Fitri Diana Wulansari
IAIN Palangkaraya

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KREATIF PRODUKTIF DALAM PEMBELAJARAN FISIKA MATERI GAYA

Edu Sains: Jurnal Pendidikan Sains & Matematika Vol 3, No 1 (2015): Volume 3 Nomor 1 Tahun 2015
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.272 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) aktivitas guru dengan menggunakan model pembelajaran kreatif produktif pada materi gaya, (2) aktivitas siswa dengan menggunakan model pembelajaran kreatif produktif, (3) Hasil belajar siswa pada materi gaya dalam pembelajaran kreatif produktif, (4) respon siswa terhadap model pembelajaran kreatif produktif. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif. Populasi penelitian adalah semua kelas VIII semester 2 MTsN II Palangka Raya Tahun Ajaran 2013/2014 dan sampel penelitian adalah kelas VIII-E dengan jumlah siswa 35 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah lembar pengamatan aktivitas guru, aktivitas siswa, tes hasil belajar siswa sebanyak 35 soal, serta angket respon siswa. Hasil penelitian diperoleh bahwa aktivitas guru dengan menggunakan model pembelajaran kreatif produktif pada materi gaya diperoleh skor rata-rata 40 dengan kategori baik. Aktivitas siswa yang dominan dalam model pembelajaran kreatif produktif adalah saat siswa melakukan kegiatan percobaan diperoleh persentase rata-rata 11,5%. Hasil belajar siswa secara individu diperoleh 26 siswa tuntas dan 8 siswa tidak tuntas, ketuntasan TPK diperoleh 27 TPK tuntas dan 7 TPK tidak tuntas. Respon siswa terhadap model pembelajaran kreatif produktifmemotivasi siswa lebih aktif dalam pembelajaran fisika(97,06%). Siswa menyatakan baru proses pembelajaran fisika dengan menggunakan model pembelajaran kreatif produktif (79,41%). Siswa merasa senang selama mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kreatif produktif (94,12%).

METODE SEDERHANA PENENTUAN JUMLAH UNIT PENGULANGAN GLUKOSA DALAM AMILOSA SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN MATERI KARBOHIDRAT

Jurnal Pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Vol 18, No 2 (2013): Jurnal Pengajaran MIPA
Publisher : Faculty of Mathematics and Science Education, Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.949 KB)

Abstract

Amilosa merupakan salah satu komponen terbesar penyusun pati selain amilopektin. Amilosa memiliki monomer D-glukosa yang membentuk rantai lurus dengan ikatan glikosida pada posisi α pada atom C1 dan C4. Penelitian ini bertujuan menentukan jumlah unit pengulangan glukosa dalam amilosa dengan metode sederhana sehingga dapat diaplikasikan sebagai media pembelajaran dalam materi karbohidrat. Amilosa yang digunakan bersumber dari pati talas. Metode penelitian diawali dengan isolasi pati dari umbi talas, isolasi amilosa dari pati talas, serta penentuan jumlah unit pengulangan glukosa dalam amilosa yang dilakukan berdasarkan analisis kestabilan I2 dalam amilosa. Analisis spektrometer IR digunakan untuk mengidentifikasi gugus-gugus fungsi yang terdapat dalam amilosa sedangkan analisis UV/UV-Vis dilakukan untuk menentukan absorbansi larutan kompleks amilosa-I2. Hasil analisis dan perhitungan menunjukkan bahwa satu unit amilosa terdiri dari 5 unit glukosa, atau massa molekul rantai amilosa sebesar 810. Pemanasan amilosa yang tinggi menyebabkan beberapa rantai amilosa terputus sehingga massa molekulnya berkurang.Kata Kunci: amilosa, glukosa, unit pengulangan.

METODE SEDERHANA PENENTUAN JUMLAH UNIT PENGULANGAN GLUKOSA DALAM AMILOSA SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN MATERI KARBOHIDRAT

EDU SAINS Vol 1, No 1 (2013): Volume 1 Nomor 1 juni 2013
Publisher : IAIN Palangkaraya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.565 KB)

Abstract

AbstrakAmilosa merupakan salah satu komponen terbesar penyusun pati selain amilopektin. Amilosa memiliki monomer D-glukosa yang membentuk rantai lurus dengan ikatan glikosida pada posisi α pada atom C1 dan C4. Penelitian ini bertujuan menentukan jumlah unit pengulangan glukosa dalam amilosa dengan metode sederhana sehingga dapat diaplikasikan sebagai media pembelajaran dalam materi karbohidrat. Amilosa yang digunakan bersumber dari pati talas. Metode penelitian diawali dengan isolasi pati dari umbi talas, isolasi amilosa dari pati talas, serta penentuan jumlah unit pengulangan glukosa dalam amilosa yang dilakukan berdasarkan analisis kestabilan I2 dalam amilosa. Analisis spektrometer IR digunakan untuk mengidentifikasi gugus-gugus fungsi yang terdapat dalam amilosa sedangkan analisis UV/UV-Vis dilakukan untuk menentukan absorbansi larutan kompleks amilosa-I2. Hasil analisis dan perhitungan menunjukkan bahwa satu unit amilosa terdiri dari 5 unit glukosa, atau massa molekul rantai amilosa sebesar 810. Pemanasan amilosa yang tinggi menyebabkan beberapa rantai amilosa terputus sehingga massa molekulnya berkurang.Kata kunci: amilosa, glukosa, unit pengulangan.

