Tristiana Yuniarti
Program Studi Budidaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 26 Documents
Articles

Found 14 Documents
Search
Journal : Journal of Aquaculture Management and Technology

PENGARUH PEMBERIAN REKOMBINAN HORMON PERTUMBUHAN (rGH) MELALUI METODE ORAL DENGAN INTERVAL WAKTU YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN BENIH IKAN NILA LARASATI (Oreochromis niloticus)

Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji interval waktu yang terbaik dan pengaruh pemberian rGH secara oral terhadap pertumbuhan dan tingkat kelulushidupan benih ikan nila larasati. Penelitian ini dilaksanakan di Satker PBIAT Janti, Klaten, pada bulan Agustus-November 2013. Ikan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah larva nila larasati yang kuning telurnya telah habis dan sudah dapat mencerna pakan buatan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, yaitu pemberian rGH dengan dosis 2 mg/kg pakan dengan interval waktu yang berbeda perlakuan (A) tanpa rGH, (B) 3 hari sekali, (C) 4 hari sekali,dan (D) 5 hari sekali. rGH yang digunakan berasal dari ikan kerapu kertang (ElrGH). Parameter yang diamati dalam penelitian ini meliputi SGR, Panjang Mutlak, FCR dan SR. Hasil pengamatan SGR didapat nilai pada perlakuan A sebesar 9.728±0.084, B sebesar 10.917±0.057, C sebesar 10.618±0.055, D sebesar 10.250±0.066. Pada pengukuran panjang mutlak didapat hasil pada perlakuan A sebesar 6.77±0.12, B sebesar 9.07±0.51, C sebesar 8.57±0.52, dan D 7.37±0.27. Nilai konversi pakan pada perlakuan A 1.291±0.049, B 0.680±0.008, C 0.775±0.009, D 0.982±0.011. SR yang didapat selama pemeliharaan pada perlakuan A 77.00±1.00, B 91.33±2.00, C 86.00±1.00, D 82.67±1.15. Hasil dari analisis ragam adanya pengaruh rGH pada pertumbuhan SGR, panjang mutlak, FCR, dan SR. Hasil pertumbuhan terbaik dengan perlakuan 3 kali sehari (B) karena dapat meningkatkan SGR sebesar 12.34%/hari, panjang mutlak 33.97%, kelulushidupan 18.61%. Pada nilai FCR mampu menurunkan sebesar 89.7%. The purpose of this research was determine the optimal time interval of rGH administration and the effect of rGH feed on growth and survival rate’s Larasati tilapia fish. This research took place in central of Freshwater Fish Hatchery and Aquaculture Unit, Janti, Klaten, Central Java from August-November 2013. The sample in this study was first feeding tilapia fish larvae. A completely randomized design was applied int his research with four treatments an the treatments was replicated three times, the treatments were by giving pelles (A) without rGH 2mg/kg pellet (B) once for three days, (C) once four days then (D) once for five days. The rGH used from giant grouper fish (relGH). Observational parameters were SGR, absolute length, FCR and SR. The value of SGR observed for treatment A was 9.728±0.084, B 10.917±0.057, C 10.618±0.055, and D 10.250±0.066. In absolute length measurement results obtained in the treatment of A 6.77±0.12, B of 9.07±0.51, 8.57±0.52 C, and D 7.37±0.27. Feed conversion value for treatment A1.291±0.049, B 0.680±0.008, C 0.775±0.009, D 0.982±0.011. SR value obtained during the maintenance for treatment A 77.00±1.00, B 91.33±2.00, C 86.00±1.00, D 82.67±1.15.The resultsof variance on SGR growth, the absolute length, FCR, and SR. The best growth results with treatment 3 times a day (B) because it may increase the SGR at 12:34% /day, the absolute length of 33.97%, 18.61% survival rate. In the FCR can lower the value of 89.7%.

PENGARUH PEMBERIAN REKOMBINAN HORMON PERTUMBUHAN (rGH) MELALUI METODE ORAL DENGAN INTERVAL WAKTU YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN BENIH IKAN LELE var SANGKURIANG (Clarias gariepinus Burchell, 1822)

Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh efektifitas penambahan rGH pada pakan terhadap laju pertumbuhan dan kelulushidupan ikan lele sangkuriang dan mengetahui interval waktu yang optimal pemberian rGH terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan ikan lele sangkuriang. Penelitian ini dilaksanakan di Satker PBIAT Ngrajek, Magelang, pada bulan Agustus-November 2013. Ikan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah larva ikan lele sangkuriang yang kuning telurnya telah habis dan sudah dapat mencerna pakan buatan.  Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, yaitu pemberian rGH dengan dosis 2 mg pada pakan dengan interval waktu yang berbeda (A), kontrol (B), 3 hari (C),4 hari (D)5 hari. rGH yang digunakan berasal dari ikan kerapu kertang (ElrGH). Hasil pengamatan pertumbuhan bobot spesifik didapat nilai pada perlakuan A sebesar 5,6±0,15, B sebesar 6,95±0,04, C sebesar 6,65±0,21, D sebesar 6,51±0,09. Pada pengukuran panjang mutlak didapat hasil pada perlakuan A sebesar 4,04±0,13, B sebesar 5,81±0,11, C sebesar 5,42±0,04, dan D 5,02±0,17. Nilai konversi pakan pada perlakuan A 1,2±0,06, B 0,5±0,03, C 0,63±0,04, D 0,77±0,07. SR yang didapat selama pemeliharaan pada perlakuan A 72,67±2,31, B 89,00±2,00, C 82,00±4,58, D 75,67±3,06. Hasil dari analisis ragam pada pertumbuhan bobot spesifik, panjang mutlak, FCR, dan SR menunjukan pemberian rGH dengan interval waktu yang berbeda mempunyai hasil yang berbeda sangat nyata (P<0,01) dibandingkan dengan kontrol. Pemberian rGH dapat meningkatkan pertumbuhan bobot spesifik sebesar 24,1%, panjang mutlak 43,8%, kelulushidupan 22,47% sedangkan, pemberian rGH  dapat menurunkan nilai FCR sebesar 58,3% terhadap kontrol. The purpose of this research were measure of effect on the effectiveness adding rGH feed on growth rate and survival rate sangkuriang catfish and determine the optimal time interval rGH administration on the growth and survival of sangkuriang catfish. This research took place in Ngrajek Freshwater Fish Hatchery and Aquaculture Unit, Magelang, from August-November 2013. The fish samples used in this study was that sangkuriang catfish larvae yolk has been exhausted and it can digest artificial feed. This research applied 4 treatments and 3 replications were with 2 mg’s rGH dose add to pellet with different interval of time (A) control, (B) 3 days, (C), 4 days, and then (D) 5 days. The  rGH used from giant grouper fish (rElGH).  The value of threatment A weight specific growth rate 5,6±0,15, B 6,95±0,04, C 6,65±0,21, and D 6,51±0,09. In absolute length measurement results obtained in the treatment of A 4,04±0,13, B of 5,81±0,11, 5,42±0,4 for C, and D 5,2±0,17. Feed conversion value in treatment A 1,2±0,06, B 0,5±0,03, C 0,63±0,04, D 0,77±0,07. SR obtained during the maintenance treatment A 72,67±2,31, B 89,00±2,00, C 82,00±4,58, D 75,67±3,06. Results of analysis of variance on SGR growth, the absolute length, FCR, and SR showed rGH administration with different time intervals have different results highly significant (P <0.01) compared with controls. Giving spesific weigth rGH can increase by 24,1%, 43,8% absolute length, 22,47% survival rate. In countrary, it can reduce the FCR 58,3% of control.

PENGARUH PEMBERIAN REKOMBINAN HORMON PERTUMBUHAN (rGH) MELALUI METODE PERENDAMAN DENGAN LAMA WAKTU YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN LELE VARIETAS SANGKURIANG

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pertumbuhan benih ikan lele sangkuriang yang diberi rekombinan hormon pertumbuhan dosis 2mg/L dengan metode perendaman dengan lama waktu yang berbeda dan mengkaji waktu yang optimal benih ikan lele sangkuriang yang diberi rekombinan hormon pertumbuhan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan lele sangkuriang. Penelitian ini dilaksanakan di Satker PBIAT Ngrajek, Magelang, pada bulan Agustus-November 2013. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan perendaman dengan larutan rekombinan hormon pertumbuhan 2mg/L perlakuan A selama 0 menit, perlakuan B 30 menit, perlakuan C 60 menit, dan perlakuan D 90 menit. rGH yang digunakan berasal dari ikan kerapu kertang (ElrGH). Hasil pengamatan pertumbuhan bobot spesifik perlakuan A sebesar 5,642±0,025 %/hari, perlakuan B sebesar 6,510±0,055 %/hari, perlakuan C sebesar 6,358±0,108 %/hari, perlakuan D sebesar 6,240±0,179 %/hari. Pengukuran panjang mutlak didapat hasil perlakuan A mendapatkan hasil 4,18±0,07 cm, pelakuan B 5,35 ± 0,03 cm, perlakuan C 5,30 ± 0,09 cm, dan perlakuan D 5,25 ± 0,23 cm. Nilai konversi pakan pada perlakuan A 0,751±0,008, perlakuan B 0,457±0,022, perlakuan C 0,514±0,010, perlakuan D 0,543±0,008. SR yang didapat selama pemeliharaan pada perlakuan A 82,67±1,53%, Perlakuan B 79,00±3,00% , perlakuan C 75,33±2,52%, perlakuan D 73,00±1,00%. Pemberian rekombinan hormon pertumbuhan melalui metode perendaman pada ikan lele sangkuriang dengan lama waktu 30 menit dapat meningkatkan pertumbuhan bobot spesifik, pertumbuhan panjang mutlak, dan kelulushidupan, serta menurunkan rasio konversi pakan. Pemberian rekombinan hormon pertumbuhan dapat meningkatkan SGR sebesar 15,90%, panjang mutlak 28%, kelulushidupan 13,25%, dan menurunkan FCR 64,33% The purpose of this study was to assess the effect of seed growth sangkuriang catfish fed with recombinant growth hormone dose 2mg / L through immersion method with different time and assess the optimal time sangkuriang seed catfish fed recombinant growth hormone on growth and seed survival rate catfish sangkuriang. This study was conducted in Unit Freshwater Fish Hatchery Center (SATKER PBIAT) Ngrajek, Magelang, August-November 2013. Research using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replications. Immersion treatment with recombinant growth hormone solution of 2 mg / L treatment A for 0 min, 30 min treatment B, treatment of C 60 mins, and treatment D 90 minutes. The rGH used from giant grouper fish (rElGH). The observation of SGR treatment of A 5,642±0,025 %/day, treatment of B 6,510±0,055 %/day, treatment of C 6,358±0,108 %/day, treatment of D 6,240±0,179 %/day. The absolute length measurements that showed growth optimum results at A 4,18±0,07 cm, treatment of B 5,35 ± 0,03 cm, treatment of C 5,30 ± 0,09 cm, and treatment of D 5,25 ± 0,23 cm. Feed conversion value in treatment A 0,751±0,008, treatment B 0,457±0,022, treatment C 0,514±0,010, treatment D 0,543±0,008. SR obtained during the maintenance treatment A 82,67±1,53%, treatment B 79,00±3,00% , treatment C 75,33±2,52%, treatment D 73,00±1,00%. Administration of recombinant growth hormone through immersion method at catfish sangkuriang long 30 minutes can increase the growth of a specific weight, length of absolute growth, and survival, as well as lower feed conversion ratio. Administration of recombinant growth hormone can increase by 15.90% SGR, the absolute length of 28%, the survival of 13.25%, and 64.33% lower FCR

