Articles

Found 9 Documents
Search

Terapi Sel Punca pada Infark Miokard Yuliana, Ida; Suryani, Des; Pawitan, Jeanne A.
Jurnal Kedokteran Maranatha Vol 11, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infark miokard adalah nekrosis masif otot jantung disebabkan ketidakseimbangan antara suplai darah dan kebutuhan oksigen otot jantung. Secara teoritis dapat terjadi penyembuhan infark miokard, meski dipercaya kemampuan regenerasi ini tidak cukup untuk memperbaiki fungsi jantung. Sampai saat ini terapi yang ada tidak bersifat kuratif karena tidak mengganti sel yang telah mati. Penelitian terbaru memperlihatkan bahwa sel otot jantung yang telah mati dapat digantikan oleh terapi sel punca yang dapat mengalami replikasi dan berdiferensiasi menjadi kardiomiosit untuk menggantikan sel otot jantung yang mati. Berbagai penelitian penggunaan sel punca untuk terapi infark miokard akut telah banyak dilakukan, baik pada hewan, maupun uji coba pada manusia untuk menilai keamanan dan manfaatnya. Perbaikan jantung berbasis sel merupakan pendekatan yang menarik untuk membangun kembali otot jantung yang rusak pada infark miokard. Selama dekade terakhir, berbagai upaya dilakukan untuk menilai potensi berbagai sel punca ataupun sel progenitor, seperti sel punca otot rangka, sel punca jantung, progenitor kardiak, sel punca asal sumsum tulang, progenitor endotel, dan sel punca embrionik dalam mengembalikan fungsi jantung yang terganggu. Saripustaka ini membahas mengenai sel punca, penggunaan sel punca dan masalahnya, sumber sel punca dan berbagai macam sel punca yang dapat digunakan untuk terapi infark miokard, berbagai cara pemberiannya, keamanan dan efektivitas terapi sel punca, dan kemungkinan berbagai peran sel punca dalam penyembuhan infark miokard.
Cajal Interstitial Cells: The Pacemaker that Play a Role in Gastrointestinal Tract Malignancy Suryani, Des; Yuliana, Ida; Pawitan, Jeanne Adiwinata
JOURNAL OF THE INDONESIAN MEDICAL ASSOCIATION Majalah Kedokteran Indonesia Vol 63, No 9 (2013): Journal of the Indonesian Medical Association Majalah Kedokteran Indonesia
Publisher : PENGURUS BESAR IKATAN DOKTER INDONESIA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.85 KB)

Abstract

Introduction: Interstitial cell of cajal (ICC) has a fusiform-shaped cell body, an oval nucleus, and a few cytoplasm. It has two to five primary cytoplasmic branches that again branch into secondary and tertiary branches so that the cell looks like a star (stellate cells) and was suspected to be a neuron. The cell has few contractile elements, many mitochondria and endoplasmic reticulum, and exists between nerve endings and smooth muscle cells. It can be found in the gastrointestinal tract, and outside the gastrointestinal tract, such as in the kidneys, various organs of the reproductive system, pancreas and blood vessels (portal vein). The main function of ICC is as a pacemaker. Malignancy of ICC causes gastrointestinal stromal tumor (GIST) that need to be distinguished from other tumors due to the different management. This review discusses the histophysiology of ICC that has a great importance in diagnosing GIST, especially in the pancreas. ICC derived tumors can be diagnosed by using ICC markers c-Kit and ANO 1 (more specific). J Indon Med Assoc. 2013;63:373-7.
