p-Index From 2014 - 2019
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Interaksi Online
Muchamad Yulianto
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

Representasi Kekuasaan Kulit Putih Amerika Terhadap Kaum Afrika Amerika Dalam Film A Time to Kill Laurentius, Michael; Santosa, Hedi Pudjo; Yulianto, Muchamad
Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.178 KB)

Abstract

1ABSTRAKSINama : Michael LaurentiusNIM : D2C007056Judul : Representasi Kekuasaan Kulit Putih Amerika Terhadap Kaum Afrika AmerikaDalam Film A Time to KillAdapun tujuan penelitian yang hendak dicapai dalam penulisan ilmiah ini adalahuntuk mengetahui adanya representasi kekuasaan dan mengetahui visualisasi rasismemelalui pembagian kelas yang ada di film ini. Pemaknaan kedamaian positif yang ingindisampaikan melalui film A Time to Kill seakan seperti selaput yang menutupi superioritaskulit putih Amerika terhadap masyarakat kulit hitam.Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah semiotika.Pengertian dasar semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda. Untuk mengkaji makna tandayang terkandung pada film, penelitian ini menggunakan metode analisis semiotik yangmengacu pada teori C.S. Peirce dengan identifikasi relasi segitiga antara tanda, penggunadan realitas eksternal sebagai suatu keharusan model untuk mengkaji makna. Representasidan semiotika memiliki suatu hubungan dalam pembahasan kebudayaan. Kedua hal inimerupakan sistem yang muncul dalam setiap pembahasan terkait dengan budaya atauculture. Perlu diketahui bahwa budaya terbentuk dari proses pembagian atau pertukarandari banyak makna. Kekuatan dalam representasi (power in representation) menunjukkanbagaimana kekuasaan dapat memberi tanda atau nilai tertentu, menetapkan danmengklasifikasi. Kekuasaan tidak hanya harus dimengerti dalam terminologi eksploitasiekonomi dan paksaan fisik, tapi juga harus dipahami lebih luas dalam sudut pandangkultural dan terminologi simbolik.Oleh karena itu perlu dipahami secara kritis akan cara kerja representasi kekuasaandan rasisme dalam film meskipun film tersebut bertujuan positif dengan menampilkan sisikemanusiaan. Bisa jadi terdapat ketidaksamaan kekuatan (power) yang mencolok antara2kelompok yang satu dengan yang lain, ada pihak yang lemah dan ada pihak yang lebih kuatserta mendominasi banyak hal hingga pada akhirnya terciptalah sebuah konsep pandanganumum tentang adanya perbedaan kekuatan atau kekuasaan.3ABSTRACTIONName : Michael LaurentiusStudent Number : D2C007056Title : Representation of American White Power Against The AfricanAmerican in A Time to Kill MovieThe research objectives to be achieved in scientific writing is to know therepresentation of power and knows racism visualization through class divisions that exist inthis film. Meaning of a positive peace which is to be conveyed through “A Time to Kill”movie as if such membranes covering the white American superiority against the blackcommunity.Method of approach used in this study is semiotics. Basic understanding ofsemiotics is the study of signs. To assess the meaning of the sign is contained in the film, thisstudy uses a semiotic analysis method refers to the CS Peirce theory with the identificationof triangular relations between signs, users and external reality as a necessity model toexamine meaning. Representation and semiotics have a relationship in the discussion ofculture. Both of these are systems that arise in any discussion related to the culture. Keep inmind that the culture formed by the division or exchange of a lot of meaning. Power inrepresentation shows how power can mark or a specific value, specify and classify. Powermust be understood not only in terms of economic exploitation and physical coercion, butalso must be understood in the broader perspective of cultural and symbolic terms.Therefore, it will be critically important to understand how the representation ofpower and racism in the movie even though the movie aims to show the positive side ofhumanity. It could be that there is inequality strength (power) striking between the groupswith each other, there are those who are weak and there are those who are stronger anddominate many things and eventually created a concept of the common view of thedifference in strength or power.4REPRESENTASI KEKUASAAN KULIT PUTIH AMERIKA TERHADAP KAUMAFRIKA AMERIKA DALAM FILM A TIME TO KILL1.1 Latar BelakangLatar waktu pada film tepatnya diatur memasuki tahun 1982. Dimana padawaktu ini sang penulis John Grisham sebelum menjadi novelis yang sebelumnyamerupakan seorang pengacara pernah menangani kasus serupa. Novel pertamanya, ATime to Kill, terinspirasi dari kesaksian seorang perempuan berusia 10 tahun yangdibelanya yang menjadi korban perkosaan dan penganiayaan. Grisham begituterobsesi dengan perkara tersebut. Grisham menuturkan,”Apa yang akan terjadi jikaayah si gadis cilik itu membunuh para pemerkosanya. Saya akan menuliskannyakembali.”(http://sosok.kompasiana.com/2013/05/05/grisham-pengacara-yang-sukses-jadi-novelis-557505.html)Peneliti melihat novel populer ini sangat kontroversial dan sangat beranidengan judul yang sama dengan filmnya. John Grisham berani memutar ceritaberdasarkan pengalamannya dengan memposisikan seorang kulit hitam membunuhdua orang kulit putih karena dendam demi kehormatan dan keadilan. Ada maknayang ingin disampaikan John Grisham melalui novel ini berdasarkan judulnya, yaitumomentum seorang individu (kulit hitam) yang merasa sudah seharusnya membunuhorang kulit putih karena telah menghancurkan masa depan putrinya yang ia sayangi ,tidak akan ada waktu yang tepat bila kita menunggu karena waktu yang tepatditentukan oleh kita sendiri. Pemeran kulit hitam seakan diceritakan oleh JohnGrisham akhirnya sebagai pengambil keputusan, “sudah waktunya saya bertindak dansudah waktunya saya harus membunuh bila kehormatan dan keadilan tidak bisadiselamatkan” (A Time to Kill).Namun dibalik tujuan menggambarkan sebuah kerjasama antar ras terdapatbias yang terjadi dalam film ini yang bukan terkait makna kerjasama antar rasmelainkan ada makna tanda lain yang lebih dominan mengangkat citra kulit putih dansecara visual membentuk sikap rasis yang semuanya itu digambarkan secarakompleks melalui permainan dan kontrol kekuasaan yang didominasi oleh kulit putih.Oleh karena itulah, penulis sangat tertarik untuk mengangkat masalah ini sebagaibahan pembuatan penulisan ilmiah dengan memberi judul “Representasi KekuasaanKulit Putih Amerika Terhadap Kaum Afrika Amerika dalam Film A Time to Kill”.5Film A Time to Kill juga memunculkan salah satu terminologi sosiologisberupa pembentukan kaum mayoritas dan minoritas. Dalam kehidupanbermasyarakat, hampir dimana ada kelompok mayoritas, baik di bidang agama,ekonomi, moral, politik, dan sebagainya. Minoritas lebih mudah ditindas dan lebihsering mengalami penderitaan karena tekanan oleh pihak mayoritas. Hubungan antarakaum mayoritas-minoritas sering menimbulkan konflik sosial yang ditandai olehsikap subyektif berupa prasangka dan tingkah laku yang tidak bersahabat(Schwingenschlögl, 2007). Secara umum, kelompok yang dominan cenderungmempertahankan posisinya yang ada sekarang dan menahan proses perubahan sosialyang mungkin akan mengacaukan status tersebut. Ketakutan akan kehilangankekuasaan mendorong mereka untuk melakukan penindasan dan menyia-nyiakanpotensi produktif dari kaum minoritas (Griffiths, 2006).1.2 Rumusan MasalahSecara visual umum film A Time To Kill menggambarkan perjuangan seorangkulit hitam, dimana dia harus membunuh dengan cara main hakim sendiri yaitumenembak dengan membabi buta kedua pelaku pemerkosa putrinya. Eksekusi dengandasar dendam ini dilakukan di aula pengadilan di muka umum saat dimana parapelaku pemerkosa tersebut akan diadili. Tindakan tersebut dilakukan oleh kulit hitamyang mengeksekusi dua orang kulit putih yang mana berdasarkan visualisasi latarbelakang waktu film ini digambarkan masih dalam era rasisme Amerika.Penggambaran film ini memperlihatkan bagaimana kasus ini diproses secara hukumdan di dalamnya secara jelas memperlihatkan dominasi tokoh kulit putih dalammenyelesaikan kasus pembunuhan interasial ini. Pengacara kulit putih dan timnyayang bersedia membela dan datang sebagai “pahlawan”, pengacara yang cerdas, danpantang menyerah. Berbeda dengan tokoh utama kulit hitam yang digambarkansebagai buruh, main hakim sendiri, emosional, dan pasrah terhadap kasus yangsedang dijalaninya kepada pengacaranya.Dalam merumuskan masalah ini, penulis akan mengemukakan beberapapermasalahan yang berkaitan dengan penjelasan di atas, yaitu sebagai berikut :1. Bagaimana representasi kekuasaan kulit putih dalam film A Time to Kill terjadi ?2. Bagaimana visualisasi rasisme dipraktikkan dalam peran dan tokoh film A Time toKill ?61.3 Tujuan Penelitian1. Untuk mengetahui adanya representasi kekuasaan kulit putih di Amerika dalamfilm A Time to Kill.2. Untuk mengetahui visualisasi rasisme dan pembagian kelas di Amerika yang adadalam film A Time to Kill.1.4 Maanfaat Penelitian1. Secara Teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan danmenggambarkan bagaimana proses terjadinya konstruksi sosial di dalam mediakhususnya dalam film A Time to Kill. Dalam film ini terdapat konstruksi sosialyang divisualisasikan antara kelompok mayoritas dengan minoritas yang jugadikaitkan dengan sebuah permainan kekuasaan serta rasisme disertai pemisahankelas yang secara tidak langsung dilakukan pihak mayoritas di balik tujuan untukmembantu minoritas.2. Secara Praktis, penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk memberikankesadaran kepada masyarakat agar dapat memahami bagaimana kekuasaan itudapat dimainkan di dalam kehidupan khususnya melalui media dengan berbagaibentuk baik itu dilakukan secara negatif ataupun di balik perilaku kekuasaan yangpositif. Masyarakat pun harus paham akan bagaimana kekuasaan baik dalam mediaataupun tidak melalui media dapat menciptakan suatu pembedaan dalammasyarakat itu sendiri bisa dalam hal paham, keyakinan atau agama, ras dan lainsebagainya. Khalayak luas pun harus dapat memahami secara kritis dan bijakterhadap pembedaan yang menciptakan perbedaan tersebut.1.5 KERANGKA TEORI1.5.1 State of The ArtPenelitian terkait representasi rasisme dalam penelitian melalui film sudahdilakukan oleh peneliti sebelumnya. Peneliti sebelumnya menjelaskan danmenggambarkan lebih mendalam terkait representasi rasisme dan kelas yangdiceritakan dalam film. Fenomena sosial seperti rasisme memang sering munculdan diangkat dalam media massa khususnya melalui film.7Penelitian sebelumnya hanya fokus pada representasi rasisme dan belumbanyak mengaitkan faktor representasi kekuasaan yangmembentuk pencitraanrasisme dan stereotyping suatu kelas dalam film. Ada hal menarik untuk ditelitilebih lanjut yaitu adanya bentuk representasi kekuasaan tersembunyi yangdilakukan oleh pihak dominan (di dalam film) sehingga menciptakan suatustereotyping kelas dan semuanya itu dicitrakan dalam beberapa film yangumumnya melibatkan tokoh-tokoh yang berbeda latar belakang budaya, agama,warna kulit, dan lain sebagainya.1.5.2 Fungsi Media (Film) Dalam Semiotika KomunikasiFungsi film yang bersifat audio visual atau bahkan dengan tambahan teksakan memudahkan makna dari tanda (sign) muncul ke permukaan sehinggapenonton dapat memahami semiotika komuikasi yang bisa jadi terlalu rumit dansulit dipahami maknanya. Penonton film yang mendengar dan melihat, memilikipemahaman tanda yang lebih cepat dimaknakan dibandingkan seorang pendengaraudio saja (contoh: radio) atau seorang yang hanya melihat secara visual tanpa teks(contoh: gambar poster).1.5.3 Representasi dan SemiotikaRepresentasi dan semiotika memiliki suatu hubungan dalam pembahasankebudayaan. Kedua hal ini merupakan sistem yang muncul dalam setiappembahasan terkait dengan budaya atau culture. Perlu diketahui bahwa budayaterbentuk dari proses pembagian atau pertukaran dari banyak makna (sharedmeanings) (Hall, 1997:1). Dalam pendekatan semiotika, sebuah representasidimengerti sebagai basis jalur kata-kata yang berfungsi sebagai tanda yangterdapat di dalam bahasa (Hall, 1997:42). Representasi dalam semiotika lebihmemikirkan pada representasi sebagai sebuah sumber produksi pengetahuan sosialatau social knowledge. Pengetahuan sosial ini merupakan sistem yang lebihterbuka, serta terhubung lebih banyak dan mendalam di setiap praktek-prakteksosial.Kekuasaan tidak hanya harus dimengerti dalam terminologi eksploitasiekonomi dan paksaan fisik, tapi juga harus dipahami lebih luas dalam sudutpandang kultural dan terminologi simbolik, termasuk juga kekuasaan untukmerepresentasikan seseorang atau sesuatu dengan cara tertentu, hingga dapatdikatakan terdapat „rezim reperesentasi‟ di dalamnya (Hall, 1997:259). Hal initermasuk dalam penggunaan simbol kekuasaan (symbolic power) melalui praktek8praktek representasional. Stereotyping adalah elemen kunci dalam penggunaan„simbol kekejaman‟.1.5.4 Diskursus Dalam MediaSinema atau film dapat dikatakan merupakan salah satu institusi mediatekstual yang berperan menampilkan berbagai bentuk nilai sosial atau tanda dalambentuk imaji audio dan visual hingga dapat memproduksi efek realitas tertentu dimasyarakat. Diskursus dalam media erat kaitannya dengan kekuasaan yang munculdalam percakapan.1.5.5 Stereotype dan KekuasaanStereotype adalah citra mental yang melekat pada sebuah grup ataukelompok. Pengertian lain dari stereotype adalah penilaian terhadap seseoranghanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapatdikategorikan. Stereotype merupakan jalan pintas pemikiran yang dilakukan secaraintuitif oleh manusia untuk menyederhanakan hal-hal yang kompleks danmembantu dalam pengambilan keputusan secara cepat.Bias dalam film A Time to Kill terlihat mengarah pada penggunaankekuasaan kaum dominan yaitu orang kulit putih Amerika. Ada suatu gambaranpendiktean oleh sebuah kekuasaanyang dianggap lebih pintar dan bijak dalammenyelesaikan masalah rasisme serta dapat menjadi solusi terbaik. Kekuasaanbijak tersebut seakan direpresentasikan melalui tokoh-tokoh orang kulit putih.Dalam psikologi sosial interpersonal dan intergroup terdapat penjelasan dariSusan Fiske yang dibantu oleh kolega-koleganya (berdasarkan pengaruh teoriDacher Keltner) telah mengembangkan teori power as control (PAC) melaluiberbagai penelitian lab, survey, dan bidang neuroscientific (Dowding, 1996:504).Dalam hal ini PAC dapat diteliti berdasarkan gambaran kondisi dan situasi yangmemungkinkan suatu kekuasaan atau power muncul, dan melalui beberapadiskusi terkait bagaimana kekuasaan itu digunakan apakah untuk tujuan yang baikatau untuk menyakiti.91.5.6 Konsep Marxisme Dalam Media (film) Melalui Kode Konsepsi KelasBentuk metodologi Marxis dan kritiknya terhadap formasi sosialmenciptakan sebuah kelas. Berikut ini merupakan penjelasan serta contoh kasuspemetaan kelas yang divisualisasikan dalam sebuah film populer yang bersumberdari buku Marxism and Media Studies.1.5.6.1 Memetakan kelas (mapping class)Pembelajaran sekarang mengenai kelas sosial telah difokuskan padakelas menengah white-collar/kerah putih yang tidak manual dan kelas pekerjablue-collar manual. Kelas-kelas tersebut sering dibagi lagi dalam berbagaitingkatan dalam bentuk kategori-kategori pekerjaan. Klasifikasi khususnyaadalah sebagai berikut:Kelas menengah : profesional yang lebih tinggi, manajerial dan administrative,Ahli/profesional yang lebih rendah, manajerial danadministratifKelas pekerja : kemampuan manual (Skilled Manual) Kemampuan semimanual(semi-skilled manual)  Tidak memiliki kemampuan manual (unskilledmanual) (Haralambos 1985:48)1.6 Metodologi Penelitian1.6.1 Tipe PenelitianPenelitian tentang bias kekuasaan kaum kulit Amerika dalam film A Timeto Kill merupakan studi yang menggunakan pendekatan interpretif (subjektif)kritis dengan desain penelitian deksriptif kualitatif. Deskriptif kualitatif bertujuanuntuk mempersilahkan pembaca mengetahui apa yang terjadi dalam penelitiantersebut dan bagaimana subjek memandang atau bahkan menilai kejadian tertentu.Menurut Bogdan dan Taylor (Moleong,2004:3) mengemukakan metode kualitatifsebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kataatau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapatdiamati.101.6.2 Subjek PenelitianSubjek penelitian yang digunakan dalam penelitian berikut adalah film ATime to Kill yang rilis di Amerika tahun 1996. Film ini diangkat dari novel dengandengan judul serupa karya John Grisham yang secara garis besar menceritakankrisis dan konflik rasial antara kulit putih Amerika dengan kaum kulit hitam AfrikaAmerika.1.6.3 Metode RisetMetode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalahsemiotika. Pengertian dasar semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda. Studitentang tanda dan segala yang berhubungan dengannya, cara berfungsinya,hubungannya dengan tanda-tanda lain, pengirimannya dan penerimaannya olehmereka yang menggunakannya. Menurut Preminger (2001), ilmu ini menganggapbahwa fenomena sosial atau masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tandatanda(Kriyantono, 2006:265). Semiotik mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan,konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti.Tanda merupakan sesuatu yang bersifat fisik, bisa dipersepsi indra kita; tandamengacu pada sesuatu di luar tanda itu sendiri; dan bergantung pada pengenalanoleh penggunannya sehingga bisa disebut tanda (Fiske, 2011:61)Fokus penelitiannya adalah bagaimana bias kekuasaan direpresentasikandalam film A Time to Kill. Untuk mengkaji makna tanda-tanda yang terkandungpada film, penelitian ini menggunakan metode analisis semiotik yang mengacupada teori Roland Barthes dengan model semiotika berupa signifier(penanda/teks), signified (petanda/konteks), sign (tanda).Stereotype negatif yang dilekatkan pada tokoh kulit hitam di film ini seakansudah menjadi mitos sejarah yang terus terpelihara dan dibenarkan sebagai budakdengan gambaran tanda atau sign kehidupan yang “kumuh”, “kurang terdidik”,“kasar / barbar” dan “sumber masalah”. Sedangkan tokoh-tokoh kulit putih (peranpengacara dalam film ini) secara dominan digambarkan secara lebih positif, “punyakuasa”, “berpenampilan rapih”, “lebih terdidik”, dan “seorang yang dapat mengontrolsituasi”, layaknya gambaran tuan tanah yang berusaha mengatasi aksi protes budakkulit hitam di masa sejarah rasisme.Denotasi yang muncul dari cuplikan gambar berupa seorang kulit hitamdengan penampilan lusuh menembakkan senjata, kemudian berada di penjara.11Ditambah lagi dalam gambar pemeran kulit hitam tersebut sempat berkata keras dankasar di persidangan yang ditujukan pada para pemerkosa yang sudah ia tembaksampai mati, “Yes, they deserve to die, and I hope they burn in Hell” (ya, merekapantas mati, dan saya berharap merek terbakar di neraka). Peran kulit putih adagambar selanjutnya digambarkan rapih, bersih, dan terpelajar (sebagai pengacara).Konotasi positif muncul pada peran kulit putih yang “jas dan berdasi” denganpekerjaan sebagai pengacara sehingga dimaknakan “punya kuasa atau berkuasa”untuk bertindak.1.6.4 Jenis DataSumber data penelitian ini adalah data teks, dimana data kualitatifberasal dari teks-teks tertentu. Penggunaan data ini disesuaikan denganpendekatan sistem tanda di dalam proses penelitian khususnya analisis semiotik.Berdasarkan buku Riset Komunikasi (Kriyantono, 2006:38), dalam kajiankomunikasi segala macam tanda adalah teks yang di dalamnya terdapat simbolsimbolyang sengaja dipilih, di mana pemilihan, penyusunannya, danpenyampaiannya tidak bebas dari maksud tertentu, karena itu akan memunculkanmakna tertentu. Sistem analisis yang dikembangkan yaitu sistem konotasi dandenotasi. Kata konotasi berasal dari bahasa latin “Connotare” menjadi tanda danmengarah kepada makna- makna kultural yang terpisah atau berbeda dengankata dari bentuk-bentuk komunikasi. Kata konotasi melibatkan simbol –simbol,historis dan hal – hal yang berhubungan dengan emosional. Denotasi dankonotasi menguraikan hubungan antara signifier dan referentnya. Denotasimenggunakan makna dari tanda sebagai definisi secara literal atau nyata.Konotasi mengarah pada kondisi sosial budaya dan emosional personal.1.6.5 Sumber DataData yang digunakan dalam penelitian ini ada dua yaitu :a. Data Primer, data ini diperoleh langsung dari objek penelitian yaitu dari filmA Time To Kill, yaitu akting, dialog, dan alur cerita.b. Data Sekunder, yang diperoleh dari sumber lain yaitu studi kepustakaandalam bentuk buku atau melalui situs internet, baik teori maupun informasiyang berkaitan dengan film A Time to Kill.121.6.6 Teknik Pengumpulan DataTeknik pengumpulan data yang dilakukan adalahdengan studi dokumenter(documentary study).Studi dokumenter merupakan suatu teknik pengumpulan datadengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen,baik dokumentertulis,gambar maupun elektronik. Dokumen yang telah diperoleh kemudiandianalisis (diurai), dibandingkan dan dipadukan (sintesis) membentuk satu hasilkajian yang sistematis, padu dan utuh. Dalam penelitian ini film A Time to Killadalah objek utama penelitian yang nantinya akan dibantu dengan data-datapustaka atau dokumen lainnya terkait tujuan pembongkaran tanda-tandarepresentasi kekuasaan dan stereotype yang bersifat rasis.1.6.7 Teknik Analisis DataKode televisi sebuah acara atau film yang ditayangkan sudah dikodekan olehkode-kode sosial dalam beberapa tingkatan (Fiske, 2001:7-13) mulai dari;Tingkat satu:Reality, Tingkat dua : Representation, Tingkat tiga :Ideology (Ideologi)Realitas:Pengaturan Kamera (Camera Work), Pencahayaan (Lightning), Editing, Music,Casting, Setting and Costume, Tata Rias (Make Up), Action, Percakapan(Dialogue), Ideological Codes.1.6.8 Unit AnalisisUnit analisis dalam penelitian ini adalah teks visual dan audio yang ada dalambeberapa adegan dari film yang mencangkup gambar, narasi / copywriting, musik,warna, serta konteks cerita A Time to Kill.KesimpulanSetelah dilakukan penelitian dan kajian pustaka tentang film A Time to Killmemang dapat disimpulkan adanya nilai kemanusiaan yang kental melalui visualisasicerita. Tapi peneliti tidak melihat hanya dari nilai kemanusiaan yang menjadi intisaridari film ini, hal lainnya yang dapat digali lebih dalam untuk mengetahui kenyataanyang terlihat semu. Berdasarkan perumusan masalah maka peneliti dapat mengambil13beberapa kesimpulan bahwa film A Time to Kill secara keseluruhan penuh denganrepresentasi kekuasaan mutlak akan “kekuatan” yang lebih dominan yaitu orang kulitputih terhadap kaum negro. Saat peneliti mengesampingkan nilai kemanusiaan dalamfilm ini dan mencoba melihat lebih dalam dibalik “topeng” kemanusiaan itu sendiri.14DAFTAR PUSTAKABerger, Arthur Asa. 1982. Media Analysis Techniques.California. Sage Publications.Bungin, B. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: PTRajagrafindoPersada.Danesi, Marcel. 2010. Pesan, Tanda, dan Makna. Yogyakarta: Jalasutra.Davis, Kenneth C. 2003. Don’t Know Much About History. New York: Harper-Collins Publishers.Dowding, Keith. 1996. Encyclopedia of Power. London: Sage Publications.Fiske, John. 2001. Television Culture. London: The Taylor and Francis Group elibrary.Fiske, John. 2011. Cultural and Communication Studies. Yogyakarta: Jalasutra.Foucault, Michel. 1997. Seks dan Kekuasaan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.Hall, Stuart. 1997. Representation: Cultural Representation and Signifying Practies.London: Sage Publications.Kriyantono, Rachmat. 2006. Riset Komunikasi. Jakarta: Prenada Media Group.Mulyana, Deddy. 2006. Komunikasi Antar Budaya. Bandung: Remaja RosdakaryaThwaites, Davis dan Warwick Mules. 2009. Introducing Cultural and Media Studies.Yogyakarta: Jalasutra.Wayne, Mike. 2003. Marxism and Media Studies: Key Concept and ContemporaryTrends. London: Pluto Press.15
Interpretasi Khalayak terhadap Berita Konflik Papua di Televisi Ardyantara, Bayu; Yulianto, Muchamad; Hasfi, Nurul
Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.961 KB)