PENGARUH PENAMBAHAN KOMBINASI OMEGASQUA DAN KLOROFIL TERHADAP FEKUNDITAS, DAYA TETAS DAN KELULUSHIDUPAN LARVA IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias sp.)

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan lele sangkuriang (Clarias sp.) merupakan salah satu jenis ikan ekonomis yang dimanfaatkan sebagai ikan konsumsi air tawar dengan produksi cukup tinggi dan digemari masyarakat. Permasalahan yang ada dalam budidaya ikan lele adalah Induk-induk lele sulit untuk cepat matang gonad, fekunditas, daya tetas, dan kelulushidupan menjadi rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan kombinasi omegasqua dan klorofil terhadap fekunditas, daya tetas, dan kelulushidupan larva ikan lele sangkuriang, serta untuk mengetahui rasio omegasqua dan klorofil yang paling tepat menghasilkan performansi reproduksi induk ikan lele. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode eksperimental menggunakan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan lele sangkuriang yang dipelihara dengan penambahan pakan yang dicampur dengan omegasqua dan klorofil berpengaruh sangat nyata terhadap daya tetas telur (P<0,01), namun tidak berpengaruh nyata terhadap fekunditas dan kelulushidupan. Nilai fekunditas berkisar antara 51.515–59.714 butir/Kg. Nilai tertinggi dari daya tetas telur pada perlakuan B (2,5 mL omegasqua/kg pakan dan 2,5 mL klorofil/kg pakan) dengan nilai rerata 50,00±1,76%. Nilai kelulushidupan berkisar antara 66,33–73,20%. Sangkuriang Cat Fish (Clarias sp.) is one of economic fish which as mackerel consumption which is high enough producted and greatly consumed by society. The problem we often find of Cat Fish cultivation is mothers of that sort ripe slowly and its low of gonad, fecundity, crack ability, survival ability. The purpose of this research is to know influence of inceeasing omegasqua and chlorophyll to fecundity, crack ability, and survival ability of Sangkuriang Cat Fish larvae, and to know Omegasqua ratio with the usefull chlorophyll to produce better performance of Cat Fish reproduction. This research adopts experimental method with model of Comprehensive Random Plan (CRP) with 4 treatments and 3 repetations.  The result of this research shows Sangkuriang Cat Fish which is raised with Omegasqua and chlorophyll mixed influences to crack ability (P<0,01) but not influence to fecundity and survival ability. The number of fecundity is between 51.515 -–59.714 eggs number. The highest number of crack abilitycis B treatment (2,5 mL Omegasqua/kg to feed and 2,5 mL chlorophyll/kg to feed) with average number 50,00±1,76%. Number of survival ability between 66,33%–73,20%.

