Articles

Found 28 Documents
Search

STUDI NORMALISASI KAPASITAS PENAMPANG SUNGAI (STUDI KASUS SUNGAI ENGKULIK DI KABUPATEN SINTANG) Pratama, Dhani; ., Umar; Yulianto, Eko
Jurnal Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Tanjungpura Vol 3, No 2 (2014): VOL 3 NO 2 DESEMBER 2014
Publisher : Jurnal Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.408 KB)

Abstract

Dampak terjadinya kerusakan DAS Engkulik dapat terlihat pada kondisi morfologi sungai yang berada di wilayah tersebut, antara lain terjadinya pendangkalan dasar alur sungai, sehingga menyebabkan terjadinya banjir yang makin meningkat dan meluas pada akhir – akhir ini. Berdasarkan analisa yang telah dilakukan dengan data curah hujan dan data debit terukur dari stasius hidrologi pada sub DPS yang di tinjau  dan data yang mewakili karakteristik DPS tersebut, serta analisa data yang dilakukan berdasarkan priode ulang 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 25 tahun, 50 tahun dan 100 tahun.
PENANGGULANGAN BANJIR SUNGAI MELAWI DENGAN TANGGUL Ardianto, Joni; Barlian S, Stefanus; Yulianto, Eko
Jurnal Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Tanjungpura Vol 1, No 1 (2015): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL UNTAN
Publisher : Jurnal Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (914.063 KB)

Abstract

Banjir merupakan salah satu fenomena alam yang sering membawa kerugian baik harta benda maupun korban jiwa. Banjir adalah peristiwa tergenang dan terbenamnya daratan, karena volume air yang meningkat. Banjir dapat terjadi karena peluapan air yang berlebihan disuatu tempat akibat hujan besar, peluapan air sungai, atau pecahnya bendungan sungai. Selain itu banjir adalah aliran yang relative tinggi, dan tidak tertampung oleh alur sungai atau saluran. Banjir merupakan bencana alam yang sering melanda Indonesia pada umumnya dan khususnya kota Nanga Pinoh, banjir yang pernah terjadi pada tahun 2008 mencapai ketinggian air naik hingga 3-5 meter sedangkan pada tahun 2012 ketinggian air naik hanya 2 meter. Adapun tujuan dari skripsi ini adalah mengidentifikasi masalah banjir di kota Nanga Pinoh khususnya kawasan pasar Nanga Pinoh, membuat suatu konsep penanggulangan banjir dengan tanggul. Dalam penelitian ini data primer yang diperoleh beberapa instansi yaitu BPS, BMKG Nanga Pinoh dan Bappeda Kota Nanga Pinoh. Survey yang telah dilakukan secara langsung yaitu pengambilan data elevasi koordinat untuk membuat suatu konsep penanggulangan banjir berupa tanggul pada Hari Kamis, 14 Agustus 2014 sampai dengan Hari Sabtu, 16 Agustus 2014. Perencanaan dimulai dengan melakukan analisis hidrologi untuk menentukan intensitas curah hujan dalam periode ulang 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 25 tahun, 50 tahun dan 100 tahun. Dari hasil survey tersebut akan dihitung dan dianalisa sehingga akan mendapatkan debit banjir rencana dankonsep penanggulangan banjir dengan tanggul. Berdasarkan hasil penelitian, debit banjir rencana dengan metode Nakayasu pada DAS Melawiyang dihasilkan adalah Q2 = 5.562 m3/dtk, Q5= 7.686 m3/dtk, Q10= 9.015 m3/dtk, Q25= 10.843 m3/dtk, Q50= 12.078 m3/dtk, Q100= 13.362 m3/dtk. Konsep penanggulangan banjir dengan tanggul parapet didesain untuk kawasan pertokoan serta beberapa daerah permukiman yaitu, tanggul 1 meter, tanggul 1,5 meter dan tanggul 2,5 meter.   Kata Kunci : penanggulangan banjir, intensitas curah hujan, debit banjir rencana, dan analisa hidrologi.
Pendidikan Kebencanaan Bervisi SETS, Upaya Membangun Critical Thinking Skill Siswa dalam Antisipasi Bencana Astuti, Andari Puji; Yulianto, Eko
Prosiding Seminar Biologi Vol 12, No 1 (2015): Seminar Nasional XII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.277 KB)