Abstract

Sumary PenelitanInterpretasi Khalayak terhadap Berita Konflik Papuadi Televisi1. PendahuluanBeberapa waktu terjadi pemogokan hampir dua bulan lamanya, berbagaikerusuhan di Puncak Mulia , jalur Freeport-di blokir,penembakan di Abepura,kekerasan dalam Kongres Rakyat Papua ke 3 , penembakan terhadap Kapolsek Mulia,serta sekarang terjadi lagi kasus serupa di Bandara Mulia.Sekelompok orang tidakdikenal menembaki pesawat Trigana yang menewaskan penumpangnya, serta melukailainnya. Penganiayaan orang tak dikenal terhadap aparat juga terjadi lagi di Sentaniyang menewaskan salah satu anggota kepolisian Polres Keerom. Anehnya lagiberbagai penembakan tersebut sampai sekarang belum bisa diungkapkan siapapelakunya yang berada di balik penembakan tersebut.Fakta merupakan dinamika yang lahir melalui interaksi antar manusia. Seringjurnalis merasa hanya berkepentingan untuk menangkap interaksi ini tanpa perlumempersoalkan kualitas dari interaksi tersebut. Karenanya pada sisi lain kemudianmuncul dorongan untuk mengajak jumalis menumbuhkan penghayatan atas posisiperson yang diceritakan.Realitas konflik menjadi sangat dilematis bagi media. Hukum pasar yangbertumpu pada diktum never ending circuit of capital accumulation mendorong mediauntuk menyajikan informasi semenarik dan sedramatis mungkin. Meskipun jarangsekali diakui, bahkan selalu disangkal, ramuannya cukup jelas: bad news is goodnews. Ramuan inilah yang menyebabkan realitas konflik (perang, pertikaian politik,kerusuhan, tawuran, demonstrasi yang anarkhis, dst) selalu menjadi primadonapemberitaan. “Konflik adalah oase yang tak pernah kering bagi kerja-kerjajurnalistik,” begitu kata George Wangtang. Konflik selalu menyajikan sensasi dandaya magnetik yang besar bagi publik. Liputan konflik dapat secara signifikanmenaikkan oplah, rating, hit,everage sebuah media.Pemberitaan konflik yang terjadi dipapua yang terakhir kali yaitu mengenaipembunuhan aparat keamanan yang berdinas di Polresta oleh sekelompok orang takdikenal dan penembakan kapolsek Muliya di bandara serta penembakan pesawatkomersil di daerah wamena.pembeitaan tersebut menimbulkan berbagai persepsi dibenak khalayak. Pemberitaan mengenai konflik Papua oleh media massa dapatmenimbulkan berbagai prasangka dalam benak khalayak yang diterpa ataupunmenyaksikan pemberitaan tersebut.Prasangka sosial (Manstead dan Hewstone, 1996) didefinisikan sebagai suatukeadaan yang berkaitan dengan sikap-sikap dan keyakinan-keyakinan. Yaitu, ekspresiperasaan negatif, penunjukkan sikap bermusuhan atau perilaku diskriminatif terhadapanggota kelompok lain. Beberapa kasus tertentu yang berhubungan dengan rasismejuga dianggap sebagai prasangka. Prasangka sosial yang pada mulanya hanyamerupakan sikap-sikap perasaan negatif itu, lambat-laun menyatakan dirinya dalamtindakan-tindakan yang diskriminatif terhadap orang-orang yang termasuk golonganyang diprasangkai itu, tanpa terdapat alasan-alasan yang objektif pada pribadi orangyang dikenakan tindakan-tindakan diskriminatif.Pengalaman kebudayaan Amerika, yang dianggap sebagai kampiundemokrasi, juga tidak terlepas dari prasangka dan stereotipe sosial. Publikasipenelitian yang diterbitkan oleh American Psychological Association (Dovidio et. al,2002) menjelaskan bahwa di abad global-modern ini saja masih terdapat bias persepsipada diri orang kulit putih dalam perilaku verbal terhadap orang Negro. Orang-orangkulit putih ternyata lebih ramah dan bersahabat terhadap kalangan mereka sendiri.Hochschild (Dovidio et. al, 2002) menjelaskan bahwa perilaku orang-orang kulit putihyang kadang-kadang berbeda dan kontradiktoris terhadap orang kulit hitam dalaminteraksi antar-ras dapat memberikan kontribusi iklim yang miskomunikatif,mispersepsi, dan ketidakpercayaan di Amerika Serikat. Bahkan menurut Anderson(Dovidio et al, 2002) mayoritas orang kulit hitam di Amerika dewasa ini memilikiketidakpercayaan yang sangat besar terhadap polisi dan sistem hukum, terutamaketidakpercayaan terhadap orang-orang kulit putih.Kekerasan yang dibahas dalam pemberitaan konflik seputar Papua tidak lagisemata-mata untuk memberikan informasi kepada masyarakat mengenai konflik yangterjadi di tanah Papua. Namun, kekerasan tersebut sudah masuk ke bisnis industrimedia yang mengikuti selera pasar yang tertarik pada berita-berita dengan unsurkekerasan didalamnya. Melihat fenomena di atas, penulis tertarik untuk menelitibagaimana interpretasi khalayak terhadap masyarakat Papua setelah menyaksikanpemberitaan mengenai konflik yang terjadi di Papua.2. Tujuan PenelitianTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana interpretasi khalayakmengenai pemberitaan konflik Papua yang disajikan oleh televisi.3. Landasan TeoriDalam analisis resepsi disebutkan bahwa khalayak akan menginterpretasikanteks berita sesuai dengan latar belakang sosial, budaya, dan pengalaman subjektifyang dimiliki masing-masing khalayak. Perbedaan latar belakang membuatinterpretasi terhadap isi berita menjadi berbeda-beda. Berita di media massa,diinterpretasi oleh khalayak dengan dipengaruhi tiga kondisi antara lain :a) BudayaInformasi yang disampaikan komunikator melalui media massa akan diberi arti yangberbeda-beda yang sesuai dengan latar belakang budaya khalyak.b) PsikologiPesan komunikasi massa yang disampaikan media massa akan diberi arti sesuaiframe of reference (ruang lingkup pandangan) dan field of experience (ruang lingkuppengalaman) khalayak.c) FisikKondisi fisik khalayak baik internal maupun eksternal akan mempengaruhikhalayak dalam mempersepsi esan komunikasi massa melalui media massa. Kondisifisik internal dimaksudkan sebagai keadaan kesehatan seseorang. Jika komunikandalam keadaan tidak sehat, ia akan mengabaikan pesan apapun walaupun pesantertentu biasanya sangat menarik minatnya. Kondisi fisik eksternal dimaksudkankeadaan lingkungan disekitar khalayak ketika ia menerima pesan dari media massa.Misalnya khalayak merasa tidak nyaman ketika membaca surat kabar didalamkendaraan umum ketika berjalan. Atau khalayak merasa nyaman ketika menontontelevisi pada sorehari sambil meminum teh hangat (Winarni, 2003:18).Selain faktor latar belakang budaya, sosial, pendidikan, pengetahuan,yangdapat mempengaruhi interpretasi khalayak pada berita-berita dimedia massa,interpretative communities juga memberi pengaruh terhadap interpretasi khalayak.Stanley Fish (dalam Littlejhon, 1999 : 209) menyatakan bahwa pembaca bagian dariinterpretative communities, akan membangun pemaknaannya terhadap realita darihasil interaksi kelompoknya dan akan digunakannya saat membaca teks berita dimedia. Jadi bagaimana khalayak memaknai teks media, akan tergantung juga olehinterpretative communities dari pembaca itu sendiri.Untuk itu, Stuart Hall (dalam Baran dan Dennis K. Davis, 2000:262),membagi tiga tipe utama pemaknaan atau pembacaan khalayak terhadap teks media(dominant reading, negotiated meaning, oppositional decoding) :• Dominant readingKetika khalayak memaknai isi media sesuai dengan yang dimaksud oleh pembuatpesan atau media. Jika seseorang melakukan pemaknaan sesuai dengan maknadominan (preferred reading) yang ditawarkan oleh teks media.• Negotiated meaningKetika khalayak membuat pemaknaan alternatif atau pemakanaan sendiri pada pesanmedia yang berbeda dari preferred reading sesuai dengan kondisi mereka.• Oppositional decodingKetika khalayak menghasilkan pemaknaan atas isi media yang langsung berlawanandengan preferred reading.4. Metoda PenelitianTipe penelitian ini adalah kualitatif. Penelitan kualitatif adalah penelitian yangbermaksud untuk memahami fenomena yang dialami subjek penelitian misalnyaperilaku, persepsi, motifasi, tindakan, dll secara holistik, dan dengan cara deskripsidalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dandengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Moleong, 2007:6).Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis resepsi.Analisis resepsi meneliti bagaimana khalayak mengkonstruksi makna keluar dari yangditawarkan oleh media.5. Hasil PenelitianAdapun hasil penelitian tersebut merupakan hasil dari wawancara mendalamdengan enam informan. Informan yang dipilih berdasarkan perbedaan jenis kelamin,latar belakang sosial-budaya dan tingkat pendidikan yang beragam. Pertanyaan yangdiajukan kepada informan mengacu pada interview guide yang telah dibuat., yaituseputar resepsi terhadap berita-berita konflik Papua di televisi. Tiap-tiap informanmemiliki interpretasi yang berbeda-beda terhadap pemberitaan konflik Papua ditelevisi, karena masing-masing informan memiliki latar belakang budaya, sosial,maupun pendidikan yang berbeda-beda.Konflik Papua dengan segala peristiwa yang terjadi didalamnya, diinterpretasioleh informan dengan sudut pandang dan pendekatan yang bervariasi. Terdapatkesamaan dan perbedaan dalam menjawab pertanyaan yang diajukan kepadainforman. Interpretasi informan terhadap konflik Papua pada pemberitaan ditelevisi,melihat konflik Papua sangat dekat dengan kekerasan, pembunuhan dan hal-hal lainyang berhubungan dengan kekerasan. Selain itu konflik Papua juga dalampemberitaannya selalu dikaitkan dengan unsur kekerasan dan anarkisme. Hal inimenyebabkan penggambaran terhadap masyarakat Papua oleh informan menjadikurang baik dalam kehidupannya. Perangai yang keras, tidak bisa diatur dan sadismerupakan salah satu dari sekian citra negatif dalam pemberitan media mengenaimasyarakat Papua.6. PembahasanDari fokus permasalahan yang telah diteliti peneliti, yaitu menelusuripemaknaan yang diberikan audience televisi terhadap pemberitaan konflik Papua,ternyata peneliti menemukan resepsi yang dilakukan para informan terhadappemberitaan konflik Papua sangat beragam.Informan pertama bernama Gentur, masuk dalam posisi negotiated reading,gentur membuat pemaknaan alternatif atau pemaknaan sendiri pada berita konflikPapua. Meskipun Gentur melihat konflik Papua terjadi antara pemerintah dengansebagian warga Papua, Gentur juga memberikan penilaian bahwa konflik Papuaterjadi karena faktor kesenjangan ekonomi antara pendatang dan pribumi. Selain itugentur melihat konflik yang terjadi menyebabkan timbulnya banyak korban, akantetapi gentur menilai sebagian besar pihak yang berkonflik sudah memulai dialogdamai antar pihak pemerintah dengan pemuka adat. Gentur berada ditengah-tengahyang melihat konflik dari sisi negatif namun tetap memberikan penilaian positifberupa dialog damai dalam rekonsiliasi konflik Papua. Gentur yang memiliki latarbelakang sebagai polisi, tidak mudah terpengaruh dengan pemberitaan diberbagaimedia termasuk televisi. Gentur memiliki pendapatnya sendiri dalam memandangkonflik Papua. pengalaman, pengetahuan, dan latar belakang sosialnya tersebutmembuat Gentur memnculkan maknanya sendiri saat menginterpretasi berita konflikPapua yang diterimanya.Informan kedua adalah Zamzuri, menempati posisi dominant reading,Zamzuri memaknai berita konflik Papua yang dilihatnya, sesuai dengan maknadominan (prefered reading) yang ditawarkan oleh pemberitaan di televisi. Zamzurimelihat konflik Papua sebagai konflik bersenjata antara aparat dengan OrganisasiPapua Merdeka. Zamzuri melihat konflik selalu diliputi oleh berbagai kekerasanseperti penembakan dan pembunuhan. Unsur kekerasan yang ditonjolkan oleh televisidan melekat dengan dengan masyarakat Papua dalam pemberitaan konflik Papua,dimaknai sama oleh Zamzuri. Interpretasi yang dilakukan oleh zamzuri dipengaruhioleh latar belakang budaya dan sosialnya. Zamzuri yang tinggal dilingkungan barakbatalyon TNI selalu menganggap setiap permasalahn konflik berujung padakekerasan. Latar belakang dan kerangka pemikiran ini ikut mempengaruhipemikirannya dalam memandang konflik Papua. Konflik antara pemerintah denganmasyarakatnya sendiri menurut Zamzuri justru membuat stabilitas negara menjaditerganggu dan dengan itu harus diselesaikan dengan cepat.Informan ketiga bernama Sahrian, ia masuk dalam dominant reading. Sahrianmelihat konflik Papua sebagai upaya kurang perhatiannya pemerintah terhadapwarganya sendiri tanpa adanya penyelesian masalah dari pemerintah dan solusi.Sahrian menganggap kekerasaan yang terjadi di Papua lebih banyak menimbukankorban jiwa. Selain itu Sahrian menganggap kinerja aparat tidak maksimal dan tdakdapat menangkap pelaku kekerasan seperti yang diberitaka oleh media televisi dalampemberitaannya. Interpretasi Sahrian dipengaruhi oleh latar belakang budayasosialnya. Sahrian tinggal dikeluarga yang hangat dan tidak menyenangi konflikterbuka. Jika ada suatu masalah, Sahrian terbiasa untuk menyelesaikan baik-baiktanpa perlu bersitegang secara langsung. Latar belakang itu mempengaruhipemikirannya dalam menyikapi konflik yang terjadi di Papua.Informan keempat bernama Niko, ia termasuk dalam posisi oppositionalreading. Niko menilai konflik yang terjadi di Papua hanya protes warga terhadappemerintah hanya saja caranya yang berbeda dan tidak ditanggapi dengan baik olehpemerintah. Niko juga menilai bahwa orang Papua itu kehidupannya sama sajadengan kehidupan masyarakat pada umumnya. Niko memaknai berita konflik Papuayang diterimanya, berbeda dengan makna dominan yang dihasilkan pengelolapemberitaan ditelevisi. Niko sangat mudah bergaul dengan siapapun salah satunyadengan beberapa orang Papua yang ada di Semarang. Kebiasaan inilah yang membuatNiko tidak mudah terpengaruh denagn pemberitaan yang disajikan media televisidalam mengangkat peristiwa yang terjadi diPapua. Pengalaman bergaul dengan orangPapua inilah yang lebih dipercayai Niko daripada pemberitaan yang ada.Informan kelima adalah Meida, ia masuk dalam posisi negotiated reading.Menurut Meida kehidupan masyarakat Papua masih terbelakang namun mereka tidakbuta akan informasi. Konflik di Papua menurut Meida tidak pernah lepas dari aksikekerasan. Meida menilai konflik yang terjadi dipapua karena sebagian masyarakatPapua ingin memisahkan diri dari NKRI. Meida juga menambahkan selainmasyarakat Papua ingin memerdekakan diri, masyarakat Papua juga ingindiperhatikan seperti masyarakat Indonesia pada umumnya. Banyaknya koruptor yangmerajalela menjadi salah satu alasan terjadinya konflik di Papua. Meida membuatpemaknaan sendiri pada berita konflik papua yang disaksikannya. Interpretasi Meidadipengaruhi oleh latar belakang Meida sebagai seoang guru yang dituntut untukmemiliki wawasan dan pengetahuan meskipun dari media massa.Informan keenam adalah Nia, ia masuk kedalam posisi dominant reading,karena Nia menginterpretasikan berita konflik Papua yang disaksikan sesuai denganmakna dominan yang dihadirkan media televisi. Ia memaknai konflik yang terjadi diPapua selalu diliputi oleh kekerasan. Hal yang sering muncul dalam pemberitaankonflik Papua seperti pembunuhan, penembakan dan penyerangan yang ditujukanoleh aparat dan warga sipil oleh orang tak dikenal. Ia memandang negatif citramasyarakat Papua dan kehidupan masyarakat Papua sangat terbelakang dantemperamental. Secara keseluruhan Nia menilai konflik di Papua lekat dengananarkisme dan kekerasan. Interpretasi Nia tersebut dipengaruhi oleh kondisi sosialdan latar belakang budaya. Nia yang sangat kental dengan kebudayan Jawa ningratsangat tidak suka dengan hal-hal yang berbau kekerasan dan konflik.7. PenutupInterpretasi khalayak merupakan wujud interaksi antara khalayak denganmedia. Khalayak akan memaknai kembali informasi yang diterima melalua mediamassa sesuai dengan latar belakang sosial, budaya, pengetahuan, dan pendidikan yangmereka miliki. Begitupun dengan berita konflik Papua yang ditayangkan mediatelevisi, khalayak akan menginterpretasikannya sesuai dengan latar belakangnya yangberbeda.ABSTRAKSINama : Bayu ArdyantaraNIM : D2C606009Judul : Interpretasi Khalayak terhadap Pemberitaan Konflik Papua di TelevisiPascareformasi, Papua sering dilanda konflik. Konflik Papua rupanya memilki dayatarik tersendiri bagi media massa untuk mengengkatnya menjadi berita. Televisi, merupakansalah satu media yang memberitakan konflik Papua sebagai pemberitaannya. Akan tetapi,Televisi mengidentikan konflik Papua yang terjadi dengan kekerasan pada berita yangdihasilkan. Kata-kata penembakan, pembunuhan, dan kekerasan selalu ada dalam beritakonflik Papua di televisi.Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana interpretasi khalayakterhadap berita- berita konflik Papua di Televisi. Tipe penelitian ini adalah kualitatif denganmenggunakan pendekatan analisis resepsi. Dalam analisis resepsi, khalayak dipandangsebagai produser makna, tidak hanya menjadi konsumen isi media. Khalayak akan menerimaberita konflik Papua yang diterimanya sesuai dengan latar belakang sosial, budaya, danpengetahuan mereka. Penelitian ini juga menggunakan model encoding-decoding Stuart Hall,untuk menjeelaskan jalannya proses encoding dan decoding berita-berita konflik Papua.Hasil penelitian menunjukan bahwa khalayak aktif dalam menginterpretasi beritakonflik Papua yang diterimannya. Interpretasi khalayak terbagi dalam tiga posisi pemaknaan;dominant reading, negotiated reading, dan oppositional reading. Khalayak yang masuk posisidominant reading, memaknai konflik Papua identik dengan kekerasan didalamnya. Khalayaktersebut memaknai berita konflik Papua sesuai dengan makna dominan yang dihadirkanmedia televisi. Sementara khalayak dengan posisi negotiated reading, memaknai konflikPapua dengan pemaknaannya sendiri. Khalayak ini tidak memandang konflik Papua dari segikekerasannya saja tetapi dia lebih menonjolkan positif daripada konflik tersebut. Sedangkankhalayak yang masuk dalam posisi oppositional reading memaknai konflik Papua sama sekaliberbeda dengan makna dominan dari pemberitaan televisi.Penelitian ini sangat terbuka untuk dikaji dari sudut pandang dan metode yangberbeda. Penelitian serupa dengan memaknai pendekatan yang berbeda, diharapkan dapatdapat menambah dan menyempurnakan penelitian yang sudah ada.Key words : kekerasan, media massa, resepsi, interpretasi
VIDEO REPORTASE INVESTIGASI: “MENGUAK JOKI SKRIPSI DI PERGURUAN TINGGI DI SEMARANG” Pia Duna, Louisa Yunita; Yulianto, Muchamad; Hasfi, Nurul
Interaksi Online Vol 1, No 3 (2013): Wisuda Agustus
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.096 KB)

