Tukidal Yunianto
Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Jl. Teknika Selatan, Sekip Utara, Yogyakarta 55281

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

DISTRIBUSI SPASIAL TINGKAT KEHILANGAN TANAH DI DAERAH ALIRAN SUNGAI PETIR Kuncoro, Wegig Rosadi; Yunianto, Tukidal
Jurnal Bumi Indonesia Volume 1, Nomor 3, Tahun 2012
Publisher : Fakultas Geografi UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.77 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui persebaran tingkat kehilangantanah dari kenampakan erosi melalui pengukuran di Daerah Aliran Sungai Petir.Metode yang digunakan merupakan metode pengukuran dalam Stocking &Murnaghan (2000). Metode pengambilan sampel dibagi 2, yaitu sampel tanahuntuk memperoleh berat volume tanah dengan kerangka pengambilan sampelberupa peta satuan tanah. Berikutnya adalah pengambilan sampel ukuranmikrotopografi erosi dengan kerangka sampling berupa peta satuan lahan hasilanalisis peta tanah, peta penutup lahan, dan peta lereng. Berat volume dan datamikrotopografi erosi digunakan untuk analisis kehilangan tanahnya yangkemudian diklasifikasikan tingkatannya berdasarkan nilai terendah hinggatertinggi untuk masing-masing erosi. Hasil klasifikasi kemudian di petakanmenuurut satuan lahan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa DAS Petir didominasi kehilangantanah tingkat sedang, yaitu sebesar 32,45%.Kata Kunci : Kehilangan tanah, erosi, mikrotopografi erosi.
Geomorphological analysis for assessment of coastal recreation sites in the coastal area of Trisik, Kulon Progo Regency, Yogyakarta Province Woro, Suratman; Yunianto, Tukidal
Indonesian Journal of Geography Vol 18, No 56 (1988): Indonesian Journal of Geogrphy
Publisher : Faculty of Geography, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.821 KB)

Abstract

The sand dunes and beach ridges area along the south coast of Yogyakarta Special Region are partly potential for a recreation site. The development of the Trisik Coast in Kulon Progo as a recreational area, is feasible for its natural landscape condition and its location, close to the outlet of Progo River. For this purpose, a basic survey shoal be carried out, in which case, a geomorphological survey may be a part of the survey that contributes to the study of landforms and their processes. Relevant geomorphological aspects, such as morphodynamics of the tidal zone, wind-erosion and flood hazard in the assessment of physical potential of the Trisik coast for recreation have been analysed. Aerial-and ortho-photo interpretation proved to be a useful tool in delineating landforms.
HUBUNGAN ANTARA FUNGSI TUTUPAN VEGETASI DAN TINGKAT EROSI DAS SECANG KABUPATEN KULONPROGO Lathifah, Danis Hilma; Yunianto, Tukidal
Jurnal Bumi Indonesia Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013
Publisher : Fakultas Geografi UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.673 KB)

Abstract

Tingkat erosi memiliki keterkaitan dengan kerapatan vegetasi. Tujuan penelitian adalah mengetahui tingkat kerapatan tutupan vegetasi, mengetahui tingkat erosi, dan mengetahui hubungan antara tingkat kerapatan tutupan kanopi vegetasi dan vegetasi penutup tanah dengan tingkat erosi.Transformasi NDVI citra satelit ALOS AVNIR-2 digunakan untuk memperoleh informasi obyek vegetasi. 40 sampel diamati berdasarkan metode acak berstrata dari satuan lahan dan indeks vegetasi. Kerapatan vegetasi, lereng, dan tingkat erosi diidentifikasi dalam bentuk data ordinal. Analisis tabulasi silang antara tingkat erosi dan faktor-faktor pengontrol dominan menggunakan indeks kappa. Estimasi kerapatan tutupan kanopi diperoleh dengan persamaan regresi polinomial. Klasifikasi tingkat kerapatan kanopi DAS Secang didominasi oleh tingkat sedang. Jenis vegetasi meliputi akasia, sengon, kakao, durian, manggis, dan kaliandra dengan kerapatan tutupan tanah didominasi oleh kerapatan buruk rerumputan dan seresah. Pedestal, singkapan akar, dan erosi alur menunjukkan tingkat erosi ringan. Tingkat erosi memiliki hubungan lebih besar dengan kerapatan tutupan tanah dalam menghambat erosi.Kata kunci : Daerah Aliran Sungai (DAS), Indeks Vegetasi, Seresah, Tingkat Erosi, Tutupan Kanopi.
KANDUNGAN KADMIUM (Cd) PADA TANAH DAN CACING TANAH DI TPAS PIYUNGAN, BANTUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Setyoningrum, Heny Mayasari; Hadisusanto, Suwarno; Yunianto, Tukidal
Jurnal Manusia dan Lingkungan (Journal of People and Environment) Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1.84 KB)

