Articles

PEMBINAAN KECERDASAN INTRAPERSONAL PADA ANAK USIA DINI( 4-6 TAHUN) TK LKIA II PONTIANAK

Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol 2, No 2 (2013): Februari 2013
Publisher : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.842 KB)

Abstract

This study titled Intrapersonal Intelligence Guidance on Early Childhood (4-6 years) Kindergarten LKIA II Pontianak on aspects of self-confidence and self-reliant. Research objectives were to describe how coaching intrapersonal intelligence, constraints, and the efforts of teachers to overcome. The method used is descriptive method. Forms of qualitative research analysis. The results coaching is done via refraction and active engagement of children in play activities. However, at the request of parents who want their children to learn more calistung, teachers attempt to resolve it by giving the sense that teachers should look at the age and maturity level of the child.   Abstrak: Penelitian ini berjudul Pembinaan Kecerdasan Intrapersonal pada Anak Usia Dini (4-6 tahun) TK LKIA II Pontianak pada aspek percaya diri dan mandiri.  Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan bagaimana pembinaan kecerdasan intrapersonal, kendala, dan upaya yang dilakukan guru dalam mengatasinya. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Bentuk penelitian analisis kualitatif. Hasil penelitian ialah pembinaan dilakukan melalui pembiasan dan pelibatan anak secara aktif dalam kegiatan bermain. Kendalanya ialah adanya permintaan orang tua yang ingin anaknya lebih banyak belajar calistung, upaya guru untuk mengatasinya dengan memberikan pengertian bahwa guru harus melihat usia dan tingkat kematangan anak. Kata kunci: Pembinaan, Kecerdasan Intrapersonal, Anak Usia Dini.

Pengembangan Potensi Kognitif Anak Melalui Bermain Konstruksi dengan Lego di TK. KARTIKA V-49 Pontianak

Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol 2, No 3 (2013): Maret 2013
Publisher : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.443 KB)

Abstract

Pengembangan Kognitif anak melalui bermain Lego terhadap hasil belajar di TK.KARTIKA V-49 Pontianak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembngan Kognitif anak melalui bermain Lego di TK.KARTIKA V-49 Pontianak. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian tindakan kelas terhadap tiga puluh siswa pada usia 5-6 tahun dengan tekhnik pengumpulan data melaui observasi dan dokumentasi. Dari analisis dapat disimpulkan Perkembangan Kognitif anak dalam mengenal warna dasar merah, kuning, biru dengan Lego (86,67%). Anak mengenal bentuk Geometri, segitiga, lingkaran dan segiempat dengan Lego(90%). Anak mampu menyusun Lego dari besar ke kecil dan sebaliknya (83,33%). Hal ini berarti pembelajaran dengan bermain konstruksi dengan Lego dapat mengembangkan Kognitif anak usia 5-6 tahun di TK. KARTIKA V-49   Kata Kunci : Potensi Kognitif melalui bermain dengan Lego   Abstract : Developing of  Child Cognitive in playing Lego to study result at TK. KARTIKA V-49 Pontianak. The purpose of this research is to know Developing of  Child Cognitive in playing Lego at TK. KARTIKA V-49. The research method used classroom action research to thirty student in  5-6 age. Type this research is data roundup technique with observation and documentation. From analysis take conclusion  the influence Development of  Child Cognitive in knowing basic colour is red, yellow and blue with Lego (86,67%). The children to know Geometry,trilateral, circle, rectangle with Lego (90%). The children can make Lego from Big to small or on the contrary (83,33%). In this case is study with playing construction of Lego can Development of  Child Cognitive in 5-6 age at TK. KARTIKA V-49.   Key Word : The potential of cognitive in playing Lego

CHARACTER EDUCATION IN EARLY CHILDHOOD

Jurnal Visi Ilmu Pendidikan (J-VIP) Vol 7, No 1 (2012): Volume 7 Nomor 1 Edisi Januari 2012
Publisher : Jurnal Visi Ilmu Pendidikan (J-VIP)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.416 KB)

