Articles

Found 9 Documents
Search

KAJIAN ALGORITMA PENGOLAHAN CITRA AQUA/ TERRA MODIS UNTUK IDENTIFIKASI DAN MONITORING TUMPAHAN MINYAK (OIL SPILL) DI LAUT TIMOR TAHUN 2009 Yananto, Ardila; Khakhim, Nurul; Hidayati, Iswari Nur
Jurnal Bumi Indonesia Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012
Publisher : Fakultas Geografi UGM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui algoritma yang lebih optimal dalam pengolahan citra MODIS, khususnya untuk digunakan dalam proses identifikasi dan monitoring tumpahan minyak di perairan laut. Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola persebaran tumpahan minyak di perairan Laut Timor akibat ledakan anjungan minyak Montara yang terjadi tahun 2009. Berdasarkan uji akurasi yang dilakukan dapat diketahui bahwa metode klasifikasi citra Maximum Likelihood, gabungan PC13 dan NDVI memiliki nilai akurasi paling baik untuk identifikasi tumpahan minyak di perairan Laut Timor. Berdasarkan hasil pengolahan dan analisis yang dilakukan dapat diketahui jika pola persebaran tumpahan minyak di perairan Laut Timor yang berasal dari anjungan minyak Montara cenderung menyebar mengikuti arah pergerakan angin. Selain itu dapat diketahui juga bahwa total luas perairan laut yang tercemar oleh tumpahan minyak dari tanggal 30 Agustus 2009 sampai 2 November 2009 kurang lebih seluas 22.673,10 km2, dimana seluas 4.285,01 km2 terdapat di perairan laut Indonesia. Kata kunci : tumpahan minyak, MODIS, metode optimal, identifikasi, monitoring
ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP RETENSI POTENSIAL AIR OLEH TANAH PADA KEJADIAN HUJAN SESAAT (STUDI KASUS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI DAS GARANG JAWA TENGAH) Cahyadi, Ahmad; Yananto, Ardila; Wijaya, Muhammad Sufwandika; Nugraha, Henky
Seminar Nasional Informatika (SEMNASIF) Vol 1, No 5 (2012): Geoinformatic And GIS
Publisher : Jurusan Teknik Informatika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.777 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perubahan penggunaan lahan di DAS Garang Jawa Tengah Tahun 1994, 2001 dan 2008 terhadap retensi potensial maksimum air oleh tanah pada kejadian hujan sesaat (storm rainfall). Metode yang digunakan adalah metode SCS yang dikembangkan oleh The Soil Conservation Services. Data yang digunakan adalah data penggunaan lahan yang diekstrak dari citra Tahun 1994, citra 2001 dan citra 2008 menggunakan software ENVI dan peta tanah DAS Garang skala semi detail. Hasil penelitian menunjukkan bahwa retensi potensial maksimum air oleh tanah pada kejadian hujan sesaat di DAS Garang semakin menurun. Hal ini disebabkan semakin luasnya lahan terbangun dan semakin sempitnya lahan non-terbangun. Kondisi ini akan menyebabkan imbuhan terhadap airtanah di DAS Garang semakin kecil dan debit puncak banjir akan semakin besar.
Forest and Land Fire Danger Mapping Based on Land Physical Parameters in Sumatera and Kalimantan Region of Indonesia Yananto, Ardila; Prayoga, M. Bayu Risky; Harsoyo, Budi
Journal of Applied Geospatial Information Vol 1 No 2 (2017): Journal of Applied Geospatial Information (JAGI)
Publisher : Politeknik Negeri Batam

