Bambang Darmo Yuwono
Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Published : 62 Documents
Articles

ANALISIS PENURUNAN MUKA TANAH DAERAH SEMARANG MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK GAMIT 10.04 KURUN WAKTU 2008-2013

Jurnal Geodesi Undip Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Jurnal Geodesi Undip

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penurunan muka tanah adalah suatu fenomena alam yang banyak terjadi di kota-kota besar yang berdiri di atas lapisan sedimen, seperti Jakarta, Semarang, Bangkok, Shanghai, dan Tokyo. Dari studi penurunan tanah yang dilakukan selama ini, diidentifikasi ada beberapa faktor penyebab terjadinya penurunan tanah yaitu : pengambilan air  tanah yang berlebihan, penurunan karena beban bangunan. Dari  tipe penurunan tanah ini, penurunan akibat pengambilan air tanah yang berlebihan dipercaya sebagai salah satu tipe penurunan tanah yang dominan untuk kota-kota besar.Penelitian ini menggunakan GPS yang disebar ke delapan titik pengamatan penurunan muka tanah yang dibagi menjadi tiga hari pengamatan, setiap pengamatan GPS berdurasi enam sampai delapan jam karena pengukuran geodinamika menggunakan GPS membutuhkan waktu minimal enam jam pengamatan. Pengolahan data GPS  menggunakan perangkat lunak GAMIT 10.04 dan menggunakan metode pengolahan radial. Hasil pengolahan perangkat lunak GAMIT 10.04 berupa koordinat dan standar deviasi masing-masing titik. Penentuan nilai penurunan muka tanah daerah Semarang berdasarkan tinggi ellipsoid dari pengukuran tahun sebelumnya.Berdasarkan penelitian yang menggunakan perangkat lunak GAMIT 10.04 ini, didapatkan RMS rata-rata pengolahan titik pengamatan sebesar 4 – 5 milimeter.  Hasil penelitian dengan menggunakan GPS, daerah semarang mengalami penurunan tanah dalam rentang variasi kecenderungan penurunan dari 2.2 milimeter sampai 17.2 sentimeter.Kata Kunci : Penurunan Muka Tanah, GPS, GAMIT 10.04

PENENTUAN KOORDINAT DEFINITIF EPOCH 2013 STASIUN CORS GEODESI UNDIP DENGAN MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK GAMIT 10.04

Jurnal Geodesi Undip Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Jurnal Geodesi Undip

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi penentuan posisi dengan satelit Global Navigation Satellite System (GNSS) memunculkan sistem pengadaan titik kontrol dasar  modern sebagai referensi  penentuan posisi untuk pengukuran dan pemetaan  yang bersifat aktif, terus menerus dan dapat diakses secara real time. Sistem titik kontrol modern tersebut adalah Continuosly Operating Reference Stations (CORS). CORS adalah salah satu teknologi berbasis GNSS yang dimanfaatkan untuk berbagai aplikasi terkait penentuan posisi. Stasiun CORS merupakan jaring kerangka geodetik aktif berupa stasiun permanen (base station) dilengkapi dengan receiver dan dapat menerima sinyal-sinyal dari satelit GNSS yang beroperasi secara kontinyu setiap hari.Stasiun CORS UDIP sudah beroperasi sejak desember 2012 di Program Studi Teknik Geodesi, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Stasiun ini dapat berfungsi sebagai titik kontrol geodetik, sehingga perlu dilakukan pendefenisian koordinat definitif  terhadap stasiun ini. Penelitian ini menggunakan data pengamatan GNSS pada bulan Februari dan Maret 2013. Pengolahan data menggunakan perangkat ilmiah GAMIT 10.04.Penelitian ini menghasilkan 2 koordinat yaitu koordinat yang bersifat statis dan dinamis. Koordinat statis yang mengikat ke DGN-95/Orde 1 Badan Informasi Geospasial (BIG) yaitu (X = 438136.37470; Y = 9220592.00180; Z = 243.05050). Koordinat dinamis yang mengikat ke ITRF2008 (X = 438135.0896; Y = 9220593.4225; Z = 243.2853). Hasil uji statistik menggunakan distribusi fisher dengan selang kepercayaan 95% bahwa antara 4 stasiun IGS dan 6 stasiun IGS merupakan suatu sistem dimana nilai perubahan koordinatnya hampir sama. Selisih koordinat stasiun CORS UDIP antara ITRF2008 dan DGN-95 adalah ±  90 cm.Kata kunci: Stasiun CORS, Koordinat Definitif, GAMIT