Abstract

INVESTIGATION REPORT VIDEO: “INVESTIGATING THESIS “JOKI” IN AUNIVERISITY AT SEMARANGABSTRACTThesis is one of the requirements in achieving undergraduate degree. The purpose isenable the students to arrange and write their scientific paper according to their subject major.The problem raises when the students feel that they are unable to compose thesis by themselves.It causes a phenomenon called thesis jockey. Thesis jockey is an illegal action where a personearns someone to do a thesis. Thesis jockey appears because there is a demand and order fromthe students. It is also because of the low academic culture, market doer (a thesis jockey), andunclear regulation. The government regulation also becomes the problem. This investigation canbe a reflection that this case really happens in Indonesian education. It can be a bad image foreducation. The investigation of the fact was based on the curiosity of the journalist inellaborating the truth. This bussiness, thesis jockey is influenced by some factors. One of themis the low awareness of the students in doing scientific research among the academicenvironment in university.This bussiness has been spreading out throughout the universities and it challenges forthe university to overcome it. Thesis jockey is an ilegal action that can give bad image foreducation. It will produce unqualified undergraduate students. The students tended to use thesisjockey because there was no regulation which can give punishment to the doer. Thisinvestigation could be a reflection on the existance of thesis jockey within education institution.The result of investigation could be used as the reference for the parents, educators, and thestudents in order to increase the quality of education in Indonesia.The investigation was done in order to obtain the facts. This investigation also used amethod which consists of some phases namely, pre-production, production, and post production.This investigation report has been broadcasted by Cakra TV Semarang on Monday June 17th2013. This investigation video was broadcasted after getting an agreement and negoitation.Keywords: investigation, students, thesis jockey, televisionVIDEO REPORTASE INVESTIGASI: “MENGUAK JOKI SKRIPSI DI PERGURUANTINGGI DI SEMARANG”____________________________________________________________________ABSTRAKSkripsi merupakan syarat seorang mahasiswa menyelesaikan pendidikan sarjanadengan tujuan agar mahasiswa mampu menyusun dan menulis suatu karya ilmiah, sesuai denganbidang ilmunya. Permasalahan muncul ketika mahasiswa merasa tidak cukup mampu untukmenyelesaikan tugas penulisan skripsi. Fenomena joki skripsi hadir karena adanya permintaandan penawaran. kultur akademik yang rendah, adanya pelaku pasar (para joki), serta regulasiyang tidak jelas. Regulasi pemerintah juga menjadi problem tersendiri. Investigasi ini dapatmenjadi gambaran bagi masyarakat dan dunia akademik tentang adanya praktek joki skripsi yangmencoreng institusi pendidikan. Penelusuran fakta dalam jurnalisme investigasi didasarkan padakeinginan wartawan untuk mengetahui. Penelusuran fakta dilakukan untuk memaparkankebenaran. Maraknya bisnis joki skripsi dipengaruhi pula oleh beberapa faktor, diantaranyaadalah rendahnya budaya penelitian di kalangan civitas akademika perguruan tinggi.Maraknya jasa pembuatan skripsi di beberapa kota merupakan tantangan serius bagiperguruan-perguruan tinggi. Joki skripsi merupakan salah satu hal yang merusak citra pendidikankarena melahirkan sarjana yang tidak berkualitas. Mahasiswa cenderung menggunakan jasa jokiskripsi karena belum adanya sanksi yang menjerat. Sanksi terhadap pengguna jasa joki skripsibelum ada. Investigasi ini menjadi gambaran bagi masyarakat dan dunia akademik tentangadanya praktek joki skripsi yang mencoreng institusi pendidikan. Hasil dari investigasi ini dapatmenjadi referensi bagi orang tua, tenaga pendidik, dan mahasiswa agar menghindari praktekperjokian skripsi untuk memperbaiki kualitas pendidikan.Investigasi perlu dilakukan untuk mendapatkan fakta lebih lanjut. Cara kerjamenggunakan metode investigasi yang terdiri dari beberapa tahap: pra produksi, produksi danpaska produksi. Reportase investigasi ini ditayangkan oleh stasiun televisi yaitu programTarget Investigasi di Cakra TV Semarang pada hari Senin tanggal 17 Juni 2013.Penyangan karya bidang pada program Target Investigasi dilakukan setelah proses negosiasi dandirasa cocok dengan program acara tersebut.Kata kunci : investigasi, mahasiswa, joki skripsi, televisiPENDAHULUAN1.1 Latar BelakangBerdasarkan definisi awam yang dirumuskan skripsi mengandung komponenpengertian berikut : karya tulis ilmiah hasil penelitian yang dilakukan oleh mahasiswaberkualifikasi sarjana (Rahyono FX,2010:23). Skripsi merupakan syarat seorangmahasiswa menyelesaikan pendidikan sarjananya dengan tujuan agar mahasiswa mampumenyusun dan menulis suatu karya ilmiah, sesuai dengan bidang ilmunya. Mahasiswayang mampu menulis skripsi dianggap mampu memadukan pengetahuan danketrampilannya dalam memahami, menganalisis, menggambarkan dan menjelaskanmasalah yang berhubungan dengan bidang keilmuan yang diambilnya. Skripsi merupakanpersyaratan untuk mendapatkan status sarjana (S1) di setiap Perguruan Tinggi Negeri(PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang ada di Indonesia. Menurut kamusbesar bahasa Indonesia, skripsi diartikan sebagai suatu karangan ilmiah yang diwajibkansebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis.Permasalahan mulai muncul ketika mahasiswa merasa tidak cukup mampu untukmenyelesaikan tugas penulisan skripsi. inilah yang membuat beberapa pihakmemanfaatkan kesempatan untuk sekedar membuka jasa pengetikan ataupun melayanipengolahan data. Selain itu muncul juga jasa pembuatan skripsi yang semakin bertebarandan mudah untuk ditemui. Jika dahulu mungkin dilakukan dengan sembunyi-sembunyi,dan informasi di sebarkan dari mulut ke mulut, maka saat ini jasa penulisan skripsidengan mudah diakses oleh mahasiswa melalui internet. Hanya dengan memasukkan katakunci “konsultasi skripsi” dengan mesin pencari, hasilnya adalah 23.400 file padawww.yahoo.com, 90.300 file pada www.google.com. Bahkan para penyedia jasapembuatan skripsi tidak segan untuk menempel iklan di beberapa tempat misalnyadinding atau pohon di sekitar kampus. Jasa seperti ini seolah-olah dilegalkan, karenatidak pernah terdengar ada yang biro jasa skripsi yang dimeja hijaukan. Fenomena jokiskripsi hadir karena adanya permintaan dan penawaran. Sistem yang dibangun duniapendidikan ternyata memuat kekuatan-kekuatan pasar yang terbilang anomin (Wahono,2001:4-9).Ada berbagai alasan mengapa joki skripsi menjadi hal yang makin marak dan jasaini diminati oleh mahasiswa tingkat akhir. Menurut Nugroho, Dosen Fakultas IlmuPendidikan (FIP) Unnes, ada tiga variabel yang menyebabkan maraknya bisnis jokiskripsi. Yakni kultur akademik yang rendah, adanya pelaku pasar (para joki), sertaregulasi yang tidak jelas. Regulasi pemerintah juga menjadi problem tersendiri.Pemerintah memaksakan agar kuantitas lulusan perguruan tinggi meningkat. Program ituditangkap secara jeli oleh perguruan tinggi dengan menyelenggarakan perkuliahan"instan", model ekstensi atau semester pendek. Alhasil, perguruan tinggi menjadiprodusen sarjana berkualitas fast food. (Suara Merdeka, 21 April 2005). Programperkuliahan ekstensi banyak dinilai menjadi salah satu faktor mengapa joki skripsi tetapberjaya di tengah-tengah masyarakat. Bisnis joki skripsi ini kian menyeruak saatperguruan tinggi ramai-ramai membuka program ekstensi. (Suara Merdeka, 14 April2005, hal 10).Alasan lain mengapa joki skripsi kian marak juga tidak lepas dari dosenpembimbing yang kurang maksimal dalam memberikan pelayanan pada mahasiswa.Wakil Direktur Bidang Akademik Sekolah Pascasarjana UGM menyatakan, ketikapembimbing itu overload, punya kesibukan yang banyak di luar kegiatan belajarmengajarmaka ada kecenderungan di dalam menyikapi tugas pembimbingan hanyasebagai rutinitas yang harus dia lakukan. Akhirnya, dosen-dosen pembimbing akancenderung untuk kemudian menjadi stereotipik. (Edhi Martono, 2009).1.2 Perumusan MasalahRumusan masalah yang dapat ditarik dari hal ini adalah : Bagaimanakah modus parapenyedia jasa joki skripsi?1.3 JudulMenguak joki skripsi di Perguruan Tinggi1.4 TujuanProgram ini dibuat untuk menginvestigasi praktek joki skripsi yang dilakukan olehmahasiswa S1 di Semarang.1.5 Penayangan karya bidangProgram : Target InvestigasiStasiun TV : Cakra TV SemarangPenayangan : Senin, 19.00-19.30 WIB1.6 Analisis target audiensPenayangan karya bidang ini akan ditayangkan di salah satu stasiun TV lokal diSemarang yaitu Cakra TV. Cakra TV Semarang merupakan salah satu stasiun televisilocal Semarang yang dimiliki oleh Indonetwork yang saat ini mempunyai beberapaprogram tayangan berita yang berkonten lokal cukup tinggi dan dinilai memiliki peluanguntuk dapat menayangkan program investigasi karya bidang tersebut. Target audienceCakra Semarang TV:Jenis Kelamin : Pria dan WanitaUmur : Primer 15-65 tahunSekunder <14 tahunTersier > 65 tahunDapat disimpulkan bahwa audiens Cakra Semarang TV merupakan masyarakat di usiaproduktif sehingga karya bidang berupa investigasi ini nantinya dapat disaksikan olehmasyarakat dari berbagai lapisan umur untuk dijadikan pengalaman dan pengetahuan.1.7 Durasi30 menit durasi penayangan di Cakra TV dengan rincian sebagai berikut:-Video : 26 menit-Iklan : 3 menit-Credit title : 1 menit1.8 Signifikansia. AkademisInvestigasi dibuat dalam bentuk video berdurasi 30 menit, merupakan salah satu bagiandari aplikasi mata kuliah konsentrasi jurnalistik yaitu Produksi Berita TV dan JurnalistikInvestigasi. Diharapkan karya bidang ini dapat memberikan kontribusi dalam bidangjurnalistik.b. PraktisSecara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang fenomenajoki skripsi. Investigasi ini merupakan bentuk aplikasi riil mahasiswa dari berbagai matakuliah seperti : Produksi Berita TV, dan Jurnalisme Investigasi yang sudah diajarkan diperkuliahan, sehingga apa yang telah dipelajari di perkuliahan dapat diaplikasikan dalambentuk karya bidang.c. SosialInvestigasi ini dapat menjadi gambaran bagi masyarakat dan dunia akademik tentangadanya praktek joki skripsi yang mencoreng institusi pendidikan. Selain itu dapat jugamenjadi referensi bagi orang tua, tenaga pendidik, dan mahasiswa agar menghindaripraktek perjokian skripsi untuk memperbaiki kualitas pendidikan.SEKILAS BISNIS JOKI SKRIPSI DAN PROGRAM TARGET INVESTIGASIBanyaknya perjokian skripsi dapat dilihat dari berbagi sisi, secara sosiologis, Soekantomenyebutkan bahwa maraknya perjokian skripsi merupakan salah satu budaya tanding terhadapkultur akademik perguruan tinggi, yang muncul dalam bentuk penyimpangan ataupenyelewengan (Soekanto,1995:190-191). Penyimpangan layanan bimbingan skripsi dianggapsebagai praktek penyelewengan di dunia akademik. Penulisan skripsi menjadi pranata sosialyang menuntut mahasiswa untuk dapat menyelesaikannya..Dari hasil survei maka, banyak data dan informasi yang membantu dalam menelusurilayanan perjokian skripsi. Berdasarkan penelusuran, cara pemasaran yang dilakukan oleh biropenyedia layanan bimbingan skripsi ini adalah dari mulut ke mulut. Selain itu untuk menunjangpemasaran bisnisnya, para penyedia jasa ini memasang iklan di jalan-jalan yang mudah dilihatorang bahkan ada juga yang memasang iklan di media massa seperti surat kabar. Cara klienmelakukan komunikasi juga dapat dilakukan melalui SMS dan juga telfon untuk membuat janjidan jadwal pertemuan. Sedangkan untuk proses bimbingan,klien dapat bertatap muka langsungdengan pembimbing yang telah ditunjuk atau dapat juga memalui email. Email menjadi andalankarena merupakan sarana yang praktis untuk mengirimkan data-data, sehingga pemakai jasahanya cukup berkonsultasi melalui email, apabila ada revisi maka hanya cukup denganmengirimkan melalui email saja. Waktu bimbingan dapat ditentukan bersama, klien dapatdengan mudah kapanpun menghubungi pembimbing atau joki skripsinya. Berbeda denganpembimbing dari kampus yaitu dosen yang memberikan batasan waktu untuk konsultasi,penyedia layanan joki skripsi menyediakan waktu secara maksimal bagi para kliennya. Waktulayananpun 2-3 kali pertemuan dalam satu minggu dengan durasi 1-2 jam dalam tiappertemuannya.Para penyedia layanan bimbingan skripsi ini rata-rata mampu mengerjakan skripsi parakliennya selama kurang dari satu semester, apabila semakin sering melakukan bimbingan, makasemakin cepat proses penyelesaian skripsi tersebut. Jaminan ini yang menjadi titik kuncikepuasan para pengguna jasa joki skripsi. Penyedia jasa layanan bimbingan atau pembuatanskripsi menerima berbagi bidang dalam pengerjaan skripsi, hanya saja tarif yang ditawarkanpunberagam tergantung tingkat kesulitan, bidang hukum berbeda tarif dengan bidang teknik, begitujuga penelitian kualitatif akan berbeda dengan kuantitatif. Joki skripsi memberikan garansi mulaidari dari pemilihan judul, revisi tiap bab, bahkan hingga revisi setelah ujian skripsi. Pengarahanjuga diberikan sebelum klien menghadapi sidang supaya klien benar-benar mempersiapkan diriuntuk menghadapi sidang.Cakra Semarang TV memiliki jam siaran sebanyak 17 jam per harinya dimulai pukul06.30- 23.30 WIB. Cakra Semarang TV memiliki tak kurang dari 30 program acara. Targetinvestigasi sendiri, termasuk dalam salah satu program Cakra Semarang TV. Program ini tayangsetiap hari Senin pukul 19.00- 19.30 WIB. Target Investigasi adalah program yang mengulassecara mendalam mengenai suatu peristiwa atau isu yang hangat untuk disajikan dengan formatinvestigasi. Penayangan karya bidang kami dalam program Target Investigasi sangat tepat karenaprogram tersebut khusus menayangkan reportase investigasi.PELAKSANAAN, EVALUASI, DAN ANALISISJurnalisme investigatif adalah sebuah terminologi yang memberikan atribut penyelidikan,keingintahuan dan misi tertentu dari para wartawannya. Penelusuran fakta dalam pada jurnalismeinvestigasi didasarkan pada keinginan wartawan untuk mengetahui sesuatu, bukan seperti liputanregular seperti pada bentuk jurnalisme biasa. Penelusuran fakta dilakukan untuk memaparkankebenaran. Kebenaran yang ditemukan mempunyai tujuan untuk memperbaiki suatu keadaan didalam masyarakat yang salah. Jurnalisme investigasi mengungkap kebenaran dengan landasannilai-nilai moral.Tujuan reportase investigasi adalah sebagai berikut:1. Mengungkapkan informasi yang menyangkut kepentingan masyarakat, sehinggamasyarakat dapat berpartisipasi mengambilo keputusan2. Tidak hanya menyampaikan hal-hal yang secara operasional tidak sukses, namun jugasampai pada konsep yang keliru3. Beresiko tinggi dan bisa menimbulkan kontroversi, kontradiksi hingga konflik. Olehkarenanya harus menggali bahan-bahan yang dirahasiakan4. Karena beresiko tinggi, maka sebelumnya harus dipertimbangkan lebih dulu manfaat dankerugian bagi pihak-pihak yang terlibat5. Diperlukan idealisme, integritas, sikap adil, tenang dan tidak emosional pada diriwartawan maupun medianya.Tahap kerja wartawan investigasi:1. Tahap Pra ProduksiTahapan ini merupakan tahap awal dimana dilakukan persiapan perencanaan.Dimulai dari munculnya ide hingga pengembangan ide tersebut. (Darwanto, 2007; 175).Dalam pengembangan ide-ide awal, diperlukan langkah-langkah untuk mengumpulkandata awal.2. Tahap ProduksiPembuatan janji dengan narasumber dan pemilihan lokasiPenulis membuat janji dengan narasumber untuk melakukan wawancara dengan paranarasumber. Ada beberapa narasumber yaitu pengguna jasa joki skripsi, joki skripsi,pakar pendidikan dan psikolog.3. Pasca ProduksiPenulis sebagai reporter pada tahap paska produksi bertugas sebagai presenteryang menyajikan acara. Pengambilan gambar dilakukan sebanyak 2 kali, pertamapengambilan gambar dilakukan di rumah Amelia, namun karena oleh produser TargetInvestigasi dirasa kurang maka untuk pembuka dan penutup dirubah dengan melakukanpengambilan gambar ulang yaitu di kampus salah satu kampus perguruan tinggi swasta.Pemilihan lokasi dilakukan oleh pihak Cakra TV. Dalam tahap ini video sudah siapditayangkan karena sudah pada tahap akhir dan pihak dari Cakra TV bersediamenayangkan karya tersebut pada hari Senin 17 Juli 2013.SIMPULAN DAN SARANDalam karya bidang berbentuk produk jurnalistik dengan format video investigasi ini, adabeberapa kesimpulan yang dapat diambil selama proses pengerjaan yang dimulai dari tahap praproduksi, produksi, dan paska produksi.4.1 Kesimpulan1. Sebagai ReporterPenulis yang menjadi reporter melaksanakan tugas mulai dari mencari informasi,melakukan wawancara dan juga mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama kuliahkhusunya dalam mata kuliah jurnalistik investigasi.2. Sebagai EditorPenulis memegang tanggung jawab sebagai editor dengan meminta bantuan daripihak luar sebagai operator edit yang bekerja saling membantu dengan penulis dalamproses editing video. Proses editing ini dilakukan selama kurang lebih 2 minggu dandisesuaikan dengan naskah.4. 2 SaranBagi reporter selanjutnya: mempersiapkan diri sebaik mungkin dan mempertajaminformasi yang diperoleh dari narasumber yang ada. Dalam melakukan pengamatanlangsung dilapangan, siapkan catatan. Bagi editor selanjutnya: editor harus lebih jelidalam melakukan proses pemilihan gambar.Daftar PustakaDarwanto. (2007). Televisi Sebagai Media Pendidikan. Yogyakarta: PustakaBelajar.Gaines, William. C. (2007). Laporan Investigasi untuk Media. Jakarta: ISAI.Kovach, Bill., dan Rosenstiel, Tom. (2006). Sembilan Elemen Jurnalisme.Jakarta: Yayasan Pantau.Laksono, Dhandy D. (2009). Menyingkap Fakta: Panduan Liputan InvestigasiMedia Cetak, Radio, dan Televisi. Jakarta: AJI.Muda, Deddy Iskandar. (2003). Jurnalistik Televisi. Bandung: Rosdakarya.Sanaky, Hujair dkk. (2011). Academics Underground. Yogyakarta: PusatStudi Islam UII.Santana K, Septiawan.( 2003). Jurnalisme Investigatif. Jakarta: YayasanObor.Santana K, Septiawan. (2005). Jurnalisme Kontemporer. Jakarta: YayasanObor.Suhandang, Kustadi. (2004). Pengantar Jurnalistik. Bandung: PenerbitNuansa.Vivian, John. (2008). Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Kencana.
TERPAAN KOMUNIKASI PRESIDEN SBY DI MEDIA MENGENAI PERMASALAHAN KENAIKAN HARGA BBM DAN KELANGKAAN GAS 3KG TERHADAP PERSEPSI MASYARAKAT ATAS KINERJA PRESIDEN SBY Adhitya, rizky; Herieningsih, Sri Widowati; Yulianto, Muchamad
Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.732 KB)

