Articles

Found 1 Documents
Search
Journal : Health Science Journal of Indonesia

Sensitivity and specificity of immunocytochemical assay for detection of Dengue virus 3 infection in mosquito

Health Science Journal of Indonesia Vol 2, No 2 Des (2011)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Survei virologi pada nyamuk vektor dapat digunakan sebagai Sistem Kewaspadaan Dini untuk mencegah penularan Demam dengue di suatu daerah. Pemeriksaan laboratoris untuk deteksi virus Dengue pada nyamuk seperti isolasi virus, Polymerase Chain Reaction (PCR) dan Direct Fluorescent-Antibody (DFA) memerlukan keahlian yang tinggi, peralatan yang mahal dan waktu yang lama. Suatu metode berdasarkan imunositokimia menggunakan antibody monoclonal DSSE10 memiliki beberapa kelebihan. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi sensitifitas dan spesifitas pemeriksaan imunositokimia dibandingkan metode Reverse Transcription-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) untuk mendeteksi infeksi Virus Dengue 3. Metode: Penelitian eksperimental dilakukan di laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) pada bulan Mei 2009-Oktober 2010. Sebanyak 22 Ae. aegypti yang diinfeksi virus Dengue 3 digunakan sebagai  kelompok  infeksius dan  35  nyamuk  yang  tidak  diinfeksi  sebagai  kelompok  non infeksius.  Pemeriksaan imunositokimia  Streptavidin  Biotin Peroxidase  Complex  (SBPC)  menggunakan  antibodi  monoklonal DSSE10 dilakukan pada sediaan head squash Ae .aegypti untuk mendeteksi antigen virus Dengue 3.  Pemeriksaan RT-PCR sebagai baku emas diaplikasikan pada toraks nyamuk.Hasil: Nilai Kappa menunjukkan kesepakatan yang baik antara dua orang pemeriksa (0,63). Imunositokimia mendeteksi antigen virus Dengue-3 dengan sensitivitas yang sama dengan RT-PCR (sensitivitas 100%). Namun spesifisitas IC lebih rendah dibanding RT-PCR (spesifisitas 91%) karena beberapa hasil positif palsu muncul pada pemeriksaan ini. Kesimpulan: Metode IC memiliki nilai sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi dibandingkan dengan metode RT-PCR. Metode IC ini dapat digunakan untuk surveilans virus Dengue pada nyamuk vektor. (Health Science Indones 2011;2:87-91).AbstractBackground: Virological  surveillance  provides  an  early warning  sign  for  the  risk  of  transmission  in  an area. Laboratory  tests  for  dengue  virus  infection  on mosquitoes  include  isolation  of  the  virus,  Polymerase Chain Reaction  (PCR)  and  Direct  Fluorescent-Antibody (DFA)  requires  a  high  level  of  technical  skill, expensive equipment,  and  time-consuming.  A  method based  on  immunocytochemical  (IC)  using  monoclonal antibody DSSE10 has several advantages. This study aimed to evaluate sensitivity and specificity IC assay compared with Reverse Transcription-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) as gold standard to detect Dengue Virus (DENV)-3 infections in mosquito Aedes aegypti.Methods: An experimental study was conducted in laboratory of Medical Parasitology, Faculty of Medicine, Universitas Gadjah Mada (UGM) in May 2009 until October 2010. A total of 22 artificially-infected adult Ae.  aegypti  mosquitoes  of  DENV 3  were  used  as  infectious  samples  and  35  non-infected adult  Ae.  aegypti mosquitoes  were  used  as  normal  ones. The  IC  Streptavidin  Biotin  Peroxidase  Complex  (SBPC) assay  using monoclonal antibody DSSE10 was applied in mosquito head squash to detect Dengue virus antigen. RT-PCR as a gold standard was applied in mosquito thorax.Results:  The  kappa  value  showed  a  good  agreement between  two  observers  (kappa  value  0.63).  IC could detect dengue virus antigen as sensitive as RT-PCR (sensitivity 100%). But IC was less specific than RT-PCR (specificity 91%) because some false positive results were found in this method.Conclusion: The IC method has a high sensitivity and high specificity compared with RT-PCR. This IC method may  be useful  for  virological  surveillance  of  dengue  infected Aedes  mosquitoes.  (Health  Science  Indones 2011;2:87-91).