p-Index From 2014 - 2019
0.882
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Interaksi Online
Muchammad Yulianto
Unknown Affiliation

Published : 8 Documents
Articles

Found 8 Documents
Search

Penerimaan Pemirsa Mengenai Pemberitaan Partai Nasdem di MetroTV

Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSIDengan berkembangnya televisi di Indonesia, keberagaman acara di televisimenjadi ajang kesempatan bagi partai-partai politik yang ada untuk melakukanpemberitaan mengenai partainya di televisi, dan hal yang serupa juga dilakukanoleh Partai Nasdem melalui Metro Tv, Partai Nasdem mampu menyampaikaninformasi yang ada dalam partainya dalam berbagai pemberitaan-pemberitaanuntuk diberitahukan kepada masyarakat luas. Namun kegiatan di bidang mediamassa dewasa ini termasuk di Indonesia telah menjadi industri. Dengan masuknyaunsur kapital, media massa mau tak mau harus memikirkan pasar demimemperoleh keuntungan, baik dari penjualan maupun dari iklan. Dalam hal inimedia massa juga dapat mempengaruhi persepsi masyarakat tentang suatupermasalahan atau pemberitaan.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisiskeberagaman interpretasi khalayak mengenai pemberitaan seputar Partai NasDemdi MetroTV. Teori yang digunakan adalah Uses and Gratifications. Penelitian inimenggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode analisis resepsikhalayak. Peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam terhadap pemirsayang secara aktif mengikuti berbagai segmen acara berita yang ditayangkanMetroTV. Para pemirsa kemudian dipilih berdasarkan tingkat pendidikan danjenis kelamin. Sehingga didapatkan makna yang berbeda-beda mengenaipemberitaan Partai Nasdem.Hasil dari penelitian ini menunjukkan gencarnya pemberitaan Partai Nasdemdi MetroTV mampu membentuk bahkan mengkonfigurasi resepsi Partai Nasdemdi mata khalayak. Pemberitaan tersebut mempengaruhi sebagian besar khalayakuntuk memberikan resepsi sesuai dominant-reading yang diharapkan pembuatberita, dalam hal ini adalah MetroTV. Informan menginterpretasi teks mediasesuai dengan struktur pengetahuan dan pengalaman subjektif yang berkaitandengan situasi tertentu. Dalam proses konsumsi dan produksi makna yangdilakukan oleh informan, ternyata latar belakang dan faktor pendidikan bukanmerupakan faktor penentu informan dalam mengkritisi makna dominan yangditawarkan media. Informan yang menjadi khalayak sasaran pemberitaan belumtentu terpengaruh oleh isi berita yang disajikan.Kata Kunci : MetroTV, Pemberitaan Partai NasDem, Analisis ResepsiABSTRACTWith increasingly television in Indonesia, various programs in televisionbecome opportunity arena for political parties presence in order to carried outnews about their parties in television, NasDem party could deliver informationexist within their party within various news informed to wide societies. Butactivity within this adult mass media sector already industrial in Indonesia. Byincluding capital element, mass media have think the market in order to obtainprofit, both from sale or advertisement. In this case mass media also couldinfluence society perception about such problem or news.This research aimed to describe and analyze the diversity of interpretationsof the audience on report NasDem Party on MetroTV. Theory used was Uses andGratifications. This study used a qualitative descriptive approach to audiencereception analysis method. Researcher used depth interview technique toaudience that actively participate in various program news segments whichpresent by MetroTV. Audiences, then, elected based on education level andgender. Therefore obtained difference meanings about NasDem Party news.This research result showed news unceasing of Nasdem Party on MetroTVable to formed event configurate reception of NasDem Party in public view.Those news was influence most public to giving reception due to dominantreadingwhich expected by news maker, in this case was MetroTV. Informant wasinterpreted media text due to knowledge structure and subjective experiencerelated to certain situation. Within both consumption and meaning productionprocess carried out by informant, in fact background and education factor werenot informant determinant factor to criticizes dominant meaning offered by media.Informan who became target public of news and indefinite influence by newscontent provided.Keywords: MetroTV, Nasdem Party News, Reception AnalysisPENDAHULUANRumusan MasalahPemberitaan media massa begitu cepat dengan pemberitaannya yangbegitu bebas tanpa ada pembatasan dan juga sensor semakin memberikanalternatif seseorang untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Televisidengan kemampuan untuk menyediakan informasi dalam bentuk audio-visualmenjadikannya sebagai salah satu media pilihan masyarakat untuk mendapatkaninformasi dalam rangka memenuhi kebutuhan akan informasinya. Persainganyang ketat diantara stasiun televisi yang ada juga sangat menguntungkan pemirsa.Dengan kelebihan yang dimiliki televisi, informasi-informasi yang disampaikantampak begitu nyata dengan tampilan gambar dan suaranya.MetroTV sebagai salah satu televisi swasta di Indonesia tidak berbedadengan stasiun televisi yang lain, yang berdiri untuk memenuhi kebutuhankhalayak akan informasi. MetroTV lebih mengutamakan pemberitaan yang aktualdan terkini, hal ini dapat dilihat dari kebanyakan program acara di MetroTV yanghampir semuanya tidak lepas dari berita. Beragam tayangan berita disajikan olehMetroTV, baik itu berita kebudayaan, hukum, kriminal, dan politik. Keberagamanpemberitaan politik yang dikemas dalam berbagai segmen acara di MetroTVtentunya sedikit banyak akan menimbulkan terpaan pemberitaan politik terhadapaudiensnya.Pemirsa sebagai audiens yang aktif memaknai teks berita yang disuguhkantelevisi, tentu diharapkan dapat menyadari bahwa tidak semua tayangan beritamemiliki nilai-nilai positif, namun juga disusupi oleh kepentingan-kepentinganmedia untuk mendapat perhatian pemirsa dan upaya pembentukan opini publikterhadap sebuah pemberitaan. Begitu halnya dengan pemberitaan Partai NasDemyang terlalu sering ditayangkan oleh MetroTV, karena sedikit banyak akanmenimbulkan penerimaan dari pemirsa MetroTV yang berbeda-beda. Mengamatifenomena tersebut, maka penelitian ini bermaksud untuk merumuskanpermasalahan secara garis besar, yaitu bagaimana resepsi pemirsa terhadapgencarnya pemberitaan yang dilakukan oleh MetroTV mengenai Partai NasDem?Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisisinterpretasi khalayak mengenai pemberitaan seputar Partai NasDem di MetroTV.Kerangka TeoritisState of The ArtPenelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini telah banyakdilakukan, salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Maya Monoarfapada tahun 2011 dengan judul Memahami Strategi Komunikasi Ormas NasionalDemokrat sebagai Embrio Partai Politik di Indonesia mempunyai tujuan untukmenganalisis strategi komunikasi yang digunakan ormas Nasional Demokrat,selain itu untuk menjelaskan strategi komunikasi apa saja yang diterapkan sebagaisarana bersosialisasi, memperkenalkan nama, tagline, serta lambing dari ormasNasional Demokrat. Penelitian tersebut menggunakan metode kualitatif denganmenggunakan metode studi kasus. Hasil yang diperoleh dari penelitian tersebutmenunjukkan bahwa ormas Nasional Demokrat dalam menerjemahkan sebuahgagasan dengan sebuah gerakan yang bernama Restorasi Indonesia menggunakantiga strategi komunikasi, yaitu : pendekatan tematik, mediated, dan non mediated.Analisis Resepsi KhalayakAnalisis resepsi menyatakan bahwa teks dan penerimanya adalah elemenyang saling melengkapi dalam aspek-aspek komunikasi. Dengan kata lain, analisisresepsi mengasumsikan bahwa tidak akan ada akibat (effect) tanpa makna(meaning) (Jensen, 2002: 135). Pada akhirnya, masyarakat ingin mengetahuibagaimana efek media massa dan analisis resepsi dapat menjawab pertanyaantersebut. Wacana media terbuka atau bersifat polisemis dan dapat diposisikan olehkhalayak yang merupakan agen budaya yang berkuasa.Yang menarik menurut Hoijer dalam Hagen dan Wasko (2000: 200&202),tidak satupun pemirsa mempertanyakan realitas dari berita. Pemirsa dapatbersikap kritis dan menganggap berita sebagai bias, tetapi tidak ada keraguanbahwa berita dianggap representasi dari realitas. Menariknya lagi, status realitasgenre tampaknya meningkatkan daya emosionalnya. Penelitian resepsi secaralebih lanjut menunjukkan bahwa pemirsa juga menjadi terlibat secara emosionaldalam berita. Bahkan, dalam penelitian survei representatif, mayoritas penonton(57%) menyatakan bahwa mereka biasanya menjadi sangat menaruh perhatianketika menonton berita.Khalayak dianggap aktif dalam menginterpretasikan isi media, dalam halini berita. Terdapat beberapa tipe dari khalayak aktif, antara lain : 1) Selektifitas,khalayak aktif dianggap selektif dalam proses konsumsi media yang mereka pilih.Konsumsi media khalayak aktif didasari alasan dan tujuan tertentu. 2)Utilitarianisme, di mana khalayak aktif mengkonsumi media dalam rangkamemenuhi kebutuhan dan tujuan tertentu yang mereka miliki. 3) Intensionalitas,yaitu penggunaan secara sengaja dari isi media. 4) Keikutsertaan, hal ini berartikhalayak secara aktif berpikir mengenai alasan mereka dalam mengkonsumsimedia. 5) Khalayak aktif dipercaya sebagai komunitas yang tahan dalammenghadapi pengaruh media dan tidak mudah dibujuk oleh media itu sendiri. 6)Khalayak yang terdidik, khalayak dianggap lebih bisa memilih media yangmereka konsumsi sesuai kebutuhan dibandingkan dengan khalayak yang tidakterdidik (Junaedi, 2007:82-83).Sebagai khalayak aktif, pemirsa televisi dalam menerima danmenginterpretasikan tayangan televisi menggunakan filter personalnya masingmasingdan tidak selalu sesuai dengan kemauan produsen. Begitu pula halnya saatpemirsa menonton tayangan pemberitan mengenai Partai Nasdem di MetroTv. Disatu sisi, media ingin menyampaikan pesan bahwa keterbukaan komunikasimengenai apa itu Partai Nasdem dan apa tujuan utama dengan dibentuknya PartaiNasdem, serta ingin menunjukkan model positif bagaimana berpolitik yang baiksesuai dengan arah Partai Nasdem. Namun, di sisi lain khalayak dapat menerimapesan tersebut dengan cara yang berbeda. Khalayak dengan frame of referencetertentu akan menganggap tayangan tersebut sekedar pencitraan Partai terhadappublik.Untuk mengetahui bagaimana penerimaan khalayak dapat berbeda-beda,dalam studi resepsi terdapat metode „encoding-decoding‟ milik Hall. Hallmenyebutkan bahwa teks berada di antara produsernya, yang menyusun maknadengan cara tertentu, dan khalayaknya, yang „men-decode‟ makna tersebutberdasarkan pada situasi sosial dan kerangka interpretasi yang berbeda. Transmisikomunikasi digambarkan sebagai sebuah loop yang meliputi rangkaian produksi,sirkulasi, distribusi/konsumsi, dan reproduksi (Hall, 1980 dalam O‟Shea, 2004:10).Hall menyebutkan, pesan yang komunikatif dibuat oleh pengirim danditafsirkan oleh penerima. Masalah timbul ketika ada ketidakcocokan antara kodeyang digunakan encoder dan decoder. Pesan-pesan media memikul berbagaimakna dan dapat diinterpretasikan dengan cara yang berbeda. Teks akandistrukturkan dalam dominasi yang mengarah kepada makna yang dikehendaki,yaitu makna yang dikehendaki teks dari kita. Khalayak dikondisikan sebagaiindividu yang secara sosial akan dikerangkakan oleh makna budaya dan praktikyang dimiliki bersama. Sejauh khalayak berbagi kode budaya dengan produsenatau pengode, mereka akan mengkode pesan di dalam kerangka kerja yang sama.Namun, ketika khalayak ditempatkan pada posisi sosial yang berbeda (misalkelas, usia, pengetahuan) dengan sumber daya budaya yang berbeda, dia mampumengkode program dengan cara alternatif. Hall juga menghipotesis bahwa adatiga posisi potensial decoding, antara lain :a) Dominan-hegemonik, yaitu ketika pemirsa mencode dan menerima maknayang dikehendaki. Karena posisi decoder dekat dengan encoder, makadecoder akan mengiterpretasi dengan bingkai kode dominan.b) Negosiasi, yaitu ketika decoder menerima beberapa aspek maknadominan, tapi menolak dan mengubah makna lainnya, untukmenyesuaikannya dengan pengertian dan tujuan sendiri.c) Oposisional, yaitu ketika posisi decoder berlawanan dengan encoder,mereka menciptakan cerita versi mereka sendiri dengan perhatian yangberbeda. Jadi decoder memaknai teks berlawanan dengan makna dominandari sudut pandang oposisional (Hall, 1980: 174-175).Gagasan Hall tersebut membuktikan adanya kesadaran untuk memikirkan teoriideologi dan kesadaran palsu. Dengan gagasan ini mereka diarahkan untukmeneliti