Tristiana Yuniarti
Program Studi Budidaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 26 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : SAINTEK PERIKANAN

EFISIENSI PRODUKSI RUMPUT LAUT E. cotonii DENGAN METODE BUDIDAYA LONG LINE VERTIKAL SEBAGAI ALTERNATIF PEMANFAATAN KOLOM AIR

JURNAL SAINTEK PERIKANAN Vol 11, No 1 (2015): JURNAL SAINTEK PERIKANAN
Publisher : JURNAL SAINTEK PERIKANAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Kualitas dan kuantitas rumput laut yang baik dan berkelanjutan merupakan hal yang masih menjadi tantangan bagi usaha budidaya. Metode budidaya danlama pemeliharaan yang tepat diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk menghasilkan kuantitas dan kualitas budidaya yang berkelanjutan.Metode long line vertikal diterapkan untuk mengetahui kolom air yang dapat digunakan untuk pertumbuhan optimum rumput laut. Kualitas terbaik kandungan karaginan dilihat dari lama pemeliharaan. Tujuan penelitian adalah (1) Mengetahui interaksi lama pemeliharaan  dan  kedalaman terhadap produksi biomassa dan kualitas rumput laut. (2) Mengetahui lama pemeliharaan  dan  kedalaman yang terbaik terhadap produksi biomassa dan kualitas rumput laut. (3) Mengetahui kedalaman kolom air yang masih menghasilkan pertumbuhan rumput laut secara optimal. Penelitian dilakukan di perairan laut Pulau Pasir Kabupaten Brebes dengan lama pemeliharaan 45 hari dan 60 hari, serta 3 perlakuan pada kedalaman 30 cm, 60 cm, dan 90cm. Masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan faktorial 2 x 3. Variabel yang diamati adalah laju pertumbuhan dan kandungan karaginan.Hasil yang didapatkan yaitu laju pertumbuhan selama 45 hari pada kedalaman 30 cm, 60 cm dan 90 cm berturut-turut adalah 117%, 158%, 111%, dan pada pemeliharaan selama 60 hari adalah 198%, 182% dan 136%. Pada pemeliharaan 45 hari laju pertumbuhan harian pada kedalaman 30 cm, 60 cm dan 90 cm berturut-turut adalah 2,26%/hari, 2,10%/hari dan 1,66%/hari, dan pada pemeliharaan 60 hari adalah 1,82%/hari, 1,73%/hari dan 1,43%/hari. Dari segi kualitas dilihat pada kandungan karaginan menghasilkan rata-rata karaginan 76,3% pada pemeliharaan 45 hari dan 96,3% pada pemeliharaan selama 60 hari. Kesimpulan yang diambil alah bahwa (1) Kedalaman dan lama pemeliharaan  memberikan pengaruh terhadap produksi biomassa dan kandungan karaginan rumput laut. (2) Produksi biomassa tertinggi dihasilkan pada pemeliharaan selama 45 hari pada kedalaman 30 cm dengan pertumbuhan harian 2,26 %/hari dan kedalaman 60 cm  dengan laju pertumbuhan 2,10 %/hari. Kandungan karaginan rata-rata sebesar 96,3% didapatkan pada pemeliharaan selama 60 hari. (3) Kedalaman optimal untuk pemeliharaan rumput laut dengan metode longline vertikal adalah sampai dengan 60cm.   Kata kunci : long line vertikal, E. cottoni, karaginan   ABSTRACT   Good quality, quantity and sustainable still a challenge for aquaculture. The right method and duration of cultivation is expected to be one of the solutions to produce a sustainable quantity and quality of seaweed culture. Long line vertical method is applied to find out the column of water that can be used for optimum growth of seaweed. The best quality of carrageenan content was observed in duration of cultivation. The purpose of the study was (1) To find out the interaction between duration of cultivation and depth for the production of biomass and quality of seaweed. (2) To know the best duration of cultivation and depth for production of biomass and quality of seaweed. (3) To find out the depth of the water column which still produces the growth of seaweed optimally. Research conducted in sea water at Pulau Pasir, Brebes Regency with duration of cultivation were 45 days and 60 days, with 3 treatments at thedepth of 30cm, 60cm, and 90cm . Each treatment was repeated three times. The research used 3 x 2 factorial design. The observed variablewere growth rate and carrageenan content. The results are obtained, relative growth rate for 45 days at a depth of 30 cm, 60 cm and 90 cm was 117%, 170%, 110%, and for duration of cultivation  60 days was 187%, 185% and 136%. In 45 days duration of cultivation, the  of specific growth rate at depth of 30 cm, 60 cm and 90 cm was 2.26%/day, 2.10%/day and 1.66%/day, and on duration of cultivation 60 days is 1.82%/day, 1.73% and 1.43%/day. In terms of the quality of seaweed the average of karaginan content was 76.3% in 45 days duration of cultivation  and 96.3% on 60 days duration of cultivation . The conclusions were (1) The depth and period of cultivation influence the production of biomass and karaginan content of seaweed. (2 The highest biomass production on 45 days period of cultivation at a depth of 30 cm with specific growth rate of 2.26%/day and in depth of 60 cm with specific growth rate of 2.10%/day The content of carageenan an average of 96.3% obtained on maintenance for 60 days. Optimal depth for the maintenance of seaweed with vertical longline method is up to 60 cm.  Keywords : long line vertikal, E. cottoni, karaginan 