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia is a country that vulnerable to land and forest fires danger. This is not out of the presence of peatland in Indonesia is quite wide, which are mostly located in Sumatara and Kalimantan. The nature of peatlands are capable to store water in large quantities, but the surface dries quickly and become flammable during the dry season. This research aims to perform mapping areas that vulnerable to land and forest fires danger based on the physical parameters. Based on the results obtained can be used as the basis for develop land and forest fires early warning system in Indonesia. This research use GIS (Geographic Information System) for processing mapping of physical parameters which consists of Land Use Map, Topography Map and Soil Map in Sumatra and Kalimantan to get the forest and land fires danger map. The results of the mapping areas that vulnerable to forest and land fire based on the physical parameters resulting from this study have uniform patterns with the distribution and density of hotspots in the Sumatra and Kalimantan over the last 10 years (2006-2015). This is reinforced by the result of mapping accuracy test, where the percentage number of hotspots during the last 10 years both in Sumatera and Kalimantan area which is exactly vulnerable up to very vulnerable to land and forest fires danger by 74%.
PEMODELAN HIDROLOGI DENGAN MENGGUNAKAN WMS (WATERSHED MODELING SYSTEM), DAERAH KAJIAN DI DAS CILIWUNG HULU Ratna P, Destianingrum; Prayoga, M. Bayu Rizky; Yananto, Ardila
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 16, No 1 (2015): June 2015
Publisher : BPPT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (666.039 KB)

Abstract

Intisari  Permasalahan sumberdaya air dari hari ke hari semakin memburuk, baik kualitas maupun kuantitas air. DAS sebagai wadah dari berbagai komponen biosfer yang saling berinteraksi memegang peranan yang penting dalam siklus hidrologi dan fungsi penyediaan air. Berbagai macam model hidrologi telah dikembangkan, Model-model tersebut bisa digunakan untuk memecahkan permasalahan sumberdaya air tersebut. Salah satu model yang bisa digunakan adalah model rasional yang terdapat dalam Waterhsed Modeling System (WMS). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan ekstraksi karakteristik DAS dan mengestimasi nilai debit puncak DAS Ciliwung Hulu berdasarkan nilai curah hujan beberapa kala ulang dengan menggunakan Watershed Modelling System. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa karakteristik DAS yang dapat diekstraksi dengan menggunakan WMS adalah luas DAS, panjang sungai utama, kemiringan DAS, dan kemiringan aliran  sungai. Nilai koefisien aliran permukaan DAS Ciliwung Hulu adalah sebesar  0,72. Nilai intensitas hujan untuk kala ulang 2 tahun sebesar 117 mm/jam, kala ulang 5 tahun sebesar 135 mm/jam, kala ulang 10 tahun sebesar 143 mm/jam, kala ulang 25 tahun sebesar 152 mm/jam, kala ulang 50 tahun sebesar 157 mm/jam, dan kala ulang 100 tahun sebesar 162 mm/jam. Untuk nilai estimasi debit puncak di DAS Ciliwung Hulu, untuk kala ulang 2 tahun sebesar 735, 588 m3/detik, untuk kala ulang 5 tahun sebesar 852,713 m3/detik, untuk kala ulang 10 tahun sebesar 904,363 m3/detik, untuk kala ulang 25 tahun sebesar 959,448 m3/detik, untuk kala ulang 50 tahun sebesar 992,448 m3/detik dan untuk kala ulang 100 tahun sebesar 1.023,313 m3/detik.Abstract  Water resources problems are getting worse from by the day, both the quality and quantity of water. Watershed as a container of various components of the interacting biosphere is playing an important role in the hydrological cycle and water supply functions. Various kinds of hydrological models have been developed. The models can be used to help solving the water resources problems. One of models that can be used are contained in Watershed Modeling System (WMS) is Rational Method. The purpose of this study was to perform the extraction of watershed characteristics and estimate the peak discharge in Ciliwung Hulu Watershed based on the value of rainfall in some return period by using the Watershed Modeling System. The results of study show that the characteristics of the watershed that can be extracted by using WMS are watershed area, main stream length, the slope of the watershed, and the slope of the river. Runoff coefficient value of Ciliwung Hulu Watershed is 0,72. Rainfall intensity value for 2-year return period is 117 mm/h, when the 5-year return period is 135 mm/h, when the 10-year return period is 143 mm/h, when the 25-year return period is 152 mm/h, when the 50-year return periods 157 mm/h, and when 100-year return period is 162 mm/hour. For the estimated value of the peak discharge in Ciliwung Hulu watershed for 2-year return period amounted to 735,588 m3/sec, for 5-year return period amounted to 852,713 m3/sec, for a 10-year return period amounted to 904,363 m3/sec, for a 25 year return period amounted to 959,448 m3/sec, for 50-year return period amounted to 992,448 m3/sec and for 100 years return period amounted to 1023,313 m3/sec.
REKOMENDASI PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR WADUK/ DANAU PLTA DI INDONESIA MELALUI PEMANFAATAN TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA Harsoyo, Budi; Yananto, Ardila; Athoillah, Ibnu; Nugroho, Ari
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 16, No 2 (2015): December 2015
Publisher : BPPT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1261.896 KB)

