Tristiana Yuniarti
Program Studi Budidaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Published : 26 Documents
Articles

Found 26 Documents
Search

EFISIENSI PRODUKSI RUMPUT LAUT E. cotonii DENGAN METODE BUDIDAYA LONG LINE VERTIKAL SEBAGAI ALTERNATIF PEMANFAATAN KOLOM AIR

JURNAL SAINTEK PERIKANAN Vol 11, No 1 (2015): JURNAL SAINTEK PERIKANAN
Publisher : JURNAL SAINTEK PERIKANAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Kualitas dan kuantitas rumput laut yang baik dan berkelanjutan merupakan hal yang masih menjadi tantangan bagi usaha budidaya. Metode budidaya danlama pemeliharaan yang tepat diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk menghasilkan kuantitas dan kualitas budidaya yang berkelanjutan.Metode long line vertikal diterapkan untuk mengetahui kolom air yang dapat digunakan untuk pertumbuhan optimum rumput laut. Kualitas terbaik kandungan karaginan dilihat dari lama pemeliharaan. Tujuan penelitian adalah (1) Mengetahui interaksi lama pemeliharaan  dan  kedalaman terhadap produksi biomassa dan kualitas rumput laut. (2) Mengetahui lama pemeliharaan  dan  kedalaman yang terbaik terhadap produksi biomassa dan kualitas rumput laut. (3) Mengetahui kedalaman kolom air yang masih menghasilkan pertumbuhan rumput laut secara optimal. Penelitian dilakukan di perairan laut Pulau Pasir Kabupaten Brebes dengan lama pemeliharaan 45 hari dan 60 hari, serta 3 perlakuan pada kedalaman 30 cm, 60 cm, dan 90cm. Masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan faktorial 2 x 3. Variabel yang diamati adalah laju pertumbuhan dan kandungan karaginan.Hasil yang didapatkan yaitu laju pertumbuhan selama 45 hari pada kedalaman 30 cm, 60 cm dan 90 cm berturut-turut adalah 117%, 158%, 111%, dan pada pemeliharaan selama 60 hari adalah 198%, 182% dan 136%. Pada pemeliharaan 45 hari laju pertumbuhan harian pada kedalaman 30 cm, 60 cm dan 90 cm berturut-turut adalah 2,26%/hari, 2,10%/hari dan 1,66%/hari, dan pada pemeliharaan 60 hari adalah 1,82%/hari, 1,73%/hari dan 1,43%/hari. Dari segi kualitas dilihat pada kandungan karaginan menghasilkan rata-rata karaginan 76,3% pada pemeliharaan 45 hari dan 96,3% pada pemeliharaan selama 60 hari. Kesimpulan yang diambil alah bahwa (1) Kedalaman dan lama pemeliharaan  memberikan pengaruh terhadap produksi biomassa dan kandungan karaginan rumput laut. (2) Produksi biomassa tertinggi dihasilkan pada pemeliharaan selama 45 hari pada kedalaman 30 cm dengan pertumbuhan harian 2,26 %/hari dan kedalaman 60 cm  dengan laju pertumbuhan 2,10 %/hari. Kandungan karaginan rata-rata sebesar 96,3% didapatkan pada pemeliharaan selama 60 hari. (3) Kedalaman optimal untuk pemeliharaan rumput laut dengan metode longline vertikal adalah sampai dengan 60cm.   