Tinjauan Histologi Sawar Darah Otak Yuliana, Ida
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Blood brain barrier is a membrane which is highly resistant to the diffusion process and separate the blood brain interstitial fluid. The blood brain barrier is a separation between the main compartment nervous system brain, CSF and the third compartment of the blood. Function of the blood brain barrier are protects the central nervous system to maintain homeostasis of blood milieu microenvironment. Blood-brain barrier layer is characterized as a perfect and continuous cell of endothelial cells in the connective by tight junctions. By using electron microscopy showed that the lumen of blood capillaries separated from the extra-cellular space by endothelial cells in the capillary wall (cell cerebral endhothelial), basement membrane outside the cell contains perisit endothelial cells and astrocytes feets are attached to the outer layer of the wall of the capillary. The third component has a specificity in terms of functional morphology and histology. Keywords: blood-brain barrier, endothelial cell,  astrocyte, perisit cell Abstrak: Sawar darah otak adalah suatu membran yang sangat resisten terhadap proses difusi dan memisahkan cairan intersisial otak darah. Sawar darah otak merupakan pemisah antara kompartmen utama susunan saraf otak, LCS dan kompartmen ketiga yaitu darah. Sawar darah otak memiliki fungsi melindungi susunan saraf pusat dari milieu darah mempertahankan homeostasis lingkungan mikro. Sawar darah otak dicirikan sebagai lapisan seluler yang sempurna dan kontinu dari sel endotel yang di ikat oleh tight junction. Dengan menggunakan mikroskop elektron memperlihatkan bahwa lumen kapiler darah dipisahkan dari ruang ekstra seluler oleh sel endotelial di dinding kapiler  (cell cerebral endhothelial), membran basalis di luar sel endotel berisi sel perisit dan kaki-kaki astrosit yang menempel pada lapisan luar dari dinding kapiler. Ketiga komponen tersebut memiliki kekhususan dalam hal morfologi dan fungsional secara histologi. Kata-kata Kunci: sawar darah otak, sel endotel, astrosit, sel perisit
PERBEDAAN KADAR KOLESTEROL TOTAL PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER DENGAN DIABETES MELITUS DAN TIDAK DIABETES MELITUS Sari, Desy Puspita; Pratiwi, Dewi Indah Noviana; Yuliana, Ida
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 11, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Coronary heart disease (CHD) is the major cause of death  in the world.CHD is constriction or occlusion of arteries which supply blood flow to heart muscle with the result lack of blood oxygen supply because atherosclerosis process or spasm or both. The incidence of atherosclerosis at large artheries increase in diabetes melitus (DM) patients.DM is a major risk factor for CHD pathogenesis. One of risk factor for CHD in DM patients is the  increase of  cholesterol level, a lipid metabolism abnormality.This study aimed to analyze the comparation of total cholesterol between CHD with DM and without DM in RSUD Ulin Banjarmasin period June-August 2014. This study was analytic observational with cross-sectional approach and used consecutive sampling. The total of  sample was 60 patients which contain 30 CHD with DM patients and 30 CHD without DM patients. The result showed the mean of CHD with DM patients’s cholesterol total level was 230,50 mg/dL and the mean of CHD without DM patient’s was 197,47 mg/dL.The data anlysis result using independent T-test showed that there is significant difference of cholesterol total level between CHD with DM patients and CHD witout DM patients (p=0,007) in RSUD Ulin Banjarmasin. Keywords: coronary heart disease (CHD), diabetes melitus (DM), total cholesterol
HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN PEMANFAATAN KLINIK SANITASI PADA IBU BAYI DAN BALITA PENDERITA DIARE AKUT Husnawati, Herwinda; Arifin, Syamsul; Yuliana, Ida
Berkala Kedokteran Vol 13, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Based on data from Banjarmasin Department of Health in 2015, the highest diarrhea incident which is 1.056 cases, occurs at Puskesmas Kuin Raya Banjarmasin. There is an imbalance between diarrhea incident and visitation to sanitation clinic. Many factors are influencing someone’s behavior while knowledge is one of those. This research aimed to discover the correlation between education and sanitation clinic utilization on a mother of acute diarrhea toddlers at Puskesmas Kuin Raya Banjarmasin. This was an analytic observational study with cross sectional design. The samples were 50 mothers chosen by systematic random sampling method. The analysis was conducted by chi-square test. The result portrayed 12% of high education, 22% of fair education and 66% of low education. Meanwhile, there were 64% non-utilization and 36% utilization of sanitation clinic. The correlation p-value was 0,000 (p<0,05). In conclusion,  there is a correlation between education and sanitation clinic utilization on a mother of acute diarrhea toddlers at Puskesmas Kuin Raya Banjarmasin. Keywords: acute diarrhea, sanitation clinic utilization, education Abstrak: Data Dinas Kesehatan Kotamadya Banjarmasin tahun 2015 didapatkan angka kejadian diare tertinggi sebanyak 1,056 kasus di Puskesmas Kuin Raya Banjarmasin. Terdapat kesenjangan antara angka kejadian diare dengan jumlah kunjungan ke klinik sanitasi. Banyak faktor yang mempengaruhi pemanfaatan klinik sanitasi, salah satunya adalah pengetahuan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan pemanfaatan klinik sanitasi pada ibu bayi dan balita penderita diare akut di Puskesmas Kuin Raya Banjarmasin. Metode penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 50 responden dengan teknik systematic random sampling. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian adalah 12% mempunyai pengetahuan tinggi, 22% berpengetahuan cukup dan 66% berpengetahuan rendah. Sementara itu, untuk pemanfaatan klinik sanitasi didapatkan hasil tidak memanfaatkan klinik sanitasi 64% dan memanfaatkan 36%. Nilai korelasi p = 0,000 (p< 0,05). Kesimpulan penelitian ini terdapat hubungan pengetahuan dengan pemanfaatan klinik sanitasi pada ibu bayi dan balita penderita diare akut di Puskesmas Kuin Raya Banjarmasin. Kata-kata kunci: diare akut, pemanfaatan klinik sanitasi, pengetahuan
GAMBARAN JENIS ANEMIA MENGGUNAKAN MEAN CORPUSCULAR HEMOGLOBIN (MCH) PADA GAGAL GINJAL KRONIK Maulidya, Nindy; Arifin, Miftahul; Yuliana, Ida
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Abstract: Chronic kidney disease (CKD) is a chronic, slow progressing disease that become the main health problem in society. This disease  has many etiology. Anemia is one of CKD’s complication. Mean corpuscular hemoglobin (MCH) is an index of erythrocytes. MCH can Seeing the color quantity, ie normochromic and hypochromic.This research aims on finding the type of anemia due to CKD using mean corpuscular hemoglobin (MCH) in RSUD Ulin Banjarmasin from July to September 2015. This is an observational analytic descriptive research with cross sectional approach. Samples were taken using simple random sampling. 100 samples with GFR < 15 ml/sec/1,73 m3 or creatinin level > 6 mg/dL that haven’t been hemodialyzed before. Based on hemoglobin levels, the results were mostly at levels of 7-9 g /dl at 53 %. Results showed that 70% of samples had normochromic anemia, while the other 30% had hypochromic anemia. The conclusion of this research is using a type of anemia MCH at CKD many get on normocromic anemia.Keywords: anemia, chronic kidney Disease (CKD), normochromic, hypochromic. Abstrak:Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan masalah utama kesehatan di masyarakat yang merupakan perkembangan penyakit yang lama dan progresif serta memiliki etiologi yang beragam. Anemia merupakan salah satu komplikasi yang terjadi pada GGK. Mean corpuscular hemoglobin (MCH) merupakan indeks eritrosit yang dapat melihat kuantitas warna, yaitu normokromik dan hipokromik. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran jenis anemia menggunakan MCH pada gagal ginjal kronik di RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan cross sectional, subjek penelitian adalah pasien GGK dengan kreatinin > 6 mg/dL yang belum menjalani hemodialisis pada periode Juli-September 2015, sampel dipilh menggunakan teknik Simple Random Sampling dengan jumlah sampel 100. Berdasarkan kadar hemoglobin, terbanyak pada kadar 7-9 g/dl yaitu 53 orang (53%). Hasil menunjukkan bahwa jenis anemia pada GGK terbanyak  adalah 70 orang (70%) pada anemia normokromik dan 30 orang (30%) pada anemia hipokromik. Kesimpulan penelitian ini adalah jenis anemia menggunakan MCH pada GGK banyak di dapatkan pada jenis anemia normokromik. Kata-kata kunci:  anemia, gagal ginjal kronik (GGK), normokromik, hipokromik.
CORRELATION TRIGLISERIDA LEVEL AND MONOCYTE IN CORONARY HEART DISEASE AT ULIN GENERAL HOSPITAL BANJARMASIN Juwita, Gusti Adistya Naila; Arifin, Miftahul; Yuliana, Ida
Berkala Kedokteran Vol 13, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Coronary heart disease (CHD) is an unbalance condition between oxygen supply and demand in heart muscle which caused by coronary artery obstruction known as atherosclerosis. Both triglyceride and monocyte have important role in the process of atherosclerosis plaque forming which cause CHD. This research aimed to analyse correlation between triglyceride level and monocyte count in patients with coronary heart disease at Ulin General Hospital Banjarmasin on August 2014-August 2015. This research is an analytical observational research with cross-sectional approach. Total sample for this research are 94 CHD patients selected by inclusion criteria. The result discovered the average rate for triglyceride level is 114 mg/dL and for monocyte count is 0,62 thousand/µL. Based on result of data analysis with Pearson correlation test demonstrates the value of r=0,347 and p=0,01. It can be concluded that there is weak, significant and positive correlation between triglyceride level and monocyte count in CHD patients Keywords: triglyceride, monocyte, coronary heart disease
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN KETAHANAN TERHADAP ISPA NON-PNEUMONIA PADA BALITA DI PUSKESMAS PEKAUMAN BANJARMASIN Shifa, Mutiara; Arifin, Syamsul; Yuliana, Ida
