Krisna Yetti
Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia

Published : 26 Documents
Articles

Found 26 Documents
Search

Penurunan Kadar Glukosa Darah Sewaktu Melalui Terapi Reiki Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Sylvia, Ester Inung; Yetti, Krisna; Hariyati, Rr.Tutik Sri
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 14, No 2 (2011): July
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3254.155 KB) | DOI: 10.7454/jki.v14i2.318

Abstract

AbstrakReiki merupakan terapi komplementer untuk menurunkan kadar glukosa darah. Terapi ini menggunakan energi alami yangdisalurkan pada tubuh pasien dengan tujuan menyelaraskan energi yang tidak seimbang dalam tubuhnya. Penelitian untukmengetahui pengaruh Reiki terhadap penurunan glukosa darah dan mengidentifikasi apakah faktor stres dan berat badan(obesitas) berperan dalam penurunan KGD pasien Diabetes Melitus tipe 2 dilakukan di Klub Diabetes sebuah RS di Jakarta.Desain penelitian pre-eksperimental dengan pendekatan one-group pretest-posttest design. Sejumlah 18 sampel dipilih denganteknik purposive sampling. Terapi dilakukan selama tiga puluh hari dengan dua metode, secara langsung dan jarak jauh. Hasilpenelitian menunjukkan perbedaan bermakna antara glukosa darah sebelum dan setelah intervensi Reiki (p= 0,000; ?= 0,05).Penelitian ini menyarankan penggunaan Reiki dalam asuhan keperawatan.Kata Kunci: diabetes melitus tipe 2, kadar glukosa darah, Reiki, terapi komplementerAbstractReiki is one of the complementary therapies that are used to decrease blood glucose level. The therapy transfers naturalenergy into the patient?s body to synchronize the energy imbalance in the body. The research to examine the effect of Reiki andthe role of the stress and weight factor to decrease blood glucose level of DM type 2 patients was held in a hospital-baseddiabetic club in Jakarta. The design of this study was pre-experimental with the one-group pretest-posttest design. Eighteenpatients were selected with the purposive sampling technique. Reiki therapy was performed in 30 days using two methods:direct and distant healing method. The result revealed that there was a significant difference in random blood glucose levelbefore and after the Reiki intervention (p= 0.000; ?= 0.05). It is recommended to incorporate the Reiki therapy in nursingcare.Keywords: type 2 Diabetes Mellitus, blood glucose level, Reiki, complementary therapy
Peningkatan Pelaksanaan Supervisi Oleh Supervisor Melalui Pengawasan Bidang Keperawatan Winarti R., Sri Arini; Yetti, Krisna; Besral, Besral
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 12, No 3 (2008): November
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.944 KB) | DOI: 10.7454/jki.v12i3.216

Abstract

AbstrakPengawasan dalam manajemen berperan untuk mempertahankan kegiatan yang telah terprogram dapat dilaksanakan dengan baik. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan fungsi pengawasan oleh bidang perawatan dengan pelaksanaan supervisi oleh seluruh supervisor di sebuah RS di Yogyakarta dengan desain potong lintang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 48,2% supervisor berusia 40-50 tahun, berjenis kelamin perempuan (80,4%), berpendidikan DIII Keperawatan (60,7%), telah bekerja 20 30 tahun (57,1%), 51,8% belum pernah pelatihan manajemen keperawatan, dan 46,4% shift dinas sore. Hasil analisis korelasi menunjukkan fungsi pengawasan bidang keperawatan memiliki hubungan bermakna dengan pelaksanaan supervisi oleh supervisor (r = 0,393; p = 0,003). Penelitian ini menyimpulkan bahwa kombinasi fungsi pengawasan bidang keperawatan dan pelatihan yang diikuti oleh supervisor memiliki hubungan yang bermakna terhadap pelaksanaan supervise oleh supervisor. Pengawasan secara periodik serta dengan teknik supervisi efektif meningkatkan kinerja perawat dalam pelayanan keperawatan. AbstractControlling in management has specific role in maintaining the quality of implementation as programmed by manager. This cross-sectional study was aimed to identify the correlation between controlling function of nursing directorate with the supervision carried out by all supervisors in a hospital in Jogjakarta. The supervisors were predominantly 40-50 years old (48.2%), women (80.4%), Diploma Nurse (60.7%), having 20-30 years of working experience (57.1%), never get in-service training (51.8%) and in evening duty shift (46.4%). The correlation analysis showed that controlling from nursing directorate had significant correlation with the implementation of supervision by the supervisor (r = 0,393; p = 0,003). This study concluded that the combination of controlling from nursing directorate and in-service training which is monitored by supervisor has significant correlation with the supervision implemented by the supervisor. Finding from the study suggested that good controlling and scheduled supervision using effective communication could increase the nursing performance in giving nursing care.
DUKUNGAN SOSIAL MENINGKATKAN “SELFCARE BEHAVIOR” ANAK -, Indanah; Yetti, Krisna; Sabri, Luknis
Jurnal Keperawatan Anak Vol 1, No 2 (2013): JURNAL KEPERAWATAN ANAK
Publisher : Jurnal Keperawatan Anak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari peneitian adalah mengetahui hubungan antara dukungan sosial  dengan Selfcare Behavior anak usia sekolah dengan talasemia mayor”. Penelitian  merupakan penelitian cross sectional. Hipotesayang dibuktikan adalah “Adanya hubungan antara dukungan sosial  dengan Selfcare behavior pada Anak Usia Sekolah dengan Talasemia Mayor”. Sampel dalam penelitian ini   adalah pasien usia sekolah dengantalasemia mayor di RSUPN. Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, sejumlah 131 pasien. Penelitian menggunakan   instrument tentang dukungan sosial dan “selfcare behavior”. Hasil menunjukkan ada hubungan antara dukungan sosial dengan selfcare behavior dengan p = 0,0000 (α = 0,05).   Penelitian ini merekomendasikan untuk meningkatkan dukungan sosial dari keluarga dan teman untuk meningkatkan kemmapuan selfcare behavior pada anak usia sekolah khusunya anak dengan talasemia.
Kemampuan Keluarga Merawat Usia Lanjut Berdasarkan Karakteristik Keluarga dan Usia Lanjut Kholifah, Siti Nur; Yetti, Krisna; Besral, Besral
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 14, No 1 (2011): March
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.248 KB) | DOI: 10.7454/jki.v14i1.50