Production Technique of Female Tilapia (Oreochromis niloticus) Brood Stock at Verification Level Functional Male (XX)

SAINTEK PERIKANAN Vol 5, No 1 (2009): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : SAINTEK PERIKANAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.396 KB)

Abstract

A technology for producing tilapia monosex female brood stock was needed in order to fulfill the female brood stock for YY male brood stock. The first step was producing XX male brood stock. A monosex female brood stock generation could be obtained if XX male brood stock population was mated with the female. The objective of this activity was to obtained XX male brood stock veryvication result. The result showed that 2 XX male were obtained from 38 fungtional male brood stocks. This could be seen that from female offspring > 95% only 2 brood stocks, i.e. brood stock code 460041352B qnd 460966737A Key word: Tilapia, breeding programe, sex reversal, female offspring

PENERAPAN SELEKSI FAMILI F3 PADA IKAN NILA HITAM (Oreochromis niloticus)

SAINTEK PERIKANAN Vol 4, No 2 (2009): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : SAINTEK PERIKANAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.022 KB)

Abstract

ABTSRAKPemuliaan ikan nila di Indonesia merupakan kegiatan perekayasaan yang sangat penting dilakukan untuk menigkatkan mutu genetik ikan nila yang ada di masyarakat. Metode Seleksi Famili telah digunakan sebagai satu metode efektif untuk mendapatkan strain induk nila yang lebih unggul. Pada tahun 2005 telah berhasil membuat generasi pertama seleksi famili sebanyak 35 famili, tahun 2006 telah menghasilkan 49 famili dan tahun 2007 menghasilkan 39 famili. Masing-masing famili terdiri dari dua sub populasi yaitu induk jantan dan induk betina. Jumlah populasi hasil seleksi pada sub populasi jantan dan betina masing-masing dapat memenuhi jumlah top grad minimal 15 ekor jantan dan 15 ekor betina. Jumlah famili yang memijah 39 famili. Hasil cut off pada masing-masing sub famili mempunyai bobot rataan 120,14+7,3 g pada sub populasi jantan dan 97,36 + 2,6 g pada sub populasi betina. Mutu genetik yang diperoleh pada generasi F3 menghasilkan nilai heritabiliti sebesar 0,142 dengan respon seleksi 25,4 g. Proses seleksi masih perlu dilanjutkan kepada generasi ke-4 untuk memperoleh generasi yang lebih unggul.Kata Kunci: Tilapia, program pemijahan, seleksi familiABSTRACTGenetic improvement of tilapia in Indonesia is very important in order to improve the tilapia quality. Family selection method was known as an effective method to get higher quality brood stock. In 2005, 35 first generation of families selection were successfully done, in 2006, 49 families were produced and in 2007, 39 families were produced. Each family consisted of two sub population, i.e. male and female brood stocks. The number of male and female sub population selection could fulfill the top grade minimal number of 15 males and 15 females. 39 families spawned. The cut off results of each sub family had average body weight of 120.14 ± 7.3 g for male sub population and 97.36 ± 2.6 g for female sub population. The genetic quality which was obtained on F3 generation had a heritability value of 0.142 with selection respond 25.4 g. The selection process was still needed to be continued on F4 generation to get better quality generationKey words: Tilapia, breeding program, family selection