PENGARUH KEPADATAN BERBEDA MENGGUNAKAN rGH PADA PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kepadatan merupakan hal yang penting dalam usaha pendederan karena akan mempengaruhi oksigen terlarut dan ammonia. Pemberian rGH dengan metode oral atau melalui pakan terbukti dapat mempercepat pertumbuhan ikan dikarenakan rGH yang tercampur dalam pakan dapat lebih mudah masuk kedalam tubuh ikan. Fungsi dari rGH adalah sebagai pengatur pertumbuhan, reproduksi, system imun, tekanan osmosis pada ikan teleostei, dan  pengatur metabolism. Pemanfaatan sistem resirkulasi dapat menciptakan lingkungan yang optimal bagi pertumbuhan ikan. Hal tersebut dapat menghasilkan tingkat produktivitas yang tinggi dalam wadah budidaya dengan mortalitas yang rendah dan tingkat kelulushidupan yang tinggi. Sistem resirkulasi merupakan wadah pemeliharaan ikan yang menggunakan system perputaran air yaitu air mengalir dari satu wadah ke wadah yang lain melalui filter yang berguna untuk menjaga kualias air. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh kepadatan yang berbeda terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nila yang menggunakan rGH dengan kepadatan berbeda pada sistem resirkulasi dan untuk mengetahui kepadatan yang dapat memberikan pertumbuhan dan kelulushidupan terbaik. Penelitian ini dilakukan di Balai Benih Ikan Siwarak, Ungaran, Kab. Semarang. Penelitian dilakukan selama 63 hari dari bulan November 2014 – Januari 2015. Wadah yang digunakan berupa akuarium ukuran (50x30x30) cm3 sebanyak 12 buah yang diisi air sebanyak 20 liter dan dialiri air dari ember yang sudah diisi dengan filter bioball. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan padat penebaran 20, 40, 60 dan 80 ekor/wadah, dimana masing-masing perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali. Jenis pakan bubuk berupa pakan komersial diberikan secara at satiation. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah padat penebaran tidak berbeda nyata terhadap kelulushidupan, namun memberikan perbedaan yang nyata terhadap pertumbuhan panjang mutlak dan perbedaan yang sangat nyata terhadap laju pertumbuhan spesifik. Kepadatan yang dapat memberikan pertumbuhan dan kelulushidupan terbaik terdapat pada padat penebaran sebanyak 20 ekor/wadah, dimana dengan nilai Pertumbuhan Panjang Mutlak adalah 9,08±0,43, nilai SGR 9,07 %/hari, nilai FCR 1,18±0,00, dan PER 3.33±0.10, nilai kelulushidupan terbaik adalah perlakuan A (padat penebaran 20 ekor/wadah) yang sama besarnya dengan perlakuan B (padat penebaran 40 ekor/wadah) yaitu sebesar 96,67 %. Density is important factor in breeding method because it will affected to dissolved oxygen and ammonia level. Giving rGH with oral method or adding into feed  has been proven to increasing the growth of Tilapia because rGH which adding into feed can enter to fish body easily. Function of rGH as growth, reproduction, immune system, osmotic pressure in teleost fishes and metabolism system controlling. Using recirculating system can creating an optimal environment for fish’s growth. If that will happen, can produce a high productivity in culture pond with low mortality and high survival rate. Reciculating system is fish culture tank that using water circulating then flowing tank to tank through a filter which function is maintaining of water quality. This research was aimed to find out the effect of different rearing density that using  rGH to growth and survival rate of Tilapia larvae in recirculating system and knows the best density for increasing growth and survival rate. This research was conducted in 63 days from November 2014 to January  2015 at Balai Benih Ikan Siwarak, Ungaran, Kab. Semarang. The fish culture tank is an aquarium size of 50x30x30cm, total amount 12, each aquarium filled water 20 liters and flowing water from bucket that filled with bioball filter. This research used Completely Randomised Design with five treatment (stock density 20, 40, 60 and 80 fish/tank) and three replication. Feed type is a powder commercial feed with using feeding method at satiation. The results is different rearing density not significantly different for survival rate, but significantly different for relative growth rate (RGR) and very significantly different for Specific Growth Rate (SGR). Stocking density that giving the best growth and survival rate is 20 fish/tank (treatment A) with RGR 9,08 ± 0,43, SGR 9,07%/day, FCR is 1,18±0,00 and PER 3,33±0,10, the best survival rate in treatment A (20 fish/tank) and treatment B (40 fish/tank) is 96,67%.

PENGARUH LAMA WAKTU PERENDAMAN RECOMBINANT GROWTH HORMONE (rGH) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN LARVA NILA SALIN (Oreochromis niloticus)