Abstract

1 |Terpaan Komunikasi politik mengenai kenaikan harga BBM & kelangkaan gas 3kg terhadap persepsi masyarakat ataskinerja Presiden SBYARTIKELTERPAAN KOMUNIKASI PRESIDEN SBY DI MEDIA MENGENAI PERMASALAHAN KENAIKAN HARGA BBM DAN KELANGKAAN GAS 3KG TERHADAP PERSEPSI MASYARAKAT ATAS KINERJA PRESIDEN SBYPENYUSUN:Rizky Adhitya PutraDODEN PEMBIMBING:Sri Widowati Heriningsih, M.si & Much. Yulianto, S.SosJURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG20132 |Terpaan Komunikasi politik mengenai kenaikan harga BBM & kelangkaan gas 3kg terhadap persepsi masyarakat ataskinerja Presiden SBYABSTRAKSITitle : Exposure of President SBY communication in the media about the problems raise prices bbm & 3kg gas scarcity of public perception on the performance of President SBYName : Rizky Adhitya PutraNIM : D2C606049Major : Ilmu KomunikasiPresident Yudhoyono became the object of study because currently a hot issue and how perceptions of him are formed in the padasaat this difficult time and that a subject is public or audience kergiatan or directly affected by the decision of President SBYvariables taken in this study is media exposure and perceptions. The population in this study is as much 734 people taken by accidental sampling, the sample used is saturated sample with a sample of 60 people.Based on the results of statistical tests with Kendall Rank Correlation analysis found a positive and significant relationship between media exposure (X) and perception (Y), the Kendall rank correlation coefficient formula resulted in a rate that is in the range 0.660 criterion 0.000 0.600 to 0.799 with a significance value smaller than 0.05. And it is known that exposure to media that meerpa kalaknya included in the high category with a percentage of 75% and perception of the performance of President SBY high or less received positive feedback with a percentage of 75% is also in the high categoryIt can be shown that the relationship between Depiction adanaya media communications made regarding President SBY about rising fuel prices and gas shortages 3kg shown in the media, especially the television media perception is then formed in the community about the performance of President Susilo Bambang YudhoyonoABSTRAKSIPresiden SBY menjadi obyek penelitian karena saat ini sedang ramai dibicarakan dan bagaimana persepsi atas dirinya terbentuk di masa masa sulit padasaat ini dan yang menjadi subjeknya adalah masyarakat atau khalayak yang terimbas langsung oleh kergiatan atau keputusan dari presiden SBYVariabel yangt diambil dalam penelitian ini adalah terpaan media dan persepsi. Populasi dalam penelitian ini adalah sebanyak 734 orang yang diambil secara accidental sampling, sampel yang digunakan adalah sampel jenuh dengan sampel penelitian sebanyak 60 orang.Berdasarkan hasil uji statistik dengan analisis Korelasi Rank Kendall terdapat hubungan positif dan signifikan antara terpaan media (X) dan persepsi (Y), dengan rumus koefisien korelasi Rank Kendall menghasilan angka 0,660 yang berada dalam rentang kriteria 0,600-0,799 dengan nilai signifikansi 0,000 lebih kecil dari 0,05. Dan diketahui bahwa terpaan media yang meerpa kalaknya termasuk dalam kategori tinggi dengan persentase 75% dan persepsi terhadap kinerja presiden SBY tinggi atau kurang mendapat tanggapan positif dengan persentase juga sebesar 75% di kategori tinggiHal ini dapat menunjukan bahwa adanaya hubungan antara Pengambaran media mengenai komunikasi yang dilakukan presiden SBY mengenai kenaikan harga bbm dan kelangkaan gas 3Kg yang ditampilkan dalam media terutama3 |Terpaan Komunikasi politik mengenai kenaikan harga BBM & kelangkaan gas 3kg terhadap persepsi masyarakat ataskinerja Presiden SBYmedia televisi dengan persepsi yang kemudian terbentuk dalam masyarakat tentang penialaian mengenai kinerja presiden SBY1.1 Latar BelakangSaat Pemerintah dibawah presiden SBY melakukan konversi dari penggunaan minyak tanah ke penggunaan tabung gas 3Kg Presiden SBY melakukan pidato kenegaraan yang dalam intinya akan dilakukan konversi dari minyak tanah ke gas 3Kg dan infrastruktur dan ketersediaan gas 3Kg sudah siap dan ternyata terjadi kelangkaan dimana mana dan adanya banyak ledakan gas 3Kg di berbagai daerah. Selain itu Rencana pemerintah untuk membatasi subsidi BBM, walaupun terkesan terlambat, layak untuk diapresiasi.Karena permasalahan ini menguasaih hajat hidup orang banyak maka mendapat perhatian lebih dari Masyarakat secara lebih, yang paling popular adalah pidato kenegaraan Presiden SBY secara terbuka di Istana Negara 13 juni 2013 yang disiarkan hampir semua televisi nasional baik negri maupun swasta dan kebanyakan masyarakat tau dan paham bahwa intinya bbm dinaikan untuk mengurangi kerugian Negara dan harga bbm naik dibarengi dengan kebijakan BLSM yang saat ini sedang dijalankan1.2 Perumusan Masalahapakah ada hubungan antara terpaan pemberitaan komunikasi politik mengenai kenaikan harga BBM, kelangkaan gas 3kg yang dilakukan oleh Presiden SBY dengan persepsi masyarakat pada sikap yang dilakukan SBY.4 |Terpaan Komunikasi politik mengenai kenaikan harga BBM & kelangkaan gas 3kg terhadap persepsi masyarakat ataskinerja Presiden SBY1.3 Tujuan PenelitianUntuk mengetahui bagaimana hubungan antara dua variabel1.4 Kerangka TeoriSetiap penelitian memerlukan kejelasan titik tolak atau landasan berfikir dalam memecahkan masalah atau menyoroti masalahnya. Untuk itu perlu disusun kerangka teori yang memuat pokok-pokok pikiran yang menggambarkan dari sudut mana penelitian tersebut disoroti (Nawawi,1995:40).Menurut Steven M Caffe, efek media dapat dilihat dari perubahann yang terjadi pada diri khalayak, sebagai publik yang terpengaruhi. Adanya efek tersebut terbagi menjadi tiga :1. Efek Kognitifo Efek ini timbul bila ada perubahan pada apa yang diketahui, dipahami, atau dipersepsi khalayak. Efek ini berkaiatran dengan transmisi pengetahuan, ketrampilan, kepercayaan atau informasi2. Efek Afektifo Timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi, dibenci khalayak. Efek ini ada hubunganya dengan emosi, sikap atau nilai3. Efek Behavioralo Merujuk pada prilaku nyata yang dapat diamati, meliputi pola tindakan, kegiatan atau kebiasaan berprilaku (rakhmat, Jallaludin 2004:210)5 |Terpaan Komunikasi politik mengenai kenaikan harga BBM & kelangkaan gas 3kg terhadap persepsi masyarakat ataskinerja Presiden SBY Motivasi/penerimaan kesan Kepribadian/penafsiranYang dibawa media massa merupakan suatu terpaan, Terpaan media menurut Shore (1985, p.26) tidak hanya menyangkut apakah seseorang secara fisik cukup dekat dengan kehadiran media massa, tetapi apakah seseorang benar benar terbuka terhadap pesan-pesan media tersebut. Terpaan media merupakan kegiatan mendengarkan, melihat, dan membaca pesan media masa ataupun mempunyai pengalaman dan perhatian terhadap pesan tersebut, yang dapat terjadi pada tingkat individu ataupun kelompok.Deskripsi Geometri Hubungan Antar Variabel1.5 Hipotesisadanya hubungan antara dua variable1.6 Definisi konseptual1. Terpaan media mengenai kenaikan harga BBM, kelangkaan gas 3kg terhadap masyarakat merupakan kegiatan mendengarkan, melihat, dan membaca pesan media masa ataupun mempunyai(X)Terpaan media massa mengenai mengenai kenaikan harga BBM, kelangkaan gas 3kg(Y)Persepsi khalayak mengenai sikap politik Presiden SBY6 |Terpaan Komunikasi politik mengenai kenaikan harga BBM & kelangkaan gas 3kg terhadap persepsi masyarakat ataskinerja Presiden SBYpengalaman dan perhatian terhadap kenaikan harga BBM dan kelangkaan gas 3kg,.2. Persepsi khalayak terhaddap Presiden SBY adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh kalayak dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan yang berkaitan dengan Presiden SBY.1.7 Definisi operasionalTerpaan komunikasi kenaikan harga BBM & Gas 3Kg : Durasi menonton (pidato) Frekuesi menonton (pidato) Perhatian terhadap Tayangan (pidato)persepsi masyarakat atas kinerja Presiden SBY : penerimaan kesan penafsiran1.8 Metodologi Penelitian1.8.1 Tipe penelitianTipe yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian penjelasan (explanatory research)1.8.2 Populasi dan Teknik Sampling1.8.2.1 Populasidalam hal ini adalah Mahasiswa Fakultas Ekonomi UNDIP angkatan 2007/2008 sampai dengan angkatan 2008/2009, Adapun jumlah populasi7 |Terpaan Komunikasi politik mengenai kenaikan harga BBM & kelangkaan gas 3kg terhadap persepsi masyarakat ataskinerja Presiden SBYmahasiswa dan mahasiswi angkatan 2008 dan 2009 adalah sebanyak 734 mahasiswa.mahasiswa dan mahasiawi angkatan 2008-2009 sejumlah 734 mahasiswa.. Teknik yang digunakan penarikan sample adalah accidentaljumlah populasi sebanyak 734 orang dalam penelitian ini penulis menarik sample sebesar lebih kurang 10 % sehingga samplenya 60 orang.1.8.3 Jenis dan Sumber Data1.8.3.1 Data primerSumber data primer berasal dari para responden,1.8.3.2 Data sekunderSumber data sekunder didapat dari1.8.4 Alat dan teknik pengumpulan data1.8.4.1 Alat pengumpulan dataAlat pengumpulan data dalam penelitian ini dengan menggunakan kuesioner.1.8.4.2 Teknik pengumpulan dataTeknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara.1.8.5 Analisis DataPada pengujian hipotesis, penelitian ini menggunakan Koefisien Korelasi Rank Kendall dengan menggunakan bantuan software SPSS.UJI HIPOTESIS DAN ANALISIS HUBUNGAN TERPAAN MEDIA MASSA DENGAN PERSEPSI KOMUNIKASI POLITIK SBY8 |Terpaan Komunikasi politik mengenai kenaikan harga BBM & kelangkaan gas 3kg terhadap persepsi masyarakat ataskinerja Presiden SBYUntuk mengetahui koefisien korelasi antara variabel-variabel menggunakananalisa koefisien korelasi Kendall.1.1 Uji Hipotesis1. Jika nilai signifikan < 0,01 maka hubungan dinyatakan signifikan padataraf kepercayaan 99%, Hipotesis nol (Ho) ditolak dan Hipotesisalternatif (Ha) diterima.2. Jika nilai signifikan < 0,05 maka hubungan dinyatakan signifikan padataraf kepercayaan 95%, Hipotesis nol (Ho) ditolak dan Hipotesisalternatif (Ha) diterima.1.1.1 Pengujian Hubungan Terpaan Media Massa dengan PersepsiKomunikasi Politik SBYhasil uji statistik dengan menggunakan uji Konkordasi Kendall yangdijalankan dengan Program SPSSTabel 3.8Pengujian Hubungan Terpaan Media Massa terhadap Persepsi KhalayakCorrelations1,000 ,660**. ,00060 60,660** 1,000,000 .60 60Correlation CoefficientSig. (2-tailed)NCorrelation CoefficientSig. (2-tailed)NTerpaan MediaPersepsi KhalayakKendalls tau_bTerpaanMediaPersepsiKhalayak**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).Sumber: Data Primer yang Diolah, 20139 |Terpaan Komunikasi politik mengenai kenaikan harga BBM & kelangkaan gas 3kg terhadap persepsi masyarakat ataskinerja Presiden SBYUji Korelasi Kendall menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,000. Oleh karena nilai signifikansi tersebut < 0,05 maka terpaan media massa terbukti memiliki hubungan yang positif1.1.2 Pengujian Kekuatan Hubungana. Jika koefisien korelasi sebesar 0,000 – 0,199 maka kekuatan hubungan antar kedua variabel sangat rendahb. Jika koefisien korelasi sebesar 0,200 – 0,399 maka kekuatan hubungan antar kedua variabel rendahc. Jika koefisien korelasi sebesar 0,400 – 0,599 maka kekuatan hubungan antar kedua variabel sedangd. Jika koefisien korelasi sebesar 0,600 – 0,799 maka kekuatan hubungan antar kedua variabel kuate. Jika koefisien korelasi sebesar 0,800 – 1,000 maka kekuatan hubungan antar kedua variabel sangat kuatdalam tabel 4.9 menghasilkan koefisien korelasi sebesar 0,660. Nilai koefisien korelasi tersebut (0,660) berada pada rentang 0,600 – 0,799 sehingga dapat disimpulkan bahwa kekuatan hubungan antara terpaan media massa terhadap persepsi khalayak adalah kuat.1.2 AnalisisPersepsi dapat di definisikan sebagai proses yang dilakukan individu untuk memilih, mengatur dan menafsirkan stimuli ke dalam gambar yang berarti dan masuk akal mengenai dunia. Proses ini dapat dijelaskan sebagai “bagaimanakah10 |Terpaan Komunikasi politik mengenai kenaikan harga BBM & kelangkaan gas 3kg terhadap persepsi masyarakat ataskinerja Presiden SBYkita melihat dunia di sekeliling kita.” Dua individu mungkin menerima stimuli yang sama dalam kondisi nyata yang sama, tetapi bagaimana setiap orang mengenal, memilih, mengatur, dan menafsirkannya merupakan proses yang sangatGerbner dan koleganya berpendapat bahwa televisi menanamkan sikap dan nilai tertentu. Media pun kemudian memelihara dan menyebarkan sikap dan nilai itu antar anggota masyarakat yang kemudian mengikatnya bersama‐sama pula. Media mempengaruhi penonton dan masing‐masing penonton itu meyakininya. Sehingga para pecandu berat televisi itu akan mempunyai kecenderungan sikap yang sama satu sama lain (Nurudin, 2003 :159).A. Kesimpulan Terpaan media mengenai pidato Presiden SBY mengenai Kenaikan Harga BBM dan kelangkaan gas LPG 3Kg menerpa kahalayak sangat tinggi Presepsi khalayak yang terbentuk atas kinerja Presiden SBY adalah bahawqa Presiden SBY belum melaksanakan Kinerjana secara maksimal dan tingkat kepercayaan terhadap kinerja Presiden SBY yang rendah
Pengaruh Terpaan Kampanye Cagub-Cawagub, Intensitas Komunikasi Politik di dalam Keluarga, dan Kelompok Referensi terhadap Partisipasi Politik Pemilih Pemula pada Pilgub Jateng 2013 Asmoro, Awang; Pradekso, Tandiyo; Yulianto, Muchamad
Interaksi Online Vol 2, No 5 (2014): Wisuda Januari
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.667 KB)

