Articles

Sertifikasi Phenyl: Persepsi Masyarakat dan Dampak Sertifikasi pada Pengusahaan Hutan Skala Lokal (Studi Kasus di Kelurahan Selopuro dan Desa Sumberejo, Kecamatan Batuwarno, Kabupaten Wonogiri, Propinsi Jawa Tengah) Yuwono, Teguh
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 2, No 2 (2008)
Publisher : Jurnal Ilmu Kehutanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In 2002, Indonesian Ecolabel Institution (LEI) established the so-called Sustainable Community Based Forest Management Certification system (PHBML). In 2004, with a PHBML certificate award, the community forest management units in Selopuro and Sumberejo villages, Batuwarno sub district, Wonogiri Regency, Central Java were anknowledged as the best institution in sustainable yield function, social function, and ecological function aspects. This research was aimed to find out the communitys kind of perception, as well as that of KPS (Certification Farmer Community) officials and members in particular, to PHBML certification implementation. Also, the study was intended to discover the impact of PHBML certification upon the local scale forest management. The research findings indicated that the communitys level of understanding to PHBML certification was poor when compared with that of KPS officials. This condition due to the official failure to share the knowledge they had receivedfrom NGO with the KPS members. With PHBML certification, the institutional management by forest farmers had been proven improved however, there have not been yet any significant improvement to farmer income, and to forest product marketing. In addition to this, what was meant by significance, did not fully answer the farmer expectation of better sustainable forest principle realization. Keywords : certification, PHBML, perception, impact.
Beban Alternator Fasa Tiga Simulasi Dalam Laboratorium Yuwono, Teguh
METANA Volume 3 Nomor 1 Juli 2006
Publisher : METANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract   Electrics usage by consumer according to its requirement. Burden of electrics usage by assorted consumer, but the conclusion burden of electrics usage is have the character of the resistive, capacitive and inductive. Physicly in the form of resistor, inductor, and capacitor. Burden in electrics usage not stand-alone but became to one union of network of requirement of usage electrics energy. In electrics three phasa, burden can be linked by a star or delta, at same burden linked by a star or delta will permeate the same electrics energy but differing at current ampere and voltage.   Keyword: resistor; inductor; capacitor; star and delta connection.
Alternator Fasa Tiga 12 Volt Untuk Praktik di Laboratorium Yuwono, Teguh
METANA Volume 3 Nomor 1 Juli 2006
Publisher : METANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract   Performing an equipment to train the skille area student of costly adequate 3 phase alternator encumbering enough. so that student  fulled the requimen learn  skilled of encumbering of 3 phase alternator, need there is solution of levying of unit the skilled alternator 3 phase. One of the way is make by self, modifying car alternator become the 3 phase alternator.   Keryord: emf alternator
Pengaruh Kedip Tegangan dan Koordinasi Rele Arus Lebih pada Sistem Tenaga Listrik Semen Tonasa IV Sabara, M. Wildan Nasution; Penangsang, Ontoseno; Yuwono, Teguh
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Teknik ITS (ISSN 2301-9271)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suatu sistem tenaga listrik dikatakan memiliki tingkat keandalan yang tinggi apabila sistem tersebut mampu menyediakan pasokan energi listrik yang dibutuhkan oleh beban secara terus-menerus dan dengan kualitas daya yang baik. Pada kenyataannya, banyak permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh suatu sistem tenaga listrik dalam penyediaan energi listrik secara kontinyu. Salah satu gangguan yang sering terjadi pada sistem tenaga listrik adalah gangguan kedip tegangan. Gangguan ini merupakan gangguan transien pada sistem tenaga listrik, yaitu penurunan tegangan sesaat (selama beberapa detik) pada jaringan sistem. Gangguan kedip tegangan ini bisa disebabkan oleh gangguan hubung singkat pada sistem dan adanya perubahan beban secara mendadak misalkan pengasutan motor induksi. Penurunan tegangan pada sistem ini akan dapat menyebabkan gangguan pada peralatan yang lainnya. Selain itu, penurunan tegangan yang terjadi dapat menyebabkan terganggunya kinerja peralatan pengaman jaringan seperti beroperasinya sistem rele undervoltage yang akan menyebabkan pemutusan suplai tegangan pada jaringan sistem. Oleh karena itulah kedip tegangan sangat perlu diperhitungkan untuk mendapatkan keandalan sistem tenaga listrik yang baik.