potensi dari „differential decoding‟ yang menunjukkan adanyaperlawanan terhadap pesan media dominan. Selain itu, dapat dilihat bahwa mediamempunyai peran dalam mentransmisikan pesan-pesan dalam tayangan yangbergenre hiburan. Bagaimana masyarakat memaknai tayangan tersebut tentunyaakan beragam sesuai dengan latar belakang pengetahuan dan pengalamannya.Begitu pula tayangan pemberitan mengenai Partai Nasdem di MetroTv yangmungkin dimaknai secara berbeda-beda oleh individu yang berbeda.Berita Sebagai RealitasKehadiran program siaran berita yang dikemas dalam paket informasi olehtelevisi swasta memiliki banyak keunggulan dibanding media cetak. Beritatelevisi otomatis lebih cepat. Keistimewaannya lagi adalah gambar lebih hidupdengan dukungan suara yang persuasif dari para reporter televisi. Stasiun televisiswasta pantas bangga karena menyiarkan berbagai peristiwa secara audio danvisual.Selisih waktu yang hanya beberapa jam antara peristiwa dan penayangansudah cukup menjadikan kekuatan televisi swasta tak tertandingi media cetak.Tayangan televisi jelas lebih hidup, karena sifatnnya yang audio visual. Pemirsatidak perlu lagi bergantung pada wartawan Koran. Paket informasi berita televisimampu menjangkau banyak pemirsa bukan hanya karena kemampuanteknologinya saja, tetapi juga karena dalam menonton televisi pemirsa takmemerlukan keahlian apa-apa. Artinya mereka yang buta huruf pun dapatmengkonsumsi tayangan program televisi (Kuswandi, 2008:101-102).Birgitta Hoijer (Hagen dan Wasko, 2000:21) melaporkan dari beberapastudi tentang konsumsi audiens, tiga genre populer di televisi : berita, fiksi sosialrealitas,dan opera sabun prime-time. Hoijer menjelaskan bagaimana narasi tidakhanya dapat ditemukan dalam teks, tetapi adalah bentuk umum pengorganisasianpengalaman dalam pikiran. Dia menggambarkan bagaimana harapan penontonfiksi berbeda dari harapan mereka terhadap berita.Pemirsa berita televisi menginginkan prinsip berita harus singkat, jelas,sistematis, dan berpijak pada budaya tutur (story telling). Penyebaran beritasebagai salah satu bentuk industri informasi menyebabkan pemirsa televisi dapatmemperoleh berita tanpa harus membeli, seperti halnya media cetak.Dalam membuat berita, reporter harus mampu membedakan antarakejadian (fact) dan pendapat (opinion), agar penyiaran berita menjadi lebihobjektif. Kekhawatiran terjadinya subjektifitas antara kejadian (fact) dan pendapat(opinion) dalam berita yang dibuat reporter, bias mengakibatkan rusaknya proseskomunikasi sosial. Reporter dilarang memasukkan opini dalam membuat berita,agar tidak terjadi bias bagi audiens dalam menerima informasi atau berita. Sistempers Indonesia yang bebas dan bertanggung jawab bermakna bahwa arti bebasialah, berita reporter tidak „disusupi‟ unsure kepentingan golongan atau pribadidan institusi tertentu. Dalam hal ini, reporter bukan hanya sebagai sosok penyebarinformasi, tetapi sekaligus „penyaring‟ berita-berita yang layak terbit atau tidak.Sedangkan bertanggung jawab mengandung sisi etika sosial. Hal ini secaraetis menentukan posisi reporter untuk memahami dan menyadari bahwa hasilkaryanya (berita) mempunyai efek sosial. Dalam membuat berita, reporter dituntutobjektif. Tetapi karena sulitnya masalah objektivitas berita, pada akhirnya beritayang dibuat, bersifat „ganda‟ (objektivitas yang subjektif). Ini disebabkan reportertidak bisa menghindari unsur-unsur opini dalam membuat berita. Landasanobjektivitas dalam membuat berita, berhubungan erat dengan konsep etika, yaituselalu melihat tindakan manusia yang dibenarkan secara moral (Kuswandi,2008:84-86).Wartawan kenamaan Peter Arnett menegaskan bahwa pada dasarnyapenyajian berita dan penjelasan masalah aktual tidak lain adalah “…just to presentthe fact and opinion…!” reporter tidak boleh memasukkan opininya kedalam faktayang disusunnya (Kuswandi, 2008:98).Berita televisi adalah genre nonfiksi lain yang bersifat jelas tetapi genre iniakan tampak lebih fiktif ketika kita secara cermat menyelidikinya. Tokoh-tokohminor dalam program berita ini adalah reporter, subjek bintang dari peristiwaperistiwadunia, pakar, dan saksi mata. Alur kisah utama program berita inimemiliki fluktuasi drama seperti halnya kisah yang lain. Kisah-kisah individualdidramatisasi pada tingkat tertentu, memiliki pelbagai kualitas konflik dan akhiryang menggantung sehingga kita menonton episode berikutnya untuk melihatsiapa yang akan menang. Situasi-situasi minor ada karena program berita tersebutmemiliki pelbagai konvensi dan presentasi seperti halnya genre yang lain.Konvensi-konvensi ini berfungsi sebagai nilai-nilai berita (Burton, 2008:112).PenutupKesimpulanBerdasarkan pada penelitian yang dilakukan terhadap informan dapatditarik beberapa kesimpulan :1. Pada penelitian ini, terdapat tiga tipe pemaknaan oleh informan. Pertama,informan membaca dan memaknai pemberitaan Partai NasDemberdasarkan makna dominan yang ditawarkan. Mereka tidak melakukankritisi terhadap tayangan dan menerima teks apa adanya (tipe dominanthegemonic).Informan memaknai Partai NasDem sebagai sebuah partaialternative yang sangat cocok bagi pemilu 2014 ditengah berkurangnyakepercayaan khalayak dengan situasi politik dan partai politik yang ada diIndonesia sekarang ini. Kedua, informan melakukan tipe pembacaan yangbersifat negosiatif (negotiated reading). Meski mengkonstruksi PartaiNasdem sesuai dengan konsep pemberitaan, informan juga menciptakanalternatif makna baru berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yangmereka miliki. Ketiga, informan melakukan pembacaan secara berlawanan(oppositional reading). Informan ini bersikap lebih kritis dan tidakmenerima konstruksi Partai Nasdem sesuai dengan yang diberitakan.Informan dalam tipe ini tidak mempercayai apa yang digambarkanpemberitaan karena tidak sesuai dengan kenyataan.2. Gencarnya Pemberitaan Partai NasDem di MetroTV mampu membentukbahkan mengkonfigurasi resepsi Partai NasDem di mata khalayak.Pemberitaan tersebut mempengaruhi sebagian besar khalayak untukmemberikan resepsi sesuai dominant-reading yang diharapkan pembuatberita, dalam hal ini adalah MetroTV.3. Informan menginterpretasi teks media sesuai dengan struktur pengetahuandan pengalaman subjektif yang berkaitan dengan situasi tertentu. Dalamproses konsumsi dan produksi makna yang dilakukan oleh informan,ternyata latar belakang dan faktor pendidikan bukan merupakan factorpenentu informan dalam mengkritisi makna dominan yang ditawarkanmedia. Informan yang menjadi khalayak sasaran pemberitaan belum tentuterpengaruh oleh isi berita yang disajikan.4. Penelitian menganjurkan bahwa teks media yang sama tidak mutlak akandimaknai secara sama oleh individu dari status sosial yang sama. Tingkatpendidikan dan kondisi sosial yang sama masing memungkinkanterjadinya perbedaan pemaknaan. Maka dapat dikatakan bahwa latarbelakang yang paling menentukan sikap informan dalam memaknai teksmedia adalah faktor psikologis yang berupa selera dan kebiasaanmenonton televisi atau media yang lain.SaranPemberitaan di media merupakan salah satu cara efektif untukmendapatkan perhatian dari khalayak luas. Pemberitaan politik, memainkanperanan strategis dalam political marketing. Berikut ini peneliti ingin memberikanbeberapa saran yaitu :1. Khalayak dalam membaca pemberitaan partai politik, harusmengkaitkannya dengan konteks yang ada saat ini, track record dan latarbelakang partai, terbentuknya partai, serta tokoh yang berada di dalamnyaserta informasi terkait lainnya. Selain itu audience hendaknya mencariinformasi tentang partai politik yang bersangkutan tidak hanya di satumedia saja, tetapi bisa mencari di media yang netral sehingga audiencetidak terjebak dalam pemberitaannya.2. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan, acuan, dan pengetahuantambahan bagi khalayak media, sehingga di masa mendatang masyarakatdapat turut serta mengawasi isi media dan lebih kritis terhadappemberitaan media demi kemajuan di bidang komunikasi massa sertamenjadi kontribusi bagi partai politik dalam memberikan danmengarahkan pendidikan politik khalayak.Daftar PustakaReferensi BukuBaran, Stanley J. & Dennis K. Davis. (2000). Mass Communication Theory.Belmont: WadsworthBungin, Burhan. (2008). Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: RajaGrafindoPersadaBurton, Graeme. (2007). Membincangkan Televisi: Sebuah Pengantar KepadaKajian Televisi. Yogyakarta: JalasutraBurton, Graeme. (2008). Yang Tersembunyi Di Balik Media; Pengantar KepadaKajian Media. Yogyakarta: JalasutraCangara, Hafied. (2007). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Raja GrafindoPersadaDowning, John,Ali Mohammadi, Annabelle Sreberny-Mohammadi. (1990).Questioning The Media: A Critical Introduction. California: SAGEPublication.Gordon, A. David. (1999). Controversies in Media Ethics. Addison-WesleyLongman Educational Pub;ishers IncHagen, Ingunn & Janet Wasko. (2000). Consuming Audience? Production andReception In Media Research. New Jersey: Hampton Press, IncHall, Stuart. (1980). “Encoding Decoding”. Stuart Hall, Dorothy Hobson, AndrewLowe, and Paul Willis (eds). Culture, Media, Language. London:Hutchinson.Hamad, Ibnu. (2004). Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa. Jakarta:GranitHaryatmoko. (2007). Etika Komunikasi. Yogyakarta: KanisiusHill, Annette. (2005). Reality TV Audiences and Popular Factual Television.London and New York: Routledge.Jensen, Klaus Bruhn. (2002). “Media Audiences Reception Analysis: MassCommunication as The Social Production of Meaning”. Klaus BruhJensen and Nicholas W. Jnkowski. A Handbook of Qualitative Methodologies forMass Communication Research. USA: Routledge.Junaedi, Fajar. (2007). Komunikasi Massa Pengantar Teoretis. Yogyakarta:Santusa.Kuswandi, Wawan. (2008). Komunikasi Massa : Analisis Interaktif BudayaMassa. Jakarta: Rineka CiptaLittlejohn, Stephen W. (2008). Theories of Human Communication. California:Thomson WadsworthLivingstone, Sonia. (1998). Making Sense of Television: The Psychology ofAudience Interpretation. London: RoutledgeMcQuail, Denis. (1987). Teori Komunikasi Massa, Agus Dharma (terj.). Jakarta:Erlangga.McQuail, Denis. (1996). Teori Komunikasi Massa. Jakarta: ErlanggaMulyana, Deddy. (2008). Komunikasi Massa: Kontroversi, Teori, dan Aplikasi.Bandung; Widya PadjajaranNimmo, Dan. (2005). Komunikasi Politik. Bandung: Rosda KaryaPawito. (2008). Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta: LkiSRakhmat, Jalaluddin. (2007). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT RemajaRosdakaryaStrauss, A.L & Corbin, J. (1998). Basics of qualitative research: techniques andprocedures for developing grounded theory. Thousand Oaks, CA: SageSukmadinata, Nana Syaodih. (2009). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:Remaja Rosdakarya.Warren, Samuel D and Louis D. Brandeis. (1980). The Right To Privacy. BostonWinarni. (2003). Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Malang: UMM Press.Wright C.R. (1985). Sosiologi Komunikasi Massa. Bandung: CV. PenerbitRemadja KaryaReferensi JurnalAfdjani Hadiono & Soemirat Soleh. (2010). Makna Iklan Televisi (StudiFenomenologi Pemirsa Di Jakarta Terhadap iklan Televisi Minuman“KUKU BIMA ENERGI” VERSI KOLAM SUSU ). Bandung: UniversitasPadjajaranAgus Setianto, Widodo. (2012) Penerimaan Khalayak Terhadap Berita-BeritaPolitik di Internet. Yogyakarta: Universitas Gajah MadaMichelle, Carolyn. (2009). Recontextualising Audience Receptions of Reality TV.Participations Journal of Audience & Reception Studies. New Zealand: Universityof Waikato.O‟Shea, Catherine Mary. (2004). Making Meaning, Making A Home: StudentsWatching Generations. Rhodes UniversityReferensi Internet:Priyatna, Adri. (2012). Berita dan Konstruksi Realitas.http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2012/04/18/berita-dankonstruksi-realitas. Diakses 5 Mei 2012Gustia, Firdha Yuni. (2011). Konstruksi Harian Media Indonesia terhadap PartaiGolkar dalam Berita Hak Angket Kasus Mafia Pajak.http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26233/6/Cover.pdf.Diakses 5 Mei 2012Anonim. (2012). Surya Paloh : Saatnya Kader NasDem Bersikap Tegas.http://www.metrotvnews.com/mobilesite/read/newsvideo/2012/02/26/146084/Surya-Paloh-Saatnya-Kader-Nasdem-Bersikap-Tegas. Diakses 6 Mei 2012Ramli, Gusti. (2011). Berdirinya Partai Nasional Demokrat.http://politik.kompasiana.com/2011/03/28/berdirinya-partai-nasionaldemokrat-351150.html. Diakses 2 April 2013Tampubolon, Jimmy. (2010). Deklarasi Nasional Demokrat.http://r-panuturi.blogspot.com/2010/02/deklarasi-nasional-demokrat.htmlDiakses 2 April 2012