Abstract

Pendidikan kebencanaan di sekolah menjadi suatu wacana yang penting karena jumlah sekolah di Indonesia menempati posisi keempat terbanyak di dunia dan tersebar merata pada daerah rawan bencana. Pendidikan bencana yang diberikan di sekolah terutama pada siswa diberikan dalam upaya mengurangi resiko bencana. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka dikembangkan model pembelajaran pendidikan kebencanaan bervisi SETS. Tujuan dari penelitian pengembangan model pembelajaran kebencanaan bervisi SETS  ini adalah sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam menghadapi bencana yang bisa terjadi di sekolah dan lingkungan sekitar. Pengetahuan dalam hal ini lebih spesifik pada kemampuan membedakan jenis bencana, dapat membuat peta jalur evakuasi di masing- masing sekolah, dan membuat peta kerawanan bencana di lingkungan sekitar siswa. Penelitian ini menggunakan model pengembangan sistem instruksional Thiagarajan, Semmel dan Semmel  (model 4-D) yang dimodifikasi. Model 4-D terdiri dari Define (pendefinisian), Design (perancangan), Develop (pengembangan) dan Disseminate (penyebaran). Dalam penelitian ini dilakukan modifikasi model 4-D yaitu penyederhanaan dari empat tahap menjadi tiga tahap, yaitu  Define (pendefinisian), Design (perancangan), Develop (pengembangan). Model pembelajaran kebencanaan yang dikembangkan dalam penelitian ini dapat digunakan untuk membangun critical thinking skills yang sangat dibutuhkan oleh siswa di masa depan.Keywords:model pembelajaran, kebencanaan, SETS, critical thinking skills
A Reinterpretation of the Baturetno Formation: Stratigraphic Study of the Baturetno Basin, Wonogiri, Central Java Putra, Purna Sulastya; Yulianto, Eko
Indonesian Journal on Geoscience Vol 2, No 3 (2015)
Publisher : Geological Agency