Maximum Power Point Tracking (MPPT) Pada Variabel Speed Wind Turbine (VSWT) Dengan Permanent Magnet Synchronous Generator (PMSG) menggunakan Switch Mode Rectifier (SMR) saputra, Armaditya Tri Martha; Suryoatmojo, Heri; Yuwono, Teguh
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Teknik ITS (ISSN 2301-9271)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Energi angin merupakan salah satu energi alam yang terbarukan dan memiliki potensi yang cukup besar sebagai pembangkit listrik. Dalam sistem pembangkit yang berdiri sendiri perlu diperhatikan pengaturan yang tepat agar tidak merusak komponennya. Oleh karena itu pada tugas akhir ini akan dibahas tentang strategi kontrol baru untuk pengoperasian Variable Speed Wind Turbine (VSWT) dengan Permanent Magnet Synchronous Generator (PMSG) yang tereksitasi sendiri menggunakan Switch Mode Rectifier (SMR). Strategi kontrol ini dipasang pada konverter sisi generator dengan tujuan untuk memaksimalkan ekstraksi daya yang ada. Bagian utama yang diatur disini adalah tegangan output dengan mengontrol kecepatan rotor  untuk mengatasi perubahan angin yang bervariasi. Sehingga dalam tugas akhir ini nantinya akan ditunjukkan bahwa dengan mengontrol VSWT-PMSG dapat mengekstraksi daya maksimum serta mampu mengatur tegangan output dalam berbagai kondisi angin mulai dari 6m/s sampai 12 m/s dan perubahan beban mulai dari 20 ohm sampai 300 ohm.
APLIKASI TAPIS PELEWAT RENDAH LC (LOW PASS LC FILTER) UNTUK MEREDUKSI DISTORSI HARMONISA PADA LAMPU HEMAT ENERGI Sasmoko, Priyo; Subali, Subali; Yuwono, Teguh
GEMA TEKNOLOGI Vol 16, No 4 (2012): Periode Oktober 2011 - April 2012
Publisher : GEMA TEKNOLOGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Priyo Sasmoko, Subali, Teguh Yuwono, in this paper explain that harmonic (current or voltage) is one of the problems that has to be solved in electric power system, especially that caused by non-linear loads. Harmonic could cause bad impacts for the electric components that sensed it. It is almost certain that using of fluorescent lamp with electronic ballast or it is called energy saving lamp can cause harmonic in electric power system. Considering of the using of energy saving lamp is increased fairly fast as residence and office lighting, so it is important to analyze and solve the harmonic that caused by energy saving lamp. From the harmonic analysis, we can know the harmonic distortion caused by energy saving lamp. And there are some efforts to reduce such harmonic distortion by using a Low Pass Filter. Keyword: power quality, harmonic, low pass filter.
Desain dan Simulasi Konverter Boost Multilevel Sebagai Catu Daya Kendaraan Listrik Fanani, Akhmad Zaky; Ashari, Mochamad; Yuwono, Teguh
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konverter boost multilevel merupakan jenis dc-dc konverter yang dapat  menaikkan tegangan output. Prinsip kerja konverter ini sama dengan konverter boost konvensional akan tetapi memiliki keuntungan yaitu besar ratio tegangan output yang lebih tinggi. Keuntungan ini dapat diterapkan pada motor listrik sebagai pengendali catu daya.  Konverter boost multilevel berfungsi untuk menaikkan tegangan dari baterai ke motor.Pada tugas akhir ini dibahas desain dan simulasi konverter boost  dengan dua induktor yang dilengkapi dengan transformator tambahan dan konverter boost multilevel menggunakan kapasitor yang di 3 tingkat. Simulasi yang dilakukan pada tugas akhir ini adalah penerapan konverter boost  dengan dua induktor yang dilengkapi dengan transformator tambahan dan konverter boost multilevel yang diberi beban berupa motor dc. Dari hasil simulasi diamati karakteristik tegangan output pada konverter-konverter boost tersebut sehingga dapat ditentukan jenis konverter boost yang tepat untuk catu daya kendaraan listrik
Penalaan Parameter Superconducting Magnetic Energy Storage (SMES) menggunakan Firefly Algorithm (FA) pada Sistem Tenaga Listrik Multimesin Setiadi, Herlambang; Robandi, Imam; Yuwono, Teguh