PENGARUH PERBEDAAN TEMPAT IMPLANTASI TERHADAP MODEL INTI, PERTUMBUHAN DAN SINTASAN KERANG AIR TAWAR Margaritifera sp

SAINTEK PERIKANAN Vol 4, No 1 (2008): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : SAINTEK PERIKANAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.037 KB)

Abstract

Beberapa masalah yang menghambat produksi mutiara tawar diantaranya kurang diketahuinya tipe kerang yang digunakan, jenis penyakit yang menyerang saat pemeliharaan, serta penguasaan tehnik produksi secara matang yang meliputi cara operasi dalam penempatan inti. Melihat potensinya untuk perhiasan bernilai tinggi, perlu dilakukan penelitian tentang tehnik implantasi (penempatan inti) yang tepat pada beberapa tempat dalam tubuh kerang. Penelitian ini terdiri dari 3 perlakuan yaitu 1). Implantasi diluar garis pallial line , 2). Implantasi didalam garis pallial line dan 3). Implantasi pada rongga kaki. Pada saat dilakukan implantasi, kisaran bobot rata – rata individu kerang yang diimplan antara 74,13 gram sampai 82,07 gram. Kepadatan pemeliharaan adalah 5 ekor per koja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implantasi pada tempat yang berbeda menghasilkan model mutiara yang berbeda pula. Pada perlakuan 1, model mutiara yang dihasilkan adalah barouqe (perahu terbalik), perlakuan 2 blister (setengah bulat) sedangkan perlakuan 3 around (mendekati bulat sempurna).Sedangkan dari pengamatan pertumbuhan kerang memperlihatkan bahwa pertumbuhan terbesar bobot rata – rata individu kerang yang diamati terdapat pada perlakuan 1 (194,60 gram) dan sintasan tertinggi dicapai pada perlakuan 2 (74%).   Kata kunci : Margaritifera sp, implantasi, pertumbuhan, sintasan

ANALISIS KARAKTER REPRODUKSI DAN PERFORMA BENIH HIBRID IKAN NILA PANDU F6 DENGAN IKAN NILA NILASA (Oreochromis niloticus) Analysis of the Character Reproduction and Seed Hybrid Performance 0f Tilapia Fish F6 Pandu with Nilasa Tilapia (Oreochromis niloticus)

SAINTEK PERIKANAN : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 12, No 1 (2016): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.704 KB)

Abstract

 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari hibridisasi ikan nila Pandu F6 dengan nila Nilasa terhadap karakter reproduksinya dan performa benih yang dihasilkan. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini: perlakuan A (Pandu F6 ♀>< Nilasa ♂), dan D (Nilasa ♀>< Pandu ♂), B (Nilasa ♀>< Nilasa ♂), C (Pandu F6 ♀>< Nilasa ♂), and D (Nilasa ♀ >< Pandu F6 ♂). The observed data covering fecundity, hatching rate, egg size, yolk sack larva length and weight, length and weight of the egg yolk off larvae, survival rate, specific growth rate, feed conversion rate, and water quality. The results showed the best value on the fecundity of 1191.67±239.45 eggs/200 g, Hatching rate 80.93 ± 3.90%, Survival rate of 81.55 ± 7.54%, specific growth rate of 7.26 ± 0.25, conversion fodder 0.54 ± 0.02 obtained at the treatment C, but for the diameter and weight of egg, larval length and weight TL, and the length and weight of the yolk egg off larvae for each treatment do not differ markedly. The results showed that hybridization (treatment C) gives a real influence (P < 0.05) of fecundity,hatching rate, survival rate but not with the egg size, larva weight and length, and the length and weight of larvae off yolk. Water quality on the spawning, hatching eggs and larvae found on the maintenance of a decent range for tilapia fish farming  