Abstract

Sebuah kecamatan di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur mempunyai banyak usia lanjut. Tetapi belum diketahui kemampuankeluarga merawat usia lanjut. Penelitian analitik observasional ini bertujuan mengetahui hubungan karakteristik keluarga danusia lanjut dengan kemampuan keluarga merawat usia lanjut. Populasi penelitian adalah keluarga dengan usia lanjut, jumlahsampel sebanyak 319 keluarga yang ditentukan dengan two stage cluster sampling. Hasil penelitian menunjukkan 48,3% keluargamampu merawat usia lanjut. Sub variabel yang paling dominan berhubungan dengan kemampuan keluarga yaitu sikap keluarga.Selanjutnya, perlu pengembangan Posyandu Usia Lanjut dengan melibatkan keluarga dan pembentukan paguyuban keluargadengan usia lanjut. Penelitian dengan jenis action research tentang model perawatan usia lanjut yang mengaplikasikankeperawatan transkultural sebagai kerangka konsep penelitian perlu dilakukan.
Penurunan Tekanan Darah Pada Klien Hipertensi Primer Melalui Terapi Hypnosis Winarto, Eko; Yetti, Krisna; Mustikasari, Mustikasari
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 14, No 1 (2011): March
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.932 KB) | DOI: 10.7454/jki.v14i1.59