Jurnal Teknik ITS Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Energi listrik yang disuplai ke konsumen harus mempunyai stabilitas dan keandalan yang tinggi. Jika terjadi sebuah gangguan pada sistem tenaga listrik dapat mengakibatkan ketidakstabilan. Gangguan tersebut dapat berupa putus jaringan (transien) maupun perubahan beban (dinamik). Perubahan beban yang terjadi secara tiba-tiba dan periodik tidak dapat direspon dengan baik oleh generator sehingga dapat mempengaruhi kestabilan dinamik sistem. Hal ini menyebabkan timbul osilasi frekuensi pada generator. Respon yang kurang baik dapat menimbulkan osilasi frekuensi dalam periode yang lama. Hal itu akan mengakibatkan pengurangan kekuatan transfer daya yang ada. Pada sistem tenaga listrik multimachine, semua mesin bekerja secara sinkron se­hingga generator harus beroperasi pada frekuensi yang sama. Untuk meredam osilasi frekuensi yang terjadi dibutuhkan kontroler tambahan yaitu Superconducting Magnetic Energy Storage (SMES). Agar mendapatkan koordinasi controler yang baik maka parameter pada SMES dioptimisasi dengan Firefly Algorithm (FA). Tugas Akhir ini mengajukan konsep penalaan parameter SMES menggunakan FA pada sistem tenaga listrik multimesin. Dengan diajukan metode diatas diharapkan permasalahan osilasi frekuensi akibat terdapat perubahan beban dapat diredam.
Potensi Biomasa dan Simpanan Karbon Jenis-jenis Tanaman Berkayu di Hutan Rakyat Desa Nglanggeran, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta Purwanto, Ris Hadi; -, Rohman; Maryudi, Ahmad; Yuwono, Teguh; Permadi, Dwiko Budi; Sanjaya, Makmun
Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 6, No 2 (2012)
Publisher : Jurnal Ilmu Kehutanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Community forests, like any other forests, do not only produce timber and fire-woods but they also function as carbon storage, and therefor they play a very important role in the global carbon cycle. This research aims were (a) determining the types of perennial woods (diameter at breast height, D = 10 cm which grown on community forest of Ngalaggeran Village, (b) determining the growth characteristics of vegetations which make up the community forest, including diameter at breast height, height of trees, tree density and basal area, and (c) determining the biomass and carbon storage in the community forests of Nglanggeran Village.The research used the allometric method to assess the biomass of mahagony, acacia, sonokeling, teak, sengon and the others. The research result showed that there were 25 species of perennial woods, which cultivated by the community forest’s farmers in Nglanggeran Village, most of which is mahagony. The average of stem diameter at breast was 20.8 cm (range between 17.0 and 27.3 cm), and the average height was 15.0 cm (range between 11.6 and 20.6 cm). The tree density per hectare was 162, consisting mostly of mahagony (67 trees per hectare) acacia (38 trees per hectare), sonokeling (25 trees per hectare), teak (9 trees per hectare), sengon (3 trees per hectare) and the others (20 trees per hectare). The average of basal area was 4.918 m2 per hectare. The average biomass was 38.106 tons per hectare which include mahagony 23.119 tons per hectare, acacia 7.036 tons per hectare, sonokeling 3.440 tons per hectare, teak 1.614 tons per hectare, sengon 0.464 ton per hectare and others 2.434 tons per hectare. If it is assumed that 50% of biomass weight is carbon, then the average carbon storage at Nglanggeran Village community forest is 19.053 tons per hectare, which include mahagony 11.560 tons per hectare, and the others 1.217 tons per hectare. The research about forest biomass and carbon stock in a community forest provides a chance of the community forest in preparing to face the carbon trading era. IntisariSelain menghasilkan kayu perkakas dan kayu bakar, hutan rakyat sebagaimana hutan pada umumnya juga berfungsi sebagai penyimpan karbon, sehingga memainkan peran yang sangat penting di dalam siklus karbon global (the global carbon cycle). Penelitian ini dilakukan untuk (a) mengetahui jenis-jenis tanaman berkayu mulai dari tingkat tiang (poles: D = 10 cm) di hutan rakyat Desa Nglanggeran, (b) mengetahui karakteristik pertumbuhan tanaman berkayu penyusun hutan rakyat meliputi pertumbuhan diameter batang setinggi dada, tinggi, kerapatan pohon dan luas bidang dasarnya, dan (c) mengetahui kandungan biomasa dan karbon. Hasil penelitian ini menunjukkan ada 25 jenis tanaman berkayu yang ditanam