AUDIT IKLIM KOMUNIKASI ORGANISASI DI BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH ( BAPPEDA ) PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGAN

Interaksi Online Vol 2, No 5 (2014): Wisuda Januari
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSIJudul : Audit Iklim Komunikasi Organisasi di Badan Perencanaan PembangunanDaerah (BAPPEDA) Pemerintah Kabupaten PekalonganPeneliti : Woro WidiyasariNIM : D2C 009 028Penelitian ini dilatarbelakangi oleh iklim komunikasi organisasi Bappeda PemerintahKabupaten Pekalongan yang diketahui masih sering terjadi hal-hal negatif yang menimbulkansemangat kerja menurun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui iklimkomunikasi yang terjalin di dalam instansi Bappeda dengan menggunakan Teori yang dipakaiTeori Sistem ; Teori Iklim komunikasi ; Teori Gaya Kepemimpinan ; Aliran Komunikasi .Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah audit komunikasi. Sedangkantipe penelitian yang digunakan adalah tipe penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuanuntuk menjabarkan situasi dan keadaan komunikasi di Bappeda Pemerintah KabupatenPekalongan. Untuk teknik pengumpulan data di lapangan , peneliti menggunakan teknikwawancara mendalam (indepth interview) kepada enam informan yang terdiri dari karyawanBappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan.Hasil penelitian , maka diketahui iklim komunikasi organisasi yang selama initerjalin di kantor Bappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan tidak berjalan dengan efektif.Dari hasil penelitian di lapangan ditemukan bahwa hubungan antara atasan dengan bawahantidak berjalan dengan baik, hubungan dengan sesama karyawan juga kurang baik, aruskomunikasi yang terjadi selama ini hanya belangsung searah (linier) tanpa adanya feedback,pembagian tugas yang dianggap oleh sebagian besar informan belum merata kepada masingmasingkaryawan.Serta atasan yang jarang memberikan reward kepada bawahan berprestasi.Hal ini mengakibatkan karyawan tidak bersemangat dalam bekerja. Hal tersebut jugamenimbulkan kesenjangan di antara karyawan karena tidak meratanya pembagian tugas yangditimbulkan.Kata Kunci : Audit komunikasi, Kepemimpinan, Iklim Komunikasi, Aliran InformasiABSTRACTAudit of Organizational Communication Climate in Regional Development PlanningDepartment ( BAPPEDA ) Pekalongan Regency Government.This research is motivated by organizational communication climate of BAPPEDAPekalongan Regency Government who has known still commonly has negative things, whichraises working spirit declined. The purpose of this research was to find out thecommunication climate that involve in the BAPPEDA institution using the theory that issystem theory; Theory of Communication Climate; Theory of Leadership Style; and FlowCommunications .The research method used by the researchers is a communication audit. While thetype of research is a descriptive research that aims to describe the situation and the conditionof communication in BAPPEDA Pekalongan Regency Government. For data collectiontechniques in the field, researchers used in depth interview techniques (in depth interview ) tosix informants consisting of employees BAPPEDA Pekalongan Regency Government .The results of the research, it is known that organizational communication climatehas been declined in the BAPPEDA’s Office Pekalongan Regency Government is notoperating effectively. From the results of the field research, was found that the relationshipbetween supervisors and subordinates are not running well, relations with fellow employeesis also not good, the communication flow that happen during this lasts only one side withoutany feedback, the informant consider that the distribution of duties and functions have notbeen spread evenly to each employees. Along supervisors who rarely gives rewards totalented subordinates. This result caused the employee does not feel like working. It alsoraises the gap among the employees because the distribution of duties did not spread evenly.Keywords: Audit of communication, Leadership, communication climate, flow informationBAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangBappeda merupakan suatu Badan di dalam Kabupaten Pekalongan yangsangat menentukan perubahan di kota Pekalongan, Bappeda dengan tugas-tugasnyayang sangat berhubungan dengan perencanaan daerah membutuhkan kerja pegawaiyang maksimal, di dukung dengan tekhnologi dan kerjasama yang baik akanmenjadikan kota Pekalongan semakin maju. Tetapi di sisi lain, karyawan BappedaPemerintah Kabupaten Pekalongan mengeluhkan adanya iklim komunikasi yangtidak efektif .Pemimpin yang kurang bisa berkomunikasi dengan lancar denganbawahannya, dan selalu menyerahkan tugas kepada bawahannya menjadikanmunculnya konflik yang menjadikan karyawan semakin tidak nyaman dengankeadaan di kantor.Poole dalam Pace dan Faules (2001: 148), mengatakan bahwa iklimkomunikasi sangat penting karena mengaitkan konteks organisasi dengan konsepkonsep,perasaan-perasaan dan harapan-harapan anggota organisasi dan membantumenjelaskan perilaku anggota organisasi. Lebih lanjut, iklim komunikasi yang baikdalam suatu organisasi lebih memberikan kebebasan kepada anggota organisasi untukmemperoleh informasi tentang perusahaan, lebih berani mengeksplor kemampuanmereka dalam berkarya, berani menghadapi tantangan dunia pekerjaan, dan lebihmenunjukkan bahwa mereka dipercaya untuk mempertanggung jawabkan hasil-hasildari pekerjaan mereka.Iklim komunikasi yang baik sangat besar pengaruhnya dalam suatu organisasi,salah satunya berpengaruh pada peningkatan produktivitas kerja anggota organisasi,Mengapa, karena iklim mempengaruhi usaha anggota organisasi. Usaha tersebutdikelompokkan Frantz terdiri dari empat unsur, yaitu: “(1) aktivitas yang merupakanpekerjaan tersebut; (2) langkah-langkah pelaksanaan kerja; (3) kualitas hasil; (4) polawaktu kerja” (Pace dan Faules, 2001: 155)Hal ini menarik dikaji , bahwa berdasarkan gambaran di atas maka di dalamsuatu Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Pemerintah KabupatenPekalongan yang bertugas penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah di bidangperencanaan pembangunan daerah yang meliputi ekonomi, fisik, sosial budaya, sertapengendalian dan evaluasi. Iklim komunikasi sangat penting dibutuhkan gunameningkatkan kinerja pegawai, apabila hal tersebut belum terjadi secara efektif makadiperlukan audit iklim komunikasi di Badan Perencanaan Pembangunan DaerahKabupaten Pekalongan sebagai evaluasi dan memperbaiki iklim komunikasi yangtercipta di instansi tersebut guna menjadikan Kabupaten Pekalongan menjadi suatudaerah yang lebih maju.1.2 Tujuan PenulisanTujuan dari penelitian adalah:Untuk mengetahui iklim komunikasi yang terjalin di dalam instansi BappedaPemerintah Kabupaten Pekalonganbaik pada tingkatan iklim komunikasi secarakeseluruhan maupun pada tingkatan kegiatan-kegiatan komunikasi khusus.1.3 KERANGKA TEORITeori yang dipakai Teori sistem; Teori Iklim komunikasi; Teori GayaKepemimpinan; Aliran Komunikasi .1.4 Metode Penelitian1.4.1 Tipe PenelitianPenelitian ini menggunakan tipe penelitian desktiptif kualitatif denganmenggunakan metode audit komunikasi dengan tujuan mendapatkan data darilapangan untuk digunakan sebagai instrumen untuk menjabarkan situasi dan keadaaniklim komunikasi di Bappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan.BAB IITemuan Penelitian Tentang Iklim Komunikasi Organisasi BadanPerencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) PemerintahKabupaten PekalonganBab ini mendeskripsikan temuan penelitian dengan audit komunikasi untukmemahami iklim komunikasi organisasi yang terjadi di Bappeda PemerintahKabupaten Pekalongan terkait dengan Kepemimpinan, Iklim Komunikasi , dan ArusKomunikasi. Temuan penelitian berupa hasil indepth interview yang dilakukanterhadap pimpinan dan beberapa karyawan perusahaan . KepemimpinanData yang diperoleh pada saat melakukan indepth interview terhadapkaryawan Bappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan mengenai masalahkepemimpinan yang selama ini dijalankan dari periode 2011 hingga sekarang bagimasing-masing informan memiliki pendapat yang cukup berbeda di antara informansatu dengan yang lain, bagi masing-masing informan masalah komunikasi yangdihadapi selama ini di kantor Bappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan ada yangmengatakan masih dalam tahap yang wajar ada pula yang mengatakan masih terjadikesenjangan di antara masing – masing bagian di kantor Bappeda PemerintahKabupaten Pekalongan. Iklim KomunikasiIklim komunikasi di suatu organisasi sangat penting karena bisa dipastikan bilatidak ada iklim komunikasi yang kondusif , maka akan terjadi adanya kesenjangandan kurangnya semangat dalam bekerja dari masing-masing karyawan dalam suatuorganisasi tersebut. Dari beberapa pertanyaan yang sudah di ajukan ke 6 informantentang iklim komunikasi maka ada beberapa pendapat yang sama dan berbeda satudengan yang lainnya. Pertama mengenai keefektifan iklim komunikasi di kantorBappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan dimana semua informan dari informan 1hingga informan ke 6 mengatakan hal yang sama mengenai keefektifan iklimkomunikasi yang terjadi selama ini di kantor Bappeda Pemerintah KabupatenPekalongan . Arus KomunikasiDalam suatu organisasi, komunikasi merupakan hal yang paling penting., karenatanpa adanya komunikasi, organisasi tidak bisa berjalan dengan baik. Bila dalamorganisasi komunikasinya kurang baik akan berdampak pada efektifitas organisasi.Dengan pendapat masing-masing informan mengenai arus komunikasi di kantorBappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan maka dapat dilihat kurang efektif danharus segera dibenahi.BAB IIIANALISIS IKLIM KOMUNIKASI ORGANISASI BADANPERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (BAPPEDA)PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGANA. KEPEMIMPINANBerdasarkan teori gaya kepemimpinan di atas maka gaya kepemimpinan yangsesuai dengan kepemimpinan yang ada di kantor Bappeda Pemerintah KabupatenPekalongan yaitu gaya kepemimpinan Otoriter. Gaya kepemimpinan Otoriter inisesuai dengan kepemimpinan di kantor Bappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongankarena bila disimpulkan dari beberapa komentar dari informan mengatakan, belumbersemangat dalam bekerja dikarenakan kurangnya motivasi dari pimpinan danbelum ada penghargaan yang diberikan kepada karyawan berprestasi.B. IKLIM KOMUNIKASI ORGANISASI BAPPEDA PEMERINTAHKABUPATEN PEKALONGANIklim komunikasi organisasi di setiap fungsi tidak selalu sama dengan fungsilainnya. Hal ini dikarenakan iklim organisasi dipengaruhi oleh bermacam-macamcara anggota organisasi bertingkah laku dan berkomunikasi. Hubungan sehari-harimenggambarkan tentang bagaimana iklim diciptakan dan dipelihara. Iklimkomunikasi yang penuh persaudaraan mendorong para anggota organisasiberkomunikasi secara terbuka , rileks, ramah tamah dengan anggota lain. Sedangkaniklim yang negatif menjadikan anggota tidak berani berkomunikasi secara terbukadengan penuh rasa persaudaraan (Pace & Faules, 2005: 165-166).C. ARUS KOMUNIKASI BAPPEDA PEMERINTAH KABUPATENPEKALONGANUntuk menilai komunikasi itu efektif atau tidak terletak pada kualitas dari proseskomunikasi yang baik pada tingkat individu maupun pada tingkat organisasi .kualitasproses komunikasi salah satunya berkaitan dengan ada tau tidaknya umpan balik(feedback). Kesalahpahaman dapat dikurangi jika proses umpan balik dapat dilakukandengan baik. Apabila kesalahpahaman mampu diminimalisir , kinerja komunikasiatara pimpinan dengan bawahan, dan antara sesama karyawan akan menjadi lebihbaik karena pihak-pihak yang akan berkomunikasi akan tahu apakah pesannya sudahditerima , dipahami dan dilaksanakan atau tidak. Dengan demikian, semua aktivitasyang dilakukan dapat berjalan dengan baik.BAB IVPENUTUPA. KESIMPULAN KepemimpinanTipe kepemimpinan yang terjadi di kantor Bappeda Pemerintah KabupatenPekalongan adalah tipe kepemimpinan Otoriter . Prakteknya Otoriter biladisimpulkan dari beberapa komentar dari informan mengatakan, belumbersemangat dalam bekerja dikarenakan kurangnya motivasi dari pimpinandan belum ada penghargaan yang diberikan kepada karyawan berprestasi.Tipe gaya kepemimpinan Otoriter ini memang seharusnya dirubah agar parabawahannya bersemangat dalam bekerja dan pimpinan memberikan motivasi,penghargaan , serta adil dalam pembagian tugas pokok dan fungsi yangmemang sering menjadi kendala yang selama ini dirasakan oleh bawahan. Iklim KomunikasiIklim komunikasi yang terjalin selama ini di kantor Bappeda PemerintahKabupaten Pekalongan masih negatif . Iklim komunikasi selama ini masihnegatif dikarenakan masih sering terjadi kesenjangan diantara para bawahanyang merasa tidak adil atasan memberikan tugas pokok dan fungsi selama iniyang diberikan dari atasan , dan atasan yang hanya memberikan tugas tanpamemberikan penjelasan bagi bawahan. Hal tersebut menimbulkan iklim dikantor Bappeda Pemerintah Kabupaten Pekalongan menjadi tidak kondusifdan masih jauh dari kesan nyaman dalam bekerja. Arus KomunikasiArus komunikasi yang terjadi yaitu ke bawah, komunikasi mengalir daritingkatan yang lebih tinggi ke tingkatan yang lebih rendah , pimpinanberperan penting dalam segala aktivitas komunikasi yang terjadi. Hal tersebutdipengaruhi oleh budaya birokrasi pemerintah yang cenderung searah hanyadari pimpinan ke bawahan dan hal itu juga berlaku di kantor BappedaPemerintah Kabupaten Pekalongan , yaitu terbukti dari semua kebijakanditetapkan langsung oleh pucuk pimpinan tanpa melibatkan pendapat daribawahan.B. SARANDi sini akan diberikan rekomendasi-rekomendasi sebagai bagian darikelanjutan penelitian. Kelanjutan ini dimaksudkan sebagai langkah berikutnya untukmengubah iklim komunikasi organisasi yang kurang efektif di kantor BappedaPemerintah Kabupaten Pekalongan, adapun rekomendasi berupa :1. Untuk meningkatkan iklim komunikasi organisasi di Badan PerencanaanPembangunan Daerah (BAPPEDA) Pemerintah Kabupaten Pekalonganmenjadi lebih baik, maka pemimpin lebih komunikatif dan melakukanpendekatan terhadap para bawahan, agar para bawahan dapat menyampaikaninspirasi , ataupun memberikan masukan kepada atasan dengan lebih terbukauntuk mencapai apa yang selama ini menjadi tujuan bersama.2. Bawahan juga harus berani memberikan pendapat terhadap pemimpin agartidak terjadi kesenjangan antar bawahan yang menimbulkan ketidaknyamanandalam bekerja, berkomunikasi dengan pimpinan dan melakukan pendekatandengan atasan dapat memberikan masukan yang baik untuk pimpinan dansesama bawahan.3. Pimpinan sebaiknya memberikan penghargaan kepada bawahan berprestasiagar meningkatkan semangat bekerja bawahan.DAFTAR PUSTAKABungin, Burhan. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.Denzin, Norman K. Yvonnas S Lincoln. (2000). Handbook of QualitativeResearch, ed.3.Sage PublicationHardjana, Andre. (2000). Audit Komunikasi. Jakarta: GrasindoKuswarno, Engkus. 2009. Metode Penelitian Komunikasi Fenomenologi :Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitian. : Widya Padjajaran.Lattimore, Dan . Otis Baskin, Suzette T. Heiman, Elizabeth L. Toth, PublicRelation Profesi dan Praktik, hal. 119-120Littlejohn, W. Stephen.(1998). Theories of Human Communications (6th ed.).Belmont, California: Wadsworth Publishing Company.Masmuh , Abdullah. (2008). Komunikasi Organisasi dalam Prespektif Teoridan Praktek.Malang:UMM PressMuhammad Arni . (2009). Komunikasi Organisasi. Jakarta:Bumi AksaraMoleong, Lexy J. 2008. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.Mulyana, Deddy. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif : Paradigma BaruIlmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.Neuman, W Lawrence. (1997), Social research menthods : Qualitative andquantitative approaches, ed.3. Boston: Allyn and BaconPace. R. Wayne & Don F. Faules.2005. (Editor :Deddy Mulyana, M.A PH.D).Komunikasi Organisasi Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan. Bandung:RosdakaryaSuranto. 2005. Komunikasi Perkantoran: Prinsip Komunikasi UntukMeningkatkan Kinerja Perkantoran. Yogyakarta:Media WacanaNon Buku:http://www.Suara Merdeka.com/ Pelanggaran PNS)(http://bappeda.pekalongankota.go.id.)