Abstract

Children’s good characters should be formed since their early time growing up because it is an individual’s set of psychological characteristics that influence person’s ability and inclination for function morally, as Marvin Berkowitz said (William Damond, 2002). Besides, Dimermen (2009:9), educational prationers identified 10 characters which have to be developed in children such as: 1) respect, 2) responsibility, 3) honesty, 4) empathy, 5) fairness, 6) initiative, 7) courage, 8) perseverance, 9) optimism, 10) integrity. These characters can be transferred by school as an agent of education, called character education. Megawangi (2004: 95) said that character education is a way to educate children in order to decide wise decision and practice it in regular life, so they can give positive contribution for environment. Moreover, character education is an education to develop good character from children, make them able to judge which one right or wrong, care deeply about the right and then doing what they believe to be right. Shortly, character education can be internalized habituation about what is right, so that student become understand (cognitive) about what is right and what is wrong, and can feel (affective) the values of good thing and always trying to do that (psychomotor). Character education has to consist moral knowledge, moral feeling, and moral action. It is related to the habit, so it has to be practiced all the time. Moreover, build the good character needs communities’ character including family, school, religious institution, information media, government, and all supported component close to the young generation. The roles of school in this case are stated in learning process, habituation, extracurricular, and socialize. To develop character from children, school should not create a new curriculum but must integrate all national system which has been strong basic in formal education world. That is the implication of the character education. Last but not least, the best way in forming good character for children is through the model. Teacher here is the main component who plays important role in giving kinds of good examples, even by interaction with the student, routine activities, or spontaneous and incidental activities in the school. From those points above we hope that our young generation has much capability not only in cognitive side, but also in their attitude, manner, and their personality. KEYWORDS: character, education, early childhood

HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP EKSPRESI EMOSI ANAK USIA 5-6 TAHUN

Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol 2, No 3 (2013): Maret 2013
Publisher : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.646 KB)

Abstract

Research ofthe relationship ofparenting styles tothe emotion expression of 5-6 Years old children in TK Islam Al-Kautsar Pontianak Selatanaim todescribes is theresignificant relationship between parenting styles tothe emotionexpression of 5-6 years old children in TK Islam Al-Kautsar Pontianak Selatan. The method used was quantitative descriptive. The form ofthe quantitative descriptive method used was relationship study ( interrelationship studies). From the analysis of product momentcorrelation, Found that r= 0.294. itshowed thatthere was small relationship between parenting styles with the expression of children emotion because be at 0.20-0.399 space. From the calculation of t-test found that t-value was 2.571 then it was confirmed by t-table 1.989.so t-value > t-table it meansthat the coefficient correlation wassignificant. So, can be conclude that there was significant relationship between parenting styles to expression of children emotion. Abstrak: Penelitian tentang Hubungan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Ekspresi emosi Anak Usia 5-6 Tahun di TK Islam Al-Kautsar Pontianak Selatan bertujuan untuk mendeskripsikan apakah terdapat hubungan yang signifikan antara pola Asuh orang tua terhadap ekspresi emosi anak usia 5-6 tahun di TK Islam Al-Kautsar Pontianak Selatan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif. Bentuk metode deskriptif kuantitatif yang digunakan adalah studi hubungan (interrelationship studies). Dari analisis korelasi product moment, didapat r= 0,294. Hal ini menunjukkan terjadi hubungan yangrendah antara pola asuh orang tua dengan ekspresi emosi anak karena berada pada rentang 0,20-0,399.Dari perhitungan uji t diperoleh nilai t hitung sebesar 2,571 selanjutnya dikonfirmasi dengan t table sebesar 1,989, dengan demikian t hitung > t table berarti koefisien korelasi signifikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh orangtua terhadap ekspresi emosi anak.   Kata kunci: Pola Asuh Orang Tua, Ekspresi Emosi Anak

FAKTOR DOMINAN YANG MEMPENGARUHI KEMAMPUAN BERINTERAKSI SOSIAL (STUDI KASUS ANAK YANG BERMASALAH DI TK)

Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol 2, No 5 (2013): Mei 2013
Publisher : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.732 KB)