ANALISIS DEFORMASI GUNUNG MERAPI TAHUN 2012 DARI DATA PENGAMATAN GPS

Jurnal Geodesi Undip Volume 2, Nomor 4, Tahun 2013
Publisher : Jurnal Geodesi Undip

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gunung Merapi adalah salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia yang terletak pada koordinat 7°32,5 LS dan 110°26,5 BT. Secara administratif gunung Merapi terletak di Kabupaten Sleman, Provinsi D.I. Yogyakarta dengan ketinggian 2875 meter diatas permukaan air laut. Mengingat gunung Merapi merupakan gunungapi yang memiliki periode erupsi yang sangat cepat yaitu sekitar 4 tahun sekali, maka akan terjadi aktivitas magma yang akan mengakibatkan perubahan deformasi pada tahun 2012 setelah terjadinya letusan tahun 2010.Metode yang digunakan pada penelitian tugas akhir ini adalah metode deformasi dengan menggunakan alat ukur GPS. Karakteristik deformasi yang dikaji meliputi posisi, arah, dan besar pergeseran. Software yang digunakan adalah software scientific GPS GAMIT. Metode pengikatan baseline dengan menggunakan dua titik ikat yang berbeda, yaitu dengan menggunakan titik ikat IGS BAKO dan titik ikat BPTK. Kemudian pendekatan perkiraan pusat tekanan dilakukan dengan  menggunakan model Mogi, karena aplikasinya yang sangat umum, sederhana, dan cukup intrepretatif.Dari kedua pengolahan dengan titik ikat yang berbeda, sama-sama menghasilkan arah pergeseran yang menjauh dari titik pusat tekanan magma sehingga pada gunung Merapi terjadi inflasi pada tahun 2012. Pada pengolahan dengan titik ikat BAKO, arah pergeseran yang dihasilkan cenderung kurang radial dibandingkan dengan menggunakan titik ikat BPTK. Hal ini disebabkan oleh baseline antara titik ikat dengan titik pengamatan yang terlalu jauh. Berdasarkan pengolahan titik ikat BPTK, gunung Merapi Pada bulan Mei sampai Oktober Tahun 2012 terjadi inflasi dengan pergeseran titik pengamatan GPS DELS sebesar 0,01379 m, GPS GRWH sebesar 0,06835 m, dan GPS KLAT sebesar 0,02877 m. Pengolahan dengan titik ikat BPTK dijadikan acuan untuk melakukan perhitungan prediksi kedalaman sumber tekanan magma yang hasilnya berada pada kedalaman ±3.155 m. Kondisi pusat tekanan magma ini masih berada dibawah kantong magma yang mempunyai kedalaman ±2.000 m sampai ±2.500 m.Kata Kunci : Gunung Merapi, Deformasi, Inflasi

ANALISA GEOSPASIAL PENYEBAB PENURUNAN MUKA TANAH DI KOTA SEMARANG

Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2013): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 4 2013
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penurunan muka tanah merupakan permasalahan yang umum terjadi di kota - kota besar termasuk di Kota Semarang. Kondisi geologi serta aktifitas manusia ditengarai menjadi faktor penyebab penurunan muka tanah. Penurunan muka tanah memiliki karakteristik yang bervariasi secara spasial maupun temporal diakibatkan oleh faktor penyebab yang berbeda.Karakteristik dari penurunan tanah perlu diketahui untuk keperluan perencanaan dan penataan kota maupun tindakan dalam melakukan antisipasi dan mitigasi terhadap dampak yang ditimbulkan. Untuk mendapatkan karakteristik penurunan muka tanah dilakukan penggabungan hasil pengukuran penurunan muka tanah dari berbagai metoda yaitu sipat datar, GPS, pengukuran langsung dan InSAR. Analisa geospasial didasarkan pada hubungan spasial antara karakteristik penurunan muka tanah terhadap faktor - faktor penyebab penurunan muka tanah maupun terhadap kondisi tutupan lahannya.Penurunan muka tanah yang terjadi di Kota Semarang memiliki laju yang bervariasi antara 0 - 13 cm/tahun dengan kecenderungan meningkat ke arah utara timur (timur laut) Kota Semarang. Daerah yang memiliki laju penurunan muka tanah tinggi antara 9 - 13 cm/tahun antara lain adalah PRPP (Pekan Raya Promosi dan Pembangunan), Tanjungmas, Terboyo dan Kaligawe. Penelitian ini mengakaji tentang faktor yang berpengaruh terhadap penurunan muka tanah menggunakan analisis geospasial terkait dengan faktor – faktor antara lain perubahan muka air tanah, pembebanan dan konsolidasi. Hasil penelitian menunjukkan di lokasi Semarang bagian Utara memiliki perubahan muka air tanah yang cukup tinggi antara 1.2 – 1.4 m per tahun , dengan nilai indeks kompresilibitas berkisar antara 0.6 – 0.9 dimana skala pembebanan berkisar 3 – 4.Kata kunci: : GPS, InSAR, muka air tanah, skala pembebanan, indeks kompresibilias,