VIDEO REPORTASE INVESTIGASI: “Mengungkap Penyalahgunaan Wi-Fi Kampus untuk Mengakses dan Mengunduh Konten Porno”

Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

iVIDEO REPORTASE INVESTIGASI: “MENGUNGKAP PENYALAHGUNAAN WI-FI KAMPUS UNTUK MENGAKSES DAN MENGUNDUH KONTEN PORNO”ABSTRAKInternet telah menjadi kebutuhan dan bagian dari gaya hidup masyarakat saat ini. Masyarakat semakin dimudahkan dengan adanya teknologi jaringan Wi-Fi (Wireless Fidelity). Teknologi ini dimanfaatkan oleh universitas-universitas di Semarang, sebagai fasilitas gratis yang menunjang pendidikan. Dengan akses internet lewat jaringan Wi-Fi, mahasiswa dengan mudah mencari berbagai informasi di dunia maya. Sayangnya, ada mahasiswa di beberapa kampus tersebut yang jutsru melakukan penyalahgunaan. Akses internet gratis justru dimanfaatkan untuk mengakses situs-situs bermuatan pornografi dan mengunduh video porno.Untuk membuktikan bahwa penyalahgunaan tersebut benar-benar terjadi, maka diperlukan penelusuran lebih lanjut. Penelusuran dilakukan dengan menerapkan cara-cara jurnalisme investigasi menurut Sheila Coroner. Meliputi dua bagian, dan tujuh rincian pelaksanaan kerja. Cara-cara tersebut digabungkan dengan metode pembuatan program televisi, yang terdiri dari 3 tahap; pra produksi, produksi, serta paska produksi. Hal tersebut karena karya dibuat dalam format audio-visual, dan akan ditayangkan di stasiun televisi. Selain itu, juga dilakukan negosiasi penayangan dengan stasiun-stasiun televisi lokal yang ada di Semarang, diantaranya yakni Pro TV, TV Borobudur, Cakra Semarang TV, dan TVRI Jawa Tengah. Pada akhirnya, didapatkan kesepakatan penayangan dengan pihak Cakra Semarang TV. Karya Bidang dapat ditayangkan dengan mengisi spot program yang telah ada. Dari dua pilihan program berita, yakni “Seputar Jawa Tengah” dan „Target Investigasi”, diputuskan bahwa program yang disebut terakhirlah yang dinilai lebih cocok dengan tema penyalahgunaan Wi-Fi kampus.Dan setelah keseluruhan proses kerja dilaksanakan, dapat dibuktikan bahwa memang ada mahasiswa di berbagai kampus di Semarang, yang melakukan penyalahgunaan jaringan Wi-Fi di kampusnya. Sistem otentifikasi jaringan dan filter situs porno, ternyata tidak membuat mahasiswa jera untuk mengakses situs porno. Bahkan mereka memiliki cara-cara khusus untuk dapat menembus sistem kemanan tersebut. Seluruh hasil penelusuran dirangkai dalam sebuah tayangan berita investigasi berdurasi ± 30 menit. Untuk dapat ditayangkan, pihak Cakra TV melakukan editing ulang, yakni dengan mengganti bumper dan title “Suar Investigasi”, menjadi “Target Investigasi”. Beberapa bagian video diubah urutannya, naskah narasi presenter juga disesuaikan. Bagian presenter dihilangkan, diisi dengan shoot presenter Cakra TV yang diambil secara live (siaran langsung). Karya Bidang ini tayang pada Senin, 9 Juli 2012 di Cakra Semarang TV.Kata Kunci : Wi-Fi, Pornografi, Investigasi, TelevisiiiINVESTIGATIVE REPORTING VIDEO: “REVEAL MISAPPLICATION OF WI-FI IN CAMPUS FOR ACCESS AND DOWNLOAD PORNOGRAPHY CONTENT”ABSTRACTThe Internet has become part of the needs and lifestyles of todays society. The public is increasingly facilitated by the presence of Wi-Fi (Wireless Fidelity). This technology is used by universities in Semarang, as a free facilities that support education. With Internet access via Wi-Fi network, students easily find a variety of information in cyberspace. Unfortunately, there are some misapplication on that utilization. Some student at several university have used the free internet facility for access pornography websites, and download porn videos.To prove that the abuse actually occurred, it would require a further search. Search carried out by applying methods of investigative journalism by Sheila Coroner. Includes two parts, and seven working implementation details. These methods are combined with a method of making a television program, which consists of three stages: pre-production, production, and post-production. This is because the work is created in the audio-visual format, and will be aired on television stations. In addition, there are negotiations with local television stations in Semarang, such as Pro TV, TV Borobudur, Cakra Semarang TV, and TVRI Jawa Tengah. In the end, obtained an agreement with the Cakra Semarang TV. The Project can be screened by filling the existing programs. There are two news program, "Seputar Jawa Tengah" and "Target Investigasi", that may suitable for the Project. But it was decided that “Target Investigasi” was more suitable for the theme of misapplication of Wi-Fi in campus.Indeed, after the whole process of work carried out, it can be proven that there are students at various campus in Semarang, who were doing misapplication of Wi-Fi facility. Network authentication system and filter porn sites doesn‟t make a deterrent for students to access porn sites. They even have special ways to be able to penetrate the security system. The throughout video of the project have arranged in ± 30 minutes of an investigative news program. To be ready to be aired, the TV station should have the extra editing, by replacing the bumper and the title of "Suar Investigasi", changed to "Target of Investigasi". There are also some video sequence that have be modified. The script narration for the host have been also modified. The part for the former host have been removed, filled with the shoot of TV‟s host that have been taken in live broadcast. The Project hasve been aired on Monday, July 9th, 2012 at Cakra Semarang TV.Keyword: Wi-Fi, Pornography, Investigation, TelevisioniiiVIDEO REPORTASE INVESTIGASI:“Mengungkap Penyalahgunaan Wi-Fi Kampus untuk Mengakses dan Mengunduh Konten Porno”Resume Laporan Karya BidangDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusun:Nama: Muhammad Akbar NugrohoNIM: D2C007058FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2012ivBAB IPENDAHULUANTeknologi Wi-Fi telah banyak dimanfaatkan oleh perguruan tinggi di Indonesia. Dengan adanya area Wi-Fi di kampus, maka akan memudahkan mereka dalam mengakses internet pada tempat dan waktu itu juga. Apalagi bagi sebagian besar mahasiswa saat ini, laptop sudah tidak menjadi barang mahal.Fasilitas Wi-Fi gratis yang disediakan oleh kampus, idealnya digunakan untuk kepentingan pendidikan. Namun kenyataannya ditemukan fakta bahwa ada oknum-oknum mahasiswa yang tidak menggunakan fasiltas itu dengan semestinya. Berdasarkan hasil pra-riset, telah ditemukan di empat buah universitas di Semarang, dimana ada oknum mahasiswanya yang pernah mengakses dan mengunduh konten porno di area Wi-Fi kampus. Beberapa dari kampus tersebut memiliki sistem filter / keamanan yang lemah terhadap situs porno.Gambar 1.1. Seorang mahasiswa di kampus A sedang mengakses internet di area Wi-Fi kampusnyavDiberlakukannya Undang-undang no.11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan Undang-undang no.44 tahun 2008 tentang Pornografi, membuat kegiatan mengakses, mengunduh, dan mendistribusikan konten porno kegiatan tersebut telah menjadi sebuah tindak pidana. Namun, akibat kurangnya pengawasan dan kesadaran pribadi mahasiswa, hal itu tidak membuat mereka jera. Apalagi, belum ada aturan yang jelas dari kampus tentang perbuatan tersebut.Berdasarkan penemuan tersebut, maka dibuatlah Karya Bidang berupa video reportase investigasi, yang bertujuan untuk mengungkapkan fakta bahwa jaringan Wi-Fi di beberapa universitas di Semarang, telah disalahgunakan untuk mengakses dan mengunduh konten porno. Pembuatannya dilakukan dengan berlandaskan teori-teori jurnalistik, khususnya mekanisme jurnalisme investigasi menurut Sheila CoronerPara wartawan investigasi memaparkan kebenaran yang mereka temukan, melaporkan adanya kesalahan-kesalahan, dan menyentuh masyarakat untuk serius terhadap soal yang dikemukakan, mengafeksi masyarakat dengan bacaan moral yang dikumpulkannya (Santana. K, 2003; 97). Untuk menelusuri fakta, paraGambar 1.2. Sebuah situs porno yang sedang diaksesviwartawan investigasi melakukan kegiatan investigative reporting. Kegiatan nvestigative reporting merupakan kegiatan peliputan yang mencari, menemukan, dan menyampaikan fakta-fakta adanya pelanggaran, kesalahan, atau kejahatan yang merugikan kepentingan umum dan masyarakat (Santana. K, 2003; 135).Karya Bidang akan ditayangkan di salah satu program yang adadi Cakra Semarang TV, dengan mempertimbangkan segmentasi penonton. Segmentasi penonton didapatkan stelah diketahui nilai berita (news value), yang diantaranya: konsekuensi peliputan dan penayangan, diharapkan bisa mempengaruhi kebijakan beberapa universitas terkait fasilitas Wi-Fi, kedekatan dengan aspek-aspek dunia pendidikan, kemasyuran karena melibatkan institusi pendidikan tinggi ternama di Semarang, serta sifatnya yang baru (tindakan penyalahgunaan Wi-Fi dilakukan baru-baru ini).BAB IIGAMBARAN UMUMUntuk mencegah pengaksesan situs-situs bermuatan pornografi di area kampus, pihak pengelola Wi-Fi telah melakukan beberapa upaya. Dari hasil penelusuran di kampus-kampus yang terdapat di kota Semarang, kami menemukan bahwa hampir semua kampus tersebut telah menerapkan sistem otentifikasi dan filter situs porno.Sistem otentifikasi digunakan untuk membatasi pengguna hanya sebatas mahasiswa universitas bersangkutan. Setiap mahasiswa diberikan username dan password tertentu. Menurut dosen dan praktisi teknologi informasi, Dr. RidwanviiSanjaya, setiap akses internet dapat dilacak. Dengan sistem tersebut,diharapkan mahasiswa akan berpikir dua kali jika akan mencoba membuka situs-situs porno.Selain otentifikasi, juga dterapkan sistem filter. Sistem filter yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah Nawala dari Yayasan Nawala Nusantara (http://www.nawala.org). Nawala akan membantu menepis jenis situs-situs negatif yang tidak sesuai dengan peraturan perundangan, nilai dan norma sosial, adat istiadat dan kesusilaan bangsa Indonesia seperti pornografi dan perjudian.Daftar situs-situs yang dinilai mengandung unsur-unsur tersebut terus diperbarui, sehingga akan mengurangi kemungkinan pengguna internet yang bisa mengaksesnya. Jika ada pengguna yang mencoba membuka situs-situs yang ada dalam sistem database, maka akses akan ditolak.BAB IIIPELAKSANAAN, EVALUASI DAN ANALISIS KERJA3.1 Pelaksana Kerja Tahap Produksi3.1.1 ProduserProduser adalah orang yang memegang pimpinan dalam sebuah produksi program siaran televisi, tugasnya melaporkan kepada produser eksekutif, yang bertanggung jawab pada pelaksanaan produksi. (Darwanto, 2007; 161).viii3.1.2 ReporterSesuai dengan proses kerja investigasi yang diuraikan Sheila Coroner (Santana. K, 2003; 170-177), maka reporter melakukan tugas-tugasnya sebagai berikut:1. Pencarian petunjuk awal (first lead).Reporter mencoba melakukan akses internet di area-area Wi-Fi kampus yang diinformasikan oleh narasumber.2. Investigasi pendahuluan (initial investigation).Reporter berkeliling ke lima buah