Abstract

Kemampuan berinteraksi sosial merupakan hal yang penting untuk dimiliki oleh setiap anak. Jean Piaget (dalam Schaefer, 2004:80) mengatakan, “Social interaction is the key to development. As they grow older, children give increasing attention to how other people think and why they act in particular ways”. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan berinteraksi  sosial pada anak yang bermasalah di kelompok usia 5-6 tahun TK Barunawati Pontianak Barat. Penelitian ini menggunakan  metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Sumber data terdiri dari 4 guru di kelompok anak usia 5-6 tahun, 4 orang tua subyek kasus, dan  4 anak sebagai subyek kasus. Hasil analisis data menunjukkan bahwa konsep diri anak merupakan faktor internal yang dominan mempengaruhi kemampuan berinteraksi sosial anak. Sedangkan dorongan dari guru merupakan faktor eksternal yang dominan mempengaruhi kemampuan berinteraksi sosial anak. Faktor yang paling dominan  mempengaruhi kemampuan berinteraksi sosial anak  adalah dorongan dari guru.   Kata kunci: Kemampuan Berinteraksi Sosial, Faktor Dominan Abstract: Social interaction competence is important for every child. Jean Piaget (in Schaefer, 2004:80) said, “Social interaction is the key to development. As they grow older, children give increasing attention  to how other people think and why they act  in particular ways”. This research aims to describe factors which influence social interaction competence of  maladjustment  child at group of  5-6 years old in Barunawati Kindergarten in West Pontianak. The  research method is qualitative with case study approach. The data sources consist of  4 teachers at group of  5-6 years old children, 4 parents of case subjects, and 4 children as case subjects. The result of data analysis showed that child’s self concept was the dominant internal factor in influencing child’s social interaction competence. Whereas teacher’s  motivation was the dominant external factor in influencing child’s social interaction competence. The most dominant factor in influencing child’s social interaction competence was teacher’s motivation.   Key words: Social Interaction Competence, Dominant Factor

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERHITUNG PERMULAAN DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN

Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol 2, No 12 (2013): Desember 2013
Publisher : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.379 KB)

Abstract

This research is a form of action research with descriptive methods . Subjects were teachers and 1 child of 20 children . Based on the research that has been done and through the results obtained after an analysis of data that : 1 ) Planning learning to improve numeracy skills at the beginning of the child can be categorized as " excellent " , while the teachers planning has been done include: Formulating learning objectives , choose theme , choose the main ingredient , determine the method of learning , making learning outcomes assessment 2 ) implementation of learning to improve the numeracy skills of beginning to use media images on children aged 5-6 years can be categorized as " excellent " , while the implementation of the teacher who has performed include: teacher learning activities , the teacher opened the lesson , the teacher core activities of learning , teacher learning close . 3 ) The response of children in learning to count beginning with the use of media images on children aged 5-6 years can be categorized as " developing as expected " with activities including: child boldface numbers 1-10 , children sort the numbers 1-10 , children bold numbers with the symbol numbers 1-10 using media images .   Abstrak: Bentuk penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan metode deskriptif. Subjek penelitian adalah guru 1 orang dan anak yang berjumlah 20 anak. Berdasarkan hasil penelitian yang telah di lakukan dan melalui hasil yang diperoleh setelah diadakan analisis data bahwa: 1) Perencanaan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berhitung permulaan pada anak dapat dikategorikan “baik sekali”, adapun perencanaan yang telah dilakukan guru antara lain: Merumuskan tujuan pembelajaran, memilih tema, memilih bahan main, menentukan metode pembelajaran, membuat penilaian hasil belajar 2) Pelaksanaan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berhitung permulaan menggunakan media gambar pada anak usia 5-6 tahun dapat dikategorikan “baik sekali”, adapun pelaksanaan yang telah dilakukan guru antara lain: guru melakukan kegiatan pembelajaran, guru membuka pembelajaran, guru melakukan kegiatan inti pembelajaran, guru menutup pembelajaran. 3) Respon anak dalam pembelajaran berhitung permulaan dengan menggunakan media gambar  pada anak usia 5-6 tahun dapat dikategorikan “berkembang sesuai harapan” dengan kegiatan antara lain: anak menebalkan angka 1-10, anak mengurutkan angka 1-10, anak menebalkan bilangan dengan lambang bilangan 1-10 menggunakan media gambar. Kata Kunci :  Berhitung Permulaan, Media Gambar