Abstract

Melalui program Sistem Inovasi Nasional (SINas) oleh Kementerian Ristek Dikti telah dilakukan inventarisasi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang ada di seluruh Indonesia melalui penyusunan sistem informasi waduk/danau PLTA berbasis webGIS, yang mampu menyajikan informasi mengenai lokasi, kondisi hidrologi dan cuaca serta karakteristik fisik catchment area untuk masing-masing lokasi PLTA. Dari hasil monitoring data curah hujan serta analisis data hidrologi di setiap lokasi PLTA, diketahui sekitar 80% PLTA yang ada di seluruh Indonesia (kecuali yang ada di wilayah Aceh dan Sumatera Utara) mengalami defisit air akibat berkurangnya curah hujan sejak bulan Mei – Agustus sebagai dampak fenomena El Nino kuat yang mempengaruhi iklim global pada tahun 2015. Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) telah banyak dimanfaatkan untuk menjaga ketersediaan air waduk/danau, baik untuk keperluan irigasi maupun PLTA. Output penelitian ini juga menghasilkan Peta Rencana Waktu Pelaksanaan TMC untuk Mitigasi Bencana Kekeringan di Indonesia dan Peta Rencana Waktu Pelaksanaan TMC untuk Pengisian Waduk/Danau PLTA di Indonesia.Kata Kunci: Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Sistem Informasi, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC)=Through the National Innovation System (SINas) by the Ministry of Research Technology and Higher Education has conducted an inventory of Hydroelectric Power Plant which exist throughout Indonesia through the development of an information system reservoir / lake Hydroelectric Power Plant based WebGIS, which is able to present information about the location, hydrology and weather as well as physical characteristics of the catchment area for each location Hydroelecric Power Plant. From the results of the monitoring of rainfall data and analysis of hydrological data at each location Hydroelectric Power Plant, known to about 80% Hydroelectric Power Plant that exist throughout Indonesia (except in Aceh and North Sumatra) experienced water deficit due to reduced rainfall since the month of May to August as the impact Strong El Nino phenomena that affect the global climate in 2015. Weather Modification Technology (TMC) has been used to maintain the availability of water reservoirs / lakes Hydroelectric Power Plant, both for irrigation and hydropower. The output of this research also generates Execution Time Plan Map of TMC for Drought Mitigation in Indonesia and Execution Time Plan Map of TMC for filling Reservoir/ Lake Hydroelectric Power Plant in Indonesia.Keywords: Hydroelectric Power Plant, System Information, Weather Modification Technology (TMC)
ANALISIS KEJADIAN EL NINO TAHUN 2015 DAN PENGARUHNYA TERHADAP PENINGKATAN TITIK API DI WILAYAH SUMATERA DAN KALIMANTAN Yananto, Ardila; Dewi, Saraswati
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 17, No 1 (2016): June 2016
Publisher : BPPT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1620.56 KB)