PENINGKATAN PRODUKSI BIOMASSA SIDAT (Anguilla bicolor) MELALUI PEMANFAATAN FERMENTASI PAKAN DAN TEPUNG CACING TANAH (Lumbricus sp) (Production increase of Anguila Biomass by using food fermentation and earth worms flour)

SAINTEK PERIKANAN : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 12, No 2 (2017): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.516 KB)

Abstract

 Sidat (Anguilla bicolor) merupakan jenis ikan yang pertumbuhan lambat, karena kemampuan daya cerna dan efisiensi pemanfaatan pakan sidat rendah. Salah satu usaha untuk mempercepat laju pertumbuhannya yaitu dengan memfermentasikan pakan buatan dan penambahan tepung cacing (Lumbricus sp.) untuk memperbaiki kandungan nutrisi pakan sehingga pertumbuhan sidat akan meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh dan  menentukan kombinasi fermentasi pakan buatan dan penambahan tepung cacing tanah yang memberikan pertumbuhan, efisiensi pakan, dan kelulushidupan sidat (A. bicolor) terbaik. Elver sidat yang digunakan adalah 320 ekor dengan berat rata-rata 15±1,2 g yang dibudidayakan dalam enam belas akuarium berukuran 80 l yang diisi 40 L air dan diaerasi.  Kepadatan awal 20 ekor/akuarium. Pergantian air dilakukan setiap hari 10% dari total air dan dilakukan pemberian pakan 5% dari biomassa sidat dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari, pakan yang diberikan mempunyai kadar protein >50%. Pola rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah A, B, C, dan D masing-masing ditambahkan dengan tepung cacing tanah 0%, 5%, 10%, dan 15% dari total pakan yang diberikan dalam pakan buatan yang telah difermentasi. Variabel yang diukur adalah PER, SGR, EPP, FCR, dan SR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi pakan buatan dan penambahan tepung cacing tanah dalam pakan berbentuk pasta berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap pertumbuhan (RGR) ,efisiensi pakan (EPP) dan rasio konversi pakan (FCR) namun tidak berpengaruh nyata terhadap kelulushidupan (SR) sidat (A. bicolor) dan kombinasi fermentasi pakan buatan dan penambahan tepung cacing tanah dengan dosis 5% (perlakuan B) memberikan pertumbuhan, efisiensi pakan, dan rasio konversi pakan sidat (A. bicolor) terbaik. Kualitas air pada media pemeliharaan masih pada kondisi layak untuk budidaya sidat. The elver of Anguilla bicolor is the kind of fish that the late growth, due to low in digestability and inefficiency to the feed utilization. One of the solutions to accelerate the growth rate is by adding earthworm powder (Lumbricus sp.) and the fermented artificial feed to improve feed nutrition content so the increasing growth. The obyective of this research was to know the effect of  fermented artificial feed and the addition of earthworm powder in pasta artificial feed on the best of growth, feed utilization, and survival rate of A. bicolor in the culture. Elvers of 320 individuals  with an average weight of 15 ± 1.2 g were cultivated in sixteen of  the  circular aquarium with 80 L in volume. Every aquarium was added 40 L of tap water and weekly aeration with initial density of 20 individuals/aquarium.  Everyday was changed 10 % of tap water and added the pasta artificial feed 5 % of elver body weight for three time feeding habit per day with protein content of  >50%.  The treatments were designed by using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 4 replicates.  The culture of treatments A was not added  earthworm powder in the fermented pasta artificial feed. Treatments of B, C, and D were added by earthworm powder of 5 %, 10 %, and 15 % in the fermented pasta artificial feed, respectively.  The variables measured were PER, SGR, EPP, FCR, and SR.  The result showed that the artificial feed with different protein levels highly significant influenced (P<0,05) on the RGR, EPP, and FCR, and there was no significant influences (P>0,05) on the SR of elver.  The treatment B (5 % of earthworm) however showed the best one treatment dosage for elvers growth rate than the other treatments. Water quality in culture media was still in decent condition for the cultivation of eels.  