Abstract

Pengaruh Terpaan Kampanye Cagub-Cawagub,Intensitas Komunikasi Politik di dalam Keluarga, dan Kelompok Referensiterhadap Partisipasi Politik Pemilih Pemula pada Pilgub Jateng 2013ABSTRACTOn May 26th, 2013, people of Central Java implemented the Gubernatorial Election.Various campaigns conducted to gain public sympathy. However, the number of abstentions wasvery high, reaching 44 percent. On the other hand, youth voters have a significant impact to thesuccess of the elections, or the victory of candidate, based on the relatively large amount.Adolescents at 17-18 years old, which when the Central Java Gubernatorial Election 2013, theyvote for the first time, most of them live with a family and at that age are also often involved insome reference groups.This study used quantitative research methods and the type is explanatory research,which examines the relationship between variables through hypothesis testing. The populationused in this study were high school students, Madrasah Aliyah, and vocational high schools inSemarang city, with multistage random sampling technique. This study used logistic regressionas statistical test. This test is used when the dependent variabel have dichotomous scale.The results showed that exposure to the candidates’ campaigns has no effect on youthvoters political participation, while political communication intencity in the family and politicalcommunication intencity in the reference group both has influence on youth voters politicalparticipation. Opened campaign or through the media can’t reach youth voters effectively. Onthe other side, youth voters need some party (but not political party) to mobilize their politicalparticipation. So, this study suggested that the target of the campaign are families or groups whohave access to the youth voters. Family and reference group had a significant influence on thepolitical socialization process to the youth voters, so that will be more effective when the politicor campaign informations delivered through the socialization agents.Keywords : campaign, family, reference group, youth votersABSTRAKSIPada tanggal 26 Mei 2013, masyarakat Jawa Tengah melaksanakan pemilihan Gubernurdan Wakil Gubernur secara langsung. Namun, angka golput ternyata sangat tinggi, yaitumencapai angka 44 persen. Di sisi lain, pemilih pemula memiliki pengaruh yang cukupsignifikan bagi kesuksesan pemilihan umum, ataupun bagi kemenangan salah satu kandidat,mengingat jumlah yang relatif besar. Remaja pada usia 17-18 tahun, di mana pada saat PilgubJateng 2013 menjadi pemilih untuk pertama kalinya, sebagian besar tinggal dengan keluarga danpada usia tersebut juga sering terlibat dalam suatu kelompok referensi.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan tipe penelitianeksplanatori, yaitu mengkaji hubungan antar variabel melalui pengujian hipotesis. Populasi yangdigunakan dalam penelitian ini adalah siswa SMA, MA, dan SMK di Kota Semarang, denganteknik multistage random sampling. Uji statistik yang digunakan adalah uji regresi logistik. Ujiini digunakan ketika variabel tetap berskala dikotomi.Hasil penelitian menunjukan bahwa terpaan kampanye Cagub-Cawagub tidakmempunyai pengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula, sedangkan intensitaskomunikasi politik di dalam keluarga dan intensitas komunikasi politik di dalam kelompokreferensi memiliki pengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula. Kampanye terbuka ataumelalui media tidak dapat menjangkau pemilih pemula dengan efektif. Di sisi lain, pemilihpemula membutuhkan pihak-pihak untuk memobilisasi partisipasi politik mereka. Untuk itu,disarankan agar kampanye dilakukan untuk menyasar keluarga atau kelompok-kelompok yangmemiliki akses kepada pemilih pemula. Keluarga dan kelompok referensi memiliki pengaruhyang signifikan dalam proses sosialisasi politik kepada pemilih pemula sehingga akan lebihefektif ketika informasi politik atau informasi kampanye disampaikan melalui agen-agensosialisasi tersebut.Kata kunci: kampanye, keluarga, kelompok, pemilih pemulaPENDAHULUANKomunikasi merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia. Pertukaran pesandilakukan di antara manusia melalui komunikasi. Fungsi komunikasi untuk mempersuasi banyakdijumpai dalam dunia politik. Komunikasi berperan sebagai penghubung antara pemerintahdengan rakyat. Di Indonesia, dengan sistem pemerintahan yang republik, di mana republikdengan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Presiden yang dipilihlangsung oleh rakyat, maka komunikasi digunakan sebagai alat untuk mempersuasi masyarakatagar memberi dukungan kepada suatu pihak atau golongan. Salah satu bentuk nyata dukunganmasyarakat terhadap suatu pihak atau golongan adalah melalui pemilihan umum (pemilu). Dalampemilu, para kandidat berlomba-lomba memperoleh suara rakyat untuk bisa menduduki jabatantertentu dalam pemerintahan. Komunikasi dalam kegiatan ini berperan penting untukmempersuasi masyarakat. Salah satu strategi komunikasi untuk mempersuasi masyarakat adalahkampanye. Upaya perubahan yang dilakukan kampanye selalu berkaitan dengan aspek kognitif,afektif, dan behavior. Namun, di tengah maraknya kampanye politik yang dilakukan partaipolitik dalam pemilu di tahun 1999, 2004, dan 2009, didapat data bahwa partisipasi politikmasyarakat Indonesia dalam pemilu justru mengalami penurunan. Tidak hanya dalam Pemilu,rendahnya partisipasi politik masyarakat dalam Pilgub juga terasa. Data hasil Pilgub di beberapadaerah juga menunjukkan bahwa tingkat Golput masyarakat sangat tinggi, yaitu Jawa Tengahdengan tingkat Golput paling tinggi dari provinsi lain dengan 45,25 persen(http://ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=1432).Keluarga sebagai lingkungan terdekat bagi seseorang memiliki peran yang cukup pentingbagi perkembangan seseorang. Dalam dunia politik, keluarga, terutama orang tua memilikiperanan untuk mengedukasi anaknya tentang politik. Tidak hanya melalui keluarga, pemilihpemula yang masih berusia remaja cenderung terlibat dengan kelompok referensi dalampergaulannya. Kelompok referensi dalam bentuk kelompok teman sebaya, kelompok diskusi, dankomunitas memiliki peran penting juga dalam kesuksesan pemilihan umum. Sosialisasi tentangpolitik juga dapat terjadi dalam kelompok referensi, di mana dengan keberadaan kelompokreferensi, informasi, dalam hal ini informasi politik yang diperoleh masing-masing anggota dapatdibagikan kepada anggota lain, sehingga menambah pengetahuan bagi anggota, sehinggaanggota dapat menentukan sikapnya terhadap politik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terpaan kampanye Cagub-CawagubJateng 2013, intensitas komunikasi politik di dalam keluarga, dan intensitas komunikasi politikdi dalam kelompok referensi terhadap partisipasi politik pemilih pemula dalam Pilgub Jateng2013.Tipe penelitian ini adalah eksplanatori. Tipe penelitian ini digunakan untuk menjelaskanhubungan (korelasi) antar variabel melalui pengujian hipotesis. Populasi dalam penelitian iniadalah siswa SMA, MA, dan SMK di Kota Semarang. Data diambil dari Profil Pendidikan KotaSemarang Tahun 2012 dengan mengambil data kelompok usia 16-18 tahun. Pada tahun 2013,usia terkecil dalam kelompok usia tersebut akan memenuhi syarat usia sebagai pemilih dalampemilihan umum, maka anggota kelompok usia tersebut pada Pemilihan Gubernur Jawa Tengah2013 dianggap sebagai pemilih pemula. Jumlah anggota populasi ini adalah 50.419 orang.Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah multistage random sampling.Kerangka TeoriBeberapa studi menunjukkan bagaimana agenda kampanye mempengaruhi isu yangmenonjol di kalangan pemilih (Iyengar & Simon; Togeby, dalam Hansen, 2008: 8). Kampanyesebagai sarana komunikasi persuasi kandidat digunakan untuk mengarahkan isu yang menonjoldi kalangan pemilih sesuai dengan keinginannya. Misalnya, De Vreese (dalam Hansen, 2008: 9)menunjukkan bagaimana isu dari kampanye jajak pendapat menyebabkan pemilih mengevaluasikinerja politisi terhadap isu kampanye. Johnston dkk. (dalam Hansen, 2008: 9) menunjukkanbagaimana isu perdagangan bebas meningkatkan isu yang menonjol selama kampanye danbagaimana pemilih mengevaluasi kandidat berdasar pengaruh yang kuat terhadap perdaganganbebas pada pilihan mereka. Freedman dkk (dalam Hansen, 2008: 7) menemukan bahwa terpaankampanye meningkatkan ketertarikan politik, kesadaran, pengetahuan, dan kecenderungan untukmemilih.Para peneliti secara tradisional berkonsentrasi pada keluarga sebagai agen sosialisasi utama,menemukan bahwa diskusi politik di dalam rumah, partisipasi orang tua dalam pemilihan, dansumber daya politik secara signifikan berdampak pada partisipasi politik remaja (Verba dkk;Brady dkk, dalam Pacheco, 2008: 415). . Menurut beberapa ilmuwan, anak muda hanya memilihseperti pilihan orang tua mereka (Rundio; dalam Armstrong, dkk, 2008: 1). Misalnya, jika orangtua mereka Partai Republik, mereka cenderung memilih Partai Republik juga. Studi telahmenunjukkan bahwa arah politik dikalahkan oleh paksaan orang tua yang lebih banyak padatahun-tahun awal seseorang bergabung dalam pemilihan umum dan perlahan-lahan berkurang,selalu tersisa sedikit pengaruh (Jennings; dalam Gross, 2007: 6).Kelompok referensi adalah seseorang atau sekelompok orang yang mempengaruhi perilakuindividu secara signifikan (Bearden dan Etzel, 2001: 184). Dalam studi merek pilihan konsumen,Witt (dalam Bearden dan Etzel, 2001: 183-184) menegaskan studi nonmarketing pada awalnyamengindikasi bahwa kohesivitas kelompok mempengaruhi perilaku. Baron dan Byrne (dalamRakhmat, 2009: 149) berpendapat bahwa pengaruh sosial terjadi ketika perilaku, perasaan, atausikap kita diubah oleh apa yang orang lain katakan atau lakukan.Hipotesis1. Terpaan kampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013 (X1) secara signifikan berpengaruhterhadap partisipasi politik pemilih pemula (Y).2. Intensitas komunikasi politik di dalam keluarga (X2) secara signifikan berpengaruh terhadappartisipasi politik pemilih pemula (Y).3. Intensitas komunikasi politik di dalam kelompok referensi (X3) secara signifikanberpengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula (Y).PEMBAHASANRegresi logistik merupakan pendekatan untuk memprediksi, seperti regresi Ordinary LeastSquare (OLS). Namun, dengan regresi logistik, peneliti memprediksi hasil yang dikotomi, dalampenelitian ini adalah partisipasi politik pemilih pemula, dengan nilai 1 untuk kategoriberpartisipasi dan nilai 0 untuk kategori tidak berpartisipasi. Situasi ini menimbulkan masalahbagi asumsi OLS yang mengharuskan varians eror (nilai residual) terdistribusi normal.Uji parsial dilakukan untuk mengetahui apakah variabel bebas secara individu mempengaruhivariabel terikat.TabelPartial TestB Sig. Exp(B)x1 -.085 .633 .918x2 1.085 .000 2.959x3 1.239 .000 3.454Constant -6.209 .000 .002Ho : β = 0 (Variabel x tidak signifikan mempengaruhi variabel dependen)Ha : β ≠ 0 (Variabel x signifikan mempengaruhi variabel dependen)Kriteria pengujian: Jika nilai signifikansi < 0,05, maka Ho ditolak, Ha diterima. Jika nilai signifikansi > 0,05, maka Ho diterima, Ha ditolak.Hasil pengujian :Nilai signifikansi X1 = 0,633, berarti > 0,05Nilai signifikansi X2 = 0,000, berarti < 0,05Nilai signifikansi X3 = 0,000, berarti < 0,05Karena ada satu variabel yang tidak signifikan, maka dilakukan penghitungan ulang denganmembuang variabel yang tidak signifikan. Hasilnya sebagai berikut:TabelPartial TestB Sig. Exp(B)x2 1.078 .000 2.938x3 1.226 .000 3.409Constant -6.526 .000 .001Interpretasi Odds RatioKoefisien regresi pada regresi logistik sulit diinterpretasikan karena regresi logistik berbicaramengenai probabilitas. Maka digunakan angka odds ratio, di mana nilai odds ratio ditunjukkanpada kolom Exp(B).1. Exp(B1) = 2,938Artinya, semakin tinggi intensitas komunikasi politik di dalam keluarga yang dilakukanpemilih pemula, maka kecenderungannya untuk ikut berpartisipasi politik meningkat.Atau,Kecenderungan pemilih pemula yang mengalami intensitas komunikasi politik di dalamkeluarga yang tinggi untuk berpartisipasi politik dalam Pilgub Jateng 2013 meningkat 2,938kali lipat lebih tinggi dibanding pemilih pemula yang memiliki intensitas komunikasi politikdi dalam keluarga yang lebih rendah.2. Exp(B2) = 3,409Artinya, semakin tinggi intensitas komunikasi politik di dalam kelompok referensi yangdilakukan pemilih pemula, maka kecenderungannya untuk ikut berpartisipasi politikmeningkat.Atau,Kecenderungan pemilih pemula yang mengalami intensitas komunikasi politik di dalamkelompok referensi yang tinggi untuk berpartisipasi politik dalam Pilgub Jateng 2013meningkat 3,409 kali lipat lebih tinggi dibanding pemilih pemula yang memiliki intensitaskomunikasi politik di dalam keluarga yang lebih rendah.Pengaruh Terpaan Kampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013, Intensitas KomunikasiPolitik di dalam Keluarga, dan Kelompok Referensi terhadap Partisipasi Politik PemilihPemula dalam Pilgub Jateng 2013Berdasarkan hasil analisis statistik, diketahui bahwa dari tiga variabel bebas yaitu terpaankampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013, intensitas komunikasi politik di dalam keluarga, danintensitas komunikasi politik di dalam kelompok referensi, variabel terpaan kampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013 tidak berpengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula. Dari hasilperhitungan, tidak terdapat cukup bukti untuk menerima hipotesis yang menyatakan bahwaterpaan kampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013 berpengaruh positif terhadap partisipasi politikpemilih pemula.Zaller (dalam Evans, 2004: 201) berpendapat bahwa dari sudut pandang statistika, meskipunkita tahu dari perspektif dunia nyata bahwa terpaan kampanye memiliki efek pada bagaimanaorang-orang memilih (pemilu), belum ada yang formalisasi nyata dari efek kampanye karenasurvey dengan ribuan responden pun tidak cukup besar untuk mendeteksi efeknya. Selarasdengan hasil penelitian ini, bahwa terpaan kampanye yang diterima oleh kelompok pemilihpemula ternyata tidak memiliki pengaruh terhadap partisipasi politik pada pemilihan umum. Efekkampanye pada Pilgub Jateng 2013 tidak terlihat pada kelompok pemilih pemula, karena tidakmendapat cukup bukti yang mendukung hipotesis yang diajukan. Lebih lanjut, Newton (dalamFarrell dan Beck, 2004: 184) berpendapat, pemilih membentuk preferensi mereka atas dasarinformasi selain yang disediakan dalam kampanye, dan terhadap informasi ini, pesan bias yangdipikirkan oleh spesialis pemasaran tidak bisa menang. Artinya adalah bahwa pemilih,memutuskan pilihan mereka pada pemilihan umum bukan berdasar informasi yang diberikandalam kampanye. Sedangkan pesan-pesan yang telah disusun oleh tim sukses kampanye, tidakdapat menang melawan informasi yang diperoleh di luar kampanye. Dalam penelitian ini,sumber informasi lain diperoleh melalui diskusi politik dalam keluarga dan kelompok referensi,di mana keduanya memberikan pengaruh yang signifikan terhadap partisipasi politik kelompokpemilih pemula. Semakin intensif diskusi yang dilakukan, baik di dalam keluarga maupunkelompok referensi, maka akan semakin tertanam dalam benak pemilih pemula, yang kemudianmempengaruhi pandangan politiknya, sehingga partisipasi politiknya sebagai pengamatterbentuk berdasarkan pandangan keluarga maupun kelompok referensi.Berdasarkan seminar “Voting” (1954), oleh Bernard Berelson, Paul F. Lazarsfeld, danWilliam N. McPhee, dan “The American Voter” (1960), oleh Angus Campbell, Philip E.Converse, Warren E. Miller, dan Donald E. Stokes, pada penelitian terbaru, banyak ahliberpendapat bahwa keputusan pemilihan bergantung pada identifikasi partisan dan sosiologiyang sudah ada sebelum kampanye dimulai dan kampanye hanya mengaktifkan preferensi yangtersembunyi ini (dalam Mayer, 2008: 59). Jadi, dalam sebuah keputusan partisipasi pemilih,kampanye tidak memiliki pengaruh yang berarti, namun keputusan lebih dipengaruhi olehmisalnya faktor lingkungan dan pandangan pribadi terhadap kandidat, di mana hal ini sudahmulai berkembang di dalam benak kalangan pemilih sebelum dilakukannya kampanye. Kegiatankampanye diperlukan untuk hanya mengaktifkan ingatan tentang pandangan pribadi danlingkungan yang mempengaruhinya saat sebelum dilakukannya pemungutan suara. Kampanyedalam hal ini tidak lebih sebagai pengingat saja tentang kegiatan pemilihan umum, hal inimenggambarkan tidak adanya pengaruh yang diberikan kepada keputusan pemilih.Kelompok yang menolak perlunya kampanye politik, berpendapat bahwa hasil pemiluditentukan oleh kinerja pemerintah dan bahwa kampanye hanya berarti sedikit dalammenentukan hasil pemilu. Mengikuti tradisi klasik dari V.O. Key (dalam Maisel dkk, 2007: 3),peneliti tersebut menekankan model reward atau hukuman berdasarkan indikator pemerintahanyang sebenarnya, seperti perekonomian atau perang dan damai. Jika perekonomian berjalandengan baik dan masyarakat puas dengan kinerja keseluruhan pemerintahan saat ini, merekaharus memilih anggota partai tersebut, dan jika mereka tidak puas, mereka harus menghukumpartai tersebut dengan menolak memilih partai tersebut. Model demokrasi ini, menurut Popkin(dalam Maisel dkk, 2007: 3) hanya membutuhkan informasi dan pilihan yang minim sebagaibagian dari pemilihan umum. Pemilih tidak diharuskan mengikuti debat dengan sangat hati-hatiatau mencari detail dari program kerja kandidat. Sebaliknya, mereka hanya harus mampu menilaiyang telah dilakukan pemerintah saat ini. Sesuai dengan konsep tersebut, analisis berbasis kinerjacenderung berpikir bahwa kualitas kampanye, janj-janji kandidat, dan liputan media massa tidakberarti dalam menentukan hasil pemilihan umum. Permasalahan yang menonjol (seperti tingkatpengangguran, inflasi, dan lain-lain) adalah yang menggerakan pemilih (Beck dan Nadeau,dalam Maisel dkk, 2007: 3). Kegiatan kampanye, ditujukan untuk meraih simpati masyarakatagar memilih suatu partai atau kandidat dalam pemilihan umum, namun, berdasarkan uraian diatas, kampanye politik tidak berpengaruh terhadap keputusan pemilih dikarenakan pemilihmengambil keputusan berdasarkan kinerja kandidat. Kegiatan kampanye yang lebih berfokuspada penyampaian program kerja atau hiburan-hiburan tidak memiliki dampak signifikanterhadap keputusan pemilih. Pemilih pemula, yang sebagian besar pelajar, memiliki cenderungmemiliki sedikit waktu untuk mengakses informasi mengenai kinerja kandidat. Namun denganadanya keluarga dan kelompok referensi, di mana di antaranya memiliki pengetahuan danpenilaian terhadap kandidat, maka dalam diskusi yang melibatkan pemilih pemula, pemilihpemula akan dapat menilai kinerja kandidat berdasarkan informasi yang diperoleh dari keluargaataupun kelompok referensi. Semakin banyak pemilih pemula memperoleh informasi, makapemilih pemula akan lebih obyektif dalam menentukan pilihan.Chaffe dkk (dalam Nimmo 2006: 112-113) berpendapat anak dari keluarga yang mendorongpengungkapan diri dan penyingkapan gagasan politik yang bertentangan; sementara mengecilkanhubungan sosial yang berupa penghormatan dan yang konformis, cenderung lebihberpengetahuan tentang politik, lebih besar kemungkinannya terlibat dalam politik, lebih percayakepada politik, lebih realistik dalam mengagumi pemimpin politik, dan lebih menaruh minatterhadap politik dibandingkan dengan anak dari keluarga tipe yang lain. Dalam diskusi keluarga,semakin intensif komunikasi yang dilakukan dalam rangka membahas masalah politik danmelibatkan pemilih pemula, maka pemilih pemula yang cenderung aktif dalam diskusi, misalnyadengan mengutarakan pandangan politiknya, akan cenderung berpartisipasi dalam politik.Hirsch (dalam Nimmo, 2006: 113) menyebutkan bahwa kelompok sebaya memiliki pengaruhyang memperkuat dan mendukung pandangan politik anak sehingga politik benar-benar menjadimasalah pembahasan yang relevan. Nimmo (2006: 113) berpendapat bahwa kelompok sebayajuga mempengaruhi belajar politik sehingga mereka memberikan bimbingan melaluikeanggotaan dalam asosiasi sukarela, perhimpunan kewarganegaraan, atau dengan rekan kerja diperusahaan, serikat, buruh, atau tempat kerja yang lain. Karena orang biasanya masuk dalampandangan sendiri, maka kemungkinan asosiasi seperti itu mengubah opini politik menjadiberkurang. Meskipun tidak selalu demikian, kecenderungan yang umum ialah bahwa orangmenyesuaikan kepercayaan, nilai, dan pengharapan politiknya dengan kawan sebaya untukmemelihara persahabatan yang ditunjukkan dengan menjadi kawan sebaya.Menurut Huntington dan Nelson (dalam Arifin, 2011: 213), sifat partisipasi politik yangterlihat berdasarkan hasil penelitian cenderung kepada partisipasi politik yang dimobilisasi ataudigerakan oleh pihak lain (mobilized participation). Namun, berbeda dengan pendapatHuntington dan Nelson, penggerak partisipasi politik kelompok pemilih pemula bukan olehpartai politik, kandidat, tim sukses, atau pejabat pemerintah, karena terpaan kampanye tidakmempengaruhi partisipasi politik kelompok ini. Penggerak yang berpengaruh terhadap kelompokpemilih pemula adalah keluarga dan kelompok referensi. Keluarga dan kelompok referensitermasuk dalam lingkungan terdekat bagi kelompok pemilih pemula. Ini artinya bahwakeputusan kelompok pemilih pemula dalam pemilihan umum dipengaruhi oleh lingkungan yangada di dekatnya. Dengan intensitas komunikasi yang tinggi di dalam keluarga maupun kelompok,pemilih pemula mendapat pengetahuan politik yang mana pengetahuan tersebut berdasar padaperspektif masing-masing keluarga atau kelompok, artinya pengetahuan yang diberikan bersifatsubjektif. Berdasarkan hal tersebut, menurut Dan Nimmo (dalam Arifin 2011: 223-224)kelompok pemilih pemula ini cenderung masuk dalam tipe pemilih rasional. Kelompok pemilihpemula yang berpartisipasi cenderung melakukan diskusi mendalam tentang politik baik dengankeluarga maupun kelompok referensi. Pemberi suara rasional berminat secara aktif terhadappolitik, rasa ingin tahu yang dimiliki kelompok pemilih pemula menjadikan diskusi denganlingkungan terdekat sebagai sarana mendapatkan informasi, dalam hal ini adalah informasipolitik. Melalui diskusi, pemilih pemula dapat memperoleh cukup informasi untuk menentukanalternatif yang dihadapkan padanya, alternatif pemimpin Jawa Tengah periode 2013-2018. Motifpartisipasi yang terlihat dalam penelitian ini, menurut Dan Nimmo (2006: 129-130) yaitusengaja, diarahkan dari dalam, dan diarahkan dari luar. Motif sengaja, artinya bahwa pemilihpemula secara sengaja terlibat dalam diskusi politik yang kemudian akan meningkatkanpengetahuan politiknya dan dapat mempengaruhi pandangan politiknya. Motif diarahkan daridalam, artinya bahwa orientasi atau kecenderungan partisipasi politiknya diperoleh melaluibimbingan orang tuanya. Pemilih pemula dengan intensitas komunikasi politik yang tinggi didalam keluarga cenderung terpengaruh untuk berpartisipasi dalam pemilihan umum. Yangketiga, motif diarahkan dari luar, artinya bahwa kecenderungan partisipasi pemilih pemula,selain dipengaruhi oleh keluarga, juga dipengaruhi lingkungan yang lebih luas, dalam hal iniadalah kelompok referensi. Diskusi politik yang terjadi dalam kelompok yang melibatkanpemilih pemula, cenderung mempengaruhi partisipasi pemilih pemula dalam pemilihan umum.Partisipasi pemilih pemula dalam Pilgub Jateng 2013 ini termasuk rendah, di mana sebanyak59% menyatakan tidak berpartisipasi dalam pemilihan umum. Ini menunjukkan bahwa motifyang ada dalam diri pemilih pemula kurang dibangun. Jika intensitas komunikasi politik didalam keluarga dan kelompok referensi berpengaruh secara signifikan terhadap kecenderunganpartisipasi dalam pemilihan umum, maka ketika intensitas komunikasi politik di dalam keluargadan kelompok referensi rendah, pemilih pemula cenderung tidak berpartisipasi. Ini berarti motifdiarahkan dari dalam dan luar, kurang berkembang dalam diri pemilih pemula. Keluarga dankelompok referensi kurang bisa memaksimalkan perannya sebagai agen sosialisasi politik kepadapemilih pemula. Sedangkan pemilih pemula, juga kurang termotivasi untuk secara aktif mencariinformasi politik sehingga kecenderungan partisipasinya rendah.PENUTUPBerdasarkan hasil analisis data menggunakan regresi logistik, maka dapat disimpulkansebagai berikut:1. Tidak terdapat pengaruh terpaan kampanye Cagub-Cawagub terhadap partisipasi politikpemilih pemula. Beberapa jawaban atas temuan ini yaitu antara lain, kegiatan kampanyeyang ditujukan kepada kelompok pemilih pemula sedikit, hal ini menyebabkan terpaan yangdiperoleh cenderung rendah, sehingga pengetahuan yang dimiliki pemilih pemula tentangkandidat juga minim. Kegiatan kampanye yang umum dilakukan seperti kampanye terbukadan melalui media massa maupun media luar ruang tidak dapat menjangkau kalangan remaja.2. Terdapat pengaruh yang signifikan dari intensitas komunikasi politik di dalam keluargaterhadap partisipasi politik pemilih pemula.3. Terdapat pengaruh yang signifikan dari intensitas komunikasi politik di dalam kelompokreferensi terhadap partisipasi politik pemilih pemula.4. Partisipasi politik pemilih pemula cenderung rendah dan hal itu lebih dipengaruhi padaintensitas komunikasi politik di dalam keluarga dan kelompok referensi yang cenderungrendah juga.Berdasarkan kesimpulan di atas, peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut:1. Para calon yang tampil dalam pemilihan umum, agar melakukan kampanye dengan cara lainuntuk menyasar pemilih pemula, hal ini karena dengan kegiatan kampanye yang telahdilakukan seperti kampanye terbuka, melalui media massa maupun media luar ruang, tidakdapat mempengaruhi partisipasi mereka. Untuk itu, disarankan agar melakukan kampanyemelalui agen sosialisasi bagi pemilih pemula atau remaja, yaitu keluarga dan kelompokreferensi, hal tersebut bisa menjadi alternatif yang efektif untuk menjangkau pemilih pemulaatau remaja.2. Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai pihak penyelenggara pemilihan umum bersamapemerintah, agar memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnyapendidikan politik bagi anak muda.3. Keberadaan keluarga dan kelompok referensi, sebagai lingkungan terdekat dan sebagai agensosialisasi bagi pemilih pemula, berpengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula.Maka, keluarga dan kelompok referensi sebaiknya lebih aktif mengajak anak berkomunikasidan berdiskusi tentang politik, sehingga terjadi keterbukaan antar anggota keluarga danpemilih pemula dapat meningkatkan pengetahuan politik.4. Keberadaan pemilih pemula sebagai bagian baru dalam dunia politik memiliki peran pentinguntuk ikut membangun bangsa, maka pemilih pemula sebaiknya lebih aktif dan tertarik padadunia politik. Pemilih pemula sebaiknya terbuka terhadap informasi politik yang diterimabaik melalui media massa maupun dari orang lain. Hal ini sangat berguna untukmengembangkan pengetahuan politik para pemilih pemula.DAFTAR PUSTAKAArifin, Anwar. 2011. Komunikasi Politik: Filsafat-Paradigma-Teori-Tujuan-Strategi danKomunikasi Politik Indonesia. Yogyakarta: Graha Ilmu.Armstrong, Abbigail dkk. 2008. Examining Trends in Youth Voting: The Effect of Turnout,Competition, and Candidate Attributes on 18-24 Voters from 1974-2004. University ofEvansville.Bearden, William O. dan Michael J. Etzel. 1982. Reference Group Influence on Product andBrand Purchase Decisions. Journal of Consumer Research: Volume 9.Evans, Jocelyn A.J. 2004. Voter & Voting: an Introduction. London: Sage Publications.Farrell, David M. dan Rudiger Schmitt-Beck. 2004. Do Political Campaigns Matter? CampaignEffects in Elections and Referendums. New York: Routledge.Gross, John. 2007. The Influence of Parents in the Voting Behavior of Young People: A Look atthe National Civic and Political Engagement of Young People Survey and the 2008Presidential Election. Public Opinion and Survey Research.Hansen, Kaper M. 2008. The Effect of Politial Campaigns: Overview of the Research OnlinePanel of Electoral Campaigning (OPEC). University of Copenhagen.Maisel, L. Sandy, Darrell M. West, dan Brett M. Clifton. 2007. Evaluating Campaign Quality:Can the Electoral Process be Improved. New York: Cambridge University Press.Mayer, William G. 2008. The Swing Voter in American Politics. Washington: The BrookingInstitution.Nimmo, Dan. 2006. Komunikasi Politik: Khalayak dan Efek. Bandung: Remaja Rosdakarya.Pacheco, Julianna Sandell. 2008. Political Socialization in Context: The Effect of PoliticalCompetition on Youth Voter Turnout. USA: Springer Science+Business Media.Rakhmat, Jalaluddin. 2009. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.http://ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=1432
Pengaruh Iklim Komunikasi Organisasi Terhadap Motivasi Kerja Karyawan PT. PLN (Persero) Area Sidoarjo Filemon, Raymond Soelistiono; Pradekso, Tandiyo; Yulianto, Muchamad
Interaksi Online Vol 1, No 4 (2013): Wisuda Oktober
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.965 KB)