Verifikasi Koordinat Titik Dasar Teknik Orde 3 dengan Pengukuran GNSS Real Time Kinematic Menggunakan Stasiun CORS Geodesi UNDIP di Kota Semarang

Jurnal Geodesi Undip Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Jurnal Geodesi Undip

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One of the tasks of BPN in Indonesia is doing the measurement of a Horizontal control points. The result of the measurement is a monument which has a definitive and coordinate values are implicitly understood by the term static datum. But in actual fact the Earth is dynamic and can be quantified as well, the position of the monument base or point of technique to physically change from time to time, consequently the coordinates values will change.Associated with these problems, in this final task has been carried research measurement Basic Point of Technique of Order 3 by using the system of CORS (Continuously Operating Reference Station). By conducting measurements of GNSS RTK method on the basic point of the order of 3 techniques analyzed how big a difference the coordinates of the measuring results and coordinates BPN.The results of this research show that result of plotting vector different coordinate value of Basic Point of Technique of Order 3 measurements of GNSS Real Time Kinematic method against of Basic Point of Technique of Order 3 BPN is not systematic in coordinate value. Keywords: Basic Point of Technique of Order 3, CORS, RTK.

Pembuatan Program Perataan Parameter Jaring Poligon Dengan Menggunakan Visual Basic For Application (VBA) Microsoft Excel

Jurnal Geodesi Undip Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Jurnal Geodesi Undip

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Least square method is one method most popular to problem-solving count flattening. The ordinal least quadrat in cases of the count of geodesy which simple, e.g. cutting measurement of angles, levelling and measurement of distances the base. A traverse do the count based on error angle of a polygon and distance results size reference to the terms of geometric polygons measured. Within adjustment required leveling high Count in the process of calculation. Therefore, the required computer technology  in the process of doing the calculation so that the result is more precision. With the progress of the current process of computer calculations can be done quickly through programming. Program used as thesis harnesses Program macros with visual basic for application (VBA) programming language in microsoft Excel by using the polygon mesh data.Keyword : Least square method , Macro or VBA, Ms. Excel

Analisis Distribusi Klorofil A Dengan Pengaruhnya Terhadap Hasil Perikanan Menggunakan Metode Penginderaan Jauh ( Studi Kasus Pesisir Pantai Pesawaran Lampung )

Jurnal Geodesi Undip Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Jurnal Geodesi Undip

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia memiliki bermacam-macam kekayaan alam yang melimpah, diantaranya adalah kekayaan sumber daya ikan baik di laut, sungai, maupun danau. Kabupaten Pesawaran adalah salah satu kabupaten di Provinsi Lampung, Indonesia. Kabupaten Pesawaran merupakan daratan dengan ketinggian yang bervariasi. Umumnya nelayan yang ada di perairan selatan Kabupaten Pesawaran  masih cenderung menggunakan intuisi yang didapat secara turun temurun untuk menentukan daerah penangkapan ikan. Nelayan seringkali pulang membawa hasil tangkapan yang sedikit bahkan terkadang kosong. Hal ini berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan mereka. Kelemahan tersebut pada prinsipnya telah menjadi perhatian para ahli, terutama untuk memaksimalkan upaya penangkapan di negara berkembang (Mustapha et al., 2010).Penelitian ini bersifat analisis deskriptif yaitu menjelaskan tentang persebaran klorofil A di wilayah pesisir pantai Kabupaten Pesawaran dan melakukan perbandingan dengan data statistik perikanan di daerah tersebut dalam kurun waktu tiga tahun pengamatan menggunakan citra Aqua-Modis tahun 2011, 2012 dan 2013. Hasil yang di dapat dari penelitian ini adalah perubahan klorofil dari tahun 2011 hingga tahun 2013 memiliki suatu pola yaitu selalu mengikuti perubahan musim yang terjadi di Indonesia seperti adanya musim kemarau dan musim penghujan. Pada musim kemarau yang terjadi antara januari 2011 dan juni 2011, jumlah klorofil dalam bentuk luasan  berjumlah 6.318,620 km2 Sedangkan pada musim penghujan yang terjadi pada bulan juli 2011 hingga desember 2011 berjumlah 12.725,120 km2Kata kunci: Klorofil, Perikanan, Aqua-Modis, Penginderaan Jauh