Abstract

IntisariKejadian El Nino yang berdampak pada sebagian besar wilayah Indonesia akan selalu berasosiasi dengan kekeringan akibat dari berkurangnya intensitas curah hujan. Lebih jauh akibat dari kekeringan tersebut telah menimbulkan meningkatnya titik api secara signifikan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya khususnya di wilayah Sumatera dan Kalimantan, dimana hal tersebut telah mengakibatkan terjadinya bencana asap pada tahun 2015. Tujuan utama penulisan karya tulis ini adalah untuk menganalisis kejadian El Nino pada tahun 2015 dan pengaruhnya terhadap peningkatan titik api di wilayah Sumatera dan Kalimantan baik dalam skala temporal maupun spasial. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa berdasarkan parameter NINO 3.4 SST Indeks dan Southern Oscillation Index (SOI) pada tahun 2015 telah terjadi fenomana El Nino pada level kuat yang ditandai dengan adanya pelemahan sirkulasi walker sehingga pusat tekanan rendah perpindah dari Samudera Pasifik bagian Barat ke Samudera Pasifik bagian Timur, dimana hal ini telah menyebabkan adanya penurunan intensitas curah hujan (anomali negatif) disebagian besar wilayah Indonesia terutama pada bulan Juli hingga Oktober 2015 dan oleh karena itulah pada bulan Juli hingga Oktober 2015 tersebut terjadi peningkatan jumlah titik api yang sangat tajam di wilayah Indonesia dimana persebaran titik api tersebut sebagian besar terkonsentrasi di Provinsi Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah. AbstractEl Nino that impact most areas of Indonesia will always be associated in drought due to reduced rainfall intensity. Drought, in further, has resulted in increasing titik apis significantly compared to previous years, especially in the Sumatra and Kalimantan, that was creating smog disaster in 2015. The main objective of this research was to analyze the occurrence of El Nino in 2015 and its influence on increase of titik api in Sumatera and Kalimantan both in temporal and spatial scale. From this research it is known that based on the NINO 3.4 SST index and the Southern Oscillation Index (SOI) it is known there was a strong El Niño event occurred in 2015 showed there was a weakening Walker circulation so that the low pressure center moved from Western part of the Pacific Ocean to the Eastern Pacific Ocean, where this has led to a decrease rainfall intensity (negative anomaly) in most parts of Indonesia, especially from July to October 2015 and because of that from July to October 2015 there was very hight increasing number of titik apis in Indonesia where the spread of titik api the mostly concentrated in the province of South Sumatera and Central Kalimantan. 
ANALISIS KEJADIAN EL NINO DAN PENGARUHNYA TERHADAP INTENSITAS CURAH HUJAN DI WILAYAH JABODETABEK (Studi Kasus : Periode Puncak Musim Hujan Tahun 2015/2016) Yananto, Ardila; Sibarani, Rini Mariana
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 17, No 2 (2016): December 2016
Publisher : BPPT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1518.344 KB)