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Puskesmas Pekauman was public health care that had highest Acute Respiratory Infection (ARI) score in Banjarmasin, it was 427 cases of  pneumonia ARI and 3.531 cases of non-pneumonia ARI, with many case happened in children under five years old (12-59 m.o). Nutrition status was one of many factor that affecting resistance of non-pneumonia ARI in children under five years old. This study was aimed to determine the correlation between nutritional status with resistance of non-pneumonia ARI in children under five years old (12-59 m.o) at Puskesmas Pekauman Banjarmasin. Design of this study was observational analytic with cross sectional study. Samples obtained with systematic random sampling  were 50 children under five years old. The result of this research were nutritional status of 36% children under five years old were good,  64% were below standard, 32% children under five years old had resistance of non-pneumonia ARI, and 68% had not resistancy. Among variables was then analyzed using chi-square test. The conclusion was significant correlation found between nutritional status with resistency of non-pneumonia ARI in children under five years old (12-59 m.o) at Puskesmas Pekauman Banjarmasin (p = 0,007). Children under five years old with good nutrional status had resistancy 5 times greater than children under five years old with below standard nutritional status. Keywords: Non-pneumonia ARI, nutritional status Abstrak: Puskesmas Pekauman merupakan puskesmas dengan angka kejadian ISPA tertinggi di Kota Banjarmasin, terdiri dari 427 kasus ISPA pneumonia dan 3531 kasus ISPA non pneumonia, dengan jumlah penderita terbanyak berada pada kisaran umur 12-59 bulan. Status gizi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi ketahanan balita terhadap ISPA non-pneumonia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dengan ketahanan terhadap ISPA non-pneumonia pada balita (12-59 bulan) di Puskesmas Pekauman Banjarmasin. Rancangan penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel diperoleh melalui teknik systematic random sampling dengan jumlah 50 orang. Hasil penelitian didapatkan 36% balita status gizi kurang, 64% balita status gizi baik, 32% balita tidak memiliki ketahanan, dan 68% balita memiliki ketahanan terhadap ISPA non-pneumonia. Analisis data hasil penelitian menggunakan uji statistik chi-square. Kesimpulan penelitian ini, terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dengan ketahanan balita (12-59 bulan) terhadap ISPA non-pneumonia di Puskesmas Pekauman Banjarmasin (p = 0,007). Balita (12-59 bulan) di Puskesmas Pekauman Banjarmasin dengan  gizi baik memiliki ketahanan terhadap ISPA non-pneumonia 5 kali lebih besar dibandingkan balita (12-59 bulan) dengan gizi kurang. Kata-kata kunci: ISPA non-pneumonia, status gizi
PERANAN SEL CLARA PADA INFEKSI PARU KRONIS Yuliana, Ida; Roewijoko, Soenanto
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37, No 2 (2014): Published in September 2014
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.88 KB)

Abstract

AbstrakPenyakit paru kronik seperti penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan asma merupakan masalah kesehatan global yang menyebabkan peningkatan komorbiditas dan biaya pengobatan. Hal ini telah membuat para peneliti mencoba mencari berbagai hal yang dapat digunakan untuk dapat mencegah, mendeteksi dan mengintervensi penyakit paru kronik agar didapatkan terapi yang efektif dan spesifik untuk penyakit tersebut. Artikel ini bertujuan untuk menjabarkan karakteristik sel Clara (sel yang terdapat pada dinding bronchioles paru) dan peranannya pada infeksi paru kronis di tingkat molekuler. Beberapa penelitian membuktikan adanya penurunan fungsi sel Clara akibat remodeling epitel pada infeksi paru kronik. Peranan sel Clara diketahui dapat meregulasi proses inflamasi melalui regulasi prilaku makrofag (anti-inflamasi) dan mengembalikan sel epitel respirasi yang rusak ke arah normal (progenitor stem sel). Dengan adanya fungsi yang luas ini diharapkan sel Clara dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan terapi terbaru dalam pengobatan penyakit infeksi paru kronik.AbstractChronic obstructive pulmonary disease (COPD) and asthma are global health problems which increase comorbidities and therapy costs. This has led researchers to find out strategies that can be used to prevent, detect and intervene the chronic lung diseases in order to develop specific and effective therapies for the diseases. This article aimed at describing the characteristic of Clara cells (a type of cell in lung bronchioles wall) and its role in chronic lung infection. Previous research studies provided some evidences of an imparment of Clara cell functions due to epithelial remodeling as seen in chronic lung infection. It is obvious that Clara cells are able to regulate inflammatory process via regulation of macrophage behavior (anti-inflammatory effect) and are able to restore damaged respiratory epithelial cells into the normal ones (stem cells progenitor). Based on these functions, it is expected that Clara cells can be used as a basis for developing the latest therapies in the treatment of chronic lung infection.