Ari Yunanto
Laboratorium Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin

Published : 12 Documents
Articles

Found 12 Documents
Search

Kuantitas, Kualitas, dan Daya Fagositosis Neutrofil pada Saliva dan Darah Bayi Baru Lahir dengan Faktor Risiko Sepsis Yunanto, Ari; Chandra, MS; Widjajanto, Edi; Widodo, M Aris
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sepsis neonatal adalah  sindrom klinik pada bulan pertama kehidupan bayi akibat  respons  sistemik  terhadap  infeksi.   Analisis saliva menjadi sumber daya penting untuk mengevaluasi kondisi saliva pada  implikasi keadaan  fisiologis dan patologis,  yang berguna sebagai sarana untuk diagnosis penyakit. Neutrofil merupakan merupakan sel yang pertama kali datang di lokasi inflamasi dan merupakan komponen seluler utama untuk respon natural selama infeksi akut, influks ke saliva  terjadi  terus-menerus. Tujuan dari penelitian  ini adalah untuk mengetahui kualitas dan kuantitas neutrofil saliva dan darah bayi baru lahir dengan risiko sepsis. Sebanyak 30 sampel dari saliva dan darah bayi dengan risiko sepsis diambil sebagai kasus serta 30 sampel saliva dan darah bayi sehat sebagai kontrol. Terdapat perbedaan yang bermakna antara jumlah neutrofil, daya fagositosis (30 menit dan 60 menit), ekspresi TLR2 & TLR4, myeloperoksidase (MPO), H2O2, dan laktoferin (LTF) pada saliva dan darah bayi kasus dibandingkan dengan saliva dan darah bayi kontrol. Hasil menunjukkan neutrofil saliva dapat digunakan sebagai salah satu biomarker adanya sepsis neonatal awitan dini.Kata Kunci: Fagositosis, H O LTF, MPO, neutrofil, sepsis neonatal, TLR2, TLR4 2 2,
Amniotic Band Syndrome (distruption) Hartoyo, Edi; Yunanto, Ari
Sari Pediatri Vol 5, No 2 (2003)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.608 KB)

Abstract

Amniotic band syndrome (ABS) merupakan kelainan genetik yang mempunyai variasiyang luas. Insidens ABS sekitar satu per 10000 kelahiran hidup. Selama ini telahdilaporkan sekitar 600 kasus di luar negeri. Sindrom ini meliputi kepala asimetrismeningoensetalokel, eksoftalmus, kekeruhan kornea, facial cleft bilateral, gnatopalatosisis,pseudosindaktili dan kelainan organ dalam berupa omfalokal dan gastrosisis. Dilaporkanseorang bayi laki-laki baru lahir dengan diagnosis amniotic band syndrome di RSUDUlin Banjarmasin.
Uji Sensitivitas Salmonella typhi Terhadap Berbagai Antibiotik di Bagian Anak RSUD ULIN Banjarmasin Hartoyo, Edi; Yunanto, Ari; Budiarti, Lia
Sari Pediatri Vol 8, No 2 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.317 KB)