Kata kunci : long line vertikal, E. cottoni, karaginan   ABSTRACT   Good quality, quantity and sustainable still a challenge for aquaculture. The right method and duration of cultivation is expected to be one of the solutions to produce a sustainable quantity and quality of seaweed culture. Long line vertical method is applied to find out the column of water that can be used for optimum growth of seaweed. The best quality of carrageenan content was observed in duration of cultivation. The purpose of the study was (1) To find out the interaction between duration of cultivation and depth for the production of biomass and quality of seaweed. (2) To know the best duration of cultivation and depth for production of biomass and quality of seaweed. (3) To find out the depth of the water column which still produces the growth of seaweed optimally. Research conducted in sea water at Pulau Pasir, Brebes Regency with duration of cultivation were 45 days and 60 days, with 3 treatments at thedepth of 30cm, 60cm, and 90cm . Each treatment was repeated three times. The research used 3 x 2 factorial design. The observed variablewere growth rate and carrageenan content. The results are obtained, relative growth rate for 45 days at a depth of 30 cm, 60 cm and 90 cm was 117%, 170%, 110%, and for duration of cultivation  60 days was 187%, 185% and 136%. In 45 days duration of cultivation, the  of specific growth rate at depth of 30 cm, 60 cm and 90 cm was 2.26%/day, 2.10%/day and 1.66%/day, and on duration of cultivation 60 days is 1.82%/day, 1.73% and 1.43%/day. In terms of the quality of seaweed the average of karaginan content was 76.3% in 45 days duration of cultivation  and 96.3% on 60 days duration of cultivation . The conclusions were (1) The depth and period of cultivation influence the production of biomass and karaginan content of seaweed. (2 The highest biomass production on 45 days period of cultivation at a depth of 30 cm with specific growth rate of 2.26%/day and in depth of 60 cm with specific growth rate of 2.10%/day The content of carageenan an average of 96.3% obtained on maintenance for 60 days. Optimal depth for the maintenance of seaweed with vertical longline method is up to 60 cm.  Keywords : long line vertikal, E. cottoni, karaginan 