kampus yang ada di kota Semarang, untuk mengetahui bagaimana para mahasiswanya memanfaatkan fasilitas Wi-Fi.3. Pembentukan hipotesis (forming an investigative hypotesis).Ada mahasiswa dari beberapa kampus di Semarang yang bisa mengakses konten porno melalui jaringan Wi-Fi kampusnya. Mereka sengaja memanfaatkan kelonggaran sistem keamanan jaringan Wi-Fi yang ada di kampusnya.4. Pencarian dan pendalaman literatur (literature search).Reporter menelusuri berita-berita terkait penyalahgunaan internet untuk akses situs porno, data-data pelanggaran, serta ada tidaknya peraturan yang mengatur pemanfaatan internet dan akses pornografi.5. Wawancara dengan pakar dan sumber ahli (interviewing experts).Wawancara dengan Adian Fathurrahman, Ketua Bidang Jaringan dan Insfrastruktur, Puskom IT Undip.ix6. Penjejakan dokumen-dokumen (finding a paper trail).Reporter mempelajari undang-undang mengenai teknologi informasi dan pornografi. Didapatkan Undang-undang no.11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, serta UU no.44/2008 tentang Pornografi.7. Wawancara dengan sumber kunci dan saksi (interviewing key informants and sources).Reporter melakukan wawancara dengan beberapa mahasiswa yang diduga pernah mengakses situs porno di area Wi-Fi kampus.8. Pengamatan langsung di lapangan (first hand observation).Reporter kembali melakukan penelusuran di kampus-kampus di kota Semarang. Pada tahap kegiatan ini, reporter berhasil menemukan seorang mahasiswa oknum pelaku yang kedapatan sedang mengakses situs porno di kampus A.9. Pengorganisasian file (organizing file).Berbagai keterangan dan data yang sudah didapatkan telah ditulis serta direkam secara audio-visual. Selain itu, juga ditentukan daftar narasumber yang akan diwawancarai.10. Wawancara lebih lanjut (more intreviews).Reporter melakukan wawancara dengan praktisi teknologi informasi, tokoh pendidikan, serta psikolog sosial di Kota Semarang.11. Analisis dan pengorganisasian data (analyzing and organizing data).Ada lima orang mahasiswa pelaku yang bersedia diwawancarai. Sebagian besar dari mereka tidak mengetahui adanya UU Pornografi dan ITE. Sedangkan pihak kampus sendiri, belum membuat aturan dengan sanksi yang jelas. Selamaxini, kampus lebih berperan dalam memberikan anjuran-anjuran, seperti melalui dosen-dosen di kelas, serta peraturan akademik.3.1.3 Penulis Naskah (Scriptwriter)Naskah dibuat dalam beberapa segmen dengan rincian garis besar tema yang akan dibahas (Darwanto, 2007; 165): 1. Segmen I: Pengenalan tema dan kasus yang dibahas, 2. Segmen II: Jembatan penghubung antara kasus dengan pihak-pihak yang berhubungan dengannya, 3. Segmen III: Rangkaian pendapat narasumber dan kesimpulan.3.2 Pelaksana Kerja Tahap Produksi3.2.1 ProduserDalam tahap produksi, produser melakukan beberapa tugas, yaitu perijinan pemakaian tempat, perijinan peminjaman alat dan tanggungjawab terhadap kru.3.2.2 ReporterDalam tahap produksi, reporter bekerja sama dengan kamerawan untuk melakukan wawancara. Wawancara dilakukan dengan lebih mempertimbangkan kepentingan pengambilan gambar.3.2.3 Pengarah ProduksiTugas-tugas yang dilakukan pengarah acara adalah: menentukan lokasi-lokasi pengambilan gambar sesuai panduan naskah, menyiapkan storyboard untuk pengambilan gambar presenter, menyiapkan dan mengarahkan prompter,ximenyiapkan baju presenter saat pengambilan gambar presenter, menjadi asisten kamerawan, mengatur tata artistik gambar, mengatur pencahayaan gambar.3.2.4 KamerawanPengambilan gambar wawancara narasumber dilakukan dengan menggunakan bantuan tripod. Tujuannya adalah menjaga stabilitas gambar, agar tidak goyang. Ada tiga hal yang diperhatikan dalam pengambilan gambar ini. Yakni latar belakang gambar, bahasa gambar, serta komposisi gambar.Sedangkan pengambilan gambar-gambar yang mendukung naskah dan narasi, lebih banyakdilakukan tanpa bantuan tripod. Yang diperhatikan dalam pengambilan gambar ini adalah bahasa gambar, bahasa kamera dan komposisi gambar. Kamerawan juga melakukan pengambilan gambar secara terselubung atau sembunyi-sembunyi (hidden camera). Pengambilan gambar tersebut dilakukan saat merekam aktifitas oknum mahasiswa di kampus A. Kamerawan merekam dari kejauhan, serta melindungi kamera dengan tas, agar tidak mencolok.3.3 Pelaksana Kerja Tahap Paska Produksi3.3.1 Editor GambarEditor gambar bertugas untuk melakukan penyuntingan dan penyusunan gambar sesuai dengan naskah editing (Darwanto, 2007; 177). Sebelumnya, editor video melakukan pemindahan data-data gambar dan suara. Data-data tersebutxiidipindahkan dari media kaset mini DV menuju hard disk komputer dan hard disk eksternal.3.3 Evaluasi KerjaEvaluasi dilakukan oleh produser eksekutif dari Cakra TV, Purnomo Awari. Terdapat beberapa hal yang menjadi catatan beliau dalam evaluasi ini. Ada beberapa masukan, seperti kurangnya tingkat kedalaman naskah investigasi, pengambilan gambar untuk dua buah wawancara yang kurang baik, serta beberapa gambar dinilai kurang pencahayaan3.4 Analisis KerjaDari keseluruhan evaluasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa ada beberapa ketrampilan untuk membuat sebuah karya investigasi yang baik. Ketrampilan dalam merencanakan sebuah program televisi yang dikuti dengan ketrampilan membuat dan mengolah audio dan video. Ketrampilan tersebut harus diimbangi dengan pengetahuan dan wawasan yang luas, agar menghasilkan kedalaman dalam penulisan naskah investigasi.Seperti yang dikatakan Rosihan Anwar, terdapat dua tipe wartawan, yakni yang wartawan yang mahir menggunakan keahlian teknik kerja (The Common Garden Journalist), dan ada wartawan yang selalu berpikir bagaimana membuat suatu informasi yang efektif (The Thinker Journalist). (Kuswandi, 1996; 52). Oleh karena itu, untuk membuat suatu karya jurnalistik yang baik, diperlukan kemampuan berpikir mendalam, yang ditunjang pula dengan ketrampilan praktis.xiiiBAB IVPENUTUP4.1 Simpulan1. Ada mahasiswa dari kampus-kampus di Semarang yang mengakses dan mengunduh konten porno lewat jaringan Wi-Fi kampusnya.2. Ada mahasiswa yang bisa menggunakan cara-cara khusus untuk menembus sistem filter situs porno4.2 Saran4.2.1 Bagi Tim:1. Tema investigasi sebaiknya diangkat dari suatu kontroversi yang dikuatkan oleh pendapat narasumber-narasumber berpengaruh.2. Standar ukuran video untuk tayangan di Cakra Semaramg TV adalah gambar dengan format .avi dengan dimensi 720x576, serta kualitas suara stereo.4.2.2 Bagi Perguruan Tinggi:Bagi perguruan tinggi, perlu menerapkan sistem otentifikasi dan filter yang merata di setiap titik akses. Perlu juga untuk mulai menerapkan aturan yang tegas bagi tindakan penyalahgunaan jaringan Wi-Fi.4.2.3 Bagi Mahasiswa:Disarankan kepada mahasiswa agar memanfaatkan Wi-Fi gratis di kampus untuk kepentingan-kepentingan seperti akses jurnal ilmiah, berita, informasi dan referensi. Porsi pemanfaatan untuk hal-hal tersebut sebaiknya lebih besar dibandingkan untuk akses situs-situs hiburan.xivDAFTAR PUSTAKABuku:Darwanto. (2007). Televisi sebagai Media Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Belajar.Gaines, William.C. (2007). Laporan Investigasi untuk Media Cetak dan Siaran. Jakarta: ISAI.Ishwara, Luwi. (2007). Catatan-catatan Jurnalisme Dasar (3th ed.). Jakarta: Penerbit Buku Kompas.Kovach, Bill., dan Rosenstiel, Tom. (2006). Sembilan Elemen Jurnalisme. Jakarta: Yayasan Pantau.Kusumaningrat, Hikmat., dan Kusumaningrat, Purnama. (2005). Jurnalistik: Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.Kuswandi, Wawan. (1996). Komunikasi Massa: Sebuah Analisis Media Televisi. Jakarta: Rineka Cipta.Muda, Deddy Iskandar. (2003). Jurnalistik Televisi. Bandung: Remaja Rosdakarya.Santana.K, Septiawan. (2003). Jurnalisme Investigatif. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.Santana.K, Septiawan. (2005). Jurnalisme Kontemporer. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.Subroto, Darwanto. S. (1994). Produksi Acara Televisi. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.Wahyudi, J.B. (1994). Dasar-dasar Manajemen Penyiaran. Jakarta: Gramedia.Wibowo, Fred. (1997). Dasar-dasar Produksi Program Televisi. Jakarta: Grasindo.Vivian, John. (2008). Teori Komunikasi Massa (8th ed.). Jakarta: Kencana.xvE-book:De Burgh, Hugo. (2008). Investigative Journalism (2nd ed.). New York: Routledge.Hill, David.T and Sen, Krishna. (2005). Internet in Indonesia New Democracy. New York: Routledge.Internet:Diakses pada 20 November 2011, pukul 22.00-22.15 WIB:http://anggara.org/2008/03/26/uu-informasi-dan-transaksi-eletronik-uu-ite-adalah-ancaman-serius-bagi-bloger-indonesia/http://anggara.files.wordpress.com/2008/03/uu-ite.pdfhttp://blanov.blogspot.com/2009/03/pengenalan-Wi-Fi.htmlhttp://ebookbrowse.com/makalah-seminar-keamanan-Wi-Fi-uny-josua-m-sinambela-pdf-d27203760http://www.4shared.com/document/U4tIsU0F/konfigurasi-jaringan-hotspot.htmlDiakses pada 22 November 2011, pukul 13.11-13.45 WIB:http://www.batan.go.id/prod_hukum/extern/uu-ite-11-2008.pdfhttp://www.lipi.go.id/intra/informasi/1250035982.pdfhttp://id.wikipedia.org/wiki/Undang-undang_Informasi_dan_Transaksi_Elektronikhttp://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/11/11/17/luszsf-uu-ite-digunakan-untuk-kepentingan-orang-berduithttp://www.bloggerceria.com/2009/06/cara-pasang-Wi-Fi-router-murah.htmlhttp://blog.fastncheap.com/cara-mudah-mencari-driver-komputer-dan-laptop/22 nov 11http://elesmana23.blogspot.com/2011/06/jumlah-pc-notebook-dan-netbook-di.htmlDiakses pada 27 November 2011, pukul 12.50-13.15 WIB:http://tekno.kompas.com/read/2010/07/30/1338421/Prospek.Pasar.Laptop.Semakin.Topxvihttp://rinismanca.blogspot.com/2008/04/penyalahgunaan-internet-di-kalangan.htmlhttp://niasbarat.wordpress.com/2008/04/08/bahaya-penyalahgunaan-media-internet-dan-upaya-penanganannya/Diakses pada 1 Januari 2012, pukul 19.00-20.00 WIB:http://budiawan-hutasoit.blogspot.com/2011/01/ini-dia-statistik-situs-porno-di.htmlhttp://www.poskota.co.id/berita-terkini/2010/04/23/ratusan-situs-porno-muncul-tiap-harihttp://www.lintasberita.com/Dunia/Berita-Dunia/fakta-menyedihkan-ternyata-indonesia-pengakses-situs-porno-terbesar-dunia-dampak-perkembangan-teknologi-informasihttp://www.catatanteknisi.com/2011/11/pengertian-definisi-jaringan-wifi.htmlhttp://www.catatanteknisi.com/2011/11/wireless-access-point.htmlhttp://www.inherent-dikti.nethttp://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2008/04/10/8420/Pengguna- Terbanyak-Kata-Kunci-Porno-di-InternetDiakses pada 10 Januari 2012, pukul 19.00-21.00http://habibimustafa.wordpress.com/2010/02/18/mengenal-wi-fi-wireless-fidelity/http://www.inherent-dikti.nethttp://www.goenawanb.com/it/pengertian-bandwidth/18oktober2011http://www.agungsulistyo.wordpress.com/2007/06/06/apakah-malware-itu/http://www.isi-dps.ac.id/berita/televisi-sebagai-konstruksi-realita-bagian-iiDiakses pada 17 Juli 2012, pukul 07.00 WIBhttp://asiaaudiovisualexc09adibganteng.wordpress.com/investigative-reporting-peran-media-dalam-membongkar-kejahatan/