PENGARUH DETERGEN TERHADAP MORTALITAS BENIH IKAN PATIN SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN KIMIA LINGKUNGAN

EDU SAINS Vol 1, No 2 (2013): Volume 1 Nomor 2 Desember 2013
Publisher : IAIN Palangkaraya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.071 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh deterjen terhadap mortalitas benih ikan patin. Hasil dari penelitian ini ditujukan sebagai bahan pembelajaran kimia lingkungan terutama pengaruh bahan kimia, dalam hal ini deterjen, yang dibuang kedalam suatu badan air terhadap biota air tersebut khususnya benih ikan patin. Deterjen merupakan bahan kimia yang memiliki kontribusi cukup besar terhadap lingkungan sebagai limbah rumah tangga.Sedangkan hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih ikan patin (Pangasiushypophthalmus Sauvage) berumur kurang dari dua bulan, berukuran panjang antara 5-8 cm (diukur dari ujung kepala sampai ujung ekor) dengan berat antara 6-8 gram. Metode penelitian dilakukan dengan menghitung mortalitas benih ikan patin dalam beberapa sampel yang diberi perlakuan berbeda. Lingkungan hidup benih ikan patin adalah ember yang berisi air dan dialiri udara melalui aerator. Lingkunga tersebut diberi perlakuan yaitu ditambahkan deterjen dengan konsentrasi 0% (kontrol); 2,5%; 5%; 7,5%; 10%; 12,5%. Analisis data menggunakan metode RAL (Rancangan Acak Lengkap). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam waktu 48 jam didapatkan hasil perlakuan yang berbeda sangat nyata terlihat pada D5 terhadap Di (93,33); D5 terhadap Do (100,00); D4 terhadap Di (93,33); D4 terhadap Do (100,00); D3 terhadap D1 (93,33); D3 terhadap Do (100,00); D2 terhadap D1 (86,67); D2 terhadap Do (93,33). Sedangkan perlakuan yang berbedanyata terlihat pada perlakuan D5 terhadap D2 (6,67); D4 terhadap D2 (6,67); D3 terhadap D2 (6,67); DI terhadap Do (6,67). Hal ini menandakan bahwa deterjen di dalam air dapat mempengaruhi mortalitas benih ikan patin (Pangasius hypophthalmus Sauvage). Pada perlakuan konsentrasi deterjen (2,5%) masih dapat ditoleransi oleh benih ikan patin sampai pada waktu penelitian 48 jam, sedangkan perlakuan konsentrasi deterjen (5%) benih ikan patin dapat bertahan sampai waktu 24 jam. Sedangkan pada perlakuan konsentrasi deterjen (7,5%) benih ikan patin hanya dapat bertahan sampai waktu 1 jam sampai 6 jam, dan pada perlakuan konsentrasi deterjen (10%; dan 12,5%) semua ikan uji benih ikan patin mati seluruhnya hingga waktu 1 jam penelitian.Kata kunci: pengaruh deterjen, mortalitas, benih ikan patin

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KREATIF PRODUKTIF DALAM PEMBELAJARAN FISIKA MATERI GAYA

EDU SAINS Vol 3, No 1 (2015): Volume 3 Nomor 1 Tahun 2015
Publisher : IAIN Palangkaraya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.272 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) aktivitas guru dengan menggunakan model pembelajaran kreatif produktif pada materi gaya, (2) aktivitas siswa dengan menggunakan model pembelajaran kreatif produktif, (3) Hasil belajar siswa pada materi gaya dalam pembelajaran kreatif produktif, (4) respon siswa terhadap model pembelajaran kreatif produktif. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif. Populasi penelitian adalah semua kelas VIII semester 2 MTsN II Palangka Raya Tahun Ajaran 2013/2014 dan sampel penelitian adalah kelas VIII-E dengan jumlah siswa 35 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah lembar pengamatan aktivitas guru, aktivitas siswa, tes hasil belajar siswa sebanyak 35 soal, serta angket respon siswa. Hasil penelitian diperoleh bahwa aktivitas guru dengan menggunakan model pembelajaran kreatif produktif pada materi gaya diperoleh skor rata-rata 40 dengan kategori baik. Aktivitas siswa yang dominan dalam model pembelajaran kreatif produktif adalah saat siswa melakukan kegiatan percobaan diperoleh persentase rata-rata 11,5%. Hasil belajar siswa secara individu diperoleh 26 siswa tuntas dan 8 siswa tidak tuntas, ketuntasan TPK diperoleh 27 TPK tuntas dan 7 TPK tidak tuntas. Respon siswa terhadap model pembelajaran kreatif produktifmemotivasi siswa lebih aktif dalam pembelajaran fisika(97,06%). Siswa menyatakan baru proses pembelajaran fisika dengan menggunakan model pembelajaran kreatif produktif (79,41%). Siswa merasa senang selama mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kreatif produktif (94,12%).