Production Technique of Female Tilapia (Oreochromis niloticus) Brood Stock at Verification Level Functional Male (XX)

SAINTEK PERIKANAN Vol 5, No 1 (2009): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : SAINTEK PERIKANAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.396 KB)

Abstract

A technology for producing tilapia monosex female brood stock was needed in order to fulfill the female brood stock for YY male brood stock. The first step was producing XX male brood stock. A monosex female brood stock generation could be obtained if XX male brood stock population was mated with the female. The objective of this activity was to obtained XX male brood stock veryvication result. The result showed that 2 XX male were obtained from 38 fungtional male brood stocks. This could be seen that from female offspring > 95% only 2 brood stocks, i.e. brood stock code 460041352B qnd 460966737A Key word: Tilapia, breeding programe, sex reversal, female offspring

PENGARUH PEMBERIAN REKOMBINAN HORMON PERTUMBUHAN (rGH) MELALUI METODE ORAL DENGAN INTERVAL WAKTU YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN BENIH IKAN NILA LARASATI (Oreochromis niloticus)

Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji interval waktu yang terbaik dan pengaruh pemberian rGH secara oral terhadap pertumbuhan dan tingkat kelulushidupan benih ikan nila larasati. Penelitian ini dilaksanakan di Satker PBIAT Janti, Klaten, pada bulan Agustus-November 2013. Ikan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah larva nila larasati yang kuning telurnya telah habis dan sudah dapat mencerna pakan buatan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, yaitu pemberian rGH dengan dosis 2 mg/kg pakan dengan interval waktu yang berbeda perlakuan (A) tanpa rGH, (B) 3 hari sekali, (C) 4 hari sekali,dan (D) 5 hari sekali. rGH yang digunakan berasal dari ikan kerapu kertang (ElrGH). Parameter yang diamati dalam penelitian ini meliputi SGR, Panjang Mutlak, FCR dan SR. Hasil pengamatan SGR didapat nilai pada perlakuan A sebesar 9.728±0.084, B sebesar 10.917±0.057, C sebesar 10.618±0.055, D sebesar 10.250±0.066. Pada pengukuran panjang mutlak didapat hasil pada perlakuan A sebesar 6.77±0.12, B sebesar 9.07±0.51, C sebesar 8.57±0.52, dan D 7.37±0.27. Nilai konversi pakan pada perlakuan A 1.291±0.049, B 0.680±0.008, C 0.775±0.009, D 0.982±0.011. SR yang didapat selama pemeliharaan pada perlakuan A 77.00±1.00, B 91.33±2.00, C 86.00±1.00, D 82.67±1.15. Hasil dari analisis ragam adanya pengaruh rGH pada pertumbuhan SGR, panjang mutlak, FCR, dan SR. Hasil pertumbuhan terbaik dengan perlakuan 3 kali sehari (B) karena dapat meningkatkan SGR sebesar 12.34%/hari, panjang mutlak 33.97%, kelulushidupan 18.61%. Pada nilai FCR mampu menurunkan sebesar 89.7%. The purpose of this research was determine the optimal time interval of rGH administration and the effect of rGH feed on growth and survival rate’s Larasati tilapia fish. This research took place in central of Freshwater Fish Hatchery and Aquaculture Unit, Janti, Klaten, Central Java from August-November 2013. The sample in this study was first feeding tilapia fish larvae. A completely randomized design was applied int his research with four treatments an the treatments was replicated three times, the treatments were by giving pelles (A) without rGH 2mg/kg pellet (B) once for three days, (C) once four days then (D) once for five days. The rGH used from giant grouper fish (relGH). Observational parameters were SGR, absolute length, FCR and SR. The value of SGR observed for treatment A was 9.728±0.084, B 10.917±0.057, C 10.618±0.055, and D 10.250±0.066. In absolute length measurement results obtained in the treatment of A 6.77±0.12, B of 9.07±0.51, 8.57±0.52 C, and D 7.37±0.27. Feed conversion value for treatment A1.291±0.049, B 0.680±0.008, C 0.775±0.009, D 0.982±0.011. SR value obtained during the maintenance for treatment A 77.00±1.00, B 91.33±2.00, C 86.00±1.00, D 82.67±1.15.The resultsof variance on SGR growth, the absolute length, FCR, and SR. The best growth results with treatment 3 times a day (B) because it may increase the SGR at 12:34% /day, the absolute length of 33.97%, 18.61% survival rate. In the FCR can lower the value of 89.7%.

PENGARUH PEMBERIAN REKOMBINAN HORMON PERTUMBUHAN (rGH) MELALUI METODE ORAL DENGAN INTERVAL WAKTU YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN BENIH IKAN LELE var SANGKURIANG (Clarias gariepinus Burchell, 1822)

Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 3. No 2 (2014): Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh efektifitas penambahan rGH pada pakan terhadap laju pertumbuhan dan kelulushidupan ikan lele sangkuriang dan mengetahui interval waktu yang optimal pemberian rGH terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan ikan lele sangkuriang. Penelitian ini dilaksanakan di Satker PBIAT Ngrajek, Magelang, pada bulan Agustus-November 2013. Ikan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah larva ikan lele sangkuriang yang kuning telurnya telah habis dan sudah dapat mencerna pakan buatan.  Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) 4 perlakuan dan 3 kali ulangan, yaitu pemberian rGH dengan dosis 2 mg pada pakan dengan interval waktu yang berbeda (A), kontrol (B), 3 hari (C),4 hari (D)5 hari. rGH yang digunakan berasal dari ikan kerapu kertang (ElrGH). Hasil pengamatan pertumbuhan bobot spesifik didapat nilai pada perlakuan A sebesar 5,6±0,15, B sebesar 6,95±0,04, C sebesar 6,65±0,21, D sebesar 6,51±0,09. Pada pengukuran panjang mutlak didapat hasil pada perlakuan A sebesar 4,04±0,13, B sebesar 5,81±0,11, C sebesar 5,42±0,04, dan D 5,02±0,17. Nilai konversi pakan pada perlakuan A 1,2±0,06, B 0,5±0,03, C 0,63±0,04, D 0,77±0,07. SR yang didapat selama pemeliharaan pada perlakuan A 72,67±2,31, B 89,00±2,00, C 82,00±4,58, D 75,67±3,06. Hasil dari analisis ragam pada pertumbuhan bobot spesifik, panjang mutlak, FCR, dan SR menunjukan pemberian rGH dengan interval waktu yang berbeda mempunyai hasil yang berbeda sangat nyata (P<0,01) dibandingkan dengan kontrol. Pemberian rGH dapat meningkatkan pertumbuhan bobot spesifik sebesar 24,1%, panjang mutlak 43,8%, kelulushidupan 22,47% sedangkan, pemberian rGH  dapat menurunkan nilai FCR sebesar 58,3% terhadap kontrol. The purpose of this research were measure of effect on the effectiveness adding rGH feed on growth rate and survival rate sangkuriang catfish and determine the optimal time interval rGH administration on the growth and survival of sangkuriang catfish. This research took place in Ngrajek Freshwater Fish Hatchery and Aquaculture Unit, Magelang, from August-November 2013. The fish samples used in this study was that sangkuriang catfish larvae yolk has been exhausted and it can digest artificial feed. This research applied 4 treatments and 3 replications were with 2 mg’s rGH dose add to pellet with different interval of time (A) control, (B) 3 days, (C), 4 days, and then (D) 5 days. The  rGH used from giant grouper fish (rElGH).  The value of threatment A weight specific growth rate 5,6±0,15, B 6,95±0,04, C 6,65±0,21, and D 6,51±0,09. In absolute length measurement results obtained in the treatment of A 4,04±0,13, B of 5,81±0,11, 5,42±0,4 for C, and D 5,2±0,17. Feed conversion value in treatment A 1,2±0,06, B 0,5±0,03, C 0,63±0,04, D 0,77±0,07. SR obtained during the maintenance treatment A 72,67±2,31, B 89,00±2,00, C 82,00±4,58, D 75,67±3,06. Results of analysis of variance on SGR growth, the absolute length, FCR, and SR showed rGH administration with different time intervals have different results highly significant (P <0.01) compared with controls. Giving spesific weigth rGH can increase by 24,1%, 43,8% absolute length, 22,47% survival rate. In countrary, it can reduce the FCR 58,3% of control.

PENGGUNAAN EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana) SEBAGAI ANTIBAKTERI UNTUK MENGOBATI INFEKSI Aeromonas hydrophila PADA IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

Sains Akuakultur Tropis Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan nila (O. niloticus) merupakan salah satu ikan air tawar ekonomis penting. Salah satu kendala utama dalam kegiatan budidaya adalah adanya penyakit, diantaranya Motile Aeromonas Septicema (MAS) yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophila. Sekarang ini, penanganan penyakit lebih diutamakan menggunakan obat herbal. Ekstrak kulit buah manggis diduga mengandung senyawa antibakteri yang mungkin dapat digunakan untuk meningkatkan kelulushidupan ikan Nila. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perendaman ekstrak kulit buah manggis terhadap kelulushidupan ikan nila yang diinfeksi A. hydrophila. Sebanyak 120 ekor ikan Nila dengan panjang rata-rata 8,55±0,50 cm digunakan pada penelitian ini. Ikan diinfeksi bakteri A. hydrophila sebanyak 0,1 mL secara intramuscular dengan kepadatan 108 CFU/mL. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 pengulangan yaitu perlakuan A (0 mg/L, B (500 mg/L), C (600 mg/L) dan D (700 mg/L). Setelah munculnya gejala klinis, ikan dilakukan perlakuan perendaman dengan ekstrak kulit manggis selama 4 jam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perendaman ekstrak kulit buah manggis berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kelulushidupan ikan nila. Perlakuan terbaik ditunjukan pada perlakuan D (700 mg/L) dengan prosentasi kelulushidupan sebesar 76,67±15,28.