Abstract

Analisis kandungan logam berat cadmium (Cd) pada tanah dan cacing tanah telah dilakukan di TPAS Piyungan Bantul untuk mengetahui tingkat pencemaran Cd dalam tanah. Penelitian dibagi menjadi penelitian di lapangan yang meliputi pengambilan sampel tanah-cacing tanah dan pengukuran parameter lingkungan, serta penelitian di laboratorium yang meliputi analisis kandungan kadmium, bahan organik dan tekstur tanah. Tingkat pencemaran kadmium ditentukan menggunakan Indeks Kontaminasi-Polusi. Hasil penelitian memperlihatkan kandungan kadmium pada tanah di TPAS Piyungan antara tidak terdeteksi (< 0.01) – 0.47 ppm. Kandungan kadmium di TPAS Piyungan lebih rendah dibandingkan jumlah maksimum kadmium yang diperbolehkan di tanah dan khusus untuk zona III dan zona I titik sampling 1 dan 2 lebih tinggi dari standar kandungan kadmium pada tanah yang bebas polusi, sedangkan kandungan kadmium pada tanah kontrol lebih rendah dibandingkan kandungan kadmium secara umum pada tanah bebas polusi tersebut. Kandungan kadmium dalam tanah di lokasi TPAS tidak selalu lebih tinggi bila dibanding kontrol. Cacing tanah mengandung kadmium antara 0.35 – 0.45 ppm, kandungan kadmium dalam cacing tanah di beberapa lokasi TPAS lebih rendah dibanding kontrol. Tingkat pencemaran kadmium di TPAS Piyungan berada pada tingkat kontaminasi sangat ringan hingga kontaminasi sangat berat. Lokasi TPAS yang masih aktif digunakan memiliki tingkat kontaminasi lebih tinggi bila dibanding lokasi lain. Rasio kadmium pada tanah dan cacing tanah di TPAS Piyungan adalah 0.13 : 1.75.
Studi Pengembangan Pertanian Padi Sawah Organik Berdasarkan Kesesuaian Lahan dan Potensi Pupuk Organik dari Limbah Pertanian di Kecamatan Temon Kabupaten Kulon Progo Rusiyah, Rusiyah; Widiatmoko, Djarot Sadharto; Yunianto, Tukidal
Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 2 (2012): September 2012
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.012 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13424