Penerapan Konsep Pencitraan Politisi Di Media Twitter

Interaksi Online Vol 1, No 2 (2013): Wisuda April
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PENDAHULUANLatar BelakangPenggunaan Twitter dinilai lebih simple, karena tampilannya yang sederhana,hanya ada satu halaman utama yang menyajikan menu-menu utama dalamTwitter. Sangat berbeda dengan Facebook, Friendster, atau jejaring sosial lainyang terkesan lebih menyulitkan dalam berkirim pesan, karena harus melihatprofil dari yang dituju terlebih dahulu. Selain itu, simple disini juga berartipemakaian 140 karakter yang dinilai efektif dan efisien dalam berkirim pesan,tidak bertele-tele dan tepat sasaran. Status dan pesan kepada orang lain beradadalam satu kontrol. Bila tanpa mention maka otomatis menjadi “status”, apabiladiberi mention (@username) maka otomatis menjadi pesan yang bisa dibaca olehsi penerima pesan.Tergabungnya para artis, politisi dan tokoh lain dalam Twitter tak pelakmenimbulkan dorongan baru bagi para onliners untuk membuat account Twitter.Hal tersebut tidak lepas dari aura trendsetter yang ada pada diri para tokohtersebut. Berbondong-bondong para penggemar membuat account Twitter untukdapat mengetahui keseharian dan kegiatan dari sang idola.(http://media.kompasiana.com/new-media/2011/05/25/)Untuk politisi sendiri, Twitter berguna sebagai ajang mencari citra dansimpati kepada masyarakat yang memfollow akun politisi tersebut. Aspek-aspekpencitraan tersebut dapat dilihat dari berbagai pendekatan, mulai dari kata-katayang terkesan meminta simpati secara langsung atau tidak langsung maupunpendekatan yang bersifat akrab dengan masyarakat. Penerapan konsep pencitraanyang digunakan adalah untuk menarik simpati masyarakat. Twitter dipilih politisisebagai alat untuk melakukan pencitraan, hal tersebut dikarenakan, media Twitteradalah media yang sedang populer saat ini, efektif dan mudah berhubungandengan masyarakat sebagai tujuananya.Melihat hal tersebut para politisi dengan cermat menerapkan konseppencitraan di media sosial seperti Twitter, penerapan konsep yang dimaksudadalah strategi pencitraan positif sbagai strategi yang ampuh untuk meraup5dukungan publik secara luas, pola kerjanya mengedepankan peranan media dankecanggihan teknologi sehingga terbuka pula kesempatan dan peluang bagipraktik kekuasaan yang mengedepankan penguasaan atas simbol dan jugakekerasan secara simbolik.Mengamati fenomena tersebut, hal inilah yang menarik untuk diteliti, penelitimerasa perlu untuk mengetahui aplikasi penerapan konsep pencitraan politisidalam media sosial Twitter.BATANG TUBUHPencitraan KinerjaDalam 4 unsur pencitraan yang penulis golongkan, diantaranya terdapat 1 unsuryang akan dibahas dalam sub bab ini, berdasarkan deskripsi di bab sebelumnya,terdapat 2 politisi yang menuliskan tentang pencitraan kinerja di akun mediajejaring sosial Twitter miliknya. Politisi tersebut adalah Denny Indrayana selakuWamenkumham dan Ruhut Sitompul selama periode 2 bulan terakhir. Sementara5 politisi lain tidak terindikasi menuliskan tweet pencitraan kinerja di akun mediajejaring sosial yang mereka miliki.BuchariAlma (2008:55) citra adalah serangkaian kepercayaan yangdihubungkan dengan sebuah gambaran yang dimiliki atau didapat daripengalaman. Untuk membentuk citra positif dari masyarakat khususnya followersDenny dan Ruhut menerapkan konsep pencitraan kinerja untuk memperolehkepercayaan masyarakat, dengan menunjukan hasil kinerjanya kepadamasyarakat. Herbert Blumer dan Elihu Katz ( Hafied Cangara, 2009 : 119)mengatakan bahwa pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih danmenggunakan media tersebut. Dengan kata lain, pengguna media adalah pihakyang aktif dalam proses komunikasi. Pengguna media berusaha mencari sumbermedia yang paling baik di dalam usaha memenuhi kebutuhannya. Artinyapengguna media mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya,Denny Indrayana adalah sosok fenomenal yang sempat menggemparkan publikdengan sepak terjangnya memerangi mafia – mafia hukum.6Pencitraan ReligiusDalam unsur pencitraan religius, terdapat 4 politisi yang menerapkan konseppencitraan ini didalam akun media jejaring sosial mereka, yaitu PrabowoSubianto, Ruhut Sitompul, Anas Urbaningrum dan Aburizal Bakrie. Jika melihatlatar belakang 4 politisi tersebut, politisi-politisi tersebut pernah tersandung kasus,diantaranya kasus pelanggaran HAM dan penculikan aktifis 98 oleh PrabowoSubianto, Pelanggaran kode etik DPR oleh Ruhut Sitompul, dugaan korupsi megaproyek Hambalang oleh Anas Urbaningrum dan lumpur lapindo oleh AburizalBakrie. Karena kasus-kasus tersebut pernah di beritakan secara terus menerus olehmedia nasional maupun lokal, secara otomatis kebanyakan masyarakat akanberfikiran bahwa ke 2 politisi tersebut mempunyai kepribadian yang buruk, danuntuk mengembalikan citra positif mereka dimata publik, maka para politisitersebut “merangkul kembali” masyarakat dengan tweet-tweet religius parapolitisi, paradigma dimasyarakat adalah, orang-orang yang baik adalah orangorangyang dekat dengan Tuhan.Freud (Alwisol, 2010 : 162 ), Seseorang akan bertahan dengan caramemblokir seluruh dorongan-dorongan atau dengan menciutkan dorongandorongantersebut menjadi wujud yang lebih dapat diterima konsepsi dan tidakterlalu mengancam. Cara ini disebut mekanisme pertahanan diri atau mekanismepertahanan ego/Ego Defense Mechanism. Wujud disini penulis masukan kedalampenulisan tweet-tweet dari politisi-politisi, dengan menuliskan tweet pencitraanreligius para politisi berharap akan diterima kembali dimasyarakat setelah apayang mereka lakukan. Dalam teori Uses &Gratifications (Kegunaan danKepuasan) oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz (Hafied Cangara, 2009 : 120)mengatakan bahwa pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih danmenggunakan media tersebut. Dengan kata lain, pengguna media adalah pihakyang aktif dalam proses komunikasi. Pengguna media berusaha mencari sumbermedia yang paling baik di dalam usaha memenuhi kebutuhannya. Artinyapengguna media mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya.7Para politisi selaku pelaku dan pengguna media jejaring sosial twitter,menggunakan konsep pencitraan religius ini karena suatu kebutuhan untukmemuasakan kebutuhannya.Pencitraan SosialPenerapan konsep pencitraan sosial inilah yang menjadi “andalan” parapolitisi untuk melakukan pencitraan, bagaimana tidak, seluruh subjek politisiterindikasi menuliskan pencitraan sosial kedalam akun media jejaring sosial milikmereka, mulai dari Denny Indrayana, Ruhut Sitompul, Anas Urbaningrum,Aburizal Bakrie, Prabowo Subianto, Dede Yusuf dan Rustriningsih, pencitraansosial yang dimaksud adalah cara yang dilakukan politisi untuk menarik simpatimasyarakat khususnya para Followers dengan cara yang halus, misalnyamemanggil dengan sapaan “sahabat”, memeberikan feedback kepada parafollowers sampai dengan pemberian bantuan kepada masyarakat demi sebuahkepentingan. Secara sederhana dapat disebutkan bahwa empati adalahkemampuan menempatkan diri pada situasi dan kondisi orang lain. Dalam hal iniK. berlo (Hafied Cangara, 2009 : 121). memperkenalkan teori yang dikenaldengan nama influence theory of emphaty (teori penurunan dari penempatan dirikedalam diri orang lain). Artinya, komunikator mengandaikan diri, bagaimanakalau ia berada pada posisi komunikan. Dalam hal ini individu memiliki pribadikhayal sehingga individu-individu yang berinteraksi dapat menemukan danmengidentifikasi persamaan-persamaan dan perbedaan masing-masing, yangkemudian menjadi dasar dalam mmelakukan penyesuaian. Untuk mengetahui apayang masyarakat inginkan, terlebih dahulu para politisi harus mengerti betul apaitu empati, dalam hal ini pencitraan sosial yang politisi tidak terlepas dari halempati, bagaimana tidak? Bayangkan saja ketika kita disapa dengan kata“sahabat” oleh orang yang menjadi public figure atau orang yang dikenal banyakorang, pasti akan tersirat rasa bangga tersendiri, demikian pula konsep pencitraansosial yang bertema pemberian bantuan, jika kita menerima bantuan, pasti kitamerasa senang sebagai pihak yang dibantu.Menurut K. Berlo (Hafied Cangara, 2009 : 121), didalam teori emoatiterdapat 2 golongan teori, yaitu :81.Teori Penyimpulan (inference theory), orang dapat mengamati ataumengidentifikasi perilakunya sendiri.2.Teori Pengambilan Peran (role taking theory), seseorang harus lebih dulumengenal dan mengerti perilaku orang lain.Para politisi melakukan hal yang membuat masyarakat senang untuk menarikperhatian masyrakat, yaitu dengan melakukan hal yang menurut masyarakat harusdibenahi, dan yang tidak disukai masyrakat kemudian para politisi melakukan halitu untuk memperoleh citra baik politisi di masyarakat.Penerapan konsep Pencitraan sosial digunakan oleh para politisi untukkepentingannya masing-masing, diantaranya adalah untuk menarik simpati publikdi media jejaring sosial Twitter dalam Pilgub dan Pilpres, para politisiberbondong-bondong menuliskan tweet dan menshare foto yang penulis berijudul “dekat dengan masyarakat”untuk media kampanyenya dimedia Twitter.Menurut Richard A. Joslyn dalam Swanson (Hafied Cangara, 2009 : 284)melukiskan kampanye politik tidak ada bedanya dengan sebuah adegan dramayang dipentaskan oleh para aktor-aktor politik.Adegan drama yang penulis simpulakan dari Richard A. Joslyn tersebutadalah, ketika tiba saatnya politisi memiliki kepentingan, maka politisi akanmembangun pencitraan mereka dengan citra yang positif, dan tidak sesuai denganrealita sebenarnya, untuk “mengelabui” atau hanya sekedar untuk menarik simpatipublik. Pencitraan sosial ditemukan atau terindikasi dalam semua tweet dipolitisiyang penulis teliti. Hal ini menunjukan, unsur pencitraan sosial adalah unsureyang menurut penulis paling bisa mempengaruhi followers atau masyarakat.Pencitraan PolitikSesuai dengan unsur Pencitraan politik yang penulis definisikan sebagaipencitraan yang meiliki kepentingan politik dan mengikut sertakan kepentinganlain, bukan hanya individu dari politisi itu sendiri, contohnya adalah partai yang didinaungi oleh politisi tersebut.Dalam unsur pencitraan politik ditemukan 5 politisi yang menggunakankonsep tersebut untuk pencitraan di akun media jejaring sosial para politisi.Diantarany adalah Prabowo Subianto dari partai Gerindra (Gerakan Indonesia9Raya), Ruhut Sitompul eks Partai Demokrat, Anas Urbaningrum dari PartaiDemokrat, Aburizal Bakrie dari Partai Golkar (Golongan Karya) danRustriningsih dari PDI Perjuangan (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan).Keloyalitasan para politisi yang berangkat menjadi politisi dengan berlatarbelakang Dependent (dari partai politik) seolah-olah menjadi hal wajib untuk ikutserta mencitrakan partai yang dinaunginnya dan para tokoh partai didalamnya.Contohnya ketika Anas menuliskan tentang kerja keras para anggota partainyaketika membantu korban banjir dan menuliskan tentang sosok presiden yang baik(SBY) didalam akun media jejaring sosial Twitter miliknya, dan Pemimpin partaiGerindra, Prabowo Subianto juga melakukan hal tersebut, demikian pula AburizalBakrie. Partai Demokrat