Abstract

ABSTRAKJUDUL: Pengaruh Iklim Komunikasi Organisasi Terhadap MotivasiKerja Karyawan PT. PLN (Persero) Area SidoarjoNAMA: Raymond Soelistiono FilemonNIM : D2C007071Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh dari iklimkomunikasi organisasi terhadap motivasi kerja karyawan, karena motivasikerja karyawan yang optimal adalah modal utama dari suatu tujuan institusi.Selain itu juga bertujuan untuk memberikan bukti empiris adanya hubunganyang positif antara iklim komunikasi dengan motivasi kerja karyawan.Penelitian ini menggunakan populasi karyawan PT. PLN (Persero)APJ Area Sidoarjo. Sampel yang digunakan berjumlah 70 responden.Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linierberganda.Berdasarkan hasil pengujian dengan SPSS diperoleh untuk variabelkepercayaan terhadap motivasi kerja diperoleh nilai t = 2,702 dengansignifikansi 0,008 (p < 0,05). Pengaruh kejujuran terhadap motivasi kerjadiperoleh nilai t = 2,182 dengan signifikansi 0,031 (p < 0,05). Pengaruhpembuat keputusan bersama terhadap motivasi kerja diperoleh nilai t = 7,040dengan signifikansi 0,000 (p < 0,05). Pengaruh keterbukaan dalamkomunikasi kebawah terhadap motivasi kerja diperoleh nilai t = 2,351 dengansignifikansi 0,021 (p < 0,05). Pengaruh mendengarkan dalam komunikasikeatas terhadap motivasi kerja diperoleh nilai t = 2,378 dengan signifikansi0,000 (p < 0,05). Pengaruh perhatian pada tujuan berkinerja tinggi terhadapmotivasi kerja diperoleh nilai t = 2,902 dengan signifikansi 0,005 (p < 0,05).Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh variabelindependen secara simultan berpengaruh positif terhadap variabel dependen.Variabel yang paling berpengaruh dalam peneitian ini adalah variabelpembuat keputusan bersama. Hal itu berarti bahwa iklim komunikasiorganisasi berpengaruh positif terhadap motivasi kerja. Semakin tinggi iklimkomunikasi organisasi maka semakin tinggi pula motivasi kerja yangdihasilkan.Kata Kunci : iklim komunikasi, motivasi kerja.ABSTRACTJUDUL: Organizational Communication Climate Influence on EmployeeMotivation PT. PLN (Persero) Sidoarjo AreaNAMA: Raymond Soelistiono FilemonNIM : D2C007071This study aimed to describe the influence of organizationalcommunication climate on employee motivation, because the optimalemployee motivation is the main capital of an institutional goal. It also aimsto provide empirical evidence of a positive relationship betweencommunication climate with karyawan.a work motivation.The population of this study of employees of PT. PLN (Persero) APJArea Sidoarjo. The samples used were 70 respondents. Testing thishypothesis using multiple linear regression analysis.Based on test results obtained with SPSS for confidence in the workmotivation variables obtained value t = 2.702 with a significance of 0.008 ( p< 0,05 ) . Honesty influence on work motivation obtained value t = 2.182with a significance of 0.031 ( p < 0,05 ) . Influence decision makers workingtogether to motivate obtained value t = 7.040 with a significance of 0.000 ( p< 0,05 ) . Effect of openness in communication down to the work motivationobtained value t = 2.351 with a significance of 0.021 ( p < 0,05 ) . Effect oflistening in communication up on work motivation obtained value t = 2.378with a significance of 0.000 ( p < 0,05 ) . Effect of attention on highperformancegoals on work motivation obtained value t = 2.902 with asignificance of 0.005 ( p < 0,05 ).The results of this study indicate that all the independent variablessimultaneously positive effect on the dependent variable . The mostinfluential variable in this fieldwork is variable with decision makers . Thatmeans that the positive effect of organizational communication climate onwork motivation . The higher the organizational communication climate , thehigher the resulting work motivation.Keywords: climate communication, work motivation.PENGARUH IKLIM KOMUNIKASI ORGANISASITERHADAP MOTIVASI KERJA KARYAWAN PT. PLN(PERSERO) AREA SIDOARJOSkripsiPenyusun: Raymond Soelistiono Filemon NIM: D2C007071Dosen pembimbing: Drs. Tandiyo Pradekso, M. ScMuch. Yuliyanto, S. Sos. M. SiJurusan Ilmu KomunikasiFakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroSemarang2013PENDAHULUANLembaga yang memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitasadalah salah satu cara organisasi untuk mempertahankan kelangsungan hiduporganisasinya, karena akan mempermudah suatu organisasi dalam mencapaitujuan yang diinginkan. Selain Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas,komunikasi dalam suatu organisasi juga merupakan hal utama yang tidak kalahpentingnya dalam mencapai tujuan organisasi.Hubungan komunikasi yang baikantara atasan dengan bawahan, bawahan dengan atasan, dan antara bawahandengan bawahan dalam suatu organisasi sangat berpengaruh besar dalammenjembatani terciptanya peningkatan produktivitas kerja karyawan di dalamorganisasi tersebut.PT. PLN (persero) Area Sidoarjo menyadari sebagai perusahaanpemerintah dituntut untuk meningkatkan kinerjanya dalam melayani masyarakatatau pelanggannya. Masalah gesekan dalam komunikasipun pernah terjadi antarkaryawan, sehingga perlu dimaksimalkan peran dari iklim komunikasi yangsehat.PT. PLN (persero) Area Sidoarjo masih merasa kurang optimal kondisiiklim komunikasi antar karyawan, sehingga merasa perlu ada peningkatan dalamhubungan antar karyawan dalam komunikasi yang baik. Dalam peningkatanpelayanan kerja motivasi terhadap bawahan sangatlah penting, sehingga apabilaiklim komunikasi tercipta maka motivasi karyawan dalam bekerjapun juga akantinggi. Dalam proses peningkatan motivasi karyawan perlu terjalinnya komunikasiyang baik antar pimpinan dan bawahan juga antar rekan kerja, denganadanyaiklim komunikasi yang baik diharapkan mampu terjalinnya kerja sama yang baiksehingga dapat mengatasi semua permasalahan-permasalahan kerja dan kinerjakaryawan dapat meningkat dengan baik.Berdasar pada latar belakang masalah penelitian di atas selanjutnyamasalah di atas dirumuskan kedalam pertanyaan penelitian (Research Question)seperti dibawah ini:Bagaimanakah pengaruh iklim komunikasi organisasi terhadap motivasi kerjakaryawan PT. PLN(Persero) APJ Area Sidoarjo?REVIEW LITERATURTeori Iklim KomunikasiFalcione dalam Pace dan Faules (2001: 149) menyatakan bahwa, “iklimkomunikasi merupakan suatu citra makro, abstrak dan gabungan dari suatufenomena global yang disebut komunikasi organisasi. Iklim berkembang dariinteraksi antara sifat-sifat suatu organisasi dan persepsi individu atas sifatsifatitu. Iklim dipandang sebagai suatu kualitas pengalaman subjektif yangberasal dari persepsi atas karakter-karakter yang relatif langgeng padaorganisasi”. Untuk menganalisis iklim komunikasi di suatu organisasi, Pace danFaules mengemukakan enam faktor besar yang bisa digunakan untukmenganalisis masalah tersebut, yaitu:1. Kepercayaan, personel disemua tingkat harus berusaha keras untukmengembangkan dan mempertahankan hubungan yang didalamnyakepercayaan, keyakinan, dan kredibilitas didukung oleh pernyataandan tindakan.2. Pembuatan keputusan bersama, para pegawai disemua tingkat dalamorganisasi harus diajak berkomunikasi dan berkonsultasi mengenai semuamasalah dalam semua wilayah kebijakan organisasi, yang relevan dengankedudukan mereka. Para pegawai disemua tingkat harus diberikankesempatan berkomunikasi dan berkonsultasi dengan manajemendiatas mereka agar berperan serta dalam proses pembuatan keputusandan penentuan tujuan. Di PT. PLN (Persero) Area Sidoarjo, Pimpinan unitlangsung dapat berkomunikasi dengan bawahan, karena iklim komunikasiyang baik tetap harus menyertakan pendapat atau masukan dari bawahan.3. Kejujuran, suasana umum yang diliputi kejujuran dan keterusteranganharus mewarnai hubungan-hubungan dalam organisasi, dan para pegawaimampu mengatakan apa yang ada dalam pikiran mereka tanpamengindahkan apakah mereka berbicara kepada teman sejawat, bawahan,atau atasan. Dalam hal ini pimpinan harus dapat dipercaya oleh bawahan.4. Keterbukaan dalam komunikasi ke bawah, kecuali untuk keperluaninformasi rahasia, anggota organisasi harus relatif mudah memperolehinformasi yang berhubungan langsung dengan tugas mereka saat itu,yang mempengaruhi kemampuan mereka untuk mengkoordinasikanpekerjaan mereka dengan orang-orang atau bagian-bagian lainnya, danyang berhubungan luas dengan perusahaan, organisasi, para pemimpin,dan rencana-rencana.5. Mendengarkan dalam komunikasi keatas, personil disemua tingkat dalamorganisasi harus mendengarkan saran-saran atau laporan-laporan masalahyang dikemukakan personel disemua tingkat bawahan dalamorganisasi, secara berkesinambungan dan dengan pikiran terbuka.Informasi dari bawahan harus dipandang cukup penting untukdilaksanakan kecuali ada petunjuk yang berlawanan. Dalam hal ini harusada keselarasan komunikasi baik vertikal maupun horizontal.6. Perhatian pada tujuan-tujuan berkinerja tinggi, personel disemua tingkatdalam organisasi harus menunjukkan suatu komitmen terhadap tujuantujuanberkinerja tinggi-produktivitas tinggi, kualitas tinggi, biaya rendahdemikianpula menunjukkan perhatian besar pada anggota organisasilainnya. Maka dari itu ada harapan yang lebih baik, dimana karyawan tahubahwa organisasi tempat bekerjanya ini memiliki tujuan bagus.Peneliti tertarik untuk mengambil enam faktor besar tersebut sebagaivariabel dalam penelitian, yaitu : kepercayaan, pembuat keputusan bersama,kejujuran, keterbukaan dalam komunikasi ke bawah, mendengarkan dalamkomunikasi keatas, perhatian pada tujuan-tujuan berkinerja tinggi.Teori Motivasi Kerjaa. Teori Hierarki KebutuhanTeori motivasi yang paling terkenal adalah hierarki kebutuhan (hierarchyof needs) milik Abraham Maslow.Ia membuat hipotesis bahwa dalam setiap dirimanusia terdapat hierarki dari lima kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan tersebutadalah:1. Fisiologis: meliputi rasa lapar, haus, berlindung, seksual, dan kebutuhan fisiklainya.2. Rasa aman: Meliputi rasa ingin melindungi dari bahaya fisik dan emosional.3. Sosial: Meliputi rasa kasih sayang, kepemilikan, penerimaan, danpersahabatan.4. Penghargaan: Meliputi faktor-faktor penghargaan internal seperti hormat diri,otonomi, dan pencapaian; dan faktor-faktor penghargaan eksternal sepertistatus, pengakuan dan perhatian.5. Aktualisasi diri: Dorongan untuk menjadi seseorang sesuai kecakapannya;meliputi pertumbuhan, pencapaian potensi seseorang, dan pemenuhan dirisendiri.Menurut teori tersebut mengatakan bahwa meskipun tidak ada kebutuhanyang benar-benar terpenuhi secara lengkap, sebuah kebutuhan yang pada dasarnyatelah dipenuhi tidak lagi memotivasi.Jadi bila ingin memotivasi seseorang,menurut Maslow, perlu memahami tingkat hierarki dimana orang tersebut beradasaat ini dan fokus untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan di atas tingkat tersebut.Kelima kebutuhan tersebut sangat penting dan terkait dalam bentuk tingkatanyang teratur.Satu tingkat kebutuhan menjadi kuat setelah tingkat kebutuhan yanglebih rendah terpenuhi kepuasannya.b. Teori McClellandTeori kebutuhan McClelland (Robbins, 2008:5) menyatakan bahwapencapaian, kekuatan, dan hubungan adalah tiga kebutuhan penting yangmembantu menjelaskan motivasi. Teori kebutuhan McClelland (McClelland’stheory of needs) di kembangkan oleh David McClelland dan rekan-rekannya.Teori tersebut berfokus pada tiga kebutuhan: pencapaian, kekuatan, danhubungan. Hal-hal tersebut di definisikan sebagai berikut:1. Kebutuhan pencapaian (need for achievement): Dorongan untuk melebihi,mencapai standar-standar, berusaha keras untuk berhasil.2. Kebutuhan kekuatan (need for power): Kebutuhan untuk membuat individulain berperilaku sedemikian rupa sehingga mereka tidak akan berperilakusebaliknya.3. Kebutuhan hubungan (need for affiliation): Keinginan untuk menjalin suatuhubungan antar personal yang ramah dan akrab.Pada kelompok masing-masing karyawan akan mempunyai tingkatkebutuhan kekuasaan. Karyawan yang mempunyai tingkat kebutuhan kekuasaantinggi akan cenderung memilih situasi dimana mereka akan dapat memperolehdan mempertahankan kekuasaan untuk mempengaruhi orang lain.Berdasarkan teori di atas, ada persamaan mengenai motivasi yangdikemukakan oleh Maslow, dan McClelland yaitu mereka sama-samamengemukakan bahwa seseorang termotivasi atas dasar kebutuhan, bukan atasdasar keadilan maupun harapan.HIPOTESISBerdasarkan uraian diatas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalahterdapat pengaruh positifiklim komunikasiterhadapmotivasi kerja karyawan PT.PLN.METODE PENELITIANTipe PenelitianDalam penelitian ini dipergunakan tipe penelitian yang bersifatmenjelaskan hubungan antar variabel penelitian (variabel dependen dan variabelindependen) dan menguji hipotesis yang sudah dirumuskan.Dengan demikianpenilitian ini termasuk dalam kategori Explanatory Research atau penelitianpenjelasan. Dalam penelitian ini akan dijelaskan pengaruh antara iklimkomunikasi yang merupakan variabel independen terhadap motivasi kerja. Selainitu penelitian ini akan menguji apakah hipotesis yang diajukan diterima atauditolak.SamplingAdapun pengambilan sampling dilakukan dengan pertimbangan bahwapopulasi memiliki jumlah yang besar dan menyulitkan untuk meneliti seluruhpopulasi yang ada.Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian dari karyawan PT.Pembuat keputusanbersama (X3)Motivasi Kerja(Y)Kepercayaan (X1)Keterbukaan dalamkomunikasi kebawah (X4)Mendengarkandalam komunikasikeatas (X5)Perhatian padatujuan-tujuanberkinerja tinggi(X6)Kejujuran (X2)PLN (Persero) APJ Area Sidoarjo. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 79orang.HASIL EMPIRIS1. Pengujian Hipotesis 1Hasil pengujian pengaruh Kepercayaan terhadap motivasi kerja diperolehnilai t = 2,702 dengan signifikansi 0,008 (p <0,05). Dengan signifikansi yanglebih kecil dari 0,05 dan arah koefisien positif, maka diperoleh bahwa Hipotesis 1diterima. Hal ini berarti bahwa kepercayaan yang semakin tinggi akanmemberikan motivasi kerja yang lebih baik pula.2. Pengujian Hipotesis 2Hasil pengujian pengaruh kejujuran terhadap motivasi kerja diperoleh nilait = 2,182 dengan signifikansi 0,031 (p < 0,05). Dengan signifikansi yang lebihkecil dari 0,05 dan arah koefisien positif, maka diperoleh bahwa Hipotesis 2diterima. Hal ini berarti bahwa kejujuran yang lebih baik dari karyawan akanmemberikan motivasi kerja yang lebih baik pula.3. Pengujian Hipotesis 3Hasil pengujian pengaruh Pembuat keputusan bersama terhadap motivasikerja diperoleh nilai t = 7,040 dengan signifikansi 0,000 (p < 0,05). Dengansignifikansi yang lebih kecil dari 0,05 dan arah koefisien positif, maka diperolehbahwa Hipotesis 3 diterima. Hal ini berarti bahwa Pembuat keputusan bersamayang lebih tinggi atau yang lebih banyak diperoleh dari karyawan akanmemberikan kualitas motivasi kerja yang lebih baik pula.4. Pengujian Hipotesis4Hasil pengujian pengaruh Keterbukaan dalam komunikasi kebawahterhadap motivasi kerja diperoleh nilai t = 2,351 dengan signifikansi 0,021 (p <0,05). Dengan signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 dan arah koefisien positif,maka diperoleh bahwa Hipotesis 4 diterima. Hal ini berarti bahwa factorketerbukaan dalam komunikasi keatas yang tinggi oleh karyawan akanmemberikan motivasi kerja yang lebih baik pula.5. Pengujian Hipotesis 5Hasil pengujian pengaruh Mendengarkan dalam komunikasi keatasterhadap motivasi kerja diperoleh nilai t = 2,378 dengan signifikansi 0,000 (p <0,05). Dengan signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 dan arah koefisien positif,maka diperoleh bahwa Hipotesis 5 diterima. Hal ini berarti bahwa factorMendengarkan dalam komunikasi keatas oleh karyawan akan memberikanmotivasi kerja yang lebih baik pula.6. Pengujian Hipotesis 6Hasil pengujian pengaruh Perhatian pada tujuan berkinerja tinggi terhadapmotivasi kerja diperoleh nilai t = 2,902 dengan signifikansi 0,005 (p < 0,05).Dengan signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 dan arah koefisien positif, makadiperoleh bahwa Hipotesis 6 diterima. Hal ini berarti bahwa factor Perhatianpada tujuan berkinerja tinggi yang tinggi oleh karyawan akan memberikanmotivasi kerja yang lebih baik pula.Hasil perhitungan regresi dapat diketahui bahwa koefisien determinasi(adjusted R2) yang diperoleh sebesar 0,522. Hal ini berarti 52,2% motivasi kerjadapat dijelaskan dari 6 variabel yaitu kepercayaan, kejujuran, pembuat keputusanbersama, keterbukaan dalam komunikasi kebawah, mendengarkan dalamkomunikasi keatas, dan perhatian pada tujuan-tujuan berkinerja tinggi dan 47,8%dipengaruhi oleh variabel lain.KESIMPULANPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan positif antaraiklim komunikasi dengan motivasi kerja. Hasil dari penelitian ini menunjukkanbahwa seluruh variabel independen secara simultan berpengaruh positif terhadapvariabel dependen. Variabel yang paling berpengaruh dalam peneitian ini adalahvariabel pembuat keputusan bersama. Hal itu berarti bahwa iklim komunikasiorganisasi berpengaruh positif terhadap motivasi kerja. Semakin tinggi iklimkomunikasi organisasi maka semakin tinggi pula motivasi kerja yang dihasilkan.DAFTAR PUSTAKAChatman, Jennifer and Bersade, 1997. Employee Satisfaction, Factor AssociatedDevito, A Joseph. 1997. Komunikasi antar Manusia. Jakarta: Profesional Books.Dharma, Surya.2009. Manajemen Kinerja Falsafah Teori danPenerapannya.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Effendy, Onong Uchjana. 1981. Kepemimpinan dan Komunikasi. Bandung:Penerbit Alumni.Falcione, Raymond L., Lyle Sussman, and Richard P. Herden (2001)”Communication Climate in Organization,” dalam Frederic M. Jablin etal. (eds). Handbook of Organizational Communication: AnInterdisciplinary Perspective. Newbury Park, CA: Sage Publications, Inc.Gibson, Ivancevich, Donnnelly. 2007. OrganisasiPerilaku,Struktur,Proses.Jakarta: Erlangga.Goldhaber, GeraldM. 1990. Organizational Communication Fifth Edition: Iowa:Wm.C. Brown Publishers.Grensing Lin dan Pophal. 2007. Manajemen Sumber Daya Manusia.Jakarta: PT.Ina Publikatama.Hersey, Blancchard. 1995. Theory Organization. London: Mercury Books.Kartono, Kartini, 1994, Psikologi Sosial untuk Manajemen, Perusahaan danindustri, Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.Lund, Daulatram B., 2003, Organizational Culture and Job Satisfaction, Journalof Business & Industrial Marketing, Vol. 18 No. 3.Luthans E.A., 1998, Organizational Behavior, Sixth Edition, Singapore: McGrawill Book Co.Mangkunegara, AA Anwar Prabu, 2001, Manajemen Sumber Daya ManusiaPerusahaan.Bandung PT.Remaja Rosdakarya.Morissan. 2009. Teori Komunikasi Organisasi. Bogor: Ghalia Indonesia.Muhamad, Arni. 2001. Komunikasi Organisasi. Jakarta: PT. Bumi Aksara.Nawani, Hadari dan Hadari Martini.1992. Intrumen Penelitian Bidang Sosial.Yogyakarta: Gajah Mada University.Pace, Way R dan Faules, Don F. 2006.Komunikasi Organisasi strategiMeningkatkan Kinerja Perusahaan.Bandung : PT. Remaja Rosadakarya.PB.Triton.2007. Manajemen Seumber Daya Manusia. Yogyakarta: Tugu.Pool, Steven W., 1997 The Relationship of Job Satisfaction With Substitutes ofLeadership, Leadership Behavior, and Work Motivation, The JournalofPsychology, Vol. 13, MayRobbin, Stephen P dan Judge Timothy A. 2008.Perilaku Organisasi Jilid 2.Jakarta: Salemba Empat.Robbins, Stephen P dan Mary, Coulter. 2005. Manajemen. Jakarata: Gramedia.Siagian, P.S., 1997, Organisasi Kepemimpinan dan Perilaku Administrasi,Jakarta: Gunung AgungSingaribun, Masri dan Sofian Effendi. 1989. Metode Penelitian Survei. Jakarta :LP3ES.Thoha, Miftah. 2007. Perilaku Organisasi: Konsep Dasar dan Aplikasinya.Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.Website: Artikel Komunikasi Organisasi. (2009). Dalamhttp://www.infonuklir.com/ modules/news/article.php?storyid=154/Diunduh pada tanggal 17 Maret 2010 pukul 14.00 WIBWith Company Performance, Journal Of Applied Psychology, February, 29.
ANALISIS FRAMING PEMBERITAAN MENGENAI UJIAN NASIONAL 2013 DI HARIAN KOMPAS Wiranto, Rani Rakhmaputri; Sunarto, Sunarto; Yulianto, Muchamad
Interaksi Online Vol 2, No 5 (2014): Wisuda Januari
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.272 KB)