PENERAPAN SELEKSI FAMILI F3 PADA IKAN NILA HITAM (Oreochromis niloticus)

SAINTEK PERIKANAN Vol 4, No 2 (2009): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : SAINTEK PERIKANAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.022 KB)

Abstract

ABTSRAKPemuliaan ikan nila di Indonesia merupakan kegiatan perekayasaan yang sangat penting dilakukan untuk menigkatkan mutu genetik ikan nila yang ada di masyarakat. Metode Seleksi Famili telah digunakan sebagai satu metode efektif untuk mendapatkan strain induk nila yang lebih unggul. Pada tahun 2005 telah berhasil membuat generasi pertama seleksi famili sebanyak 35 famili, tahun 2006 telah menghasilkan 49 famili dan tahun 2007 menghasilkan 39 famili. Masing-masing famili terdiri dari dua sub populasi yaitu induk jantan dan induk betina. Jumlah populasi hasil seleksi pada sub populasi jantan dan betina masing-masing dapat memenuhi jumlah top grad minimal 15 ekor jantan dan 15 ekor betina. Jumlah famili yang memijah 39 famili. Hasil cut off pada masing-masing sub famili mempunyai bobot rataan 120,14+7,3 g pada sub populasi jantan dan 97,36 + 2,6 g pada sub populasi betina. Mutu genetik yang diperoleh pada generasi F3 menghasilkan nilai heritabiliti sebesar 0,142 dengan respon seleksi 25,4 g. Proses seleksi masih perlu dilanjutkan kepada generasi ke-4 untuk memperoleh generasi yang lebih unggul.Kata Kunci: Tilapia, program pemijahan, seleksi familiABSTRACTGenetic improvement of tilapia in Indonesia is very important in order to improve the tilapia quality. Family selection method was known as an effective method to get higher quality brood stock. In 2005, 35 first generation of families selection were successfully done, in 2006, 49 families were produced and in 2007, 39 families were produced. Each family consisted of two sub population, i.e. male and female brood stocks. The number of male and female sub population selection could fulfill the top grade minimal number of 15 males and 15 females. 39 families spawned. The cut off results of each sub family had average body weight of 120.14 ± 7.3 g for male sub population and 97.36 ± 2.6 g for female sub population. The genetic quality which was obtained on F3 generation had a heritability value of 0.142 with selection respond 25.4 g. The selection process was still needed to be continued on F4 generation to get better quality generationKey words: Tilapia, breeding program, family selection

PENGARUH PERBEDAAN TEMPAT IMPLANTASI TERHADAP MODEL INTI, PERTUMBUHAN DAN SINTASAN KERANG AIR TAWAR Margaritifera sp

SAINTEK PERIKANAN Vol 4, No 1 (2008): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : SAINTEK PERIKANAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.037 KB)

Abstract

Beberapa masalah yang menghambat produksi mutiara tawar diantaranya kurang diketahuinya tipe kerang yang digunakan, jenis penyakit yang menyerang saat pemeliharaan, serta penguasaan tehnik produksi secara matang yang meliputi cara operasi dalam penempatan inti. Melihat potensinya untuk perhiasan bernilai tinggi, perlu dilakukan penelitian tentang tehnik implantasi (penempatan inti) yang tepat pada beberapa tempat dalam tubuh kerang. Penelitian ini terdiri dari 3 perlakuan yaitu 1). Implantasi diluar garis pallial line , 2). Implantasi didalam garis pallial line dan 3). Implantasi pada rongga kaki. Pada saat dilakukan implantasi, kisaran bobot rata – rata individu kerang yang diimplan antara 74,13 gram sampai 82,07 gram. Kepadatan pemeliharaan adalah 5 ekor per koja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implantasi pada tempat yang berbeda menghasilkan model mutiara yang berbeda pula. Pada perlakuan 1, model mutiara yang dihasilkan adalah barouqe (perahu terbalik), perlakuan 2 blister (setengah bulat) sedangkan perlakuan 3 around (mendekati bulat sempurna).Sedangkan dari pengamatan pertumbuhan kerang memperlihatkan bahwa pertumbuhan terbesar bobot rata – rata individu kerang yang diamati terdapat pada perlakuan 1 (194,60 gram) dan sintasan tertinggi dicapai pada perlakuan 2 (74%).   Kata kunci : Margaritifera sp, implantasi, pertumbuhan, sintasan