PENGGUNAAN RESERVOIR TERHADAP PERFORMA UDANG WINDU (Penaeus monodon Fabricius) YANG DIBUDIDAYAKAN SECARA TRADISIONAL (The Use of Reservoirs to the Performance Tiger Shrimp (Penaeus monodon Fabricius) on Culture Traditional Pond)

SAINTEK PERIKANAN : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 13, No 1 (2017): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (751.666 KB)

Abstract

 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produksi biomassa,  kelulushidupan udang windu (Penaeus monodon Fabricius) dan kelimpahan fitoplankton yang dibudidayakan di tambak tradisional dengan reservoir dan tanpa reservoir. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif   Padat tebar udang windu 2 ekor/m2.  Pemeliharaan dilakukan selama 3 bulan (ukuran konsumsi). Data produksi udang dan kelimpahan plankton dianalisis dengan Uji-T dan data kualitas air yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi udang windu pada tambak dengan menggunakan reservoir dan tanpa reservoir berbeda nyata  (p<0.050) dengan nilai 48.8 ± 25.90 kg pada tambak dengan menggunakan reservoir dan 9 ± 7.31 kg pada tambak tanpa reservoir. Sedangkan kelimpahan fitoplankton tidak menunjukkan perbedaan nyata (p > 0.05) dengan nilai 16.37 ± 4.24 sel / L untuk tambak reservoir dan 15.73 ± 2.20 sel / L  untuk tambak tanpa reservoir. Kualitas air media tambak dengan reservoir yaitu  suhu: 26.8 – 31.0oC. DO : 1.25-8.86 mg/L., pH air : 7.5-9.2., kecerahan : 25-47.5 cm., kedalaman air : 75-95 cm dan nilai salinitas 5-21 ppt. Sedangkan tambak tanpa reservoir suhu: 24.7-32.4oC., DO : 1.25-8.46 mg/L. pH air : 8.0-9.1. kecerahan : 25.5-40 cm., kedalaman air : 70-90., salinitas: 9-18 ppt. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan reservoir pada budidaya udang windu tradisional dapat meningkatkan produksi udang monodon (P. monodon Fabricius)   The aim of the research is determining the biomass production of tiger shrimp (P. monodon .F) and abundance of phytoplankton which is maintained in a traditional pond with water reservoir and without using water reservoir. The method that is used in this deskriptif  Two treatment. namely traditional pond with water reservoir and without using water reservoir. Rearing the shrimp was done until 3 mount. Data biomass production shrimp were  analysed with T-test and data water quality were analyzed descriptively. The result shows that the pond cultivation using water reservoir and without water reservoir significant effect ( p < 0.05) on the biomass production of tiger shrimp to the ponds by using a reservoir with a mean 49.8 ± 23.90 kg and 9 ± 6.31 for pons without a reservoir. While the pond using water reservoir and without reservoir have not significant effect ( p > 0.05) on the phytoplankton abundance of 16.37 ± 4.24 cell / L for the pond by using a reservoir and 15.73 ± 2.20 cell / L for the pond without a reservoir. Water quality for temperature: 26.8 – 31.0oC., DO : 1.25-8.86 mg/L., pH : 7.5-9.2., brightness : 25-47.5 cm., depth : 75-95 cm and  salinity 5-21 ppt for ponds by using a reservoir and temperate 24.7 – 31.0oC., DO : 1.25-8.46 mg/L., pH : 8.0-9.1., brightness : 25.5-40 cm., depth : 70-95 cm and  salinity 9-18 ppt without reservoir.  From the data conclude that traditional pond with water reservoir can improve the biomass production of tiger shrimp to the pond.