Abstract

Latar belakang. Demam tifoid di Kalimantan Selatan merupakan infeksi usus akut denganangka kejadian dan angka kematian yang cukup tinggi. Sampai saat ini belum ada datamengenai pola sensitivitas Salmonella typhi terhadap antibiotik, khususnya di KalimantanSelatan.Tujuan. Untuk mengetahui sensitivitas Salmonela typhi terhadap berbagai antibiotik diBagian Ilmu Kesehatan Anak RSUD Ulin Banjarmasin.Metoda. Penelitian potong lintang, pada anak dengan gejala klinis demam tifoid yangdirawat di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUD Ulin periode Januari 2004 - Juni 2004.Darah dibiak pada media bouillon dan agar SS. Kuman yang tumbuh pada biakan tersebutdilakukan uji biokimia, serta uji sensitivitas terhadap antibiotik.Hasil. Salmonella typhi ditemukan pada 52 (73%) sampel darah dari 71 anak dengangejala demam tifoid. Uji sensitivitas menunjukkan ampisilin, amoksilin, dankloramfenikol mempunyai sensitivitas masing-masing sebesar 34%, 28%, dan 46%.Asam nalidiksat dan kotrimoksasol mempunyai sensitivitas yang sama sebesar 66%,sedangkan sefiksim dan azitromisin masing-masing sebesar 79%. Siprofloksasinmempunyai sensitivitas tertinggi sebesar 84%, dan tidak ada kuman S. typhi yang resistenterhadap azitromisin.Kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa antibiotik siprofloksasin,sefiksim, azitromisin masih sensitif terhadap kuman Salmonella typhi, sedangampisilin, amoksilin, serta kloramfenikol sudah resisten. Asam nalidiksat dankotrimoksasol mempunyai sensitivitas menengah, dan tidak ditemukan resistensiterhadap azitromisin.
Peran Alkohol 70%, Povidon-Iodine 10% dan Kasa Kering Steril dalam Pencegahan Infeksi pada Perawatan Tali Pusat Yunanto, Ari; Hartoyo, Edi; Budiarti, Lia Yulia
Sari Pediatri Vol 7, No 2 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: tali pusat merupakan tempat yang sangat ideal untuk tumbuhnyabakteri, oleh karena itu pencegahan infeksi bakteri merupakan tindakan utama yangharus dilaksanakan dalam perawatan tali pusat. Menjaga agar tali pusat selalu keringdan bersih merupakan prinsip utama. Tujuan penelitian: Mengetahui peran alkohol70%, povidon-iodine 10% dan kasa kering steril dalam pencegahan infeksi padaperawatan tali pusat.Metoda: telah dilakukan penelitian pemberian alkohol 70 %, povidon-iodin 10 %, sertakasa kering steril, dalam perawatan tali pusat pasca pemotongan untuk mencegahterjadinya infeksi, serta membandingkan lama lepasnya tali pusat. Penelitian dilaksanakandi Ruang Neonatalogi Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUD Ulin/FK UNLAMBanjarmasin. Masing-masing perlakuan dilakukan pengulangan 12 kali atau sampai talipusat lepas.Hasil: dari tiga jenis perlakuan tidak didapatkan tanda-tanda adanya infeksi tali pusatdemikian pula lama lepasnya tali pusat tidak terdapat perbedaan yang bermakna (alkohol70 %: 7,33 hari, povidon-iodine: 10 %: 7,25 hari, dan kasa kering steril: 6,42 hari).Kesimpulan: dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa perawatan tali pusat denganmenggunakan alkohol 70%, povidone-iodine 10% dan kasa kering steril dapat mencegahterjadinya infeksi tali pusat dan tidak berpengaruh terhadap lama lepasnya tali pusat.Namun bila dipandang dari segi ekonomi perawatan tali pusat dengan kasa kering sterildinilai lebih ekonomis dibandingkan perawatan tali pusat dengan menggunakan alkohol70% dan povidone-iodine 10%.
Neutrophil, TLR2, and TLR4 expression in newborns at risk of sepsis Yunanto, Ari; Endharti, Agustina Tri; Widodo, Aris
Paediatrica Indonesiana Vol 53 No 3 (2013): May 2013
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.282 KB)