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan nila merupakan salah satu jenis ikan bernilai ekonomis tinggi dan banyak dikonsumsi masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dilakukan rekayasa budidaya untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama waktu perendaman rGH dan mengetahui lama waktu perendaman rGH yang optimal digunakan untuk memacu pertumbuhan dan kelulushidupan larva nila salin. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Besar Pengembangan dan Budidaya Air Payau Jepara, Jawa Tengah, pada bulan Oktober – Desember 2014. Ikan uji yang digunakan adalah larva ikan nila salin yang telah habis kuning telur. Pemeliharaan dilakukan selama 35 hari. Penelitian ini menggunakan 4 perlakuan dan 3 ulangan yaitu A direndam rGH 2,5 mg/L selama 0 menit (kontrol), B direndam rGH 2,5 mg/L selama 30 menit, C direndam rGH 2,5 mg/L selama 60 menit, D direndam rGH 2,5 mg/L selama 90 menit. Variabel yang diukur meliputi laju pertumbuhan spesifik, pertumbuhan panjang mutlak, total konsumsi pakan, kelulushidupan, dan kualitas air. Nilai laju pertumbuhan spesifik adalah A 11,45±0,19%/hari; B 14,09±0,49%/hari; C 13,36±0,20%/hari; dan D 12,51±0,23%/hari. Nilai pertumbuhan panjang mutlak adalah A 3,37±0,14cm; B 4,02±0,13cm; C 3,75±0,22cm; dan D 3,72±0,28cm. Nilai total konsumsi pakan adalah A 13,88±1,60g; B 17,83±4,79g; C 17,27±1,66g; dan D 16,96±2,39g. Nilai kelulushidupan adalah A 67,78±1,92%; B 83,33±3,33%; C 77,78±1,92%; dan D 72,22±1,92%. Dengan demikian, lama waktu perendaman rGH berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan spesifik, pertumbuhan panjang mutlak dan kelulushidupan larva nila salin namun tidak berpengaruh nyata terhadap total konsumsi pakan larva nila salin. Lama waktu perendaman optimum untuk meninngkatkan pertumbuhan dan kelulushidupan larva nila salin adalah berkisar antara 46,5 – 55,3 menit. Tilapia is one of fish species with high economic value, and consumed by many people. Based on that statement, should the holding of manipulation culture to fulfill nedds and society request. This study aimed to determine the effect of time immersion RGH and determine the optimal length of time immersion to stimulate the growth and survival of larvae saline tilapia. This research was conducted at the Center for Development and Brackish Water Aquaculture Jepara, Central Java, in October-December 2014. The test fish used is saline tilapia larvae that have depleted egg yolk. Maintenance is carried out for 35 days. This study uses 4 treatments and 3 replications namely A immersion RGH 2.5 mg / L for 0 minutes (control), B immersion RGH 2.5 mg / L for 30 minutes, C immersion RGH 2.5 mg / L for 60 minutes, D immersion RGH 2.5 mg / L for 90 minutes. Variables measured include the specific growth rate, the growth of absolute length, total feed consumption, survival, and water quality. The value of the specific growth rate is A 11.45 ± 0.19%/day; B 14.09 ± 0.49%/day; C 13.36 ± 0.20%/day; and D 12.51 ± 0.23%/day. Value growth in the absolute length is A 3.37 ± 0.14cm; B 4.02 ± 0.13cm; C 3.75 ± 0.22cm; and D 3.72 ± 0.28cm. The total value of feed consumption is A 13.88 ± 1.60g; B 17.83 ± 4.79g; C 17.27 ± 1.66g; and D 16.96 ± 2.39g. Value survival is A 67.78 ± 1.92%; B 83.33 ± 3.33%; C 77.78 ± 1.92%; and D 72.22 ± 1.92%. Thus, time immersion RGH significantly affect the specific growth rate, the growth and survival of larvae absolute length indigo copy but did not significantly affect total feed intake of saline tilapia larvae. Optimum time immersion at enhancing the growth and survival of larvae saline tilapia is ranged from 46.5 to 55.3 minutes.

PENGARUH PENAMBAHAN RECOMBINANT GROWTH HORMONE (RGH) PADA PAKAN DENGAN KADAR PROTEIN TINGGI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN TINGKAT KELULUSHIDUPAN BENIH IKAN GURAME (Osphronemus gouramy)