Abstract

IntisariBeberapa lembaga riset dunia dan badan-badan meteorologi beberapa negara di dunia menyatakan adanya kejadian El Nino Tahun 2015 terus berlanjut hingga tahun 2016. Adanya kejadian El Nino tersebut secara umum akan mempengarui intensitas curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia termasuk wilayah Jabodetabek. Analisis kejadian El Nino Tahun 2015/2016 dilakukan dengan menganalisis nilai NINO 3.4 SST Index, Southern Oscillation Index (SOI), Indian Ocean Dipole (IOD), pola sebaran suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature) dan juga gradient wind di Samudra Pasifik Tropis. Sedangkan Analisis Curah Hujan dilakukan dengan menggunakan data TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission). Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa berdasarkan parameter NINO 3.4 SST Index dan Southern Oscillation Index (SOI) pada pertengahan Tahun 2015 hingga awal Tahun 2016 telah terjadi fenomana El Nino pada level kuat, adanya peningkatan suhu permukaan laut di sebagian besar wilayah Indonesia sejak Bulan November 2015 yang diikuti dengan penurunan indeks Dipole Mode hingga menjadi bernilai negatif (-) sejak awal Tahun 2016 serta dengan adanya peralihan Angin Muson Timur ke Angin Muson Barat di wilayah Indonesia telah menyebabkan peningkatan curah hujan yang cukup signifikan dalam batas normal di wilayah Jabodetabek pada puncak musim hujan Tahun 2015/2016 (November 2015 - Februari 2016) walaupun pada Bulan November 2015 hingga Februari 2016 tersebut masih berada pada level El Nino kuat.   AbstractVarious research institutions in the world that work in the field of Meteorology and Climatology predicted an El Nino events in 2015 continued into 2016. The El Nino events phenomenon in general will affect to intensity of the rainfall in most parts of Indonesia, including the Greater Jakarta area. El Nino events phenomenon Analysis by Nino 3.4 SST index, Southern Oscillation Index (SOI), Indian Ocean Dipole (IOD), Sea Surface Temperature (SST) and gradient wind in the Tropical Pacific Ocean. While rainfall intensity analysis using TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) data. From this research it is known that based on the parameters NINO 3.4 SST index and the Southern Oscillation Index (SOI), it is known that there was a strong El Nino event occurred in mid-2015 to early 2016, the increase of sea surface temperature in most parts of Indonesia since November 2015 followed by declines Dipole Mode Index to be negative (-) since the beginning 2016 as well as the shift East monsoon to West monsoon in Indonesia has led to significant rainfall increased within normal limits in the Greater Jakarta area at the peak period of the rainy season 2015/2016 (November 2015 - February 2016) although in November 2015 until February 2016 El Nino event is still at the strong level.  
ANALISIS KORELASI KERAPATAN TITIK API DENGAN CURAH HUJAN DI PULAU SUMATERA DAN KALIMANTAN Prayoga, M. Bayu Rizky; Yananto, Ardila; Kusumo, Della Ananto
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 18, No 1 (2017): June 2017
Publisher : BPPT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1084.932 KB)

Abstract

IntisariKebakaran hutan dan lahan merupakan bencana yang rutin terjadi di Indonesia. Pulau Sumatera dan Kalimantan menjadi wilayah yang paling sering dilanda kebakaran hutan dan lahan. Munculnya titik api di wilayah Sumatera dan Kalimantan mempunyai pola tersendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara spasial-temporal konsentrasi titik api di wilayah Sumatera dan Kalimantan serta korelasinya dengan curah hujan. Berdasarkan hasil pengolahan data titik api yang bersumber dari hasil perekaman citra MODIS (Satelit Terra & Aqua) tahun 2006-2015, didapatkan bahwa kerapatan titik api di Pulau Sumatera dan Kalimantan akan mencapai puncaknya pada bulan September. Wilayah yang memiliki konsentrasi titik api paling tinggi adalah Provinsi Riau dan Sumatera Selatan di Pulau Sumatera serta Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat di Pulau Kalimantan. Hasil pengolahan data curah hujan bulanan juga menunjukkan bahwa pada bulan September curah hujan di Pulau Sumatera dan Kalimantan mencapai nilai terendah dalam satu tahun, yaitu 25-150 mm/bulan. Selain itu, korelasi antara jumlah titik api dan curah hujan menunjukkan nilai korelasi yang cukup (R = 0,307) dengan pola hubungan yang negatif. Hasil pengolahan terhadap data historis titik api ini bisa menjadi acuan dalam kesiapan penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan yang sering terjadi di Pulau Sumatera dan Kalimantan.  AbstractForest fire is one of disasters that occur regularly in Indonesia. Sumatera and Borneo are regions with the most frequently hit by forest fires disaster through years. The emergence of hotspots in Sumatera and Borneo have it own patterns. This study aimed to figure hotspot density in Sumatera and Borneo spatial-temporally and their correlation with rainfall. Based on the results of data processing hotspots sourced from recording of MODIS satellite (Terra and Aqua) 2006-2015, it was found that the density of hotspots in Sumatra and Kalimantan will reach its peak in September. Riau and South Sumatera Province are the regions that has highest concentration of hotspots in Sumatera island, meanwhile Central Borneo and West Borneo Province become the regions that has highest concentration of hotspots in Borneo island. The processing of monthly rainfall data also shown that in September rainfall in Sumatra and Kalimantan reach its lowest level in a year, which is 25-150 mm/month. In addition, hotspot density and rainfall are correlated enough (R = 0,307). The results of the processing of historical hotspots data in this paper could become a reference for forest fires disaster management that often happens in Sumatera and Borneo. 
USING REMOTE SENSING MULTI-TEMPORAL IMAGE TO ANALYSE THE LAND USE CHANGES AND ITS IMPACT ON THE PEAK DISCHARGE IN GARANG WATERSHED CENTRAL JAVA Cahyadi, Ahmad; Nugraha, Henky; Nurjani, Emilya; Yananto, Ardila; Wijaya, Muhammad Sufwandika
Jurnal Matematika Sains dan Teknologi Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2923.244 KB)