Abstract

ANALISIS FRAMING PEMBERITAAN MENGENAIUJIAN NASIONAL 2013 DI HARIAN KOMPASRani Rakhmaputri WirantoD2C009095Jurusan Ilmu KomunikasiFakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu PolitikUniversitas Diponegoro SemarangABSTRACTNational test is held as a way to syncronise education level throughout Indonesia. Nevertheless it isalways be a controversy that never end on each year. Many said this year is the worst national testbecause the test itself didn’t held at same time. This problem had rose many opinion about the importanceof national test.Kompas used this as headline. Every media has unique characteristic that differensiate between oneand another. this characteristic made every newspaper has different ways to write the news. Kompaschose to focus the news on people opinion about the national test.This research used descriptive methos with framin analysis method which is developed by RobertN Entman. The purpose of this study is to analyse the way Kompas wrire the news and to understand thebackground why Kompas write the news as the way it was.This research indicate that Kompas was focused to the effect of the delay of national test. It can beseen with impact framing that Kompas used and used human interest and information frame to makeanalysis.Kompas tried to picture about the mess of management of education in Indonesia as the caused ofthe national test delay. Every problem that happened in each national test only indicate that ministry ofeducation cannot do their job professionally.Kompas also showed the effect of national test delay on students. Every student that happened thenational test delay has their psychological taken the toll. Every stakeholder must realized that everyproblem happened in national test caused stress to students. Kompas used this method as their vision“amanat hati nurani rakyat”.Key word: national test, Kompas, framingABSTRAKSIIdealita ujian nasional dilaksanakan untuk meningkatkan pemerataan kualitas pendidikan diwilayah Indonesia. Akan tetapi, pelaksanaan ujian nasional sendiri, selalu menuai kontroversi dari tahunke tahun. Pada tahun ini,ujian nasional dianggap sebagai ujian nasional terburuk dikarenakan tidakserempaknya pelaksanaan ujian nasional di beberapa wilayah Indonesia. Hal ini tentu saja menjadi beritautama di berbagai media massa dan membuat berbagai opini publik bermunculan mengenai fungsi ujiannasional itu sendiri, terkait masih penting atau tidaknya diadakan ujian nasional pada tahun depan.Kompas, sebagai koran nasional, tentu saja tidak melewatkan berita ini untuk ditampilkan sebagaiheadline news. Institusi media massa memiliki karakteristik atau kepribadian, begitu juga dengan harianKompas. Karakteristik inilah yang mendorong setiap institusi media massa melahirkan kebijakan redaksiyang berbeda. Pemberitaan mengenai ujian nasional di koran Kompas memberikan gambaran tersendirimengenai ujian nasional di Indonesia. Bagaimana ujian nasional diberitakan, nantinya akanmempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap ujian nasional itu sendiri.Tipe penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan metode análisis framing yangdikembangkan oleh Robert N. Entman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pembingkaian harianKompas tentang pemberitaan mengenai pelaksanaan ujian nasional 2013 dan juga memahami latarbelakang pembingkaian tersebut.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Kompas membuat penonjolan terhadap dampakdampakyang terjadi akibat penundaan ujian nasional. Hal ini terlihat dari digunakannya dominasi polabingkai Impact, yang lebih ditonjolkan dalam headline. Selain itu, dalam pemberitannya mengenai ujiannasional, Kompas juga menggunakan pola bingkai Human Interest dan Information.Kompas mencoba membentuk kontruksi bahwa penundaan ujian nasional yang terjadi,menunjukkan bahwa sebenarnya manajemen pendidikan di Indonesia masih buruk. Dengan berbagaipermasalahan yang terjadi dalam ujian nasional yang merupakan agenda nasional tahunan yangdiselenggarakan oleh pemerintah, mencerminkan juga bahwa kinerja Kemdikbud tidak profesional.Dalam pemberitaannya, Kompas juga tidak hanya menampilkan mengenai kekacauan yang terjadipada ujian nasional, tetapi juga menampilkan dampak dampak psikologis pada siswa yang mengalamipenundaan ujian nasional. Ditampilkan bahwa seolah-olah siswa menjadi korban terus menerus sehinggapemerintah dinilai perlu mengambil langkah tegas untuk mengevaluasi UN. Hal tersebut juga terkaitdengan visi humanisme transendentalnya yang mengutamankan humanitas dan “Amanat Hati NuraniRakyat” sehingga Kompas mengemban tugas mulia untuk menyampaikan apa yang dirasakan olehmasyarakat.Key words : ujian nasional, koran Kompas, pola bingkai1. PendahuluanUjian nasional yang diadakan setiap tahun, baik di tingkat SD, SLTP, maupun SLTA bertujuanuntuk meningkatkan pemerataan kualitas pendidikan di seluruh wilayah Indonesia. Selama inikualitas pendidikan di seluruh wilayah Indonesia tidak sama. Kualitas pendidikan di pulau Jawatidak sama dengan kualitas pendidikan di pulau Papua. Dengan dilaksanakannya ujian nasional,diharapkan dapat diketahui kualitas pendidikan di masing-masing daerah, sehingga pemerintahbisa mengatasi ketimpangan kualitas pendidikan antara daerah satu dengan daerah lainnya.Namun dalam kenyataannya ujian nasional yang dimaksudkan untuk mencapai standarkemampuan siswa, justru memunculkan berbagai persoalan.Dari tahun ke tahun UN (Ujian Nasional) selalu menuai banyak kontroversi. Banyakpihak-pihak yang merasa bahwa ujian nasional tidak perlu dilaksanakan dengan berbagai alasan.Masalah Ujian Nasional (UN) tiap tahun selalu ramai dibicarakan, mulai dari persiapan siswadengan berbagai bimbingan belajar, orang tua dengan menyiapkan materi untuk mendukung paraputranya, pihak sekolah dengan berbagai penganyaan dan uji coba UN, pemerintah denganmemberikan materi pokok UN, masyarakat dengan katentuan / syarat pelulusan yang sangatmemberatkan. Selain kebocoran soal, penyelenggaraan UN juga ditandai dengan adanyapecontekan massal yang sangat tidak etis dalam dunia pendidikan, apalagi menyangkut pesertadidik yang masih anak-anak.Belum selesai dengan itu semua, persoalan baru muncul ketika Kemendikbud melakukansuatu terobosan untuk memerangi kecurangan UN dengan menciptakan set soal sebanyak pesertadi ruang ujian. Terdapat 20 set soal yang berbeda dengan tingkat kesulitan yang sama, sehinggapara siswa tidak dapat melakukan kecurangan karena setiap siswa mengerjakan soal yangberbeda. Namun ternyata terobosan ini menyebabkan permasalahan baru, ketika perusahaanpercetakan tidak bisa mendistribusikan soal UN dengan tepat waktu. Pelaksanaan UN 2013 padajenjang SMA/SMK/MA/SMALB yang direncanakan diadakan secara serentak di Indonesia padatanggal 15 April mengalami kekacauan dikarenakan terlambatnya distribusi soal di 11 provinsi diIndonesia. Pengumuman penundaan ini pun baru diberitahukan sehari sebelum pelaksanaan UNyaitu pada tanggal 14 April. UN baru akan dilaksanakan di 11 provinsi yang mengalamiketerlambatan pada tanggal 18, 19, 22 dan 23 April. Hal ini tentu saja mengundang berbagaikomentar dari berbagai pihak, apalagi ini merupakan kejadian pertama dalam penyelenggaraanUN di Indonesia.Tidak hanya permasalahan mengenai keterlambatan soal saja yang mewarnai UN kali ini.Pelaksanaan UN 2013 tingkat SMA/SMK/MA/SMALB di sejumlah daerah juga mengalamikekacauan. Berbagai kesalahan teknis terjadi, sehingga menyebabkan berbagai persoalan. Mulaidari rendahnya kualitas lembar jawaban UN, tertukarnya paket-paket soal, kurangnya naskahsoal dan lembar jawaban UN, hingga indikasi kecurangan yang mulai dlaporkan ke poskopengaduan UN ataupun yang diungkapkan melalui media sosial. Kondisi tersebut seolahmenyempurnakan amburadulnya pelaksanaan UN pada tahun ini. Oleh sebab itu, tidak heran jikamedia menjadikan berita ini sebagai berita utama (headline).Ketika pengumuman pengunduran UN pada tingkat SMA ini diumumkan, semua medialangsung meliput berita ini dan menjadikannya sebagai headline news. Media massa merupakansarana penyampaian komunikasi dan informasi yang dapat diakses oleh masyarakat secara luas.Selain itu media massa bukan hanya memberikan informasi dan hiburan, tetapi juga memberikanpengetahuan kepada khalayak sehingga proses berfikir dan menganalisis sesuatu berkembangdan pada akhirnya membawa pada suatu kerangka berpikir sosial bagi terbentuknya sebuahkebijakan publik yang merupakan implikasi dari proses yang dilakukan elemen-elemen tersebut.Hal ini merupakan bagian bagaimana media merekontruksi realitas sosial di masyarakat.(Tamburaka, 2012 : 84)Dalam kurun waktu selama kurang lebih sebulan, yaitu dari tanggal 13 April hingga 15Mei, pemberitaan mengenai ujian nasional dibahas dalam ketiga surat kabar yakni Kompas,Suara Merdeka, dan juga Kedaulatan Rakyat. Untuk lebih jelas melihat ragam berita yangdihadirkan oleh Kompas, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat mengenai ujian nasional edisi 13April sampai 15 Mei 2013, disajikan dalam tabel berikut :Tabel 1.1Perbandingan jumlah ragam berita dalam surat kabar Suara Merdeka, Kompas,dan Kedaulatan Rakyat edisi 13 April – 15 Mei 2013.Ragam Berita MediaSuara Merdeka Kompas Kedaulatan RakyatHeadline 7 judul 10 judul 7 judulArtikel 23 judul 24 judul 24 judulOpini 5 judul 8 judul 6 judulJumlah 35 judul 43 judul 37 judulPada pemberitaannya, Kompas selama ini mencoba menempatkan dirinya sebagai korannasional yang obyektif dan independen sehingga cenderung hati-hati dalam memberitakan suatuperistiwa. Institusi media massa memiliki karakteristik atau kepribadian, begitu juga denganharian Kompas. Karakteristik inilah yang mendorong setiap institusi media massa melahirkankebijakan redaksi yang berbeda. Pemberitaan mengenai ujian nasional di koran Kompasmemberikan gambaran tersendiri mengenai ujian nasional di Indonesia. Bagaimana ujiannasional diberitakan, nantinya akan mempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap ujiannasional itu sendiri.2. Metode PenelitianPenelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dimana peneliti akanmenggambarkan bingkai pemberitaan yang dilakukan oleh harian Kompas terkait denganpemberitaan ujian nasional dengan menggunakan metode analisis framing. Analisis framingmencoba menangkap bentuk pemberitaan dalam kaitannya dengan bagaimana orientasi sebuahmedia memperlakukan fakta tertentu. (Nugroho, 1999;8)Subjek penelitian ini adalah pemberitaan pada harian Kompas tentang pelaksanaan ujiannasional 2013 pada periode tanggal 13 April – 15 Mei 2013 yang terdiri sebanyak 10 berita yangdijadikan sebagai headline.Pengumpulan serta analisis data untuk analisis framing ini dilakukan secara langsungdengan mengidentifikasi wacana berita pada harian Kompas mengenai pemberitaan ujiannasional 2013 yang kemudian dianalis dengan menggunakan perangkat framing dari Robert N.Entmant. Entmant menekankan pada empat perangkat framing (Eriyanto, 2004 : 189- 195) yaitu(1) Define Problems; (2) Diagnose Causes; (3) Make Moral Judgement; (4) TreatmentRecommendation3. Hasil PenelitianDalam tabel dibawah tercantum daftar berita yang telah diteliti. Berita-berita tersebut adalahsebagian berita yang terkait dengan berita mengenai ujian nasional 2013 yang dimuat dalamharian Kompas selama periode 13 April hingga 15 Mei 2013 yang terdiri sebanyak 10 beritayang dijadikan sebagai headline.Tabel 3.1Hasil Analisis Seleksi Isu 10 BeritaNoBerita Define Problem DiagnoseCausesMake MoralJudgementTreatmentRecommendation1 DitundaKamis, UNdibayangiKebocoran.(15 April 2013)Framing :Polabingkai ImpactPenekananmasalah :Manajemenpendidikan burukKinerjaKemdikbudyang tidakprofesionalTidakserentaknyaujian nasionalmerupakanpreseden burukdalampendidikannasionalPemerintahharus beranimengevaluasiapakah UNmemangdibutuhkanuntukmenentukankelulusan siswaatau seharusnyadipakai untukpemetaanpendidikan.2 PelaksanaanUjian NasionalKacau(16 April 2013)Framing : Polabingkai ImpactPenekananmasalah :Pelaksanaan UNkacauDistribusinaskah perwilayahterkendalaDapat merusakmotivasi dankonsentrasisiswaBerbagai upayadilakukan untukmendistribusikansoal ke beberapadaerah.3 Kami sepertiKelinciPercobaan(16 April 2013)Framing : Polabingkai HumanInterestPenekananmasalah : SiswaSMA sepertikelinci percobaanKarutmarutnyapenyelanggaraan ujiannasional tahuniniPemerintahdinilai perlumengambillangkah tegasuntukmengevaluasiUN agar siswatidak menjadikorban terusmenerusKemdikbudperlu mengkajiulang kebijakanpencetakannaskah soal UN4 Distribusi SoalBelum Tuntas(17 April 2013)Framing : Polabingkai ImpactPenekananmasalah :Sejumlahdaerah belummenerimapaket soalDistribusi soaltidak gampanguntuk sekolah– sekolah yangPresidenbersama-samadenganKemdikbud danDistribusi soalbelum tuntasberada dikepulauan.juga jajarantertinggiTNI/Polrimencari carabagaimana agarujian ini dapatdilakukandengan terbaik5 Ujian NasionalJalan Terus(18 April 2013)Framing : Polabingkai ImpactPenekananmasalah : Ujiannasional“gelombangkedua” jalanterus.Ketersediaanpaket soalmasih menjadipersoalan disejumlahdaerahUntukmengantisipasiagar tidak adalagiketerlambatanprosespercetakan,Kemdikbudmemutuskanuntukmengalihkantugaspercetakan danpengepakannaskah soalUN dari PTGhaliaIndonesiaPrinting.Hasil UNgelombangkedua akan tetapmemiliki bobotdan fungsi yangsama denganhasil UN diprovinsi lainnya6 Harap harapCemas SiswaBerkepanjangan(18 April 2013)Framing : Polabingkai HumanInterestPenekananmasalah : Karutmarutpelaksanaan UNmengusikkonsentrasi parasiswaPara siswatelahmempersiapkan diri secaraintensifsetahunbelakangan ini.ManajemenUN sendirimencerminkanburuknyakinerja jajaranKemdikbudPemerintahharus beranimengevaluasiapakah UNmemangdibutuhkanuntukmenentukankelulusan siswaatau seharusnyadipakai untukpemetaanpendidikan.7 Investigasi UN Framing : Pola Sejumlah UN gelombangInvestigasidi duaPersoalan(19 April 2013)bingkai ImpactPenekananmasalah :Distribusi soalbelum beres.daerah belummenerimapaket soal.kedua masaharus ditundalagiterhadapkekacauanpenyelenggaraanujian nasionaldifokuskan didua persoalan,yakni distribusisoal danpersoalan tender.8 KeabsahanUjian NasionalDiragukan(22 April 2013)Framing : Polabingkai ImpactPenekananmasalah :Keabsahan ujiannasionaldiragukan olehbanyak pihak.Banyakprosedurstandar yangdilanggar.UN kali initidakmenggambarkan prestasisiswa yangsebenarnya.Pemerintahharus beranibersikap tegas.9 Ujian NasionalTetap JadiSyarat(23 April 2013)Framing : Polabingkai ImpactPenekananmasalah : HasilUN tetap menjadisyarat masukPTNTerjadi banyakkekacauandalampelaksanaanUNKekacauan UNkali ini bukankesalahansiswa,sehingga akandibicarakanlagi soalpertimbangannilai UN untukmasuk PTNSiswa haruslulus UN terlebihdahulu untukbisa diterima diPTN.10 BPK SarankanCetak diProvinsi(26 April 2013)Framing : PolabingkaiInformationPenekananmasalah : Prosesdistribusi naskahsoal UNdidesentralisasikan.BPKmenyikapikekisruhanpencetakan dandistribusinaskah soalUNPencetakannaskah soal didaerah ataupundi pusat hanyamasalah cara.Prosespencetakan bisasaja dilakukan diprovinsi tetapiharus betul betuldapat dipercaya.4. PembahasanTerdapat 43 berita yang dimuat oleh harian Kompas terkait dengan pemberitaan mengenai ujiannasional 2013. 