Abstract

ABSTRAK Revolusi Hijau telah menimbulkan berbagai dampak negatif, baik pada lingkungan, keanekaragaman hayati pertanian, maupun sosial ekonomi masyarakat. Tujuan  penelitian ini mengkaji: 1) tingkat kesesuaian lahan untuk tanaman padi sawah, 2) potensi pupuk organik dari  limbah pertanian,3) karakteristik  sosial ekonomi petani, dan 4) merumuskan  strategi  pengembangan pertanian padi  sawah organik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Teknik pengambilan sampel  dengan  purposive area sampling untuk aspek fisik lahan dan purposive sampling untuk sampel petani. Teknik  pengolahan data  dengan Software LCLP, tabel frekuensi, dan analisis SWOT. Hasil penelitian dan pembahasan menggunakan analisis kuantitatif dan  kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas kesesuaian lahan untuk tanaman padi sawah di daerah penelitian adalah sesuai marginal (S3) dengan luas 1.165,77 ha atau  99,11% dan tidak sesuai saat ini (N1) dengan luas 10,51 ha atau 0,89%, potensi pupuk organik dari limbah pertanian  pada  musim tanam I adalah  5.070,05 ton dan  musim tanam II adalah 3.595,04 ton, karakteristik sosial ekonomi internal petani  memiliki  kekuatan lebih baik dibandingkan karakteristik sosial ekonomi eksternal  petani bagi  pengembangan pertanian padi sawah organik di daerah penelitian, strategi pengembangan pertanian padi sawah  organik di Kecamatan Temon dapat dilakukan  sebagai berikut: (a) pemberian penghargaan/apresiasi kepada petani yang telah berhasil mengembangkan pertanian organik, (b) pemerintah perlu membantu petani dalam mendapatkan  sertifikat produk pertanian organik, (c) pembuatan lahan percontohan/demplot pertanian organik, (d) pemberdayaan peran kelembagaan, (e) kegiatan sosialisasi kepada petani, konsumen  pedagang, pemerintah daerah, penyuluh, dan institusi terkait lainnya, (f) mengintegrasikan pembangunan bidang pertanian dan peternakan,(g) pelatihan teknologi pembuatan pupuk organik dan pestisida organik, (h) meningkatkan produksi pertanian organik, (i) bekerjasama dengan kelompok tani semi organik untuk mengembangkan pertanian organik, (j) mengusahakan  padi varietas lokal, (k) meningkatkan penggunaan pupuk organik, (l) kebijakan penyediaan dan subsidi sarana dan prasarana pertanian organik, (m) petani organik harus menjaga kepercayaan kepada konsumen, (n) pengembangan kualitas sumberdaya manusia melaui pendidikan dan pelatihan. ABSTRACT The Green Revolution has caused many negative impacts both on the environment, agricultural biodiversity, and socioeconomic conditions. The research objective is to assess: 1) the suitability of land for rice crops, 2) the potential of organic fertilizer from agricultural waste, 3) socio-economic characteristics of farmers, and 4) formulating development strategy of organic paddy farming. The method used in this study is a survey method. The sampling technique purposive sampling area for the physical aspects of land and purposive sampling to sample farmers. Software data processing techniques with LCLP, frequency table, and a SWOT analysis. Results of research and discussion of quantitative and qualitative analysis. The results showed that land suitability classes for rice crops in the study area is marginally suitable (S3) with an area of 1165.77 ha or 99.11% and is not appropriate at this time (N1) with an area of 10.51 ha, or 0.89% , the potential of organic fertilizer from agricultural waste in the first planting season was 5070.05 tons and the growing season II is 3595.04 tons, internal social and economic characteristics of farmers have better strength than the external socio-economic characteristics of farmers for the development of organic farming rice paddy fields in the study area , strategy development of rice farming organic farm in Temon can be done as follows: (a) the award / appreciation to the farmers who have managed to develop organic farming, (b) the government should help farmers in getting the certificate of organic agricultural products, (c) the manufacture of land pilot / demonstration plots of organic farming, (d) the empowerment of the role of institutions, (e) dissemination to farmers, consumers merchants, local governments, extension agents, and other relevant institutions, (f) integrating the development of agriculture and animal husbandry, (g) training of manufacturing technology organic fertilizers and organic pesticides, (h) increases the production of organic farming, (i) in cooperation with farmer groups semi-organic to develop organic farming, (j) promoting paddy local variety, (c) increase the use of organic fertilizers, (l) a policy provision and subsidized infrastructure organic farming, (m) organic farmers must maintain the trust of the consumer, (n) developing human resources through education and training.
Rekayasa Sistem Drainase Berwawasan Lingkungan pada Kawasan Industri Piyungan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta Triyono, Triyono; Marsono, Djoko; Yunianto, Tukidal
Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3015.926 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13105