ANALISIS KARAKTERISTIK KEPRIBADIAN EKSTROVERT GURU DI TK PERTIWI SETDA KOTA PONTIANAK

Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol 2, No 9 (2013): September 2013
Publisher : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.91 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kepribadian ekstrovert guru seperti lancar berbicara, bebas dari kecemasan, tidak lekas malu, menyukai data obyektif dan ramah dan suka berteman. Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian kualitatif menggunakan pendekatan penelitian deskriptif. Sampel penelitian ini adalah 12 orang guru yang mengajar di TK Pertiwi Setda Kota Pontianak. Hasil analisis data menunjukkan bahwa 10 guru dapat memenuhi indikator kepribadian ekstrovert seperti lancar berbicara, bebas dari kecemasan, tidak lekas malu, menyukai data obyektif dan ramah serta suka berteman. Kata Kunci: Kepribadian, Ekstrovert,Guru Abstract: This study aimed to determine characteristics such as teacher extroverted personality articulate, free from anxiety, irritability no shame, like the objective data and the friendly and gregarious. This research was conducted using qualitative research using descriptive research approach. The sample was 12 teachers who teach in kindergarten Pertiwi Setda Pontianak. Results of data analysis showed that 10 teachers can meet extroverted personality indicators such as articulate, free from anxiety, irritability not ashamed, like hospitable and objective data and gregarious. Keywords: Personality, Extrovert, Teacher

PENINGKATAN KEMAMPUAN KOGNITIF PADA PEMBELAJARAN SAINS DENGAN MEDIA APOTEK HIDUP PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN

Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol 2, No 9 (2013): September 2013
Publisher : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.687 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi rendahnya kemampuan kognitif anak khususnya dalam mengenal sains. Dalam pembelajaran sebagian besar anak cenderung bosan dengan materi yang disampaikan guru mengenai pengenalan sains. Proses pembelajaran kurang mampu mengarahkan anak untuk berpikir kreatif karena guru kurang memanfaatkan media yang ada. Oleh karena itu dibutuhkan media yang dianggap dapat menarik perhatian anak, sebagai berikut : a) Bagaimana perencanaan pengenalan sains dengan media apotek hidup untuk meningkatkan kemampuan kognitif b) Bagaimana pelaksanaan pembelajaran pengenalan sains dengan media apotek hidup untuk meningkatkan kemampuan kognitif  c)  Bagaimana respon anak dalam pembelajaran pengenalan sains dengan media apotek hidup untuk meningkatkan kognitif? Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas sedangkan metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Proses penelitian tindakan kelas ini direncanakan berlangsung dalam dua siklus dan pada tiap siklus tiga kali pertemuan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dan melalui hasil yang diperoleh setelah diadakan analisis data  secara umum dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pada siklus ke 1 kemampuan kognitif anak belum meningkat dengan persentase 13 % sampai  19% baru pada siklus ke 2 kemampuan kognitif anak sudah meningkat menjadi 87,5 % sampai 100 %.   Kata Kunci : Kemampuan Kognitif, Media Apotek Hidup Abstract: This research is motivated low cognitive abilities of children especially in recognizing science. In learning most children tend to get bored with the material presented on the introduction of science teachers. It is therefore considered necessary to attract media attention to the child, as follows: a) How does the introduction of science with media planning pharmacies live to improve cognitive abilities b) How does the introduction of science teaching practices with live pharmacy media to improve cognitive abilities c) How the childs response learning science with the introduction of live media to improve cognitive pharmacy? This type of research is a classroom action research, while the method used is descriptive method. The process of action research is planned to take place in two cycles. Based on the research that has been done and through the results obtained after the analysis of the data held in general can be drawn a conclusion that the cycle to 1 child cognitive ability has not increased with the percentage of 13% to 19% in cycle 2 new childrens cognitive abilities has been increased to 87 , 5% to 100%. Keywords: Cognitive Ability, Media Life Pharmacy

PENINGKATAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS MELALUI KEGIATAN KOLASE DENGAN MENGGUNAKAN BAHAN ALAM

Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol 2, No 9 (2013): September 2013
Publisher : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.337 KB)