Abstract

Terapi hipnosis pada pasien hipertensi primer merupakan terapi non-farmakologis yang menarik untuk dikaji. Tujuan penelitianini untuk mengidentifikasi efek terapi hipnosis pada penurunan tekanan darah pada pasien rawat jalan dengan hipertensi primer.Penelitian kuasi eksperimen with pre-post control group ini menggunakan sampel yang dipilih secara acak sederhana, setiapkelompok 19 responden. 100mm Visual Analog Scale (VAS) digunakan untuk mengukur kecemasan, Stanford Hypnos-abilitySuggestibility Scale Form C (SHSS Form C) untuk observasi tingkat sugestibilitas dan sfignomanometer digital untuk tekanandarah. Hasil penelitian menunjukan tekanan darah sistolik turun secara bermakna 17,16 mmHg (p= 0,001, ?= 0,05), diastolikturun secara bermakna 10,21 mmHg (p= 0,000, ?= 0,05), sebelum dan setelah terapi hipnosis. Usia dan penurunan tekanan darahdiastolik setelah terapi hipnosis menunjukan hubungan yang kuat dan bermakna (r= 0,736, p= 0,000, ?= 0,05). Riwayat merokokpasif menunjukan bahwa hubungan yang bermakna pada penurunan tekanan darah diastolik kelompok intervensi (p= 0,043,?= 0,05). Hasil ini berimplikasi pada penerapan terapi hipnosis sebagai intervensi keperawatan untuk membantu menurunkanhipertensi.
HUBUNGAN SELF-CARE DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN DIABETES MELLITUS (DM) DI PERSATUAN DIABETES INDONESIA (PERSADIA) CABANG CIMAHI Rantung, Jeanny; Yetti, Krisna; Herawati, Tuti
Jurnal Skolastik Keperawatan Vol 1, No 01 (2015): Januari-Juni
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Advent Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Kemampuan self-care merupakan hal penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien DM. Penelitian bertujuan mengidentifikasi hubungan self-care dengan kualitas hidup pasien DM. Metode: Rancangan penelitian cross sectional, melibatkan 125 anggota PERSADIA cabang Cimahi. Alat ukur self-care adalah Summary of Diabetes  Self-Care Activities (SDSCA), Diabetes Quality Of Life (DQOL) dan Beck Depression Inventory II. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan hubungan self-care dengan kualitas hidup menjadi tidak bermakna (p value 0.164) setelah dipengaruhi oleh jenis kelamin (p value 0.006) dan  depresi (p value 0.001). Diskusi: Peningkatan satu satuan self-care, akan meningkatkan kualitas hidup sebesar 6.1% setelah dikontrol oleh jenis kelamin dan depresi. Peningkatan self-care dapat dilakukan melalui pengembangan program edukasi yang terstruktur, meningkatkan kompetensi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien DM terkait aktivitas self-care, dan melakukan screening depresi terhadap pasien DM. Kata kunci: Self-care, kualitas hidup, DM   ABSTRACT Introduction: The relation between self care and patient’s diabetes mellitus quality of life in Persatuan Diabetes Indonesia    (PERSADIA) in Cimahi. Self care ability is important in improving patient’s quality of life (QOL). Method: Using cross sectional method, this research is designed to identify the relationship between self care and patient’s QOL in PERSADIA Cimahi, West Java. A hundred twenty five PERSADIA members were recruited and examined using Summary of Diabetes  Self-Care Activities (SDSCA),Diabetes Quality Of Life (DQOL) and Beck Depression Inventory II. Result: The results showed no significant correlation between self care activity and QOL (p=0,164) as influenced by gender (p=0,006), depression (p=0,001). Discussion: Increase of one unit self-care was likely to increase 6,1% QOL after controlled by gender and depression. Self care improvement can be performed through developing structured education, improving nurse’s competency in diabetes care and conducting diabetes screening program for DM patients. Key words: Self-care, Quality of Life, Diabetes Mellitus (DM) Full printable version: PDF
Faktor Faktor yang Mempengaruhi Fatigue Pada Pasien yang Menjalani Hemodialisis Sulistini, Rumentalia; Yetti, Krisna; Hariyati, Rr. Tutik Sri
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 15, No 2 (2012): July
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.538 KB) | DOI: 10.7454/jki.v15i2.30