Evaluasi Kesesuaian Lahan Tanaman Pertanian Berbasis Sistem Informasi Geografis Dengan Menggunakan Metode Fuzzy Set (Studi Kasus : Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri)

Jurnal Geodesi Undip Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Jurnal Geodesi Undip

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Secara umum, Sistem Informasi Geografis merupakan alat berbasis komputer yang mampu memfasilitasi pemetaan dan melakukan analisis keruangan objek-objek di permukaan bumi. Sehingga sistem ini dapat untuk menganalisis kesesuaian lahan pertanian dengan menggunakan analisis spasial dan pencocokan antara data karakteristik lahan dari suatu daerah. Kesesuaian lahan merupakan kecocokan suatu jenis lahan tertentu untuk macam penggunaan tertentu. Pada tingkat kelas kesesuaian lahan dikelompokkan pada 5 kelas kesesuaian, yaitu S1 (sangat sesuai), S2 (cukup sesuai), S3 (sesuai marginal), N1 (tidak sesuai pada saat ini), dan N2 (tidak sesuai permanen). Dalam penelitian ini untuk penentuan kelas kesesuaian lahan pada satuan lahan hasil overlay peta dilakukan dengan analisis matching dengan menggunakan metode Fuzzy Set. Sehingga pihak pengambil kebijakan dapat menjadikannya sebagai salah satu dasar dalam perencanaan tata guna lahan, khususnya di sektor pertanian sebagai perwujudan optimalisasi hasil pertanian.Pada hasil dari analisis matching dengan menggunakan metode Fuzzy Set didapat suatu nilai dengan rentang dari 0 sampai dengan 1. Nilai inilah yang menjadikan suatu satuan lahan tersebut berada pada kelas kesesuaian lahan tertentu. Berdasarkan hasil analisis evaluasi kesesuaian lahan, untuk komoditas jagung, padi, cengkeh, cokelat, dan tebu di Kecamatan Eromoko berada pada kelas kesesuaian S1 (sangat sesuai) dan S2 (cukup sesuai). Sedangkan untuk komoditas kacang tanah, kedelai, bawang putih, dan kelapa di Kecamatan Eromoko berada pada kelas kesesuaian S1 (Sangat Sesuai). Kata Kunci : Kesesuaian Lahan, Evaluasi Lahan, Tanaman Pertanian, Hortikultura, Perkebunan, Sistem Informasi Geografis, Matching,  Fuzzy Set.

Analisis Cakupan Pelayanan Shelter Bus Trans Semarang Terhadap Kawasan CBD Menggunakan Network Analysis

Jurnal Geodesi Undip Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Jurnal Geodesi Undip

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In this moment, Semarang has a transportation mode that expected to answer the needs of the community, that is Bus Trans Semarang. Bus Trans Semarang use transportation system that called Bus Rapid Transit (BRT). BRT apply One Stop Bus system, the system that can make a bus only stop in order to take passengers in one object that called shelter. This system has function to avoid a long bus-runtime that caused from undiscipline passengers and traffic jam. But, one stop bus system also has weakness in BRT transportation system because the position of shelter as bus stoppage become the most important thing. If the position of shelter cannot serve many significant areas like CBD (Central Business District), this system cannot work properly.In this research, GIS with its network analysis facility can be used to find out,”is Bus Trans Semarang shelter service could serve people in CBD areas?” There is one realization metodology cconsist of 4 phase, there are data collecting, preparation, processing (network analysis using software ArcGIS), and analysis.The result after doing analysis with network analysis method about all shelter in coridor I and coridor II is 119 shelter, and 11 shelter do not serve CBD. So the writer suggest to add 8 shelter. 3 shelter in coridor I and 5 shelter in coridor II. In coridor I exist 4 optimum shelter, there are Simpang 5 shelter, Bukopin shelter, Gramedia shelter, and Pandanaran shelter.While in coridor II only has 1 optimum shelter, that is BDP Johar shelter.Keywods: Bus Trans Semarang, Network Analyst, Central Business District