PENGARUH PEMBERIAN REKOMBINAN HORMON PERTUMBUHAN (rGH) MELALUI METODE PERENDAMAN DENGAN LAMA WAKTU YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN LELE VARIETAS SANGKURIANG

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pertumbuhan benih ikan lele sangkuriang yang diberi rekombinan hormon pertumbuhan dosis 2mg/L dengan metode perendaman dengan lama waktu yang berbeda dan mengkaji waktu yang optimal benih ikan lele sangkuriang yang diberi rekombinan hormon pertumbuhan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan lele sangkuriang. Penelitian ini dilaksanakan di Satker PBIAT Ngrajek, Magelang, pada bulan Agustus-November 2013. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan perendaman dengan larutan rekombinan hormon pertumbuhan 2mg/L perlakuan A selama 0 menit, perlakuan B 30 menit, perlakuan C 60 menit, dan perlakuan D 90 menit. rGH yang digunakan berasal dari ikan kerapu kertang (ElrGH). Hasil pengamatan pertumbuhan bobot spesifik perlakuan A sebesar 5,642±0,025 %/hari, perlakuan B sebesar 6,510±0,055 %/hari, perlakuan C sebesar 6,358±0,108 %/hari, perlakuan D sebesar 6,240±0,179 %/hari. Pengukuran panjang mutlak didapat hasil perlakuan A mendapatkan hasil 4,18±0,07 cm, pelakuan B 5,35 ± 0,03 cm, perlakuan C 5,30 ± 0,09 cm, dan perlakuan D 5,25 ± 0,23 cm. Nilai konversi pakan pada perlakuan A 0,751±0,008, perlakuan B 0,457±0,022, perlakuan C 0,514±0,010, perlakuan D 0,543±0,008. SR yang didapat selama pemeliharaan pada perlakuan A 82,67±1,53%, Perlakuan B 79,00±3,00% , perlakuan C 75,33±2,52%, perlakuan D 73,00±1,00%. Pemberian rekombinan hormon pertumbuhan melalui metode perendaman pada ikan lele sangkuriang dengan lama waktu 30 menit dapat meningkatkan pertumbuhan bobot spesifik, pertumbuhan panjang mutlak, dan kelulushidupan, serta menurunkan rasio konversi pakan. Pemberian rekombinan hormon pertumbuhan dapat meningkatkan SGR sebesar 15,90%, panjang mutlak 28%, kelulushidupan 13,25%, dan menurunkan FCR 64,33% The purpose of this study was to assess the effect of seed growth sangkuriang catfish fed with recombinant growth hormone dose 2mg / L through immersion method with different time and assess the optimal time sangkuriang seed catfish fed recombinant growth hormone on growth and seed survival rate catfish sangkuriang. This study was conducted in Unit Freshwater Fish Hatchery Center (SATKER PBIAT) Ngrajek, Magelang, August-November 2013. Research using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replications. Immersion treatment with recombinant growth hormone solution of 2 mg / L treatment A for 0 min, 30 min treatment B, treatment of C 60 mins, and treatment D 90 minutes. The rGH used from giant grouper fish (rElGH). The observation of SGR treatment of A 5,642±0,025 %/day, treatment of B 6,510±0,055 %/day, treatment of C 6,358±0,108 %/day, treatment of D 6,240±0,179 %/day. The absolute length measurements that showed growth optimum results at A 4,18±0,07 cm, treatment of B 5,35 ± 0,03 cm, treatment of C 5,30 ± 0,09 cm, and treatment of D 5,25 ± 0,23 cm. Feed conversion value in treatment A 0,751±0,008, treatment B 0,457±0,022, treatment C 0,514±0,010, treatment D 0,543±0,008. SR obtained during the maintenance treatment A 82,67±1,53%, treatment B 79,00±3,00% , treatment C 75,33±2,52%, treatment D 73,00±1,00%. Administration of recombinant growth hormone through immersion method at catfish sangkuriang long 30 minutes can increase the growth of a specific weight, length of absolute growth, and survival, as well as lower feed conversion ratio. Administration of recombinant growth hormone can increase by 15.90% SGR, the absolute length of 28%, the survival of 13.25%, and 64.33% lower FCR