Abstract

Chronic Kidney Disease merupakan kumpulan sindrom klinik dengan penurunan fungsi ginjal progresif. Prevalensi fatiguetinggi pada pasien hemodialisis. Penelitian ini bertujuan menjelaskan faktor yang berhubungan dengan Fatigue pada pasienyang menjalani hemodialisis. Desain penelitian analitik observasional. Teknik non probability sampling. Hasil penelitian tidakada hubungan tingkat fatigue dengan pekerjaan (p= 0,732; ?= 0,05), status dukungan (p= 0,679; ?= 0,05), jenis kelamin (p=0,914; ?= 0,05), frekuensi (p= 0,676; ?= 0,05), jarak fasilitas (p= 0,149; ?= 0,05), komplikasi (p= 0,062; ?= 0,05), merokok(p= 0,062; ?= 0,05), alkohol (p= 0,075; ?= 0,05), riwayat penyakit (p= 0,42; ?= 0,05), dan status nutrisi (p= 0,168; ?= 0,05).Ada hubungan tingkat fatigue dengan latihan fisik (p= 0,027; ?= 0,05), lama menjalani hemodialisis (p= 0,019; ?= 0,05), kadarhemoglobin (p= 0,029; ?= 0,05), penghasilan (p= 0,07; ?= 0,05), dan pendidikan (p= 0,040; ?= 0.05). Faktor dominan adalahpenghasilan. Perawat hemodialisis diharapkan memonitoring fatigue, memberikan pendidikan kesehatan tentang latihan fisikdan memberikan asuhan keperawatan holistik.
PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN KEPERAWATAN MELALUI RONDE DAN PENDOKUMENTASIAN Rohita, Tita; Yetti, Krisna
Dunia Keperawatan Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKRonde keperawatan dan kelengkapan pendokumentasian asuhan keperawatan merupakan bagian dari kualitas pelayanan keperawatan di rumah sakit. Tujuan optimalisasi pelaksanaan ronde keperawatan & dokumentasi asuhan keperawatan yaitu refresing dan menyiapkan perangkat yang dibutuhkan. Sehingga pengetahuan dan komitmen untuk melakukan perubahan menjadi lebih baik.Metode yang dilakukan yaitu studi kasus dengan menggunakan pendekatan Plan, Do, Check and Action (PDCA).Hasil program tersebut, pengetahuan perawat meningkat dengan hasil pre test 68% menjadi 85% ini menunjukan peningkatan yang baik yang dapat menunjukkan bahwa impelementasi yang dilakukan dinilai efektif untuk meningkatkan pengetahuan perawat. Peningkatan pelatihan, meningkat-kan strategi pengelolaan sumber daya manusia keperawatan, evaluasi beban kerja secara berkala, menciptakan lingkungan yang mendukung budaya kerja kondusif juga sangat berperan penting dalam pengoptimalisasian program. Kata-kata kunci : kualitas pelayanan, pendokumentasian, ronde. ABSTRACTRonde nursing and completeness of documentation of nursing care is part of the quality of nursing care in the hospital. Interest-round optimization of the implementation of nursing and nursing care documentation that is refreshing and prepare the necessary tools. So that the knowledge and commitment to change for the better. The method to do that is by using a case study approach of PDC). Result the program , the nurses knowledge increases with pre-test results of 68% to 85% shows good improvement that could indicate that the implementation is carried out is considered effective to increase the knowledge of nurses.. Increased training, increased technology strategy nursing human resources management, periodic evaluation workload, create an enabling environment conducive work culture is also very important role in optimizing the program. Keywords: documenting, ronde, quality ofcare.
GRANT OF SUCROSE AND NON-NUTRITIVE SUCKING TO PAIN RESPONSE AND THE LONG CRIES OF NEONATES TO INVASIVE PROCEDURES Kristiawati, Kristiawati; Yetti, Krisna; Pujasari, Hening
Jurnal Ners Vol 5, No 2 (2010): Vol 5 No. 2 Oktober 2010
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.899 KB) | DOI: 10.20473/jn.v5i2.3934

Abstract

Intoduction: Hospitalized neonates may experience pain caused by invasive procedures. Sucrose and non-nutritive sucking are non-pharmacological analgesics. The aimed of this study was to examine the effectiveness of sucrose and non-nutritive sucking administration on pain and crying duration of neonates during invasive procedures. Method: The study used quasi-experimental design with post-test only control group design approach. This study used nonprobability sampling technic with consecutive sampling. The sample consisted of 45 neonates, divided into three groups, each group of 15 neonates. Result: The results showed that the pain response and the crying duration were insignificantly different between the sucrose group and the NNS, respectively p = 0.635 and p = 0.848. Discussion: Age was identified as a confounding variable that effected pain responses. Provision of sucrose and NNS proven to reduce pain as non-pharmacological pain management for neonates during invasive procedures.
THE DIFFERENCE BETWEEN BACTERIAL GROWTH IN HUMIDIFIER AND NON HUMIDIFIER AT THE PATIENT WHO GOT OXYGEN THERAPY Bakar, Abu; Yetti, Krisna; Handiyani, Hanny
Jurnal Ners Vol 3, No 2 (2008): Vol. 3 No. 2 Oktober 2008
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.818 KB) | DOI: 10.20473/jn.v3i2.4988

Abstract

Introduction: Humidifier is a device for delivering oxygen to the patients. Before using it, the humidifier tube should fill with sterile water. There was a recent study that administering oxygen less than five liter per minutes, the tube was not load with the sterile water. This research aim was to describe the difference between bacterial growth in the humidifier and non humidifier at the patient who got oxygen therapy. Method: The design was the analytic survey with purposive sampling method. The samples were 24 patients. They were divided into two groups. Group one, consisted of 12 patients with humidifier and the others with non humidifier. The instrument was culture equipments diagnostic test and observation guidance. The hypothesis was there was no difference bacterial growth existence in humidifier and non humidifier at the patient who got oxygen therapy. Result: The results showed that there was no significance difference of bacterial growth at time of zero hour (p=0.131). Meanwhile, there was significance different of bacterial growth at time of 12 hour (p=0.046), and time of 24 hour (p=0.046). There was also significance different between bacterial growth in humidifier and non humidifier at the patient who got oxygen therapy (p=0.010). Discussion : The conclusion is a non humidifier device could prevent bacterial and reduce nosocomial infection. It was recommended that hospital should use non humidifier and the humidifier had to disinfect and change the water every 12 hours.