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini adalah rekayasa sistem drainase berwawasan lingkungan pada Kawasan Industri Piyungan Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta. Obyek penelitian adalah rekayasa sistem drainase, dan tujuan penelitian yaitu melakukan kajian terhadap efektifitas penggunaan sistem drainase berwawasan lingkungan berupa sumur resapan, saluran resapan dan kolam resapan untuk meresapkan air hujan kedalam tanah sebagai fungsi konservasi air tanah. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan adalah pengambilan sampel secara proporsional yang telah ditentukan dan mewakili keadaan obyek yang diteliti (purposive sampling). Analisis data dengan pendekatan empiris terhadap perencanaan sumur resapan, saluran resapan dan kolam resapan. Hasil rekayasa sistem drainase berwawasan lingkungan diperoleh nilai efektifitas penggunaan  sumur resapan diameter 80 cm dan kedalaman 4 meter pada kawasan terbangun (C: 0,90) sebesar 29,96 %, lahan campuran  (C: 0,50) sebesar 26,97 %, ruas jalan (C:0,80) sebesar 0 % dan lahan terbuka (C: 0,30) sebesar 17,98 %. Penggunaan saluran resapan berdasarkan ketentuan tipe jalan, diameter sumur resapan 40 cm, kedalaman sumur 2 meter dan jarak antar sumur 10 meter, diperoleh efektifitas saluran resapan sebesar 2,54 %. Kolam resapan mempunyai kontribusi peresapan sebesar 25 %  (38.429,77 m3/tahun)  dari kapasitas total debit penampungan 152.719,07 m3/tahun. Sistem drainase berwawasan lingkungan dengan koefisien permeabilitas tanah 4,66 cm/jam (1,3 x 10-3 cm/detik) diperoleh nilai peresapan untuk sumur resapan: 18,73 %, saluran resapan: 2,54 % dan kolam resapan sebesar 25 %, sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan sumur resapan dipadukan dengan kolam resapan lebih efektif dari saluran resapan. ABSTRACT This study is ecodrainage system engineering in Piyungan Industrial Estate Bantul District of Yogyakarta Special Region. Object of research is engineered drainage systems, and research aims is a review of the effectiveness of the use of ecodrainage system in the form of infiltration wells, channel infiltration and infiltration ponds to absorb rain water infiltration into the soil as a function of soil water conservation. This study used a qualitative descriptive analysis method with collecting technique is proportional sampling predetermined and represent the state of the object under study. Data analysis with empirical approach to planning infiltration wells, infiltration channels and infiltration ponds. Engineered drainage system environmental values obtained effective use absorption wells diameter of 80 cm and a depth of 4 meters on the area awakened (C: 0.90) of 29.96%, mixed land (C: 0.50) by 26.97%, roads (C: 0.80) at 0% and the open land (C: 0.30) of 17.98%. The use of infiltration channels under the terms of the type of road, diameter 40 cm absorption wells, well depth of 2 meters and the distance between wells 10 meters, obtained effectiveness of absorption line at 2.54%. Swimming infiltration infiltration contributes 25% (38429.77 m3 / year) of the total discharge capacity of reservoirs 152,719.07 m3 / year. Ecodrainage system with soil permeability coefficient of 4.66 cm / h (1.3 x 10-3 cm / sec) absorption values obtained for infiltration wells: 18.73%, channel infiltration: 2.54% and infiltration ponds of 25 %, so it can be concluded that the use of infiltration wells combined with infiltration ponds more effective infiltration of the channel infiltration.
Analisis Vegetasi Hutan Rawa Gambut Pascakebakaran di Wilayah Desa Sebangau dan Desa Taruna Jaya Yulianti, Reri; Marsono, Djoko; Yunianto, Tukidal
Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.718 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13341