Abstract

Background There is increasing evidence that toll-like receptors (TLR) play a key role in the mediation of systemic responses to invading pathogens during sepsis. Saliva is an important body fluid for detecting physiological and pathological conditions of the human body. Neutrophils are participants in the acute response against pathogens in many tissues, and their influx into the oral cavity may occur at any time.Objective To compare mean neutrophils and the expression of TLR2 and TLR4 in saliva and blood of newborns at risk for sepsis to those of healthy newborns.Methods This cross-sectional study was conducted from July to December 2011 in the Division of Neonatology, Department of Child Health, Ulin General Hospital, Lambung Mangkurat University Medical School, Banjarmasin. Case subjects were newborns with sepsis risk factors (30 infants), while 30 healthy infants were in the control group. Saliva and blood specimen examinations were performed in the Biomedical Laboratory of Brawijaya University Medical School, Malang. We used T-test for statistical analyses.Results From saliva specimens, mean neutrophils were significantly higher in the case group than in the control group [14.43 (SD 12.21) % vs. 5.63 (SD 6.78) %, respectively, (P=0.021)]. In addition, mean TLR2 and mean TLR4 saliva levels were significantly higher in the case group than in the control group [TLR2: 64.97 (SD 26.42) % vs. 40.06 (SD 6.23) %, respectively, (P=0.011); TLR4: 1.5 (SD 1.61) % vs. 0.57 (SD 0.53) %, respectively, (P=0.044)]. From blood specimens, mean neutrophils were also significantly higher in the case group than in the control group [1.09 (SD 0.61)% vs. 0.21 (SD 0.09)%, respectively, (P=0.000)]. Similarly, mean blood TLR2 and TLR4 levels were significantly higher in the case group than in the control group [TLR2: 92.51 (SD 5.51) % vs. 81.74 (SD 11.79) %, respectively, (P=0.003); TLR4: 0.71 (SD 1.42) % vs. 0.12 (SD 0.06) %, respectively, (P=0.000)].Conclusion There are significant increases in neutrophils, as well as neutrophil expression of TLR2 and TLR4 in the saliva and blood from newborns with sepsis risk factors compared to those of healthy newborns. [Paediatr Indones. 2013;53:132-7.]
HUBUNGAN KEPATUHAN STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL DENGAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI Primanadini, Atni; Yunanto, Ari; Panghiyangani, Roselina
Jurnal Berkala Kesehatan Vol 2, No 1 (2016): JURNAL BERKALA KESEHATAN
Publisher : Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (708.091 KB)