Abstract

Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Kolase dengan Menggunakan Bahan Alam. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk melakukan usaha memperbaiki pembelajaran. Penelitian ini dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran, jenis penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas dilakukan dalam 2 (dua) siklus. Pada setiap siklus dilaksanakan 3 (tiga) kali pertemuan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, alat pengumpul data berupa lembar observasi anak dan lembar observasi guru, kemudian data yang diperoleh disajikan, dianalisis dan disimpulkan. Hasil penelitian menunjukkan dalam kegiatan kolase dapat meningkatkan kemampuan motorik halus. Prosentase ketuntasan yang ditentukan peneliti adalah 100%. Hasil prosentase siklus pertama pertemuan ketiga ada 9 anak atau 42% dalam memberi lem dan merekatkan pada pola gambar, 10 anak atau 47% menabur, dan 11 anak atau 52% merekatkan bahan alam. Dari hasil pengamatan dan penelitian pelaksanaan pembelajaran belum tercapai dan anak belum mampu meningkatkan motorik halus dalam kegiatan kolase. Sedangkan siklus kedua pertemuan ketiga semua anak tuntas dalam mengerjakan tugas memberi lem, menabur, dan menyusun dengan bahan alam pada pola gambar dengan kategori berkembang sangat baik (100%). Kesimpulan, melalui kegiatan kolase menggunakan bahan alam dapat meningkatkan kemampuan motorik halus.   Kata Kunci : Kemampuan motorik halus melalui kegiatan kolase   Increase fine motor skills through activities Collage by Using Natural Ingredients. This has prompted researchers to undertake efforts to improve learning. This study was conducted to improve the learning process, classroom action research. Classroom action research conducted in two (2) cycles. At each cycle conducted  three (3) meetings. Data was collected by observation techniques, data collection tool in the form of child observation sheets and teacher observation sheet, then the data obtained are presented, analyzed and concluded. The results showed the collage activity can improve fine motor skills. Researchers determined the  percentage of completeness was 100%. The results of the third meeting of the percentage of first cycle there are 9 children or 42% in a given glue and glue the picture on the pattern, 10 children or 47% grain, and 11 children or 52% glue natural ingredients.  While the second cycle of the third meeting all the children completed the task given glue, sowing, and crafting with natural materials in the growing category of image patterns with very good (100%). Conclusion,  through  collage  using   natural   ingredients   can   improve  fine  motor skills.   Keywords: fine motor skills through activities collage

ANALISIS KEMAMPUAN MEWARNAI MENGGUNAKAN PASTEL PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TK SIRAJUDDIN

Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol 2, No 10 (2013): Oktober 2013
Publisher : Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.814 KB)

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis kemampuan anak dalam mewarnai. Penelitian ini dilakukan di kelompok B3 TK Sirajuddin Pontianak Barat dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan bersifat deskriptif. Subyek dalam penelitian ini adalah anak di kelompok B3 yang berjumlah 25 orang anak usia 5-6 tahun dan satu orang guru di kelompok B3 TK Sirajuddin Pontianak Barat. Proses pelaksanaan pembelajaran meliputi proses kegiatan awal, kegiatan inti, istirahat dan kegiatan akhir. Kreativitas guru sangat diperlukan dalam mengembangkan media yang digunakan dalam pembelajaran. Berbagai teknik dalam menggunakan media pastel sangat mempengaruhi hasil dari perwarnaan. Kemampuan anak usia 5-6 tahun di TK Sirajuddin Pontianak Barat dalam mewarnai adalah memvariasikan warna lebih dominan dalam kategori berkembang sesuai harapan. Kata Kunci : Kemampuan Mewarnai, Pembelajaran Mewarnai,Media Pastel   Abstract: The purpose of research is to analyze the ability of children in coloring. The research was conducted in group B3 TK Sirajuddin West Pontianak using a qualitative approach and descriptive nature. The subjects in this study were children in the B3 group numbering 25 children aged 5-6 years and one teacher in kindergarten B3 group Sirajuddin West Pontianak. Learning implementation process includes the initial activities, core activities, breaks and weekend activities. Teacher creativity is needed in developing media used in learning. Various techniques in using the media greatly influence the outcome of pastel coloring. The ability of children aged 5-6 years in kindergarten Sirajuddin West Pontianak in varying colors coloring is more dominant in the category of developing as expected. Keywords: Ability Coloring, Colouring Lesson, Pastel Media