METODE SEDERHANA PENENTUAN JUMLAH UNIT PENGULANGAN GLUKOSA DALAM AMILOSA SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN MATERI KARBOHIDRAT

Edu Sains: Jurnal Pendidikan Sains & Matematika Vol 1, No 1 (2013): Volume 1 Nomor 1 juni 2013
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.565 KB)

Abstract

AbstrakAmilosa merupakan salah satu komponen terbesar penyusun pati selain amilopektin. Amilosa memiliki monomer D-glukosa yang membentuk rantai lurus dengan ikatan glikosida pada posisi α pada atom C1 dan C4. Penelitian ini bertujuan menentukan jumlah unit pengulangan glukosa dalam amilosa dengan metode sederhana sehingga dapat diaplikasikan sebagai media pembelajaran dalam materi karbohidrat. Amilosa yang digunakan bersumber dari pati talas. Metode penelitian diawali dengan isolasi pati dari umbi talas, isolasi amilosa dari pati talas, serta penentuan jumlah unit pengulangan glukosa dalam amilosa yang dilakukan berdasarkan analisis kestabilan I2 dalam amilosa. Analisis spektrometer IR digunakan untuk mengidentifikasi gugus-gugus fungsi yang terdapat dalam amilosa sedangkan analisis UV/UV-Vis dilakukan untuk menentukan absorbansi larutan kompleks amilosa-I2. Hasil analisis dan perhitungan menunjukkan bahwa satu unit amilosa terdiri dari 5 unit glukosa, atau massa molekul rantai amilosa sebesar 810. Pemanasan amilosa yang tinggi menyebabkan beberapa rantai amilosa terputus sehingga massa molekulnya berkurang.Kata kunci: amilosa, glukosa, unit pengulangan.

PENGARUH DETERGEN TERHADAP MORTALITAS BENIH IKAN PATIN SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN KIMIA LINGKUNGAN

Edu Sains: Jurnal Pendidikan Sains & Matematika Vol 1, No 2 (2013): Volume 1 Nomor 2 Desember 2013
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.071 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh deterjen terhadap mortalitas benih ikan patin. Hasil dari penelitian ini ditujukan sebagai bahan pembelajaran kimia lingkungan terutama pengaruh bahan kimia, dalam hal ini deterjen, yang dibuang kedalam suatu badan air terhadap biota air tersebut khususnya benih ikan patin. Deterjen merupakan bahan kimia yang memiliki kontribusi cukup besar terhadap lingkungan sebagai limbah rumah tangga.Sedangkan hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih ikan patin (Pangasiushypophthalmus Sauvage) berumur kurang dari dua bulan, berukuran panjang antara 5-8 cm (diukur dari ujung kepala sampai ujung ekor) dengan berat antara 6-8 gram. Metode penelitian dilakukan dengan menghitung mortalitas benih ikan patin dalam beberapa sampel yang diberi perlakuan berbeda. Lingkungan hidup benih ikan patin adalah ember yang berisi air dan dialiri udara melalui aerator. Lingkunga tersebut diberi perlakuan yaitu ditambahkan deterjen dengan konsentrasi 0% (kontrol); 2,5%; 5%; 7,5%; 10%; 12,5%. Analisis data menggunakan metode RAL (Rancangan Acak Lengkap). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam waktu 48 jam didapatkan hasil perlakuan yang berbeda sangat nyata terlihat pada D5 terhadap Di (93,33); D5 terhadap Do (100,00); D4 terhadap Di (93,33); D4 terhadap Do (100,00); D3 terhadap D1 (93,33); D3 terhadap Do (100,00); D2 terhadap D1 (86,67); D2 terhadap Do (93,33). Sedangkan perlakuan yang berbedanyata terlihat pada perlakuan D5 terhadap D2 (6,67); D4 terhadap D2 (6,67); D3 terhadap D2 (6,67); DI terhadap Do (6,67). Hal ini menandakan bahwa deterjen di dalam air dapat mempengaruhi mortalitas benih ikan patin (Pangasius hypophthalmus Sauvage). Pada perlakuan konsentrasi deterjen (2,5%) masih dapat ditoleransi oleh benih ikan patin sampai pada waktu penelitian 48 jam, sedangkan perlakuan konsentrasi deterjen (5%) benih ikan patin dapat bertahan sampai waktu 24 jam. Sedangkan pada perlakuan konsentrasi deterjen (7,5%) benih ikan patin hanya dapat bertahan sampai waktu 1 jam sampai 6 jam, dan pada perlakuan konsentrasi deterjen (10%; dan 12,5%) semua ikan uji benih ikan patin mati seluruhnya hingga waktu 1 jam penelitian.Kata kunci: pengaruh deterjen, mortalitas, benih ikan patin