Abstract

Untuk mendukung petugas kesehatan yang menjaga mutu dan pelayanan yang berkualitas khususnya pelayanan di laboratorium guna mempermudah petugas laboratorium tentang pemahaman dan cara pemeriksaan yang meliputi pemeriksaan-pemeriksaan sederhana sesuai dengan kebutuhan dan kondisi Rumah Sakit saat ini, maka dari itu petugas laboratorium memerlukan suatu pedoman atau petunjuk pemeriksaan laboratorium, sehingga perlu diketahui keterkaitan hubungan kepatuhan Standar Prosedur Operasional (SPO) dengan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). Kepatuhan SPO ini dilihat dari faktor individu dan faktor organisasi, sedangkan untuk penggunaan APD dilihat dari pengetahuan, sikap dan sarana prasarana menjelaskan hubungan kepatuhan pada SPO dengan penggunaan APD jenis penelitian ini adalah penelitian observational yang bersifat deskriptif dengan metode studi potong lintang. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitaif digunakan bertujuan untuk mengetahui korelasi antara variabel bebas yaitu kepatuhan terhadap SPO dengan variabel terikat yaitu perilaku penggunaan APD di laboratorium patologi klinik. Uji chi square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara faktor individu dengan penggunaan APD (p<0,05), faktor organisasi dengan penggunaan APD (p<0,05) dan kepatuhan dengan penggunaan APD (p<0,05) sedangkan untuk faktor individu yang tidak berpengaruh terhadap penggunaan APD ialah jenis kelamin (p>0,05). Adanya hubungan yang signifikan antara kepatuhan SPO (faktor individu dan faktor organisasi) dengan penggunaan APD.
IMMATURE TO TOTAL NEUTROPHIL RATIO (I/T RATIO) ON NORMAL AND SEPSIS RISK NEONATUS FACTOR AT ULIN GENERAL HOSPITAL BANJARMASIN Noor, Muhammad Rifky Ersadian; Hendriyono, F.X.; Yunanto, Ari
Berkala Kedokteran Vol 13, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Neonatal sepsis is the main cause of morbidity and mortality in neonates. Early diagnostic and appropriate treatment can reduce the mortality and morbidity rate. Immature neutrophil ratio tand total neutrophil (I/T ratio) can be used as one of early diagnostic tool of neonatal sepsis. The purpose of this research was to find difference of I/T ratio between normal neonates and neonates with sepsis risk factor at Ulin General Hospital Banjarmasin on April – June 2016. It was an analytic observational study and collected by accidental sampling. From 39 neonates, there was 23 normal neonates and 16 neonates with sepsis risk factor who diagnosed by competence pediatrics based on mayor and minor risk factor. Mean I/T ratio from normal neonates is 0,06 and neonates with sepsis risk factor is 0,16. From statistical test with independent T-test, there is significant difference p=0,000 (p<0,05). In conclusion, there is a difference of I/T Ratio between normal neonates and neonates with sepsis risk factor. Keywords: neonatal sepsis, I/T ratio, risk factor, neonates
EFEK ANTIOKSIDAN IKAN SALUANG (Rasbora spp.) TERHADAP KADAR MALONDIALDEHID (MDA) OTAK TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) MALNUTRISI Rakhmawati, Yuli; Triawanti, Triawanti; Yunanto, Ari
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Malnutrition because of protein deficiency on diet caused antioxidant deficiency state and oxidative stress on brain that marked by increased MDA level. The aim of this study was to analyze the antioxidant effects of saluang (Rasbora spp.) on brain MDA level in malnourished rats. This was an experimental study with a Posttest Only with Control Group Design, consisted of malnutrition control group (M), group that feed with saluang (S), group that given standard feeding (P), and group that given standard feeding added with DHA supplement (D). Brain MDA level measured with TBARS method in spectrophotometer. Mean brain MDA level for each group in a row is M = 210,750 μΜ, S = 194,125 μΜ, P = 202,625 μΜ, and D = 200,875 μΜ. Kruskal-Wallis and Mann Whitney test showed that there were significant differences between the group that feed with saluang and the other groups (p<0.05). Based on this research, concluded that the administration of saluang (Rasbora spp.) significantly affects the decrease of brain MDA level in malnourished rats. Keywords: antioxidant, saluang fish, MDA, malnutrition Abstrak: Malnutrisi karena defisiensi protein akan menimbulkan keadaan kekurangan antioksidan dan menimbulkan stres oksidatif pada otak yang ditandai dengan peningkatan kadar MDA. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis efek antioksidan ikan saluang terhadap kadar MDA otak tikus putih malnutrisi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan Posttest Only with Control Group Design, terdiri dari kelompok kontrol malnutrisi (M), kelompok pemberian pakan saluang (S), kelompok pemberian pakan standar (P), dan kelompok pemberian pakan standar yang ditambah suplemen DHA (D). Kadar MDA otak diukur dengan menggunakan metode TBARS secara spektrofotometer. Rerata kadar MDA otak masing-masing kelompok perlakuan berturut-turut adalah M = 210,750 μΜ, S = 194,125 μΜ, P = 202,625 μΜ, dan D = 200,875 μΜ. Uji Kruskal-Wallis dan uji Mann Whitney menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna antara kelompok yang diberi pakan saluang dengan kelompok lainnya (p<0,05). Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa pemberian ikan saluang (Rasbora spp.) berpengaruh secara bermakna terhadap penurunan kadar MDA otak tikus putih malnutrisi. Kata-kata kunci: antioksidan, ikan saluang, MDA, malnutrisi
Efek Pemberian Ikan Saluang (Rasbora Spp.) Terhadap Kadar Kalsium Tulangtikus Putih (Rattus Norvegicus) Malnutrisi Lestari, Rizky Mutiara; Triawanti, Triawanti; Yunanto, Ari
Berkala Kedokteran Vol 12, No 1 (2016): Februari 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Effect of giving saluang fish (rasbora spp.) on bone calcium of malnutried rat’s (rattus norvegicus). Malnutrition due to lack of calcium is vital especially in young age because it can damage body’s function. Calcium is source of bone’s development and play some role in motoric function. This research aims on analyzing the difference of calcium level in malnutrition rats and rats feeded with saluang fish. This is an experimental study with posttest only with control group design, consist of malnutrition (M) group, standard feeding (P) group, and saluang (S) group. The bone’s calcium level is measured using titrimetry method. The average result of bone’s calcium level are M=1,00 mg/gram, P=1,68 mg/gram, and S=1,23 mg/gram respectively. Kruskal-Wallis test shows a significant result (p<0,05). Mann-Whitney test shows the standard feeding group have the highest calcium level among other groups. This research concludes that giving saluang fish (Rasbora spp.) for 4 weeks can not repair the bone’s calcium level due to malnutrition if compared to standard feeding.Keywords : saluang fish, bone’s calcium level, malnutrition. Abstrak: Efek pemberian ikan saluang (rasbora spp.) terhadap kadar kalsium tulang tikus putih (rattus norvegicus) malnutrisi. Malnutrisi akibat kurangnya asupan kalsium yang sangat dibutuhkan terutama usia dini dapat mengganggu berbagai fungsi tubuh. Fungsi kalsium bagi tubuh adalah sebagai nutrisi untuk pertumbuhan tulang, serta menunjang perkembangan fungsi motorik agar lebih optimal dan berkembang dengan baik. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis perbedaan kadar kalsium tulang tikus putih malnutrisi yang diberi ikan saluang dan yang tidak diberi ikan saluang. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan posttest-only with control group design, terdiri dari kelompok malnutrisi (M), kelompok pemberian ikan saluang (S), kelompok pemberian pakan standar (P) yang diukur dengan menggunakan metode titrimetri. Rerata kadar kalsium tulang masing-masing kelompok adalah 1,00 mg/gram tulang, 1,23 mg/gram tulang, dan 1,68 mg/gram tulang. Uji Kruskal-Wallis menunjukkan perbedan signifikan (p<0,05). Uji Mann Withney menunjukkan pada kelompok pakan standar memiliki kadar kalsium tulang yang lebih tinggi dibandingkan dengan saat malnutrisi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa pemberian ikan saluang (Rasbora spp.) selama 4 minggu tidak berpengaruh secara bermakna terhadap peningkatan kadar kalsium tulang tikus putih malnutrisi dibandingkan dengan pakan standar. Kata-kata kunci: ikan saluang, kalsium tulang, malnutrisi
Kuantitas, Kualitas, dan Daya Fagositosis Neutrofil pada Saliva dan Darah Bayi Baru Lahir dengan Faktor Risiko Sepsis Yunanto, Ari; Chandra, MS; Widjajanto, Edi; Widodo, M Aris
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 27, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (973.774 KB)