PENGARUH PENAMBAHAN KOMBINASI OMEGASQUA DAN KLOROFIL TERHADAP FEKUNDITAS, DAYA TETAS DAN KELULUSHIDUPAN LARVA IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias sp.)

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan lele sangkuriang (Clarias sp.) merupakan salah satu jenis ikan ekonomis yang dimanfaatkan sebagai ikan konsumsi air tawar dengan produksi cukup tinggi dan digemari masyarakat. Permasalahan yang ada dalam budidaya ikan lele adalah Induk-induk lele sulit untuk cepat matang gonad, fekunditas, daya tetas, dan kelulushidupan menjadi rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan kombinasi omegasqua dan klorofil terhadap fekunditas, daya tetas, dan kelulushidupan larva ikan lele sangkuriang, serta untuk mengetahui rasio omegasqua dan klorofil yang paling tepat menghasilkan performansi reproduksi induk ikan lele. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode eksperimental menggunakan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan lele sangkuriang yang dipelihara dengan penambahan pakan yang dicampur dengan omegasqua dan klorofil berpengaruh sangat nyata terhadap daya tetas telur (P<0,01), namun tidak berpengaruh nyata terhadap fekunditas dan kelulushidupan. Nilai fekunditas berkisar antara 51.515–59.714 butir/Kg. Nilai tertinggi dari daya tetas telur pada perlakuan B (2,5 mL omegasqua/kg pakan dan 2,5 mL klorofil/kg pakan) dengan nilai rerata 50,00±1,76%. Nilai kelulushidupan berkisar antara 66,33–73,20%. Sangkuriang Cat Fish (Clarias sp.) is one of economic fish which as mackerel consumption which is high enough producted and greatly consumed by society. The problem we often find of Cat Fish cultivation is mothers of that sort ripe slowly and its low of gonad, fecundity, crack ability, survival ability. The purpose of this research is to know influence of inceeasing omegasqua and chlorophyll to fecundity, crack ability, and survival ability of Sangkuriang Cat Fish larvae, and to know Omegasqua ratio with the usefull chlorophyll to produce better performance of Cat Fish reproduction. This research adopts experimental method with model of Comprehensive Random Plan (CRP) with 4 treatments and 3 repetations.  The result of this research shows Sangkuriang Cat Fish which is raised with Omegasqua and chlorophyll mixed influences to crack ability (P<0,01) but not influence to fecundity and survival ability. The number of fecundity is between 51.515 -–59.714 eggs number. The highest number of crack abilitycis B treatment (2,5 mL Omegasqua/kg to feed and 2,5 mL chlorophyll/kg to feed) with average number 50,00±1,76%. Number of survival ability between 66,33%–73,20%.