dan dikembangkan oleh masyarakat petani hutan rakyat di Desa Nglanggeran yang sebagian besar menanam dan mengembangkan jenis tanaman mahoni. Rata-rata diameter batang setinggi dada untuk jenis-jenis tanaman berkayu mulai tingkat tiang (poles: dbh = 10 cm) adalah 20,8 cm (kisaran: 17,0 - 27,3 cm), dan tinggi rata-rata 15,0 cm (kisaran: 11,6 - 20,6 cm). Jumlah pohon per hektar 162 pohon yang terdiri dari jenis mahoni (67 pohon/ha), akasia (38 pohon/ha), sonokeling (25 pohon/ha), jati (9 pohon/ha), sengon (3 pohon/ha) dan jenis lainnnya (20 pohon/ha). Rata-rata luas bidang dasar 4,918 m2 /ha. Rata-rata simpanan biomasa sebesar 38,106 ton/ha yang terdiri dari jenis mahoni 23,119 ton/ha, akasia 7,036 ton/ha, sonokeling 3,440 ton/ha, jati 1,614 ton/ha, sengon 0,464 ton/ha dan jenis lainnya 2,434 ton/ha. Bila diasumsikan 50 % berat biomasa adalah karbon maka rata-rata simpanan karbon di hutan rakyat Desa Nglanggeran sebesar 19,053 ton/ha yang terdiri dari jenis mahoni 11,560 ton/ha, akasia 3,518 ton/ha, sonokeling 1,720 ton/ha, jati 0,807 ton/ha, sengon 0,232 ton/ha dan jenis lainnya 1,217 ton/ha. Penelitian tentang potensi biomasa dan simpanan karbon hutan di hutan rakyat memberi peluang hutan rakyat dalam menyambut era perdagangan karbon.Katakunci: potensi biomasa, simpanan karbon, jenis-jenis tanaman berkayu, hutan rakyat
OPTIMALISASI HMI SCADA UNTUK MONITORING DAN KONTROL REPEATER RADIO KOMUNIKASI MENGGUNAKAN MODEM GPRS INTEK J65i-X Aufa, Al Anamila Nur; Yuwono, Teguh
GEMA TEKNOLOGI Vol 18, No 1 (2014): Periode April 2014 - Oktober 2014
Publisher : GEMA TEKNOLOGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Al Anamila Nur Aufa, Teguh Yuwono, in paper SCADA HMI optimization for monitoring and control repeater using radio communication modem GPRS INTEK J65i–X explain that radio communications at PT PLN ( Persero ) APD Central Java and Yogyakarta is still a major communication medium for coordinating the work , both maintenance and handling of interference between units . Repeaters in this case an important role in the communication process between APD dispatcher JTY with Area - Area and officers in the field because of the presence of the communication range of the repeater spacing becomes wider . In operation repeaters can be susceptible to interference that can result in radio communications in the areas covered by the repeater to be disrupted so that the communication between the dispatcher APD JTY with Area - Area and field workers to be blocked. Handling repeater for this disorder is not maximized due to the lack of real time monitoring of the state of the repeater , so that when the repeater impaired in the device or on the supply , the clerk did not know in person and just waiting for a report from the repeater keeper at any time at the shelter is not a repeater . There needs to be a device that can monitor the state of the repeater , which if detected interference at the source , supply and radio , PPE JTY officer may direct monitoring , so that it can assist in the handling and analysis of causes of hearing disorders without having to come to the site . GPRS Modem Utilization Intek J65i - X allows retrieval status of the repeater equipment where it can not be done at this time . With facilities tapped digital inputs and digital outputs on the modem , any condition of equipments such as radio signal repeater RX , TX radio signal , battery , charger and 220V supply state of the supply voltage can be detected . From changes in the supply voltage available , can be detected by a GPRS modem Intek J65i - X so that when there is an interruption in the HMI SCADA can termonitoring in real time . With the monitoring and control of a radio repeater communications , personnel no longer need to go to the location (site ) only to find the cause of the disturbance . Interference analysis can also be performed before treatment is held further disruption . Reset control radio can also be done quickly if the radio have to hang in its operation , so that the future will be able to improve the performance of SCADA systems PT PLN ( Persero ) APD Central Java and DI Yogyakarta. Keywords : repeater , modem GPRS Intek J65i - X , auxiliary relays , monitoring and control , HMI SCADA