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan recombinant Growth Hormone (rGH) pada pakan dengan kadar protein tinggi terhadap pertumbuhan dan mengetahui kadar protein terbaik serta tingkat kelulushidupan benih ikan Gurame strain Bastar (Osphronemus gouramy) pada fase pendederan benih. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar (BPBIAT) Muntilan, Jawa Tengah. Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan gurame bastar, berumur 10 hari setelah menetas. rGH yang digunakan adalah recombinant Epinephelus lanceolatus Growth Hormone (rElGH). Pembuatan larutan rGH untuk 1 kg pakan adalah pencampuran rGH 2 mg + kuning telur 20 gram + larutan Phosphate Buffered Saline (PBS) 100 ml, dicampur & disemprotkan secara merata ke pakan dan diberikan secara at satiation setiap 3 hari 2 kali. Pada penelitian ini digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu: perlakuan A (pakan protein 37% + rGH), perlakuan B (pakan protein 40% + rGH) dan perlakuan C (pakan protein 43% + rGH), dan perlakuan D (pakan protein 46% + rGH) masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Variabel yang diukur meliputi: Panjang Total, Bobot Total, Specific Growth Rate (SGR), Feed Conversion Ratio (FCR), Efisiensi Pemanfaatan Pakan (EPP), Survival Rate (SR) dan Kualitas Air. Data dianalisa dengan analisa ragam anova dan deskriptif. Pendederan benih berlangsung selama 60 hari. Kesimpulan dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi rGH dan pakan dengan kadar protein tinggi, menunjukkan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap Panjang Total, Bobot Total, SGR, FCR, dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap SR benih ikan gurame. Nilai pertumbuhan dan tingkat kelulushidupan terbaik didapatkan pada perlakuan C dengan nilai Panjang Total: 3,12±0,006 cm, Bobot Total: 1,38±0,07 gram, SGR: 4,28±0,05% per hari, FCR: 1,05±0,04, EPP: 93,66±3,34 dan SR: 85,34±2,08%.This research aims to assess the added effect of recombinant growth hormone (rGH) in feed with high protein content on the growth and knowing the best protein content and survival rate of fish seed strain Gurame (Osphronemus gouramy) in seed nursery phase. This research was conducted in Balai Perbenihan dan Budidaya Air Tawar  ( BPBIAT ) Muntilan, Central Java. Test fish used are bastar strain gouramy, aged 10 days after hatching. rGH used is a recombinant Ephinephelus lanceolatus Growth Hormone. Made of combination between rGH for 1 kg of feed is mixing rGH 2 mg + yolk 20 g + solution Phosphate Buffered Saline ( PBS ) 100 ml , mixed and sprayed evenly to feed and fed by at satiation every 3 days 2 times. This research used Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments, ie : treatment A ( feed protein 37 % + rGH ) , treatment B ( feed protein 40 % + rGH ) and treatment C ( feed protein 43 % + rGH ) , and treatment D ( 46 % protein feed + rGH ), each treatment was repeated 3 times. Variables measured include: Total Length , Total Weight , Specific Growth Rate ( SGR ) , Feed Conversion Ratio ( FCR ) , Survival Rate (SR), Efficiency of Feed Utilization (EFU) and Water Quality. Data were analyzed by analysis of variance ANOVA and descriptive. Separating the seeds lasts for 60 days. The results showed that the combination of RGH and feed with high protein content , showed highly significant effect ( P <0.05 ) of the Total Length , Total Weight, SGR , FCR , and no significant effect ( P >0.05 ) to SR fish seed. Value growth and the level of the best survival was found in treatment C with a value Length Total : 3.12 ± 0.006 cm , Weight Total : 1.38 ± 0.07 grams , SGR : 4.28 ± 0.05 % per day , FCR : 1.05±0.04 , EPP: 93.66±3.34 and SR : 85.34 ± 2.08% .

PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG TESTIS SAPI DENGAN DOSIS YANG BERBEDA TERHADAP KEBERHASILAN JANTANISASI PADA IKAN CUPANG (Betta sp.)

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan cupang merupakan salah satu jenis ikan hias air tawar yang populer dan banyak digemari masyarakat. Perkembangan ikan cupang cukup pesat karena mudah untuk dipelihara. Namun, penggemar ikan hias ini lebih menyukai ikan jantan daripada betina karena ikan jantan memiliki nilai estetika dan warna yang lebih bagus dan menarik serta memiliki profit yang lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung testis sapi terhadap persentase kelamin benih ikan cupang jantan dan betina, serta dosis terbaik. Penelitian dilaksanakan di Balai Benih Ikan Siwarak, Ungaran pada bulan Desember 2014-Maret 2015 dengan metode penelitian menggunakan ekperimental. Rancangan yang digunakan adalah RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan 5 perlakuan dan 3 kali ulangan. Dosis yang digunakan adalah perlakuan A dengan dosis 0%, perlakuan B 5%, perlakuan C 10%, perlakuan D 15%, dan perlakuan E 20% dengan pemeliharaan selama 21 hari. Variabel yang diukur meliputi persentase kelamin jantan dan betina, laju kelulushidupan (SR), dan kualitas air. Analisis data menggunakan ANOVA dan apabila terdapat perbedaan yang nyata maka dilakukan uji lanjut yaitu dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase jantan dan betina perlakuan A sebesar 42,11%±1,64;57,89%±1,64, perlakuan B sebesar 45,77%±1,92;54,23%±1,92, perlakuan C sebesar 54,43%±3,46;45,57%±3,46, perlakuan D sebesar 65,18%±2,15;34,82%±2,15, dan perlakuan E sebesar 75,46%±2,72;24,54%±2,72. Hasil kelulushidupan (SR) perlakuan A sebesar 53%±1,73, perlakuan B sebesar 55,33%±1,53, perlakuan C sebesar 60%±2,00, perlakuan D sebesar 61,33%±3,21, dan perlakuan E sebesar 69,33%±1,15. Kualitas air selama penelitian masih berada dalam kisaran yang layak untuk kehidupan ikan cupang yaitu suhu 26-270C; pH 6-7; DO 4,06-4,89mg/l. Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya pengaruh yang nyata terhadap pemberian tepung testis sapi selama 21 hari dengan dosis terbaik 20% dan menghasilkan persentase kelamin jantan tertinggi sebesar 75,46%±2,72.Betta fish is one type of freshwater fish are popular and highly favored by the people. Betta fish development is very fast because it is easy to maintain. However , fans betta fish prefer males than females because male fish have aesthetic value , the color is more attractive and has a higher profit. This study aimed to determine the effect of the testis flour cows on the percentage of seed sex male and female betta fish , as well as the best dose. Research conducted at the Fish Seed Center Siwarak , Ungaran in December 2014 - March 2015 by using experimental research methods. The design used is RAL (Rancangan Acak Lengkap) with 5 treatments and 3 replications. The dose used is a treatment with a dose of treatment A 0 % , treatment B 5 %, treatment C 10 %, treatment D 15 %, and treatment E 20 % with maintenance for 21 days. Measured variables include the percentage of male and female, survival rate ( SR ), and water quality. Data analysis using ANOVA and if there is a noticeable difference then conducted a further test is the test of Duncan. Results of the percentage of male and females treatment A has a value of 42.11%±1.64 ; 57.89%±1.64, treatment B has a value of 45.77%±1.92 ; 54.23%±1.92, treatment C has a value of 54.43%±3.46 ; 45.57%±3.46, treatment D has a value of 65.18%±2.15 ; 34.82%±2.15, and treatment E has a value of 75.46%±2.72 ; 24.54%±2.72. Results of the survival rate (SR) treatment A has a value of 53%±1.73, treatment B has a value of 55.33%±1.53, treatment C has a value of 60%±2.00, treatment D has a value of 61.33%±3.21, and treatment E has a value of 69.33%±1.15. Water quality during the research is still in reasonable range for the life of Betta fish are temperature 26-27oC; pH 6-7; DO 4.06-4.89mg/l . The conclusion from this study is that there is a real impact on the provision of flour cow testicle, the best dose given was 20%, and the highest percentage of male sex amounts to 75.46%±2.72.