PENGARUH KEPADATAN BERBEDA MENGGUNAKAN rGH PADA PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kepadatan merupakan hal yang penting dalam usaha pendederan karena akan mempengaruhi oksigen terlarut dan ammonia. Pemberian rGH dengan metode oral atau melalui pakan terbukti dapat mempercepat pertumbuhan ikan dikarenakan rGH yang tercampur dalam pakan dapat lebih mudah masuk kedalam tubuh ikan. Fungsi dari rGH adalah sebagai pengatur pertumbuhan, reproduksi, system imun, tekanan osmosis pada ikan teleostei, dan  pengatur metabolism. Pemanfaatan sistem resirkulasi dapat menciptakan lingkungan yang optimal bagi pertumbuhan ikan. Hal tersebut dapat menghasilkan tingkat produktivitas yang tinggi dalam wadah budidaya dengan mortalitas yang rendah dan tingkat kelulushidupan yang tinggi. Sistem resirkulasi merupakan wadah pemeliharaan ikan yang menggunakan system perputaran air yaitu air mengalir dari satu wadah ke wadah yang lain melalui filter yang berguna untuk menjaga kualias air. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh kepadatan yang berbeda terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nila yang menggunakan rGH dengan kepadatan berbeda pada sistem resirkulasi dan untuk mengetahui kepadatan yang dapat memberikan pertumbuhan dan kelulushidupan terbaik. Penelitian ini dilakukan di Balai Benih Ikan Siwarak, Ungaran, Kab. Semarang. Penelitian dilakukan selama 63 hari dari bulan November 2014 – Januari 2015. Wadah yang digunakan berupa akuarium ukuran (50x30x30) cm3 sebanyak 12 buah yang diisi air sebanyak 20 liter dan dialiri air dari ember yang sudah diisi dengan filter bioball. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan padat penebaran 20, 40, 60 dan 80 ekor/wadah, dimana masing-masing perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali. Jenis pakan bubuk berupa pakan komersial diberikan secara at satiation. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah padat penebaran tidak berbeda nyata terhadap kelulushidupan, namun memberikan perbedaan yang nyata terhadap pertumbuhan panjang mutlak dan perbedaan yang sangat nyata terhadap laju pertumbuhan spesifik. Kepadatan yang dapat memberikan pertumbuhan dan kelulushidupan terbaik terdapat pada padat penebaran sebanyak 20 ekor/wadah, dimana dengan nilai Pertumbuhan Panjang Mutlak adalah 9,08±0,43, nilai SGR 9,07 %/hari, nilai FCR 1,18±0,00, dan PER 3.33±0.10, nilai kelulushidupan terbaik adalah perlakuan A (padat penebaran 20 ekor/wadah) yang sama besarnya dengan perlakuan B (padat penebaran 40 ekor/wadah) yaitu sebesar 96,67 %. Density is important factor in breeding method because it will affected to dissolved oxygen and ammonia level. Giving rGH with oral method or adding into feed  has been proven to increasing the growth of Tilapia because rGH which adding into feed can enter to fish body easily. Function of rGH as growth, reproduction, immune system, osmotic pressure in teleost fishes and metabolism system controlling. Using recirculating system can creating an optimal environment for fish’s growth. If that will happen, can produce a high productivity in culture pond with low mortality and high survival rate. Reciculating system is fish culture tank that using water circulating then flowing tank to tank through a filter which function is maintaining of water quality. This research was aimed to find out the effect of different rearing density that using  rGH to growth and survival rate of Tilapia larvae in recirculating system and knows the best density for increasing growth and survival rate. This research was conducted in 63 days from November 2014 to January  2015 at Balai Benih Ikan Siwarak, Ungaran, Kab. Semarang. The fish culture tank is an aquarium size of 50x30x30cm, total amount 12, each aquarium filled water 20 liters and flowing water from bucket that filled with bioball filter. This research used Completely Randomised Design with five treatment (stock density 20, 40, 60 and 80 fish/tank) and three replication. Feed type is a powder commercial feed with using feeding method at satiation. The results is different rearing density not significantly different for survival rate, but significantly different for relative growth rate (RGR) and very significantly different for Specific Growth Rate (SGR). Stocking density that giving the best growth and survival rate is 20 fish/tank (treatment A) with RGR 9,08 ± 0,43, SGR 9,07%/day, FCR is 1,18±0,00 and PER 3,33±0,10, the best survival rate in treatment A (20 fish/tank) and treatment B (40 fish/tank) is 96,67%.