Abstract

Sepsis neonatal adalah  sindrom klinik pada bulan pertama kehidupan bayi akibat  respons  sistemik  terhadap  infeksi.   Analisis saliva menjadi sumber daya penting untuk mengevaluasi kondisi saliva pada  implikasi keadaan  fisiologis dan patologis,  yang berguna sebagai sarana untuk diagnosis penyakit. Neutrofil merupakan merupakan sel yang pertama kali datang di lokasi inflamasi dan merupakan komponen seluler utama untuk respon natural selama infeksi akut, influks ke saliva  terjadi  terus-menerus. Tujuan dari penelitian  ini adalah untuk mengetahui kualitas dan kuantitas neutrofil saliva dan darah bayi baru lahir dengan risiko sepsis. Sebanyak 30 sampel dari saliva dan darah bayi dengan risiko sepsis diambil sebagai kasus serta 30 sampel saliva dan darah bayi sehat sebagai kontrol. Terdapat perbedaan yang bermakna antara jumlah neutrofil, daya fagositosis (30 menit dan 60 menit), ekspresi TLR2 &amp; TLR4, myeloperoksidase (MPO), H2O2, dan laktoferin (LTF) pada saliva dan darah bayi kasus dibandingkan dengan saliva dan darah bayi kontrol. Hasil menunjukkan neutrofil saliva dapat digunakan sebagai salah satu biomarker adanya sepsis neonatal awitan dini.Kata Kunci: Fagositosis, H O LTF, MPO, neutrofil, sepsis neonatal, TLR2, TLR4 2 2,