yang mempunyai banyak anggota bermasalah dansemakin diperparah dengan konflik intern didalamnya membuat Anas sebagaipemimpin partai Demokrat aktif melakukan pencitraan politik agar masyarakattetap mengangap partai Demokrat sebagai partai yang memiliki integritas.Nimmo dan Thomas Ungs (Hafied Cangara, 2009 : 285) melihat bahwasebuah perencanaan kampanye politik sedapat mungkin harus melalui tiga fase,yakni:1. Fase pengorganisasian (organizing phase)2. Fase pengujian (testing phase)3. Fase kritis (critical phase).Fase pengorganisasian, yakni kapan staf, informasi, dan dana dikumpulkan,strategi dan praktek yang diterapkan, dan semangat kelompok dibangkitkan untukpengurus dan anggota. Fase pengujian kampanye (testing phase), yakni kapancalon menggalang para anggota dan menawarkan kemudahan-kemudahan kepadaorang yang belum menjadi anggota. Langkah terakhir adalah fase kritis (criticalphase) di mana kampanye mencapai suatu titik di mana calon pemilih (voters)belum menentukan sikap terhadap partai atau siapa yang akan didukung ataudipilih.Kandidat dan partai adalah 2 unsur yang tidak bisa dipisahkan, ke 2nyamempunyai bagian-bagian yang saling melengkapi dan saling menguntungkan,atau bisa dikenal dengan istilah win-win solutions. Dalam hal ini, para politisi10yang berlatar belakang berangkat dari partai akan mengangkat citra partainya,sebagai timbale baliknya, partai akan berjuang untuk membantu politisi dalampencitraannya, dengan tujuan mempengaruhi dan mencari simpati publik.KESIMPULAN DAN SARANKesimpulanKemunculan Media Jejaring Sosial Twitter sebagai media baru telah mengubahdunia politik. Sebagai media baru, banyak peran penting Twitter untuk politisiyang tergabung didalamnya, dengan media jejaring sosial Twitter, para politisidapat berhubungan langsung kepada masyarakat khusunya Followersnya. Apapunyang mereka inginkan dapat mereka tulis untuk selanjutnya disebarkan, sepertimisalnya kinerja mereka, bencana alam, kepentingan politik, dan lain-lain dapattersebar luas kepada semua orang diseluruh penjuru dunia melalui Twitter.Pemberitaannya bahkan mengalahkan kecepatan media informasi yang lain.Kegiatan pencitraan tidak hanya dilakukan politisi di media massa (TV, radio,Koran) . Tetapi media baru, Twitter dapat melakukan kegiatan pencitraan.Sebenarnya pemegang akun media jejaring sosial Twitter bisa menggunakanyasesuai dengan kepentingannya masing-masing. Jumlah karakter yang hanya 140itu merupakan kekurangan dari media jejaring sosial Twitter, karena orang tidakakan mampu menjelaskan sesuatu secara gamblang dengan space sekecil itu.Tetapi ada juga yang menilai bahwa itulah yang menjadi senjata ampuh Twitterdalam menyampaikan suatu hal yang diinginkan oleh pemilik akun. Masyarakatdituntut untuk menyampaikan sebuah fakta yang jelas hanya dalam 140 karakter.Terlepas dari perdebatan di atas, media jejaring sosial Twitter sebagai mediapencitraan politisi memberikan kesempatan kepada politisi untuk berinteraksidalam ruang publik pada sebuah situasi yang sebelumnya tidak dirasakan padamasa kejayaan media mainstream. Sistem yang baru ini memberikan kemudahankepada politisi untuk memenuhi kepentingannya, biasanya para politisi yang akanmelakukan pencitraan harus memebayar kepada media untuk meliput, dan11memberitakan citra yang positif si politisi, dengan munculnya Twitter, parapolitisi akan lebih mudah dan murah untuk melakukan pencitraannya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Twitter memang mendukung penerapankonsep pencitraan politisi. Ide pencitraan politisi muncul ketika politisi melihatpeluang “emas” untuk menarik simpati publik dengan cara yang relatif mudah danmurah. Penerapan konsep pencitraan dalam Twitter dilakukan dengan :1. Para politisi Menuliskan tweet-tweet yang berisikan kinerja mereka untukmempengaruhi publik khususnya para Followers yang memfollow akun politisi,dengan begitu para followersnya yang memfollow akun politisi tersebut akanberfikiran bahwa, politisi tersebut adalah politisi yang berkompeten danbertanggung jawab dalam bidangnya. Penerapan konsep pencitraan kinerja tidakterlalu popular di kalangan politisi, karena dari 7 politisi yang dianalisa penulis,hanya 2 politisi yang menerapkan konsep kinerja di akun media jejaring sosialTwitter miliknya.2. Politisi menuliskan tweet yang berisikan konten yang bersifat religius, untukmempengaruhi dan menarik simpati publik, khususnya para followersnya.Menurut paradigm masyarakat, orang yang baik adalah orang yang beragama,karena dalam agama terdapat ilmu-ilmu yang mengajarkan kebaikan. Haltersebutlah yang membuat politisi menerapkannya dalam akun media jejaringsosia Twitter mereka. Dari 7 politisi yang penulis analisa, terdapat 4 politisi yangmenerapkan konsep pencitraan di akun media jejaring sosial twitternya. Namuntidak menutup kemungkinan bahwa tweet religius yang di tuliskan oleh parapolitisi di akun media jejaring sosial milik mereka adalah sifat asli mereka,sebagai mahluk Tuhan yang beragama dan patuh akan Tuhannya.3. Politisi Menuliskan tweet yang berisikan konten sosial, untuk mempengaruhidan menarik simpati publik khususnya para Followers yang mengikuti akunpolitisi tersebut. Sifat sosial dan bersosialisasi adalah bentuk sifat manusia, karenamanusia tidak dapat hidup sendiri, selaku publik figur, banyak politisi yangmemanfaatkan ketenarannya untuk menarik simpati rakyat, mulai dengan dekat12dengan rakyat, sampai membantu rakyat yang sedang kesusahan, hal tersebutsangat dimanfaatkan politisi dalam konsep pencitraan yang diterapkanya, dalamhal ini adalah pencitraan sosial. Konsep Pencitraan ini tergolong konsep yang“laris manis” yang diterapkan para politisi dimedia jejaring sosial Twittermiliknya. Dari 7 politisi yang penulis analisa tweet-tweetnya, semua politisitersebut menerapkan konsep pencitraan ini.4. Para politisi menuliskan tweet yang berisikan konten politik, apalagi politisiyang menggunakan jalur dependent, atau yang terikat oleh partai tidakmelenggang sukses dengan sendirinya, tetapi partai ikut andil bagian dalammembesarkan nama dan citranya. Oleh karena itu partai dan politisi adalah 2unsur yang saling membutuhkan, partai perlu politisi untuk tetap eksis, demikianpula politisi. Salah satu bagian politisi adalah ikut mencitrakan partainya secarabaik dimata masyarakat, dengan menuliskan kebaikan partainya di Akun mediajejaring sosial Twitter miliknya. Dari 7 politisi yang penulis analisa, terdapat 5politisi yang menerapakan konsep pencitraan partainya.5.2. Saran5.2.1 Secara TeoritisPenelitian ini berusaha mengembangkan pemikiran akademis atau teoritik dalampenerapan konsep pencitraan oleh politisi dimedia jejaring sosial Twitter.Sehingga penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi peneliti lainyang ingin melakukan penelitian dengan tema sejenis atau tertarik dengan konsepyang digunakan politisi untuk pencitraan dirinya. Namun pada penelitianselanjutnya dapat menggunakan metode yang berbeda yaitu metode penelitiankuantitatif dan menggunakan unit analisis yang berbeda, semisal pengaruhpencitraan politisi terhadap tingkat kepercayaan masyarakat.5.2.2 Secara PraktisMedia dapat menjadi alat komunikasi untuk menjadi sebuah identitas individu.Dengan banyaknya fungsi media hendaknya masyarakat terutama politisi dapat13menggunakan fungsi media dengan baik dan bijaksana, selaku publik figursetidaknya politisi memberikan informasi yang mendidik dan sesuai dengan hatinurani politisi. Misalnya menuliskan tentang ilmu-ilmu politik, hukum atauapapun yang politisi kuasai ilmunya. Atau menuliskan tentang kebeneran suatumasalah yang mereka ketahui. Bukan hanya untuk kepentingan mereka tetapiuntuk menambah ilmu para followersnya. Pencitraan sebenarnya sah untukdilakukan para politisi, asal tidak terlalu berlebihan, karena hal tersebut yangnantinya akan merusak citra mereka sendiri. Masyarakat, sekarang ini sudahpintar mengkritisi, mana yang benar-benar baik, dan mana yang di setting menjadibaik, jadi ketika politisi terlalu “over” melakukan pencitraan, masyarakat akanberfikiran, kalau apa yang dilakukan politisi tersebut hanya untuk kepentingannyasendiri nantinya.5.2.3 Secara SosialMasyarakat luas, khususnya para Followers yang mengikuti akun media jejaringsosial Twitter dapat berpikir kritis dalam menyikapi pencitraan – pencitraan yangdituliskan oleh para politisi di akun media jejaring sosial twitter milik politisi.Dan sebaiknya masyarakat tidak tertuju dengan cuman satu media saja untukmenilai citra baik dan buruknya para politisi, masih banyak media lain untukmengetahui apakah politisi tersebut benar-benar baik atau tidak, dan apakah yangdituliskan politisi didalam akun media jejaring sosial twitter mereka adalahsebuah kenyataan atau tidak. Sebaiknya masyarakat pandai mengkritisi, agar tidaktepengaruh sifat tertulis politisi di twitter yang menuliskan citra baik untukberbagai kepentingan mereka, sudah sering para politisi terdahulu melakukan danmengedepankan citra baik dimasyarakat. Tetapi jika kepentingannya sudahterpenuhi, maka para politisi tersebut akan berubah, semisal politisi-politisi yangdulu dianggap baik malah banyak terjebak kasus, misalnya koruspi. Politisi yangbaik tidak akan mengumbar kebaikan dan akan mengakui kesalahannya..14DAFTAR PUSTAKABuku :Alwisol. (2010). Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.Buchari, Alma. (2008). Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Bandung :Alfabeta.Budiardjo, Miriam. (1978). Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta : GramediaBulaeng, Andi. (2004). Metode Penelitian Komunikasi Kontemporer. Yogyakarta: Andi.Cangara, Hafief. (2009). Komunikasi Politik: Konsep, Teori, dan Strategi. Jakarta:Raja Grafindo Persada.Jensen, Klaus Bruhn. Nicholas W. Jankowski (2002). A Handbook Of QualitativeMethodologies For Mass Communication Research. London and New York:Routledge.McQuail, Denis. (1987). McQuail’s Communication Theory. London:Sage Publications.Zuriah, Nurul. (2005). Metodologi Penelitian Sosial Dan pendidikan. Jakarta :Bumi Aksara.WEB :Pengertian dan definisi media. (2012) .dalamhttp://carapedia.com/pengertian_definisi_media_info2046.html diakses padatanggal 7 September pukul 13.10 WIB.PengertianPolitik.Dalamhttp://id.shvoong.com/law-andpolitics/politics/1935230-pengertian-politik/#ixzz25laPgmox. Diakses padatanggal 8 september 2012 pukul 13.32 WIB.Pengertianpolitik.Dalamhttp://ruhcitra.wordpress.com/2008/11/21/pengertian-politik/. Diakses pada tanggal 8 september 2012 pukul 13.35 WIB.Pencitraan.Dalamhttp://www.erepublik.com/en/article/pencitraan-1812550/1/20 . Diakses pada tanggal 8 september 2012 pukul 13.52 WIB.15Sejarah tehknlogi. Dalam http://sejarahteknologi.blogspot.com/. Diaksespada tanggal 8 september 2012 pukul 12.25 WIB.Twitter. Dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Twitter. Diakses pada tanggal7 september 2012 pukul 11.05 WIBTwitter dan Mahasiswa: Studi Kasus Penggunaan Twitter Sebagai MediaSosial dan Komunikasi pada Mahasiswa JPP Fisipol UGM Angkatan 2009.Dalam http://media.kompasiana.com. Diakses pada tanggal 8 september pukul13.10 WIB.