Abstract

ABSTRAK Kebakaran  merupakan  salah  satu  penyebab  kerusakan  hutan  tropis  di Indonesia. Kerusakan yang berlangsung selama kebakaran hutan bersifat eksplosif artinya terjadi dalam waktu relatif cepat dan areal yang luas. Salah satu tipe dari ekosistem hutan hujan tropis adalah hutan rawa gambut. Tujuan dari penelitian ini adalah  (1)  mengkaji  komposisi  jenis,  (2)  mengkaji  keanekaragaman  jenis,  (3) mengkaji  distribusi  jenis,  (4)  mengkaji  asosiasi  jenis  (5)  mengkaji  persentase ketidaksamaan komunitas vegetasi di hutan rawa gambut bekas kebakaran tahun 1997, 2002, dan 2006.Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai Juni 2009 di wilayah Desa Kalampangan Kecamatan Sebangau dan Desa Taruna Jaya Kecamatan Jabiren Raya Kalimantan Tengah. Pengumpulan data dilakukan dengan membuat petak ukur dan kemudian melakukan identifikasi jenis. Titik-titik sampel ditentukan dengan metode random sampling dengan cara undian. Semua jenis dalam petak ukur dicatat nama, diukur   diameter   batang   serta   jumlahnya   dan   dikelompokkan   sesuai   tingkat pertumbuhannya. Hasil   penelitian   adalah   1)   Ditemukan   8   jenis   vegetasi   antara   lain Cratoxylon  arborescens,  Combretocarpus  rotundatus,  Timmonius  wallichianum, Acroychia  porteri,  Acacia  auriculiformis,  Xylopia  fusca,  Ilex  macropylla,  dan Diospyros  hermaproditich.  2)  Keanekaragaman  pada  hutan  rawa  gambut  bekas kebakaran  sangat  rendah.  3)  Jenis  Cratoxylon  arborescens  dan  Combretocarpus rotundatus mempunyai kemampuan regenerasi yang lebih baik dibandingkan dengan jenis yang lainnya. Hal ini terlihat dari INP kedua jenis vegetasi yang memiliki nilai INP tertinggi. 4) Asosiasi yang diperlihatkan oleh banyak jenis (tingkat pertumbuhan pohon, tiang, pancang, semai) pada hutan rawa gambut bekas kebakaran adalah asosiasi  positif  yang  artinya  seluruh  spesies  lebih  sering  terdapat  bersama-sama daripada sendiri-sendiri (bebas satu sama lain), dan mempunyai daya gabung dengan yang lainnya. 5) Berdasarkan persentase ketidaksamaan komunitas sebesar 55%, untuk tingkat semai dan pancang terbagi ke dalam tiga kelompok. Pengelompokan dapat terjadi karena lokasi yang berdekatan, frekuensi kebakaran, dan kesamaan faktor lingkungan. ABSTRACT Fire are one of the cause of tropical forest damaged in Indonesia. The damaged that occurs during the forest fire is explosive since it is happen in a quick moment and cover a broad area. One of the types of a tropical rain forest ecosystem is   peat swamp forest. The purpose of this research namely : 1) Studying species composition,  2)  Studying  species  diversity,  3)  Studying  species  distribution,,4) Studying association, dan 5) Studying percentage disimilarity community species of vegetation of post fired in peat swamp forest in 1997, 2002, and 2006. The research was carried out from May until June 2009 in Kalampangan Village  Subdistrict  Sebangau  and  Taruna  Jaya  Village  Subdistrict  Jabiren  Raya Central Kalimantan. Collecting data was done by making plot of land measuring then doing the identification of type. The sample points were determined by random sampling method. All types in plot of land measuring were named, measured the trunks including the numbers and then grouped according to level of growing.The result of this research are 1) There are eight types of vegetation found; Cratoxylon  arborescens,  Combretocarpus  rotundatus,  Timmonius  wallichianum, Acroychia  porteri,  Acacia  auriculiformis,  Xylopia  fusca,  Ilex  macropylla,  dan Diospyros hermaproditich, 2) The diversity of a post-fired in peat swamp forest was low,  3)  Figured  out  the  ability  of  Cratoxylon  arborescens and Combretocarpus rotundatus to regenerate better yet compared with the other types. This is viewed from two types of vegetation INP that had the high INP score. 4) The association is viewed by variety of types [level of tree growth, poles, sapling, seedling] to post fired of peat swamp forest–positively          association means all species more often gathered than apart (free one each other), and had the ablitity to gathered with others.5)  Base  on  fifty  five  percentage  disimilarity  community,  there  are  three  group community of sapling and seedling. Grouping to be able occur because nearness location,  fire frequency, and the same environment factor.