Abstract

Perubahan penggunaan lahan di Kota Semarang akibat pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi telah menyebabkan terjadinya urban sprawl. Banjir rob, land subsidence, intrusi air laut dan tercemarnya air tanah di Kota Semarang Bagian Utara menyebabkan terjadinya perkembangan Kota Semarang dominan ke arah selatan. Hal ini menyebabkan perubahan penggunaan lahan dari lahan non terbangun menjadi lahan terbangun sehingga jumlah air hujan yang langsung menjadi limpasan akan semakin banyak. Hal ini akan menyebabkan bahaya banjir bandang di Kota Semarang semakin besar. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui perubahan lahan yang terjadi di DAS Garang selama tahun 1994 dan 2001, dan (2) mengetahui dampak perubahan penggunaan lahan terhadap besarnya debit puncak yang terjadi di DAS Garang. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Citra Landsat TM tahun 1994, Citra Landsat ETM tahun 2001, dan Citra Alos AVNIR 2008, peta tanah DAS Garang, peta kemiringan lereng DAS Garang, peta jaringan sungai DAS Garang, dan data curah hujan harian Stasiun Ungaran tahun 1952 sampai dengan tahun 2009. Ditemukan bahwa luas lahan terbangun bertambah lebih dari dua kali lipat dari tahun 2001 sampai dengan 2008, lahan pertanian meningkat hampir 50% dan luas hutan mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Namun demikian, debit puncak di DAS Garang tidak bertambah secara ekstrem meskipun mengalami sedikit perubahan. Change due to land use in the city of Semarang as an impact of population growth and economic activity has led to urban sprawl. Rob flooding, land subsidence, seawater intrusion and contamination of ground water in the northern part of Semarang lead to the development of the southern part. Consequently, this leads to changes in land use so that the amount of rain water runoff will increase. This may cause the danger of flash floods in the greater city of Semarang. This study were aimed to: (1) determine the changes that occur in the Garang watershed lands during 1994 and 2001, and (2) determine the impact of land use changes on the size of the peak discharge occurring in the Garang watershed. The data used in this study were the 1994 Landsat TM, Landsat ETM 2001, and Citra Alos AVNIR 2008, Garang watershed soil map, slope map of Garang watershed stream network, and daily rainfall data at Ungaran Station of 1952 until 2009. It was found that developed land has been increasing more than doubled from 2001 to 2008, agricultural land increased by nearly 50% and the forest area were decreased from year to year. However, the peak discharge at the Garang watershed has not increased to the extreme though there was a slight change.