as the solvents. The lipophilicity =(P) of 99mTcciprofloxacin was obtained by determination of octanol-water partition and the plasma binding protein was in-vitro investigated with precipitation method using 5% of trichloro acetic acid solution. The biological activity of antibiotic and microbiological uptake was observed in-vitro using Staphylococcus aureus (S. aureus) and Escherichia coli (E.coli). From the experiment, it was obtained that 99mTc-ciprofloxacin has 98.04 ± 0.51 % of radiochemical purity, the lipophilicity (P) = 0.088 ± 0.003, the human plasma binding protein of 64.20 ± 1.74%. The biological activity of 99mTcciprofloxacin was indentic with ciprofloxacin as the starting material and the maximum uptake by S. aureus and E.coli was 97.30 ± 1.01% and 96.03 ± 2.10%, at one hour incubation, respectively. The stability determination showed that 99mTc-ciprofloxacin was still able to be used until two hours after labelling with radiochemical purity of 97.55 ± 0.24%.Key words :radiopharmaceutical, technetium-99m, ciprofloxacin, in, characterization.