Analisis Isi: Propaganda dalam Pemberitaan VOA-ISLAM Terhadap Kepemimpinan Jokowi

Interaksi Online Vol 24, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Propaganda is a form of systematic communication which attempts to affect people’s worldview and behavior according to the interest of perpetrator of the propaganda. Mass media have a great role as medium for distributing the ideology of propaganda, and Voa-islam is no exception. As 2019 presidential election draw nearer, Voa-islam.com incessantly broadcasted series of news about Jokowi, who is an incumbent president, as the main object. This research aims to understand what form of propaganda is done by Voa-islam.com against Jokowi’s regime. The research uses descriptive quantitative approach and content analysis method with data analysis technic of frequency table by inputting data into tables categorically. Subject of the study is Jokowi. Paradigm in this research uses positivism and a theory called Agenda Setting theory. Result of this research shows that news from Voa-islam.com do not indicate a balance (cover both sides) characterized by the absence of informant from Jokowi’s side. The news from Voa-islam.com also tend to be biased and deploy hidden propaganda proven by the fact that most of the news do not mention Jokowi as the subject in them. From majority of the news made, Voa-islam.com uses propaganda technic called card stacking by taking groundless opinion from politician and public figure who are quoted from Twitter. Majority of moslem in Indonesia become the main target for Voa-islam.com news as mentioned in the redaction. Besides that, Voa-islam,com is one of the media which drives the mass emotional rising and leads to social movement in Internet such as symbolic aspiration of #2019GantiPresiden hashtag and several rallies by the people wearing clothes with #2019GantiPresiden on it as a part of opposition against Jokowi.

PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL INSTAGRAM DALAM PEMBENTUKAN IDENTITAS DIRI REMAJA

Interaksi Online Vol 24, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Instagram hadir sebagai media sosial yang menawarkan berbagai macam fitur dan fasilitas yang berbeda dengan media sosial pendahulunya. Saat ini Instagram memiliki jumlah pengguna aktif dengan pertumbuhan yang lebih pesat daripada Facebook. Berdasar survey yang dilakukan oleh firma penelitian pemasaran, GlobalWeb Index, pada kuartal ke empat 2013, tercatat Facebook hanya memiliki pertumbuhan pengguna aktif sebesar 3 persen, sedangkan Instagram mencapai 23 persen. Pengguna aktif Instagram yang dominan adalah remaja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penggunaan Instagram oleh remaja, dalam pembentukan identitas diri mereka. Teori yang digunakan adalah Teori Interaksionalisme Simbolik. Tipe penelitian kualitatif ini adalah Diskriptif Kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah Indepth Interview dan Studi Pustaka, jumlah informan yang diambil adalah 5 orang remaja, memiliki akun Instagram dan merupakan pengguna aktif Instagram. Remaja memanfaatkan Instagram sebagai sarana dalam mencari jati diri. Remaja yang menggunakan media sosial Instagram, memanfaatkan berbagai macam fasilitas yang dimiliki oleh Instagram untuk mengkontruksi identitas dirinya, dan sebagai wadah untuk unjuk diri. Pembentukan identitas diri dalam media sosial Instagram tersebut dipengaruhi oleh pikiran, pengalaman, dan masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, disarankan dalam memanfaatkan media sosial Instagram dapat dimanfaatkan dengan bijak, dan sesuai dengan norma budaya yang ada di Indonesia. Remaja dapat menggali lebih dalam potensi dirinya, dan mencari berbagai macam informasi dalam Instagram untuk menambah pengetahuan dan memperluas wawasan dalam hal positif.

FENOMENA GAYA HIDUP SELEBGRAM (STUDI FENOMENOLOGI SELEBGRAM AWKARIN)

Interaksi Online Vol 24, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Media sosial Instagram dijadikan sebagai media utama bagi khalayak sebagai sumber pemenuhan informasi. Pada Instagram, terdapat Selebgram Awkarin yang dianggap sebagai sosok yang sensasional. Konten yang terdapat pada media sosial Instagram Awkarin sering menimbulkan pro dan kontra diantara khalayak luas. Konten yang sering menjadi viral menciptakan fenomena pada kehidupan khalayak. Seperti pemberitaan fenomena gaya hidup selebgram Awkarin yang tersebar luas pada portal-portal berita dan media sosial yang berhasil menarik perhatian khalayak. Hal ini membuat khalayak menciptakan berbagai macam pemaknaan yang didasari latar belakang sosial, budaya dan pengalaman subjektif masing-masing khalayak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeksripsikan pengalaman individu mengkonsumsi akun media sosial Instagram selebgram Awkarin. Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk memahami dan menjelaskan fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi dengan melakukan wawancara mendalam kepada 5 responden yang telah memenuhi kriteria tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima informan merupakan pengguna aktif media sosial Instagram dan mengetahui segala konten dan pemberitaan fenomena gaya hidup selebgram Awkarin.

Pengaruh Terpaan Berita Kasus SARA dalam Materi Stand Up Comedy di Media Online dan Persepsi Individu Tentang Kasus SARA Terhadap Citra Komika Stand Up Comedy Indonesia.

Interaksi Online Vol 24, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Belum lama ini dunia hiburan di Indonesia yang sangat populer yaitu Stand Up Comedy sedang dilanda kasus. Bermula dari kemunculan beberapa komika stand up comedy terlibat kasus akibat menggunakan isu SARA pada saat membawakan materi dalam penampilan Stand Up Comedy. Kasus ini langsung menjadi sorotan publik terutama media. Hal ini tentunya menambah daftar nama komedian Stand Up Comedy yang dilaporkan atas dugaan isu SARA. Maraknya pemberitaan negatif yang selama ini muncul di media dikahwatirkan akan berdampak buruk kepada citra para komedian stand up comedy di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh antara terpaan berita kasus SARA dalam materi Stand Up Comedy di media online dan Persepsi Individu tentang kasus SARA terhadap Citra Komika Stand Up Comedy Indonesia. Teori yang yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Efek Tidak Terbatas dan Teori Penilaian Sosial. Penelitian ini merupakan penelitian eksplanatori yang akan menjelaskan mengenai sebab dan akibat antar variabel. Sampel dari penelitian ini adalah pria dan wanita berusia 16-35 tahun, aktif mengakses berita dan mengetahui seputar kasus dugaan SARA dalam materi Stand Up Comedy di media Online. Jumlah responden yaitu 50 orang yang diambil berdasarkan teknik purposive sampling. Analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dengan menggunakan SPSS 16. Hasil uji hipotesis pertama menunjukkan bahwa Terpaan Berita Kasus SARA dalam materi Stand Up Comedy di media Online berpengaruh positif signifikan terhadap Citra Komika Stand Up Comedy Indonesia dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,266 dan signifikansi (0,000<0,050). Hasil uji hipotesis kedua menunjukkan bahwa Persepsi individu mengenai kasus SARA berpengaruh signifikan terhadap Citra komika Stand Up Comedy Indonesia dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,499 dan signifikansi (0,000<0,050). Menunjukkan bahwa hipotesis terbukti.