Verifikasi TDT Orde 2 BPN dengan Stasiun CORS BPN-RI Kabupaten Grobogan

Jurnal Geodesi Undip Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Jurnal Geodesi Undip

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

GNSS CORS merupakan dasar dari penelitian verifikasi TDT Orde 2 BPN Grobogan dengan stasiun CORS BPN-RI Kabupaten Grobogan. Pengamatan dilakukan pada enam titik TDT orde 2 BPN menggunakan dua stasiun CORS berbeda yaitu stasiun CORS BPN Grobogan dan stasiun CORS BAKO. Koordinat yang dihasilkan akan dibandingkan dengan koordinat TDT orde 2 BPN. Pengolahan koordinat menggunakan software ilmiah GAMIT 10.4 (GPS Analysis Package Developed at Massachusetts Institute of Technology). Masing-masing kooordinat hasil pengikatan ke stasiun CORS dan BAKO akan dilakukan transformasi koordinat Affine dan Helmert.Berdasar standar deviasi yang diperoleh dari transformasi koordinat, koordinat hasil olahan dengan titik ikat CORS BPN menggunakan sistem transformasi helmert lebih bagus daripada koordinat hasil olahan dengan titik ikat CORS BAKO yaitu sebesar 0,00004204827821 m.Keywords : GNSS CORS, GAMIT, TDT orde 2, Transformasi Koordinat.

Co-Authors Abdi Sukmono, Abdi Aldika Kurniawan Alfin Nandaru Ali Amirrudin Ahmad Amirul Hajri, Amirul Amri Perdana Ginting Andika Rizal Bahlefi Andri Suprayogi Anggoro Pratomo Adi, Anggoro Pratomo Apsandi, Ory Andrian Arief Laila Nugraha Arinda Yusi Madena Arintia Eka Ningsih Arwan Putra Wijaya Bambang Sudarsono Bandi Sasmito Bhekti Hapsari Bobby Daneswara Indra Kusuma, Bobby Daneswara Desvandri Gunawan, Desvandri Dzaki Adzhan, Dzaki Edy Saputera Purba Ega Gumilar Hafiz Eva Suci Lestari Fadli Rahman, Fadli Fathan Aulia, Fathan Fauzi Iskandar, Fauzi Fauzi Janu Amarrohman, Fauzi Janu Fina Faizana Fuad Hari Aditya, Fuad Hari Galih Rakapuri, Galih Hani’ah Hani’ah Haris Yusron, Haris Hasanuddin Z. Abidin Henndry . Husen Ibnu Said Indra Laksana L. M. Sabri Lanjar Cahyo Pambudi, Lanjar Cahyo Lasmi - Rahayu Leur P. Maranatha Sitorus, Leur P. Maranatha Lutfi Eka Rahmawan, Lutfi Eka Lutgar Sudiyanto Sitohang Mahmudi Mahmudi Maylani Daraputri, Maylani Moehammad - Awaluddin Moehammad Awaluddin Moh Kun Fariqul Haqqi, Moh Kun Fariqul Mualif Marbawi, Mualif Much. Jibriel Sajagat, Much. Jibriel Muhamad Nurman Cholid Muhammad Adnan Yusuf, Muhammad Adnan Muhammad Chairul Ikbal, Muhammad Chairul Muhammad Hilmi Muhammad Ilman Fanani, Muhammad Ilman Nina Ratnaningrum Nurnaning Aisyah Ramdhan Thoriq Setyabudi Ramlansius Tumanggor, Ramlansius Reisnu Iman Arjiansah, Reisnu Iman Risty Khoirunisa, Risty Rizki Fadillah, Rizki Rizna Trinayana Rizqie Anarullah, Rizqie Sanches Budhi Waluyo, Sanches Budhi Satrio Wicaksono Saul Ambarita, Saul Sawitri - Subiyanto Sawitri Subiyanto Theodorus Satriyo Singgih, Theodorus Satriyo Tyas Arni Putri Widi Hapsari Yolanda Adya Puspita, Yolanda Adya Yudo Prasetyo