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17014/ijog.2.3.125-137

Abstract

DOI:10.17014/ijog.2.3.125-137This paper focuses on the Quaternary Baturetno Formation. An earlier research concluded that the black clay of the Baturetno Formation formed as a ‘palaeolake’ deposit. The ‘palaeolake’ was interpreted to form due to the shifting course of the Bengawan Solo Purba River in relation to Pliocene tectonic tilting in the southern Java. The stratigraphy of the Baturetno Formation was observed in the western part of the Baturetno Basin, and based on marker beds, the Baturetno Formation was classified into three units: (1) Gravel unit (GR) in the upper part, (2) clay unit (CU) in the middle part, and (3) sand-gravel unit (SG) in the lower part. There are floating gravel fragments of andesite, claystone, coral, and limestone with diameters of up to 10 cm in the clay unit. The particle size of sediment reflects the environment, but the lake deposition occurs under very quiet conditions. The occurrence of these fragments within the clay cannot be explained if the clay was deposited within a lake environment. The occurrence of floating fragments in the black clay of Baturetno Formation can best be explained through mudflow process. The cohesive strength of the mudflow is responsible for the ability of large fragments to float within the mud matrix. In general, the Baturetno Formation is inferred to be an alluvial fan deposit. The presence of sand, gravel, and mud are characteristics of alluvial fan deposits.
MENENTUKAN TEGANGAN PERMUKAAN ZAT CAIR Yulianto, Eko; Rofingah, Jannatur; Finda, Arba; Hakim, Fatih Nuzulil
JURNAL SPEKTRA Vol 2, No 2 (2016): Jurnal Kajian Pendidikan Sains
Publisher : Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Sains Al Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.449 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui cara menentukan tegangan permukaan zat cair dengan metode kenaikan kapiler. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Data yang didapat, akan di analisis dengan menggunakan analisis data kuantitatif dan kualitatif. Metode eksperimen dimana menggunakan pipa kapiler sebagai alat untuk menentukan tegangan permukaan dengan metode kenaikan kapiler. Metode kenaikan kapiler yaitu mengukur tegangan permukaan dengan melihat ketinggian air atau cairan yang naik melalui suatu pipa kapiler.Tiga pipa kapiler dengan jari-jari yang berbeda dimasukkan ke dalam bejana yang berisi zat cair (pipa tidak menyentuh dasar bejana), kemudian zat cair tersebut akan naik melalui pipa sehingga dapat dilihat ketinggian zat cair dalam ketiga pipa tersebut. Analisis tersebut dilakukan dengan tiga massa jenis yang berbeda kemudian didapat nilai tegangan permukaan. Dari hasil percobaan tersebut dapat disimpulkan bahwa, tegangan permukaan zat cair terjadi karena perbedaan resultan gaya tarik molekul yang ada di permukaan zat cair atau karena ada gaya adhesi dan kohesi. Tegangan permukaan zat cair dengan menggunakan variasi jari-jari pipa kapiler dan massa jenis zat cair yang berbeda diperoleh kesalahan mutlak ∆ = 0,906.10-2 N/m dan kesalahan relatif yaitu 12,4% pada massa jenis air. Untuk massa jenis minyak goreng diperoleh kesalahan mutlak yaitu ∆ = 2,965.10-2 N/m dan kesalahan relatif yaitu 54,4%. Untuk massa jenis oli diperoleh kesalahan mutlak yaitu ∆ = 4,949.10-2 N/m dan kesalahan relatif yaitu 27,04%. Kata kunci : Tegangan Permukaan, Pipa Kapiler, Massa Jenis Zat Cair
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TEKANAN PADA ZAT CAIR Yulianto, Eko; Nafisah, Zakiyatun; Rahmawati, Endra
JURNAL SPEKTRA Vol 3, No 2 (2017): Pendidikan Sains, Kajian Sains, Sains Terapan
Publisher : Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Sains Al Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.963 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kedalaman zat cair terhadap besarnya tekanan hidrostatis dan mengetahui hubungan massa jenis zat cair terhadap besarnya tekanan hidrostatis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen.Kegiatan yang dilakukan dalam penlitian didahului dengan membuat alat. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: 1)Hubungan massa jenis zat cair terhadap tekanan zat cair berbanding lurus dan sesuai dengan teori.2)Hubungan antara kedalaman zat cair (air, minyak dan oli) terhadap tekanan zat cair (air, minyak dan oli) berbanding lurus dan sesuai dengan teori.
KARAKTERISTIK ENDAPAN TSUNAMI KRAKATAU 1883 DI DAERAH TARAHAN, LAMPUNG Putra, Purna Sulastya; Yulianto, Eko
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 27, No 1 (2017)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1472.053 KB) | DOI: 10.14203/risetgeotam2017.v27.301

Abstract

Our research location is situated at the south of Tarahan city, Lampung. This area has been drowned by tsunami waves that were generated by the eruption of Krakatau Volcano in 1883. This study is to understand the characteristics of the 1883 Krakatau tsunami deposit by observing the stratigraphic profile of 12 outcrops in the river overbanks and trenches, in 3 (three) transects. Laboratory analysis include grain size, microfauna (foraminifera and mollusk), and heavy mineral analysis. The identified tsunami deposit is a sand layer that mixed with shell and coral fragments. This sand layer is associated with pumice and volcanic ash layer, product of the 1883 Krakatau volcano eruption. The benthic foraminifera and mollusk content in the tsunami deposits show that the tsunami waves erode the sea floor sediments up to 30 to 40 meters depth. According to the outcrop observation and grain size analysis, there are four fining upward patterns can be observed in the tsunami deposit layer. This is indicates that at least four tsunami waves inundated the studied area. The vertical variation of heavy mineral shows the similar trend with the grain sizes. AbstrakLokasi penelitian terletak di sebelah selatan Kota Tarahan, Lampung merupakandaerah yang terkena dampak gelombang tsunami letusan Gunung Krakatau 1883. Penelitian inidilakukan untuk mengetahui karakteristik endapan tsunami Krakatau 1883 dengan mengamati profil stratigrafi pada dinding sungai dan parit uji pada 12 lokasi di 3 (tiga) transek. Analisis laboratorium meliputi analisis besar butir, mikrofauna (foraminifera dan moluska) dan mineral berat. Endapan tsunami yang teridentifikasi berupa lapisan pasir dengan pecahan cangkang dan fragmen karang. Lapisan pasir ini berasosiasi dengan lapisan abu vulkanik dan lapisan batuapung yang merupakan material hasil letusan Krakatau 1883. Kandungan foraminifera bentik dan moluska memperlihatkan bahwa gelombang tsunami menggerus dasar laut hingga kedalaman 30 - 40 m. Berdasarkan pengamatan singkapan dan analisis besar butir, terdapat empat pola perulangan struktur penghalusan besar butir ke arah atas dalam satu lapisan endapan tsunami. Hal itu menunjukkan bahwa kemungkinan ada empat gelombang tsunami yang terjadi pada saat itu. Hasil analisis mineral berat cenderung memperlihatkan pola perubahan komposisi ke arah atas mengikutiperubahan besar butir.
Ethnomathematics Study: the Technique of Counting Fish Seeds (Osphronemus Gouramy) of Sundanese Style Muzdalipah, Ipah; Yulianto, Eko
Jurnal Pendidikan Matematika IKIP Veteran Semarang Vol 2 No 1 (2018): Journal of Medives : Journal of Mathematics Education IKIP Veteran Semarang
Publisher : Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Veteran Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31331/medives.v2i1.555