ANALISIS KARAKTER REPRODUKSI HASIL PERSILANGAN ANTARA IKAN NILA PANDU F6 DAN NILA MERAH LOKAL AQUAFARM DENGAN SISTEM RESIPROKAL

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan nila adalah ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomis penting, proses budidaya yang mudah, dan disukai oleh masyarakat. Hal ini mendorong pembudidaya untuk menghasilkan ikan nila spesies baru dengan strain unggul melalui persilangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter reproduksi dari persilangan ikan nila Pandu F6 dengan strain ikan nila merah lokal aquafarm secara resiprokal dan mengetahui persilangan antar strain ikan nila Pandu F6 dan nila merah lokal aquafarm secara resiprokal yang menghasilkan karakter reproduksi dan performa benih pendederan I yang lebih baik. Ikan nila dengan bobot rata-rata betina 180 – 230 g/ekor dan rata-rata jantan 250 – 380 g/ekor. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Penelitian ini menggunakan perlakuan sebagai berikut: perlakuan A (strain nila Pandu F6 ♂ >< nila Pandu F6 ♀), perlakuan B (strain nila Pandu F6 ♂ >< nila merah lokal aquafarm ♀), perlakuan C (strain nila merah lokal aquafarm ♂ >< nila Pandu F6 ♀) dan perlakuan D (strain nila merah lokal aquafarm ♂ >< nila merah lokal aquafarm ♀). Parameter yang diamati meliputi fekunditas, hatching rate (HR), bobot dan diameter telur, bobot dan panjang larva kuning telur, bobot dan panjang larva lepas kuning telur, laju pertumbuhan spesifik (SGR), rasio konversi pakan (FCR), kelulushidupan (SR), dan kualitas air. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh nyata (P<0.05) terhadap karakter reproduksi panjang larva lepas kuning telur 0,97±0,08 cm, fekunditas 432,33±42,90 butir telur/200 g, Hatching rate (HR) 72,22±0,56 %, laju pertumbuhan spesifik (SGR) 6,97±0,79 %, rasio konversi pakan (FCR) 0,89±0,07, dan kelulushidupan (SR) 72,62±0,47 % dan hasil persilangan terbaik didapatkan pada perlakuan A (strain pandu F6 ♂ dengan nila pandu (F6) ♀) dan perlakuan C (strain nila merah lokal aquafarm ♂ dengan nila pandu F6 ♀) dilihat dari karakter reproduksi pada panjang larva lepas kuning telur, fekunditas, hatching rate (HR), laju pertumbuhan spesifik (SGR), rasio konversi pakan (FCR), dan kelulushidupan (SR). Tilapia was a freshwater fish that has an important economic value, the cultivation process was easy, and favored by the public. It encourages farmers to produce a new species of tilapia with superior strains through crossbreeding. This study was aimed to knowing the reproduction character of tilapia Pandu F6 cross with local strain red tilapia fish aquafarm reciprocally and to knowing crosses between strain of tilapia Pandu F6 and local strain red tilapia fish aquafarm reciprocally that produce better  reproduction character and seed nursery performance. Females tilapia with an average weight of 180-230 g/fish and the average of male 250-380 g/fish. This study used an experimental method completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replications. This study uses a treatment include: treatment A (strain pandu tilapia fish (F6) ♂ >< pandu tilapia fish F6 ♀), treatment B (strain pandu tilapia fish F6 ♂ >< local red tilapia aquafarm ♀), treatment C (strain of local red tilapia aquafarm ♂ >< pandu tilapia fish F6 ♀) and treatment D (strains of local red tilapia aquafarm ♂ >< local red tilapia aquafarm ♀). The parameters observed were fecundity, hatching rate (HR), the weight and diameter of eggs, weight and length of larvae yolk, weight and length of the larvae off the yolk, the specific growth rate (SGR), feed conversion ratio (FCR), survival rate (SR) , and water quality. These results indicate that there was a significant effect (P <0.05) on the reproduction character length of the larvae off the yolk 0,97±0,08 cm, specific growth rate (SGR) 6.97±0.79 %, feed conversion ratio (FCR) 0.89±0.07 and survival rate (SR) 72.62±0.47 %  and best crosses result obtained in the treatment A (strain of Pandu tilapia fish F6 ♂ >< pandu tilapia fish F6 ♀) and treatment C (strains of red tilapia local aquafarm ♂ with pandu tilapia fish F6 ♀) seen from reproduction character such as the length of the larvae off the yolk, fecundity, hatching rate (HR), specific growth rate (SGR), feed conversion ratio (FCR) and survival rate (SR).