10 judul berita merupakan headline, 24 judul berita termasuk ke dalam artikelpendidikan dan kebudayaan, dan 8 judul lainnya berupa opini yang dikeluarkan oleh Kompasmengenai ujian nasional. Dengan intesitas pemberitaan yang cukup tinggi mengenai ujiannasional, penelitian ini difokuskan kepada 10 judul berita yang dijadikan sebagai headline olehKompas. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, dengan menggunakan perangkat framingEntman, dapat diketahui bagaimana sikap Kompas terhadap pemberitaan mengenai ujiannasional. Berikut penjabarannya :Define problem atau pendefinisian masalah. Dalam membahas mengenai pemberitaanujian nasional, 10 berita yang diturunkan oleh Kompas sebagai headline news didominasi olehframe dengan pola bingkai impact. Tercatat dari 10 berita yang diberitakan, ada 7 berita yangmenggunakan pola bingkai impact dengan 2 berita menekankan masalah pada distribusi soalyang belum tuntas, 2 berita menekankan masalah terhadap keabsahan ujian nasional, 2 beritamenekankan masalah terhadap pelaksanaan UN yang kacau, 1 berita menekankan terhadapmanajemen pendidikan buruk, dan 1 berita menekankan masalah terhadap pelaksanaan UN yangkacau. 2 berita lain menggunakan pola bingkai human interest dengan menekankan masalahterhadap kondisi psikologis yang dialami oleh para siswa yang mengalami penundaan UN. 1berita lain menggunakan pola bingkai information dengan menekankan masalah agar prosespendistribusian soal didesentralisasikan atau dikembalikan ke provinsi.Dari penjelasan di atas, temuan yang didapat oleh peneliti menjadi pembenaran asumsipenelitian di bab pertama, bahwa dalam setiap pemberitaannya Kompas menggunakan beberapapola bingkai. Dalam pemberitaannya mengenai ujian nasional, Kompas menggunakan dominasipola bimgkai impact. Kompas lebih menonjolkan aspek dampak yang terjadi diakibatkanpenundaan ujian nasional dibandingkan dengan aspek aspek lainnya. Berita adalah segala sesuatuyang berdampak luas. Suatu peristiwa tidak jarang menimbulkan dampak besar dalam kehidupanmasyarakat. (Sumadiria, 2008 : 82).Dengan dampak-dampak yang ditampilkan oleh Kompas mengenai penundaan ujiannasional, seolah-olah mengajak para pembaca Kompas untuk mempertanyakan fungsi dan tujuandari ujian nasional itu sendiri, apakah memang masih bermanfaat untuk dijadikan sebagai tolakukur penentuan nasib kelulusan para siswa.Masalah terjadi disebabkan karena distribusi soal yang belum beres di sejumlah daerahsehingga berbagai kekacauan terjadi. Dengan berbagai kekacauan dan prosedur yang dilanggar,tentu saja keabsahan pada hasil UN tahun ini dipertanyakan apakah memang sesuai untukdijadikan sebagai syarat masuk PTN. Terlepas dari itu semua, manajamen UN sendirimencerminkan bahwa manajemen pendidikan di Indonesia masih buruk. Ujian nasional telahdiselenggarakan dari tahun ke tahun. Dengan alokasi anggaran UN lebih dari Rp 500 miliar,tentu saja seharusnya persiapan dan pelaksanaan UN di tingkat pusat terus membaik.Diagnose Causes atau memperkirakan penyebab masalah. Dalam memberitakan ujiannasional 2013, Kompas menyoroti distribusi naskah soal yang terkendala sebagai penyebabutama dari kekacauan ujian nasional kali ini. Tercatat dari 10 berita yang diturunkan olehKompas sebagai headline news, 5 berita menyoroti kekacauan yang terjadi pada UN tahun ini,sehingga keabsahan UN masih dipertanyakan dan juga membuat konsentrasi para siswa menjaditerusik, 4 berita menyoroti bagaimana distribusi naskah soal yang terkendala, dan bagaimanaketersedian paket soal masih menjadi persoalan di sejumlah daerah, 1 berita menyoroti kinerjaKemdikbud yang tidak profesional.Dalam pemberitaannya Kompas menyoroti berbagai permasalahan terjadi disebabkankarena distribusi naskah soal yang terkendala di sejumlah daerah. Terlepas dari itu, manajemenUN itu sendiri mencerminkan buruknya kinerja jajaran Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan,karena mengurus pendistribusian naskah soal saja tidak beres.Make Moral Judgement atau evaluasi moral. Menanggapi kekacauan yang terjadi akibatujian nasional, ada tiga evaluasi moral yang diberikan oleh Kompas, yaitu :Pertama, Pemerintah dinilai perlu untuk mengambil langkah tegas untuk mengevaluasiUN agar siswa tidak terus menerus menjadi korban. Kedua, untuk mengantisipasi agar tidak adalagi keterlambatan proses pencetakan naskah soal, sebaiknya Kemdikbud mengembalikan prosesdistribusi naskah soal lagi ke provinsi, atau didesentralisasikan. Ketiga, kekacauan UN kali inimembuat UN tidak menggambarkan prestasi siswa yang sebenarnya, sehingga tidak tepat untukdijadikan pertimbangan nilai untuk masuk PTN.Treatment Recommendation atau menentukan penyelesaian. Kompas memberikan empatrekomendasi yang bisa dilakukan dalam pemberitaan mengenai kacaunya pelaksanaan UN tahunini :Pertama, Pemerintah harus berani mengevaluasi apakah UN memang dibutuhkan untukmenentukan kelulusan siswa atau seharusnya dipakai untuk pemetaan pendidikan. Kedua,berbagai upaya telah dilakukan oleh Kemdikbud untuk mendistribusikan soal ke berbagai daerah,salah satunya dengan mengajak jajaran tinggi TNI/POLRI. Ketiga, hasil UN gelombang keduaakan tetap memiliki bobot dan fungsi yang sama dengan hasil UN di provinsi lainnya. Keempat,siswa harus lulus UN terlebih dahulu untuk bisa diterima di PTN berapapun nilainya.Jika dilihat dari pemberitaan yang dimunculkan, Kompas mencoba mengarahkan opinipublik agar mendesak pemerintah untuk mengevaluasi UN, apakah memang dibutuhkan untukmenentukan kelulusan siswa atau hanya dipakai untuk pemetaan pendidikan. Seperti yangdikatakan Wiryanto, adanya istilah “the powerfull effect”, bahwa media memiliki suatu kekutandalam membentuk satu pikiran atau persepsi melalui terpaan media atau media exposure. Hal inibertujuan agar publik yang memanfaatkan media (baik cetak maupun elektronik) menjaditerpengaruh oleh pemberitaan media. (Wiryanto: 2005, 58).Kompas dalam pemberitaannya, memfokuskan masalah pada distribusi soal yang tidaktuntas. Secara tidak langsung, Kompas ingin menyampaikan bahwa kinerja Kemdikbud tidakprofesional dan juga masih buruknya manajemen pendidikan di Indonesia. Hal ini sesuai denganstrategi pembahasan yang dilakukan Kompas ketika berusaha mengupas sebuah masalah sensitifyang berkembang di tengah masyarakat dengan menggunakan model jalan tengah (MJT), yaitumenggugat secara tidak langsung: mengkritik tapi disampaikan secara santun, terkesan berputarputardan mengaburkan pesan yang hendak disampaikan.Tidak lupa dalam setiap pemberitaanya mengenai ujian naisonal, Kompas berbekaldengan tagline “Amanat Hati Nurani Rakyat” juga menyertakan berbagai dampak psikologisyang dirasakan oleh para siswa yang mengalami penundaan ujian nasional. Seperti yang dimuatdalam Kompas pada tanggal 16 April 2013 dan 18 April 2013 dengan judul berita “Kami sepertiKelinci Percobaan” dan “Harap-harap Cemas Siswa Berkepanjangan”. Dalam kedua beritatersebut ditampilkan bahwa seolah-olah siswa menjadi korban terus menerus sehinggapemerintah dinilai perlu mengambil langkah tegas untuk mengevaluasi UN. Hal ini sesuaidengan visi humanisme transdental, Kompas menempatkan kemanusiaan sebagai nilai tertinggi,mengarahkan fokus perhatian dan tujuan pada nilai-nilai yang transeden atau mengatasikepentingan kelompok. Oleh karena itu, pemberitaan Kompas yang kritis mengupas masalahmasalahyang ada dalam masyarakat serta cenderung berpihak kepada rakyat.5. PenutupSetelah terselesaikannya penelitian ini, maka kesimpulan yang dapat ditarik dalam pemberitaanmengenai ujian nasional adalah Kompas membuat penonjolan terhadap dampak-dampak yangterjadi akibat penundaan ujian nasional. Hal ini terlihat dari digunakannya dominasi pola bingkaiImpact, yang lebih ditonjolkan dalam headline yang dimunculkan oleh Kompas mengenai ujiannasional. Berita adalah segala sesuatu yang berdampak luas. Ujian nasional kali ini menimbulkandampak besar dalam kehidupan masyarakat, terutama untuk para siswa. Dengan dampak yangditimbulkan karena penundaannya, ujian nasional kali ini dianggap penting dan layak dijadikanberita. Selain itu, dalam pemberitannya mengenai ujian nasional, Kompas juga menggunakanpola bingkai Human Interest dan Information.Kompas mencoba mengkontruksi bahwa penundaan ujian nasional yang terjadi,menunjukkan manajemen pendidikan di Indonesia masih buruk. Dengan berbagai permasalahanyang terjadi dalam ujian nasional yang merupakan agenda nasional tahunan yangdiselenggarakan oleh pemerintah, mencerminkan juga bahwa kinerja Kemdikbud tidakprofesional.Dalam pemberitaannya, Kompas tidak hanya menampilkan mengenai kekacauan yangterjadi pada ujian nasional, tetapi juga menampilkan dampak dampak psikologis pada siswa yangmengalami penundaan ujian nasional. Ditampilkan bahwa seolah-olah siswa menjadi korbanterus menerus sehingga pemerintah dinilai perlu mengambil langkah tegas untuk mengevaluasiUN. Hal tersebut juga terkait dengan visi humanisme transendentalnya yang mengutamankanhumanitas dan “Amanat Hati Nurani Rakyat” sehingga Kompas mengemban tugas mulia untukmenyampaikan apa yang dirasakan oleh masyarakat.DAFTAR PUSTAKAAgus, Salim. 2006. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta : Tiara WacanaArdianto, Elvinaro dan Lukiati Komala Erdinaya. (2007). Komunikasi Massa : Suatu Pengantar.Bandung : Simbiosa Rekatama Media.Bungin, Burhan. (2006). Sosiologi Komunikasi. Jakarta : Kencana Prenada Media GroupBungin, Burhan, (2008). Konstruksi Sosial Media Massa : Kekuatan Pengaruh Media Massa,Iklan Televisi dan Keputusan Konsumen Serta Kritik terhadap PETER L. BERGER &THOMAS LUCKMANN. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.Chaer, Abdul. (2010). Bahasa Jurnalistik. Jakarta : Rineke CiptaDewabrata, AM. (2004). Kalimat Jurnalistik : Panduan Mencermati Penulisan Berita. Jakarta :KompasDenzin, Norman K., dan Yvonna S. Lincoln. (2009). Handbook of Qualitative Research.Diterjemahkan oleh Dariyanto dkk dengan judul Handbook of Qualitative Research.Yogyakarta: Pustaka PelajarEffendi, Onong Uchjana. (1993). Ilmu Komunikasi : Teori dan Praktek. Bandung : RemajaRosdakaryaEriyanto. (2003). Analisis Wacana : Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta : PT. LKiSYogyakarta.Eriyanto. (2003). Analisis Framing : Konstruksi, Ideologi dan Politik Media. Yogyakarta : PT.LKiS Yogyakarta.Ishwara, Luwi. (2011). Jurnalisme Dasar. Jakarta : KompasHamad, Ibnu. (2004). Kontruksi Realitas Politik Dalam Media Massa : Sebuah CriticalDiscourse Analysis Terhadap Berita-Berita Politik. Jakarta : GranitKusumaningrat, Hikmat. (2005). Jurnalistik : Teori dan Praktik. Bandung : Remaja Rosdakarya.Moleong, J. Lexy. (2010). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja RosdakaryaMulyana, Dedy. (2001). Metodologi Penelitian Kualitatif (Paradigma Baru Komunikasi danIlmu Sosial Lainnya). Bandung : Remaja RosdakaryaMulyana, Dedy. (2007). Analisis Framing : Kontruksi, Ideologi dan Politik Media. Yogyakarta.LKiS Pelangi AksaraNurudin. (2007). Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta : PT Raja Grafindo PersadaRahardi, Kunjana. (2011). Bahasa Jurnalistik : Pedoman Kebahasan untuk Mahasiswa, Jurnalis,dan Umum. Bogor : Penerbit Ghalia IndonesiaRolnicky, Tom E, C. Dow Tate, Sherri A. Taylor. (2008). Pengantar Dasar Jurnalisme(Scholastic Journalism). Jakarta : Kencana.Santoso, FA. (2010). Sejarah, Organisasi dan Visi Misi Kompas. Pusat Informasi KompasShahab, A.A. (2008). Cara Mudah Menjadi Jurnalis. Jakarta : Diwan PublishingSudibyo, Agus. (2006). Politik Media dan Pertarungan Wacana. Yogyakarta : LKiS Yogyakarta.Suhandang, Kustadi. (2010). Pengantar Jurnalistik : Seputar Organisasi, Produk, dan KodeEtik. Bandung : NuansaSumadiria, Haris. (2006). Jurnalistik Indonesia : Menulis Berita dan Feature. Bandung : RemajaRosdakaryaSobur, Alex. (2009). Analisis Teks Media : Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, AnalisisSemiotik, dan Analisi Framing. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.Sobur, Alex. (2004). Analisis Teks Media. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.Tilaar, H.A.R. (2009). Kekuasaan dan Pendidikan : Manajemen Pendidikan Nasional dalamPusaran Kekuasaan. Jakarta : Rineke CiptaTamburaka, Apriadi. (2012). Agenda Setting Media Massa. Jakarta : RajaGrafindo, PersadaWiryanto. (2000). Teori Komunikasi Massa. Jakarta : PT. GrasindoZaenuddin, HM. (2011). The Journalist : Bacaan Wajib Wartawan, Redaktur, Editor, dan ParaMahasiswa Jurnalistik. Bandung : Simbiosa Rekatama MediaSumber dari internet :Hemas, GKR. (2013). Ujian Nasional Tidak Mendidik. Dalamhttp://www.tempo.co/read/kolom/2013/04/24/694/Ujian-Nasional-Tidak-Mendidik diunduh padatanggal 20 Mei 2013 pukul 17.30Purwoko. (2013). Apakah UN (Ujian Nasional) Harus Tetap Diadakan? Dalam http://alumniits.blogspot.jp/2013/04/apakah-un-ujian-nasional-harus-tetap.html diunduh pada tanggal 20 Mei2013 pukul 18.30