Abstract

Konsep etnomatematik yang diajukan oleh DAmbrosio memandang budaya dan matematika sebagai dua hal yang saling berhubungan yang bisa dijelaskan satu sama lain melalui kegiatan sehari-hari masyarakat yang matematis. Penelitian ini setidaknya mengusung dua misi, yaitu misi pendidikan dan kebudayaan. Sejarah mencatat bahwa orang Sunda memiliki teknik unik dalam menghitung benih ikan (Osphronemus gouramy). Keunikannya terlihat dari bagaimana mereka menghitung dengan bernyanyi dan juga dalam perspektif proses matematis. Studi interpretif ini mengeksplorasi konsep matematika yang terdapat dalam budaya Sunda dan memberikan gambaran tentang antropologi budaya melalui pendekatan etnomatematik. Penelitian ini mengamati empat peternak ikan senior dari berbagai kota di Priangan Timur. Hasilnya menunjukkan bahwa orang Sunda menggunakan konsep dari sedikit dari lima orang dalam menghitung benih ikan. Selain itu, mereka juga sangat terampil dalam menerapkan sifat distribusi perkalian, namun mereka tidak mengetahui istilahnya secara matematis. Bahkan pada konsep identitas dan invers, secara tidak langsung mereka telah menerapkannya tanpa mengetahui sifat tersebut. Hampir semua responden tidak bisa menjelaskan bagaimana mereka mendapatkan proses perkalian ini karena empat responden lulusan sekolah dasar, bahkan beberapa di antaranya tidak tamat. Mereka mengatakan bahwa matematika bisa dikuasai oleh pengalaman. Dari perspektif antropologi, ikan gurame memiliki nilai semiotika yang sangat berarti bagi orang Sunda, hal ini menunjukkan nilai prestise orang Sunda. Dari perspektif budaya, penelitian ini memaparkan kearifan lokal orang Sunda menjadi bagian dari upaya menegakkan nilai-nilai budaya bangsa. Dari perspektif pendidikan, penelitian ini bisa menjadi upaya mengurangi gagasan bahwa matematika dan budaya bebas budaya. Kata kunci: antropologi budaya, etnomatematik, Osphronemus gouramy, budaya Sunda   ABSTRACT Ethnomathematical concept that was proposed by DAmbrosio looked at culture and mathematics as an interconnected thing that can be explained each other by everyday mathematical activities of society. This research at least brings two missions, namely educational and cultural missions. History noted that the Sundanese have a unique technique in counting fish seeds (Osphronemus gouramy). The uniqueness is visible from how they count by singing and also in the perspective of mathematical process. This interpretive study explores the mathematical concepts contained in the Sundanese culture and provide an overview of cultural anthropology through an ethnomathematics approach. This research observed four senior farmers from different cities in Priangan Timur. The results show that Sundanese uses the concept of a multiple of five in counting fish seeds. In addition, they are also highly skilled at applying the distributive properties of multiplication, but they don’t know the term mathematically. Even the concept of identity and inverse, indirectly they have applied it without knowing the terms. Almost all respondents cannot explain how they got this multiplication process because the four of respondents only went to elementary school, even some of them did not finish it. They said clearly that mathematics can be mastered by experience. From the anthropology perspective, Gourami Fish has a very meaningful semiotics value for Sundanese, it shows the prestige value of Sundanese. From a cultural perspective, this research exposes Sundaneses’ local wisdom becomes part of the effort to uphold the nations cultural values. From educational perspective, this study could be an effort in reducing the notion that mathematics and culture are culturally-free. Keywords: cultural-anthropolgy, ethnomathematics, Osphronemus gouramy, Sundanese culture
KINERJA SISTEM DRAINASE KOTA PONTIANAK (STUDI KASUS KOTA PONTIANAK) Suandana, Ruchiat; Nurhayati, -; Yulianto, Eko
Jurnal Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Tanjungpura Vol 5, No 1 (2018): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI FEBRUARI 2018
Publisher : Jurnal Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.123 KB)