PENGARUH LAMA WAKTU PEMBERIAN TEPUNG TESTIS SAPI TERHADAP KEBERHASILAN MENGHASILKAN JANTAN IKAN CUPANG (Betta sp.)

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 5, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama waktu pemberian tepung testis sapi (TTS) terhadap keberhasilan menghasilkan ikan cupang jantan dan mengetahui lama waktu terbaik pemberian tepung testis sapi (TTS) terhadap keberhasilan menghasilkan ikan cupang jantan. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Beih Ikan (BBI) Siwarak, Ungaran, pada bulan Desember 2014-Maret 2015. Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah larva ikan cupang yang kuning telurnya sudah habis dan sudah dapat mencerna pakan buatan. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan acak lengkap (RAL) 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, yaitu percampuran tepung testis sapi (TTS) dengan pakan komersil dengan dosis 15% dalam interval waktu yang telah ditentukan yaitu 0 perlakuan A, 7 hari perlakuan B, 14 hari perlakuan C, dan 21 hari perlakuan D. Variabel yang diamati adalah persentase ikan cupang jantan dan betina. Analisa data menggunakan ANOVA dan apabila terjadi perbadaan dilakukan uji lanjut yaitu Uji Duncan. Jenis kelamin dibedakan berdasarkan pengamatan secara morfologis dan menggunakan metode asetokarmin. Hasil pengamatan yang diperoleh dari penelitian ini adalah adanya pengaruh yang sangat nyata terhadap pengaruh lama waktu pemberian tepung testis sapi. Persentase kelamin jantan perlakuan A yaitu sebesar 41,14+0,23, perlakuan B sebesar 44,78+0,53%, perlakuan C sebesar 51,57+1,48 dan  perlakuan D sebesar 65,10+2,07%. Persentase kelamin betina perlakuan A sebesar 58,86+0,39, perlakuan B sebesar 55,22+0,53, pelakuan C sebesar 48,42+1,48, nilai terkecil diperoleh pelakuan D sebesar 34,90+2,07. Hasil dari kelulushidupan perlakuan A sebesar 52,67+1,53, perlakuan B sebesar 54,33+3,21, perlakuan C sebesar 56,00+4,00 dan perlakuan D sebesar 62,00+2,65. Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya pengaruh yang nyata terhadap pemberian tepung testis sapi. Lama waktu terbaik dalam keberhasilan menghasilkan ikan cupang jantan selama 21 hari dengan dosis 15% yaitu sebesar 65,10+2,07%. This study aims to determine the effect of long meal cow testicles (TTS) to produce a successful male betta fish and determine the length of time the best meal of beef testicles (TTS) to produce a successful male betta fish. The research was conducted in the Balai Benih Ikan (BBI) Siwarak, Ungaran, in December 2014-March 2015. The fish were used in this study is betta fish larvae yolk has been depleted and can digest feed. The experiment was completely randomized design (CRD) 4 treatments and 3 repetitions, ie mixing flour cow testicles (TTS) with commercial feed with a dose of 15% in the time interval that has been determined is 0 A, B 7 days of treatment, 14 days C treatment, and 21 days of treatment D. The observed variables were the percentage of male and female betta. Data were analyzed using ANOVA and in case of spending a further test is carried out Duncan test. Gender differentiated by morphological observation and using asetokarmin. Observations obtained from this study is that there is a very real impact on the long meal of beef testicles. The percentage of male sex treatment of A is 41.14 + 0.23, equal treatment of B  44.78 + 0.53, equal treatment of  C 51.57 + 1.48 and for the treatment of D 65.10+2.07%. The percentage of female treatment A of 58.86 + 0.39, the treatment of B 55.22+ 0,53, for the commission of C  48.42 + 1.48, the smallest value obtained by the commission of D 34.90 + 2.07. Results of treatment of A survival 52.67 + 1.53, treatment of B 54.33 + 3.21, treatment of C 56.00 + 4.00 and  for treatments D 62.00+ 2.65. The conclusion of this study is that there is a real impact on the provision of flour cow testicles. The length of time to produce the best success in the male betta fish for 21 days with a dose of 15% is equal to 65.10+2.07%.