Abstract

The water catchment area of Parit Bansir located in Pontianak City Center, its growth has increased quite rapidly. Changes in land use in the Parit Bansir catcment area resulted in the switching of the crew function from the water catchment area into a permanent building. As  a result of changes in land use it can occur an increase in flow discharge caused by rain water flows directly to the channel without being absorbed by the soil.This study was conducted to assess the performance of drainage channels in Parit  Bansir. Main data of this research are rainfall data, tidal and flowrate data. Those data then processed with frequency analysis, design rain analysis, design discharge analysis, existing cross-sectional  analysis with HECRAS software. The results showed that 2 years return period discharge for upstream area of 2,353 km2 is 2,382 m3/sec, Parit Demang with 1,545 km2 obtained 2,138 m3/sec, Reformasi Channel with 0,883 km2obtained 1,237 m3/sec, Karya Baru channel 0,776 km2 obtained 1,866 m3/sec, Karya Baru-A.Yani Channels with 0,490 km2 obtained 1,218 m3/sec. Based on HECRAS’ hidraulics analysis, it is  known that the channel capacity . for existing water level by using the existing discharge of channel sectional capacity still can accomodate the volume of available water. For discharge of 2, 5, 10 and 20 years return period, the channel capacity is insufficient to accomodate the water volume, then the overflowing water will melt out the channel. Based on the analysis of the assessment of drainage network conditions, the performance of drainage network system in Parit Bansir obtained the weight of each channel section are : the upstream channel with 2079,40 m weighted 11,30 %, the middle channel with 2740,15 m weighted 28,64 %, and the downstream channel with 1314,54 m weighted 20,34 %. So the overall weight is 60,28 % implies that the value of drainage network system performance that can be given by Parit Bansir is 60,28 %.   Keywords:drainage channel, HEC RAS, flood, Parit Bansir
PERENCANAAN PIPA TRANSMISI SUMBER AIR BAKU SUNGAI BEKUAN BAGI PENDUDUK KECAMATAN LEMBAH BAWANG Nizar, Sy. Khairul; Yulianto, Eko; ., Umar
Jurnal Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Tanjungpura Vol 2, No 2 (2016): JURNAL MAHASISWA TEKNIK SIPIL EDISI JUNI 2016
Publisher : Jurnal Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1509.64 KB)

Abstract

Analysis begins with the planning phase to determine the water quality of the design of water treatment, after the calculation of flood discharge analysis, followed by analysis of population projections for the next 20 years. After Knowing Population, conducted a needs assessment of the community water valley onions and quantity of water which is owned by River raw water source clot. Recently tested the reliability of the source of raw water for then all the data is processed using Epanet Program. Of Air Quality Test Results in laboratory Health Office dr. Sudarso, Pontianak meragun sirin known that water is still very clean and does not require water treatment. Followed by Analysis Debit Flood Plan using HSS method Snyder is known that the maximum discharge clot River Water Source for the return period of 20 years is 8.7602 liters / sec while the clean water needs at peak hours of 12.7752 liters / sec. Furthermore, from the analysis of the pipeline which will be used using 2.0 Epanet program planned transmission network using HDPE pipe with pipe diameter Ø 150 mm with a distance of 3283 mm.